Page_05

Hari dimulai seperti biasanya, Hiyori masih tetap enggan untuk berinteraksi dengan Shinji. Pemuda itu hanya dapat melihatnya dari jauh, Hiyori tahu itu. Ia sering mendapati tatapan mata Shinji memandang dirinya yang terlihat dari celah jendela pantry. Dan sesekali, ketika pandangan mata mereka bertemu, pemuda itu tersenyum padanya. Apakah ia tidak lelah melakukan semua itu?

Namun, ketika ia merasa diperhatikan seperti ini, ia tak akan bisa tak menggulum senyum. Ia bahagia ada yang memperhatikannya. Gadis itu belum pernah merasakan rasa seperti ini dalam hidupnya. Hiyori merasa… dicintai.

Senyum Hiyori terkembang, jantungnya berdendang riang. Gadis itu mengintip melalui jendela, dan lagi-lagi ia terpesona oleh pemandangan itu. Shinji yang sedang memandang ke arah luar jendela, begitu tampan. Sedetik kemudian ia tersadar dan wajahnya memerah sampai ke telinga. Hiyori meneruskan pekerjaannya tanpa menoleh lagi.

Namun ketika sebuah kejadian yang membuatnya harus berhadapan dengan Shinji kembali, hatinya berdegup. Gadis bariste itu diharuskan mengantarkan pesanan Shinji ke mejanya. Ingin sekali ia menyerahkan tugas itu kepada pelayan lain, namun tak ada satupun yang tersisa karena sibuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Dan ia harus cepat sebelum pesanan lain bertumpuk.

Nampan yang menjadi alas pesanan Shinji sudah dipersiapkannya. Dan ia mulai memperhatikan penampilannya agar tak terlihat berantakan lewat mesin espresso yang berwarna silver mengkilap itu. Namun sedetik kemudian dirinya tersadar, kemudian bertanya-tanya 'untuk apa dirinya melakukan semua hal ini?'. Ia segera berdiri tegap lalu keluar pantry membawa nampan berisi pesanan Shinji yang sudah menunggu di pojok sana. Shinji yang sedari tadi memperhatikannya sejak keluar dari pantry pun tersenyum lebar sampai Hiyori berada di dekatnya. Hiyori meletakkan piringan itu di meja tanpa berkata-kata.

"Hey, Hiyori. Akhirnya aku dapat melihatmu sedekat ini. Sungguh rindunya…" dengan senyuman menawan yang diperlihatkan Shinji, jantung Hiyori berdegup lebih kencang. Ia tersentak dan berlari sambil membawa nampannya masuk ke dalam pantry.

Hiyori terduduk lemas sambil memegang wajahnya yang merona. Ia belum pernah sebahagia ini selain mencoba kopi terlezat yang pernah ia buat. Saat mendengar suara maskulin itu menyapanya, saat melihat senyuman di wajah pemuda itu.

Inikah cintanya? Cinta pertamanya? Pada pemuda yang baru mengatakan cinta padanya beberapa hari lalu?

Hari-hari berikutnya Hiyori tak dapat menghilangkan pikirannya tentang Shinji.

.

.

.

Siang hari di musim gugur saat itu, Shinji masih duduk di meja yang sama—dengan secangkir kopi yang sama. Dirinya yang masih setia menunggu pujaannya. Suasana ramai dirasakannya di dalam sana. Ah, ya. Ini kan hari libur. Yah, hari untuk berdamai dengan pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sungguh, ia belum melihat Hiyori sejak tadi pagi. Semangatnya sudah hilang untuk menikmati hari liburan ini dengan santai.

"Ah, Shinji-san!"

Sebuah suara menyapanya. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita berada di hadapannya. Wanita itu tersenyum, "Boleh aku duduk disini?"

Shinji menjawab dengan senyuman kepada rekan kerjanya itu. Sungguh tidak terduga mereka bisa bertemu disini, setidaknya ia bisa menghilangkan kebosanan dengan mengobrol bersama dengannya. Tapi hatinya masih bertanya-tanya… kemanakah Hiyori hari ini?

"Tak kusangka Shinji-san berada disini, kukira kau menikmati liburanmu di tempat yang lebih terbuka." Rekan kerjanya—Hinamori Momo, membuka pembicaraan setelah seorang pelayan meletakkan pesanan miliknya diatas meja.

"Ah, inginnya seperti itu, tapi aku tidak bisa."

"Kenapa?" Momo bertanya dengan nada penasaran, namun Shinji menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Momo ikut tersenyum mengerti bahwa Shinji tidak ingin mengatakannya. Setelah itu, suasana kembali tenang diantara mereka. Momo memandang pemuda di hadapannya yang tengah memperhatikan jalanan dari balik jendela café. Wanita itu terpesona, ah, bukan yang pertama kali, bahkan sejak pertama ia melihat pemuda itu berada satu kantor dengannya. Momo tidak pernah menyangkal bahwa ia begitu mencintai pemuda ini.

"Shinji-san! A-ano…" pemuda itu menoleh ketika Momo memanggilnya—dengan sedikit berteriak. Namun ia hanya mendapati wanita itu menundukkan kepalanya. Sementara itu alasan Momo menunduk karena ia sangat malu. Ia bisa merasakan wajahnya bersemu dan mungkin sangat merah.

"Ada apa?" tanya Shinji yang terdengar sangat lembut dalam pendengaran Momo.

Wanita itu mendongak, menatap mata Shinji. Ia biarkan wajah merahnya terlihat, dan ia sudah siap. Bibirnya bergerak mengucapkan sebuah kalimat yang terdengar seperti bisikan. Entah Shinji dapat mendengarnya atau tidak diantara keramaian didalam café dan alunan musik yang bersahutan di telinga pemuda itu.

"Aku mencintaimu…"

Shinji terdiam, setelah beberapa detik berlalu ia tersenyum lembut—senyum yang biasa ia tunjukkan. Ia menaruh telapak tangannya, mengelus sebelah pipi Momo—menghapus noda cream yang masih terlihat di sudut bibir wanita itu. Ia mengerti apa yang sebenarnya wanita itu inginkan. Sementara Momo kembali bersemu. Namun, jawaban atas perasaannya tak seperti yang ia impikan, semua terdengar jelas setelah Shinji mengatakannya.

"Maaf, tapi aku sudah mencintai orang lain…"

Hati Momo hancur, sama seperti Hiyori yang patah hati ketika melihat pemandangan itu dari kejauhan tanpa bisa mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Hiyori terpaku dan tak bisa berkata-kata. Hatinya berdenyut sakit melihat pemandangan itu. Ia menutup pintu pantry yang tadi terbuka. Ah, batal sudah jawaban yang sudah ia persiapkan. Ia kembali masuk ke dalam pantry dengan hati kecewa. Ternyata Shinji bukanlah pemuda yang selama ini ia kira.

.

.

.

Sudah hampir seminggu ini Shinji datang ke café itu dan menunggu, tapi berakhir tidak dapat menemui Hiyori di sana dengan alasan sibuk atau pulang cepat. Dan alasan itu dipakai tidak satu atau dua kali, tapi setiap hari ketika ia datang ke sana. Bariste itu seperti menghindari dirinya. Atau mungkin… memang menghindari dirinya. Ia sudah berulang kali berkata pada dirinya sendiri bahwa gadis itu memerlukan waktu untuk menjawab penyataannya kala itu. Namun ia tak menyangkal bahwa ia tak sabar berada dalam kebimbangan seperti ini.

Shinji menaruh Caramel Latte-nya dan berdiri ketika ia melihat sosok Hiyori di pantry, ia bergegas menuju ruangan itu. Dilihatnya Hiyori yang sedang terfokus pada racikan kopinya lewat jendela pantry. Derit pintu terbuka dan seketika itu Hiyori menoleh. Matanya melebar tatkala melihat siapa yang membuka pintu tersebut.

"Hiyori… Kenapa kau menghindariku?" Shinji melangkah mendekati Hiyori yang sedang membatu, tangannya terjulur ingin segera merengkuhnya dalam dekapan. "Kenapa kau mendiamkanku seperti ini?"

Namun, sebelum bisa mencapai tubuh gadis itu, seorang pria dengan rambut cepak berwarna abu-abu menghalanginya.

"Maaf Tuan, pelanggan seharusnya tidak diperbolehkan memasuki area pantry. Sebaiknya anda tahu apa yang harus anda lakukan selanjutnya." Pria berambut abu-abu itu menunjuk pintu keluar dan menatapnya tajam. Sementara Hiyori yang bersembunyi dibalik tubuh tegap pria itu menunduk, tak berani menatap Shinji yang sedang memandangnya—sendu.

Pada akhirnya Shinji keluar dengan berat hati melangkah kembali ke mejanya. Ia menatap cangkir kopinya tanpa minat. Sungguh, ia sangat merindukan gadis itu. Tapi mengapa ia tak ingin menemuinya? Jikalau memang pemintaan maafnya tak diterima, atau bahkan juga dengan perasaannya, gadis itu bisa saja meneriakinya, menamparnya, memukulinya hingga habis. Daripada ia didiamkan seperti ini tanpa kepastian yang jelas.

Shinji meneguk Caramel Latte-nya. Namun manis gula yang biasanya terasa di lidahnya, kini menghilang tergantikan oleh rasa pahit yang memenuhi rongga mulutnya. Ah, mengapa semuanya terasa kelu. Hatinya maupun lidahnya. Ia belum pernah sebimbang ini dalam hidupnya.

.

.

.

"Kau baik-baik saja, Hiyori?" pria berambut cepak itu berbalik setelah pemuda berambut kuning pucat itu keluar dari ruang pantry. Ia melihat raut wajah Hiyori yang terlihat ketakutan. Melihat Hiyori yang seperti itu, pria itu mendekapnya—membuatnya tenang.

"A–aku baik-baik saja, Kensei. Tak perlu khawatir…"

"Badanmu bergetar, apanya yang baik-baik saja?" Kensei mengeratkan dekapannya. Namun Hiyori masih berusaha melepasnya meskipun usahanya gagal. Air mata yang sedari tadi ditahannya, ia biarkan keluar. Membasahi apron putih yang dipakai Kensei.

"Padahal… aku sudah menetapkan sebuah pilihan. Mengapa… mengapa ia… mempermainkan perasaanku seperti ini?" suaranya sedikit tertahan namun Kensei masih dapat mendengarnya. Pria itu hanya bisa mengelus puncak kepala Hiyori, menenangkannya. Ia yakin Hiyori begitu sakit hati saat ini, namun apa yang bisa diperbuatnya. Ia juga tak tahu siapa pemuda itu dan masalah yang ada di antara mereka.

Setelah tangis gadis itu berhenti, Kensei melepaskan pelukannya. Menghapus jejak air mata yang membekas di sisi wajahnya.

"Tegaskanlah pilihanmu padanya agar ia tak bisa mempermainkanmu lagi, Hiyori."


Page_06

Malam mulai larut, para pelanggan pun semakin sedikit yang menetap. Hingga pada akhirnya, hanya Hiyori dan Shinji yang ada di sana, mengulang apa yang kemarin telah mempertemukan mereka.

"Maaf tuan, café ini akan ditutup." Shinji masih menatap Hiyori yang tiba-tiba bersikap formal kepadanya saat ini. "Bukankah sebaiknya anda pulang ke rumah pada saat ini…"

Gadis itu menunduk, tak berani menatap pemuda yang ada di hadapannya saat ini. Sejenak, suasana hening menyelimuti mereka. Sampai tak berapa lama tangan Shinji terulur ingin merengkuh tubuh mungil Hiyori. Namun, diurungkannya niat itu.

"Hiyori, tatap aku…" suara lembut Shinji memasuki indra pendengaran Hiyori, tapi tak digubrisnya kata-kata itu.

"Hiyori, tatap aku." Kali ini suara itu lebih tegas—menyuruhnya untuk mengikuti perkataan pemuda itu. Tapi tetap saja gadis itu tak takut, ia masih menunduk menyembunyikan pandangan matanya dibalik poni yang sudah memanjang.

"Pulanglah dan jangan datang kembali lagi." Shinji menggeram sebelum menarik Hiyori dan menaikkan dagu gadis itu agar dapat menatap kedua matanya. Amarah dan rindu yang selama ini dipendam, serasa ingin meledak keluar dari dalam tubuhnya. Ia menatap kedua mata safir kuning yang kelihatan berkaca-kaca itu.

"Kau menolakku, tapi kau tak menatapku…" suara Shinji melemah, ia melepaskan tangannya dari wajah Hiyori. "Kau mencintaiku kan…?"

Sungguh, Hiyori tak bisa melihat pemuda yang ada dihadapannya kini begitu rapuh seperti ini. Namun, bayangan tentang Shinji yang berdusta dengan kata cinta dan mempermainkannya membuat diri Hiyori takut. Gadis itu menggeleng, ia tak dapat mengeluarkan suaranya. Ia takut apa yang dikatakannya tak sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.

"Kau sedang berbohong, kan?"

Dalam hati, Hiyori membenarkan kata-kata itu. Tapi ia tak biarkan hatinya berbicara. Kepalanya menggeleng lagi, namun air matanya meleleh keluar begitu ia berhenti dan menatap mata Shinji. Sementara pemuda itu tersenyum, membiarkan tubuh Hiyori yang lemas jatuh ke dalam pelukannya. Ia menghirup dalam aroma kopi dan vanili dari tubuh Hiyori, juga tangannya yang tak henti bergesekan halus dengan punggung gadis itu—menenangkannya.

"Kenapa kau pergi setelah aku memutuskan untuk datang padamu…" Hiyori bergumam, namun Shinji tak mengerti apa arti dari kalimat itu. "…mencintaimu itu… menyakitkan jika seperti ini."

Shinji mendengar kembali isakan lolos keluar dari bibir Hiyori setelah mengatakan hal itu. Perlahan Shinji mencerna maksud dari perkataan Hiyori yang terdengar seperti bisikan itu. Seketika senyuman semakin terkembang di bibir pemuda itu.

"Aku mencintaimu… Aku mencintaimu… Terima kasih…" Ia memeluk semakin erat tubuh Hiyori sambil mengucapkan kata-kata itu berulang kali. Namun Hiyori tersentak lalu melepas pelukan pemuda itu dan memandang Shinji ragu juga kecewa.

"Kau masih mengatakan cinta padaku setelah kau mendapatkan orang lain, kau mempermainkan perasaanku kan?" air mata Hiyori kembali meleleh.

"Apa maksudmu?" Shinji mengernyit tak mengerti. Senyumannya hilang kala Hiyori menuduhnya mempermainkan perasaan gadis itu.

Dalam isakannya yang tak berhenti, Hiyori menggigit bibir bawahnya guna meredam isakan itu. "Kau… kau membawa kekasihmu ke sini beberapa hari yang lalu."

Sedetik pertama pemuda itu terhenyak, selebihnya Shinji menghela napas lega. Ternyata masalahnya hanya itu. Kedua tangannya yang besar menyentuh sisi-sisi wajah Hiyori yang kembali menunduk, ia menengadahkan wajah gadis itu kepadanya. Hingga sentuhan lembut terasa di bibir Hiyori yang bergetar.

"Kau cemburu pada teman kantorku?" Senyuman Shinji semakin lebar ketika melihat ekspresi Hiyori yang seperti menahan napasnya saat itu. "Ia hanya kebetulan melihatku disini dan langsung menghampiriku. Dan aku tak punya hubungan khusus dengannya kecuali sebatas teman dan rekan kerja."

Hiyori rasanya ingin segera melarikan diri dari sana setelah Shinji menjelaskan segalanya. Ia kembali menghindari kontak mata dengan Shinji. Sementara pemuda itu yang merasa bahwa Hiyori tidak nyaman dengan kedekatan mereka, melepaskan sentuhannya pada wajah gadis bariste itu. Namun, tidak sepenuhnya terlepas. Ia segera menggenggam tangan Hiyori yang dingin. Menautkan jari-jemarinya menjadi utuh dengan jari-jemari gadis itu.

"Katakan…" Shinji menatapnya lembut. Hiyori dapat merasakan tangan Shinji yang gemetar dan suara degup jantung yang entah miliknya atau milik pemuda itu. "…kau mencintaiku, kan?"

Sejenak Hiyori menelan ludah, kali ini ia sungguh-sungguh tak akan bisa menghindari tatapan mata pemuda itu. Sementara degupan jantungnya semakin berdendang. Hingga bibirnya perlahan terbuka dan mengucapkan kata-kata yang selama ini Shinji tunggu.

"A-aku… mencintaimu…"

.

.


Case_Sequel

Di tengah kerumunan pelanggan yang begitu banyak di dalam café, Shinji memberanikan diri menuju pantry. Dengan mantap membuka pintu itu dan apa yang dilihat pertama kalinya adalah pemuda berambut cepak abu-abu. Pemuda bernama Kensei itu menatap tajam ke arah Shinji.

"Sudah kukatakan berulang kali untuk tak sembarangan masuk area pantry, bukan?" Shinji menanggapi pertanyaan Kensei dengan senyuman kaku. "Apakah niatmu kesini ingin mengajak Hiyori menikmati suasana malam natal?"

Shinji mengangguk sementara Kensei berjalan menuju pintu belakang, kemudian menyeret Hiyori yang terlihat mempesona bagi Shinji. Rambut gadis itu terurai dengan mantel berwarna cream lembut yang melekat pas di tubuhnya.

"Hei! Apa-apaan kau, Kensei! Lepaskan aku! Pelangganku masih banyak!" Hiyori meronta-ronta dari genggaman Kensei sebelum pemuda berambut cepak itu mendorongnya kepada Shinji sehingga Hiyori terjatuh ke pelukan Shinji.

"Bawa dan jaga dia! Awas kalau kau macam-macam!" ancam Kensei masih dengan tatapan tajamnya yang membuat Shinji mengangguk cepat. "Dan Hiyori, sekali-kali nikmatilah malam natal di luar, biarkan kami yang menyelesaikan pekerjaan di sini."

Setelah Kensei menghilang di balik pintu, Shinji menghela napasnya. Sementara Hiyori yang tersadar berada di pelukan Shinji langsung berdiri tegap sambil menepuk-nepuk mantelnya—salah tingkah.

"E-ehem… sebaiknya kita pergi sebelum salju turun." Hiyori berjalan mendahului Shinji yang sedikit terkekeh di belakang gadis itu.

.

.

.

Malam natal taman-taman kota mulai ramai pengunjung, deretan pertokoan pun sudah dipenuhi orang-orang yang berlalu-lalang. Pohon-pohon yang tinggal ranting dihias dengan lampu-lampu kecil. Salju belum turun, namun sejak tadi pagi suasana sudah terlihat kelabu. Shinji dan Hiyori berjalan berdampingan, meskipun sudah sebulan berlalu mereka berdua menjalani hubungan tapi mereka masih malu-malu untuk saling bergandengan tangan. Melihat kerumunan orang semakin banyak, Shinji memberanikan diri untuk menggenggam tangan Hiyori.

"Aku tak mau terpisah denganmu…" kalimat sesederhana itu dilontarkan Shinji sebagai alasan, namun tetap saja membuat wajah Hiyori merona. Shinji tersenyum dan melanjutkan perjalanannya dengan merasakan hangatnya tangan kecil Hiyori yang tak tertutupi oleh sarung tangan.

Mereka berdua mencapai puncak taman yang sepi, dari atas sana dapat terlihat pemandangan kota yang begitu indah. Dan itulah yang membuat Hiyori sangat bahagia begitu mereka sampai di tempat ini.

"Kau suka?" Shinji memandang lurus lampu-lampu kota yang terlihat di bawah sana. Dan ia mendengar Hiyori mengumam mengiyakan pertanyaannya. Tangan hangat mereka sedari tadi saling bertautan, tak ada yang mencoba untuk melepasnya. Malam natal kali ini Hiyori begitu bahagia bisa menikmati pemandangan malam yang indah, bersama dengan orang yang baru dikenalnya sebulan belakangan—orang yang dicintainya—Shinji Hirako.

"Hey, kau menyukai ini karena pemandangannya atau karena menikmati malam natal bersamaku?"

"Keduanya, mungkin?" untuk pertama kalinya Hiyori tersenyum begitu manis kepada Shinji. Sementara pemuda itu terpaku, Hiyori menyisipkan kedua tangannya melingkari tubuh pemuda itu—memeluknya. "Aku sangat bahagia menikmati malam natal bersama dengan orang yang kucintai."

"Kalau begitu, aku lebih suka menikmati malam berdua di café dan saling meyesap kopi yang kita suka, setelah itu aku dapat mengecap manisnya kopi yang tersisa di bibirmu…"

Plakk!

Hiyori memukul telak kepala Shinji yang sekarang sedang meringis kesakitan. Ia membelakangi pemuda itu, kesal atas kalimatnya yang—menurutnya—begitu frontal. "Bisa saja. Dalam mimpimu!"

Namun gadis bariste itu tersentak ketika sepasang lengan kokoh mendekapnya dari belakang, dan membisikkan sesuatu di telinganya.

"Kalau begitu menikahlah denganku dan mengubah semua mimpi-mimpi itu jadi kenyataan…"

Begitu manis, mengitu lembut. Suara maskulin milik Shinji menyapa gedang telinganya yang sensitif. Hiyori dapat merasakan detak jatung Shinji dan detak jantungnya sendiri yang berpacu dalam suasana hening yang diciptakan. Dan Shinji membelah keheningan itu dengan kata-kata yang pernah ia torehkan di atas kertas kala itu. "Kalau kau butuh waktu, aku akan menunggu…"

Seketika butiran-butiran salju perlahan jatuh dari langit dengan indahnya. Shinji melepas pelukannya dan menghadap ke arah kota. Dan seketika itu pula Hiyori kehilangan hangat dari pelukan Shinji yang nyaman tadi.

"Lihat, salju mulai turun. Ayo turun sebelum saljunya semakin lebat." Shinji mengamit tangan Hiyori yang sedari tadi terpaku. Mereka mulai berjalan di tengah butiran salju yang mulai turun dalam diam. Hiyori tertunduk di belakang Shinji yang masih berjalan di depannya, sementara tangan mereka bertautan erat.

'Kita baru memulai sebuah hubungan, dan… menikah? Apakah ini semua tidak terlalu cepat?'

Hiyori mendongakkan wajahnya memandang punggung Shinji yang tegap di hadapannya. Dengan semua yang ada selama ini, apakah ini sebuah candaan atau apa? Ia tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud Shinji. Hiyori melepaskan genggaman tangannya dan berhenti berjalan. Shinji yang tersentak saat itu menoleh.

"Apa yang kau katakan!? Aku tak mengerti sama sekali! Kita baru memulai sebuah hubungan, dan… dan kita belum lama berkenalan!"

Hiyori dengan wajah tertunduk mengatakan apa yang ia rasakan pada Shinji yang kini terdiam. "Se-semuanya terlalu cepat bagiku, rasanya seperti sebuah kebohongan!"

Beberapa saat mereka terdiam, dan kemudian Shinji mendekat. Membawa Hiyori yang telah mengeluarkan air mata dalam dekapannya. Pemuda itu memeluknya erat, menyesap harum dari rambut kekasihnya itu.

"Kau tak mempercayai? Kau tak percaya dengan perasaanku?"

Shinji bertanya dengan nada lirih, ia begitu kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa membuat Hiyori mempercayainya. "A-aku… Aku tak tahu…"

"Aku merasa tak percaya dengan semua ini, kau seperti mempermainkan perasaanku. Semua pertanyaan berputar dalam pikiranku. Dan ketika diriku memikirkan hal lain, hatiku sangat sakit… Dan bahkan, a-aku… aku… sangat bahagia saat kau mengatakan hal itu." Air mata itu—yang mengalir di sisi wajah Hiyori. Sementara Shinji yang tersenyum bahagia setelah mendengarkan perkataan Hiyori.

Terjawabkah sudah lamarannya itu? Ya, Hiyori telah mengatakannya.

Di bawah hujan salju malam itu, ciuman itu terasa lebih hangat.

Hingga pada akhirnya mereka menikmati malam natal di dalam café dengan menyesap kehangatan kopi yang mereka berdua sukai, menjadikan semua pernyataan Shinji malam itu menjadi kenyataan dalam sekejap. Sampai hati mereka penuh dengan kebahagiaan yang tak terhingga, menunggu bel gereja berdentang menandai persatuan hubungan mereka.

.

.

.

Kata-kata yang kutulis dalam surat kala itu tak pernah berubah.

Aku akan menunggu, sampai saatnya kau siap untuk berada disampingku…

Sama halnya dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadikan secangkir kopi itu dapat dinikmati.


.

Owari

.


Thanks for Dear Reader and Reviewer. Terutama Reviewer di chapter lalu; (skyesphantom, Hideyashu Shigemori, hannah, reiji m, hendrik widyawati)

Dear Hira-Hikashi Dark Butterfly, terima kasih untukmu—yang mungkin sudah melupakan request 3 tahun lalu ini, dan maaf untuk keterlambatannya. Mencari chemistry itu tidak mudah untuk pair ini karna keterbatasan scene dilayar kaca. *bruagggh!* Juga keterlambatan update chapter terakhir. *bruagggh!* Juga tema yang tidak sesuai dengan endingnya *bruagggh!* oTL

Ah, maaf jika mengecewakan. *bow*

Jaa matta, minna-san! :)

Credit :

Bleach © Kubo Tite

Writer :

Silver Andante

Fiction for :

Hira-Hikashi Dark Butterfly & Cassandra A. R. Lynn

Completed on Friday, April 19, 2013