Asian Princess Part 3.
Ryeowook POV
"Kau sudah bangun" terdengar suara didekatku, aku mengerjap perlahan. Tangan kananku meraba-raba meja kecil disebelahku, mencari remote untuk menegakan kasurku, aku ingin bersandar. Lama-lama, pemandangan didepan semakin kelihatan jelas. Ummaku tersenyum, mencium keningku lembut.
Aku benar-benar masuk rumah sakit, diopname. Aku terkena tifus, mungkin karena kecapean dan stamina tubuhku tidak kuat. Semuanya karena Yesung hyung, kalau aku terlambat sedikit saja kerumah sakit bisa berakibat fatal. Aku sungguh berterimakasih pada namja itu. Yang secara tidak sadar melindungiku dan menjagaku akhir-akhir ini.
Ini sudah hari ketigaku dirumah sakit. Aku vakum dari kegiatan osis terlebih dahulu, apalagi setelah diceramahi umma tentang kegiatanku yang begitu padat. Aku tahu ummaku sangat sayang padaku, sampai beliau begini. Syukurlah aku masuk rumah sakit. Aku bisa istirahat dengan tenang disini tanpa dibebani apapun, kecuali satu hal.
Yesung hyung jarang sekali menemaniku akhir-akhir ini, setidaknya tiga hari terakhir.
Kata ummaku, ia datang saat aku tertidur dan pergi dengan cepat, katanya tidak mau mengangguku. Dan kata ummaku dia datang dengan seorang yeoja berambut coklat keturunan Eropa-Asia. Aku jelas tahu siapa gadis itu. Menurut ummaku mereka sangat mesra, dan yah begitulah. Aku tidak mau membahasnya.
"Umma, apa tadi Yesung hyung kesini?" tanyaku, sepertinya aku tahu jawabannya.
"Iya. Datang bersama yeoja pacarnya itu lagi. Mereka hanya mengobrol sebentar dengan umma dan pulang tidak lama kemudian" balas ummaku. Aku menunduk, jawaban yang hampir kudengar setiap hari. Mereka datang saat aku tertidur lelap, dan pergi sebelum aku terbangun. Bahkan Yesung tidak pernah menghubungiku.
"Permisi" terdengar suara dari daun pintu, kami berdua menoleh. Seorang suster berdiri ramah, mendorong troli pernuh berisi makanan. Dia meletakan snack sore ku diatas meja. Lantas tersenyum dan berbalik arah.
Kenapa suster itu begitu manis?
"Besok umma tidak bisa menemanimu seharian Kim Ryeowook" ucap ummaku saat pintu kamarku tertutup kembali. "Umma banyak kerjaan, dan kau tahu itu" lanjutnya lagi. Aku mengangguk kecil, aku tahu resiko punya orang tua sibuk seperti ini. "Aku baik-baik saja. Umma tidak usah khawatir. Sebentar lagi aku pasti sembuh" balasku pelan, melambai kecil kearah ummaku.
"Baiklah. Umma pulang dulu ok? Umma harus mengurus ayahmu terlebih dahulu" ucap ummaku sambil mengedipkan matanya, hih. Aku berjengit, lantas mencium pipi ummaku dan membiarkannya pergi meninggalkan kamar rawat inap ini.
ESOK PAGINYA
Aku bangun sekitar pukul 7 pagi. Tidak ada siapa-siapa di sampingku, pertama kalinya aku merasa kesepian. Pasti teman-teman sekolahku sudah mulai belajar, aku tidak mau menganggu mereka. Aku mulai menyandarkan tubuhku, meneguk air putih digelas yang terisi penuh. Aku mulai merasa bosan tinggal dirumah sakit. Tapi bagaimana lagi?
Terdengar suara ketukan diluar, dan pintu terbuka tak lama setelahnya. Berdiri suster dengan badan kecil, tersenyum padaku sebelum mendorong troli makanan kedalam ruanganku. Perawat yang kemarin datang tertutup perlahan, dan suster itu menata sarapan pagiku diatas meja beroda. "Selamat Pagi. Sendirian?" tanyanya tanpa menatapku, aku menelan ludah perlahan.
Suster itu cantik, lebih cantik bila dilihat lebih dekat. Dia kecil, mungil. Aku sekilas melirik nametag di dadanya, dia bernama Lee Jeong Min. "Selamat pagi" balasku akhirnya, Jeongmin melihat kearahku. Matanya bulat, bulu matanya lentik dan panjang. Hidungnya kecil, tidak terlalu mancung juga. Bibirnya tipis, agak merah. "Iya, ummaku bekerja mulai hari ini" lanjutku lagi.
"Jam berapa dokter akan memeriksaku?" tanyaku lagi. Jeongmin menuangkan air putih segar digelas baru, menatapku dan menaruh teko kecil dinampan lagi. "Sekitar pukul 8 sepertinya" balasnya sambil melirik jam tangan dilengan kecilnya. "Kau umur berapa?" tanyaku lagi, tanpa sadar. Dia mengernyit, mungkin aneh dengan pertanyaanku barusan. "21. Kau?" tanyanya lagi.
Dia lebih muda dariku, tapi sudah bekerja lagi. Dirumah sakit ternama lagi. Mungkin seharusnya aku kagum.
"22. Muda sekali"
Jeongmin terkikik pelan, menatapku dengan tatapan sejuk dari matanya yang seperti krystal. "Aku memang bercita-cita jadi suster, oppa. Sebenarnya aku sedang meraih gelar dokter. Ya, suster sepertinya cuma pekerjaan sambilan" balasnya, duduk dikasurku. Sepertinya dia tertarik pada pertanyaanku.
Kami mulai mengobrol tentang beberapa hal. Dia kadang tertawa lebar, tersenyum, sampai cemberut dengan kedua bibir maju beberapa centi. Dia menarik, sangat menarik. Dia tahu aku kesepian, dan dia berusaha menghiburku. "Ah, aku harus mengantarkan makanan keruangan lain oppa" ucapnya, melirik jam tangannya. Sudah 10 menit berlalu dan itu bukan hal yang bagus.
"Antarkan lah makanan keruangan lain. Kalau waktumu kosong, kau bisa mengunjungiku" ucapku lagi, tersenyum sebisaku. Dia mengangguk setuju dan meninggalkan ruanganku dengan senyum sekilas. Membuatku merasa terhibur dan tidak kesepian.
YESUNG POV
"Aku ingin mengunjungi Ryeowook lagi" ucapku tanpa rasa bersalah pada Jaepa. Dia cemberut dan memajukan bibirnya, kelihatan kesal. "Aku bosan kesana lagi darl" balasnya dan memeluk lenganku pelan. Aku berusaha melepaskan pegangan tangannya. Kenapa dia jadi begitu agresif? Aku tidak suka. Dia dulu bukan yeoja seperti ini.
Jaepa segera pindah kesekolahku. Dengan permintaanku, dia bisa dengan mudah masuk kekelasku. Kami berteman baik, dan selama itu jugalah sepertinya Jaepa mengharapkan hubungan kami yang dulu. Aku tidak menyangkal, aku masih mempunyai perasaan padanya. Tapi entahlah, dengan sikapnya yang sekarang aku jadi kurang tertarik dengan dirinya.
"Jangan panggil aku darling. Kita tidak berpacaran bukan? Kita hanya berteman" balasku akhirnya, menatapnya dan membuka ranselku, mencari kunci mobil. "Kau benar-benar akan kesana?" tanyanya sekali lagi, dengan tatapan kecilnya, pipi kecilnya menggelembung. Aku tahu dia manis, apalagi dengan dandanannya hari ini. Dia seperti barbie.
"Iya. Kau tidak mau ikut lagi?" tanyaku. Dia mengangkat bahu, "Aku bosan. Saat kita kesana dia selalu tidur. Kenapa kau selalu kesana?" tanyanya, kelihatan iri dengan kedekatanku dengan Ryeowook. "Dia temanku. Dan kau tahu itu" kataku, masuk kemobil sedanku dan menutup pintunya. Setelah menyalakan mesin mobil, aku membuka kaca mobil dan melambai pada Jaepa yang berdiri mematung di dekat pintu, melambai pelan.
"Permisi" ucapku dari luar pintu. Dengan perlahan, aku membuka pintu dan melihat Ryeowook sedang memegang remote, menonton televisi. Dengan cepat dia melihat kearah pintu, dan senyumnya mengembang saat melihatku dipintu. "Kim Jongwoon" balasnya dan mematikan televisi, menatapku berbinar. Aku segera masuk dan memeluk tubuhnya. Aku rindu padanya.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanyaku setelah kami berdua selesai berpelukan. Ryeowook mengangguk kecil. Aku segera duduk disebelahnya, menatap Ryeowook yang kelihatan bersemangat, tapi infus masih tertempel ditangannya. "Kau butuh istirahat terus wook" balasku dan Ryeowook menyetujuinya. Kurasa dia merasa nyaman dirumah sakit.
Kami berbincang. Tentang sekolah, keadaan diri kami, rumah sakit, obat, nilai, dan lain-lain. Ryeowook menanggapinya dengan semangat. Aku senang melihat wajahnya ceria, bukan wajar kelelahan seperti waktu itu.
"Hei, sepertinya novelmu tertinggal dimobilku" ucapku ketika Ryeowook memakan jatah makan siangnya yang belum habis. Dia melirikku, kelihatan mengingat-ingat. "Novel apa?" tanyanya akhirnya, menatapku penasaran. Aku segera membuka ranselku dan mengerluarkan novel itu dari tasku, tulisan ASIAN PRINCESS tercetak dicovernya dengan gambar 2 buah angsa disebuah kolam.
"Oh, aku baru ingat" ucap Ryeowook tertawa, dan mengambil alih buku itu dari tanganku. Dia meraba novel yang masih utuh itu, masih berplastik. "Terimakasih" ucapnya lagi, tersenyum kecil dan aku mengangguk. Jam dinding menunjukan pukul 5 sore. Mungkin aku harus segera pulang.
"Aku harus pulang" ucapku akhirnya, ketika Ryeowook sedang membaca sinopsis novel tersebut. Ryeowook melihat kearahku, memajukan bibirnya. "Cepat sekali" keluhnya, mukanya berubah masam. "Apa aku harus menunggumu sampai pagi?" tanyaku lagi, tersenyum kecil. Dia menggeleng, berusaha memahami keadaanku. "Pulang, dan beristirahatlah" ucapnya, melambaikan tangan kanannya yang tidak tersambung selang infus.
"Akan kuhubungi lagi nanti. Jangan kesepian, ok?" tanyaku akhirnya. "Ya" balasnya lagi, mantap. Aku tersenyum pelan, meninggalkan ruangan itu setelah melambai kecil padanya. Dan masuklah seorang wanita kedalam ruangan Ryeowook. Sepenggal aku pergi. Siapa dia?
Ryeowook POV
"Permisi" terdengar lagi suara dari luar ruanganku. Apakah Yesung hyung kembali? Apa ada yang tertinggal diruangan ini? Aku mengamati ruangan ini sekilas, aku tidak melihat ada sesuatu yang tertinggal. Pintu kamarku terbuka, Jeongmin mengintip dari balik pintu, memperlihatkan sebelah matanya kepadaku.
"Masuklah. Tidak sedang sibuk bukan?" tanyaku setelah menyapa. Dengan perlahan dia masuk ruanganku, mengenakan baju bebas. Dia memakai celana jeans ketat berwarna biru tua, sweater berwarna vanilla yang terlihat kebesaran. Dia mengikat rambutnya kebelakang, wajahnya terlihat cerah. "Waktu bekerjaku selesai oppa. Aku sudah boleh pulang" katanya, menghampiriku dan duduk disebelahku. Dia membawa cadangan infus dan mengganti infusku yang cairannya semakin sedikit.
"Kenapa kau tidak pulang?" tanyaku, bersender pada kasur. Dia tersenyum lembut, "katanya aku boleh berkunjung kalau aku tidak sibuk bukan?" balasnya bertanya. Aku mengingat, benar juga, aku berkata begitu padanya saat pagi hari tadi. "Jadi... kau kesepian oppa?" tanyanya lagi, memastikan keadaanku.
"Lumayan, tapi setelah temanku datang barusan aku sedikit lebih baik" balasku sambil tertawa, Jeongmin tertawa. "Jadi, temanmu itu yang baru keluar barusan oppa? Yang masih memakai seragam?" tanyanya seraya menaruh tas selendang diatas sofa. Aku mengangguk.
Tiba-tiba sebuah telpon masuk ke ponselku, bergetar diatas meja. "Aku mengangkat telpon dulu ok?" tanyaku akhirnya. Jeongmin mengangguk kecil, membetulkan tatanan rambutnya dikamar mandi ruanganku. Ternyata telpon dari Yesung.
"Hel..." sapaku pelan, tapi kalimat Yesung langsung memotong sapaanku, "siapa wanita itu?" tanya Yesung langsung, kudengar dia terengah-engah diujung sana. Ada apa? "Siapa?" tanyaku sambil melirik Jeongmin
