Hai reders semuanya~ maaf lama update, berhubung semua data fanfic ku gagal ke save gara-gara software hack DEEP FREEZE, aku jadi ngulang chapter ini, dan dikarnakan chapter sebelumnya sangat-sangat pendek, maka anggaplah disini aku bikin dua chapter oke dan oh ia satu lagi, maaf harusnya judulnya itu
BEHIND THE PAIN,^^
Thanks buat yang udah ngingetin, kemarin aku kurang nulis 'D' nya karena buru-buru
Thanks for all readers thanks juga buat silent readers
R&R please
~tiwi~
Di atas sebuah meja di baris terdepan ichikaru duduklah surai merah dan surai orange berdampingan, menikmatisemangkuk penuh ramen panas yang penuh dengan aneka macam pelengkap yang pastinya sangat lezat. Keduanya membisu, fokus pada apa yang sedang mereka makan.
"tambah lagi naruto?" tawar pria tua pemilik ichikaru, ah betapa ia sangat merindukan suara berisik naruto yang selalu meminta berporsi-porsi ramen setiap kali ia datang, sungguh disayangkan, pelanggan kesayangannya itu seperti sekarang ini. Pria itu menatap naruto prihatin dan penuh kerinduan. Rindu akan keceriaan dan kekanakkanakan nya naruto, rindu akan suara memelas manja naruto pada guru iruka atau kakashi hanya untuk sekedar di traktir ramen.
Naruto menggeleng pelan, " tidak paman, ramen mu enak sekali seperti biasanya, tapi aku sudah sangat kenyang, kau selalu memberiku porsi besar kan ?" sesungging senyum tipis naruto berikan pada paman ichikaru koki faforitnya, naruto tidak menyukai ramen lain selain ramen dari ichikaru, itulah mengapa ia mengklaim paman ichikaru sebagai koki faforitnya.
"baiklah," sebelum kembali ketempatnya paman tua ichikaru itu sempat melepas nafas pertanda kecewanya, sementara gaara hanya bisa sedikit menarik bibir merasa kagum pada para pengelola ichikaru yang tak pernah bosan berusaha menarik naruto seperti semula. Sesaat emerlad hijaunya terbelalak saat pandangannya tertuju di pintu depan ichikaru, tapi sepersekian detik berikutnya ia kembali memasang wajah datarnya, tak mau mengganggu ketenangan naruto. ' ah, apa yang akan terjadi' batin gaara setelah ia melihat seorang yang ia kenal berdiri di pintu bersama sesosok gadis bersurai pink yang centil. Perasaannya makin kalut tatkala ia lihat si surai reaven dengan onix hitamnya terus memandangi naruto dengan tajam, 'kami sama, tolong jngan buat mereka mengacaukan mood naruto' batin gaara.
Naruto sendiri sudah menyadari keberadaan si reaven dengan gaya rambut pantat ayan itu sedari tadi, bahkan sebelum gaara melihatnya, jelas, ia hafal benar cakra sahabat lamanya itu, mereka sering bertarung dulu. Sahabat? Naruto tersenyum kecut saat mengingat kata itu 'tidak ada yang namanya mantan sabat kan, sasuke?' 'maka dari itu kau harus yakin' batin naruto, ia tau benar siapa dan apa yang akan dilakukan mereka di hadapan naruto saat ini, maka dari itu ia memasang wajah datar dan tenang untuk menghadapi kedua orang yang saat ini berjalan kearah mejanya. Gaara sedikit mengernyitkan dahinya saat sakura dan sasuke duduk dihadapannya berhadapan dengannya dan sasuke. Sontak ia memalingkan wajahnya pada naruto, namun tak ada respon dari si pirang itu. Kemudian ia menatap sasuke dengan pandangan 'apa maksud mu' pada sasuke, sasuke yang mengerti pandangan gaara pun hanya menghela nafas tanpa mengalihkan pandangannya dari naruto.
"tak bolehkah aku dan pacarku duduk disini?" kata-kata sasuke lebih bisa dibilang sindiran ketimbang pertanyaan. Emerlad gaara membulat, ia hendak memaki surai reaven dengan rambut ala emonya itu namun dihentikan naruto, dengan tenang dan datar ia menjawab. "tak ada yang keberatan, ini tempat umum kan?" .
Sasuke nampak tidak puas dengan jawaban naruto, hell ya, hanya uciha yang boleh menyindir lawannya. Begitulah kira-kira yang dipikirkan si reaven itu.
"sasuke, mau ramen apa?" sakura membuat suaranya terdengar se mesra mungkin pada sasuke. Tapi dengan datar dan singkatnya onix itu menjawab "terserah".
Gaara menghentikan makannya, sungguh ia sangat takut mood naruto akan semakin memburuk, tak di hiraukannya pandangan orang-orang ia langsung menarik naruto, menuntunnya menuju kasir, setelah membayar ia pun keluar dengan di ekori naruto, 'hn kenapa kau menggang gu acara senang-senang ku gaara?" batin naruto, tapi toh dia tetap mengikuti kemauan gaara, hanya dengan satu kali di tarik naruto langsung mengerti apa maau si surai merah kesayangannya itu.
"ada sesuatu yang mengganggu mu gaara?" yang ditanya mengangkat sebelah alisnya kemudian menyilangkan kedua tanggannya di dada "hanya menghindari bad mood mu "
"hn, kau pikir aku selemah apa? Berhadapan dengan emo pantat ayam itu takan membunuh ku gaara"
"kalau berhadapan dengannya saja kau berani kenapa memaafkannya tak bisa?"
"apa nya yang perlu dimaafkan dari dia?, aku tak melihat ada yang salah, apa aku pernah bilang aku tak memaafkan si teme itu?"
"lalu kenapa kau seperti ini? Pendiam, pemurung, penyendiri, kenapa lagi kalau bukan karna sasuke huh?"
"hn, itu pilihan ku gaara, aku hanya tak terbiasa dengan ststus baru ku dihadapan semua orang"
"apa? Hem, sebenarnya kau ini kenapa sih naruto, kelakuan mu padanya seakan-akan kau sangat membencinya, tapi perkataan mu seakan-akan kau selalu membelanya"
"he? apa ada yang salah?, aku diam, aku berhenti banyak bicara, aku tak mencampuri urusan orang lain. lalu apa? Apa yang membuat ku salah lagi?"
SREKK,,, dahan pohon itu jatuh hampir mengenai kepala naruto, gaara sudah sungguh sangat kesal pada si pirang dihadapannya ini, sangat kesal hingga ia tak tahan ingin memukul sesuatu. Beruntung pasirnya berhasil menahan dahan pohon yang hampir menimpa naruto.
"hah~ baiklah aku salah gaara, maaf, ayo pulang, kau lelah kan?"
"ck, menghindar lagi? Mau sampai kapan kau lari naruto? Tak bisakah kau seperti dulu?"
"yang lalu biarlah berlalu gaara, sudahlah, ayo pulang" naruto mendahului gaara, beberapahari ini gaara akan tinggal bersama naruto, karena temari kakak gaara sedang tugas level s bersama yang lainnya. Mengapa gaara ada di konoha bukan di suna? Pertanyaan bagus,
Gaara dan temari keluar dari suna dan pindah ke konoha atas perintah tetua di suna, tujuannya selain mempererat persaudaraan antara suna dan konoha juga untuk saling melatih kemampuan mereka. Sudah dua tahun mereka berada di konoha sementara tenten dan neji berada di suna, semacam pertukaran ninja. Naruto setahun yang lalu dengan naruto saat ini sungguh sangatlah berbeda, itulah pandangan orang-orang suna padanya. Siapa yang tak tahu jasa-jasa naruto untuk menolong suna terutama gaara dari akatsuki, semua orang tahu dan semua orang prihatin akan naruto yang sekarang ini. Dan atas jasa-jasa naruto, gaara dan temari mengapnya sebagai bagian dari keluarganya mengingat naruto tidak memiliki kerabat satupun di konoha ini.
Dilain tempat, tepatnya di ichikaru, sasuke sedang mengepalkan tangannya erat-erat berusaha menahan kesal yang sudah ia tampung selama setahun ini, di abaikan, di acuhkan oleh seorang uzumaki. Ini benar-benar membuatnya geram, terlebih lagi, gara-gara taruhan sialan yang diajukan shikamaru padanya ia harus rela menjadi pacar si rambut pink yang paling menyebalkan baginya selama sebulan, sungguh sial nasipnya saat ini.
"ck! Singkirkan tangan mu sakura!"
"eh, kenapa?"
"kau mau ku tinggal disini?" nada dingin itu berhasil membuat sakura bergidik dan melepaskan gelayutan tangannya di lengan sasuke.
"cepat habiskan, aku mau pulang.."
"kau tidak makan sasuke?"
"cepat habiskan!" gluk, sakura menelan ludah, 'seram' batinnya dalam hati.
'Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran mu, dobe' sasuke nampak frustasi akan tingkah dobe kesayangannya. Sungguh, ia berniat baik saat itu, ya, setahun yang lalu ia sangat berniat baik , ia lakukan semua demi kebaikan si dobe a.k.a naruto itu, demi orang yang paling ia cintai itu. cinta? Yah, cinta, sasuke si raja es yang hanya bisa marah-marah dan berkata panjang lebar dan hanya mau meladeni satu orang yaitu naruto, orang yang paling ia cintai. Orang pertama yang berhasil membuatnya merasakan jadi manusia normal. Sungguh ia sangat mencintai si dobe itu, dan dia sudah sering mengatakannya pada si pirang yang saat ini tengah menghukumnya. Hukuman, ini semua hanya dianggap hukuman bagi uchiha sulung itu.
Lain sasuke lain gaara, gaara yang hanya satu-satunya orang yang selalu dicari naruto untuk menemani kesepiannya itu hanya beranggapan bahwa naruto dan sasuke terlibat perang harga diri, tentu saja, bagi mereka orang awam, yang tidak tahu hubungan naruto dan sasuke dahulu seperti apa tak akan tahu sebenarnya semua ini hanya sebuah "hukuman ringan" untuk sasuke.
~Apartemen Naruto~
Surai orange pirang dengan safir biru sedang menikmati tarian angin yang menerpa tubuhnya, di atap apartemenya itu ia bersandar pada tiang pagar pembatas, menatap langit malam yang mengingatkannya akan orang itu, si onix yang selalu menggang gu pikiran nya, apakah kalian bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan si safir biru itu melancarkan perang dingin pada sasuke secara sepihak?. Sepihak? Yah sepihak karena sasuke tak pernah mengira dirinya akan di acuhkan begitu saja oleh uzumaki kesayangannya. Apa sebenarnya tujuan si pirang? Dan itulah yang saat ini sedang ditanyakan guru yang gagah tampan dan rupawan sekalipun sebelah wajahnya tertutupi masker a.k.a kakashi sensei.
"mau memberi ku jawaban naruto?" kakashi sensei mengkonfirmasi, berharap kali ini untuk ke empat kalinya ia bertanya ia akan menerima jawaban yang memuaskan dari murid kesayangannya itu.
"hanya bersenang senang sensei, lagipula ini seperti liburan kan?, jauh dari racauan orang-orang yang protes dengan diri ku yang berisik. Jauh dari kata minta tolong orang-orang yang malas, kurasa ini ada baiknya juga kan?"
"kau tahu itu bukan jawaban yang ku inginkan naruto,"
"sudahlah sensei, aku baik-baik saja. "
"lalu bagai mana dengan gaara? Kurasa ia agak sedikit bingung, dan lagi kau hampir membuatnya membenci sasuke, jangan karena masalah kalian berdua harus mempengaruhi orang lain, ingat itu naruto, cepat sudahi permainan kalian dan jangan membuatku terus-terusan was-was", kakashi panjang lebar menyeramahi muridnya ini, kakashi tahu benar bahwa tidak mungkin naruto dan sasuke saling membenci,ia cukup tahu level kedewasaan kedua muridnya itu.
Naruto hanya nyengir, melihat itu kakashi langsung melompat pergi dari kediaman naruto, merasa percuma saja bicara pada anak yang notabenya sulit ditebak kemauannya itu.
"hem, ini jadi seru sasuke" lirihnya saat kakashi telah menghilang dari hadapannya.
Surai pirang naruto ikut menari terterpa angin malam. Hem sejuk, nyaman sekali, perlahan matanya terpejam, ia merentangkan kedua tangannya, menyamankan tubuhnya diantara selimut angin malam yang sejuk.
Kreeet', pintu terbuka menampakan surai merah dengan mata pandanya.
"Naruto, sedang apa kau disini? Ayo masuk atau kau nanti akan masuk angin"
"sebentar lagi gaara, disini sangat nyaman~"
"ck, naruto, besok kita masih ada latihan untuk pertarungan, ingat itu"
"yayaya aku akan mengingatnya, kemarilah" naruto menepuk-nepuk tempat disebelahnya, isyarat untuk gaara duduk disampingnya.
"gaara, " panggil naruto pelan, tanpa membuka matanya yang masih menik mati angin malam.
"apa?" gaara mendongak ke samping untuk melihat naruto yang masih berdiri dan memejamkan matanya menikmati setiap hembusan angin malam.
"apa kau mengenal ku?" tanya naruto, lagi tanpa menoleh ataupun membuka matanya.
"apa yang kaumaksud? Aku tidur dirumah mu, aku sekolah bersamamu, aku berlatih dan bertarung dengan mu. Apa yang membuat ku tak mengenal diri mu?"
"seberapa banyak yang kau tahu tentang ku ?"
"huh? Seberapa banyak? Jangan bodoh naruto, kau sendiri yang bilang, aku tak perlu tahu tentang mu, aku hanya perlu percaya pada mu kan? Bukan kah itu arti dari sahabat? Itu yang kau ajarkan pada ku."
"hem, kau ini, yang kau bilang itu benar,, lalau..."
"lalu?" gaara membeo, isyarat untuk naruto melanjutkan kata-katanya.
"lalu apakah kau akan percaya jika aku katakan..."
Gaara mengangkat sebelah alisnya, menunggu naruto menyelesaikan kata-katanya.
"aku mencintai mu" lanjut naruto, kali ini dengan tatapan hangatnya pada gaara plus senyuman tulusnya yang sudah lama tidak ingin ia keluarkan. Sementara gaara masih mematung dengan mulut menganga. Tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"jangan bercanda naruto," gaara mencoba mengembalikan wajah datarnya seperti semula.
"apa aku terlihat sedang bercanda ?"
"kurasa ada yang salah dengan mu dobe" suara dari atap teratas itu sukses membuat gaara kaget, tapi tidak untuk naruto, sekali lagi harus kalian igat, naruto sudah sangat hafal dengan chakra sasuke, bahkan ia bisa merasakannya sekalipun jarak mereka sepadan dengan dua sungai yang direntangkan.
"sa..sa..sa..su..ke" gaara terbata-bata melihat uchiha sulung sudah ada dihadapannya, sementara naruto dengan wajah datarnya santai kembali menikmati angin, mengacuhkan pertanyaan si reaven dan kekagetan gaara.
"ada urusan tuan uchiha?" yang ditanya hanya mengepalkan kedua tangannya dengan menatap tajam naruto.
"apa aku terlihat seperti sedang bermain-main uzumaki? Apa-apaan kau ini"
"sasuke.. kau.." gaara agak bingung harus berkata apa, ia pasti mendengar ucapan naruto tadi, ia pasti akan salah paham. Itulah pikiran gaara saat ini. Ia tak ingin memperburuk keadaan antara sasuke dan naruto ini.
"gaara jauh-jauh lah dari si dobe ini" gleekk, gaara menelan ludah, ia tak tahu harus apa tapi yang ia tahu dadanya sesak saat kata-kata itu ia dengar, ia takut hubungan sasuke dan naruto semakin memburuk tapi bukan itu yang membuatnya sakit, jauh, yah jauhdari seorang uzumaki naruto akan sulit untuk nya. Mengingat narutolah yang membuatnya betah dan aman ada di konoha.
"apa maksud mu teme," kali ini naruto tampak marah.
"apanya yang apa? Sudah jelas kau berbahaya dobe,"
"ck! Berhentilah merebut teman ku teme"
"apa yang kau sebut teman itu seperti ini? Menyatakan cinta dihadapannya huh ?"
"aku hanya mengatakan perasaan ku, apa itu salah?" nada sindiran naruto membuat sasuke makin mengepalkan erat tangannya.
"dengar dobe, nampaknya aku terlalu banyak menyakiti mu, aku akan berhenti sekarang juga, aku akan menyerah kalau itu mau mu, ku harap aku bisa berhenti sekarang juga, berhenti dari hukuman mu ini"
"ck, dia yang ada saat aku rapuh teme, jadi kurasa ia yang berhak atas diri ku"
"a..a..ada apa dengan kalian berdua?" gaara nampak bingung dengan kelakuan dua orang dihadapannya ini, dua orang yang selama setahun ini terus perang dingin, dan lagi, ia tak mengerti maksud dari semua ini.
"diamlah dan ikuti kata-kata ku, kau harus menjauh dari dobe ku"
"hah? Do..do..dobe mu? Apa maksudnya naruto?"
"ck, kuso, jangan dengarkan dia gaara, kurasa dia agak gila."
"ya! Aku gila dobe dan itu semua karena diri mu"
"shit! TEME"
"marah? Ingat dobe, kau milik ku, tidak ada batasan waktu maupun tempat, tak peduli kau suka atau tidak kau uzumaki naruto adalah milik ku uchiha sasuke"
"fuh~" naruto membuang napas, malas untuk meladeni uchiha yang ego dan harga dirinya tinggi macam sasuke.
"baik, baik, baik, aku milik mu. Puas? Bisa kau pulang sekarang?"
"cih.. tak ada yang boleh mengusir uchiha bahkan kau sekali pun."
"a..a..ada apa ini .. kalian tak seperti.. yang ...ku kenal.." gaara aga menyudut, agak ngeri dengan pertengkaran uchiha vs uzumaki di hadapannya ini, bahkan cakra mereka terasa menguat hingga membuat bulu kuduknya berdiri ngeri.
"ck!" sasuke hanya mampu mendecak saat si dobe kesayangannya melembut dan menghampiri gaara yang terlihat terkejut.
Pelan diusapnya surai merah gaara, dengan lembut naruto menenangkan pemilik emerlad hijau dihadapannya.
"tenang, gaara, aku adalah aku, kau tidak perlu takut, aku tak akan menyakiti mu, maka cintailah aku"
"shit!" bersamaan dengan kata yang sasuke keluarkan barusan naruto ditarik dan di kunci dian tara tangan-tangan sasuke dan dinding.
"jika sesakit itu, jika kau sangat haus, jika kau sangat membutuh kannya hanya aku, hanya aku yang boleh memberikannya pada mu dobe"
"aku tak butuh uchiha "
Gaara semakin tak mengerti, kedua temannya ini terlalu banyak menyembunyikan sesuatu darinya bahkan mungkin dari dunia. Mata gaara semakin membulat saat pemandangan dihadapannya menjadi panas, bukan karena cakra yang mengumbar aura kebencian, tapi karena dua orang dihadapannya sedang brciuman penuh nafsu, saling memeluk memperdalam ciuman mereka.
"aaarrrrgggghhhhttt aku bisa gila, bisakah kalian berhenti membuatku terkena serangan jantung?"
Naruto langsung melepaskan diri dari ciuman itu, mendorong sasuke sebisanya walau nihil, sasuke tak bergerak sedikit pun.
"sasuke, kau sudah mendapatkan bagian mu, lepas" kali ini naruto nampak serius walaupun wajahnya datar dan suaranya tak seperti tadi yang penuh amarah.
"hentikan dulu semua ini, aku lelah, terus kau hukum seperti ini"
"akan ku coba" sasuke melepaskan pelukannya, membiarkan naruto merilekskan otot-ototnya sebentar.
"kemarilah gaara," kini naruto duduk bersandar diantara pundak sasuke yang juga duduk di sebelahnya. Gaara mulai mendekat, nyaman, melihat uzumaki dan uchiha saling menyandarkan diri, tenang dan seolah membagi sesuatu yang ia sendiri tak mengerti apa itu, tapi yang jelas ini hangat dan nyaman untuk dilihat dan dinikmati.
"ada apa sebenarnya dengan kalian?" gaara mulai bertanya dengan suara parau nyaris tak terdengar, karena terlalu menikmati kehangatan di sekelilingnya, naruto memeluk gaara erat, membaringkan gara dengan pahanya sebagai alas kepala gaara. Sementara sasuke membalik badannya menghadap punggung naruto, memeluk erat surai pirang yang sangat dicintainya itu. Mencium setiap lekuk yang bisa ia capai.
"aku adalah milik sasuke" kata naruto tenang, sesungging senyuman terlukis di bibir sasuke. Ia mulai menyelipkan kepalanya diantara perpotongan leher dan pundak naruto.
"lalu? Kenapa seperti ini?" gaara masih tak mengerti.
"aku membuat kesalahan, menyakiti dobe kesayangan ku dan mendapatkan hukuman"
"hn, seperti apa kesalahan mu hingga naruto seperti ini? Kalian aneh, masalah kecil hukumannya setahun tanpa kata sedikitpun"
"apakah memperkosa ku termasuk hal kecil? gaara", kali ini kata kata naruto membuat gaara semakin pucat dan kaget, sementara sasuke hanya terkekeh melihat reaksi gaara.
"be..be..be..nar..kah?"
"ya, dan aku tak menyesali itu" kata sasuke tepat di telinga naruto.
"hn, kau memang tak tahu diri sasuke"
"lalu, yang tadi itu apa maksud mu naruto?"
"itu adalah kata-kata si teme ini sebelum ia memperkosa ku dulu, hahahahaha"
"hem, benarkah? Kalian aktor yang hebat"
"eh?" naruto aga bingung dengan kata-kata gaara, sementara sasuke masih sibuk membelai kekasihnya yang sudah cukup lama tak ia sentuh itu.
"satu tahun kalian seperti musuh, perang dingin, tak pernah menganggap keberadaan kalian satu sama lainnya, tapi diam-diam saling memperhatikan, menipu dunia seakan kalian tak saling mengenal. Kini aku mengerti"
"apa yang kau mengerti anak manja?" sindir sasuke yang masih membelai surai pirang di pelukannya. Sementara naruto hanya tersenyum tipis, sepertinya uchiha dan kazekage akan mulai adu mulut, pikirnya dalam hati
"cih, aku hanya manja pada naruto dan temari"
"eh? Lalu bagai mana dengan neji kekasih mu itu?"
Shuuutt, wajah gaara langsung memerah, 'bagai mana sasuke tahu tentang neji dan aku?' batinnya. "e..eeh.. apa maksud mu?."
"jangan ganggu dia sasuke"
"hn"
"eeh? Ka..kalian tahu?"
"shika,kiba, neji, mereka adalah teman kami, bagai mana kami tidak tahu?"
"hn, jangan karena kami selalu diam dan tak merespon bukan berarti kami tak tahu apa-apa"
"eh, kalian tahu tentang shika dan kiba juga?"
"yup, itu sangat mudah ditebak dan dibuktikan,"
"begitu, lalu aku?"
"aku apanya?" sahut naruto
"kenapa rasanya berada diantara kalian seperti berada diantara ayah ibu ku"
"apa ia?" naruto menaikan sebelah alisnya.
"sepertinya, tapi ini hangat, sangat hangat walaupun kalian tak memelukku "
"apa itu rasanya punya ayah dan ibu, sasuke? " gaara melanjutkan kata-katanya dengan pertanyaan.
"menyebalkan, tapi menarik, sama seperti hukuman si dobe,"
"hn, begitu ya?" naruto menunduk, menyembunyikan senyuman pahit diantara dirinya dan lengannya yang membelai surai merah gaara.
"naruto, ini bukan saatnya untuk kau ikut cengeng seperti gaara, kau tidak boleh sama dengannya"
"apa maksud mu uchiha? Kau tahu kan aku dan daruto sama-sama jinchuriki, dan tidak pinya ayah ibu, dan menangis bukan hal cengeng."
"hn, aku tahu, tapi dobe ku itu tidak secengeng dan selemah diri mu gaara"
"cih, kau ini.."
"ssttt, kalian berhentilah bertengkar, jangan membuat mood ku buruk"
"oh ya lalu bagai mana dengan sakura?"
"hn, aku kalah taruhan dengan shikamaru, jadi aku harus menjadi pacar si centil itu selama sebulan"
"hah? Eh naruto kau tidak kaget?"
"dia tidak akan kaget gaara, dia lah yang merencanakan semua itu"
"hammmnnn, pasangan yang aneh"
"ckk, hn terserah kau lah,"
"naruto kau ngantuk?, baiklah sudah malam, masuklah dan tidur, kau juga cengeng"
"hn" naruto bangkit hendak masuk ke apartemennya "aiissshh, uciha pantat ayam" gaara buru-buru menyusul naruto.
Langkah sasuke terhenti saat sepatah kata yang ditunggunya akhirnya terdengar juga.
"selamat hari jadi sasuke, aishiteru"
"hm aishiteru mo, cepat sana masuk, oyasuminasai~"
"oyasumi"
Sasuke pun menghilang dalam sekejap, cakranya perlahan menjauh dari dua orang yang mulai melangkah masuk ke apartemen, mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka dari panjangnya hari ini.
Malam itu, adalah malam panjang yang menjawab semua pertanyaan gaara, kenapa dan ada apa dengan uchiha sasuke dan uzumaki naruto akhirnya terjawab, tapi setelah ini apakah yang akan terjadi, apakah semua akan menjadi lebih baik atau malah sebaliknya?. Tak ada yang tahu, mari tunggu dan hadapi hari esok bersama, itulah yang ada dalam benak ketiga pemuda itu saat ini.
~TOBECOUNTINUE~
Aarrrggghhhttt, ini kacau, mendadak aku kehilangan feelnya, ini beda banget sama fic sebelumnya yang hilang itu, gomenasai kalau mengecewakan kalian readers, aku masih pemula dan kurasa ini bukan yang cerita yang menarik, gomenasai, hountouni gomenasai..
Akhir kata R&R please, kritik dan saran sangat dibutuhkan, thanks for read an review from chapter 1, see you in the nex chapter
