Disclaimer : KHR is belong to Amano Akira
Story by Rin (ngawur nga jelas seperti biasa)
.
Warning! Buat yang nga suka silakan tekan back. Buat yang penasaran, silakan lanjut dan baca, mohon tinggalkan review. Ini baru pembukaan, mohon maaf jika _sangat_ jelek.
.
.
.
Bertahun-tahun aku mencari sosokmu hingga akhirnya kita bisa bertemu lagi. Sayangnya hanya aku yang tetap mengingat semuanya, semua yang pernah terjadi. Tapi tak apa...yang penting aku telah menemukanmu, asal bisa bersamamu lagi...apa pun akan kulakukan meski harus membayar dengan nyawa.
.
"Suki da yo...Mukuro..."
.
Hanya sebuah kalimat singkat yang dikatakannya membuatku bahagia, namun begitu berat untuk menjawab. Aku tak pantas untukmu, tangan ini sudah terkotori oleh darah dari ribuan orang. Aku telah kotor, tak pantas bagimu yang masih bersih tak ternoda. Aku tak pernah bisa membuatmu bahagia.
.
"Terimakasih selalu menjagaku."
.
Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu, untuk menebus semua air mata yang kau teteskan demi diriku, untuk setiap senyum yang kau berikan meski aku tahu saat itu kau begitu menderita. Hanya dari jauh aku berani menatapmu, berharap kau tak menyadari hati ini yang menangis karena merindukanmu. Betapa inginnya aku memelukmu setiap kali kau ada di dekatku dengan senyummu yang bagai cahaya di hatiku yang gelap dan dingin. Kau lah alasanku untuk tetap hidup hingga kini. Tak peduli seberapa sakit dan penderitaan yang harus kutanggung.
.
"Aku...aku janji akan mengeluarkanmu dari penjara itu! Kumohon bersabarlah!"
.
Jangan pernah melakukan hal yang berbahaya demi diriku. Aku tak mau kehilangan dirimu untuk kesekian kali, di kehidupan sebelumnya...aku selalu kehilangan dirimu. Kumohon...aku belum siap kehilangan dirimu sekali lagi!
.
"Sawada Tsunayoshi...telah mati."
.
Ini hanya mimpi buruk kan? Skylark bodoh itu sedang bercanda kan? Saat aku bangun aku akan selalu menemukanmu di ruangan itu, menyambutku dengan senyum meski terkadang terlihat lelah. Kenapa...? Tidakkah kau pernah memikirkan perasaan orang yang kau tinggalkan? Kumohon...kembalilah...
.
"Aku ingin menjadi kuat demi melindungi kalian, keluargaku. Aku ingin kuat agar kau mau mengakuiku, agar suatu saat aku bisa melindungimu."
.
Akulah...yang seharusnya melindungimu. Aku Guardian-mu kan? Aku ada bukan untuk melihatmu mati!
.
"Aku akan menunggu hingga kau mau menerimaku. Diriku di masa depan pasti juga melakukan hal yang sama, karena perasaan ini takkan pernah berubah."
.
Jangan menatapku dengan mata itu, berhentilah berusaha demi diriku! Kau yang di masa lalu maupun masa kini sama saja! Aku tak mau lagi kau mati karena aku, kumohon jangan pernah mencintaiku lagi! Aku tak butuh pengorbananmu! Biarkan aku saja yang merasakan semua sakit dan penderitaan ini!
.
"Rokudo Mukuro...aku janji kau takkan sendirian lagi. Aku akan kembali bagaimana pun caranya. Karena itu...maukah kau bersabar sebentar?"
.
Janji itu...akankah kau menepatinya? Akan kuakhiri semua penantianmu dan membuang jauh-jauh rasa takut di hatiku. Kembalilah...kembalilah kesisiku... Aku membutuhkanmu.
.
~Normal Pov~
.
Seorang pemuda bersurai indigo panjang yang dikuncir satu tampak menatap sosok remaja brunette yang tertidur di ranjang hospital wing Vongola Secret Base. Setelah melawan Byakuran, kini remaja itu masih tertidur dalam pengaruh obat untuk memulihkan tenaganya. Perlahan dia duduk di samping sang Vongola muda tanpa melepaskan tatapannya barang sedetik pun. Tatapan yang penuh rasa rindu dan kepedihan.
.
"SawadaTsunayoshi." nyaris tak terdengar. "Saat kau pergi, apa dia akan kembali padaku?" Meski Mukuro menyentuh bibir dan pipinya, Tsuna tetap terlelap tanpa ada rasa terganggu.
.
Baru beberapa langkah keluar dari ruang perawatan, Mukuro merasakan hawa menusuk di belakangnya.
"Jadi kau masih melarikan diri?" tanpa menoleh Mukuro tahu siapa pemilik suara itu.
"Kufufufu, bukan urusanmu Hibari Kyouya."
"Herbivora menyedihkan, yang paling kusayangkan dia malah memilihmu."
"Masa lalu maupun masa depan, kau dan dia tetap mengatakan hal yang sama."
"Karena kau pun tak berubah, pengecut." desis Hibari sambil lalu.
"Kufufufu, kau jahat sekali mengataiku begitu."
.
.
.
.
.
Di tengah hutan yang penuh bunga, di atas sebuah peti mati berlambang Vongola, pemuda bersurai Indigo tengah duduk menatap langit dengan tatapan kosong. Remaja bersurai hijau tosca yang sejak tadi ikut dengannya pun angkat suara.
.
"Hari ini mereka kembali ke masa lalu, kau tak ingin mengucapkan selamat jalan Shisho?"
"...tinggalkan aku sendiri."
"Hm~, terserah deh. Lagipula me harus kembali ke Varia."
.
.
.
'Aku hanya ingin bertemu dia saat ini.' Mukuro meraba lambang Vongola di peti mati itu. "Tsunayoshi..."
"Kau kah itu Mukuro?" serasa tersetrum, pemuda bersurai Indigo itu segera berdiri untuk melihat siapa yang menyapanya. "Sudah kuduga kau di sini karena tak bersama Shouichi dan Spanner."
"..." lidah Mukuro serasa kelu, padahal banyak hal yang dia pikir akan dikatakan pada pemuda di hadapannya jika mereka bertemu.
"Mukuro?" pemuda bersurai brunette yang melawan gravitasi itu menatap heran Guardian yang lebih tua 2 tahun darinya. "Kau kenapa?"
"Tsunayoshi?"
"Ya?"
"...kau...sungguh masih hidup?"
.
Pemuda brunette itu memberikan sebuah cubitan kecil di pipi Mukuro, membuat Mist Guardian itu agak meringgis karena cubitan tadi tak bisa disebut lembut. Kini Mukuro yakin ini bukan mimpi atau ilusi, sang langit telah kembali.
.
"Sudah bangun?" yang menjawab pertanyaan Tsuna adalah pelukan dari pemuda di hadapannya. "M-Mukuro?"
"Kau hidup...sungguh masih hidup!"
"Maaf membuatmu khawatir..."
.
Detik itu juga pelukan tadi lepas, tatapan sedih tadi berubah menjadi marah sekaligus lega.
.
"Kau...apa kau pikir maaf saja cukup untuk menebus semua yang kau lakukan?!"
"Aku..."
"Kau memberitahu Skylark itu tapi tidak padaku! Apa kau anggap aku ini tak ada?!"
"Bu-bukan begitu!" Tsuna mulai panik. "Aku hanya-"
"HANYA APA?! HANYA TAK BISA PERCAYA PADAKU?!"
"Mukuro, tolong dengarkan du-Akh!" Genggaman tangan Mukuro di lengannya mulai terasa sakit. "Sakit, Mukuro lepaskan!"
"Tidak! Yang kau rasakan ini belum seberapa. Kau tak tahu betapa sakitnya saat aku mendapat kabar kau sudah mati! Kupikir aku takkan bisa melihatmu lagi SELAMANYA!"
.
Mata Tsuna melebar mendengar pengakuan Mukuro. Rokudo Mukuro yang selalu pergi dan tak menjawab setiap pengakuan dan pertanyaannya merasa kehilangan? Decimo Vongola itu merasa dia pasti terkena ilusi namun Hyper Intuition-nya mengatakan ini nyata.
.
"Mukuro..."
"...Pergilah, aku ingin sendiri." Indigonette itu hendak pergi dengan kabut namun Tsuna segera memeluk dirinya dari belakang. "Sawada Tsunayoshi, lepaskan tanganmu!"
"Yang kau katakan tadi sungguhan kan?" Tsuna mengeratkan pelukannya "Kau...marah karena...aku tak memberitahumu? Kau...sungguh merindukanku?"
"..."
"Jawab aku Mukuro! Apa kau menyukaiku?"
"...aku memang merindukanmu...tapi aku tak pernah menyukaimu."
.
Akhirnya Mukuro berhasil melepas dari pelukan Tsuna. Saat berbalik ia mendapati pemuda yang lebih muda 2 tahun darinya itu tengah tertunduk, berusaha menyembunyikan airmatanya yang sudah siap menetes di sudut matanya. Untuk kesekian kalinya, dia ditolak oleh orang yang disukainya.
.
"Uh-oh...begitu... Maaf sudah selalu bertanya hal yang sama se-"
"Tsunayoshi... Please dont cry."
"Ti-tidak, a-aku tidak me-menangis, hiks, cuma k-k-kemasukan rambut."
"Alasan bodoh." Mukuro menyibak poni Tsuna dan mencium keningnya dengan lembut. Sontak Tsuna menatapnya dengan wajah yang bersemu merah antara sedih dan malu.
"Sejak dulu aku memang tak pernah menyukaimu." Nyuut! Sekali lagi dadanya terasa sakit, sesak saat Mukuro mengatakannya dengan nada yang santai. "Kau tahu kenapa?"
"Karena aku bodoh, ceroboh, tak berguna, lemah-"
"Kufufufu...kalau yang bertanya itu Xanxus, jawabannya memang itu."
"Karena aku Boss Mafia?" Mukuro menggeleng "Lalu apa?"
"Karena..." Mukuro agak menunduk- berbisik pelan di telinga Tsuna "Karena aku sudah lebih dulu jatuh cinta padamu."
.
.
.
Rin : HUEWWEWW! Fic gaje karena nga bisa tidur padahal besok kuningan dan mesti bangun pagi buat bantu mama 'ngaturin' banten sebelum sembahyang ke pura. Owh, lupa, Met Nyepi (dah lewat sie), Galungan (dah lewat juga) dan Kuningan bagi semua Umat Hindu Bali di seluruh dunia!
Silakan beri komentar apa saja soal fic GAJE NGA JELAS ini. Met tidur semua! *dilempar batu karena berisik*
