Sungmin terhenyak di bangku taman itu. Tangisannya sudah berhenti sedari tadi. Ia masih berusaha mencerna kata-kata yang dibisikkan Donghae kepadanya tadi. "Ya Tuhan, benarkah semua itu? Aku harus bagaimana?" Sungmin terlihat kalut sekali. Ia harus memastikan kebenaran hal itu, tapi bagaimana caranya Sungmin terhenyak di bangku taman itu. Tangisannya sudah berhenti sedari tadi. Ia masih berusaha mencerna kata-kata yang dibisikkan Donghae kepadanya tadi. "Ya Tuhan, benarkah semua itu? Aku harus bagaimana?" Sungmin terlihat kalut sekali. Ia harus memastikan kebenaran hal itu, tapi bagaimana caranya? Ia memejamkan matanya berusaha berfikir. Sebuah ide berkelebat di kepalanya. Haruskah?
:::
Second Chance
:::
Ryeowook nampak heran melihat Sungmin pulang tergesa-gesa. Baru saja ia ingin mengunjungi Sungmin, namun dilihatnya yeoja itu masuk ke apartemennya dengan terburu-buru. Ryeowook bergegas masuk menyusul Sungmin.
"Sungminnie, ada apa denganmu? Kenapa buru-buru sekali?"
Sungmin yang tampak sibuk berganti pakaian menoleh sebentar ke arah sahabatnya itu. "Kapan kau datang, Wookie-ah?" tanyanya sedikit terkejut.
Ryeowook berdecak sebal, Sungmin benar-benar tidak menyadari kalau ia ikut masuk ke dalam sini?
"Tidak penting, yang penting sekarang adalah, ada apa denganmu? Kenapa kau terburu-buru seperti ini?"
"Aku tidak punya waktu banyak Wookie, aku harus memastikan sesuatu yang sangat penting." Sungmin memakai jaketnya terburu-buru. Kemudian bergegas keluar dari apartmentnya. "Aku pergi dulu, Wookie. Sampai nanti."
"Ya! Sungminnie! Ini sudah malam! Kau mau kemana lagi?" tanya Ryeowook cemas.
"Aku akan baik-baik saja Wookie, kau tidak usah cemas. Tolong kunci apartmentku kau simpan dulu. Aku harus pergi sekarang!" Ucap Sungmin setengah berlari.
"Hati-hati Sungminnie!" Akhirnya hanya itu yang mampu diucapkan Ryeowook setelah punggung Sungmin semakin menjauh, dan akhirnya menghilang.
"Aku harus memastikannya malam ini juga. Aku tidak bisa menundanya," gumam Sungmin pelan sambil terus berlari menuju suatu tempat. Apartment Cho Kyuhyun.
:::
Second Chance
:::
Sungmin menghela nafasnya beberapa kali. Keringat dingin mulai bermunculan di pelipis dan telapak tangannya. Ia memang mengetahui letak apartment Kyuhyun, namun ia tidak tahu password apartment namja Cho itu. Sungmin merutuki dirinya, bagaimana bisa ia sebodoh ini. Nekat akan menyelundup masuk ke apartment Kyuhyun tanpa mengetahui jalan masuknya.
Sungmin masih memutar otaknya, memikirkan cara agar dirinya bisa masuk ketika didengarnya suara `ting` khas pintu lift terdengar. Ya, di koridor apartment yang sunyi ini suara sekecil apapun pasti terdengar jelas. Disusul suara langkah kaki yang mengarah ke tempat dirinya berada saat ini. Sungmin panik, ia menolehkan kepalanya mencari tempat persembunyian. Akan mencurigakan jika entah siapapun itu menemukan dirinya berdiri di depan pintu apartment orang. Sungmin melihat ada celah kecil di belakang pot tanaman besar, beberapa meter dari tempatnya berdiri. Sepertinya cukup untuk menyembunyikan tubuh mungilnya. Jantungnya berdebar kencang, ia menahan nafasnya sesaat.
Sungmin membelalakkan matanya begitu suara langkah kaki itu mendekat dan menampilkan sosok yang sedang dipikirkannya saat ini. Cho Kyuhyun. Namja jangkung itu memasukkan password apartment, dan memasuki apartmentnya dengan suara pelan debuman pintu.
Sungmin menimbang-nimbang, dan sedetik kemudian ia menuju pintu apartment Kyuhyun dengan nekatnya tanpa memikirkan segala resikonya, membuka pintunya cepat dan bergegas masuk tanpa suara.
`Haaaah, untung belum dikunci,` bisik Sungmin dalam hati. Dengan berjingkat ia memasuki ruang tamu apartment itu. Tidak tampak kehadiran Kyuhyun, apartment ini masih saja sunyi seakan tidak ada penghuninya. `Mungkin dia dikamar, atau didapur? Entahlah, aku harus sembunyi dulu.` kembali Sungmin membatin.
Terdengar suara pintu lemari yang ditutup, kemudian pintu kamar yang dibuka. Sungmin menahan nafasnya kembali ditempat persembunyiannya-dibelakang sofa. Kemudian didengarnya langkah Kyuhyun menuju pintu keluar. Sungmin menghela nafas lega, seraya mengusap dadanya. Sungmin memastikan Kyuhyun benar-benar sudah pergi, ia mengendap-endap keluar dari persembunyiannya.
"Aku harus mencarinya dimana? Apa aku harus mencari dikamarnya?" bisik Sungmin pelan.
Kembali ia memberanikan dirinya menuju kamar utama apartment itu. Dibukanya perlahan pintu kamar itu, dan ditutupnya tanpa suara. Sungmin mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar bernuansa krem tersebut. Kamar Kyuhyun sangat minimalis. Ranjang King sizenya terletak tepat ditengah kamar dengan kedua meja nakas di sisi kanan dan kiri ranjangnya. Lemari pakaian besar menempel teratur di dinding, tepat menghadap ranjang. Dengan sedikit tergesa Sungmin menghampiri lemari pakaian Kyuhyun. Ia banyak menemukan setelan jas kerja yang biasa dipakai Kyuhyun ke kantor, celana panjang, kemeja, kaus, mantel, dan lain-lain. Namun sepertinya di lemari ini tidak ada tempat untuk menyimpan dokumen yang Sungmin cari, karena tidak ada laci atau apapun untuk menaruh benda lain selain pakaian. Ya, semua pakaian Kyuhyun tergantung rapi, tidak ada yang dilipat.
Sungmin menghela nafasnya dalam, lemari sebesar ini pun tidak membuahkan hasil. Ia melirik seisi kamar itu sekali lagi. Masih ada meja nakas dan meja kerja Kyuhyun di sudut ruangan. Sungmin memilih mendekati meja kerja Kyuhyun terlebih dahulu. Nyatanya Sungmin tidak menemukan sehelai kertas pun di meja itu, hanya ada laptop yang tertutup dan kalender di sana. Yang tersisa hanyalah meja nakas di sisi ranjang Kyuhyun yang besar itu. Kembali Sungmin menarik nafas dalam-dalam, memberanikan dirinya kembali.
Sungmin sengaja tidak menyalakan lampu kamar ini, ia hanya menyalakan lampu tidur di meja nakas. Cahaya remang-remangnya sudah cukup untuk membantu Sungmin mencari berkas yang ia yakin disimpan di salah satu laci nakas itu. Sungmin memulai pencariannya, ia membuka laci pertama. Nihil. Sungmin membuka laci kedua, tetapi hasilnya sama saja. Sungmin menghela nafas, namun ia tidak menyerah.
Sungmin berpindah ke meja nakas disisi lain ranjang. Ia membuka laci pertama, sama seperti tadi, namun ia tetap tidak menemukan apa yang dicarinya. Sungmin mulai patah semangat. Sekarang harapannya hanya satu. Laci terakhir itu satu-satunya yang belum dibuka. Jika disana tidak ada, ia tidak tahu harus mencari kemana. Rasa sesak mulai menghampiri dadanya.
:::
Second Chance
:::
Inilah. Kenyataannya. Donghae memang tidak berbohong. Sungmin dapat membacanya dengan sangat jelas. Tulisan tebal diatas kertas dengan stempel sebuah rumah sakit besar di Seoul sudah menjadi buktinya. Pandangan Sungmin mengabur, tangannya gemetar. Ia terduduk pelan di pinggir ranjang Kyuhyun. Tangisannya meledak, tanpa sadar ia menjatuhkan kertas yang dipegangnya.
Bagaimana bisa?
Mengapa?
Dua pertanyaan ini membayang dalam fikiran Sungmin. Disela tangisnya, ia memikirkan berbagai cara untuk menolong Kyuhyun. "Ya Tuhan... " Sungmin tidak tahu harus menyalahkan takdir atau tidak. Mengapa sepertinya takdir hidup begitu memusuhinya, mempermainkannya sedemikian sakitnya. Apakah ia memang tidak ditakdirkan bersama namja yang sangat dicintainya itu?
Tak sengaja Sungmin menangkap hal lain yang ada dilaci nakas itu. Tadi Sungmin tidak menyadarinya karena ia terburu-buru mencari sehelai kertas `laknat`itu. Ia berusaha mengendalikan tangisnya, kemudian menjulurkan tangannya ke dalam laci nakas itu. Sebuah buku dengan sampul kulit berwarna cokelat yang cukup tebal kini berada digenggamannya. Sungmin menghapus airmatanya asal dengan sebelah tangannya.
"Buku apa ini?" gumamnya pelan. Jemarinya membuka pengait pada sampul kulit itu. Dibukanya perlahan buku itu, mencoba mencari tahu apa yang ada didalamnya.
Ini kisahku bersama sang purnama
Jadi, Kyuhyun menuliskan isi hatinya di sini? Sungmin mengernyitkan alisnya, tanda ia merasa bingung. Siapakah yang dimaksud dengan purnama oleh Kyuhyun. Apakah ia harus membuka lembaran-lembaran selanjutnya? Tapi Sungmin sangat penasaran, dan tanpa bermaksud lancang ia membuka halaman berikutnya.
~Appa mengajakku pindah ke Jepang, aku akan meninggalkan semua ini, meninggalkan Seoul, meninggalkan semua kenangan kita, meninggalkanmu. Akan kucoba melupakanmu Min. ~
Sungmin membelalakkan matanya membaca sebaris kalimat tulisan Kyuhyun. Apa yang dimaksud Kyuhyun adalah dirinya?
~Aku sudah sampai di Jepang beberapa hari yang lalu, tapi perasaanku tidak tenang. Kau tahu kenapa Min? Hatiku dipenuhi olehmu, rasa benciku, rasa rinduku, rasa cintaku, semuanya tertuju padamu. Aku bingung, kenapa aku tidak bisa melenyapkanmu dari fikiranku?~
Beberapa halaman buku itu sempat kosong, walaupun tidak benar-benar kosong. Hanya ada lafal nama lengkap Sungmin dalam huruf Hangeul. Sungmin berusaha menahan isakannya yang sudah ingin keluar kembali. Ia kembali melanjutkan membaca tulisan-tulisan Kyuhyun di halaman selanjutnya.
~Sudah berapa lama waktu berlalu? Aku tidak sadar telah berada disini selama 5 tahun. Aku sibuk sekali, dan itu cukup mengalihkan fikiranku darimu. Walau terkadang aku melihatmu dalam mimpi-mimpiku.~
~Ayo kita tiup terompet bersamaan dengan meniup lilin angka 11 milikmu, Saengil Chukkae. Apa keinginanmu tahun ini? Apa kau menyebut namaku dalam harapanmu?~
~Aku memimpikanmu semalam. Bahkan dalam mimpiku pun kau menangis. Apa kau baik-baik saja di sana? Kuharap iya. Dan aku teringat, hari ini kau tepat berusia 14 tahun. Saengil Chukkae ^^~
~Hei, hari ini kau tepat berusia 17 tahun Min. Kau tahu? 17 tahun merupakan usia yang menandakan kau semakin dewasa, dimana masa-masa yang manis sering terjadi. Apa kau bahagia? Apa kau masih suka menangis? Masihkah kau mengingatku?
Pandangan mata Sungmin mulai berkabut. Airmata itu berkumpul di pelupuk matanya, siap untuk meluncur bebas di pipi chubbynya. Namun ia masih menguatkan hatinya membaca tulisan lainnya.
~Appa memintaku kembali ke Seoul. Aku diminta memegang perusahaannya. Itu artinya kita akan bertemu lagi, Min. Tapi apakah aku mampu untuk menemuimu? Aku tidak yakin.~
~Akhirnya aku kembali ke sini. Hmmm, sudah berapa lama aku meninggalkanmu Min? Yang jelas aku sangat merindukanmu. Walaupun dihatiku masih ada ganjalan kebencian kepadamu, tetapi tetap saja aku tidak bisa menahan rasa rinduku~
~Kau sudah dewasa sekarang Min, kau semakin cantik dan menyebalkan. Aaaah, apa rasanya akan sama ketika aku memelukmu seperti dulu? Hangat dan menenangkan~
~Maafkan aku berkata sekasar itu padamu, aku yakin pasti kau sakit mendengarnya. Aku juga minta maaf telah menciummu tanpa izin, aku benar-benar tidak tahan lagi dengan perasaanku. Aku sungguh berharap waktu bisa berhenti saat itu juga, agar aku bisa merasakan dirimu dalam dekapanku selamanya~
~Kau masih saja cengeng, sama seperti dulu. Tapi mengapa harus selalu aku yang menjadi alasan tangismu? Berhentilah Min, kumohon. Aku tidak bisa lagi mengusap butiran kristal yang meleleh di pipimu. Aku disini sakit melihatmu menangis, kumohon berhentilah~
~Sebenarnya ada apa antara kau dan Donghae? Aku tidak suka melihat keakraban kalian!~
~Kenapa hal itu harus terputar kembali sekarang? Maaf aku mengingkari janjiku dengan membuatmu menangis lagi, tapi ini juga berat untukku Min. Aku berusaha keras melupakan hal kelam itu, melupakanmu, melupakan kenangan kita, melupakan semuanya. Tapi aku tidak bisa, dan aku kembali menyakitimu. Aku pun sakit Min, kau harus tahu itu.~
Sungmin tak mampu lagi membendung isakannya. Bahunya bergetar hebat, ia bahkan tidak peduli dengan suara tangisannya yang terdengar jelas di kamar luas itu. Ia mendekap erat buku itu didadanya. Ia sudah tidak sanggup membaca tulisan-tulisan Kyuhyun. Hatinya terasa sesak sekali.
Sungmin bahkan tidak menyadari sang pemilik tulisan yang sudah memandanginya sendu dipintu kamar.
:::
Second Chance
:::
Kyuhyun menghentikan langkahnya menuju basement apartmentnya, karena dirasanya handphone miliknya bergetar di saku celana panjangnya. Ia menyentuh layar handphonenya, menerima panggilan masuk itu.
"Nde, yeoboseyo?" jawabnya kalem.
"Kyu, mianhae. Sepertinya hari ini kau bisa menunda sementara jadwal check up-mu. Tadi istriku menelepon, ia memberitahu kalau anakku sedang demam. Aku harus pulang memastikan keadaannya."
"Aaa, geuraeyo. Gwaenchana hyung, aku juga sudah bosan terus menerus melakukan check up menyebalkan itu." Balas Kyuhyun seraya tersenyum kecil.
"Pabbo! Memangnya kau tak ingin sembuh?" Sembur Kangin, dokter pribadi Kyuhyun.
"Ck, sudahlah hyung. Kau pulang saja, kasihan anakmu sedang sakit. Oke?"
"Tapi besok kau harus tetap melakukan check up Kyu, jangan sampai tidak. Arraseo?"
"Kau bawel sekali hyung! Sudah, kau pulanglah!" Tanpa menunggu jawaban Kangin, dengan cepat Kyuhun memutuskan sambungan telepon mereka. Ia berjalan kembali ke apartmentnya dengan santai.
Ketika masuk ke dalam apartmentnya, Kyuhyun merasa ada yang aneh. Seperti ada yang memasuki tempatnya ini. Ia lebih heran lagi melihat pintu kamarnya sedikit terbuka, dan samar ia mendengar suara tangisan. Seperti suara yeoja. Kyuhyun langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan begitu ia membuka pintunya lebih lebar, Kyuhyun tercekat. Bahkan hanya melihat punggungnya saja Kyuhyun tahu siapa yeoja yang menangis terisak di tepi ranjangnya. Lee Sungmin.
Saat ini Kyuhyun tidak memikirkan bagaimana caranya yeoja itu bisa masuk, tetapi lebih memikirkan apa yang sudah membuat Sungmin menangis sedemikian sedihnya. Kyuhyun merasa tahu apa penyebab semua ini. Perlahan ia memasuki kamarnya. Ia berada tepat di samping gadis itu, melihat dengan jelas Sungmin mendekap buku rahasia hatinya, beserta surat keterangan kesehatannya yang masih terabaikan di lantai.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyuhyun dingin, namja itu sudah kembali memasang wajah stoicnya, menggantikan wajahnya yang sempat sendu tadi.
Seketika Sungmin mendongak mendengar suara rendah Kyuhyun. Ia bisa melihat kemarahan yang ada di wajah tampan itu. Belum sempat Sungmin menjawab, Kyuhyun kembali mencecarnya.
"Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun? Kau lancang sekali memasuki kamar orang lain tanpa izin! Kau fikir siapa dirimu?"
Sungmin balas menatap obsidian tajam milik Kyuhyun. "Katakan semua ini tidak benar. Kumohon oppa..."
"Keluar! Sebelum aku sendiri yang melemparmu keluar!" ucap Kyuhyun keras.
Sungmin bergeming, ia hanya menatap wajah marah Kyuhyun dengan perasaan berkecamuk di hatinya.
Kyuhyun memalingkan wajahnya, berusaha tidak melihat pandangan Sungmin. Tiba-tiba dirasakannya bahunya sakit, ia menoleh. Ternyata Sungmin memukuli tubuhnya dengan buku yang sedari tadi didekapnya. Tangisan yeoja itu kemb ali keluar, kali ini lebih keras.
"Kenapa kau seperti ini? Tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepadaku? Kenapa?" Sungmin histeris sambil terus memukuli bagian tubuh Kyuhyun yang bisa dicapainya. Buku Kyuhyun bahkan sudah terlempar ke ranjang karena tadi Sungmin melemparnya ke arah Kyuhyun. Surat kesehatan Kyuhyun bahkan sudah menjadi gumpalan karena Sungmin meremasnya dan melamparkannya kepada Kyuhyun.
"Aku menerima kau membenciku, menginginkan aku lenyap dari hidupmu. Tapi kenapa kau seperti ini?" Sungmin menjerit frustasi di sela tangisnya. Kyuhyun yang tidak pernah melihat Sungmin lepas kendali seperti ini, akhirnya menangkap kedua tangan Sungmin yang masih saja memukulinya. Tanpa pikir panjang ia memeluk erat tubuh bergetar itu. Untuk sekali ini saja, Kyuhyun membiarkan perasaannya yang menguasai. Egonya telah menguap entah kemana.
Suara tangis Sungmin sedikit teredam di pelukan Kyuhyun. Sungmin terus saja menggumamkan kata `kenapa`. Kyuhyun hanya bisa mendekap erat tubuh itu, matanya terpejam. Kyuhyun tidak bisa membohongi hatinya saat ini, betapa ia sangat ingin memeluk Sungmin, namun bukan dalam keadaan seperti ini. "Mianhae", bisik Kyuhyun pelan.
Sungmin menggelengkan kepalanya, ia berusaha memberontak dari dekapan Kyuhyun. Namun namja itu masih saja menahan tubuhnya, bagaimanapun tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan Kyuhyun. Sepasang lengan kokoh itu masih saja melingkari tubuhnya erat, tidak berniat sedikitpun melepasnya.
Sungmin tiba-tiba merasa kakinya melemas, ia sudah terlalu lelah menghabiskan tenaganya untuk menangis sedari tadi. Dan sekarang ia bertumpu sepenuhnya pada Kyuhyun, kedua tangannya mencengkeram erat kemeja Kyuhyun hingga tampak kusut. Kyuhyun yang menyadarinya, melonggarkan sedikit pelukannya. Ia kemudian membaringkan Sungmin diatas ranjangnya. Menatap lekat wajah Sungmin yang memerah dan basah karena airmatanya.
"Berhentilah menangis seperti ini, Ming. Sudah berapa kali kukatakan? Aku tidak tahan melihatnya." Ucap Kyuhyun pelan seraya mengusap lembut airmata Sungmin dengan jemarinya. Satu tangannya menyusuri sepanjang lengan Sungmin, dan ketika telapak tangannya menemukan telapak tangan Sungmin, Kyuhyun meremasnya lembut. Dapat dirasakannya tangan Sungmin yang sangat dingin. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Sungmin. Kyuhyun mengelus lembut kening Sungmin yang sedikit berkerut-karena tangisnya- kemudian memajukan bibirnya hingga menempel di kening Sungmin. Cukup lama ia seperti itu, kemudian menggerakkan bibirnya menuruni hidung bangir yeoja itu, perlahan menggesernya menuju kedua pipi chubby Sungmin yang basah. Kyuhyun terus menciumi airmata Sungmin, berharap Sungmin akan menghentikan tangisannya. Tetapi tidak, nyatanya tangisan Sungmin terus terdengar. Begitu pilu dan menyakitkan.
Seandainya Kyuhyun memperlakukannya seperti tadi, namun dalam keadaan normal, tentu saja Sungmin bahagia bukan kepalang. Hal itulah yang diimpikannya. Kyuhyun mau menerima dan melihatnya dengan tatapan dan perlakuan lembut. Namun keadaannya sekarang tidak memungkinkan Sungmin untuk tersenyum bahagia.
:::
Second Chance
:::
Pukul dua malam. Kyuhyun tak hentinya menatap wajah yeoja yang terlelap dalam pelukannya. Tak sedikitpun rasa kantuk menghinggapinya. Ya, Sungmin menghentikan tangisnya sejak satu jam yang lalu. Kalau saja Kyuhyun tidak membisikkan kata-kata penenang dan terus membelainya lembut, mungkin Sungmin akan tetap melanjutkan tangisnya, tanpa memedulikan keadaannya sendiri. Kyuhyun juga sempat menciumi bibirnya beberapa kali, walau sepertinya Sungmin tidak menyadarinya.
Kyuhyun tersenyum tipis, melihat wajah polos Sungmin saat tertidur. Namja ini teringat saat dulu mereka kecil, Sungmin yang tidur bersamanya jika menginap di rumahnya. Namun, saat ini wajah Sungmin menyiratkan kesedihan, luka, dan entah berbagai perasaan lagi yang dirasakan yeoja ini. Kedua alisnya sedikit bertaut, walaupun matanya terpejam erat. Kyuhyun menelusuri wajah Sungmin dengan satu jari telunjuknya, merasakan halusnya kulit putih itu.
"Seharusnya kau tidak perlu mengetahui ini semua, Ming. Kenapa kau nekat sekali? Apa kau bisa menerima kepergianku nanti?" Kyuhyun bermonolog sendiri sambil terus mengelus pipi Sungmin.
"Apa kau tahu? Aku pun tidak ingin meninggalkanmu, Ming." Tanpa sadar Kyuhyun mengeratkan dekapannya pada tubuh Sungmin. Ia pun kembali mencium kening Sungmin lama. Setelah melepaskan kecupanya, Kyuhyun menghela nafas panjang.
"Setelah malam ini, lupakanlah aku Ming. Carilah namja lain yang jauh lebih baik dariku, yang mencintaimu dan menjagamu lebih baik." Kyuhyun tersenyum sedih, dan ia merasakan matanya sedikit panas.
"Aku akan selalu mencintaimu, Lee Sungmin." bisik Kyuhyun pelan, dan ia merasakan setetes airmatanya telah lolos menuruni pipinya.
:::
Second Chance
:::
Sungmin menatap langit hari ini. Cerah, walau sedikit berangin. Awan tipis berarak, ikut meramaikan langit. Sungmin tersenyum kecil, kemudian menatap sebuket bunga yang baru saja diletakkannya di atas gunungan tanah berumput itu. Sebuah pemakan yang sudah berumur lebih dari 10 tahun. Tempat dimana seseorang itu beristirahat, seseorang yang pergi bahkan dengan membawa hatinya tanpa izin.
" Aku datang, kuharap kau senang atas kehadiranku. " Sungmin bergumam pelan, sedikit mengulas senyum di wajahnya.
Tiba-tiba ia merasakan pandangan matanya berkabut, kemudian sesuatu yang hangat menuruni pipinya perlahan. "Aku tidak pernah bisa menuruti permintaanmu untuk tidak menangis, mianhae." Sungmin menundukkan kepalanya.
, walaupun kau tidak ada dsisiku. Sama seperti angin, aku tidak dapat melihatnya tetapi aku bisa merasakannya di sini." Sungmin memegang dadanya.
"Aku tidak tahu apakah kesempatan kedua yang kuminta berhasil kudapatkan atau tidak." Sungmin kembali tersenyum, seraya menghapus airmatanya.
"Tetapi ada satu hal yang aku tahu. Entah kenapa aku bisa merasakan cintamu selalu mengalir untukku
"Apa kau menungguku di sana?" bisik Sungmin pelan, ia memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang menyapa lembut kulit wajahnya.
"Aku selalu mencintaimu... Cho Kyuhyun. "
:::
Second Chance
:::
Jika dimasa yang akan datang takdir mempertemukan kita kembali, apakah kau mau tersenyum lalu menyapaku sama seperti dulu? Dulu ketika tak ada dinding pemisah yang kuciptakan di antara kita, dulu ketika tak ada seorang pun yang perduli dengan kisah ini, dan dulu ketika tak ada satu pun air mata yang menggores pipimu. Apakah satu kata maaf pantas ku sandingkan dengan banyaknya air mata yang kau keluarkan karena kebodohanku? Bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi? Pertemuan itu, rasa cinta yang datang tanpa ku panggil dan kisah yang perlahan tertulis. Aku ingin kembali, tapi itu tak mungkin, kau tahu bukan?
Maaf, tapi aku mencintaimu, sanggat mencintaimu min.
E
N
D
terima kasih^^
