DISCLAIMER:

Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing (Dharmaputra Winehsuka oleh Alex Irzaqi, Puella Magi Madoka Magica oleh SHAFT/Gen Urobuchi, dan sebagainya), kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.


Malam membungkus kutaraja Majapahit. Sedikit sekali yang masih terjaga di tengah malam buta itu, namun ada dua orang yang sedang menilik keadaan. Keduanya bersandar di sebuah pohon besar di sekitar alun-alun.

"Pukulun, Mbehi," ujar salah satu pria berparas tampan itu. Tak seperti penduduk sekitar, bola mata sang pria berwarna merah terang.

"Pukulun, Kubehi," balas pria yang diajak bicara sambil tersenyum tipis. Bola mata sang pria kedua ini sama dengan pria pertama, hanya saja tubuhnya sedikit lebih gempal dan berotot.

"Apakah kau sudah mempelajari tanah ini?" ujar orang pertama yang angkat bicara, Kubehi. "Mulai saat ini kau ditugaskan untuk memanen di sini."

"Tanah ini cukup kaya," balas Mbehi tanpa mengubah ekspresinya. "Namun aku tak yakin bisa memanennya dengan efektif. Aku perlu menerapkan cara yang lain dari biasanya."

"Untuk itulah kau ditugaskan di sini. Pusat menilai kemampuanmu untuk menerapkan cara-cara alternatif mungkin berguna di sini," ujar Kubehi datar.

"Semoga saja Pusat bisa menghargai kerjaku di sini," balas Mbehi sambil beranjak pergi.

Hanya dinginnya malam yang menjadi saksi mereka.


Pertempuran Sang Rakryan

Laga 1: Angkara Mahapati


Jayanegara adalah seorang raja yang selalu khawatir. Ia sendiri merasa kalau kekuasaannya tidaklah sebesar yang ia harapkan. Sang ayah, Dyah Sanggramawijaya, telah berusaha meletakkan dasar-dasar pemerintahan yang kokoh agar sang putra mahkota dapat memerintah dengan lebih mudah… tapi apa daya sang raja terdahulu diterpa angin zaman? Ranggalawe dan Lembusora memberontak, bahkan sebelum Sri Sanggramawijaya sendiri mangkat. Pilar pemerintahan dan sekutu yang diharapkan, yaitu Mahapatih Nambi dan Arya Wiraraja dari Lumajang, baru saja memberontak secara serentak dan membuat kekuatan serdadu kerajaan menjadi cacat. Bahkan Rakryan Semi dari Lasem pun ikut turun gelanggang menambah kekeruhan, kematiannya membawa serta tak terhitung jumlah serdadu dan senapati Majapahit yang setia. Andalan sang prabu sekarang tinggal Senapati Jabung Trewes yang berjasa memadamkan pemberontakan Nambi, Mahapatih Dyah Halayudha yang sedang waspada dengan seluruh pergerakan massa di seantero Majapahit, serta sepupu jauh sang prabu sendiri Dyah Adityawarman yang telah matang ditempa medan politik di tanah asalnya Swarnadwipa.

Tapi itu tidaklah cukup buat seorang Jayanegara. Ada banyak sekali ancaman terhadap kedaulatan Majapahit di bawah kekuasaannya. Halayudha memprakirakan bahwa Madura akan segera berontak menyusul raibnya Arya Wiraraja. Adityawarman sudah meminta beberapa kali untuk dikirim berunding dengan orang-orang Cina Daratan dan Campa untuk memperkuat kedudukan Majapahit di Swarnadwipa dari rongrongan para bangsawan dan panglima Malayu yang mulai saling bertikai berebut kuasa. Belum lagi enam orang Dharmaputra yang entah bakal mengikuti jejak Ra Semi untuk berontak atau tidak.

Perkara dengan Dharmaputra ini juga yang membuat kepala sang prabu pusing tujuh keliling. Ia takut janda Ra Semi, Nyi Ranum, menuntut balas padanya lalu keenam sedulur sinirowedi[1] suaminya ikut membela. Bisa rontok seluruh tentaraku dilabrak kekuatan enam orang pendekar digdaya seperti Dharmaputra itu, pikir sang prabu. Apalagi menurut desas-desus yang sempat ditangkap Halayudha, bahkan para istri keenam Bhayangkari itu pun kekuatannya tak boleh diremehkan. Istri Ra Tanca yang bernama Nyi Sewera misalnya, terkenal sangat ahli dalam meracik obat. Tentunya mudah bagi dia membuat racun tanpa penawar, pikir sang prabu. Belum lagi garwa ampil[2] sang rakryan, Nyi Tamam, konon katanya punya kesaktian bisa memanggil siluman. Nyi Medang istri Ra Banyak isunya bisa bicara dengan binatang dan menghilang begitu matahari tenggelam. Baru-baru ini Ra Yuyu, anggota Dharmaputra terakhir yang masih lajang, malah sudah melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis Cina bernama Hongmeling, dan kabarnya gadis ini juga seorang pendekar yang tak boleh diremehkan begitu saja kekuatannya. Itu semua belum memperhitungkan dekatnya mereka dengan tampuk kekuasaan. Sang prabu tidak bisa begitu saja menggusur kediaman itu; sang ayah sudah menetapkan bahwa padepokan (yang sekarang sudah meluas itu) itu adalah kediaman resmi para Dharmaputra. Bisa kualat aku kalau melanggar putusan Ayah tanpa alasan kuat, pikir sang prabu gundah.

"Andai saja aku punya kekuatan… kekuatan yang tiada tara…" desah sang raja bertubuh tak terlalu semampai itu sambil mendengus ke luar jendela kamar tidurnya.

Tiba-tiba sang prabu melihat sesuatu berkelebat di taman istana. Sejenak ia berhenti di bawah sebuah pohon, dan sang prabu pun melihat dengan jelas wujud sang penyelundup. Sang penyelundup adalah seorang lelaki tampan yang nampaknya umurnya tak lebih dari dua puluh lima kemarau, mengenakan celana putih selutut dengan sanggulan yang diikat kain putih pula. Gerak-geriknya sangat waspada dan senyap, dan bukan tidak mungkin kalau sang penyelundup tidak akan ketahuan kalau saja sang prabu tidak sedang merasa gerah dengan situasi mutakhir dan membuka jendela kamarnya.

"Hei penyelundup! Mau apa kamu di sini!" teriak Jayanegara sambil mencabut Ki Warang, sebuah keris pusaka warisan dari sang ayah yang selalu dibawanya. "Pengawal! Pengawal!"

Sang penyelundup kaget, dan seketika berlari setelah menoleh sekali ke arah sumber suara. Para pengawal segera berhamburan menuju sumber suara dan mengamankan sang paduka, namun sang penyelundup lenyap tanpa bekas. Sang prabu sedikit kecewa, namun juga sedikit lega karena ia jadi punya kartu andalan untuk menekan para Dharmaputra.

Keesokan paginya, gemparlah seisi istana karena ada penyusup yang sudah sampai begitu dekat dengan kamar raja. Mahapatih Halayudha, Dyah Adityawarman, para Dharmaputra, dan beberapa mantri kenegaraan segera dipanggil ke bale agung.

"Apa-apaan kalian ini?" seru Jayanegara dari atas singgasananya, geram. "Kalian biarkan penyelundup masuk istana hingga ke depan kamarku? Kalian berencana makar, hah?"

"Ampun paduka prabu, tidak terpikirkan sedikitpun di kepala kami berenam untuk melaksanakan makar terhadap paduka," Ra Kuti pertama kali angkat bicara sepuluh detik setelah sang prabu selesai bicara. "Pangsa dan Banyak yang sedang berjaga pada saat itu segera bertindak mengamankan istana dan mencari si penyelundup, namun tidak ketemu."

"Alasan macam apa itu?" sang prabu balik menyerang, yakin dengan kartunya dan merasa diatas angin. "Kalian ini dipilih Ayah karena kalian itu yang terbaik diantara yang terbaik! Jangan bilang kalian melemah karena punya istri banyak!"

Tanca membisu, tahu betul bahwa statusnya yang mempunyai istri dua sedang diserang. Ia sudah merasa menjadi bahan pergunjingan Kutaraja sejak kedua istrinya memutuskan untuk membeli sebuah rumah tinggal di pinggir kota. Status mereka bertiga membuat masyarakat menjadi bertanya-tanya. Lazim memang seorang pembesar mengambil dua selir atau lebih, tapi jarang yang menjadikan istri-istri ini berkedudukan setara seperti Ra Tanca. Beberapa mantri kerajaan bahkan menudingnya ingin meniru gaya hidup Sri Sanggramawijaya yang memang memiliki lima istri yang kurang-lebih sama kedudukannya.

Hal ini kabarnya membuat bahkan Prabu Jayanegara yang masih belum mengangkat permaisuri gerah.

"Kami tidak melunak sedikit pun oleh hidup berumahtangga, paduka," balas Kuti membela orang yang sudah seperti adik lelakinya itu. "Tapi memang kelengahan kami yang membuat nyawa paduka terancam."

"Baguslah kalau rakryan semua menyadari kesalahan," Halayudha angkat bicara membela prabunya. "Begini saja prabu, bagaimana kalau giliran kerja para Dharmaputra ini ditambah supaya pengamanan istana juga semakin ketat? Mulai sekarang harus ada tiga orang Dharmaputra yang menjaga istana. Bagaimana penetapannya biar menurut rundingannya Ra Kuti dengan Dharmaputra yang lain."

"Nah bagus itu, aku setuju," Jayanegara mengiyakan. "Kuti! Kau harus sudah menjalankan aturan baru ini dalam dua hari. Sanggup?"

"Sanggup, paduka," balas Kuti sambil menunduk.

"Ampun paduka, namun kiranya seperti apa rupa penyelundup yang sedang dicari-cari ini?" Adityawarman angkat bicara. "Apa ada tanda-tanda khusus yang bisa memudahkannya untuk dilacak? Bekas luka atau ciri di badan, mungkin?"

"Betul juga," gumam sang prabu sambil mengelus dagu. "Yang kuingat cuma warna kulit dan pakaiannya. Pakaiannya semua putih, dan warna kulitnya agak pucat."

"Saya mohon paduka, mahapatih, dan Dyah Adityawarman jangan terburu-buru mengumumkan pencarian orang," imbuh Kuti hati-hati. "Ciri-ciri orang ini cukup umum di masyarakat. Mengumumkan pencarian besar-besaran bisa membuat masyarakat menjadi gelisah dan memakan korban salah tangkap yang tidak perlu."

"Kau punya saran untuk menanggulangi masalah itu, Kuti?" tanya Jayanegara agak sinis.

"Dengan pengamanan yang lebih kuat seperti yang Mahapatih Halayudha anjurkan, tentunya si bromocorah ini pasti akan tertangkap atau paling tidak bisa kami lihat wujudnya," ujar Kuti sambil menarik nafas lega. "Saat itu, kami harusnya bisa melukiskannya dengan tepat dan tidak akan salah tangkap."

"Sebaiknya rencana itu berhasil," ancam Jayanegara sambil mendengus.

"Saya kira anjuran Ra Kuti ada benarnya, Prabu," Adityawarman mendukung anjuran Kuti. "Kita tidak boleh gegabah. Ini bisa memberi kesempatan orang yang betul-betul merencanakan makar untuk bergerak."

"Apa katamu lah, Adityawarman," balas sang raja sambil memandang tajam ke arah Tanca.



"Ah… hari yang berat…" desah Tanca sambil merebahkan diri ke kursi ruang tamu rumah yang dihuninya bersama Severa dan Tamamo selama beberapa tahun belakangan ini.

"Seduhannya kanda," sambut Tamamo sambil meletakkan satu set poci teh tanah liat di meja tamu. "Aku mencoba membuat kukicha[3] sendiri dari batang teh yang kutanam di bukit. Bagaimana jadinya pertemuan dengan Paduka Jayanegara?"

"Paduka nampaknya menyalahkan kami atas bobolnya pertahanan istana tadi pagi..." jelas Tanca sambil menuangkan teh ke dalam gelasnya sendiri. "Kakang Kuti segera mengatur pembagian tugas yang baru. Sekarang akan ada tiga Dharmaputra yang akan bertugas mengamankan keraton, tidak seperti sebelumnya yang dua orang. Hmm, rasa seduhan ini agak berbeda ya."

"Raja itu semakin paranoid saja. Kemarin salah bunuh, sekarang malah menyalahkan orang karena kesalahan pengawal-pengawal yang tak ada sangkut-pautnya. Baka," gerutu Severa sambil menghidangkan senampan jajanan. "Aku mencoba masak klepon, jadi kucoba beberapa bahan..."

"Enaaaak~" seru Tamamo setelah merasakan sebuah. "Rasanya seperti umeboshi[4], tapi agak keras..."

"Nghrk-" gerutu Tanca sambil memaksa dirinya menelan segigitan jajanan buatan istri baratnya itu. "Dinda... apa yang kamu masukkan ke dalam sini...?"

"Baru dua macam sih~" ujar Severa sambil tersenyum. "Salah satunya biji warna coklat itu... kupikir isi yang gurih rasanya bakalan enak dengan tepung manis..."

"Itu namanya asem jawa, dinda," ujar Tanca sambil 'mencuci' lidahnya dengan kukicha hangat. "Isinya klepon kan harus gula merah biar manis. Asem jawa itu buat bikin sayur..."

"Enak kok sayang," bela Tamamo sambil memeluk Severa dari belakang. "Udah, dia jangan digubris. Kita kawin lari aja."

"Masih ada isi yang lainnya kok..." gumam Severa agak kecewa.

"Hmm, yang ini enak," komentar Tanca sambil menelan sebuah. "Manis, tapi agak pedas seperti merica. Cocok dengan rasa manis gula aren."

"Itu daun mint," air muka Severa kembali cerah. "Ternyata tumbuhan ini gampang lho tumbuhnya di sini. Kami penyihir biasanya membuatnya menjadi mintcakes."

"Apa itu semacam obat, dinda?" tanya Tanca sambil mengambil sebutir klepon lagi, berdoa pada dewata kalau isinya bukan asem jawa lagi. Doanya terjawab, dan sang lelaki beristri dua menghela nafas lega.

"Bukan, itu semacam kudapan, dibuat dari gula leleh dan daun mint yang dirajang," ujar sang istri sambil membawa sebuah pot kecil yang penuh tumbuhan mint dari teras. "Kadang kami memasukkannya ke minuman juga. Paling bagus jika segar."

"Mana mana? Coba~" ujar Tamamo sambil bersiap menuangkan kukicha-nya yang masih hangat ke dalam cangkir yang sudah diberi daun-daun mint segar yang sudah dipetik dan disobek-sobek oleh Severa. Setelah terkumpul setumpuk kecil daun di dasar gelas, barulah Tamamo menuang teh yang masih hangat itu ke dalam gelas.

"Benar juga, rasanya segar," komentar Tanca setelah mencicipi teh baru itu. "Juga enak di tenggorokan. Nampaknya ini bisa jadi obat batuk berdahak, tinggal dikentalkan dan ditambah jeruk."

"Nhaaa~" desah Tamamo penuh kepuasan. "Kanda betul, rasanya padu sekali dengan rasa kukicha. Kita bikin obat batuknya yuk?"

"Besok ya dinda? Kebetulan besok aku libur..." ujar Tanca sambil mengacak rambut keemasan sang istri penuh kasih-sayang.


...


Sang prabu pun mengundurkan diri ke dalam kamarnya, lelah oleh urusan kenegaraan yang berat seharian tadi. Ki Warang, keris ageman sehari-hari itu ia taruh di sebuah meja, sementara ia melepaskan makuta kebesarannya untuk diletakkan di meja lain.

"Pukulun, Prabu Jayanegara," sebuah suara yang ringan, hampir separti nada gembira yang terus-menerus digunakan seseorang dalam percakapan. "Apakah kiranya prabu berkenan untuk membuat sebuah perjanjian dengan saya?"

"Siapa itu!?" seru Jayanegara sambil buru-buru mencabut Ki Warang yang masih berada di dalam jangkauan tangannya. "Apa kau datang untuk membunuhku?"

"Oh tentu tidak, prabu. Nama hamba Behi Mahapati," balas sang penyelundup yang telah duduk di sebuah kursi di seberang sang prabu. "Dan hamba bisa mengabulkan apapun satu permintaan prabu... asalkan prabu mau membuat perjanjian dengan saya."

"Dedemit macam apa kau ini?" balas sang prabu gusar untuk mengimbangi kekagetan dan ketakutannya. "Dan bagaimana kau bisa menyelinap ke sini tanpa ketahuan?"

"Orang biasa tidak bisa mengindera saya dengan cara apapun, prabu," balas Mahapati, ekspresi senyum tipisnya tidak berubah. "Berapapun pengawal dan senapati yang prabu panggil untuk mencari saya, mereka yang bukan kaum terpilih tak akan pernah bisa menangkap saya."

"DIAM!" teriak sang prabu sambil menusuk sang penyelundup dengan Ki Warang. Tubuh itu berkelojotan sejenak, sebelum tumbang ke lantai kamar. Tak ada setitik darah pun yang tumpah. Jayanegara pun melihat dalam kengerian saat tubuh Mahapati tampak larut menjadi sesuatu yang mirip bubur berwarna putih.

"Bila satu tubuh adalah harga yang harus saya bayar untuk meyakinkan prabu, maka itu harga yang murah," ujar suara Mahapati, yang muncul dari balik sebuah ceruk yang ada di samping lemari. Sang pemuda itu pun muncul dan membersihkan 'bubur' berwarna putih hasil dari hancurnya tubuh Mahapati yang pertama itu.

"Kamu... benar-benar bisa mengabulkan permintaan apa saja?" tanya sang prabu ragu.

"Ya, apapun permintaannya. Saya sarankan untuk memikirkan baik-baik sebelum meminta, prabu, karena saya hanya akan mengabulkan satu permintaan saja," ujar Mahapati ringan sembari menghilangkan sisa-sisa terakhir bubur putih tubuh lamanya itu. "Apakah besok waktu yang baik?"

"Te-... terserah kaulah," jawab Jayanegara lemas, terduduk ke kursi.

Sang prabu terdiam beberapa saat lamanya. Seorang dedemit yang entah bagaimana kuatnya menawarkannya satu permintaan... ditukar dengan sebuah perjanjian. Apa yang diinginkan sang dedemit itu? Apa sebenarnya yang diinginkannya? Mengapa aku? Ratusan pikiran dan ide berkelebat dalam benak sang prabu, tapi semuanya malah menimbulkan pertanyaan yang lebih besar.

...

"Adityawarman, aku ingin bertanya padamu," ujar Jayanegara pada sang sepupu. Mereka berdua sedang bersantap siang di sebuah pendopo istana saat itu.

"Silakan, paduka raja," balas Adityawarman hormat.

"Ah kamu ini. Kita kan masih sepupu jauh, rasanya aneh kalau kau masih menganggapku raja di saat-saat santai seperti ini," ujar sang raja sambil mengambil lauk ayam yang tersedia.

"Paduka kan masih bertugas di atas takhta, tidak pantas bagi saya sebagai penasihat bila hubungan keluarga kita ikut ambil bagian dalam urusan kenegaraan," balas Adityawarman setelah menelan nasi bersama lalap daun segar. "Jadi, pertanyaan apa yang hendak baginda ajukan?"

"Anggaplah... kamu sekarang hanya rakyat biasa. Suatu hari, seorang raja agung menawarkan padamu untuk menjadi salah satu raja bawahan di sepetak daerah petalukan miliknya yang luas... tetapi, untuk mendapatkan jabatan itu kamu harus menepati sebuah syarat yang akan dia tentukan kemudian. Apa yang akan kau lakukan, sepupuku?" tanya Jayanegara setelah menelan sepotong daging ayam.

"Pertanyaan yang agak sulit dijawab, paduka," balas Adityawarman sesudah minum seteguk air dari sebuah gelas gerabah. "Yang pasti saya akan waspada bahwa ini adalah sebuah jebakan belaka, dan mungkin juga saya sedang dipergunakan oleh sang raja agung untuk sebuah tujuan tersembunyi."

"Jadi kau akan menolaknya?" ujar Jayanegara penuh harap. Nampaknya memang itu jawaban yang paling tepat untuk tawaran Behi Mahapati semalam.

"Tidak, saya akan menerima tawaran sang raja agung itu," balas Adityawarman tenang, mengagetkan Jayanegara. "Siapa yang tahu bila memang sudah takdir Dewata bagi saya yang seorang rahayat biasa untuk menjadi bhre? Takdir adalah hak Dewata, siapa yang berani mempertanyakan? Lagipula, Dewata tidak akan menurunkan ujian lebih dari apa yang dapat ditanggung oleh hamba-hambaNya, jadi bila saya sebagai rahayat biasa mendadak menjadi raja pun, saya harus menerimanya dengan lapang dada."

"Kau memang penasihatku yang terpercaya, sepupuku," ujar Jayanegara sambil tersenyum, sebuah ekspresi yang dibalas sang sepupu dengan sebuah anggukan kecil pertanda hormat. Dalam hati, sang raja juga menarik nafas lega. Dengan begini, ia sudah punya jawaban untuk Mahapati yang akan datang nanti malam.

...

"Nkh! Menyebalkan..." geram Severa sambil mengulum jarinya sendiri yang teriris pisau saat merajang daun mint.

"Ada apa, dinda?" tanya Tanca yang kebetulan sedang memeras tebu untuk diambil sari gulanya. "Jarimu teriris? Kok tidak biasanya..."

"Memang..." gumam Severa sambil memperhatikan darah yang menitik dari jarinya itu. "Padahal aku sudah bertahun-tahun mengiris daun mint..."

"Mmmhh... bau di udara ini..." geram Tamamo sambil menggeretakkan gigi. "Busuk sekali... seperti bangkai."

"Mal aria[5]... eh?" timpal Severa sambil memandang ke arah pepohonan di belakang rumah mereka bertiga.

"Mungkin dinda berdua terlalu melebihkan kejadian alam yang sama sekali biasa. Tukang masak paling hebat sekalipun pasti sewaktu-waktu pernah kelebihan garam dalam masakannya, kejadian yang sama seperti yang dialami dinda Severa tadi," ujar Tanca sambil menyobek sedikit kain yang tadinya mereka jadikan saringan. "Mungkin dinda Tamamo kebetulan membaui tikus yang makan warangan lalu mati di tengah-tengah semak di belakang itu, siapa yang tahu?"

"Tidak pernah gagal dalam melihat mentari di ujung badai..." desah Severa sambil mengikat luka kecilnya dengan kain yang diberikan suaminya itu. "Khh, dasar squib. Bikin iri saja."

"Yaaa~ sesekali begitu juga boleh," ujar Tamamo sambil menggigit ujung telinga sang suami dengan lembut. "Sekarang saja ya, sayang? Bau mint ini... membuatku... panas..."

"HOOI! Dasar rubah bertanduk! Masih sore, juga!" seru Severa sambil memukul kepala suami dan istri pertama itu dengan sodet batok kelapa. "Lagipula, malam ini giliranku tau!"

"Ah... aheheheh..." gumam Tanca sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena dipukul sang istri muda.


...


Malam itu, sang baginda sekali lagi beranjak masuk ke dalam kamar pribadinya untuk beristirahat. Keris Ki Warang, ageman sehari-hari sang raja, diletakkan di atas meja samping tempat tidur. Makuta yang sehari-hari dipakainya pun sudah diletakkannya di tempatnya. Tapi, hari ini sedikit berbeda. Sang prabu telah bersiap diri.

"Pukulun, baginda prabu. Hamba, Behi Mahapati, datang menghadap."

Inilah yang ditunggu oleh sang prabu. Makhluk dedemit yang nampaknya tidak bisa mati itu, Behi Mahapati, kemarin menawarinya satu permintaan dan sekarang menanyakan kembali tawarannya.

"Aku sudah menyiapkan diri, Mahapati," ujar sang raja sambil menghadap ke arah Mahapati yang datang dari ceruk di balik lemari di pojok ruangan itu. "Penasihatku memberi petunjuk yang bagus."

"Buatlah keputusan yang bijaksana, tuanku," ujar Mahapati sambil duduk di sebuah kursi di seberang meja.

"Kalau begitu, aku... ingin rakyatku mencintai penguasanya. Sudah lama aku merasakan kebencian mereka. Sudah lama aku dianggap penguasa lemah yang tak bisa apa-apa. Aku ingin mereka mencintaiku, mendukungku yang penguasa mereka ini sepenuh hati," kata sang penguasa mantap.

"Baiklah. Sekarang syaratnya, paduka," ujar Mahapati sambil berdiri. "Adalah anda harus membasmi penyihir-penyihir jahat yang mengganggu keamanan dunia manusia ini. Paduka sanggup?"

"Tentu saja sanggup, itu mudah. Aku bisa menyuruh tentaraku menghancurkan mereka," jawab Jayanegara sambil tersenyum. "Balatentara Majapahit adalah yang terbaik di dunia ini..."

"Maaf, paduka," sela Mahapati dengan senyum tipisnya yang nampak tak berubah itu. "Seperti halnya hanya paduka yang dapat mencandra keberadaan saya, hanya paduka jualah yang bisa melihat para penyihir itu dan membedakannya dengan manusia biasa. Baginda tidak dapat mewakilkan tugas ini pada orang lain, kecuali baginda mempunyai sekelompok pasukan yang dapat melihat dan melukai mereka."

"Mahapati, aku kan harus menjalankan negara?" tanya sang penguasa Majapahit itu heran. "Bagaimana mungkin aku bisa membasmi mereka tanpa beranjak dari tampuk pemerintahan di Kutaraja ini?"

"Baginda jangan khawatir," imbuh Mahapati tenang. "Baginda akan saya bekali dengan aji-aji pamungkas untuk menumpas mereka, salah satunya bisa membuat badan kedua. Dengan begitu, paduka akan dapat menjalankan pemerintahan sekaligus membasmi penyihir."

"Baiklah kalau begitu, aku terima tawaranmu," tukas sang raja sambil berdiri.

"Terima kasih, paduka Jayanegara," balas Mahapati senang. Senyum tipisnya tidak juga hilang. "Maaf, ini akan sedikit sakit."

"Ap-... uhk!" geram Jayanegara ketika sebuah rasa sakit yang sulit digambarkan menusuk seluruh pori kulitnya. Lambat laun sang raja merasakan sesuatu terpisah dari jasadnya, sedikit demi sedikit. Sebuah gumpalan cahaya pun mengambang keluar dari dadanya, terapung beberapa jengkal di depan leher sang raja. Dengan mengerahkan segenap tenaga, sang prabu menjulurkan tangan untuk menangkap cahaya itu.

"Sri Paduka Jayanegara, permintaan anda telah melebihi kekuatan baur alam semesta," ucap Mahapati.

Seketika itu pula sang prabu menggenggamkan tangannya dengan keras, dan di dalam genggamannya ia mendapati sebuah benda berbentuk bulat telur dengan bingkai yang berkilau seperti emas. Benda itu berwarna hitam bening kemerahan, seperti beberapa macam permata yang pernah dibawakan oleh utusan-utusan negeri Campa yang datang melawat.

"Terimalah kekuatan dan tanggung jawab ini sebagai imbalannya!" tutup Mahapati dengan bersemangat.

...

Malam itu semakin larut. Severa sedang berbaring di peraduan salah satu kamar tidur di rumah yang ia tinggali bersama Tamamo dan Tanca itu, sekerjap tidurpun bak enggan menghampirinya. Entah mengapa hari ini perasaannya tidak enak. Bahkan panasnya ungkapan cinta yang didapatnya dari sang suami malam itu pun tak cukup untuk menekan sebuah rasa dingin yang bergolak dalam ulu hati sang perempuan. Ia tak bisa menahan rasa dingin itu lagi; mungkin memang sebaiknya ia minum sesuatu.

Dalam perjalanannya menuju tempat air minum di pintu belakang, tiba-tiba ia mendapati sebuah bayangan yang tidak biasa terlihat di halaman belakang yang diterangi cahaya purnama penuh. Dengan cepat ia mundur kembali dalam rumah, mengambil sebuah pistol kecil yang selalu ia sembunyikan di atas kusen pintu belakang. Dengan secarik kekuatan sihir miliknya, ia bersiap memperkuat tembakan yang mungkin ia lepaskan pada musuh itu.

"Siapa kau!" seru Severa sambil memutar badan, menghadapi ancaman yang tersaput kegelapan itu.

"Wah wah, kekuatan sihir anda begitu menarik hati saya," komentar sang penyusup sambil memperlihatkan dirinya, seorang pemuda tegap berpakaian serba putih. "Sungguh seribu sayang bila tidak diarahkan dengan benar. Maukah anda membuat perjanjian denganku, Nimas?"

"Enak saja memanggilku nimas! Aku ini sudah bersuami tahu!" geram sang istri muda itu sebelum berseru, "Ardente, sagitta mea! Hostis vincere![6]"

Sebuah letusan kontan memecah hening malam, diikuti suara ledakan yang cukup mengguncang. Sang penyusup langsung hancur berkeping-keping diterjang peluru api milik Severa. Letusan itu juga membangunkan Tanca dan Tamamo yang sudah tertidur lelap. Dengan segera keduanya melompat dari peraduan, menghampiri arah suara.

"Ada apa, dinda? Mengapa sampai mengeluarkan tembakan yang demikian kuat?" ujar sang suami tergopoh menghampiri.

"Uaaah, bau macam apa ini? Seperti bangkai tikus busuk..." geram Tamamo melengkapi. "Baru kali ini aku bisa membaui sesuatu yang sudah bercampur mesiu tanpa harus melepaskan ekor-ekorku..."

"Incubator..." geram Severa tak percaya.


...


"Bagaimana hari ini, Kakang Kuti?" tanya Tanca sambil duduk di samping Kuti yang sedang memijat matanya karena kelelahan.

"Masih seperti kemarin, bahkan semakin banyak isu orang bunuh diri di Kutaraja. Aku tak mengerti," gumam sang komandan sambil menghela nafas. "Bahkan kudengar dari bawahan Senapati Jabung Trewes, ada seorang lagi calon bhayangkari yang gagal dan kemudian membunuh diri."

"Aku juga, kakang," gumam Tanca sambil menawarkan bumbung air berisi minuman miliknya pada kakak angkatnya itu. "Mengapa pemuda-pemuda ini rapuh sekali jiwanya? Ada banyak jalan untuk mengabdi pada Majapahit selain menjadi bhayangkari, mengapa malah mereka putus asa?"

"Bila aku mengerti, aku tak akan bertanya denganmu, Tanca," gumam Kuti lemah. "Pemuda yang membunuh diri itu... kabarnya masih ponakan jauhku. Nampaknya aku mengenalnya di Pajarakan, tapi sudah nyaris lupa."

"Sudahlah kakang, mungkin memang takdirnya untuk memiliki umur yang singkat," balas Tanca sambil menghela nafas. "Penyelidikan dinda Severa pun belum menemui titik terang yang berarti."

"Maksudmu penyelidikan tentang Ingku... ingku-apalah itu?" tanya Kuti sambil menerima bumbung berisi minuman itu. Mata lelahnya kembali menyala menyambut pergantian pokok bahasan itu.

"Iya. Dinda Severa jadi sangat curiga sejak ia menembak sesuatu di halaman belakang malam itu," ujar Tanca sambil menghela nafas panjang. "Katanya ia harus segera memecahkan keberadaan Incubator di sini dalam waktu dua purnama atau akan ada bencana besar. Bahkan Nyi Medang, Nyi Meling, dan Dinda Tamamo pun ikut membantu."

"Istrinya Banyak dan Yuyu pun setuju diajak ikut turun tangan? Wah wah wah, ini gawat sekali," komentar Kuti sesudah menelan seteguk minuman dari bumbung minum milik Tanca itu. "Aku tahu Nyi Meling pasti mau membantu, tapi kau kan tahu Nyi Medang tabiatnya mirip dengan suaminya. Sebenarnya kuat, namun susah diajak bertindak. "

"Begitulah, kakang. Kata dinda Severa, lebih banyak lebih baik," ujar Tanca sambil menghela nafas. "Mereka menginap di Balai Pualam untuk saat ini. Katanya dedemit-dedemit yang dipanggil Incubator paling suka membuat keributan di pusat-pusat keramaian."

"Baiklah. Nanti kutanya begitu aku sampai di Balai Pualam," ujar Kuti sambil bangkit dari duduknya. "Ya sudah, aku pulang dulu."

"Kau juga, kakang. Hati-hati di jalan," balas Tanca sambil tersenyum.

...

"Malam," sapa Kuti saat ia berpapasan dengan salah satu bhayangkari muda yang ditugasi menjaga Balai Pualam.

"Malam juga, Ra Kuti," balas bhayangkari itu sambil tersenyum. "Hari yang berat?"

"Begitulah," ujar Kuti sambil melihat sekeliling. Cahaya lampu senthir[7] minyak kelapa terang menyeruak keluar dari ruang pertemuan.

"Mereka belum selesai sejak sore tadi, Ra Kuti," ujar satu lagi pemuda yang berjaga di kediaman resmi itu. "Segera setelah Nyi Sewera dan Nyi Meling kembali dari anjangsana, mereka langsung memanggil Nyi Tamam dan Nyi Medang lalu melangsungkan pertemuan. Pertemuan itu nampaknya penting, bahkan kata para emban dapur makanan yang dihidangkan untuk mereka pun hanya dimakan sedikit."

"Lho tahu dari mana kalian, kok bisa kalian berbincang dengan para emban?" goda Kuti sambil tersenyum menyembunyikan kekhawatirannya.

"Alah, Ra Kuti seperti ndak tahu saja. Si Indrajaya ini kan sedang kesengsem sama Lastriningsih emban yang di dapur itu!" timpal bhayangkari yang pertama diajak bicara oleh Ra Kuti itu.

"Heish, sembarangan kamu Danagama!" balas Indrajaya sengit dengan muka memerah.

"Sudah, sudah," balas Kuti sambil melerai pertikaian kecil itu. "Siapa bilang bhayangkari tidak boleh jatuh cinta dan menikah? Asal kalian memberi tahu bekel kalian saja."

"O ya sudah barang tentu Rakryan," ujar Danagama sambil tersenyum. "Apalagi bekel Mada belum beristri. Kok tidak enak mau melangkahi."

"Baguslah kalau begitu. Indrajaya, kamu harus berusaha keras untuk mendapatkan Lastriningsih," balas Kuti menasihati. "Dulu dia ada rasa dengan Ra Tanca, jadi kamu harus bisa membuktikan kalau kamu lebih dari dia..."

"Waduuuh... jatuh cinta kok ya sama lelaki gagah seperti Ra Tanca. Susah ini menandinginya," gerutu Indrajaya sambil bersandar pada tombaknya.

"Jangan putus asa dulu, yang penting berusaha," nasihat sang rakryan sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong teman kalian yang satu lagi kemana? Biasanya jaga bersama."

"Rakasina sedang jaga di kediaman Dyah Gumilar, kebetulan Unang yang sering tugas di sana sedang pulang kampung karena ayahnya sakit keras," imbuh Danagama sambil menghela nafas.

"Ya sudah kalau begitu, aku mau menemui Nyi Sewera dulu," ujar Ra Kuti menutup pembicaraan. Diiringi anggukan hormat dari Danagama dan Indrajaya, ia pun bergegas ke arah ruang pertemuan.

"Aiya, Ra Kuti?" sambut Meiling sambil membuka pintu persis saat Kuti hendak membukanya. "Saya baru saja mau membangunkan airen[8] dan yang lainnya..."

"Ada apa sampai perlu membangunkan Yuyu segala?" tanya Kuti bingung.

"Ini masalah gawat," sambar Severa sambil memandang lurus ke dalam mata Kuti. "Aku menemukan ada dedemit bersembunyi dalam istana kerajaan. Aku yakin dia sumber rasa putus asa yang melilit Kutaraja akhir-akhir ini."

"...Baiklah. Nyi Meling, bangunkan semua orang yang bisa bertarung dan sedang ada di sini. Tanca, Pangsa, dan Banyak akan kita beri tahu kemudian," ujar Kuti cepat. "Oh, dan sekalian bangunkan emban di dapur, suruh membuatkan susu jahe telur pakai madu untuk kita semua."

"Siap, Ra Kuti!" balas Meling sambil menghormat.

"Mulai pertemuan ini barang sebentar lagi," ujar Kuti sambil mencari kursi. "Aku ingin tidur dulu barang sekerjap..."

"Kalau mau, aku bisa memberimu obat penghilang kantuk," ujar Severa setelah Kuti duduk bersandar di kursi.

"Tidak terima kasih, Nyai," ujar sang komandan sambil mencari posisi yang cukup nyaman untuk menutup mata sementara. "Sekarang biarkan saya istirahat barang sejenak."


Glossarium:

[1]: Artinya kurang lebih 'Teman yang Lebih Dekat Dibanding Saudara'. Saya tahunya sih dari tulisan Dwi Koen di komik Sawungkampret, belum tentu betul.

[2]: Artinya 'istri kecil' a.k.a. istri muda.

[3]: Kukicha itu teh Jepang yang dibuat dari dahan dan ranting tumbuhan teh.

[4]: Manisan buah prem, kadang dijadikan isi onigiri. Katanya sih rasanya sangat asam.

[5]: "Mal Aria" dalam bahasa Italia artinya "Udara Buruk". Dahulu di Eropa, 'udara buruk' ini dianggap sebagai penyebab penyakit malaria.

[6]: Bahasa Latin, artinya kurang lebih "Berkobarlah, panahku! Leburkan musuhmu!"

[7]: Semacam lampu teplok, tapi desainnya lebih sederhana. Bisa dinyalakan dengan minyak kelapa.

[8]: Artinya 'kekasih'. Pembacaan alternatif dari kanji-kanji pembentuk kata koibito, dan kebetulan arti dan bacaannya kurang-lebih sama dalam bahasa Cina maupun Jepang.


A/N: Ya, akhirnya saya post ini secara bertahap aja. Moga-moga nggak sampai development hell seperti 'kakak'nya Das Rote Gespenst :3