Chapter 2...

Baby baby baby

.

.

.

Sasuke Hinata always

Hurt/comfort, romance, drama

AU

M for safe...

.

.

.

Summary: jangan dekat-dekat dengan Uchiha Sasuke jika masih sayang terhadap dirimu. Sayang terhadap keperawananmu? Dan sayang sekali nona Hyuuga cantik satu ini mesti terjerat kedalam permainan konyol yang membawa dirinya kedalam kegelapan seorang Uchiha Sasuke.

Sasuke merebahkan tubuh Hinata di ranjang apartemennya. Ranjang yang cukup besar untuk di tiduri oleh dua orang dewasa. Dominasi warna abu dan putih terlihat dimana-mana. Mulai dari sprei abu gelap bergaris hitam. Karpet abu yang terlihat begitu nyaman. Lemari baju yang terlihat mahal. Jendela yang berukuran sedang dengan gorden silvernya. Sangat laki-laki. Harum musk khas lelaki juga ada di kamar Sasuke. Kamar seorang lelaki yang sangat rapi.

Sasuke meninggalkan Hinata sejenak, tak lupa ia kunci pintu kamarnya dari luar, jaga-jaga siapa tahu Hinata sadar dan berniat melarikan diri. Seumur-umur, Sasuke baru sekarang di tolak oleh seorang gadis. Kalo boleh narsis nih, Sasuke itu selalu dipuja-puja ama kaum hawa. Malahan banyak gadis-gadis yang mengantri ingin jadi teman ranjangnya. Tapi, Hinata beda. Gadis satu ini terlihat tidak tertarik sama sekali pada dirinya.

Sasuke meneguk air putihnya. Kini ia sedang duduk diam di ruang makan. Matanya menerawang entah kemana. Hari sudah beranjak sore. Lembayung di ufuk Barat sana terlihat jelas dari jendela. Ia bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ah... Apa gadis itu sudah sadar?

.

.

Pintu yang terkunci kini terbuka. Sasuke dapat melihat gadis itu tengah duduk sembari memeluk lututnya takut. Jaket kulit yang tadi ia pakaikan masih melekat di tubuh gadis bernama Hinata itu. Gadis itu mengangkat kepalanya begitu menyadari seseorang masuk ke kamar yang entah milik siapa ini. Tubuhnya menegang begitu matanya beradu pandang dengan mata hitam Sasuke. Pemuda itu kembali mnegunci pintu kamarnya dan memasukkan kembali kunci tersebut ke dalam kantong celananya. Semakin Sasuke mendekat, Hinata semakin memundurkan tubuhnya sampai punggungnya bertemu dengan kepala ranjang.

"Ma-mau apa kau?" Hinata berusaha agar tidak tergagap saat mengucapkannya. Kenyataannya tetap sajan, ia tergagap saking takutnya.

Sasuke duduk di tepian ranjang sebelah kiri dekat Hinata. Ia pandangi wajah gadis itu. Matanya berwarna aneh, Sasuke tak tahu warna apa itu. Turun sedikit, hidung mancungnya yang kecil, begitu pas. Terakhir, pandangannya berhenti di bibir gadis itu. Bibir yang beberapa jam lalu ia lumat sangat kasar itu begitu mungil dan basah.

Sasuke mendekatkan wajahnya. Gadis itu memalingkan wajahnya. Dengan gerakan cepat, Sasuke menggunakan tangan kanannya untuk mengambil kembali wajah Hinata yang menghindarinya. Hinata berontak, namun Sasuke malah mencengkram pipi gadis itu. Rintihan keecil keluar dari bibirnya. Air mata ketakutan pun ikut serta menemani Hinata. Namun sayang pemuda Uchiha itu tak tersentuh sedikitpun. Sasuke mengecup kelopak mata Hinata yang terpejam. Menjilat jejak air mata di pipi kiri gadis itu. Asinnya air mata dapat Sasuke rasakan. Bibir gadis itu bergetar, dan hal itu tak luput dari pandangan Uchiha yang 'kelaparan'. Pemuda itu kembali menyapukan lidahnya di atas bibir gadis yang menjadi teman gokon-nya.

Hinata berontak. Menjedukkan keningnya dengan kening pemuda yang baru beberapa jam lalu ia kenal. Bangkit dari ranjang dan berlari menuju pintu. Sial!

Pintunya dikunci!

"Brengsek!" Sasuke mengerang kesakitan sambil mengusap pelan keningnya. Mata hitamnya memandang Hinata tajam. Seringai yang membuat Hinata ketakutan muncul lagi. Hinata mencari sesuatu yang dapat ia jadikan sebagai alat untuk melawan. Ah, itu dia!

Sebuah pemukul baseball.

"Ja-jangan mendekat lagi!"

Sasuke berdiri dan mulai mendekati gadis yang berani-beraninya berlaku kasar pada seorang Uchiha Sasuke.

"Be-berhenti ku bilang!" Hinata semakin mengeratkan pegangannya pada pemukul itu. Tak lupa ia acungkan tepat di hadapannya. Kedua kakinya bergetar dan Sasuke dapat melihatnya.

"Be-berikan kuncinya!" Dengan suara yang sedikit bergetar itu Hinata kembali berkata dengan cukup keraas.

Sasuke semakin mendekat. Seorang perempuan yang ketakutan tak akan berkonsentrasi penuh terhadap apapun yang ada di sekelilingnya. Termasuk selimut yang teronggok di bawah ranjang. Ah.. Sasuke tahu. Ini kesempatannya.

"Maaf, nona. Kau salah orang. Aku bukan orang baik yang dengan mudah memberikan apa ya. Sasuke yang kau minta." Ucapnya disertai seringai tampan. Sasuke mengambil selimut itu dan kembali berdiri tegak. Ia bentangkan selimut itu dan dengan tiba-tiba ia lemparkan selimut tebal nan besar itu ke arah Hinata. Alhasil Hinata terkurung oleh selimut itu. Dan saat itulah Sasuke menggunakan kesempatan untuk mencengkram pergelangan tangan Hinata yang memegang pemukul baseball. Dapat!

"Kyaaa!" Hinata menjerit saat pemukul itu jatuh dan menimpa kakinya. Sakit memang, tapi ada yang lebih menyakitkan lagi. Tangan besar pemuda itu menarik pergelangan tangannya dengan sangat kasar. Di saat Hinata berhasil mneyingkirkan selimut tebal yang menghalangi pandangannya, Uchiha Sasuke sudah berdiri di depannya dengan tangan yang mencengkram kedua pergelangan tangannya.

"Jangan pernah berharap kau bisa melarikan diri dari Uchiha, nona." Seringai itu lagi. Ya, lagi-lagi Uchiha Sasuke menyeringai sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata yang memerah menahan tangis.

Mencegah kejadian tadi agar tidak terulang lagi, Sasuke mencengkram rambut belakang Hinata. Wajah gadis itu tampak kusut dengan rambut yang menempel di sisi wajahnya. Oh jangan lupakan kalau Hinata saat ini tak mengenakan apapun di balik jaket Uchiha itu. Keadaan Hinata saat ini adalah ia terjepit di antara tubuh Sasuke dan pintu yang di belakangnya.

"Le-lepaskan aku!" Hinata kembali berontak. Kedua lengannya mencengkram lengan Sasuke yang tengah menarik rambutnya. Isakan lirih terdengar oleh Uchiha Bungsu yang tengah menatap tajam gadis malang di depannya.

"Kau ingin bermain kasar rupanya." Sasuke berbisik pelan di telinga kiri Hinata. Bisikan pelan yang penuh penekanan, membuat Hinata merinding ketakutan. Hinata yakin, sesuatu yang lebih buruk dari ini akan segera menimpanya. Tapi ia tidak mau semua itu menimpa dirinya. Ia ingin lari dari tempat ini, sungguh Hinata sangat ingin lari dari tempat ini.

"Berteriaklah jika kau mau, tak akan ada yang mendengarmu." Sasuke kembali berbisik.

"A-apa maksudmu? Dimana aku sekarang?" Hinata setengah berteriak saat mengatakannya.

"Tentu saja kita ada di apartemenku, nona. Kau tahu, kamarku kedap suara." Sasuke menjilat cuping kiri Hinata. Hinata yang tidak terim,a menampar pipi Sasuke dengan tangan kanannya.

PLAK

Sasuke mendecih pelan seraya mengusap pipi kanannya yang terasa panas. Obsidiannya menatap Hinata nyalang. Sementara yang ditatap tengah menatapnya balik dengan napas yang memburu. Secara tiba-tiba, Sasuke mengangkat tubuh Hinata dan diletakknya di bahu kanannya. Hinata yang terkejut hanya bisa memukuli punggung lebar pemuda Uchiha itu. Dapat Hinata rasakan punggungnya membentur ranjang, sedikit sakit memang. Belum sempat ia membuka matanya yang terpejam, beban berat menindih tubuhnya. Hinata berusaha mendorong tubuh Sasuke meskipun usahanya itu sia-sia. Sasuke tak bergerak seinci pun. Di cengkramnya kedua tangan Hinata yang tidak bisa diam. Obsidiannya berkeliling, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghentikan rontaan gadis yang menolak sentuhannya. Sudut kanan bibirnya terangkat. Tak jauh dari bantal yang gadis itu gunakan, sebuah dasi tergelatak berdekatan dengan seragam sekolahnya. Dengan cekatan pemuda itu menyambar dasi tersebut dan mengikat kedua pergelangan tangan Hinata erat dengan dasi itu.

"Kau yang menginginkannya, jangan menangis." Ucap Sasuke yang melihat gadis itu menitikkan kembali air matanya. Sasuke menyeka air mata yang mengalir di pipi Hinata dengan ibu jarinya. Setelahnya ia kecup bibir Hinata singkat.

"Jangan sentuh aku!" Hinata kembali berteriak meskipun teriakan yang ia keluarkan tidak akan berguna. Teriakan sia-sia yang tidak akan mempan untuk lelaki macam Sasuke.

Tangan Sasuke mulai menurnkan retsleting jaket yang Hinata gunakan. Ia baru ingat kalau gadis yang sedang ia tindh ini tidak menggunakan apapun di balik jaket kulitnya.

Sret!

Dengan satu tarikan, Sasuke berhasil menurunkan retsleting jaket yang Hinata kenakan. Pemuda Uchiha itu menyeringai puas. Dada gadis Hyuuga itu memang indah. Putih bersih tanpa noda. Bentuknya yang bulat sempurna dengan puting yang kemerah-merahan. Dadanya pun tampak penuh berisi. Sementara Hinata hanya bisa merona malu sekaligus merona menahan marah. Dirinya dengan keadaan yang bertelanjang dada dan seorang pemuda yang tengah menindihnya, sungguh hal yang sangat memalukan menurut Hinata. Tapi, di sisi lain, Hinata ingin sekali memukul wajah pemuda yang tengah memperhatikan dadanya dengan senyum anehnya, andai saja kedua tangannya tidak diikat.

"A-apa yang kau lihat, hah?" Hinata memberanikan diri untuk membentak pemuda yang ia ketahui bernama Uchiha Sasuke itu. Pemuda brengsek yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu. Pemuda yang teramat brengsek.

"Aku sangat suka dadamu." Ujar Sasuke sambil mengelus puncak dada Hinata. Seringainya seakin melebar saat melihat ekspresi Hinata. Wajah gadis itu berubah menjadi merah padam. Sasuke sangat menyukainya. Biasanya gadis-gadis yang pernah ia sentuh tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu. Mereka akan mendesah mesra saat Sasuke menyentuh mereka. 'Cih, mereka memang gadis-gadis murahan,' umpat Sasuke dalam hati.

"He-hentikan.."

"Jangan bercanda. Aku yakin aku bukanlah pria pertama yang menyentuhmu."

"..."

"Jadi, diam dan nikmati saja." Sasuke mengecup puncak dada Hinata. Kemudian menatap wajah gadis itu dan kembali menyeringai.

Entah bagaimana caranya,kedua tangan Hinata yang tadi diikat di atas kepala kini terbuka lebar dengan ikatan di masing-masing kedua pergelangan tangannya. Masing-masing tangannya terikat ke tiang ranjang. Jadilah kini Hinata terlentang dengan kedua tangan terbuka yang diikat. Rambutnya semakin kusut. Wajahnya semakin memerah. Sementara pemuda Uchiha itu asyik melumat bibir kecil gadis Hyuuga yang mampu membangkitkan gairahnya. Decapan-decapan kedua bibir yang itu menggema di kamar apartemen yang mewah itu. Hari semakin gelap. Apa keluarga Hyuuga tengah mencarinya?

Sasuke melepaskan ciumannya. Ditatapnya gadis polos yang ia sangka sudah tidak gadis itu. Meskipun Hinata berujar bahwa ia masih gadis, Sasuke tetap kekeh pada dugaan bodohnya. Sasuke mengira Hinata sudah tak gadis lagi mengingat Hinata adalah teman dari pacar Naruto. Jadi, yah... Pasti gadis Hyuuga ini pun tak beda jauh dari pacar Naruto. Pemikiran yang sangat sangat sangat bodoh. Hei, dimana otak jenius mu?

Hinata menggigit bibir bawahnya saat merasakan sensasi aneh yang menghantamnya ketika Sasuke menciumi lehernya. Tak ada gigitan yang mampu menghasilkan tanda merah di sana. Hanya jilatan dan ciuman panas. Kedua telapak tangan Hinata mengepal saat bibir tipis Sasuke sampai di puncak dadanya. Menjilati dada putihnya menghisap puting kemerahanya. Terus seperti itu sampai Hinata tak mampu menahan desahan yang sedari tadi ia tahan.

"Nggh.." Begitu menyadari desahan dari gadis Hyuuga itu, Sasuke menyeringai dan mengangkat kepalanya. Hinata cepat-cepat menggigit bibirnya kembali. Setetes air mata keluar melalui sudut matanya.

"Keluarkan saja suara mu, aku suka." Bisik Sasuke mesra membuat Hinata kegelian.

Sasuke melumat kembali bibir Hinata. Tangan kekarnya menyusuri lengan Hinata yang terikat. Elusan-elusan lembut Hinata rasakan di kedua lengannya. Sementara bibirnya tengah di lumat kasar. Saking jengkelnya, Sasuke menggigit bibir bawah Hinata yang tak kunjung terbuka. Celah kecil pun tercipta. Sasuke tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Lidahnya ia lesakkan ke dalam mulut Hinata. Menyentuh langit-langit mulut Hinata dengan lidah kasarnya. Meskipun Hinata tak kunjung membalas ciumannya, tak masalah. Sasuke sangat menikmatinya.

Kedua tangannya sibuk meremas dada Hinata. Memilin kedua putingnya hanya untuk memancing suara indah Hinata. Meremasnya dengan gerakan memutar. Dada Hinata yang berisi itu sangat pas untuk ukuran tangan Sasuke. Dimulai dari remasan lembut sampai remasan kasar penuh tenaga yang membuat Hinata merintih kesakitan.

"Mmmh..."

Lenguhan Hinata di sela ciuman mereka membakar pemuda Uchiha itu. Sasuke lepaskan ciumannya. Benang saliva tipis tercipta antara bibirnya dengan bibir Hinata. Bibir tipis gadis itu tampak sangat memerah dan basah. Engahan napasnya membuat dada besarnya naik turun. Pemandangan yang sungguh memukau.

"Aku tahu kau sangat menikmati sentuhanku."

"Ja-jangan bercanda. Aku tidak mau disentuh tangan kotor pria brengsek seperti mu!"

"Aa.. Aku anggap itu pujian. Terim kasih."

"A-aku sangat membenci mu!"

"Tapi, aku sangat menginginkan mu."

"B-brengsek!"

"Terima kasih."

Sasuke mengambil sebuah saputangan dari kantung jeans-nya. Ia sumpal mulut Hinata dengan saputangan yang tidak terlalu besar itu.

"Diam dan nikmati semua sentuhanku."

Sasuke kembali melumat dada Hinata. Sementara kedua tangannya sibuk melepaskan bawahan dan celana dalam sulung Hyuuga yang ia tindih. Hinata membelalakkan matanya saat tangan besar Sasuke mengelus permukaan 'miliknya'.

"Lihat, kau basah." Desah Sasuke di telinga kanan Hinata. Tangan Hinata semakin mengepal saat tangan kanan Sasuke menyusuri miliknya. Remasan tangan kiri Sasuke semakin menguat bersamaan tangan kanan pemuda itu yang menemukan benda yang ia cari.

Sasuke menurunkan tubuhnya. Kaki Hinata ia tekuk dan dibuka lebar. Tangan kananya terulur untuk mengambil saputangan yang ia pakai untuk menyumpal mulut Hinata. Tubuh Hinata telanjang sempurna dengan tanda kemerah-merahan di sekitar dadanya. Tangan yang terikat dan kini, tempat yang selalu ia sembunyikan terpampang di hadapan seorang pemuda tampan akibat kedua kikinya yang dipaksa terbuka. Bukan sekedar terbuka. Tapi tebuka lebar.

Hinata tak tahu apa yang akan pemuda Uchiha itu lakukan di bawah sana. Tapi matanya semakin membulat saat kepala Sasuke menunduk dan sejajar dengan kemaluannya. Hinata dapat merasakan hembusan hangat napas Sasuke di bagian bawah sana. Tangannya mengcengkram tali yang terikat di tiang ranjang. Semakin mencengkram tali tersebut saat lidah Sasuke mulai menyusuri daerah bawah sana. Gigitan di bibir bawahnya semakin mengencang. Hinata tak peduli kalau bibirnya itu sampai berdarah, ia tak ingin desahannya kembali keluar. Sangat memalukan.

Lidah kasar Sasuke mengaduk-ngaduk lubang kemaluan Hinata. Klitoris gadis itu ia hisap kuat-kuat. Gigitan terakhir untuk membuat gadis Hyuuga ini mendesah nikmat. Dan, cairan kental itu pun tiba disertai desahn Hinata.

Mata bulan Hinata terpejam dengan peluh yag membanjiri tubuh serta wajahnya. Sementara Sasuke yang dari tadi sudah ta nyaman dengan celananya segera melucuti kaos dan celananya. Begitu hinata membuka mata, tubuh telanang Sasuke terpampang depan matanya. Kemaluan pemuda itu seudah menegang di antara kedua kakinya. Hinata membelalakkan matanya diiringi rona merah sekitar pipinya.

Buru-buru Hinata menutup kakinya, menghalangi akses ke vaginanya.

"Ja-jangan lakukan aku monon, Uchiha-san." Hinata menangis begitu saja. Tubuhnya bergetar saat Sasuke menindih tubuhnya. Kemaluan Sasuke yang menyentuh kakinya membuatnya semakin gemetaran.

"A-aku mohon, jangan lakukan ini pada ku.."

"A-aku sangat me-memohon kepada mu, ja-jangan lakukan, hiks."

Sasuke tak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah menyatukan tubuhnya dengan Hinata. Mendengar desahan-desahn nikmat dari mulut Hinata. Mendengar namanya di desahkan oleh Hinata. Merasakan bagaimana nikmatnya miliknya ditelan penuh oleh milik Hinata.

"Percuma kau memohon padaku. Sampai kau menangis darah pun aku tak akan mengabulkan permohonanmu." Bibir mereka kembali bertemu. Bibir Hinata yang bergetar Sasuke hisap kuat-kuat. Jari telunjuknya ia masukkan ke dalam lubang kecil milik Hinata. Tak puas dengan satu jari, Sasuke menambahkan satu jarinya lagi. Kedua jari dan bibirnya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ia hisap sekali lagi bibir itu dengan sangat kuat saat cari-carinya meraskan jepitan lubang Hinata. Dan yeah, cairan kental itu keluar kembali untuk yang kedua kalinya. Hinata tergolek lemah.

Sasuke merenggangkan kembali kaki putih Hinata. Ia buka lebar-lebar kaki gadis itu. Hinata mengernyit saat Sasuke menggesekkan milikknya di kemaluan Hinata. Gadis itu hanya mampu menangis. Ia merasa begitu lemah sampai-sampai ia tak bisa mempertahankan harta berharganya yang semestinya ia serahkan pada suaminya kelak. Sungguh, Hinata merasa drinya benar-benar tidak berguna. Melarikan diri saja tidak becus. Setelah ini apa yang akan terjadi pada hidupnya di kemudian hari.

"Sa-sakit.."

Hinata kembali merintih kesakitan untuk yang kesekian kalinya. Seperempat milik Sasuke kini sudah berada dalam lubang Hinata. Pemuda itu merendahkan tubuhnya dan mencium bibir Hinata lembut.

"Sa-sakit mmh.." Rintih Hinata dalam ciumannya saat Sasuke menghentakkan pinggulnya dalam sekali hentakan.

"Kau..." Sasuke membulatkan matanya. Sesuatu yang hangat dan merah merembes di antara kemaluan mereka.

"Bu-bukankah sudah ku bilang hah?"

"..."

"Se-setelah ini tak akan ada pria manapun yang mau menjadi suamiku kelak, hiks."

"..."

"Aku sangat membencimu UCHIHA SASUKE!"

"Aku sangat beruntung kalau begitu, laki-laki pertama yang bercinta dengan mu. Jangan harap aku akan menghentikan semua ini."

"Kau, breng- ughh."

Bentakan Hinata terputus. Tiba-tiba Sasuke menggerakkan pinggulnya. Meskipun sedikit kesusahan karena lubang Hinata yang sangat sempit, Sasuke tetap melakukan gerakan in-out-nya. Tubuh telanjang mereka bergerak bersamaan menimbulkan suara derit ranjang akibat aktivitas mereka. Suara decapan kedua kemaluan yang bertemu memenuhi kamar Sasuke. Dua remaja itu tenggelam dalam kenikmatan. Ah, salah. Mungkin hanya Sasuke yang tenggelam dalam kenikmatan. Hinata tenggelam dalam penderitaan. Bibirnya kembali bertemu dengan bibir Sasuke. Tangannya bebas dari ikatan tali yang membuat kedua lengannya pegal. Lengan yang bebas itu tergolek lemah begitu saja di sisi kepalanya. Percuma. Semuanya sudah terjadi. Yang bisa Hinata lakukan sekarang hanya mencakar punggung Sasuke.

Sasuke melepaskan ciumannya.

PLAK

"Dasar jalang!"

Kedua tangan Hinata ia cengkram erat di sisi kepala gadis itu. Sementara Hinata hanya dapat merasakan panas di pipi kanannya. Kuku panjang Hinata berdarah. Bukan, bukan darah Hinata, tapi darah dari punggung Sasuke. Saputangan yang tadi ia pakai untuk menyumpal mulut Hinata, kini Sasuke gunakan untuk mengelap punggungnya yang berdarah. Karena kesal, Sasuke mempercepat gerakannya dengan hentakan-hentakan keras yang kasar membuat tubuh Hinata terlonjak-lonjak.

"Hentikan aaah..."

"Cih, munafik. Teruslah mendesah seperti itu, sayang."

"Aku mohon aah!"

"Memohon apa hm? Memohon agar aku tak pernah melepaskan tubuh kita? Aku kabulkan."

Hinata tak dapat menahan desahannya lagi. Desahan-desahan seksi semakin banyak keluar dari mulutnya. Di sisi lain, Sasuke semakin menggila dengan jepitan-jepitan pada milikknya. Denga sekali sodokan lagi, Hinata mendesah panjang.

"Aaaaaakh..."

"Li-lihat, bahkan sekarang kau keluar terlebih dahulu."

Tanpa buang-buang waktu lagi, Sasuke mengubah posisinya. Hinata di atas dan dirinya di bawah.

"Puaskan aku."

"Ti-tidak mau!"

"Ck, keras kepala."

PLAK

Hinata meringis kembali. Tapi ia bersyukur akhirnya Sasuke melepaskan tubuhnya. Laki-laki itu menuruni ranjang dan berdiri dengan kemaluan yang tampak basah. Hinata terlonjak kaget saat tangannya ditarik dengan kasar. Pemuda itu menyeret tubuh lelah Hinata dengan cepat ke arah kamar mandi.

Menyalakan shower dan membiarkan tubuh telanjang mereka di guyur dinginnya air. Rambut mereka yang lepek dan basah. Tubuh basah Hinata mambuat Sasuke menyeringai semakin lebar.

"Dugaanku benar, kau lebih menggoda seperti ini."

Hinata merapatkan tubuhnyakedinding kamar mandi. Kedua tanganya gemetar di sisi tubuhnya.

Tangan gadis itu terangkat, menahan dada Sasuke yang akan menghimpit kembali tubuhnya. Tarikan kuat Hinata rasakan di belakang kepalanya. Lagi-lagi Sasuke manjambak rambutnya. Sasuke mengangkat sebelah kaki Hinata tinggi-tinggi. Ia kembali melesakkan kemaluannya ke dalam lubang Hinata. Mau tak mau Hinata mengalungkan kedua tangannya di leher Sasuke agar tak terjatuh.

"Sebut namaku."

Hinata diam.

"Sebut namaku."

PLAK

Sasuke menampar pinggul Hinata karena namanya tak kunjung terdengar. Hentakan pinggul Sasuke semakin kuat dan dalam membuat Hinata semakin mengeratkan pengangannya. Dada telanjang mereka bertemu. Puting Hinata menyentuh dada telanjang Sasuke menimulkan geraman nikmat Sasuke.

"Shit, kau sangat sempit." sasuke menurunkan kaki Hinata dan mnegeluarkan kemlauannya. Ia seret Hinata kembali ke ranjang hangat nan mewah. Hinata yang sudah terlalu lelah hanya bisa pasrah. Begitupun saat Sasuke memsukinya kembali dengan hentakan-hentakan yang semakin kasar. Hinata sangat malu, ia telah keluar beberapa kali tapi Sasuke belum sama sekali.

"SHIT, aku akan keluar." Sasuke meraskaan jepitan Hinata semakin menjadi di kemaluannya. Ia rendahkan tubuhnya dan melumat bibir Hinata penuh-penuh. Sementara Hinata hanya bisa gemetaran merasakan gelombang orgasmenya yang kembali datang. Bukan hanya dirinya yang orgasme, tapi Sasuke juga. Cairan kental pemuda itu bercampur dengan cairannya membanjiri rahim Hinata.

Sementara Sasuke semakin buas melumat dan memilin puting Hinata yang sudah sangat mengeras dan memerah. "Kau, sangat nikmat."

Sasuke menggulingkan tubuhnya ke samping tubuh Hinata. Sementara tangannya tetap meremas dada Hinata.

"Hi-hidupku hancur, masa depanku hancur." Hinata terisak sembari menerwang.

Sasuke yang mendengarnya menjadi iba. Selama ini ia tidak pernah bercinta dengan seorang gadis. Hinata adalah satu-satunya gadis yang ia rusak kehormatannya. Ia mendengus pelan.

"Aku akan bertanggung jawab. Berhenti menangis. Aku muak."

"O-orang macam kau mengerti apa tentang tanggung jawab?" tanya Hinata lirih.

"A-aku sudah kotor, aku tak berguna, a-aku..."

"SUDAH KUBILANG AKU AKAN BERTANGGUNG JAWAB."

"..."

"Berhenti menangis. Kau gadis pertama yang bercinta denganku. Sebelumnya aku belum pernah bercinta dengan seorang gadis yang masih benar-benar gadis. Lagi pula, aku tertarik padamu. Lebih tepatnya tubuhmu.."

"..."

"Kalau kita menikah nanti, mungkin aku tak perlu memaksamu untuk bercinta setiap hari denganku." Sasuke menyeringai.

"Aku belum puas bercinta dengan mu kau tahu?"

Sasuke melumat bibir Hinata kembali. Kedua tangannya gencar meremas dada Hinata.

"A-apa kau bersungguh-sungguh akan me-menikahiku?"

"Uchiha tak pernah ingkar janji. Jadi, puaskan aku sekarang. Layani aku sampai aku benar-benar puas, kau paham?"

Hinata pun membalas ciuman Sasuke untuk yang pertama kalinya. Suara decapan-decapan kedua bibir mereka dan kemaluan mereka yang bertemu menemani malam mereka. Desahan Hinata meluncur dengan sangat menggoda.

FIN

.

.

.

Maaf apdet lama, saya baru beres UTS ^^

Endingnya maksa banget ya? Haha

Abisnya saya gak mau punya dua beban fic multichap, oh ya. Terima kasih ya buat para readers baik yang mereview atopun enggak pokokknya terima kasiiih banyak :*

Bee sangat senang banget, oh ya, ada yang nanya Bee Wota ya? Bee bukan Wota kok. Hanya fans yang cinta banget sama 48 Family. Oshi Bee, Kashiwagi Yuki alias Yukirin ^^

Sekali lagi terima kasih banyaknya, review kalian buat Bee senyum-senyum sendiri. Oh ya, Bee hanya akan buat fic dengan pair SasuHina. Abis Bee cinta banget sih ama pair SasuHina. Mungkin Bee hanya akan buat fic rate-M waoooooww :DD

Sampai jumpa ^^

.

.

.

Salam Unyuuu :*