Bleach © Kubo Tite—not mine

Coffee © Silver Andante

Warning: AU (Alternate Universe), OOC (Out of Character), Plot Cepat.

.

Sebuah Fanfiksi untuk Hira-Hikashi Dark Butterfly

dan sapaan khusus darikuuntuk Cassandra A. R. Lynn

.

"Tentang aku, kau, dan analogi dalam secangkir kopi"


Page_02

Jam besar di taman berdentang beberapa kali, menunjukkan waktu sudah terlalu larut melewati tengah malam. Ranting-ranting pohon yang berderak diterbangkan angin. Malam di musim dingin kali ini mungkin akan sangat menyebalkan bagi mereka yang tidak menikmatinya.

Kedua orang yang tengah terduduk bersebelahan di dalam sebuah café masih bertahan ditengah dinginnya udara malam yang berhembus di luar sana. Keduanya menyesap kopi yang berbeda. Shinji dan sang bariste itu terduduk dalam diam, menahan dirinya masing-masing untuk saling berbincang—atau paling tidak saling mengenal satu sama lain.

Ini cangkir ketiga yang pemuda itu minum. Ia sebenarnya bukan seseorang yang komunikatif, namun juga bukan seseorang yang dapat bertahan dalam kecanggungan seperti ini. Tapi, ia tak yakin ingin mengusik ketenangan gadis di sampingnya saat ini. Padahal pemuda itu yang melontarkan ajakan, namun tak ada sepatah katapun bisa keluar dari bibirnya yang sedari tadi terdiam.

Ah, ia ingat. Shinji ingin sebuah perkenalan, bukan? Meskipun ia sudah mengetahui nama gadis ini dari pelayan lain, namun ia ingin mendengarnya sendiri dari celah bibir gadis itu. Bukan permintaan yang muluk, kan? Sederhana saja.

"Namamu?"

"Panggil saja Hiyori."

Sesingkat itu dan kecanggungan kembali menyeruak di antara mereka. Pemuda itu membenci dirinya sendiri yang tidak bisa berkutik jika sudah berada di hadapan orang yang disukainya. Dalam dirinya mengutuk apa yang bibirnya tak bisa katakan, juga suaranya yang serasa tercekat di tenggorokan.

Namun ia masih berpikir, sebenarnya apa yang sedang ia dicari? Untuk apa ia mengajak gadis itu untuk duduk bersama dan berdiam diri bermain dengan pikirannya masing-masing seperti ini?

Ya, dirinya sendiri juga bertanya-tanya apa. Shinji mendesah perlahan. Ia hanya menatap ke arah luar jendela café.

Monoton.

Satu kata yang dapat menafsirkan kehidupan Shinji saat ini. Ia pindah ke Karakura karena ingin memulai sesuatu yang baru di kehidupannya. Sudah 2 dekade ia melewati kehidupannya, namun ia tak pernah merasakan perasaan dimana ia begitu mengenal sosok seseorang yang baru pertama kali dilihatnya. Kecuali disini—saat ini ia merasa sesuatu yang berbeda mulai masuk menyelubungi hatinya yang dingin.

Perasaan ini hangat dan menentramkan. Begitu bergetar hatinya ketika tak sengaja bertemu pandang dengan kedua mata tajam itu. Ah, inikah yang dinamakan rasa suka? Atau bahkan, ia sudah mulai mencintai?

Ia menyesap kopinya untuk kesekian kali. Rasa manis yang pertama kali dirasakan oleh indra pengecapnya dan rasa pahit pun terasa ketika cairan itu perlahan masuk melewati kerongkongannya. Shinji bukanlah seorang pecandu kopi, ia hanya sesekali menyesap kopi jika ada waktu untuk bersantai seperti saat ini. Tetapi, entah mengapa saat ini ia ingin sekali meminum banyak cangkir kopi—merasakan sensasi menggiurkan ini lagi dan lagi.

Sama seperti gadis ini, ia ingin mengetahuinya lebih jauh, namun dalam dirinya juga berkata bahwa ia harus memiliki. Setidaknya hanya boleh ia yang mengecap hatinya. Ah, kenapa ia jadi egois seperti ini? Merasakan cinta… seperti ini kah?

"Apa yang sedang mengusikmu?"

Shinji menoleh ke arah gadis di sebelahnya. To the point, eh?

"Tak ada." Jawab pemuda itu singkat. "Hanya saja…"

Angin di luar menyeruak masuk, dingin tiba merambat ke sekujur tubuh gadis itu. Kehangatan entah darimana menepuknya—menghilangkan alam logikannya, hingga ia tak sadar bahwa saat ini pemuda itu hanya berjarak sangat dekat dengannya.

"Bagaimana perasaanmu jika ada seorang laki-laki yang mencintaimu?"

Hiyori menatap Shinji. Dan di mata kelam itu dirinya tak menemukan gurauan macam apapun. Ada keseriusan di sana. Namun, mengapa pemuda yang baru dikenalnya—ah, bahkan ia belum mengetahui nama laki-laki ini—menanyakan tentang hal itu? Apa maksud laki-laki itu?

Seakan suaranya terbang tertarik paksa, ia tak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun pedang intervensi lain menebasnya.

"Bagaimana jika laki-laki itu adalah aku?"

Hiyori tertegun. Selama seminggu ini, ia dihantui rasa penasaran. Gadis itu sering menatap Shinji dari kejauhan, dilihatnya ada sesuatu yang ingin diberikan oleh pemuda ini kepada dirinya. Namun tentu saja ia sendiri tidak tahu sama sekali, apa yang sebenarnya ingin diberikan oleh pemuda itu kepada dirinya.

Ia tahu pemuda itu selalu melihatnya, ia tahu pemuda itu selalu datang untuknya. Namun ia tak tahu untuk apa ia melakukan semua itu.

Apa yang dimaksud pemuda itu dari pancaran matanya adalah hal ini? Mencintai dirinya?

Mereka berdua baru bertemu seminggu lalu dan baru berinteraksi lebih hari ini, apakah rasa cinta tak mengenal waktu?

Ataukah ia hanya akan dipermainkan? Seperti kebanyakan laki-laki di luar sana yang mengatakan dusta beratas namakan cinta.

Sedangkan pemuda itu hanya diam saja. Rasanya, dirinya tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana kepada perempuan di hadapannya saat ini setelah pengakuan itu. Namun, melihat tatapan Hiyori yang terdiam menunduk, ia benar-benar tak dapat menahan dirinya lagi.

Kedua telapak tangan Shinji melingkupi sisi wajah Hiyori. Topi kain yang dipakai gadis itu perlahan terjatuh, menyibakkan helaian rambutnya yang panjang. Sejenak Shinji terpaku, ia bagai melihat sesuatu yang lebih menyegarkan mata daripada langit malam. Indah.

"A-ku…" Hiyori menatap Shinji dengan wajah bersemu, dan ia tak bisa mengelak lagi saat bibir pemuda itu mengecupnya. Pikiran kalutnya luruh seketika meninggalkan jejak-jejak perasaan yang tumbuh di dalam hatinya. Apa ini? Bukankah seharusnya ia mengelak, menampar pemuda ini yang melakukan pelecehan terhadapnya? Kenapa ia hanya terdiam?

Dan apa yang sedang merambat di hatinya saat ini? Tangannya bergetar, sendi tubuhnya melemas seketika. Ketika mata pemuda itu terbuka kemudian menatapnya, ia dapat melihat pancaran keseriusan di sana. Seolah-olah tatapan itu dapat mengatakan perasaannya. Juga detak jantungnya yang mulai berpacu.

Ah, inikah yang dinamakan love at first-sight itu?

"Panggil aku Shinji—yang mencintaimu sepenuh hati."


Page_03

Angin dingin menerpa pucuk-pucuk pohon akasia di pinggir jalan. Beberapa daunnya yang sudah menguning luruh satu-persatu di atas tanah yang membawa beban diri. Ada serangga yang terbang dan kemudian hinggap di atas mawar yang tengah mengorak kelopak.

Shinji menyibak rambutnya yang terurai panjang itu. Matanya menatap lurus ke arah jendela kamarnya yang menampakkan pemandangan kota Karakura. Pandangan matanya seakan tidak mau lepas juga dari matahari yang masih malu-malu menampakkan wujudnya di ufuk sana.

Kembali ia putar memorinya kepada kejadian malam lalu, ia masih tidak percaya apa yang diperbuatnya. Ah, mungkinkah apa yang ada di dalam perasaannya itu adalah cinta? Ia sebenarnya masih tak yakin jika ini dinamakan cinta. Yah, tapi dirinya masih ingat benar. Bagaimana perasaannya ketika menatap mata gadis itu, ada perasaan hangat yang terasa. Dan ketika mengecup juga memeluknya, ada sesuatu yang terasa lengkap pada dirinya.

Cinta seperti itu, kan?

Ah, tak salah ia ungkapkan pernyataan cinta itu. Semua yang ia lakukan di malam itu terasa benar. Dada Shinji bergemuruh, dan rasa itu terasa menyenangkan baginya. Namun ada satu hal lagi yang harus dilakukannya—mendapatkan jawaban dari gadis itu agar semuanya menjadi jelas. Ya, ia harus kembali lagi malam ini.

.

.

.

Sepulang bekerja, Shinji datang lebih awal dari biasanya, dan café itu terlihat lebih banyak orang dari sebelumnya. Ah, rasanya itu tidak memberatkan hatinya. Toh, ia akan menunggu sampai semua orang pergi. Dan tujuannya hanyalah untuk mendapatkan jawaban dari gadis itu.

Suara derit pintu kaca yang terbuka dan gesekan sepatu dengan lantai, tak membuat ketenangan café itu terusik. Shinji duduk di tempat favoritnya—di dekat jendela—yang kebetulan kosong dan membuka buku menu yang sudah tersedia di atas meja. Beberapa saat kemudian ia melihat seorang pelayan menghampirinya, ah, pelayan yang berbeda.

"Perkenalkan, nama saya Lisa, apakah ada yang ingin anda pesan tuan?" pelayan berkacamata itu melayani tanpa senyuman. Ck, pelayanan seperti apa ini? Dengan malas Shinji menolehkan kembali pandangannya ke buku menu.

"Bawakan aku Caramel Macchiato dan Apple Pie Filling."

"Oui, Monsieur. S'il vous plaît attendez." (Ya, Tuan. Mohon tunggu sebentar)Pelayan berkacamata itu pergi setelah mencatat pesanan Shinji.

Shinji mengedarkan pandangannya ke arah pantry dan melihat pujaan hatinya sedang berkonsentrasi pada kopi yang dibuatnya. Tak berapa lama hidangan yang dipesannya datang dengan diantar oleh pelayan yang sama.

"Selamat menikmati hidangan anda."

Dengan tidak menghiraukan pelayan itu, Shinji masih setia menatap Hiyori yang masih berkutat dengan mesin espresso-nya. Pemuda itu tersenyum memandang Hiyori yang sedang mengusap peluh di dahinya ketika pekerjaan telah selesai. Dan sedetik kemudian pandangan mereka bertemu. Sungguh, ia tak akan melewatkan pemandangan ketika mata safir kuning itu melebar terkejut. Dengan senyuman menawan Shinji membalas tatapan itu.

Namun, gadis bariste itu mengalihkan pandangannya seolah tak perduli. Tubuhnya menghilang di balik dinding pantry. Dan seketika, ada sekelebat rasa sakit yang dirasakan Shinji melihat hal itu, tapi segera ditutupi dengan kekehan sebelum menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan suasana mulai sepi, Shinji memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu pelayan yang ia temui di dekat pantry.

"Maaf, bisakah aku bertemu dengan bariste—yang bernama Hiyori?"

Dan jawaban dari pelayan itu membuatnya kecewa.

"Ah, pardonnez-moi. (Ah, maafkan saya) Hiyori sudah pulang dari tadi. Apakah ada yang ingin anda sampaikan padanya?"

"No, merci."


Page_04

Ini hari kelimanya berada di café itu tiap malam sepulang kerja, tak peduli badannya sudah remuk karena pekerjaan yang bertumpuk. Dan sejak malam pertama Shinji menunggu gadis itu untuk menjawab perasaannya, dia tak dapat menemukannya. Shinji mengerti—sangat mengerti mengapa Hiyori terus menghindarinya seperti ini. Oleh karna itu, ia putuskan untuk terus mengiriminya surat.

Dan seperti malam ini, Shinji menjejakkan kakinya untuk beranjak dari tempat ini. Menuju kasir dan menitipkan surat itu. Petugas kasir itu menyambutnya dengan senyuman yang hangat. Sepertinya orang itu sudah hafal dengan wajahnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan sebuah surat dari sakunya. Kemudian Shinji pergi dengan sebelumnya mengucapkan 'merci' padanya.

Dingin menyahut ketika ia melangkah keluar dari café itu. Ah, malam dingin yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Shinji merapatkan mantelnya dan berjalan pulang, tanpa tahu bahwa seseorang memperhatikannya sejak tadi.

.

.

.

Hiyori tampak tegang dalam persembunyiannya, ia masih tetap mengawasi Shinji sampai pemuda itu tenggelam dalam kegelapan malam. Ia tahu sikapnya terlalu berlebihan sampai melakuan hal seperti ini. Tapi gadis itu… ia hanya bingung dengan perasaannya. Ia butuh waktu untuk menjawab kalimat yang pemuda itu sampaikan di malam-malam yang lalu.

Ia masih ingat bagaimana perasaannya saat pemuda itu menatapnya. Berlebihankah jika ia mengatakan ada cinta dalam pancaran matanya? Dan salahkah dirinya mengira bahwa cinta itu adalah dusta belaka? Salahkah ia mengira pemuda itu hanya akan mempermainkannya?

Hiyori takut, ia tak ingin jatuh ke dalam jerat cinta yang palsu dan penuh dusta. Ia menginginkan seseorang yang mencintainya sepenuh hati. Namun, ia masih ragu jika Shinji mencintainya sepenuh hati—sama halnya seperti yang ia katakan saat itu.

"Hiyori, kau tidak kasihan melihat pemuda itu selalu datang kesini dan tidak menemukanmu?" Tanya Rose sambil menyerahkan surat yang didapatnya dari Shinji. Hiyori mengambil suratnya dan menghela nafas.

"Tidak mudah jika kau berada dalam posisiku saat ini."

Rose hanya menaikkan bahu dan berjalan menuju ruang loker untuk bersiap pulang. "Jangan terlalu lama membuatnya menunggu, kau bisa menolaknya, kan?"

'Benar juga.' Benarnya dalam hati, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia mempunyai sedikit perasaan pada pemuda itu.

"Tapi berpikirlah lagi, kulihat dia berjuang keras untuk mendapatkanmu." Sayup-sayup ia mendengar perkataan Rose yang sudah menghilang dibalik pintu. Ah, perkataan itu membuatnya dilema. Apa yang harus dilakukannya saat perasaannya belum pasti? Tak mau membuat pikirannya tambah penuh, ia memilih membuka surat yang diterimanya.

Aku tahu kau butuh waktu.

Aku akan menunggu…

Pemuda itu, mengirim surat-surat yang lalu yang berisikan kata maaf dan penyesalan, juga penyataan bahwa ia mencintai dirinya. Namun, kali ini ia mendapatkan dua kalimat yang membuat hatinya berdesir. Pemuda itu akan menunggunya sampai ia siap? Ah, entah mengapa rasa bahagia merambat ke dalam hatinya. Dan tanpa sadar ia melengkungkan garis bibirnya. Ia tersenyum…

.

.

Continuará

Reply for Guest Review

hannah-san:Terima kasih sudah membaca dan memberi komentar. Wah, benarkah? Mereka memang cocok kok. Yup, ini sudah dilanjutkan. :D