Halo mina~ gomen telat update,
Sebenernya aga bingung mau kaya gimana lanjutin fic ini, karena tiga chapter aslinya ke delet gara-gara software DEEP FREEZE, kalian hati-hati ya kalo ada software itu.
Um, etto, kemaren temenku ngasih tau kalo fic yang ga di buat di fandomnya itu termasuk fic AU, so, this fic is AU/TYPO AND GAJE, but hope you guys like it ^^.
umm buat orihara pshyce-san yang nanyain kankuro-san, gomen dia masih banyak job di fic lain wkwkwkwkwk #plakk, hehehe kankuro ya, aku gatau mau masangin dia sama siapa XP menurutmu yang cocok siapa?.
Buat yang lainnya sankyu atas Read and Review kalian ^^d.
Well cukup basa-basinya, lanjut aja ke cerita yah ^^.
~tiwi~
Langit nampak sedang tak bergembira hari ini, jelas sekali ditunjukan dengan angin kencang dan gemuruh halilintar yang menggema di cakrawala malam. Untunglah si surai reaven itu cepat sampai apartemennya setelah tadi ia melepas rindu dengan si dobe kesayangannya.
Jika kalian bertanya apa yang sedang dilakukannya saat ini, nampaknya kalian akan sangat kaget. Yupp, biasanya disetiap fic, sasuke tidak pernah akur sama orang yang satu ini, tapi seperti yang ku bilang tadi, ini akan sedikit berbeda dengan fic kebanyakan. #Plakk, fokus ke cerita.
Surai reaven itu tak hanya sasuke, yup, itachi pun ada disana, di apartemen mewah yang di miliki uchiha sasuke, otoutonya. Kenapa itachi tidak di apartemennya?, jawabannya adalah karena otoutonya itu tidak bisa ia tinggal sendiri, bukan karena sasuke tidak bisa mengurus diri, tapi karena ayahnya (fugaku uchiha) yang ngotot ingin sasuke sederajat dengan dirinya (itachi) yang mempunyai IQ tinggi dengan kehebatan super yang punya pangkat tinggi di jajaran dunia ninja.
Cuaca malam yang tak bersahabat bukan halangan suka cita seorang sasuke, ia yang hanya bisa menjadi dirinya yang tidak normal hanya dihadapan anikinya dan naruto itu kini sedang bercerita tentang hal yang barusaja dialaminya. Kenapa tidak normal? Karena uchiha tidak pernah tertawa dan tidak pernah terlihat bahagia sekalipun hatinya sangat bahagia. Dan yang bisa melepas semua keangkuhan uchiha kalau bukan uzumaki naruto orang itu pastilah itachi uchiha.
"aniki, apa itu rasanya tak punya orang tua?" tuba-tiba sasuke berhenti dari keceriaannya, mengingat percakapan naruto, gaara dan dirinya beberapa saat yang lalu.
"hem, sama saja seperti kita otouto, sama seperti kita yang bahkan bertemu orang tua pun sulit, bedanya kita diakui dan mereka tidak "
"lalu, menurut mu apa yang harus ku lakukan?", itachi tak perlu mendengarkan penjelasan dari pertanyaan yang satu ini, ia cukup tau siapa dan apa yang dirisaukan otoutonya ini.
"jadilah seorang uchiha, " singkat, padat, tapi bermakna.
"huh, bisa kau melatih ku aniki?"
"uchiha adalah dirimu sendiri, sekalipun kita sama-sama uchiha dengan sharigan dan sifat yang sama, kau adalah kau, aku adalah aku, temukan diri mu sendiri"
"hn" singkat, benar-benar ciri seorang uchiha. Itachipun hanya senyum dengan tanggapan singkat adiknya itu.
"bagus, tetaplah jadi uchiha" itachi membelai surai adiknya itu penuh kasih, menjadi seorang uchiha tidaklah buruk, meskipun tanpa kasih orang tua, meskipun dengan jalan yang keras, meskipun dengan label 'harga diri tinggi' tapi uchiha adalah uchiha. Dan uchiha punya jalan mereka sendiri.
~tiwi~
Langit sepertinya sedang menangis, cuaca hari itu memburuk bahkan hingga malam berikutnya. Hujan deras terus saja mengguyur konoha, membuat semua orang malas beraktivitas seperti biasanya. Begitu pula surai merah dan pirang yang sedang lesu di ruang tengah sebuah apartemen sederhana.
"gaara, kapan temari akan pulang?"
"besok mungkin, hari ini hujan tidak berhenti sama sekali, mungkin ia berteduh dulu"
"hm, aku sudah memikirkan ini beberapa waktu lamanya, bagaimana kalau kalian pindah keapartemen ku saja?"
"eh? Kenapa?"
Tok~ tok~tok, "naruto!" ketukan pintu dan suara dibaliknya itu mengundang perhatian si surai merah yang belum mendapat jawaban dari lawan bicaranya.
"aku saja yang buka" naruto mendahului gara yang hendak bangun menuju pintu.
Clek, pintu terbuka. "Teme?"
"ck, jangan menatapku kaget begitu" naruto mengelengkan kepalanya, mengusir kaget dan desiran aneh di hatinya.
"gaara, bisa ambilkan handuk?" seru naruto, tak lama, gaara muncul dengan handuk kering di tangannya.
"sasuke, kenapa kau hujan-hujanan?"
"ini bukan hujan biasa,ayo kalian ikut aku"
"eh? Tapi bajumu?"
"sudahlah cepat" sasuke, naruto dan gaara melompati atap demi atap dibawah desiran air hujan. Bingung masih melanda surai pirang dan merah yang mengekori sasuke. Lama mereka melompat dan kini sudah memasuki area hutan di luar konoha, tepatnya hutan di desa perbatasan konoha. Mata sasuke menyipit, mengamati lebih jelas sosok di kejauhan, ia menghentikan langkahnya di susul naruto dan gaara.
"ada apa?"
"kita keduluan"
"apanya?" gaara makin bingung dengan perkataan sasuke. Lain halnya dengan surai pirang yang nampak sudah menangkap maksud onix hitam yang membawanya kemari. Tanpa banyak pikir, yakin akan analoginya naruto lalu bertanya.
"siapa? Dari mana?" senang karena dobe kesayangannya mampu membaca situasi cukup akurat sasuke menarik bibirnya, menampakan seulas senyum tipis lalu menyilangkan kedua tangan di dada.
"pemberontak dari suna"
"hah?" gaara memekik kaget.
"sial, apa yang mereka incar?" naruto mengepalkan kedua tangannya
"aku dan itachi sudah memeriksa ulang, semua ini jebakan"
"itu artinya temari..." naruto tidak melanjutkan kata-katanya.
"apa? Kenapa dengan temari? Naruto, apa yang kau sembunyikan dari ku?"
"tenang atau kau takan pernah tau apapun" nada dingin sasuke sukses membuat nya mendapat death glare dari naruto. Tanpa mempedulikan wajah stoic sasuke, naruto akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"gaara...,beberapa waktu yang lalu..., aku dengar shikamaru, kiba, sakura, sai dan yamato sensei mendapat tugas untuk mengawal mu kembali ke suna. Tapi.." naruto diam, tak melanjutkan kata-katanya.
"Temari menggantikan ku?" gaara mengepalkan kedua tangannya, kesal, kecewa, mengapa ia selalu saja dianggap paling lemah. Kenapa temari ataupun naruto tidak bisa mempercayai kemampuannya. Ia yakin bisa menjaga diri, tapi.. kenapa lagi-lagi orang-orang harus berkorban untuknya. Ia tak menginginkan ini. Ia terlihat lemah, dan menyedihkan karena selalu saja menempatkan orang yang ia sayangi dalam bahaya.
"dengar gaara, semua demi keselamatan mu"
"apa aku selemah itu naruto? Apa kau tak percaya kemampuan ku?" mata gaara mulai berkaca-kaca, ia berusaha menyingkirkan pikiran buruk tentak keadaan temari saat ini, namun tak berhasil. Bayangan saat dulu temari pernah menyamar sebagai dirinya dan hampir mati diserang akatsuki sudah cukup membuatnya depresi.
Melihat reaksi gaara sasuke akhirnya tak tahan untuk bicara "dengar cengeng...,"
"sasuke!" naruto mendead glare lagi sasuke yang mengatai gaara.
"Ck!, kuso, dengar ya hujan ini bukan hujan biasa, diantara para pemberontak itu ada seorang ninja berbahaya, ia bisa mengendalikan hujan dan petir " sasuke memalingkan muka, agak kesal karena pirang pujaannya ini sensitif dan protektif sekali pada surai merah dengan tato "Ai" di dahinya yang diakui naruto sebagai saudara angkatnya itu.
"lalu apa tujuan mereka sebenarnya?" gaara menghiraukan ejekan si stoic uchiha yang memeng sudah ia maklumi kebiasaannya serta menghilangkan pemikiran buruk mengenai keadaan temari. Ia yakin temari baik-baik saja. Lagipula tanpa harus melawan naruto pun pasti akan membelanya.
"membanjiri konoha, dan membuat seolah-olah itu adalah permintaan kazekage"
"a-apa? Ta-tapi bagai mana bisa motif seperti itu-"
"tenanglah gaara, jadi teme, sejauh mana kau tahu keadaan disana?"
"kemarin, aku dan aniki ku menyelinap, menjadi tahanan mereka, sejauh ini, keadaan temari, shikamaru, kiba, dan sakura, baik-baik saja, sai dan yamato sensei berhasil pergi ke suna untuk memantau keadaan"
"bagaimana bisa kalian menyelinap? Cakra kalian akan terbaca kan?"
"gaara, aku seorang uchiha" dan cukup dengan kata itu semua mengerti apa yang dimaksud sasuke. Dalam hati gaara kesal dengan tingkah uchiha yang satu ini, tapi untunglah berkat uchiha, ia kini tahu keadaan temari dan yanglainnya.
"lalu, sekarang apa?" gaara mengangkat alisnya pertanda meminta kepastian tujuan sasuke membawanya ketempat ini. Sasuke melipat kedua tangannya di dada, menutup kedua matanya dan berada dalam pose stoic andalannya "aku ingin kita ke suna dengan gaara yang asli"
"hum, rencana B yah" naruto manggut-mangut mengerti rencana sasuke.
"tapi bagai mana? Akan menyita banyak waktu untuk menghabisi mereka, selain itu, bagaimana lewat tanpa mereka sadari?" gaara mengangkat sebelah alisnya.
"menyembunyikan chakra saja tidak cukup kan?" naruto menimpali
"baka dobe, mana mungkin aku membawa kalian kemari tanpa rencana"
"ck! Teme!, jadi apa rencana mu?"
Sasuke menarik kedua sudut bibirnya, menampilkan seringaian yang sukses membuat naruto bergidik dan menelan ludah paksa. "Teme! Apa maksud seringaian mesum mu itu?"
"narutu-chan, jadilah gadis baik dan ikuti perintah ku, " glek! 'Benarkan, apalagi yang akan ia lakukan pada ku' batin naruto tak tenang.
"jadi, kau mau naruto menjadi naruko ?" gaara menyilangkan kedua tangannya di dada "bukan ide yang buruk, lalu aku harus apa?"
"gaara, minumlah pil ini"
"eh, untuk apa?"
"minum sajalah,"
Naruto sudah merubah wujudnya menjadi naruko, dalam wujud ini bajunya terlihat kebesaran dan longgar. gah, dia punya firasat buruk saat ini, apa pulalah tujuan si teme stoic bin mesum ala uchiha ini, bukankah seharusnya menyiapkan rencana sebelum berangkat tadi? Ini, lawan di depan mata dia baru memberi instruksi. Gah naruto benar-benar kesal. Sementara itu, gaara setelah meminum pil dari sasuke, rambutnya berubah menjadi hitam dan chakranya pun menghilang.
"ne teme,pintar juga kau, lalu skenario apa yang akan kita mainkan?"
"pakai ini," segulung perban disodorkannya pada gaara, dan sebuah kantung diserahkan pada naruto dan gaara.
"aku? Jadi anbu?" gaara mengerutkan dahinya, "lalu untuk apa perban ini?"
"menutupi tato di dahi mu" sasuke mengalihkan pandangan datarnya dari gaara menuju surai pirang yang menekuk bibirnya kebawah dan mengembungkan kedua pipinya 'cute' hanya itu yang ada dalam pikirannya sekarang, namun tetapsaja seorang uchiha tak akan menampakan ekspresi di wajahnya.
"ne, teme, apa aku harus jadi umpan lagi? Kau meragukan kemampuan ku?"
"dengar dobe, lakukan saja seperti rencana ku atau kita akan membuang banyak waktu"
"gah, yayaya baiklah jadi apa rencana tuan uchiha ini?"
"aku akan membawa gaara pada yamato sensei dan sai di desa sebelum suna, dan kau dobe, tugas mu adalah mengalihkan perhatian mereka, usahakan mereka tidak ke bloktimur. Kalau kau melihat kesempatan, bebaskan temari dan yang lainnya. Tapi, jangan melawan mereka sendirian, kau kan selama ini hanya mengurusi fotografi dan komunitas mu itu, akan sulit menghadapi mereka"
"ck! Teme"
"hn baiklah sana ganti pakain mu" naruto hendak ke balik semak untuk mengganti seragam kesayangannya dengan kimono yang dibawakan sasuke. Beberapa saat kemudian mereka semua sudah ada di posisi masing-masing, sebelum berpisah sasuke membisik kan sesuatu yang sukses membuat surai pirang dalam wujud wanita cantik itu merona merah. 'jangan sampai mereka menyentuh mu love' bisikan itu membuat degup jantung naruto terpacu, rona merah masih menghiasi wajahnya hingga ia berpisah dengan sasuke dan gaara. Segera ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berlari kearah barat dan memcoba menarik perhatian lawan, yup rencananya sukses, gaara dan sasuke telah berhasil melewati mereka ke arah timur. Sekarang, tinggal dia yang kelimpungan menahan diri untuk tidak menghajar ninja-ninja pemberontak yang sedang menggodanya itu. Tak lama, naruto merasakan kehadiran chakra yang cukup kuat. Tiga orang dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuh mereka dengan perban yang menutupi sebagian wajah, kaki, tangan dan leher masing-masing. 'jadi ini Mereka?' batin naruto.
Ketiga orang itu membawa naruto ke dalam markas. Naruto sebisa mungkin bertingkah seperti seorang gadis yang tersesat. Seperti yang dikatakan sasuke, melawan mereka sendirian bukan tindakan yang bagus. Naruto sadar benar kemampuannya sudah lama tak ia asah dan lawannya kali ini pun nampak tak dapat diremehkan.
Sampai didalam, nampaknya ini bukan hari keberuntungan naruto, ketiga orang itu hendak memperkosanya. Sebisa mungkin ia meronta dan menghindar namun nihil hasilnya. Seorang diantara ketiga orang itu berhasil menangkap dan mengikatnya. Tak jauh dari tempat naruto, temari dan yang lainnya terikat di sebuah penjara. Mata mereka melotot tak tahan dengan tingkah ketiga orang yang menyekap mereka itu. Ternyata ketiga orang itu adalah bawahan salah satu tetua di suna. Temari sangat menyesali kebodohannya karena lengah dan gagal melawan para pemberontak, temari sudah kembali kewujudnya semula namun kini bertambah luka lebam di sekujur tubuhnya. Kondisi shikamaru, kiba, dan sakura tidak jauh berbeda dengan temari.
Seandainya saja kankuro tahu keadaan temari mungkin ia akan mengamuk saat ini.
Taklama setelah naruto bersusah payah menghindari ketiga ninja mesum di depannya sebuah senjata mengenai ketiga orang itu. Naruto tak menyia-nyiakan kesempatan, ia kabur dan melepaskan temari dan yang lainnya.
"gah, sasuteme itu telat, maafkan aku yah "
"naruto kau ko manis sekali sih," temari dalam kesakitannya masih saja sempat menggoda naruto,
"eh? Hahahaha sudah cepat ayo kita harus meringkus mereka"
Taklama pertarungan hebat terjadi, sialnya walaupun sasuke dan yanglainnya berhasil melawan, mereka dibuat kewalahan, bak-bik-buk suara pukulan dan tangkisan terus terdengar sepanjang waktu. Dilain tempat, yamato sensei, sai dan gaara telah sampai ke suna. Mereka melaporkan pemberontakan yang terjadi di daerah perbatasan. Tetua yang mengirim ketiga ninja petir dan angin itu pun sudah di ringkus dan di tahan di penjara. Kankuro yang memimpin suna menggantikan gaara segera turun tangan. Ia mengirim bantuan dan segera menangkap ketiga pemberontak beserta bawahannya.
Temari dan yanglainnya sedang di obati tsunade sama. Sementara gaara dan kankuro masih membicarakan perihal kepemimpinan di suna. Malang sekali nasip naruto karena kini dia harus berhadapan dengan seorang yang mesumnya lebih dari jiraia sensei.
"bukankah sudah ku bilang untuk menjaga diri mu dan jangan sampai mereka menyentuh mu?" wajah stoic dan datar itu memakai kedua tangannya untuk mengunci pergerakan naruto.
"a-akukan sudah berusaha, lagi pula apa urusannya dengan mu?" naruto memalingkan wajahnya, ia semakin tersudut saat ini.
"well, aku harus menghukum mu dobe"
"eh? Siapa kau berani menghukum aku"
"dengar dobe, kau milik ku dan hanya aku yang boleh menyentuh mu"
"kapan aku mengijinkan mu memiliki ku"
"aku tak butuh ijin dari mu, ayo" tangan pucatnya menarik naruto. Naruto yang masih dalam wujud naruko dan masih memakai kimono nampaknya kesulitan berjalan mengikuti langkah sasuke. Kesal, sasuke langsung menggendongnya ala bride style dan segera beranjak menuju apartemennya. Gaara yang sempat melihat mereka berdua hanya tersenyum, 'pasangan aneh' katanya dalam hati.
"ne teme, kenapa kesini? Aku mau pulang, perutku sudah lapar" sasuke tak menghiraukan permintaan pirang yang masih di gendongnya, tak lama pintu terbuka. Naruto agak kikuk melihat seorang yang membukakan pintu untuk nya dan sasuke, ia meronta minta diturunkan namun lagi-lagi tak di gubris oleh uchiha bungsu itu. Sementara uchiha sulung yang melihat tingkah keduanya hanya terkekeh geli. Naruto sempat kaget 'itachi, tertawa?' begitulah hatinya berkata.
"ayo masuk, nampaknya aku akan segera menjadi kakak ipar mu yah naruto-chan" blussh, rona merah menghiasa wajah naruto. "a-apa maksud mu itachi san, aku kan laki-laki"
"heh, kau tidak lihat diri mu sekarang ini dobe?"
"diam kau teme, cepat turunkan aku dan kembalikan baju kesayangan ku"
"sudah cepat masuklah dulu naruto-chan, kau pasti laparkan?"
Tanpa menunggu jawaban sasuke yang masih menggendong naruto masuk dan menurunkan naruto. Dilepasnya sandal ninja naruto, dan ditariknya ke ruang makan.
"kau suka ramen kan naruto chan?"
"a, iya"
"baguslah"
"um, sasuke, bisa kembalikan baju ku dulu? Baju ini membuat ku tak nyaman" naruto menggerak-gerakan kimononya pertanda tak nyaman.
"boleh tapi cium aku dulu"
"eh?" rona merah kembali menguasai wajah tan naruto "me-mesum, aku tidak mau"
"naruto-chan, sudah laparkan? Makan dulu baru urus masalah baju bagai mana?"
"ah, tapi itachi-san, a-aku ingin kembali ke wujud ku, baju ini terlalu kecil untuk wujud asli ku"
"bermimpilah aku akan mengabulkan permintaan mu Cuma-Cuma naruto" sesungging senyum kemenangan menghiasi wajah sasuke. Ia tahu benar kalau dobe nya ini tak akan melawan lagi.
Persis dengan apa yang dipikirkan uchiha bungsu, naruto kini anteng dengan ramen kesukaannya dan tak banyak berkomentar seperti sebelumnya. Itachi sesekali melirik kedua bocah dihadapannya dan tak jarang senyam-senyum sambil menikmati ramen buatannya.
"well, senang bisa melihat dua bocah yang katanya sudah lama berpisah dan berbeda dunia ini"
"hentikan aniki, jangan merusak mood ku"
"ck ck ck, sepertinya hari ini akan cukup panjang untuk mu naruto-chan "
"jangan mengganggunya aniki"
"aigo, protektif sekali otouto ku ini"
"kalian berdua berhenti berdebat saat makan"
"eh? Wah wah naruto-chan .." plukk, belum sempat itachi melanjutkan kata-katanya ia sudah mendapatkan pentungan di kepalanya.
"ittai, aigo, adik ipar ku ternyata galak juga"
"ck"
Setelah selesai makan rupanya si pirang sudah tak bisa menahan diri lagi, tanpa permisi ia masuk ke kamar hendak mengganti kimononya. Sungguh tak tahan badannya merasakan panas dan risih saat berjalan dan duduk dengan kimono itu. Untunglah kamar yang dimasukinya adalah kamar uchiha bungsu alias sasuke. Ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Melihat itu nampaknya sasuke makin menyeringai, sementara itachi hanya senyam-senyum sembari membereskan ruang makan.
Sasuke melipat kedua tangannya di dada. Bersender di pintu ruang makan yang menghubungkannya dengan tangga menuju kamarnya. "nampaknya ini hari keberuntungan ku"
Itachi muncul dari dapur dan berkaca pinggang. "yah, aku menantikan keponakan ku otouto"
"heh? Apa bisa?"
"tidak ada salahnya untuk berharap kan?"
"hah, anniki, apa ada jus tomat?"
"aku hanya punya jeruk"
"sepertinya kau lebih peduli si pirang daripada aku, tadi ramen sekarang jeruk, apa kau juga akan memberiku kamera anniki?"
"haha aku bercanda sasuke, di sana ada jus jeruk dan tomat, bawalah"
Sesampainya di kamar ia segera mencari si surai pirang yang tadi masuk ke kamarnya tanpa permisi. Dengan dua gelas jus di masing-masing tangannya dan mata nya yang menelusuri setiap tempat di kamarnya ia berjalan perlahan kearah kamar mandi. Dibukanya pintu kamar mandi. Setelah menemukan si pemilik kulit tan dan safir biru itu tengah berendam di bathub sasuke menyandarkan dirinya di pintu dan sesekali meminum jus tomat faforitenya. Enggan rasanya mengusik ketenangan si pirang yang sedang asik dengan dunianya sendiri. Hingga beberapa menit kemudian sasuke berjalan mendekati bathub dan mensejajarkan dirinya dengan si pirang yang sudah kembali ke wujud laki-lakinya itu.
"mau jus dobe"
Safir biru itu perlahan menampakan wujudnya. Surai pirang yang sedari tadi asik menyamankan diri di bathub perlahan menoleh ke sumber suara. Agak takut tapi segera ia tepis perasaannya setelah melihat jus jeruk faforitenya "hem, jus jeruk ku" saat tangan naruto hampir mengambil jus di tangan sasuke. Namun nampaknya tuan uchiha ini sedang dalam mood untuk menggoda pirang pujaannya. Dengan sebuah isyarat dia memaparkan keinginannya yang tentu saja membuat naruto dag-dig-dug gemetaran. Berharap ia salah persepsi naruto dengan terbata-bata bertanya.
"ne, teme bu-bukankah i-itu untuk ku?"
"cium aku " glek, naruto menelan ludah paksa. Sebenarnya ia bisa saja menolak dan tak menghiraukan jus jeruk faforitnya. Namun ia sadar betul bahwa ia takan lolos dari uchiha pantat ayam yang satu ini terlebih lagi ia sedang di kamar mandi dan tak mengenakan baju. Salah-salah ia nanti malah di terkam sasuke. Akhirnya ragu-ragu ia mendekatkan wajahnya pada sasuke. Lagi- lagi, sedikit lagi bibir mereka akan bersentuhan. Degup jantung naruto nampaknya enggan mereda dan rona merah di wajahnya pun tak ingin pergi begitu saja.
1 detik. 2 detik. 3 detik. Gah sasuke sungguh tak sabar, jus di tangannya sudah ia taruh di pinggir bathub. Tangan kanannya menarik dagu naruto dan 'cup'. Satu kecupan mendarat di bibir ranum naruto. Malu. Yah walaupun ini bukan yang pertama kalinya ia dicium sasuke tapi rasanya sasuke selalu membuatnya malu.
"mau jus mu?" anggukan samar adalah balasan dari naruto. "then, kiss me baby" dan kali ini gelengan lah jawaban naruto. "why?" naruto tak menjawab. Ia menunduk menyembunyikan pandangannya. Sungguh ia merasa cukup kalut saat ini. Malu, kesal, mau lagi, ah entahlah apa yang dirasa si pirang saat ini.
Sasuke menggenggam kedua tangan naruto membuat si empunya tangan menolehkan pandangannya kembali padanya. "dengar naruto, tinggallah dengan ku, jadilah hanya milik ku seutuhnya" blussh. Rona merah kini menguasai seluruh wajah naruto.
"a-a, mana bi-bisa a-aku kan-"
"ssstt, naru kau hanya boleh menjawab Ya"
"eh? Um etto. A-aku, a- anu aku-"
"naruto"
~TOBECONTINUED~
Well, ini chapter kepanjangan kah? Tambah garing kah?
Mohon pendapatnya ya mina.
Um pairing lain akan ada cerita mereka masing-masing di next chapter. Dan mungkin ini akan jadi fic pertama ku yang banyak chapternya.
Maaf kalau ga sesuai harapan kalian ya
Akhir kata, Sankyuu mina, R&R please.
