Asian Princess part 2.
Yesung POV
Aku mengernyit pelan. Menatap Ryeowook yang terus berlari menjauh dari kami. Dan sebuah handuk yang tadi berada ditangannya, terjatuh ke tanah begitu saja. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia pergi lagi? Tanpa berpikir panjang aku mengambil handuk yang terjatuh ditanah. Lalu mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai disebuah lorong, pintu kamar mandi terbuka dan tertutup. Seperti baru saja ada orang yang masuk kedalam. Dengan langkah perlahan, aku masuk kedalam kamar mandi tersebut. Dan terlihatlah seorang namja yang berdiri dekat wastafel, mengusap wajahnya berkali-kali dengan air keran. Aku menyipitkan mata, itu Ryeowook.
Dengan hati-hati, aku membuka mulutku untuk memanggilnya. "Ryeowook" panggilku pelan. Dan namja itu melihat kearahku. Aku benar, Ryeowook berdiri dihadapanku. Dengan wajah yang basah oleh air, matanya merah dan hidungnya berair. Dia seperti ingin tersenyum, tapi tidak berhasil. Aku menelan ludah, apakah dia sedang menangis?
Aku berusaha mendekatinya. Ryeowook tidak bicara sepatah katapun. Aku takut menganggunya, sepertinya terjadi masalah. "Ada apa?" tanyaku pelan, menyandarkan tubuhku ke tembok, menatapnya lekat-lekat. Ryeowook melihat kearahku, menggeleng pelan lalu tersenyum. Aku segera berjalan pelan kearah tempat tissu, mengambil beberapa lembar, dan menyerahkannya pada Ryeowook.
"Tidak baik menangis disini kan? Hapus air matamu" ucapku mengusap air matanya dengan sisa tissu ditanganku. Dia tidak menolak. Aku menyentuh pipinya sampai kedagunya yang basah. "Terimakasih" ucapnya dan memperlihatkan senyumnya lagi. Walau bukan senyum yang sering terlihat. Tapi aku senang bisa melihatnya tersenyum lagi.
"Apa kau mau bercerita padaku?" tanyaku ragu-ragu. Siapa tahu dengan bercerita padaku, masalahnya akan lebih cepat selesai. Ryeowook kelihatan ragu-ragu, menatap kedua mataku dan mengangkat bahunya. "Apa aku boleh meminjam ponselmu?" tanyaku lagi, tanpa bisa dicegah oleh siapapun.
Ryeowook kelihatan ragu, tapi tak lama dia mengeluarkan ponselnya dari saku kiri celananya. Dengan sigap aku mengetik nomor ponselku disana, menyimpannya, dan mengembalikan ponsel itu ke tangan pemiliknya.
"Kau bisa menghubungiku kalau terjadi sesuatu" kataku ragu, menatap langit-langit toilet. Dan kulihat Ryeowook mengangguk kecil dan tersenyum.
Ryeowook POV
Sudah hampir satu minggu sejak kejadian itu. Aku sudah lebih bisa melupakannya. Bahkan aku bercerita semuanya kepada Yesung. Entahlah, rasanya ada sesuatu yang membuatku ingin bercerita kepadanya. Dia seorang pendengar yang baik, juga pemberi nasehat yang jitu. Aku percaya padanya.
Sampai pada hari ini, aku sedang bermain game dengan Lee Sungmin, salah satu teman sekelasku ketika Eunhyuk memanggilku dari daun pintu.
"Aku ingin bicara denganmu" katanya ketika melihat ekspresi wajahku yang kebingungan. Setelah meminta izin pada Sungmin, aku segera berjalan keluar kelas. Apa yang kira-kira akan dibicarakannya? Soal kejadian waktu itu kah? Memangnya dia tahu? Kulihat Eunhyuk sedang bersandar keberanda, menatap taman yang rimbun dilantai 1.
"Ada apa?" tanyaku, tercekat. Aku takut air mataku turun sekarang juga. Eunhyuk menatapku, tanpa ekspresi. Aku mengigit bibir pelan, ketakutan.
"Maafkan aku" ucapnya lalu membungkuk pelan. Aku mengernyitkan dahi, kenapa dia minta maaf? Apa yang harus aku maafkan?
Setelah berpikir cukup lama, aku mengerti. Setiap orang yang berpacaran harus minta maaf kepada orang yang mencintai dirinya. Ya, itulah aku. Alasan kenapa dia minta maaf padaku sudah ku ketahui. Aku menelan ludah, entah apa yang harus aku jawab.
"Maafkan aku" katanya lagi. Menatap mataku lekat-lekat. Tatapan mata yang membuatku terlena dengan cinta ini. Air mataku menggenang, lalu terjatuh begitu saja.
Ia mengucapkannya berkali-kali. Aku ingin menyuruhnya berhenti, tapi mulutku tidak bisa terbuka sedikitpun, kelu. Setelah hampir 5 menit dia mengatakan hal seperti itu, mulutku terbuka dan berkata "kau tidak yang harus kumaafkan?" tanyaku santai, jantungku berdebar tidak beraturan. Aku menunduk, menghapus air mataku.
Eunhyuk tersenyum lembut, lalu memperlihatkan gigi dan gusinya kepadaku. Senyuman ramah yang membuat semua orang jatuh hati padanya. Termasuk aku. "Sekali lagi, maafkan aku" ucapnya, kelihatan menyesal. Aku menepuk bahunya dan mengangguk kecil, meski itu berat sekali.
Setelah berbincang sebentar, dia melambai kepadaku dan berjalan meninggalkanku. Aku menghela nafas, aku tidak bisa terus mencintainya seperti ini kan?
Apa aku bisa?
Ditengah lamunanku, ponsel disaku celanaku bergetar. Aku meraih ponselku dan melihat siapa yang menelponku disaat akhir pelajaran seperti ini.
Kim Jongwoon
"Halo..." sapaku ragu. Bukankah kelasnya ada di sebelah kelasku? Mengapa dia harus menelponku?
"Kau bisa menemaniku ke toko buku?" tanyanya langsung. Aku mengernyitkan dahi, kenapa? Jam pelajaran belum berakhir.
"Tapi jam pelajaran belum berakhir" protesku
"Akan kubunyikan bel keluar sekarang. Bersiap-siaplah" ucapnya dari ujung telpon. Aku menelan ludah, seenaknya sekali dia. Menyuruhku ini itu.
Aku segera memasuki kelas, ketika kudengar bel pulang berbunyi. Setelah berkemas dengan Sungmin, aku segera keluar kelas.
"Sudah kubilang untuk bersiap-siap terlebih dahulu bukan?" tanya seseorang diluar pintu. Aku meliriknya, Yesung sudah bersandar dipintu kelasku. Aku menghela nafas, mengangkat bahu, dan berjalan beriringan dengannya. Ketika sampai dimobilnya, aku segera masuk ke tempat duduk disebelahnya.
"Kau mau ke toko buku?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Begitulah" ucap Yesung lalu menyalakan mesin mobil. Mobil Yesung berjalan melalui beberapa anak yang berkumpul dilapangan, beberapa diantara mereka menunjuk kearahku. "Biarkan saja. Biarkan mereka membuat gosip sesuka mereka" ucap Yesung, menyadari isi pikiranku. Aku mengangguk kecil, setuju padanya. Mobil mulai melaju dan menukik, gedung sekolah hilang dari pandangan kami.
Aku membolak balik buku dihadapanku. Setelah berkeliling cukup lama ditoko buku, novel ini menjadi pilihanku saat ini. Covernya menarik, judulnya 'Asian Princess'. Entahlah, aku sepertinya menyukainya. Aku mulai memegang buku dengan satu tangan dan berjinjit mencari Yesung hyung. Sudah hampir 1 jam, apa dia sudah selesai?
Ah itu dia. Didaerah buku pelajaran, wkwk. Kudengar dia memang pintar sih tapi aku tidak begitu tahu juga... Eh dengan siapa dia disana?
Yesung POV
"Apa kabar?" tanya yeoja dihadapanku ini. Mataku membulat, menatapnya tidak percaya. Aku kenal perempuan ini. Perempuan berperawakan imut, dengan mata bulat memakai behel digiginya. Rambutnya sepunggung berwarna coklat, keturunan asia-eropa. "Kau masih ingat aku?" tanyanya, meyakinkan. Aku menelan ludah, menatapnya lekat-lekat.
Dia mantan pacarku.
"Tentu saja aku masih ingat" balasku, tercekat. Tidak kusangka akan bertemu ditempat seperti ini. Dia bernama Park MinJae. Panggilnya Jaepa. Kami pernah berpacaran sejak sd, kira-kira 2 tahun, sampai dia memutuskan pindah keluar negeri. Kita berpisah mulai saat itu, tanpa ada kontak apapun. Inilah aku pertama kali aku bertemu lagi dengannya.
"Kau semakin tampan, kim jong woon. Sudah punya pacar?" tanyanya, tersenyum lembut dan memperlihatkan giginya. Aku mengerjap. Aku rindu sekali padanya. Aku ingin memeluknya sekali lagi. Entah kenapa, aku senang melihatnya disini. Aku hanya tertawa kecil, balas menatapnya. "Kau juga semakin cantik. Aku tidak punya pacar" balasku seadanya.
Dan tanpa sadar, aku merengkuh bahunya, memeluknya seerat yang aku bisa. "Yesung-ah" bisiknya ditelingaku, berdesir kecil. "Biarkan aku memelukmu sekarang. Aku rindu padamu" bisikku, mengigit bibirku pelan. Kami berpelukan dalam diam, dan aku melepasnya semenit kemudian.
"Apa kau sudah punya pacar?" tanyaku menatapnya lagi. Wajah Jaepa memerah, menunduk dan memainkan sepatu wedges coklatnya. Dia menggeleng pelan, dan aku menghembuskan nafas lega. Apa jadinya kalau aku memeluk perempuan yang sudah memiliki pacar dihadapan banyak orang seperti tadi?
Aku menatap sekeliling. Dan tepat disuatu bagian aku melihat Ryeowook sedang menatapku, berdiri membeku. Aku melambaikan tangan pada Jaepa, mengelus rambut kecoklatannya. "Aku pergi duluan, ok? Temanku sudah menunggu"
Ryeowook POV
Aku menghela nafas, akhirnya selesai juga membeli buku. Aku membeli buku Asian Princess tersebut, penasaran. Kulihat Yesung baru saja keluar, merentangkan kedua tangannya. "Cape juga ya" dia tersenyum kearahku, menatap matahari yang tenggelam. Aku mengangguk kecil. Entah mengapa, setelah melihat pemandangan tadi, aku merasa tidak enak.
"Ayo masuk mobil" ujar Yesung, berjalan menuju mobilnya yang terparkir dibawah pohon sakura. Aku mengikutinya, masih melihat sekeliling. Apa Yesung tidak pulang bersama dengan wanita tadi? Wanita itu kelihatan manis, imut.
Apa dia pacar Yesung?
"Kau tidak pulang dengan perempuan itu?" tanyaku terbata, menatap Yesung yang sedang menyalakan mobil sedan ini. Dia seperti tersedak, menelan ludah dan menatap mataku. "Dia bukan siapa-siapa. Hanya teman masa kecil" balasnya pendek, mengangkat kedua ujung bibirnya, tersenyum. Aku mengangguk kecil, berusaha percaya.
Namun, masih banyak yang ingin kutanyakan. Banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya.
Soal wanita itu.
Kenapa aku jadi resah begini?
"Ryeowook-ah, bangunlah" terdengar suara ditelingaku. Aku mengerjapkan kedua mataku yang tertutup rapat. Setelah agak lama, aku bisa membuka mataku perlahan. Yesung mengguncang bahuku pelan, sepertinya aku tertidur didalam mobilnya. Mungkin aku kelelahan.
"Sudah sampai dirumahmu. Istirahatlah" ucapnya ramah, membuka kunci pintu mobilnya, membuka seat belt milikku. Perlahan aku tersenyum dan meraih tas kecilku dikolong kursi mobilnya. Aku keluar mobil dan melambai pelan, sampai mobil itu menghilang dari pandanganku.
"Selamat malam Ryeowook" sama ummaku lembut, membuka pintu depan. Beliau langsung terdiam melihatku berwajah pucat kecapean. "Kau sakit?" tanyanya langsung. Aku menggeleng, sepertinya aku hanya kurang istirahat. Aku menghempaskan tasku ke atas sofa dan berjalan menuju ruang makan.
"Aku hanya sedikit lapar umma" balasku, duduk dan mengambil makanan sebisaku. Tubuhku rasanya lemas, dan kepalaku berputar. Selesai makan, aku berjalan gontai ke kamarku dilantai 2.
Aku merebahkan diriku dikasur, tugas osis sangat membebaniku. Akhir-akhir ini selalu pulang malam, tidak peduli jam berapa. Aku kurang makan dan istirahat, kondisiku buruk. Tiba-tiba sebuah telpon masuk ke ponselku. Dari ketua osis.
"Kim Ryeowook" terdengar suara diujung sana. Aku hanya ber-hm pelan. Pasti aku akan diberi tugas lagi. Untuk dikerjakan sendirian. Aku menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku, meringkuk dan memeluk guling pelan. "Maafkan aku menganggu waktumu. Tapi ada tugas" lanjutnya. Aku mendengus kesal, meremas sebelah tanganku, "apa?"
"membuat spanduk untuk kejuaraan sekolah. Deadline lusa" lanjutnya. Aku tercekat, bagaimana bisa? Aku kan masih harus belajar dan mengerjakan pr, memangnya aku tidak punya kehidupan lain? "baiklah" jawabku pelan, "tapi aku tidak janji bisa menyelesaikannya secepat itu. Sebesar apakah? Siapa yang bisa mengerjakannya bersamaku?"
"Kau sendiri, yang lain sibuk akan hal lain Ryeowook-ah" balasnya tanpa rasa bersalah, "Ukurannya sebesar setengah koridor lantai satu" lanjutnya.
Yaampun, bagaimanapun juga itu terlalu besar.
Tanpa menjawab apapun, aku memutuskan telpon dengan paksa. Dengan secepat mungkin aku meringkuk, berusaha tidur lebih cepat.
Beberapa Hari Kemudian...
Yesung POV
"Kim Ryeowook-ah" panggilku pelan saat melihatnya berjalan sendirian ke arah kantin. Dia menoleh dengan lambat, wajahnya pucat dan matanya memiliki kantung mata. "Apa?" balasnya agak lambat, apa dia kurang tidur? "Kau kenapa?" tanyaku, mendekatinya dan memegang pinggangnya. Tak kusangka bisa senyaman ini dekat dengan Kim Ryeowook.
"Aku baik-baik saja. Aku mau membeli peralatan untuk osis, jadi tolong lepaskan aku" balas Ryeowook lalu berusaha melepas tanganku dari pinggangnya. Aku memeluknya semakin erat, aku suka mencium bau tubuh Ryeowook, walau aku tahu ini bukan tempat yang tepat. "Akan kuantarkan" balasku sambil melepas peganganku, dan Ryeowook sudah berjalan gontai meninggalkanku
Aku yakin sekali dia kecapean, apa dia tidak merasa begitu? "Aku lelah" ucap Ryeowook akhirnya, menatapku lamat-lamat. "Sudah kuduga" balasku dan mendorong tubuhnya pelan menuju uks "kau perlu istirahat" lanjutku.
Kurasa Ryeowook sudah tidak tahan berdiri, dia bersandar dibahuku, aku memegang bahunya dan membantunya berjalan. Yaampun badannya panas sekali. "Panasmu tidak wajar, ayo kerumah sakit" ajakku dan membawanya semakin cepat. "Dingin..." gumamnya, tentu saja ini tidak wajar. Aku segera menggendongnya dan berlari ke meja piket sekolah kami.
"Bolehkah aku izin? Temanku sakit parah. Panas dingin dan sepertinya tanda-tanda tipus" tanyaku, semakin khawatir dan melihat ke arah Ryeowook yang bermuka merah tapi menggigil. Guru diruang piket melihat ke arahku, lalu ke arah Ryeowook. Sepertinya dia tahu aku tidak berbohong. "Pergilah, akan kuberi tahu wali kelasmu. Beberapa guru akan mengikutimu dengan mobil dari belakang" ujarnya cepat dan meninggalkan kami.
Aku menggendongnya cepat dan berlari menuju mobil yang kuparkir dekat taman. "Hm... Hah..." terdengar gumaman kecil dari bibir Ryeowook, tak kusangka aku bisa khawatir seperti ini. "Bersaabarlah" balasku, membaringkannya dikursi belakang dan memberinya bantal kecil. "Aku akan membawamu kerumah sakit, bersabarlah" ucapku lalu masuk ke pintu kemudi, menyalakan mobil, dan memacu kecepatan yang tidak terduga. Aku tak ingin Ryeowook jatuh sakit karena osis sialan itu.
Ya Tuhan, jangan biarkan Ryeowook jatuh sakit.
