Annyeong…

Chapter 2 is up. Semoga ceritanya tidak mengecewakan dan bisa diterima. Makasih banyak buat teman-teman yang udah review di chapter 1.

Makasih buat bumkeyk, Edelweis, missjelek, YunJae Believer, YunHolic, clovery94, Reysa J, Himawari Ezuki, Dipa Woon, Vic89, riyunjae, Princess yunjae, yjlover, Guest, Guest, Taeripark. Terimakasih untuk semua masukan dari teman-teman.

Kritik dan saran teman-teman sangat membangun. Namun, mohon maaf jika chap ini belum sesuai dengan keinginan teman-teman. Mohon maaf juga jika teman-teman malah tambah bingung. Aku akan selalu berusaha untuk bisa menulis cerita yang lebih baik untuk kedepannya. ^^

Selamat membaca ^^

.

.

Title : Our Secret – Chapter 2

Cast :

- Jung Yunho as himself

- Kim Jaejoong as himself and Kim Jaemin

- Park Yoochun as himself

- Kim Junsu as himself

- Shim Changmin as himself

Ide cerita : Mba Ocong & Mba Ema Watay

Penulis naskah : PC

Genre : Romance, humor (mungkin -_-)

Rating : PG 15

Chapter : 2 of ?

Warning : cerita amburadul, bahasa nggak jelas, banyak typo

Happy reading ^^

.

.

Author POV

Jaejoong dan Yunho berjalan bersisihan. Selama perjalanan pulang mereka hanya diam. Kecanggungan meliputi keduanya sejak insiden di restoran tadi. Mereka berhenti ketika sampai di depan apartemen Jaejoong.

"Uhm, Yunho oppa, terima kasih atas makan malamnya." Ucap Jaejoong memecah keheningan diantara mereka.

"Sama-sama." Balas Yunho tersenyum canggung.

Mereka berdua kembali terdiam setelahnya.

"Aku masuk dulu." Ucap Jaejoong pelan. Yunho hanya memandang Jaejoong yang tengah bersiap membuka pintu.

"Jaemin-ah…" panggil Yunho lembut. Jaejoong sontak membalikkan badan dan menatap ke arah Yunho.

"Soal di restoran tadi, ehm, kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Aku akan memberimu waktu."

Jaejoong hanya mengedipkan kedua matanya merespon ucapan Yunho. Sementara Yunho mematung melihat ekspresi Jaejoong ketika mengedipkan mata tadi.

'Imut.' Batin Yunho.

Jaejoong membungkukkan badan sekilas ke arah Yunho sebelum berbalik memasuki apartemennya. Sementara Yunho menghela nafas pelan dan berjalan menjauhi apartemen Jaejoong.

End Author POV

.

Jaejoong POV

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur berlapis seprei warna hitam dan bercorak Hello Kitty. Masih terngiang kata-kata Yunho hyung ketika menyatakan perasaannya tadi. Aku menghela nafas pelan.

"AAARRRGH!" aku terduduk kesal dan mengacak rambutku frustasi.

"Aku bisa gila! Aaaaaaaa!" aku berteriak dan membenamkan wajahku di bantal berbentuk Hello Kitty. Aku menggerung keras.

Setelah sedikit tenang, aku mengambil ponselku dan menghubungi Yoochun hyung.

/Yoboseyo…/ Akhirnya setelah sekian lama aku mendengar suara serak Yoochun hyung.

/Hyuuuuuunnnng…./ Segera saja aku berteriak.

/Yak! Apa kau mau membuat telingaku tuli. Tidak perlu berteriak seperti itu. Ada apa?/ Terdengar nada kesal Yoochun hyung di sebelah sana.

/Hyung…/ Lirihku.

/Apa?/

/Hyung…/ Aku menggigit bibir bawahku.

/Aish, cepat bicara Kim Jaejoong! Atau kututup teleponnya!/ Yoochun hyung sedikit berteriak.

/Yunho hyung menyatakan perasaannya padaku…/ Aku menghela nafas setelah mengatakan itu.

/Oh, bagus- APA?!/

/Hyung! Jangan berteriak! Ish!/ Balasku sambil mengusap pelan telinga kananku yang terasa berdengung.

/Mian. Maksudmu, menyatakan cinta padamu begitu?/

/Huum./ Aku mengangguk-angguk meski aku yakin Yoochun hyung tidak akan melihat anggukan kepalaku.

/Hah…/ Terdengar Yoochun hyung menghela nafas di seberang sana.

/Hyung, apa yang harus kulakukan?/ Tanyaku frustasi.

/Apa?/

/Aish, aku serius hyung. Apa yang harus aku lakukan terhadap Yunho hyung?/

/Ya sudah, jawab saja pernyataannya. Selesai kan?/

/Kau menyuruhku untuk menerima perasaan Yunho hyung, begitu? Aigo~~~/

/Lantas? Aaarrrgh, Kim Jaejoong, kau mengganggu istirahatku!/ kudengar Yoochun hyung mengerang keras di sana.

/Kau kan yang memberi ide padaku supaya menyamar. Jadi kau juga harus bertanggung jawab!/ Sahutku ketus.

/Ne, ne. Mian, mian. Lantas kau mau aku bagaimana?/ Terdengar nada penyesalan dari Yoochun hyung.

/Beri aku solusi!/

/Bukankah sudah kukatakan tadi?/

/Itu bukan solusi hyung. Tapi penjerumusan!/ Erangku putus asa.

/Hah. Baiklah. Kau kan tinggal mengatakan padanya kau menolak perasaannya dan mengakulah padanya kalau kau laki-laki./ Sahut Yoochun hyung di seberang sana.

Ugh. Aku menahan nafas kesal mendengar jawaban Yoochun hyung. Aku harus mengaku kepada Yunho hyung bahwa aku laki-laki?

Disatu sisi aku membenarkan pernyataan Yoochun hyung. Tapi di sisi lain, aku merasa sedikit tidak rela. Bagaimana nasibku nanti kalau Yunho hyung tahu aku adalah laki-laki? Apa aku masih bisa tinggal di apartemen ini? Apa aku masih hidup? Aku menelan ludah memikirkan hal itu.

/Jaejoong-ah…/

/…/

/Kim Jaejoong…/

/…/

/Kim Jaemin!/

/Ne, hyung./ Aku tersetak mendengar Yoochun hyung berteriak di seberang sana.

/Ck. Bahkan kau mulai menikmati hidupmu sebagai Jaemin./

/Ap..Apa?/ Aku yang belum 100% kembali ke alam sadar tergagap.

/Sudahlah lupakan. Yak, cepatlah katakan kepada Yunho bahwa kau laki-laki. Jadi kau tidak perlu repot-repot memikirkan perasaannya dan menolaknya. Arraseo? Aku ingin tidur. Bye./

Aku menjauhkan telepon dari telinga kananku ketika Yoochun hyung selesai berbicara. Aku menghela nafas pelan.

Apakah harus? Haruskah aku mengatakan kepada Yunho hyung bahwa aku laki-laki? Molla, aku pusing memikirkannya. Hingga tanpa sadar kedua mataku menutup karena terlalu lelah.

End Jaejoong POV

.

Author POV

3 hari berlalu sejak insiden Yunho menyatakan perasannya kepada Jaejoong, yang tentu saja saat itu tampil dalam sosok Jaemin. Sudah sejak 3 hari itu pula Yunho berusaha menemui Jaejoong. Tapi sejak 3 hari itu pula Jaejoong selalu menghindar dari Yunho.

Ketika mereka berpapasan, Jaejoong pasti lari terbirit-birit terlebih dahulu sebelum Yunho sempat menyapanya. Jika mereka tidak sengaja bertemu di kedai makan dekat apartemen, Jaejoong pasti hanya membungkuk dan setelahnya akan lari. Jika Yunho datang ke apartemen Jaejoong maka Jaejoong akan beralasan sibuk dan sebagainya untuk menolak kedatangan Yunho.

Yunho merasa kesal dan frustasi terhadap tingkah Jaejoong. Ia tahu Jaejoong –Jaemin- masih syok ketika mengetahui perasaan Yunho padanya, tapi tidak perlu sampai menghindar begitu.

Karena Yunho sudah menderita depresi tingkat akut menghadapi Jaejoong, akhirnya ia memilih menghubungi Yoochun.

End Author POV

.

Yoochun POV

Kulangkahkan kakiku menuju Bolero, tempat dimana Yunho sudah menunggu ketika kami membuat janji tadi. Sesampainya di Bolero, aku melihatnya tengah memandang ke arah jendela dengan pandangan kosong. Ck, tukang melamun.

"Hai." Sapaku ketika sudah sampai di depannya.

"Oh, hai." Ia mendongakkan wajahnya dan balas menatap wajahku.

"Ada apa?" tanyaku to the point.

Aku sedikit khawatir melihat keadannya yang bisa dikatakan kurang baik. Ada raut gelisah di wajah tampannya.

"Awalnya aku merasa marah padamu." Ucapnya tiba-tiba. Aku mengerutkan dahi mendegar pernyataannya. Marah? Padaku? Kenapa?

"Tapi aku merasa harus berterima kasih padamu." Lanjutnya. Aku semakin tidak paham dengan arah pembicaraannya.

"Dan kini aku bermaksud meminta bantuanmu."

"Yak! Sebenarnya apa yang tengah kau bicarakan?" aku menatapYunho kesal.

"Aku jatuh cinta, Chun-ah. Pada dongsaengmu."

"Huh?"

"Jaemin. Kim Jaemin. Aku jatuh cinta padanya. Dan aku sudah menyatakan perasaanku padanya." Terang Yunho panjang lebar.

"O—Oh. Jaemin." Aku berucap gugup. "Jadi kau kesini hanya untuk pamer padaku bahwa kau sudah berhasil menyatakan cinta padanya begitu, ck?" aku mengubah intonasi bicaraku agar terlihat biasa saja di depan Yunho.

"Bukan. Sudah 3 hari yang lalu aku menyatakan perasaanku padanya. Tapi semenjak itu pula Jaemin tak kunjung memberikan kepastian. Aku dibuat bingung olehnya, Yoochun-ah." Ujarnya memelas.

"Uhm, mungkin Jaemin membutuhkan waktu. Bersabarlah." Ucapku berusaha memberi semangat. Padahal jantungku tengah berdebar kencang.

"Aku bahkan sudah bilang bahwa ia tidak perlu terlalu memikirkan pernyataanku, karena aku pasti menunggunya. Tapi ia justru selalu menghindariku. Ugh…" keluh Yunho frustasi.

Aku menggaruk tengkukku yang tidak terasa gatal. Aish, jadi bocah nakal itu belum juga membuka jati dirinya di depan Yunho.

"Aku harus bagaimana, Yoochun-ah?" Yunho semakin terlihat frustasi.

"Sabar, Yunho-ah. Tunggulah ia sebentar lagi. Mungkin Jaemin sedang mempertimbangkan matang-matang perasaanmu." Ucapku seraya mengusap lengan Yunho perlahan dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku di bawah meja tengah meremas gemas ponselku. Kim Jaejoong! Aish!

End Yoochun POV

.

Author POV

At Jaejoong's school

Jaejoong menaruh kepalanya di atas dua lengannya yang bertumpu di atas meja. Ah, sudah 3 hari ini ia selalu mengacuhkan Yunho. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya. Ia ingin sekali mengatakan pada Yunho bahwa dirinya laki-laki. Ia juga ingin minta maaf pada Yunho tentang sikapnya 3 hari ini. Tapi di sisi lain, ada perasaan tidak rela ketika Yunho nantinya mengetahui bahwa dia laki-laki dan juga, ia tidak tega menyakiti Yunho yang sudah begitu baik padanya selama ini. Jaejoong mengacak rambutnya frustasi.

Kim Junsu, teman sekelas Jaejoong melihat ke arah Jaejoong dengan tatapan khawatir. Pasalnya sejak pagi tadi Jaejoong terus-menerus mengacak-acak rambutnya sendiri. Dan itu membuat Jaejoong terlihat mengerikan. Junsu menelan salivanya sebelum memberanikan diri berbicara dengan Jaejoong.

"Uhm, Jae—Jaejoongie. Kau baik-baik saja?" Tanya Junsu pelan seraya menyentuh pundak Jaejoong.

Jaejoong yang merasa namanya dipanggil segera menoleh ke arah Junsu dan menganggukkan kepalanya. Junsu menedesah lega.

"Kau tidak mau pulang? Sekolah sudah berakhir sejak 25 menit yang lalu." Imbuh Junsu.

Jaejoong sedikit tercengang mendengar perkataan Junsu. Sudah selama itukah ia bergelut dengan batinnya sendiri?

"Ah, ne. Aku baru saja mau pulang. Apa kau menungguku, Junsu-ah?" Tanya Jaejoong sembari merapikan buku-bukunya. "

"Ahaha, aku hanya khawatir padamu. Jadi aku tidak tega membiarkanmu pulang sendiri. Ayo pulang!" Ucap Junsu riang. Jaejoong hanya menjawab dengan cengiran khasnya.

Baru dua langkah meninggalkan kelas, ponsel Jaejoong bergetar pelan, menandakan ada pesan masuk. Terpaksa Jaejoong menghentikan langkahnya, dan Junsu mau tidak mau harus mengikutinya.

From : Yoochun Hyung

Yak! Bocah nakal! Kenapa kau tidak segera memberi tahu pada Yunho kalau kau adalah laki-laki, hah? Aigooo~~~

Baru saja Jaejoong akan memasukkan ponselnya ke dalam saku ketika benda itu kembali bergetar. Kali ini menandakan panggilan masuk.

/Yobo-/

/Yak! Cepat jelaskan pada Yunho kalau kau adalah laki-laki! Jangan membuatnya frustasi karena menunggumu!/ Belum selesai Jaejoong bicara Yoochun sudah terlebih dulu memotong kata-katanya.

/Aish, tidak usah berteriak begitu, hyung! Aku mendengarnya!/ Rutuk Jaejoong kesal.

/Bagus. Sebenarnya apa yang membuatmu begitu lelet untuk mengaku pada Yunho, eoh?/

/Aish, kau punya hati tidak hyung? Tentu saja aku bingung bagaimana harus mengatakannya. Yunho hyung sudah begitu baik padaku selama ini. Sulit bagiku untuk mengatakan itu, hyung./ Jaejoong berkata sembari sekilas melirik Junsu yang masih menatapnya dengan senyum seolah-olah berkata 'tidak apa-apa, aku akan menunggumu'.

/Aigooo~ Apanya yang sulit? Tinggal katakan saja,"Yunho hyung, aku laki-laki. Jadi maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu." Begitu. Apa susahnya?/

/Tentu saja susah hyung./ Gerung Jaejoong.

/Atau jangan-jangan, kau memang menyukai Yunho ya?/ Tanya Yoochun penuh selidik. Jaejoong terkejut mendengar ucapan Yoochun barusan. Tiba-tiba dadanya berdebar halus.

/A—apa? Enak saja bicara. Mana mungkin aku menyukai Yunho hyung?/ Sanggah Jaejoong gugup. Wajahnya tiba-tiba memerah.

/Kekeke. Lalu kenapa kau gugup begitu?/ Yoochun terkekeh kecil.

/Siapa yang gugup? Tentu saja tidak. Kau bicara apa, hyung! Aku dan Yunho hyung sama-sama laki-laki. Aku tidak mungkin seperti itu./ gerutu Jaejoong. Ah, Jaejoong merasa panas di sekitar pipinya.

/Itu kau sudah tahu. Kalau begitu segera katakan padanya. Jangan membuatnya makin menderita. Kau mengerti?/ Yoochun berucap tegas.

/Ne./ Sahut Jaejoong patuh.

/Baguslah. Bye./

Jaejoong mengerucutkan bibirnya selesai menerima telepon dari Yoochun. Dia menepuk pelan kedua pipinya yang masih terasa panas dan segera menghampiri Junsu. Meminta maaf padanya karena telah menunggu lama.

.

.

Yunho berjalan pelan menuju lift. Ia ingin segera sampai ke apartemennya dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Namun ia menghentikan langkahnya di depan lift ketika dilihatnya sosok 'Jaemin' tengah berdiri tertunduk di dalam lift.

Jaejoong yang merasa di pandangi segera mengangkat wajahnya dan terkejut mendapati Yunho tengah berdiri di hadapannya kini. Tanpa banyak bicara Yunho masuk ke dalam lift dan berdiri di samping Jaejoong.

Suasana di dalam lift terasa canggung. Berkali-kali Yunho melirik ke arah Jaejoong, begitu pula sebaliknya. Tapi tidak ada satu pun diantara mereka yang berani membuka percakapan.

End Author POV

.

Yunho POV

Aish, apa yang harus kulakukan sekarang? Ada Jaemin di sampingku. Ada sedikit perasaan senang karena aku bisa melihatnya, tapi aku merasa sedih karena ia mendiamkan aku dan juga masih menggantung nasibku. Oh God, apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak tahan!

"Jaemin-ah." Aku memanggil seraya memegang lengannya dan membuat tubuhnya menghadap ke arahku.

End Yunho POV

.

Author POV

'Jaemin-ah." Jaejoong mendengar Yunho memanggilnya dan sedetik kemudian ia sudah berhadap-hadapan dengan Yunho. Terlihat raut khawatir di wajah Jejoong, dan ah, jangan lupakan semburat merah yang muncul di pipi Jaejoong.

"Kau, kenapa kau menghindariku selama 3 hari ini?" Tanya Yunho lembut tapi tangan kirinya mencengkeram lengan kanan Jaejoong. Jaejoong menundukkan wajahnya ketika di tatap oleh Yunho.

"Mian." Hanya jawaban ini yang keluar dari mulut Jaejoong.

"Apa kau menolakku? Apa kau membenciku?" Tanya Yunho. "Jawab aku, Jaemin-ah." Tegas Yunho seraya mengguncang Jaejoong pelan. Jaejoong menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Yunho. Jaejoong sama sekali tidak membenci Yunho. Ia justru sangat berterima kasih kepada Yunho karena laki-laki ini sudah terlalu baik padanya.

"Lantas, apa yang membuatmu begini?" Tanya Yunho lembut. Sementara Jaejoong hanya menggigit bibir bawahnya seraya menundukkan kepalanya lebih dalam. Perasaan takut dan bersalah muncul begitu saja.

"Jae..." Yunho memanggil dengan nada lembut. Sementara Jaejoong tidak bergeming.

"Jae…" Yunho memanggil Jaejoong lagi. Akhirnya Jaejoong memberanikan diri menatap Yunho. Seketika itu, Jaejoong merasa wajahnya memanas.

"Apa kau melihat kebohongan ketika aku mengatakan aku menyukaimu?" Tanya Yunho. Jaejoong menggeleng pelan.

"Apa kau membenciku?" Tanya Yunho lagi. Kembali Jaejoong menggeleng pelan.

"Lantas, apa yang membuatmu risau, hem?" Jaejoong kembali menunduk mendengar pertanyaan Yunho.

"Jaemin-ah, aku menyukaimu." Yunho berucap dengan sangat lembut membuat Jaejoong mau tidak mau menatap Yunho.

Jaejoong terhenyak melihat tatapan Yunho kepadanya. Tatapan itu begitu lembut dan meneduhkan. Membuatnya nyaman dan gelisah disaat yang bersamaan. Rasa bersalah dan tidak tega menghantui Jaejoong. Tapi Jaejoong tidak dapat berpikir jernih sekarang. Tatapan Yunho terlalu menghanyutkan. Jantung Jaejoong bedebar kencang. Hingga tanpa sadar…

CUP

End Author POV

.

Jaejoong POV

Aku terhanyut dalam tatapan lembut Yunho hyung. Aku merasa nyaman ketika memandang kedua matanya. Perutku terasa geli dan wajahku terasa memanas.

'Tampan'. Baru kali ini aku melihat Yunho hyung dalam jarak sedekat ini. Dan ku akui wajahnya begitu tampan.

'Tidak! Aku tidak boleh berpikir seperti itu! Aku juga tidak kalah tampan.'

Kulihat wajah Yunho hyung semakin mendekat ke arahku.

'Apa? Apa yang akan Yunho hyung lakukan?'

Jantungku berdebar menanti apa yang akan Yunho hyung lakukan.

'Andwae! Jangan mendekat!'

Hingga sedetik kemudian aku menutup kedua mataku ketika Yunho hyung mencium keningku penuh kelembutan.

'Tidak! harusnya aku tidak boleh begini. Dasar bodoh, kenapa aku malah menutup kedua mataku? Harusnya aku mengatakan pada Yunho hyung kalau aku laki-laki.'

Tapi aku merasa tubuhku lemas dan ingin pingsan. Ribuan kupu-kupu seperti terbang di dalam perutku.

Yunho hyung, mungkinkah aku?

'Andwae!'

End Jaejoong POV

.

Author POV

Yoochun mengerang ketika tidur siangnya diganggu. Diraihnya ponsel yang tergeletak di samping bantal. Ada pesan masuk.

From: Yunho

Chuuuuunn, Jaemin menerima cintaku ^^

Yoochun mengernyitkan dahinya heran. Jaemin? Menerima Yunho? Bukankah? Oh-oh, sepertinya ada yang tidak beres disini. Yoochun baru akan mendiall nomor ponsel jaejoong ketika sebuah pesan kembali masuk.

From: Jaejoong

Hyung~~ aku baru saja menerima perasaan Yunho hyung. Aku terhanyut oleh tatapan Yunho hyung dan tanpa sadar menerima perasaannya. Apa yang harus kulakukan? T_T

"MWO?!" Yoochun berteriak keras seraya terduduk di atas kasurnya. Kantuknya hilang entah kemana.

Semenjak Jaejoong –Jaemin- membalas perasaan Yunho, Yunho merasa harinya penuh dengan warna. Wajahnya selalu diliputi rona kebahagiaan.

Berbeda dengan Yunho, Jaejoong justru semakin merasa bersalah. Jaejoong merasa telah berbohong kepada Yunho. berbohong tentang perasaannya dan berbohong tentang identitasnya. Tapi Jaejoong juga tidak bisa mengelak ketika hatinya mulai merasa nyaman dengan kehadiran Yunho di sampingnya.

"Huft." Jaejoong menghela nafas pelan.

"Kau kenapa, Jae-ah? Apa kau tidak suka berjalan-jalan denganku?" Tanya Yunho. Suaranya terdengar khawatir. Jaejoong menelan salivanya gugup ketika Yunho menatapnya.

"Ah, tidak. Aku suka. Sangat suka." Jawab Jaejoong seraya memasang senyum manisnya.

'Dasar Kim Jaejoong bodoh!' umpat Jaejoong dalam hati.

Yunho yang melihat senyum manis Jaejoong juga ikut memasang senyum manisnya. Perlahan ia menggenggam tangan Jaejoong dan membawanya duduk di bangku yang berada di sudut taman. Jaejoong terhenyak dengan perlakuan Yunho, tapi ia diam saja.

'Apa yang Yunho hyung lakukan? Dan kenapa dengan jantungku? Kim Jaejoong, berhenti berpikir yang tidak-tidak!' rutuk Jaejoong dalam hati sambil memandang ke arah tangannya yang berada dalam genggaman Yunho. tangan kiri Jaejoong yang bebas memukul-mukul pelan kepalanya.

Yunho dan Jaejoong duduk dengan tangan yang tetap saling menggengam dan memandangi anak-anak yang tengah berlarian di sekitar mereka. Sesekali mereka tertawa melihat tingkah polah anak-anak itu.

Tiba-tiba Yunho mengeratkan genggaman tangan mereka, membuat Jaejoong menoleh dan merasakan tatapan lembut Yunho menghujam dirinya.

'Ada apa dengan jantungku? Apa dia kambuh lagi? Kenapa detakannya kencang seklai?' batin Jaejoong dengan wajah tegang.

Yunho tersenyum melihat wajah tegang Jaejoong dan kembali mengendurkan genggamannya.

'Ada apa dengan Yunho hyung? Kenapa dia senang sekali pamer gigi? Kumohon hyung! Berhentilah tersenyum seperti itu.' Jaejoong kembali membatin menyadari jantungnya yang masih berdetak kencang.

"Jaemin-ah…" Yunho berucap pelan.

'Tidak. Ku mohon jangan. Jangan bicara apapun. Aku sudah tidak sanggup. Berhenti membuatku berdebar.' Jaejoong menggigit bibir bawahnya gelisah. Sepertinya Jaejoong tahu arah bicara Yunho.

"Saranghae…" Yunho mengatakannya dengan lembut dan mengeratkan genggaman tangannya di tangan Jaejoong.

'Cukup!'

Jaejoong berdiri secara tiba-tiba dan membuat genggaman tangan mereka terlepas. Tubuhnya menegang dan semburat merah terlihat menghiasi kedua pipinya. Wajahnya syok dan mulutnya membulat. Namun kedua matanya terlihat berkaca-kaca.

"Mianhae…" ucap Jaejoong lirih. Setelah itu Jaejoong berbalik memunggungi Yunho dan berlari meninggalkan taman.

Sementara Yunho berdiri dari duduknya dan mematung, menatap kaget Jaejoong yang tiba-tiba berlari menjauh darinya.

End Author POV

TBC

Makasih buat yang udah baca.. ^^

Maaf kalau ceritanya makin gaje dan mengecewakan…