GIMME THE LIGHT

Title : Gimme The Light

Author : Davidrd

Length : Chapter 2/?

Pairing : Woogyu

Genre : Angst, drama, romance

Summary :

Sunggyu adalah pria baik hati yang menjadi buta karena terlibat dalam sebuah kecelakaan, sedangkan Woohyun adalah pria arrogant dan kasar yang memiliki masa lalu kelam dalam hal percintaan.

Bad at writing summaries.

Aku tidak pernah menyangka bahwa aku dan Hoya akan bertemu secepat ini. Sudah empat tahun aku tidak bertemu dan berkomunikasi dengannya. Aku merasa sangat bersalah karena telah menuduhnya menyukai Hyomin dan menuduhnya telah memfitnah Hyomin. Betapa bodohnya aku, seorang sahabat sejati yang aku sia-siakan kesetiaannya.

"Dokter, kau mengenalnya?"

Dia memutuskan kontak mata kami dan beralih menatap Sunggyu,"Sudah berapa kali kubilang hyung, panggil aku Hoya. Dan ya, kami sudah saling kenal. Dia adalah-," belum sempat Hoya menyelesaikan perkataannya aku memberanikan diri untuk menyambungnya,"My best buddy."

"What?" Hoya melongo dan serasa tak percaya padaku.

"Hoya, I'm sorry for what I've done to you. Aku tahu aku telah salah mempercayai Hyomin saat itu. Kau benar Hoya, dia adalah penipu, wanita berbisa yang telah menghancurkan persahabatan kita. I'm so sorry," aku berjalan ke arahnya seraya melepaskan genggaman tanganku pada tangan Sunggyu.

"Woohyun, apakah ini benar-benar kau? Seorang Nam Woohyun yang keras kepala dan selalu merasa dirinya benar? Apakah ini benar-benar kau dan aku tak bermimpi?" Hoya mencoba mengucek matanya seperti mencoba membuktikan bahwa aku nyata dan bukan khayalan atau imajinasinya.

"Ya, ini benar-benar aku Howon-ah. Howon-ah mianhae."

"Aish, stop call me HOWON! You seem so weird calling me like that!" dia memelukku segera.

Aku sangat bahagia akhirnya aku menemukan my long lost friend. Dia masih seperti dulu, mudah sekali memaafkan orang, tapi juga mudah sekali marah kalau ada seseorang yang menyakiti sahabatnya. Dia adalah orang yang hebat yang tak akan pernah bisa kusakiti lagi. Sudah beruntung dia memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku, dan aku berjanji aku tidak akan membuatnya seperti dulu.

"Hoya I miss you so much," aku mengaku.

"Me too man."

"Appa," suara kecil Sungjong membuatku tersadar kalau pria kecil di gendonganku sudah terbangun dari tidur siangnya. Tapi tunggu, Appa? Apakah Sungjong ini anak Hoya?

"Hm, Jongie kemarilah," Hoya mengulurkan kedua tangannya mengambil Sungjong dari dalam gendonganku.

"Man, Sungjong anakmu?" aku bertanya pada pria berjas putih di hadapanku ini.

"Ne," dia tersenyum menatap Sungjong.

Bagus sekali, kehidupan sahabatku sempurna. Sangat sempurna bahkan. Seorang anak dan istri yang cantik di usia yang sudah matang dan pekerjaan yang bagus. Walaupun aku memiliki pekerjaan yang bagus, tetapi kehidupan asmaraku berantakan. Anak yang sudah kunanti-nantikan ternyata bukan darah dagingku dan dia juga sudah berselingkuh dariku, lebih parahnya lagi dia adalah seorang pembunuh.

"How about Hyomin Namgrease?" Hoya bertanya padaku membuatku hanya bisa mendesah pelan dan menghindari tatapan matanya yang seakan bisa menembus kepalaku.

"Hoya, aku benar-benar tidak ingin berbicara tentang dia. Seorang pembohong yang telah berselingkuh di belakangku dan memiliki anak dari kekasih gelapnya dan seorang wanita jahat yang tega membunuh anaknya sendiri. Oh God, aku tak percaya aku mengencani seorang seperti itu," kedua tanganku menutupi wajahku.

Mengetahui apa yang terjadi padaku, sahabat karibku itu menepuk pelan pundakku dan berkata,"Gwaenchana Namgrease. Kau bisa memulai lagi dari awal."

"Hoya, aku terlalu tua untuk berkencan sekarang. Tidak akan ada gadis yang mau berkencan dengan pria tua yang berperut buncit ini," kutunjukkan perutku yang sebenarnya jauh dari kata buncit dan malah sangat sixpack kepadanya membuatnya tertawa.

"Uncle Woohyun, uncle kenal dengan appa?" Sungjong memandang kami berdua dengan tatapan heran.

"Ya sayang, appa dan uncle Woohyun adalah teman baik," Hoya menatap putranya dengan penuh kasih. Seandainya aku bisa seperti itu.

"Uncle Sunggyu juga?" Sungjong berganti menatap Sunggyu yang hanya berdiri mematung karena tidak tahu apa yang bisa dilakukannya di saat-saat seperti itu. Aku juga lupa sekejap akan keberadaan Sunggyu di antara kami.

"Tidak Jongie," dengan lemah lembut Sunggyu menjawab pertanyaan si kecil.

"Tapi sekarang kan Uncle Sunggyu dan Uncle Woohyun juga berteman," Sungjong mengangguk-anggukan kepalanya dan berkata kembali,"Kita semua berteman, Jongie neomu joha."

"Kau punya anak yang begitu cerdas Hoya," ucapku.

Pertemuanku dengan Sunggyu merupakan sebuah berkah yang sangat kusyukuri. Karena bertemu dengan pria menakjubkan itu, aku kembali bertemu dengan sahabat karibku yang telah lama kusakiti dan bertemu dengan malaikat kecil yang membuatku makin merindukan sosok anak dalam kehidupanku.

Sejak bertemu dengan Hoya hari itu, aku mengetahui kalau Hoya adalah seorang duda sekarang. Istrinya meninggal saat ia melahirkan Sungjong. Hari-harinya hanya disibukkan dengan mengurus Sungjong dan bekerja. Dia adalah seorang dokter spesialis mata yang terkenal dan mapan. Aku tidak tahu kenapa dia tidak mencari pengganti ibu Sungjong. Aku tahu semua itu akan sangat susah, apalagi mencoba melupakan seorang yang pernah kita cintai sepenuh hati.

Sebuah ketukan di pintu kantorku membuatku tersadar dari lamunan. Kuletakkan pulpen yang sedianya ada di genggaman tanganku dan kutatap pintu kantor sambil berujar,"Masuk."

Myungsoo masuk ke dalam ruanganku membawa setumpukan file yang harusnya kukerjakan minggu lalu ditemani seorang pria di belakangnya. Aku tidak pernah tahu ada pegawai berwajah seperti itu di kantorku.

"Bos, ini semua file yang harus kau selesaikan minggu lalu," pemuda tampan itu meletakkan tumpukan file yang dibawanya ke atas meja kerjaku. Setelah selesai melakukannya ia membenarkan letak kemejanya dan memberikan tanda padaku bahwa ia akan memperkenalkan orang baru.

"Bos, dia adalah pengacara baru yang baru masuk kerja mulai minggu kemarin. Tapi karena kau tidak pernah ada di kantor, jadi dia baru bisa menemuimu sekarang," sekali lagi Myungsoo berkata dengan sopannya.

"L-ah, panggil aku hyung. Aku sangat benci ketika mendengarmu memanggilku dengan sebutan bos."

"Tapi bos."

"Hyung untukmu," kutekankan pengucapanku pada kata 'hyung'.

"Baiklah hyung."

"Bagus sekali. Ehem, siapa namamu?" aku beralih ke pria di samping Myungsoo yang mengenakan kemeja biru muda dengan dasi merah marun.

"Jang Dongwoo imnida. Saya pengacara baru perusahaan ini. Senang bertemu dengan anda Mr. Nam," dia membungkukkan badannya dan kemudian kembali berdiri tegak.

Hm, penampilannya sangat menarik. Kalau dia tidak memperkenalkan diri, mungkin aku akan mengira kalau ia adalah seorang entertainer. Potongan dan warna rambutnya yang bisa dikatakan sedikit nyleneh cukup membuktikan bahwa ia bukan seorang pengacara seperti kebanyakan pengacara. Bukan hanya itu saja, jika diperhatikan sekilas, orang ini bahkan tidak mirip pengacara sama sekali. Wajahnya yang boleh kukatakan mirip dinosaurus dengan mata tajam dan bibir yang tebal menambah kesan aneh, tapi tetap tampan.

"Senang bertemu dengan Anda. Semoga kerja sama kita berjalan lancar," aku berdiri dan menyalaminya menyudahi pikiranku tentang pegawai baruku.

"Allright sir," dia menyalamiku dan tersenyum lebar sampai barisan gigi putihnya hampir terlihat semua membuatnya makin mirip dengan hewan reptile yang hidup jutaan tahun lalu yang disebut dinosaurus.

"By the way Dongwoo-ssi, it's lunch time already, would you mind take a lunch with us."

"Uhm, I'm sorry sir, it's not my intention to be rude but I have another appointment right now."

"Aigoo, if that's really important appointment then it's okay," dia kembali tersenyum tahu aku tidak marah atau kecewa dengan penolakan halusnya,"But," mendengat kata tetapi pengacara dino ini melemparkan tatapan khawatir,"You shouldn't call me 'sir'. I think I'm younger than you, so just call me Woohyun."

"What?" matanya hampir melotot tidak percaya mendengar apa yang "Oh sorry sir, I don't know if I can do that cuz you are my boss after all. I should respecting you sir."

"Aish, why should everyone keep calling me stupid names by the way?" ucapku dengan sedikit kesal pada Myungsoo yang masih tidak bergerak dan tidak menunjukkan ekspresinya sama sekali seperti biasa. Terkadang aku heran, Myungsoo ini manusia atau mannequin.

"It's just natural Boss, ups hyung I mean," ujar Myungsoo.

"That's right sir," Dongwoo membenarkan.

"Okay then just call me whatever you want guys," I throw my arm in the air frustrated," But next time you should join us on lunch Dongwoo-ssi," I giving him a threatening look as I said.

"A-all-allright sir," dia membungkukkan badannya.

Aku memang seorang workaholic. Setiap hari kuhabiskan di kantor bersama timbunan file dan data-data perusahaan serta produk dan penawaran. Aku kurang menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekatku, mungkin hal itu juga yang membuat Hyomin merasa kesepian dan mencoba mencari perhatian dari laki-laki lain. Namun, setelah aku putus dengannya, kebiasaan workaholic ku semakin parah. Aku bahkan sering mengurung diri di kantor dan menginap bermalam-malam lamanya di kantor dan tidak pulang ke rumah. Kuhabiskan waktuku untuk memikirkan tentang pekerjaan sehingga aku bisa melupakan semua rasa sakit yang kurasakan.

Myungsoo adalah salah satu sahabat karibku juga. Dia satu tahun lebih muda dariku, tapi ia lebih dewasa dariku. Aku, Hoya dan Myungsoo kuliah di Universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda. Aku di fakultas Seni, Hoya di Kedokteran sedangkan Myungsoo di fakultas Ekonomi. Aku menjadi seorang pemimpin perusahaan karena paksaan dari orang tuaku, tapi aku tidak pernah keberatan dengan hal itu. Karena aku menikmatinya.

Ketika aku mengalami masa-masa sulit kehilangan Hyomin, Myungsoo adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sebelahku dan memberiku semangat. Ia akan menyeretku dari ruangan kantorku dan memaksaku sarapan. Dia akan mengomeliku satu jam lamanya kalau aku sampai lupa makan apalagi kalau aku sampai melamun dan ketahuan olehnya. Dia memang dongsaengku, tapi ia bertindak seperti hyung bagiku. Aku bangga dan bahagia dia ada di sampingku selalu.

Akhir-akhir ini setelah aku bertemu dengan Sunggyu, Myungsoo sering menyinggung kenapa aku sering tersenyum sendiri bahkan di saat-saat yang tidak lucu. Aku menceritakan padanya kalau aku bertemu dengan seseorang yang hebat. Dia sangat bahagia mendengar berita bahwa aku sudah bisa melupakan Hyomin sepenuhnya dan beralih kepada orang lain. Aku juga mengatakan padanya kalau aku sudah bertemu dengan Hoya dan meminta maaf padanya. Hal itu lebih membuatnya bahagia. Akhirnya persahabatan kami bisa diselamatkan.

"Hyung, kapan kau akan mengenalkanku dengan orang istimewa itu?" Myungsoo bertanya sambil memainkan makanannya dengan sumpit.

"Molla," ucapku enteng.

"Hey bukannya aku pelit Myung! It's just.. We're still not close enough, Myung".

"Aigoo Namgrease hyung, That shouldn't be the reason though. I think you should have tried harder and put more effort to chase him", Myungsoo menepuk pundakku seolah mencoba memberikanku semangat. "Wait! Or is he blind since he couldn't recognize your handsome face? Close enough to see you standing before him with lots of charisma which will let him fly high? Hm?".

Aku mendesah pelan dan menundukkan kepalaku sesaat mendengar ucapan Myungsoo yang sebenarnya hanya bersifat gurauan tapi sayangnya itulah kenyataan yang ada.

"Well, He can't see me Myung. I mean he's blind, ermm literally blind", I said softly while gaining a startled look from Myungsoo.

Shocked by my words, Myungsoo could only stay silent and lowered his head as he felt guilty for saying those words. "Hyung, mianhae", he finally spoke with head still hung low.

"It's alright Myung. Well, I think I would do your first suggestion to put more effort to get him. Ah..what about arrange a meeting ? I mean you and I will meet him together. Maybe it will help you to find the answer why I've been like this after you see him in person".

"Jincha? It would be nice then", Myungsoo's eyes sparkled as he heard my suggestion about meeting with the 'Kim Sunggyu' guy.

"Ah! We can ask Hoya to join us too. We'll invite him to make it less obvious. It's been a long time since the last time we gathered altogether, right? I really miss the moments of our past Myung", by saying that my thoughts wondered to recall my precious memories about my colleges periods when we're still the big three solid best friend just like the three musketeers.

"That's a good idea. You are really my best dongsaeng ever Myung."

Di apartemen Sunggyu+Dongwoo

"Gyu, sebentar lagi aku akan berhasil menemukan penjahat yang telah menabrakmu. Polisis sudah meneliti CCTV di TKP dan beberapa kejelasan sudah didapat. Sekarang pihak kepolisian sedang mengerahkan tim ahli untuk mencari tahu mobil yang menabrakmu itu Gyu," Dongwoo duduk di sofá apartemen sederhana yang telah bertahun-tahun mereka huni bersama.

Lelaki yang diajak bicara hanya mendengarkan dengan baik perkataan sahabatnya tanpa memberikan tanggapan. Dulu, dia memang sangat bersemangat ketika diajak membicarakan perkembangan kasus tabrak lari yang dialaminya karena pria yang tidak bisa melihat ini berpikir bahwa mencari pelakunya adalah hal yang tepat. Tetapi, jujur saja akhir-akhir ini ia sempat melupakan kenyataan bahwa ia tidak bisa melihat karena kecelakaan. Semuanya karena seorang Nam Woohyun.

Orang yang baru dikenalnya belum lama ini bisa membuatnya melamun berjam-jam dan bahkan tersenyum sendiri. Sudah beberapa kali Dongwoo menegur pria berambut karamel itu karena ia tidak mendengarkan perkataannya mengenai perilaku aneh direktur di tempat kerjanya yang baru. Dan sepertinya hal itu terulang lagi sekarang.

"Gyuzizi, aigoo apakah kau tidak mendengarkan perkataanku lagi?" Dongwoo memanyunkan bibirnya walaupun ia tahu bahwa Sunggyu tidak akan bisa melihatnya, seberapa jelekpun ia membuat ekspresi di wajahnya, tapi tetap saja si Dino memonyongkan bibir tebalnya. "Gyu, helllooooo?" karena kesal tidak mendapat tanggapan akhirnya Dongwoo memilih untuk mengguncang tubuh Sunggyu.

Kriing kriiing

Sunggyu yang tadinya membengong sempurna langsung saja merogoh handphone yang berada di saku celananya. Aish, Dongwoo hanya bisa makin manyun ketika diketahui bahwa sahabatnya itu bisa terlepas dari lamunan berkat teleponnya yang berdering dan bukannya karena guncangan keras yang dilancarkan olehnya.

"Yoboseyo," Sunggyu menyapa sang penelepon.

Dongwoo otomatis mendekat ketika didengar olehnya suara Sunggyu berubah menjadi manis dan sedikit mengandung unsur malu membuatnya penasaran siapa yang sebenarnya sedang berbicara dengan sahabatnya itu. Tidak mungkin kan dokter Howon yang menelepon Sunggyu, karena walaupun mereka berdua dekat tapi belum pernah pria yang berprofesi sebagai pengacara ini mendapati sahabatnya berbicara demikian padanya.

"Oh, Woohyun-ah. Waegurae?" Dongwoo makin mendekatkan telinganya ke sisi telepon Sunggyu yang satunya dan dia melewatkan nama yang terselip dari bibir Sunggyu. Beruntunglah Sunggyu tidak bisa melihat, karena kalau Sunggyu yang dulu tentu saja ia sudah memukul kepala Dongwoo dengan benda terdekat yang ada di jangkauannya. Huh, betapa galaknya ia ketika tahu ada orang yang menguping pembicaraannya.

"Mwo? Makan malam? Ah, bersama Dr. Lee? Geurae," Dongwoo mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar tiap kata yang diucapkan pria buta di sampingnya itu. "Hm, kalau begitu bolehkan aku mengajak seorang teman? Jincha? Geurae aku akan datang bersama my bestfriend kalau begitu," Dongwoo yang masih sibuk mencermati pembicaraan sahabatnya langsung melotot ketika mendengar namanya disebut. Sambil menunjukkan jari telunjuknya pada dadanya dia mengucapkan,"Mwo? Aku? Apa Sunggyu sudah gila?" tanpa menimbulkan suara tentu saja. Setelah Sunggyu menutup teleponnya, dia membalikkan tubuhnya ke sisi di mana Dongwoo masih duduk termangu seakan tidak mempercayai apa yang barusan didengarnya.

"Yah, kau sudah selesai menguping?" Sunggyu meraba apapun yang ada di depannya berusaha mencari keberadaan Dongwoo.

"What? Aigoo Gyu, bagaimana kau bisa tahu?" ujar Dongwoo sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

"Jang Dongwoo, aku sudah mengenalmu lebih dari dua puluh tahun. Sudah alamiah kalau aku mengetahui sifatmu yang suka menguping itu," sambil manyun tidak setuju terhadap perkataan Gyu yang mengatainya suka menguping Dongwoo kemudian berkata,"Yah, aku bukannya suka menguping. Aku hanya ingin tahu siapa yang berbicara denganmu. Apa itu salah? Lagian siapa si yang bicara denganmu? Kenapa kau membawa-bawa namaku Gyu?"

"Oh, itu teman baruku. Dia mengajakku dinner," raut muka sang hámster yang tadinya tegang memerah seketika saat menyebut kata 'teman baru'.

"Hm, dinner? Lalu kenapa aku dibawa-bawa?" Dongwoo masih tidak mengerti.

"Dia pergi bersama Dr. Lee jadi akan lebih baik kalau aku pergi bersamamu Woo."

"Hah, kau ingin aku jadi orang ketiga di kencan pertamamu?"

"Mwo? Kencan? Siapa yang bilang kalau ini kencan? Lagipula kalau ini kencan mana mungkin dia bersama Dr. Lee?"

"Arraseo. Jadi kau ingin doublé date begitu? Kau tahu kan kalau aku sudah lama suka dengan Dr. Lee, jadi kau mengajakku ke sana kan?" dengan isengnya Dongwoo menyenggolkan bahunya ke bahu Sunggyu.

"Yah, Jang Dongwoo! Tanyakan padaku kenapa aku berteman denganmu?"

"Aigoo Gyuzizi, kau hanya terlalu menyayangiku, itu saja. Aku benar kan? Iya kan? Iya kan?" Dongwoo merangkul pundak Sunggyu yang hanya bisa membalasnya dengan dengusan kecil. Dongwoo memang kadang bersikap kekanak-kanakan apalagi ketika ia hanya bersama dengan Sunggyu. Walaupun ia seorang pengacara, tapi tingkahnya bisa mengalahkan anak TK.

Aku mondar-mandir di depan cermin besar di kamarku. Aku tidak tahu kenapa sekarang aku bertingkah seperti pemuda yang baru pertama kali jatuh cinta. Oh My God, seorang Nam Woohyun yang bisa dikatakan sangat expert di bidang percintaan ini menjadi kalang kabut dan salah tingkat ketika harus menghadapi seorang bernama Kim Sunggyu.

Setelah mengacak-acak seluruh isi lemari untuk mencari pakaian yang kuanggap cocok selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya aku menyerah dan merbahkan tubuhku ke kasur sambil menarik napas dalam-dalam. "Aish, apa yang harus aku pakai? Pakaian seperti apa yang Sunggyu suka?" lidahku tiba-tiba terasa kelu mengingat apa yang barusan kukatakan. Sunggyu tidak akan tahu bagaimanapun aku berpakaian, bahkan jika aku berjalan telanjang bulat sekalipun dia tidak akan tahu kecuali pria berambut karamel itu merabanya. Betapa bodohnya dirimu Nam Woohyun. Di sini aku menghabiskan waktu satu setengah jam hanya untuk mondar-mandir melakukan hal yang sia-sia.

"Hyung, are you ready?" suara Myungsoo yang ceria terdengar dari luar kamarku.

"Wait a minute L," langsung kusambar pakaian yang ada di tumpukan teratas dari seluruh pakaian yang baru saja kuacak-acak beberapa saat lalu. Secepat kilat kupakai shirt v-neck warna hitam dan kupadukan dengan jaket abu-abu yang tersampir di headboard tempat tidur.

"Yah hyung, jangan bilang kalau kau mengacak-acak seluruh pakaian di kamarmu hanya untuk memakai itu?" ujar Myungsoo sambil mengarahkan telunjuknya pada pakaian yang menempel di tubuh berototku.

"Ada yang salahkah?" kuamati pakaian yang menempel dengan indahnya di kulitku. Tidak ada yang salah menurutku. Pakaian yang kukenakan normal saja, sepasang celana jeans hitam dengan shirt hitam dan jaket warna abu-abu.

"Oh, come on hyung. Apa kau tidak punya pakaian yang lebih santai dari ini? Kau tahu, aku serasa akan pergi ke kunjungan bisnis kalau begini caranya," Myungsoo membenamkan wajahnya di kedua tangannya seolah frustasi melihat hyungnya yang biasanya paling jenius dalam masalah fashion sekarang berubah menjadi idiot dalam sekejap saja hanya karena seorang Kim Sunggyu. Hal ini membuat Myungsoo semakin penasaran, siapa sebenarnya Kim Sunggyu yang sudah membuat Nam Woohyun menjadi seperti ini.

Setelah berkutat memilih pakaian yang cocok untukku, kami berdua segera pergi ke tempat tujuan. Sebuah restaurant elite dengan design interior yang menimbulkan kesan elegan dan romantic menjadi pilihan kami. Sebenarnya bukan hanya itu alasannya, tetapi karena restaurant ini juga tempat di mana kami bertiga (aku, Hoya, dan Myungsoo) sering nongkrong semasa kami masih bersama.

Kuedarkan pandanganku sesaat setelah memasuki restaurant yang masih saja memberikan efek tenang dan damai padaku, walaupun sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak datang kemari. Dengan gugup kucari-cari sosok berambut karamel di antara puluhan pengunjung yang sedang ada di sana. Myungsoo menggandeng lenganku sambil setengah menyeret tubuhku yang terpaku persis di depan pintu masuk restaurant. Wait, Myungsoo sudah melihat di mana Sunggyu berada kalau begitu.

"Hyung, bisakah kau bersikap normal? Hm, aku tahu kau sedang jatuh cinta, tapi tidak perlu menunjukkan tingkah bodohmu seperti ini juga hyung," Myungsoo membisikkan kata-kata yang membuat wajahku memerah seketika.

"Myung, kau tidak tahu bagaimana rasanya si," aku memegangi jantungku yang berdetak sangat kencang membuatku takut kalau-kalau bisa meledak kapan saja. Myungsoo melirik ke arahku sekilas dan berkata,"Hyung, aku terlalu muda untuk jatuh cinta. Aku tidak ingin patah hati dan menjadi orang idiot sepertimu Hyung."

Mendengar ucapannya aku langsung memanyunkan bibirku. Memang benar aku sempat menjadi idiot selama beberapa saat karena putus cinta, tapi dia tidak bisa seenaknya mengataiku begitu. Hatiku sangat sakit waktu itu, coba saja kalau dia yang merasakan. Huft, sudah bagus aku tidak bunuh diri waktu itu.

"Kalian sudah datang," kulihat Hoya berdiri dan merapikan pakaiannya sambil tersenyum ceria ke arah kami. Tidak lupa dia melambaikan tangannya menyuruh kami cepat mendekat dan duduk di kursi kosong di sana. Aku bisa melihat sosok pria berambut karamel yang duduk manis di salah satu kursi itu. Dia sedang membicarakan sesuatu dengan seseorang di sampingnya. Mungkin itu temannya yang ia ajak kemari.

"Hoya hyung, sudah lama menunggu?" Myungsoo melepaskan tangannya dari lenganku kemudian berjalan mendekati mereka bertiga. Sosok pria di sebelah Sunggyu menolehkan wajahnya dan terlihatlah muka mirip dino yang sepertinya pernah kulihat sebelumnya.

"Omo, Myungsoo-ssi," orang itu berkata,"Ternyata teman dokter Lee adalah Anda," dengan sopannya ia membungkukkan badannya sedikit member hormat pada L.

"Wah, Dongwoo hyung, jangan bilang kalau kau teman dari Sunggyu-ssi?" Myungsoo terlihat sangat tertarik dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya. "Ne, saya teman Sunggyu. Oh, Mr. Nam Anda datang juga," pria dino itu menatapku sekarang membuat Sunggyu juga mengalihkan pandangannya ke arahku.

Wah jantungku makin berdetak kencang tak karuan. Sunggyu hyung berhentilah menatapku dengan senyuman manismu itu. Aku bisa pingsan di sini kalau dia terus-terusan tersenyum seperti itu. L menyenggol pinggangku dengan sikunya dan berbisik,"Yah Hyung, berhentilah menatap Sunggyu hyung seperti itu. Kau bisa memunculkan sinar laser dari tatapan matamu itu."Ah benar ucapan L. Pasti aku terlihat sangat bodoh sekarang. Ehem, setelah menggeleng-gelengkan kepalaku sesaat mencoba mengusir imajinasi aneh yang ada di pikiranku, aku mendekati Dongwoo dan menyapanya tenang,"Oh, senangnya bisa berkumpul dengan kalian di sini."

Kami berlima duduk dan mulai memesan makanan. Sambil menunggu pesanan kami datang, Hoya bercerita tentang persahabatan kami sejak awal mula hingga keretakan yang terjadi beberapa waktu lalu. Terkadang Myungsoo dan aku menambahi serta membantah apa yang dikatakan Hoya ketika yang dibicarakan dirasa sudah terlalu memalukan untuk didengar. Kami bisa bercanda tawa seperti dulu, betapa bahagianya aku memiliki sahabat seperti mereka.

Setelah itu giliran Dongwoo yang bercerita tentang persahabatannya dengan Sunggyu hyung. Mereka berdua bersahabat sejak kecil karena kebetulan rumah mereka berdekatan. Sekolah merekapun selalu sama hingga SMA. Ketika kuliah Dongwoo dan Sunggyu hidup di apartemen bersama walaupun jurusan yang mereka ambil berbeda. Sunggyu mengambi jurusan seni dan Dongwoo mengambil hukum. Sunggyu mengubah-ubah ekpresinya selama mendengarkan cerita Dongwoo. Terkadang ia mangguk-mangguk membenarkan, namun tak jarang juga ia memukul pelan lengan pria dino ini ketika dia menceritakan kejelekan Sunggyu.

Di tengah pembicaraan, Sunggyu meminta izin untuk pergi ke toilet sebentar membuat Dongwoo menghentikan ceritanya dan memilih menemani sahabatnya itu. Setelah mereka berdua hilang dari pandangan mata kami, Hoya tiba-tiba saja menatapku.

"Woohyun-ah," nada suaranya terdengar serius dan ada sedikit unsur nervous, ya lagipula dia hanya akan memanggilku Woohyun kalau ia bicara tentang hal yang serius padaku.

"Hm, wae?"

"Bisakah kau dan Myungsoo membantuku?" ekspresi memelas ditunjukkan oleh sahabatku yang berprofesi sebagai dokter ini.

"Membantu apa hyung?" Myungsoo berkata tenang sambil sedikit mendekatkan tubuhnya ke meja.

Entah kenapa, aku merasa mendapatkan firasat buruk,"Bantu aku melamar Sunggyu malam ini," dengan entengnya pria berambut cepak di hadapanku ini berkata membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Apa itu artinya Hoya juga mencintai Sunggyu?

"Tapi hyung, Woohyun hyung ju-," kuinjak kaki Myungsoo yang duduk di sebelahku membuatnya menatapku heran,"Tentu Hoya. Kami akan sangat senang jika bisa membantumu," ucapku bersemangat.

Tatapan tak percaya yang dilemparkan Myungsoo membuatku agak risih tapi aku membalasnya dengan tatapan menyuruhnya diam. Pria tampan di sebelahku ini hanya mendesah pelan dan kembali menunjukkan ekspresi datarnya pada kami. Hei, tapi aku harus berbuat apa? Hoya adalah sahabatku. Dia mengenal Sunggyu lebih lama daripada aku. Dia yang menemani Sunggyu saat ia dalam masa-masa kritis dan ia juga yang mengobati Sunggyu. Dia jauh lebih tahu tentang Sunggyu. Dan satu lagi. Dia punya Sungjong.

"Sungjong pasti akan sangat senang kalau dia tahu Sunggyu akan menjadi bagian dari keluarga kami," Hoya melanjutkan kalimatnya.

"Apa yang bisa kami bantú?"

"Aku sudah merencanakan semuanya, aku hanya perlu support kalian. Aku sudah memesan koki restoran ini untuk memasukkan cincin ke cake yang kita pesan sebagai dessert. Aku akan melamar Sunggyu setelahnya. Oya, aku minta kalian membawa Dongwoo pergi saat dessert datang," mata Hoya yang berbinar-binar saat membicarakan rencana pelamarannya membuat hatiku sakit, tapi aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalaku dan memasang senyum palsu.

"Jadi, kau ingin kami meninggalkanmu dengan Sunggyu saja di meja ini?" tanyaku.

"Ne."

"Lalu, bagaimana dengan pengunjung yang lain?"

"Tenang, aku sudah mengurus tentang itu."

"Baiklah. Hanya membawa Dongwoo pergi dari sini kan?"

"Ne Woohyun-ah. Kalian mau melakukannya kan?"

"Tentu, apa yang tidak kami lakukan untuk sahabat sendiri," ucapku bersemangat sedangkan Myungsoo hanya berujar pelan,"Baiklah."

"Kalian memang sahabatku yang terbaik," ucapnya seraya menepuk pundak kami,"Ah, itu mereka sudah datang. Kita mulai rencananya."

Semangatku yang tadinya membara sekarang pupus dan hilang sudah. Hatiku serasa ditusuk ribuan jarum berpikir bahwa Sunggyu sebentar lagi akan menjadi belahan jiwa Hoya, sahabatku. Betapa malangnya nasibku. Aku memang bukan orang yang mujur dalam hal percintaan. Aku memang selalu bernasib sial, dikhianati dan merasakan cinta tak terbalas seperti ini. Oh God, apa salahku di kehidupanku yang telah lalu?

"Eh maaf telah membuat kalian menunggu terlalu lama," ujar Sunggyu dengan suaranya yang sangat merdu itu.

"Gwaenchana," jawab Hoya. Aku dan Myungsoo hanya mengangguk membenarkan jawaban Hoya barusan walaupun dalam hati aku menangis.

Thanks buat yang udah baca dan komen. Mian cuz this is such a boring and lame chapter…