DISCLAIMER:
Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing (Dharmaputra Winehsuka oleh Alex Irzaqi, Puella Magi Madoka Magica oleh SHAFT/Gen Urobuchi, dan sebagainya), kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.
Pertempuran Sang Rakryan
Laga 2: Siasat Para Rakryan
"Baiklah, pertemuan ini kita mulai," ujar Ra kuti sambil menghadapi meja persegi yang digambari peta dengan arang oleh Severa. Di sekeliling meja itu sudah menunggu Ra Wedeng, Ra Yuyu bersama sang istri Hong Meiling, Nyi Medang istri Ra Banyak, Tamamo, dan Severa. Cahaya lampu senthir dan beberapa obor menerangi pertemuan darurat itu.
"Ada apa ini sampai membangunkan kami?" tanya Wedeng sambil garuk-garuk kepala. Kelopak matanya masih kentara memperlihatkan rasa kantuk.
"Kalian tentunya merasakan sendiri, betapa beberapa pasaran ini Kutaraja dilanda rasa putus asa yang mencekik. Jumlah uang selalu terasa tidak cukup, tidur selalu terasa kurang nyenyak, makanan selalu terasa kurang nikmat..." jelas Kuti serius, mencoba mengabaikan rasa kantuknya sendiri. "Nyi Severa mengadakan penyelidikan sendiri, dan ia baru saja menarik kesimpulan."
"Aku sudah mengadakan penyelidikan dengan caraku sendiri," imbuh Severa sambil menunjuk ke arah peta arang di atas meja dengan sebuah ranting. "Dan aku yakin kalau ada dedemit yang menyebabkan ini. Dedemit ini memang jenisnya menyebarkan rasa putus asa di sekitar tubuhnya."
"Dedemit? Baiklah, kita lawan saja! Biar dia tahu kekuatan Dharmaputra ini!" geram Wedeng sambil membuat buku-buku jarinya berkeretak.
"Sebaiknya kita tidak terburu-buru," sela Kuti mengendalikan darah panas Wedeng. "Nyi Severa, ada cara untuk menanggulangi dedemit ini tanpa menimbulkan keributan?"
"Sayangnya tidak. Dedemit seperti ini harus segera ditanggulangi, dan di tempatku berasal mereka hanya bisa dikalahkan dengan banyak musket... er, lantaka berisi peluru khusus," desah Severa sambil menghela nafas. "Apalagi kalau pengaruhnya sudah berlangsung sekian bulan seperti sekarang. Pengaruh sekian tenday[9]... uh, pasaran saja sudah buruk, apalagi sampai dibiarkan seperti ini. Untuk setiap nyawa yang berakhir di bawah pengaruh keputusasaannya, mereka bertambah kuat dan banyak."
"Gawat..." desis Yuyu sambil memandang sekeliling. "Selama tiga-empat pasaran ini saja aku sudah mendengar tak kurang dari selusin nama orang yang membunuh diri... mungkin sudah bukan main kuatnya dedemit ini setelah 'makan' nyawa sebegitu banyak..."
"Apa tempat bersembunyi si dedemit ini sudah diketahui? Makin tak sabar rasanya aku mau menghajar dia," sambar Wedeng sambil menyeringai. "Kita bisa meminjam satu jung[10] meriam, lantaka, dan mesiu dari armada laut di Hujunggaluh atau Songeneb, aku punya beberapa teman baik di sana. Layarkan lewat Bengawan Mas masuk ke Bengawan Ronoboyo, nanti di dekat Kutaraja kita bongkar muatan lalu bawa meriamnya ke depan pintu si dedemit bajingan itu dengan kereta. Armada laut pasti tidak akan keberatan kalau ini demi keamanan Kutaraja."
"Inilah sulitnya," balas Severa sambil mengetuk-ngetuk sebuah posisi yang ditandai dengan sebuah batu berbentuk agak segitiga di peta gambarannya. "Ia berdiam di sana, agak jauh dari sungai. Nampaknya dedemit itu sudah berada di sana sejak ia mulai, karena tidak ada tanda-tanda ia pernah berpindah. Selain masalah perbekalan, kita juga dihadapkan pada masalah bangunan yang berdiri di sana."
"Itu bukannya..." desis Yuyu tidak percaya bercampur takut. "Kakang..."
"Ya... kita bisa dianggap berontak kalau kita menyerang tempat itu dengan meriam..." gumam Kuti, tubuh kekarnya ambruk ke kursi setelah tadi sempat berdiri. "Itu Bale Manguntur, istana utama Majapahit. Prabu Jayanegara berdiam di sana."
"Ini masalah nyawa ribuan orang penduduk Kutaraja, Ra Kuti. Jutaan nyawa jadi taruhannya, bila ia sudah cukup kuat untuk berpindah tanpa bisa dihentikan," akhirnya Tamamo angkat bicara. "Istana sang prabu atau rakyat seantero Majapahit. Siapa yang akan kau dahulukan?"
"Ayolah, kakang... ini hanya sebuah istana! Selama sang prabu bisa diungsikan dengan selamat, kita bisa membela diri!" pinta Yuyu sambil bangkit dari duduknya.
"Aku khawatir Halayudha akan menggunakan isu ini untuk menghabisi kita sekalian," balas Kuti sambil memberi isyarat agar Yuyu juga duduk kembali. "Kalian tentu sudah merasakan kebencian Halayudha terhadap kita sejak ia memfitnah Mahapatih Nambi dan Ra Semi. Aku takut kita akan..."
"Bangun, Kuti dari Pajarakan," pinta Tamamo lembut. "Apakah ini saatnya untuk takut? Apakah ini saatnya untuk menahan diri? Apakah kau lebih memilih menjunjung rajamu daripada menyelamatkan rakyat negerimu?"
"Tidak ada gunanya mengajak orang yang kalah sebelum bertempur, Kyuubi," potong Severa tajam sambil mulai berjalan keluar dari pintu. "Yang ingin ikut, ikutlah! Aku tak butuh orang-orang yang takut mati dan tak tahan malu."
Tamamo dan Severa pun beranjak keluar dari tempat itu. Kuti dilanda bimbang yang menggelora, sementara Wedeng dan Yuyu terpaku menatap sang komandan. Nyi Medang hanya geleng-geleng kepala, sementara Meiling menimbang keputusannya.
"Saya ikut," ujar Meiling sambil tersenyum. "Mana bisa pendekar putih meninggalkan kepentingan rakyat?"
"Saya juga," imbuh Nyi Medang. "Kebetulan suami saya sedang berjaga di daerah musuh. Istri macam apa yang tidak bisa menjaga dan menyelamatkan kehormatan suami?"
"Dinda, jangan terburu-buru," sela Yuyu cepat. "Paling tidak biar aku ikut denganmu."
"Nyai berdua," imbuh Kuti yang berdiri kembali ditimpali Wedeng yang geleng-geleng kepala. "Saya tidak bisa membiarkan saudara-saudara saya maju perang sendirian. Apalagi kaum wanita."
"Cih, dari tadi kenapa..." gerutu Severa sambil tersenyum. "Aku akan mengirim berita pada Tanca dengan burung hantu, sekalian memintanya memberitahu Banyak dan Pangsa. Tamamo-sama, bisa kaucarikan aku beberapa botol larutan perak-alkemis[11] di rumah kita untuk melapis senjata dan peluru? Ambilkan juga Mantel Baja Hijau, Mantel Matahari Merah, dan Mantel Bintang Kuning, kita akan membutuhkannya untuk memuat sebanyak mungkin senjata tanpa ketahuan. Oh, dan bubuk teh hijau buatanmu itu."
"Siap laksanakan, Severa-sama~" balas Tamamo sambil tersenyum. Tubuh sang wanita pun bak menghilang ke dalam gelap malam tak berapa lama kemudian.
"Kita sebaiknya beristirahat. Wedeng, kau beritahu istrimu agar jangan khawatir," ujar Kuti sambil memijit pelipisnya. "Besok pagi kau dan aku akan pergi ke Hujunggaluh untuk meminjam tentara dan persenjataan. Nyi Severa bisa ikut?"
"Bisa, tapi aku lebih baik tinggal disini untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan..." balas Severa sambil duduk di sebuah bangku. "Dan untuk buruan sebesar ini... banyak yang harus disiapkan."
"Dyah Gitarja pasti memendam rasa kecewa pada paduka Jayanegara karena dilarang menikah, kakang," imbuh Yuyu. "Semoga beliau mau memaklumi dan membantu tindakan kita yang terburu-buru ini."
"Itu memang benar, tapi apa kita tidak minta bantuan tambahan dari Dyah Adityawarman?" tanya Wedeng sambil manggut-manggut. "Beliau tentu lebih mudah bertindak karena dekat dengan tampuk kekuasaan. Dan bila Halayudha berkeras membela sang prabu, Kita akan melawan mereka berdua dengan dukungan yang lebih kuat, dari Dyah Gitarja ditambah Dyah Adityawarman."
"Aku takut hubungan darah dan kepercayaan Dyah Adityawarman yang dekat dengan Prabu Jayanegara akan membuatnya mengadukan kita, kakang," ujar Yuyu menawarkan pendapat. "Lebih terbuka peluang kita untuk mengambil hati Dyah Gitarja daripada bertaruh pada rasa dharma Dyah Adityawarman."
"Kalian berdua benar, namun aku kira lebih bijak memberi tahu Dyah Adityawarman. Selama beberapa tahun ini aku lihat beliau terbukti seorang yang jujur dan menunaikan dharma," balas Kuti. "Selain itu ia juga tidak terlalu kuat mendukung Prabu Jayanegara, terutama karena permintaannya untuk memperkuat tentara dan dukungan mancanagara di Swarnadwipa selalu dimentahkan. Praktis pendukung kuat sang Prabu sekarang hanyalah Dyah Halayudha, Senapati Jabung Trewes, ditambah Dyah Arya Tadah dan beberapa mahamantri serta senapati lainnya. Yuyu, malam ini coba kamu pergi ke kediaman Dyah Adityawarman. Bila beliau masih terjaga kamu beritahukan rencana kita, tapi bila beliau sudah mapan jangan diganggu. Kalau beliau sudah mapan, mintalah untuk menginap di sana lalu beritahukan hal ini pagi-pagi sekali."
"Baik kakang. Aku akan berangkat sekarang," ujar Yuyu sambil berdiri dari duduknya.
"Sekarang mari kita beristirahat. Nyi Severa bisa beristirahat di kamar bekas Tanca dulu," ujar Kuti menutup pertemuan.
Tanpa sepengetahuan mereka bertujuh, dua pasang mata tampak memperhatikan hampir seluruh pertemuan rahasia itu.
"Gila Ndro... ternyata Ra Kuti dipengaruhi untuk berontak..." bisik Danagama sambil berusaha tetap tersembunyi di semak-semak. "Tak kusangka Nyi Sewera ternyata jahat..."
"Bekel Mada harus diberi tahu ini..." desis Indrajaya sambil mengangguk-angguk.
...
"Tak kuduga..." desis Tanca sambil membaca kembali secarik kulit samak yang dibawa oleh burung hantu peliharaan sang istri. "Ini semua pekerjaan dedemit... dan Kakang Kuti sudah memutuskan untuk menyerangnya di mana ia berdiri. Di istana ini."
"Maksudmu?" tanya Pangsa heran. "Masa ada dedemit yang berani masuk sampai ke tengah Kutaraja begini? Mereka kan biasanya berdiam di gunung dan lembah yang jauh dari keramaian."
"Entahlah. Sepertinya kita harus menunggu penjelasan dari dinda Severa langsung," jawab Tanca sambil menghela nafas.
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Banyak sambil mencondongkan badan ke depan tanda tertarik. "Ini kali pertamaku adu kekuatan dengan dedemit, lho."
"Sementara ini tunaikan tugas seperti biasa. Paling cepat, lima hari lagi kapal berisi tentara, mesiu, dan lantaka dari Hujunggaluh akan datang untuk membantu kita. Akan ada pertemuan siasat lagi besok pagi," gumam Tanca sambil menghela nafas. "Kakang Kuti dan Wedeng juga akan berangkat ke Hujunggaluh besok pagi-pagi, untuk mencoba membujuk Dyah Gitarja untuk mendukung serangan kita. Dyah Adityawarman juga akan diberi tahu."
"Aku ragu kita bisa keluar dari pertempuran ini hidup-hidup. Bagaimanapun, kita akan menyerang istana kerajaan Majapahit," ungkap Pangsa sambil meneguk air dalam gelas gerabah. "Kalaupun kita berhasil mengusir dedemit seperti yang dikatakan istrimu, ini tetap tindakan makar terhadap negara."
"Kita percaya saja pada Kakang Kuti. Pasti ia juga percaya pada kita," timpal Banyak sambil tersenyum. "Ayo, saatnya kita keliling lagi."
...
"Jadi kalian yakin apa yang kalian laporkan ini benar?" tanya Mada pada kedua pengawal dari kediaman Dharmaputra itu sambil mengucek-ngucek mata. Fajar bahkan belum lagi nyata di ufuk timur saat kedua bawahannya itu membangunkannya.
"Yakin seyakin-yakinnya, bekel," ujar Indrajaya sambil mengangguk. "Apa sebaiknya kita laporkan segera pada Senapati Jayengrana? Atau bahkan kita laporkan langsung ke Senapati Jabung Trewes, Dyah Arya Tadah, atau Mahapatih Halayudha sekalian?"
"Jangan bergerak dulu. Ra Kuti adalah pahlawan negara, beliau pasti punya banyak hubungan dengan kaum ningrat. Ini berbahaya, karena banyak dari mereka yang sedang tidak puas dengan kebijakan prabu Jayanegara," balas Mada sambil memberi isyarat tangan. "Kalau Ra Kuti berhasil menggerakkan mereka semua untuk berontak terhadap Majapahit, tentara berapa banyak sekalipun tak akan bisa menghentikan Ra Kuti bersama sekutu-sekutunya. Selain itu, kalau ditangkap sekarang atau gerakan kalian ketahuan, bukan tidak mungkin Ra Kuti dan konco-konconya bisa berkelit dan kabur ke hutan."
"Waduh... apa tak ada harapan untuk menandingi Ra Kuti dan konco-konconya?" tanya Danagama putus asa.
"Tidak. Ra Kuti masih bisa dihentikan," jawab sang bekel. "Prabu Jayanegara baru saja pulang berziarah ke Barabeduwur, pasti butuh liburan. Sekarang aku akan berangkat untuk meminta Dyah Halayudha untuk mengajak Prabu Jayanegara untuk berlibur. Tak perlu terlalu jauh sampai ke Buleleng atau Gianyar, ajak ke petirtaan air panas di Bedander saja. Di sana beliau akan aman, tetapi tidak terlalu jauh dari ibu kota. Indrajaya, Danagama, kalian berdua ikut aku, tapi aku mau cuci muka dulu. "
"Baik, Bekel!" balas kedua bhayangkari itu. "Kami tunggu di pintu depan!"
"Apa yang ada dalam pikiranmu, Ra Kuti..." gumam Mada sambil berjalan ke gentong tampungan air di halaman rumah kecilnya. "Kukira kau sang pengalasan wineh suka, pengawal yang disukai raja... apa ini takdir seorang Dharmaputra? Memberontak melawan junjungan sendiri?"
...
"Bagaimana kondisi kastil ini, Vagner?" sesosok lelaki pendek yang mengenakan perhiasan dan zirah keemasan bertanya pada sang prabu yang duduk di atas singgasana. "Harusnya kau baru pulang dari Barabeduwur."
"Betul, tuan Faustus," balas sang 'prabu' sambil tersenyum. Kedua mata itu persis mata sang prabu, namun mengandung suatu keanehan yang tak dapat dilukiskan dan menimbulkan rasa takut yang sangat di dalam hati yang memandangnya.
"Apa yang kau lihat di sana?" tanya Faustus sambil tersenyum.
"Rakyat yang mencintai pemimpinnya, tuanku," jawab Vagner sambil menganggukkan kepala.
"Sudah kuduga... Mahapati tidak berbohong," gumam Faustus sambil tersenyum lebar. "Aah, nampaknya Halayudha sedang mendekat. Lakukan tugasmu, Vagner."
"Baik, tuan Faustus," balas Vagner, sementara sosok Faustus menghilang. Tak berapa lama kemudian, Mahapatih Halayudha, Bekel Mada, dan beberapa pengawal pun memasuki ruang singgasana.
"Kami menghaturkan sembah, Prabu Jayanegara," kata Halayudha sambil berlutut menyembah hormat, hal yang diikuti para bawahannya. "Kami berharap bisa menyampaikan sebuah anjuran pada yang mulia Prabu."
"Oh ya? Boleh, aku selalu terbuka untuk saran dari kalian," balas 'Jayanegara' sambil mencondongkan tubuh ke depan tanda tertarik.
"Paduka baru saja kembali dari perjalanan kenegaraan ke berbagai pelosok," Halayudha memulai. "Kesehatan paduka tentu menurun karena kelelahan. Saya harap paduka berkenan untuk istirahat, menjauh sejenak dari keramaian Kutaraja."
"Saran yang bagus, Halayudha, tapi apa tidak percuma bila aku malah kelelahan di perjalanan?" tanya sang prabu ringan. Dua bhayangkari di belakang Mada merasakan sesuatu dalam tatapan sang prabu yang membuat tengkuk mereka dingin.
"Di Badander, dekat kampung saya, ada mata air panas yang bagus untuk kesehatan, paduka. Saya dengar di sana sudah dibangun pesanggrahan untuk peristirahatan kaum ningrat. Kebetulan pula Badander tidak jauh dari Kutaraja, tidak sampai setengah hari perjalanan dengan kuda dan kereta," imbuh Mada sambil menunduk, menghindari tatapan mata sang junjungan yang membangkitkan rasa takut terdalam di hati sang bekel.
"Oh, begitu?" sang prabu tersenyum. "Aku jadi ingin mencoba tempat peristirahatan itu. Baiklah, kita akan berangkat setelah rapat para patih selesai. Halayudha, kau atur pemerintahan agar tetap berjalan baik selama tujuh hari. Biar Mada mengepalai sepuluh orang bhayangkari untuk keamananku di sana. Aku akan membawa tiga belas orang selir, pilihkan yang cantik-cantik."
"Daulat laksanakan, tuanku," para abdi Majapahit itu pun menjawab serempak.
...
"Suatu kehormatan tersendiri dapat menerima pahlawan Majapahit di kediamanku yang sederhana ini, Ra Kuti," ujar seorang gadis yang sedang duduk di singgasana kecil di ruang pertemuan itu. "Kiranya angin apa yang bisa meniup buah dari sebatang pohon nan kuat dan kokoh hingga sampai ke Jenggala ini?"
"Angin puting beliung yang mengancam tegaknya pohon-pohon di Hutan Tarik, Bhre," balas Kuti, menangkap permainan kata dari Dyah Gitarja dan mengembalikannya dengan permainan kata pula. "Dan seperti layaknya angin, ia tak terlihat dan tak terdengar hingga saatnya ia bertiup dengan kekuatan penuh."
"Angin yang berbahaya, hmm?" sang penguasa daerah memiringkan badan ke depan. "Tapi Dewata menciptakan angin puyuh bukan tanpa alasan. Sebuah hutan pasti mengandung pohon-pohon busuk yang bisa mengundang penyakit."
"Tapi itu pula tugas rayap dalam hutan, Bhre," tangkis Wedeng membantu sang kakak tertua. "Angin taufan lebih banyak menumbangkan pohon yang masih muda dan belum seharusnya tumbang."
"Angin waktu tak menunggu sebuah pohon menjadi tua dahulu sebelum menumbangkannya, Rakryan Wedeng. Tapi aku puas dengan jawaban kalian," Gitarja membalas, diiringi senyuman penuh arti. "Nah, kiranya apa yang diperbuat kakakku di Kutaraja sampai kalian harus mendatangiku di Jenggala ini?"
"Kami... punya alasan kuat untuk percaya bahwa ada dedemit yang tinggal di Bale Manguntur, tepat di bawah hidung Prabu Jayanegara dan para brahmana kerajaan," ujar Wedeng sambil tertunduk. "Salah satu istri Ra Tanca yang mengatakannya, dia ahli dalam hal ini. Karena itu, kami mohon dukungan untuk menumpas ancaman ini."
"Oh, suatu tuduhan yang sangat rentan dibelokkan, Ra Wedeng. Bagiku kalian sedang menuduh kakakku memelihara makhluk halus di istananya hanya agar kalian bisa menduduki Bale Manguntur," balas Gitarja sambil tersenyum. "Aku sadar bahwa kakakku bukanlah raja sehebat Prabu Airlangga atau Ayahanda Sanggramawijaya, tapi ia tetap raja kita. Ke mana pengamalan ikrar 'satya bela bhakti prabu' kalian?"
"Kalimat itu... sudah lama kami jual," balas Kuti khidmat. "Pada rakyat yang membayarnya dengan darah dan air mata mereka."
Sejenak tak ada yang bergerak diantara mereka. Burung-burung bak membisu, dan angin serasa berhenti. Seakan-akan ayah sang Bima pun menahan nafasnya.
"Baiklah, itu juga jawaban yang bagus," ujar Gitarja sambil tersenyum. "Lagipula, siapa dia sampai berani melarangku menikah. Huh."
"Jadi... Bhre mau meminjamkan kekuatan?" tanya Wedeng penuh harap.
"Berapa banyak yang kalian butuhkan?" tanya sang penguasa daerah sambil mengedipkan mata. "Tapi tentunya, aku tak bisa meminjamkan seluruh armada bahari hanya untuk serbuan ini. Selain itu, aku juga tak mau dikaitkan dengan kalian kalau kalian terbukti melakukan makar terhadap Majapahit."
"Yang kami butuhkan hanya sebuah jung tempur kecil lengkap dengan meriam, lantaka, dan mesiu. Kami akan melayarkannya naik Bengawan Mas, melalui Bengawan Ronoboyo terus hingga sedekat mungkin ke Kutaraja. Dari sana, kami akan melancarkan serangan ke Bale Manguntur di tengah malam buta," papar Wedeng sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk menekankan penjelasannya. "Saya akan mengajak Rakryan Anjasmara dan anak-anak buahnya, kebetulan kami berteman baik."
"Hmm, sudah kuduga salah satu panglima laut terbaik dari Songeneb akan berpikir begitu. Pantas saja warok-warok pesisir segan denganmu," imbuh Gitarja sambil tersenyum dan menyobek selapis kain penutup kursinya, lalu menggoreskan sebuah aksara ke atasnya dengan kuas dan tinta yang tersedia sebelum mencapnya dengan cincin stempel kerajaan. "Kupinjamkan kau Tirtalaksana. Cari dia di pelabuhan sebelah timur, ia kapal paling kecil di sana. Kalau kau tunjukkan ini pada syahbandar, niscaya ia akan mengisi kapal itu penuh dengan apa yang kau perlukan."
"Baiklah, Bhre. Kami sangat menghargai bantuan yang anda berikan," balas Kuti sambil menunduk dalam-dalam. "Kami mohon diri."
"Ingatlah Rakryan Kuti, Rakryan Wedeng," imbuh sang penguasa daerah sambil menoleh ke arah lain. "Pembicaraan ini tak pernah terjadi."
"Betul," balas Ra Wedeng sambil tersenyum. "Dan anda menyuguh kami kolang-kaling yang enak."
...
"Oi tabib dungu, bangun. Hari sudah sore," gerutu Severa sambil memerciki wajah Tanca dengan air.
"Mmh... sebentar lagi..." gumam Tanca yang masih setengah tertidur.
"Kuti sudah kembali, dan katanya Dyah Gitarja mau membantu," lanjut sang penyihir tanah Anglorum itu. "Wedeng akan kembali paling cepat besok pagi. Kita cuma punya sedikit waktu untuk bersiap-siap."
"Prabu Jayanegara akan berangkat anjangsana selama tujuh hari mulai besok..." gumam Tanca sambil duduk, masih setengah mengantuk. "Apa kita tidak menyusun siasat baru?"
"Tergantung si dedemit itu pindah atau tidak hari ini... Kyuubi dan Meiling sudah kusuruh menjaga di bukit dekat Bale Manguntur," imbuh sang penyihir mancanegara itu. "Rolle kusuruh ikut dengan Kyuubi. Kalau burung hantu itu kembali dengan pesan, kemungkinan kita harus bergerak."
"Mmhh..." desah Tanca sambil mengucek mata.
"Sekarang minggir. Giliranku tidur," geram Severa sambil mendesak Tanca keluar ambin.
"... bukannya di sini banyak kamar tamu ya dinda," gumam Tanca yang masih setengah sadar.
"Diam. Aku nggak bisa tidur kalau kasurnya nggak dihangatkan badanmu dulu," balas Severa sambil berguling menghadap dinding, diiringi gelengan pelan Tanya yang tersenyum.
...
"Mmhm~" gumam Tamamo sambil meregangkan tangan. Ia bersama Meiling ditugasi untuk mengintai Bale Manguntur dari sebuah bukit rendah yang ada dekat balai itu. Malam sudah larut, dan purnama sudah menggelincir dari kedudukan tertingginya.
"Mau teh, Ah Mo?" tawar Meiling sambil menyodorkan bumbung bambunya. "Sudah dingin sih, tapi kalau bumbungnya dari bambu rasanya lebih enak."
"Masa?" tanya Tamamo penasaran sambil menerima bumbung kecil itu. "Wah, betul juga. Ada sedikit rasa pahit, tapi tak terlalu kuat."
"Ya, begitulah," ujar Meiling sambil tersenyum. "Mama selalu menyimpan teh panas dalam bumbung bambu. Anak-anaknya jadi suka."
"Betapa menyenangkan," komentar Tamamo sambil menghela nafas. "Entah berapa tahun aku tidak bertemu ibuku..."
"Ah Mo tidak pernah pulang kampung?" balas Meiling sambil duduk di sebelah sang perempuan berambut emas.
"Tidak..." balas Tamamo sambil tersenyum sayu. "Tempat yang kupanggil 'kampung' sudah hilang."
"Hilang... apakah bencana alam?" tanya Meiling ragu.
"Yah... begitulah. Siluman yang kami panggil hilang kendali dan menenggelamkan sebagian besar pulau kami ke laut," ujar Tamamo sambil menghela nafas. "Sembilan dari sepuluh penduduk mati."
"Mengerikan..." ujar Meiling sambil menepuk-nepuk bahu Tamamo.
"Well, nampaknya tidak ada gerakan berarti dari Istana," gumam Tamamo sambil menguap.
"Betul," ujar Meiling sambil menghela nafas. "Kemarin nampaknya kekuatannya memuncak, namun kali ini nampaknya surut lagi. Aku jadi bingung, sebenarnya apa mau si siluman... apa mungkin siluman ini seperti Su Daji[12], yang bermain di balik layar?"
"Kita tak akan tahu sebelum kita membunuhnya," gumam Tamamo sambil berdiri. "Yah, nampaknya tidak ada gerakan untuk malam ini. Sebaiknya kita pulang saja, aku ingin tidur di ambin sebelum pagi..."
...
"Ada berita?" tanya Severa sambil garuk-garuk kepala. Pagi itu masih muda, mentari belum setengah tinggi tombak di langit.
"Beberapa malam ini tidak. Dinda Tamamo dan Nyi Meling kembali di tengah malam, katanya juga tidak ada gerakan sama sekali... selama dua malam berturut-turut" ujar sang tabib sambil menuang air panas ke dalam poci. "Kukicha mint? Seduhan yang ini masih baru, belum terlalu keras."
"Makasih," gumam Severa sambil meniup uap minuman panas itu. "Siapa yang berjaga di dalam istana hari ini?"
"Kakang Kuti, Pangsa, dan Yuyu. Mereka akan menunggu menteri-menteri pendukung Prabu Jayanegara selesai rapat lanjutan dahulu sebelum mengungsikan para emban dan abdi. Utusan dari kapal Wedeng baru saja sampai, mereka bilang mereka sudah ada di dekat Kutaraja dan siap berge-uaaaaakh!"
"Nhaaaaakh!"
Teriakan menyayat pun terdengar bersahut-sahutan di luar bangunan kompleks Balai Pualam itu. Entah bagaimana caranya, semua orang di sekitar mereka bak diserang sakit kepala yang menusuk tanpa kecuali, termasuk Severa dan Tanca. Poci berisi teh panas di tangan Tanca pun nyaris jatuh ke tanah dan pecah, kalau saja tubuh Tanca yang terhuyung-huyung itu tidak sempat ditopang oleh seorang perempuan semampai berambut emas.
"Sabar Kangmas... jangan turuti rasa sakit dan putus asa itu..." bisik Tamamo sambil mendudukkan Tanca di kursi yang ada. "Atur nafasmu... keluar... masuk... keluar... masuk..."
"Dinda... Tamamo...?" gumam Tanca lirih sambil mulai bernafas seperti sediakala. "Apa yang terjadi...? Kepalaku..."
"Siluman keparat..." geram Severa yang sempat jatuh dari tempatnya duduk. "Serangannya tak tanggung-tanggung... jangan-jangan seluruh kota sedang menggelepar kesakitan sekarang..."
"Nampaknya memang seperti yang dibilang Sev, Kangmas," ujar Tamamo, sepasang telinga lancip dan tiga ekor keemasan nampak menghias tubuh semampainya. "Serangan dedemit Bale Manguntur itu mendadak sekali. Untung aku tidak sampai mengamuk, kalau sampai Wujud Ekor Sembilan hilang kendali bisa hancur kota ini..."
"Nhkh... Kumpulkan siapapun yang masih bisa bertindak," perintah Severa sambil masih memijat pelipisnya sendiri. "Pertempuran ini... sudah dimulai."
...
"Hari yang indah," komentar sang prabu sambil tertawa kecil dalam kereta kerajaan. "Matahari bersinar cerah, burung-burung bernyanyi, dan dayang yang kubawa semua cantik-cantik! Hahaha! Benar-benar cocok untuk melepas penat di kepala!"
Mada sang bekel diam saja mendengar celoteh sang junjungan dari dalam kereta. Perasaannya sebagai prajurit sedang terusik. Sebelum berangkat, ia sempat diserahi tanggung jawab menjaga sang prabu oleh Rakryan Kuti yang kebetulan saat itu bertugas mengamankan istana. Firasat sang bekel mau tak mau menjadi tidak enak, karena ia sudah tahu Kuti kemungkinan akan melancarkan pemberontakan. 'Mengungsikan' sang prabu seperti sekarang sama saja memberi Kuti angin.
"Berapa lama lagi kita sampai, Bekel?" tanya Danagama yang ikut dalam pasukan pengawalan.
"Tidak lama, harusnya sebentar lagi," ujar sang bekel sambil meraih bumbung minum yang disangkutkan di pelana kuda. "Ada apa, Danagama?"
"Tidak, Bekel," ujar Danagama sambil menghembuskan nafas. "Saya cuma kuatir."
"Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang," ujar Mada sebelum minum dari bumbungnya. "Laksanakan saja tugas dengan sebaik-baiknya."
"Bagaimana dengan Ra Kuti dan Dharmaputra di Kutaraja?" gumam Danagama yang masih belum yakin.
"Aku sudah menugasi Indrajaya untuk mengawasi Balai Pualam. Aku akan menyusul kembali ke Kutaraja begitu ada kesempatan," balas Mada sambil menghela nafas. "Doakan saja tidak terjadi apa-apa..."
...
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Tanca sambil menuangkan teh mint ke dalam gelas-gelas gerabah. "Minum ini dulu, lumayan bisa menghilangkan pusing..."
"Seperti habis dilabrak gajah," gumam Banyak sambil menerima gelas yang diberikan Tanca. "Ototku terasa sakit semua..."
"Aku bisa membuatkan obat untuk menanggulangi rasa sakit, tapi nampaknya tak akan sempat," balas Tanca sambil mengisi lagi gelas Banyak dengan teh. "Bagaimana istrimu?"
"Tadi sudah agak lumayan, sakit kepalanya sudah berkurang setelah diberi air mantra oleh Nyi Sewera dan Nyi Tamam," balas Banyak sambil menghirup napas dalam-dalam. "Aku ragu kita bisa bertarung dalam keadaan seperti ini. Lebih baik kita mundur, bergabung dulu dengan kakang Wedeng di batas kota."
"Kita sudah tak bisa mundur, kakang. Musuh sudah di depan mata," balas Tanca sambil menghembuskan nafas. "Kakang Kuti, Yuyu, dan Pangsa ada di dalam Bale Manguntur. Saudara macam apa kita kalau meninggalkan mereka di dalam sana..."
Baru saja Tanca menyelesaikan kalimatnya, tiga orang perempuan yang mereka maksud pun memasuki ruangan, diikuti Meiling yang masih memijit pelipisnya. Tamamo dan Severa tampak terbungkus jubah, masing-masing berwarna kuning dan hijau tua. Tamamo tampak memegang mantel serupa, namun berwarna merah.
"Zirahmu sudah siap, Kakang," ujar Tamamo sambil tersenyum. "Lantaka di dalamnya sudah penuh diisi semua."
"Baiklah... jadi bagaimana rencana kita?" tanya Banyak sambil menaruh gelasnya di atas meja, sementara Tanca mengenakan jubah berwarna merah itu.
"Salah satu dari kita harus menyusuri Bengawan Ronoboyo dan menyongsong Ra Wedeng dan jung tempur bawaannya," ujar Severa sambil mengeluarkan sebuah guci gerabah tertutup dari lipatan jubahnya. "Sesampainya di sana, suruh mereka mencampur air ini dengan segentong air sungai, lalu air itu harus dipakai mencuci muka mereka semua. Dengan begitu, sakit kepala yang akan mereka alami akan berkurang begitu memasuki wilayah yang sudah dicemari tenaga dedemit itu."
"Biar aku yang melakukannya," ujar Nyi Medang yang tampak masih agak pucat. "Sakit kepalaku sudah agak mendingan, lagipula kalian butuh semua kekuatan tempur yang kalian punya dan nampaknya aku tidak akan membantu banyak."
"Apa... kamu yakin, sayangku?" tanya Banyak sambil menggamit tangan sang istri.
"Yakin... yang kubutuhkan cuma seekor kuda untuk ditunggangi menyusur bengawan," balas Nyi Medang sambil mencium tangan suaminya.
"Harusnya ada satu kuda yang sudah ditenangkan oleh Tamamo di istal," ujar Severa sambil menepuk bahu Nyi Medang. "Kami bergantung padamu, Medang. Kami bisa mendesak demit keparat itu, tapi hanya kamu dan Wedeng yang bisa menghabisinya."
"Serahkan padaku," balas Medang sambil tersenyum, lalu beranjak menuju istal kuda.
"Bagaimana dengan kita, Nyi Sewera?" tanya Meiling sambil menghela nafas sambil melihat Nyi Medang berlalu.
"Apa lagi? Kita menyerbu," balas Severa sambil menyeringai.
...
"Bekel Mada! Tolong jangan terlalu cepat!" pinta Danagama yang menunggang di belakang sang pimpinan pasukan. "Kudamu bisa tersandung!"
Mada tak membalas, hanya memacu kudanya semakin cepat. Tak enak hati yang dirasakannya sejak pagi akhirnya meledak menjadi kecemasan yang menjadi-jadi. Segera ia minta diri pada sang raja, setelah minta tolong pada seorang pamannya yang pemuka desa untuk menjaga ketat pesanggrahan tempat sang raja bermukim sementara. Sang raja hanya mengiyakan, agaknya dalam keadaan mabuk tuak yang terus-menerus dituang ke dalam gelas sang junjungan oleh para selir.
"Bekel! Itu-" seru Danagama lagi sambil menunjuk arah Kutaraja. Mereka kini sudah di lereng bukit perbatasan kota sebelah timur.
"Jagad Dewa Batara!" seru Mada kaget sambil menarik kekang kudanya.
Lazimnya, matahari dan langit hanya akan berwarna ungu, merah, atau keemasan bila mentari telah rendah di ufuk barat. Yang dipandang Gajah Mada dan rekannya Danagama saat itu adalah sebuah payung ungu seluas langit yang terus melebar, dan batangnya nampak mencuat dari arah Bale Manguntur.
"Apa maksudnya ini...?" gumam Mada sambil terperanjat.
Sayang, hanya itu yang sempat ia gumamkan sebelum kuda yang ditungganginya meringkik dan mulai menjadi liar.
"h1DUp pRaBU jAY4N39aRA!"
Glossarium
[9]: Ukuran waktu jaman dulu dari Eropa. Sesuai namanya, satu tenday sama dengan sepuluh hari; ekuivalen dengan satu minggu (tujuh hari) di jaman sekarang, dan satu pasaran (lima hari) di zaman Majapahit.
[10]: Semacam kapal dengan dua sampai tiga tiang layar. Desainnya berasal dari Cina, dan dulu digunakan di Asia pada umumnya untuk berdagang dan bertempur. Disain jung dianggap salah satu desain kapal terbaik pada zamannya, namun setelah bangsa Inggris datang ke Hongkong kapal-kapal barat dengan cepat menggusur penggunaan jung.
[11]: terjemahan saya terhadap istilah Alchemical Silver dari universe Dungeons & Dragons. Larutan ini digunakan untuk melapisi senjata dengan lapisan perak; senjata perak-alkemis biasanya digunakan untuk membunuh jejadian (termasuk werewolf; dalam DnD ada banyak macam jejadian, termasuk misalnya werebear, wererat, werebadger, dan wereshark).
[12]: Daji (kadang disebut So Daji atau So Dakki) adalah tokoh antagonis utama dari cerita Cina kuno Fengshen Yanyi (lebih dikenal di sini sebagai dasar dari manga Houshin Engi). Ia juga siluman rubah seperti Tamamo, dan terkenal sangat licik.
A/N: Dan seluruh Trowulan berubah jadi alay! *ditumbak GM* Yah, semoga WB saya jadi berkurang setelah posting :3
