Annyeong...
Ini adalah FF ber-Chapter pertamaku. Maaf kalau summary-nya gaje dan nggak bisa dipahami. Karena biasanya upload di blog dan nggak pake summary. Hehe.
Cerita ini idenya dari kedua kakakku, tapi aku yang jadi korban disuruh negtik. Haha. Jadi, cerita ini benar-benar murni imajinasi kami. Bila ada kesamaan dengan FF yang pernah teman-teman baca atau teman-teman buat, bahkan kalau ada yang hampir sama dengan kejadian nyata,aku mintaa maaf yang sebesar-besarnya. Dan itu semua hanya kebetulan semata. Semoga ceritanya berkenan.
Selamat membaca ^^
###
Title : Our Secret – Chapter 1
Cast : - Jung Yunho as himself
- Kim Jaejoong as himself and Kim Jaemin
- Park Yoochun as himself
- Kim Junsu as himself
- Shim Changmin as himself
Ide cerita : Mba Ocong & Mba Ema Watay
Penulis naskah : PC
Genre : Romance, Humor
Rating : PG 15 (K+)
Chapter : 1 of ?
Warning : cerita amburadul, bahasa nggak jelas, banyak typo
Happy reading ^^
###
The door opens and you come in
At first glance, I know you were mine
As you come towards me and bow your head
Your face is dazzlingly beautiful
I don't know why but you look familiar
My heart is fluttering
You have taken all my heart away
(Yurisangja – May I Love You)
###
Author POV
Jaejoong memperhatikan eommanya yang sedang sibuk mengepak barang-barang di rumah mereka. Keluarga Kim berencana melakukan migrasi ke Kanada, karena Tuan Kim merasa mereka bisa mendapat kehidupan yang lebih baik di sana. Tampak Tuan Kim masih berbicara dengan seseorang di telepon. Mungkin calon pembeli rumah mereka.
Jaejoong sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di Korea. Jaejoong sudah kelas 3 SMA sekarang dan sebentar lagi ujian. Jadi dia memutuskan untuk menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu. Karena Tuan Kim berencana menjual rumah mereka, jadi mau tidak mau Jaejoong harus mencari apartemen untuk tempat tinggalnya selama dia menyelesaikan sekolahnya nanti.
Dan, disinilah Jaejoong sekarang. Duduk di dalam restoran favoritnya, Bolero. Jaejoong sibuk memainkan handphone nya ketika seorang laki-laki tampan berjalan mendekatinya.
"Mianhae Jae membuatmu menunggu lama." Sapa orang itu. Jaejoong tersenyum menanggapi sapaan laki-laki yang kini sudah duduk tenang di depannya.
"Tidak apa-apa, hyung. Aku juga baru saja datang. Uhm, lebih baik kita memesan makanan dulu, hyung." Ucap Jaejoong ketika pelayan restoran mendekati mereka. Selesai memesan makanan, laki-laki di hadapan Jaejoong mengeluarkan beberapa brosur dari dalam saku jaketnya.
"Ini beberapa brosur apartemen yang kau minta. Kau bisa melihat-lihat dulu dan menentukan pilihanmu." Jaejoong tersenyum dan mengangguk menerima brosur dari laki-laki itu.
"Yang ini terlalu mahal." Tunjuk Jaejoong pada salah satu brosur. "Yang ini fasilitasnya lengkap, tapi letaknya jauh dari sekolah." Tunjuk Jaejoong lagi pada brosur yang lain. Dahinya tampak mengerut.
"Uhm, sepertinya apartemen ini cukup lumayan, Yoochun hyung." Ucap Jaejoong seraya menyodorkan sebuah brosur. Yoochun membulatkan matanya horror ketika dia melihat apartemen yang ditunjuk Jaejoong. Yoochun mengalihkan tatapannya ke arah Jaejoong dan brosur itu bergantian.
"Errr, kau yakin ingin tinggal disini?" Tanya Yoochun pelan.
"Tentu saja. Lihatlah, apartemen ini memiliki fasilitas yang lengkap, harganya juga terjangkau. Selain itu, apartemen ini juga dekat dengan sekolahku." Ucap Jaejoong yakin. Sementara Yoochun menanggapi dengan senyum gugupnya.
"Tapi, apartemen ini untuk perempuan, Jaejoong-ah. Lihat baik-baik." Jaejoong menurut ucapan Yoochun, dan seketika mulutnya membulat ketika ia membaca kalimat 'Girls Only' yang terdapat di brosur itu.
Aigo, bagaimana bisa dia seceroboh itu, tidak membaca keterangan yang ada di brosur dengan seksama. Jaejoong menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melirik brosur-brosur yang lain. Tapi sedetik kemudian wajah Jaejoong tampak murung.
Ugh, tidak ada apartemen yang sesuai dengan keinginannya selain apartemen tadi. Jaejoong kehilangan semangat. Dia sudah jatuh cinta pada pilihan pertamanya.
Yoochun yang melihat tampang kusut Jaejoong menjadi bersalah juga. Bagaimana pun dia yang menyodorkan brosur apartemen itu. Dilihatnya Jaejoong masih sibuk mengerucutkan bibirnya kesal.
Sedetik kemudian Yoochun melebarkan senyumnya sambil tetap memandangi wajah Jaejoong. Jaejoong yang merasa dirinya tengah dipandangi secara terus menerus pun mendongakkan wajahnya dan melihat Yoochun yang tengah tersenyum konyol ke arahnya.
"Uhm, Jaejoong-ah, aku rasa aku bisa membantumu." Ucap Yoochun sumringah. Sementara Jaejoong menatap bingung ke arah Yoochun.
"Kau masih tetap ingin tinggal di apartemen itu?" Tanya Yoochun lagi. Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya pelan menanggapi pertanyaan Yoochun. Sementara Yoochun juga ikut mengangguk-anggukkan kepalanya melihat tanggapan Jaejoong. Jaejoong mengerutkan dahinya bingung melihat tingkah Yoochun.
"Begini, sebenarnya penjaga apartemen itu adalah temanku. Jadi kurasa aku bisa membantumu."
"Mwo?" pernyataan dari Yoochun sontak membuat Jaejoong menautkan kedua alisnya.
"Yeah, kurasa aku bisa membantumu untuk tinggal disana." Sahut Yoochun masih dengan senyum konyolnya.
"Tapi tadi hyung bilang apartemen ini untuk perempuan?" lanjut Jaejoong mengerutkan dahinya, bingung.
"Uhm, sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan ide ini, Jaejoong-ah. Kurasa ini sangat konyol. Tapi kupikir hanya ini satu-satunya cara supaya kau bisa tinggal di apartemen itu." Ucap Yoochun sungguh-sungguh. Sementara Jaejoong makin mengerutkan dahinya.
Yoochun mencondongkan wajahnya perlahan mendekati Jaejoong. Jaejoong pun melakukan hal yang sama setelah mendapat perintah dari Yoochun. Yoochun berdehem sebentar sambil menatap takut ke arah Jaejoong.
"Kupikir kau bisa menyamar menjadi perempuan, Jaejoong-ah. Wajahmu kan cantik, jadi kurasa temanku tidak akan menyadari kalau kau laki-laki." Jaejoong menautkan kedua alisnya, mencerna ucapan Yoochun.
"MWO?!" teriak Jaejoong 3 detik kemudian.
"Ini ruang makan sekaligus dapurnya. Memang sengaja di desain minimalis." Ucap Yunho mengakhiri penjelasannya kepada Jaejoong dan Yoochun yang sedari tadi melihat-lihat 'calon' apartemen Jaejoong.
Yoochun manggut-manggut mendengar penjelasan sohib karibnya. Sementara Jaejoong masih sibuk menarik-narik rok sekolahnya. Oh Tuhan, Jaejoong merasa sangat tidak nyaman dengan seragam perempuan yang membalut tubuhnya.
Rok pendek selutut, dasi kupu-kupu bergaris, jas yang tidak dikancingkan, wig hitam sebahu dan jangan lupakan kaos kaki selutut serta sepatu pantovelnya. Ugh, ingin rasanya dia melempar sepatu ber-hak itu ke kepala Yoochun sekarang juga.
Ide konyol Yoochun sungguh menyiksanya. Tapi dia juga harus berterima kasih kepada Yoochun. Bagaimanapun Yoochun membantunya mendapat kesempatan untuk tinggal di apartemen ini.
"Bagaimana, apa kau suka?" Tanya Yoochun kepada Jaejoong. Jaejoong terkesiap dan segera mengangguk antusias sambil melihat sekeliling apartemen itu.
"Syukurlah jika kau suka. Kau bisa tinggal disini mulai hari ini…ehm, Nona…?" Yunho tidak menyelesaikam kalimatnya dan memandang ke arah Jaejoong. Tangan kanannya terulur di depan Jaejoong. Jaejoong tampak terkejut.
"Oh, eh, namaku… ehm… Jaemin, iya Jaemin, Kim Jaemin." Sahut Jaejoong seraya membalas uluran tangan Yunho.
"Namaku Jung Yunho. aku sahabat Yoochun sejak SMA." Yunho tersenyum ke arah Jaejoong yang dibalas Jaejoong dengan senyum kikuk. Yoochun hanya tersenyum simpul melihat kelakuan dongsaengya. Sementara Yunho tampak terdiam menatap wajah Jaejoong.
'Kulitnya lembut sekali. Senyumnya juga menawan.' Batin Yunho.
Kemudian Yunho tersadar ketika Jaejoong melepaskan tangannya. Yunho pun tersenyum canggung ke arah jaejoong.
"Uhm, lalu bagaimana dengan pembayarannya, Yunho-shi?" Tanya Jaejoong.
"Ah, kau bisa membayar uang mukanya terlebih dahulu, dan panggil saja aku oppa." Jawab Yunho seraya tersenyum. Jaejoong mengangguk menanggapi ucapan Yunho.
"Ne, terima kasih Yunho op..oppa?" Tanya Jaejoong sedikit tergagap. Ia merasa konyol memanggil Yunho dengan embel-embel 'oppa'. Bukankah seharusnya ia memanggil Yunho dengan sebutan 'hyung'? Sementara Yoochun hanya terkikik geli melihat ekspresi Jaejoong.
"Baiklah, aku rasa kita sudah mencapai kesepakatan. Jadi, bisakah aku pulang sekarang, Jae?' Tanya Yoochun.
"Eh, tentu saja Yoochun…oppa." Jawab Jaejoong seraya tersenyum kikuk. Yoochun hanya menanggapi dengan senyuman simpul. Tapi Jaejoong tahu ada nada mengejek di balik senyuman itu.
'Uh, awas saja kau, hyung.' Batin Jaejoong.
"Kurasa aku juga harus mulai membersihkan apartemen ini." Lanjut Jaejoong yang diangguki oleh Yoochun dan Yunho.
Mereka bertiga berjalan ke arah pintu. Sesampainya di depan pintu apartemen Jaejoong, Yoochun membalikkan badan dan tersenyum.
"Uhm, kalau begitu, aku pulang dulu Jae. Yunho, aku titip dongsaengku ne?" kata Yoochun seraya menepuk pundak Yunho pelan. Yunho hanya mengangguk menyanggupi ucapan Yoochun.
"Daaahhh~~~." Pamit Yoochun seraya melambaikan tangannya.
"Uhm, aku juga harus kembali ke apartemenku." Ucap Yunho. Jaejoong yang masih sibuk melambai pada Yoochun ganti menatap Yunho.
"Ah, ne." ucap Jaejoong. Tangannya merogoh saku seragamnya. "Uhm, ini." Jaejoong menyodorkan amplop putih. "Ini uang mukaku untuk bulan ini. Besok siang akan segera kulunasi semuanya." Ucap Jaejoong seraya tersenyum.
"Ah, iya. Terima kasih." Yunho balas tersenyum. "Uhm, jika kau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku."
"Tentu." Sahut Jaejoong seraya tersenyum.
"Aku permisi." Pamit Yunho seraya membungkukkan badannya. Jaejoong ikut membungkukkan badannya. Diperhatikannya punggung Yunho yang mulai menjauh, setelah itu Jaejoong menutup pintu apartemen dan memulai pekerjaannya.
"Aigo, aku harus menggati pakaianku lebih dulu. Pakaian perempuan ini membuat seluruh tubuhku gata-gatal." Ucap Jaejoong seraya membuka kopernya.
"Kim Jaejoong, Fighting!" Jaejoong berteriak menyemangati dirnya sendiri.
###
Esoknya…
Jaejoong sedang mengunci pintu apartemennya sambil sesekali membenarkan kaos kakinya yang terus melorot ketika sebuah suara menyapanya.
"Pagi, Jae." Sapa Yunho sambil mengulas senyum lembutnya.
"Ah, pagi, hyu… eh oppa." Jawab Jaejoong gugup. Hampir saja Jaejoong keceplosan akan memanggil Yunho dengan sebutan hyung.
"Kau mau berangkat ke sekolah?" Tanya Yunho.
"Ah, iya. Aku sudah hampir terlambat. Aku berangkat dulu, oppa." Ucap Jaejoong seraya melambaikan tangannya.
Sedetik kemudian Jaejoong sudah berlari menjauhi apartemennya, meninggalkan Yunho yang masih termangu sendiri di depan pintu apartemen Jaejoong.
'Manis sekali.' Batin Yunho.
Sedetik kemudian Yunho tersadar.
"Apa yang aku pikirkan, Jung Yunho!" Yunho sembari memukul-mukul kepalanya.
Ah, bukankah tadi ia harus pergi ke apartemen Ahra karena gadis itu mengatakan bahwa kran airnya rusak? Aigo. Yunho pun segera melangkah pergi dari sana.
###
Hari demi hari berlalu. Tidak terasa sudah sebulan Jaejoong tinggal di apartemen barunya. Dan selama sebulan ini semuanya baik-baik saja. Dalam arti Yunho belum mengetahui penyamarannya. Yoochun yang mengetahui itu pun merasakan kelegaan yang sama.
Jaejoong hanya berpenampilan dan bertingkah sebagai perempuan saat di apartemen dan di depan Yunho. Selebihnya, dia tetap kembali ke habitat aslinya sebagai laki-laki. Dan untuk urusan sekolah, Jaejoong terpaksa mengenakan seragam perempuan ketika berangkat dan mengganti seragamnya di toilet umum, karena dia tetap harus memakai seragam laki-laki di sekolah. Poor Jaejoong.
Tapi Jaejoong terlihat menikmati 'pekerjaan' barunya itu. Apalagi selama sebulan ini Jaejoong semakin dekat dengan Yunho. Hubungan yang diawali dengan sapaan-sapaan kecil ketika tanpa sengaja bertemu, berubah menjadi ejekan-ejekan manis ketika mereka bersama. Bahkan Jaejoong sudah tidak canggung lagi untuk memanggil Yunho dengan sebutan oppa. Yah, mungkin karena pada dasarnya mereka berdua sama-sama laki-laki, jadi keakraban cepat terjalin di antara keduanya. Bahkan beberapa kali mereka hang out berdua saja, tanpa Yoochun. Entah itu makan berdua atau pun sekedar jalan-jalan berdua.
End Author POV
Yunho POV
Sudah sebulan ini Jaemin tinggal di apartemen yang dikelola olehku, dan selama itu pula aku merasa hari-hariku menjadi penuh warna. Entahlah, sejak kedatangannya aku seolah menemukan kebahagiaan tersendiri. Debaran-debaran halus ketika berada di sampingnya, kegugupanku ketika kepergok sedang menatapnya, sudah menjadi bumbu manis dalam kehidupanku selama sebulan ini.
Apakah aku jatuh cinta pada Jaemin?
Entahlah. Aku masih ragu dengan perasaanku terhadapnya. Tapi tidak dipungkiri aku merasa nyaman dan bahagia ketika berada di dekatnya. Ada semacam rasa ingin melindungi ketika bersamanya.
Selama sebulan ini hubungan kami sudah semakin akrab. Dia sudah tidak canggung lagi ketika berada di dekatku. Meski sejujurnya akulah yang merasa gugup berada di dekatnya. Kami bahkan sudah sering menghabiskan waktu bersama, entah itu bersama Yoochun ataupun hanya berdua saja.
Aku sedikit kesal kepada Yoochun pada awalnya. Kenapa dia tidak pernah memberitahu jika dia memiliki dongsaeng yang sangat cantik? Tapi kekesalanku terbayar sudah.
Malam ini aku berjanji akan menemani Jaemin membeli buku latihan ujiannya. Sebetulnya kami janji bertemu jam 19.00. tapi baru pukul 18.45 aku sudah menunggu di depan apartemennya. Uh, hanya membayangkan pergi berdua bersama Jaemin saja sudah membuat wajahku panas.
End Yunho POV
Author POV
Jaejoong dan Yunho berjalan bersisihan sekeluarnya dari toko buku. Selama dalam perjalanan pulang tawa dan canda terus mengalir dari bibir keduanya. Bahkan aksi pukul-pukul lengan pun dilancarkan oleh Jaejoong. Uh, tingkah mereka membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka tertawa geli. Pasangan yang romantis, batin mereka.
"Uhm, Jaemin-ah." Panggil Yunho sambil menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan apartemen Jaejoong dan memandang Jaejoong lekat. Sementara Jaejoong membalas panggilan Yunho dengan mengangkat kedua alisnya seakan mengatakan'apa'.
"Besok malam kau ada acara?" Tanya Yunho yang dijawab gelengan oleh Jaejoong.
"Kalau besok malam kita makan malam bersama bagaimana?"
"Uhm, apakah Yoochun oppa diajak?" Tanya Jaejoong balik.
"Tidak. Kita pergi berdua saja. Tidak apa-apa, kan? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Ucap Yunho.
"Apa? Kenapa tidak dibicarakan disini saja?" bingung Jaejoong.
"Tidak bisa dan tidak boleh. Pokoknya aku menunggumu besok di Bolero jam 7 malam. Oke? Bye." Yunho menjelaskan seraya berlalu dari hadapan Jaejoong. Sementara Jaejoong hanya mengangguk pelan dan mengernyitkan alisnya bingung dengan tingkah Yunho.
"Yunho oppa, terima kasih sudah menemaniku ke toko buku." Ucap Jaejoong ketika dilihatnya Yunho sudah cukup jauh dari hadapannya. Yunho hanya berbalik menghadap Jaejoong seraya tersenyum manis dan mengangkat kedua jempolnya seakan berkata 'It's ok'. Jaejoong pun tersenyum dan segera berlalu memasuki apartemennya.
End Author POV
Jaejoong POV
Beginilah akhirnya, aku berada di Bolero, makan malam bersama dengan Yunho hyung. Ia tampak lahap sekali memakan nasi goreng pesanannya. Sementara aku memandang malas nasi goreng di depanku.
"Kenapa tidak dimakan, Jae?" suara Yunho hyung menginterupsi kegiatanku mengaduk-aduk nasi goreng.
"Ah, aku baru akan memakannya." Bohongku. Padahal saat ini aku merasa tidak nyaman dengan pakaian yang ku pakai.
Bayangkan, aku memakai skinny jeans dan blus panjang berwarna biru muda dengan aksen renda di sekeliling leher. Ugh, membuat leherku gatal-gatal saja. Dan jangan lupakan sepatu wanita berwarna senada dengan blusku yang tengah ku pakai saat ini. Hak-nya hanya sekitar 2 cm. tapi tetep membuat kakiku pegal.
"Apa kau tidak suka dengan makanannya?" Tanya Yunho hyung lagi.
Suara Yunho hyung otomatis membuatku sadar dan segera menggelengkan kepalaku. Lalu sedikit demi sedikit aku mulai memakan nasi gorengnya. Yunho hyung kemudian mengulas senyum manisnya.
End Jaejoong POV
Yunho POV
Aku memandang Jaemin yang tengah lahap memakan makanannya. Pipinya terkadang menggembung lucu. Membuatnya terlihat semakin imut dan manis.
Ah, aku merasakan wajahku menghangat dan darahku berdesir hangat. Apa aku menyatakan perasaanku sekarang saja ya? Ah, aku benar-benar gugup.
Aku menghembuskan nafas pelan dan memantapkan hatiku.
"Jaemin…" panggilku lembut.
End Yunho POV
Author POV
"Jaemin…" Yunho memanggil Jaejoong dengan lembut.
"Apa?" Tanya Jaejoong seraya mengangkat wajahnya. Terlihat sedikit bekas minyak nasi goreng di sudut bibirnya.
"Ehem." Yunho berdehem pelan. Kemudian melanjutkan bicara, "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Jaejoong hanya menjawab dengan gumaman sembari mengelap mulutnya.
"Eh, sebenarnya…" ucap Yunho gugup. Jaejoong hanya mengangkat alisnya. Menanti Yunho berbicara.
"Ehm, aku…" Jaejoong makin mengerutkan alisnya.
"Huft." Yunho justru menghembuskan nafasnya. Membuat Jaejoong semakin gemas dengan tingkah Yunho.
"Baiklah aku akan mengatakan kepadamu sekarang." ucap Yunho tegas.
"Dari tadi oppa sudah bicara, tapi hanya 'ehm, aku, sebenarnya' yang keluar dari mulut oppa. Sebenarnya apa yang ingin oppa katakan?' Tanya Jaejoong bingung. Sementara Yunho kembali berdehem pelan sambil dalam hati merutuki kebodohannya.
Jaejoong masih menatap Yunho dan menanti kata-kata yang akan keluar dari mulut Yunho. Sementara Yunho mulai memberanikan diri membalas tatapan mata Jaejoong. Perlahan tatapan mata Yunho berubah menjadi melembut, melembut dan melembut. Perlahan tangan kanan Yunho menggenggam tangan kiri Jaejoong kemudian mengusapnya perlahan.
Jaejoong terhenyak mendapat perlakuan seperti itu dari Yunho. Tapi ia tidak bergerak dan tidak menolak tangan Yunho.
"Saranghae…" ucap Yunho lembut, bahkan hampir menyerupai bisikan.
Klontang…
Seketika sendok yang dipegang Jaejoong terjatuh. Matanya membulat dan mulutnya menganga lebar. Bulu kuduknya meremang.
"Saranghae, Kim Jaemin…" Ucap Yunho lagi seraya mengulas senyum manisnya dan mengeratkan genggaman tangannya.
End Author POV
###
I will tell you carefully
I will be brave
Can I love you from today?
It's my first time to feel clearly
I don't want to miss it
Love seems to be coming
I will give you only good things always
(Yurisangja – May I Love You)
###
TBC
Maksih buat yang udah baca ^^
