DISCLAIMER:

Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing (Dharmaputra Winehsuka oleh Alex Irzaqi, Puella Magi Madoka Magica oleh SHAFT/Gen Urobuchi, dan sebagainya), kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.


Pertempuran Sang Rakryan

Laga 3: Pertempuran Kutaraja


"h1DUp pRaBU jAY4N39aRA!"

"Kau dengar itu, Tanca?" tanya Banyak sambil mempercepat langkahnya. Seluruh Kutaraja bak diselimuti warna-warni dari mimpi buruk seorang pemetik bunga. Daun-daun beralih warna menjadi ungu pucat, sementara tanah di bawah kaki mereka menjadi terkotak-kotak hitam dan putih bak papan permainan chaturanga yang menjadi kegemaran Adityawarman.

"Jangan hiraukan!" potong Severa sambil mempercepat langkahnya sendiri. "Mereka orang-orang yang pikirannya mulai patah didera tekanan hawa siluman... kita tak bisa menolong mereka sekarang, terlalu lama."

"Kecuali kita membunuh siluman penyebab semua ini?" timpal Meiling yang berlari paling belakang.

"Ya! Sebisanya kita membuat ia mengalihkan perhatian dari menyalurkan hawanya menjadi racun udara seperti ini..." balas Severa sambil menikung di sebuah tikungan menuju ke arah alun-alun kota.

Apa yang menunggu mereka di alun-alun sungguh diluar dugaan. Ratusan warga kota, tua-muda, berkumpul dan bersujud ke arah Bale Manguntur. Rambut mereka kini berwarna aneh, mulai dari merah muda paling pucat hingga ungu tua paling gelap. Semuanya membentur-benturkan kepala ke tanah, mengulang-ulang sorak-sorai yang mengikis kewarasan pendengarnya.

"h1DUp pRaBU jAY4N39aRA! h1DUp pRaBU jAY4N39aRA! h1DUp pRaBU jAY4N39aRA!"

"Bagaimana... ini...?" gumam Banyak sambil mundur selangkah.

"Mungkin lebih baik kita memutari mereka...?" balas Tamamo sambil membalik badan. "Melawan mereka mau tidak mau memboroskan tenaga..."

"MuRtAaAaaAD!"

Sebuah seruan dari tengah kerumunan itu membuat sorak-sorai berhenti. Sontak segala macam gerakan diantara kelompok kecil Ra Tanca dan kelompok besar para pemuja Jayanegara berhenti.

"Tak ada pilihan lain..." geram Severa rendah. "Kita harus menembus gerombolan ini. Aku sebisanya harus menghemat kekuatan untuk menghadapi lawan kita nanti. Maaf, tapi tolong hadapi mereka sampai kita bisa mendobrak ke dalam Bale Manguntur."

"Baik!" balas Meiling dan Banyak.

"Dinda, hati-hati..." timpal Tanca sambil membentuk lapis belakang pertahanan bersama Tamamo. Mereka berdua menghadap ke sisi yang kurang banyak dipadati musuh.

"Apapun yang terjadi, jangan keluarkan lantaka kita," ujar Tamamo menimpali. "Terlalu berharga."

"Untungnya Dharmaputra semuanya belajar Brajamusti," ujar Banyak sambil memasang kuda-kuda.

"MuRtAD! MuRtAD! MuRtAD! MuRtAD! MuRtAD! MuRtAD!"

Gemuruh sorak-sorai gila itu bak akan menelan rombongan para Dharmaputra. Orang-orang yang sedang 'memuja' itu mengalihkan perhatian ke arah Tanca, Tamamo, Banyak, dan Meiling yang bersiaga. Untuk sementara, tak ada yang berani bergerak. Keadaan beku itu tak bertahan lama.

"94nYa4444444NG!"

Pertempuran itu meledak bak gunung berapi. Ratusan orang menyerbu hampir serentak, berniat untuk tak memberi kesempatan sedikitpun untuk mempersiapkan diri. Keempat pendekar itu diam saja, bak patung empat Hewan Suci penjaga kahyangan.

"HAAA!"

Sebuah ledakan tenaga akhirnya mendorong mundur para penyerang terdepan dengan dahsyat. Bak ditabuhi gendang yang memulai pertempuran, keempat pendekar itu pun menahan gempuran ratusan orang bak tebing batu diterpa air sungai. Tampak Meiling yang pertama unjuk kegagahan, memukul mundur dan bahkan melemparkan tak kurang dari lima belas orang ke udara dengan satu hantaman punggung saja. Tubuhnya yang keras ditempa kungfu Cina melibas musuh bak sabit tajam memotong padi. Pukulan, tendangan, dan hantaman menjadi senjata utama Meiling melawan gerombolan orang yang bak tiada takutnya itu.

Bak badai emas berhias petir menyambar, Tamamo mengerahkan segenap kekuatan dan ilmu kanuragannya. Sedikit lain dengan manusia, bangsa kitsune seperti Tamamo juga dapat menggunakan ekor mereka seperti lengan sotong untuk melilit, menangkap, dan melempar lawan. Kemampuan itulah yang utamanya ditunjukkan oleh Tamamo dan empat ekornya saat ini, terutama karena sang rubah juga ingin menyimpan tenaga untuk pertarungan ke depan.

Ra Banyak seperti tak mau ketinggalan unjuk kekuatan. Ilmu kanuragan yang dimilikinya agak terbatas, namun ilmu pernapasan miliknya maju. Ini membuat gaya bertarung sang rakryan seperti membabi-buta, memukul dan melempar ke segala arah tanpa jurus yang jelas. Walaupun begitu, para pendekar sekelas Kuti sekalipun sulit menghalangi amukan Ra Banyak karena ilmu pernapasannya mendukung gerakan liar dan sulit disangka itu. Pendekar setingkat Kuti pun bisa kalah oleh Banyak bila tidak siaga. Setiap pukulan dan hantaman sang rakryan kuatnya seperti banteng ketaton[13] karena ditunjang aliran tenaga dalam yang liar membuncah bak arus dan ombak Pantai Selatan.

Walaupun berada di belakang keempat pendekar yang berciri keras di depannya, Ra Tanca bukanlah orang yang bisa diremehkan begitu saja. Beberapa lawan yang sempat lepas dari hadangan ketiga pendekar didepannya pun merasakan kehebatan sang tabib dalam kanuragan. Kemampuan Tanca dalam beradu pukul memang tidak sebaik keenam saudaranya, namun ia punya keunggulan lain. Senjata yang dilemparnya pasti mengena sasaran dan menyebabkan kerusakan yang cukup berat, bahkan bila itu sebutir kerikil sekalipun. Dengan modal itu, ia bisa menundukkan beberapa penduduk gila yang hendak menerobos dari titik buta para pendekar di depannya.

"Jovis Catenos Fulguriens!" seru Severa yang berada di tengah formasi, akhirnya merapal mantera. Mantra itu melepaskan beberapa larik petir ungu ke arah para pemuja yang berkerumun. Beberapa belas pemuja di jalan larik petir itu pun terpanggang, sementara pemuja lain yang tak langsung terkena sambaran nampak kaku dan mengejang. Mereka pun akhirnya menjadi mangsa pukulan Banyak, Tamamo, dan Meiling.

"Tadi katanya mau menghemat tenaga, Dinda…?" tanya Tanca

"Tak ada jalan lain, rubah bodoh itu membiarkan mereka lepas," gerutu Severa. Tanca hanya bisa geleng-geleng kepala.

Lima menit berlalu, dan para pemuja Jayanegara yang tewas atau tak sadarkan diri pun menumpuk bak bukit. Walaupun dirasuki hawa siluman, para pemuja Jayanegara itu masih mengenali kekuatan mutlak dan berhenti sejenak. Ini menimbulkan sedikit ketegangan diantara keempat pendekar yang mengelilingi Severa. Jangan-jangan ada yang menunggu di belakang gerombolan ini...

"Ilmu kanuragan milikmu... hebat juga, Nyai," komentar Banyak sambil mencoba menenangkan napas, bak ingin mengusir ketegangan hatinya.

"Aiya, ini belum ada apa-apanya. Gongfu[14] saya sudah mulai berkarat," balas Meiling sambil tersenyum.

"Hati-hati," sergah Tamamo sambil mengawasi penduduk yang ragu-ragu melangkah.

Benar saja, dari arah belakang para pemuja Jayanegara itu kerumunan mulai agak tersibak. Penduduk nampak memberi jalan untuk orang yang belum nampak jelas dari sudut pandang para pendekar.


...


"Mana si Jaya itu... belum juga kembali..." gumam Wedeng itu sambil mendenguskan nafas tak sabar.

"Sabarlah sedikit, Ra Wedeng," balas sang kapten kapal tempur itu sambil menepuk bahu sang rakryan. "Matahari belum naik sampai setombak. Pasti Jaya baru selesai mengistirahatkan kudanya dan baru akan berangkat. "

"Bah! Kamu terlalu santai, Anjasmara," gerutu Wedeng sambil mengamati sekitar. Dermaga penyeberangan kecil di pinggir kampung itu senyap, kebanyakan masyarakatnya sedang pergi menanam ladang.

"Ada kuda mendekat, Rakryan!" teriak sang pengamat yang duduk di puncak tiang layar utama.

"Oh, pucuk dicinta ulam tiba," ujar Wedeng sambil berjalan menuju ke samping kapal, penasaran berita apa yang akan dibawa Jaya. "Eh? Itu..."

"Itu bukan Jaya," balas Anjasmara sambil memicingkan mata, penglihatannya yakin bahwa itu bukan kuda yang tadi dia pinjam dari lurah desa ini.

"Iya, itu si Tulodo, kudanya Banyak..." ujar Wedeng sambil melompat turun ke dermaga hendak menyongsong pengendara kuda yang kini sudah memperlambat kudanya itu. "... Nyi Medang?"

"Salam, Kakang Wedeng, panglima," balas Medang sambil berhenti dan turun dari kuda. "Musuh kita sudah bergerak, dan ini lebih cepat dari segala prakiraan. Mas Banyak bersama Nyi Sewera, Nyi Tamam, Nyi Meling, dan Kakang Tanca sedang berusaha menggempur mereka, tapi kita harus cepat."

"Setan alas..." rutuk Wedeng sambil meminta sebuah tangga tali diturunkan untuk Medang. "Anjasmara! Kita berangkat sekarang! Musuh kita bergerak lebih cepat dari yang kami kira!"

"Tunggu, Kakang Wedeng!" seru Medang sambil menurunkan sebuah guci gerabah kecil dari tas pelana kuda. "Sebelum itu, kumpulkan seluruh orangmu di sini. Ada yang harus dilakukan sebelum kita bisa menyerbu... oh, dan ambilkan segentong air."

Walaupun agak heran, Wedeng menurut. Disuruhnya Anjasmara dan pasukannya untuk berkumpul di dermaga kecil itu. Ia pun tak terlalu banyak bertanya ketika orang-orang Anjasmara mengambilkan air. Ia akhirnya bertanya ketika isi guci gerabah itu dituang ke dalam gentong air yang diminta sang wanita.

"Apa isi guci itu?" tanya Anjasmara penasaran ketika Nyi Medang mencampur isi guci dengan air sungai dalam gentong.

"Ini untuk menangkal hawa siluman," balas Nyi Medang sambil mengaduk campuran itu agar merata. "Kami semua tak sempat mempersiapkan diri dengan sempurna saat dedemit itu memulai serangan dengan meyebarkan hawa siluman. Kami semua nyaris jadi korban kalau saja Nyi Tamam tidak bertindak cepat..."

"Bagaimana dengan istriku?" tanya Wedeng khawatir.

"Nyi Rangga, Nyi Kemala, Nyi Damar, serta semua emban dan pengawal di Balai Pualam sudah dilindungi dan tidak akan terpengaruh selama mereka ada di dalam pagar yang dibuat Nyi Tamam. Nyi Sewera yang memastikannya," ujar Nyi Medang sambil menghela nafas. "Nampaknya cukup. Semua yang akan ikut serangan ini harus membasuh muka dulu dengan air ini agar tidak pingsan ketika memasuki daerah siluman."

"Kalian sudah dengar Nyai ini!" perintah Anjasmara sambil menunjuk gentong besar itu. "Yang mau ikut aku dan kakang Wedeng bertempur di kutaraja, basuh muka kalian! Yang tidak berani tinggal saja di sini!"


...


"Hrrrmmm... hebat juga kalian sampai ke sini," sebuah geraman terdengar menggema dari seberang kerumunan pemuja Jayanegara.

"Suara ini..." gumam Banyak sambil berdiri lebih tegak. Otot-otot besar sang rakryan berkedut, bak tak sabar menunggu pemiliknya melayangkan ketupat bangkahulu pada sosok yang membuat kroco-kroco itu minggir.

"Mahapatih... Halayudha...?" gumam Tanca agak gugup. Ia kenal suara itu, dan tahu senapati bertubuh kurus itu salah satu orang kepercayaan Jayanegara. Hampir kepastian kalau dia masih ada di istana saat ini.

"Heeei! Siapa itu yang berani membuat onar ditengah upacara suci ini?" seru seorang tinggi-besar sambil maju ke depan kerumunan pemuja, seorang yang dikenal oleh mereka semua sebagai Senapati Jabung Trewes. Tanca ingat sekali, kumis dan jenggot sang panglima berwana kekuningan karena kesenangannya akan pewarna pacar; namun orang yang berdiri di depan mereka berambut merah pekat seperti darah. Matanya liar, dengan kelopak yang tampak sedikit membiru seperti orang kurang tidur.

"Orang ini sudah dipengaruhi oleh hawa siluman..." desis Tamamo sambil memasang kuda-kuda.

"Suara itu... Si Rubah Emas yang sohor itu, ya? Sudah kuduga kau bakal muncul," ujar Jabung Trewes sambil menyibak kerumunan orang, maju ke gelanggang laga. "Wah wah wah! Semua pemberontak sudah berkumpul di sini."

"Senapati Jabung Trewes, ya...? Ah, aku tak heran kalau dia telah berhasil dipengaruhi oleh udara kotor ini," gumam Severa sambil mempersiapkan sebuah tongkat kayu sepanjang lima hasta di tangannya.

"Heh heh heh... Bahkan saat kerasukan kau tak berubah ya, Jabung?" ujar Banyak sambil tertawa kecil dan melangkah maju.

"Kakang Banyak, kau..." ucap Tanca tertahan.

"Serahkan saja si Jabungkampret ini padaku," ujar Banyak sambil menggeretakkan buku-buku jarinya. "Kebetulan aku ada utang dengannya."

"Besar juga omongmu, he angsa!" hardik Jabung Trewes sambil menyeringai. "Pemberontak macam dirimu musti dibasmi!"

Kelima petarung lainnya semua terdiam, sebelum akhirnya Severa angkat bicara.

"Ya sudah, saling bunuh saja kalian," geramnya sambil melangkah maju setelah melempar sebuah botol yang ditangkap Banyak, tak peduli dengan Jabung Trewes yang siap menerkam perempuan bertubuh kecil langsing itu. Benar saja, belum tiga langkah maju, sang senapati sudah maju menerkam. Tak sampai selangkah dari tubuh kecil itu pula, sang panglima terhenti oleh pukulan Banyak yang bersarang di ulu hatinya.

"Lihat ke mana, hee?" ujar Banyak sambil menyeringai. "Hutang ketupatmu belum lunas!"

"Kakang!" Seru Tanca menyusul Severa sambil melempar beberapa pisaunya ke arah Jabung Trewes. Di luar dugaan, pisau-pisau itu terpental saat menyentuh kulit sang senapati.

"Sudah, maju! Aku akan baik-baik saja!" ujar Banyak sambil memukul mundur sang Senapati, memberi kesempatan bagi Tamamo dan yang lainnya untuk melangkah maju. Para pemuja yang tadi memberi jalan untuk Jabung Trewes tidak maju, bak ditahan oleh sesuatu.

"Hrrnnn... boleh juga pukulanmu, angsa!" ujar Jabung Trewes yang terpental empat langkah ke belakang. "Tapi sekarang tinggal kau dan aku. Kau akan kumakan!"

"Pantas kau mau memakanku," balas Banyak sambil memasang kuda-kuda. "Kegedhen lambe[15]!"


...


"Ugh..." gerutu Gajah Mada sambil berusaha menggerakkan tangan dan bangkit. Hal terakhir yang ia ingat adalah jatuh dari kudanya dan terbentur sesuatu. Semoga saja tak ada yang patah, pikir sang bekel sambil mencoba menggerakkan jari kakinya.

"h1DUp pRaBU jAY4N39aRA! h1DUp pRaBU jAY4N39aRA! h1DUp pRaBU jAY4N39aRA!"

"Suara apa itu..." gumam sang bekel sambil mengusap-usap belakang kepalanya. Ia juga bisa merasakan jari kakinya bergerak tanpa rasa sakit yang berarti, berarti tidak ada yang terluka atau patah. Sekarang, ia juga bisa merasakan tekanan di pelipisnya. Semacam santet? pikir sang bekel sambil bangkit. Dikerahkannya pula ilmu pernapasan Brajamusti untuk menekan hawa buruk yang membuat kepalanya pusing itu.

"B-bekel..." terdengar suara rintihan Danagama.

"Danagama...?" balas Gajah Mada sambil berusaha bangkit walau kaki sang bekel masih terasa agak pegal dan sedikit mati rasa.

"B-bekel... tolong... suara itu..." rintih sang bawahan dari balik sebuah pohon besar.

"Bertahanlah, Danagama!" perintah Gajah Mada sambil berjalan terseok-seok ke arah pohon di mana Danagama bersandar. "Kerahkan Brajamusti untuk menekan hawa siluman!"

"Suaranya... suaranya tak mau berhenti..." gumam Danagama sambil membuat suara sesuatu membentur kayu. "HENTIKAAAAN!"

"...Jagad Dewa Batara..." gumam Gajah Mada sambil menutup mulut dan hidungnya ketika ia akhirnya bertemu muka dengan Danagama.

Keadaan sang pengawal itu mengenaskan. Tangan dan kaki Danagama nampak bersatu ke dalam akar kayu sebuah pohon yang nampaknya sudah mengering, membuatnya tak bisa bergerak. Rambut sang pengawal yang tadinya hitam berubah warna bak pelangi, berpusar dan berkedut bak punya kehidupan sendiri. Mata sang pengawal merah, tapi bukan seperti layaknya sakit mata biasa; bagian putihnya sudah memerah seperti dicat merah, sementara bagian hitamnya semakin didesak oleh bagian yang kini memerah.

"Bekel... suara-suara itu..." rintih Danagama sambil membentur-benturkan kepala ke patang pohon.

"Lawan suara itu, Danagama!" seru sang bekel sambil melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dijadikan penolong untuk bawahannya itu. Pandangannya seketika terkunci pada sebuah golok yang tergeletak tak jauh dari Danagama, nampaknya terjatuh dari kuda saat mereka berontak.

"AAAAAAARGHHH!"

Baru sang bekel mencabut golok yang tergeletak tak jauh dari sang bawahan, ia harus menangkis sebatang cabang yang hendak memukulnya di belakang kepala.

"Jagad Dewa Batara..." desis sang bekel ketika mendapati sumber serangan. Gajah Mada menemukan dirinya berhadapan dengan sebuah pohon hidup, dengan cabang-cabang tajam yang bisa menyambar bak cakar-cakar kejam.


...


"Aiya, sudah berapa lama kita sudah lari?" tanya Meiling sambil memimpin jalan mereka ke arah Bale Manguntur. Kerumunan pemuja yang mereka tinggalkan nampaknya tak bergerak, lebih senang mengepung pertarungan Banyak lawan Jabung Trewes daripada mengejar.

"Terlalu lama..." gumam Tanca sambil mengikuti. "Seharusnya jarak dari Bale Pualam ke Bale Manguntur tak sejauh ini, tak sejauh camar terbang. Berlari malah lebih cepat lagi... tapi rasanya kita sudah berjalan hampir sepagian. Ini tak masuk akal."

"Itu karena siluman ini bisa menggunakan ilmunya untuk membuat segala indera kita kacau. Sering pasukan yang dikirim membasmi mereka tersesat berputar-putar di tempat yang sama," ujar Severa yang berlari dengan nafas memburu di belakang Tanca. "Dalam daerah ini, kenyataan ditulis ulang sesuai keinginan siluman keparat itu."

"...Seve, kau tak apa-apa? Nafasmu tak teratur..." imbuh Tamamo yang mengikuti paling belakang.

"A-aku tak apa-apa! Bukannya aku capek atau apa!" balas Severa sambil terus berusaha berlari.

"Ya sudahlah, kita bisa beristirahat dulu," ujar Tanca menengahi sambil menepuk pundak Meiling. "Nyi Meling, kita istirahat dulu sebentar."

"Aah, mungkin memang kita berhenti sejenak ya," ucap Meiling sambil berhenti di sebuah persimpangan.

"N-nih!" ujar Severa sambil membagikan beberapa tempat minum dari bambu. "Ini bukan tanda terima kasih! Aku haus dan pasti kalian juga!"

"Aww~ Makasih ya Seve~" goda Tamamo sambil mengelus kepala Severa, yang lebih pendek hampir satu hasta dibandingkan dirinya.

"Nampaknya... kita ada di sekitar kediaman Dyah Adityawarman..." gumam Tanca seusai minum. "Aku khawatir akan keadaan beliau... bagaimanapun beliau adalah mantri yang istimewa. Bila sampai kehilangan beliau, Majapahit bisa mundur sepuluh langkah untuk setiap kemajuannya saat ini."

"Kukira bukan langkah yang buruk," ujar Severa sambil mengatur nafas. "Toh kita sedang disesatkan oleh siluman keparat itu. Siapa tahu kita bisa mendapat jalan lain dengan keluar dari jalan utama."

"Baiklah~" imbuh Tamamo sambil menaruh botol minumnya dalam lipatan jubahnya.

"Yang jadi masalah sekarang, apa Dyah Adityawarman bisa bertahan dari serangan pertama," Meiling menawarkan pendapat. "Apa beliau punya kungfu?"

"Katanya beliau punya kebisaan dalam ilmu silat warisan dari ayahnya, tapi aku tidak terlalu yakin," imbuh Tanca. "Tapi dari beberapa kali aku memeriksa beliau, beliau punya sedikit tenaga dalam. Rasanya setara dengan Brajamusti tingkat satu atau dua."

"Harusnya itu juga cukup, apalagi kalau si penasihat itu punya mestika-mestika untuk mempertahankan diri," ujar Severa sambil menyimpan kembali tempat minumnya. "Tapi kita tak pernah tahu dalam situasi seperti ini."

"Kalau begitu, sebaiknya kita bergegas," Tamamo menyimpulkan. "Rumahnya sekitar dua persimpangan lagi, kan?"

"Betul, dinda. Mari, sebaiknya kita bergegas," ujar Tanca sambil sedikit meregangkan kakinya.

...

Di pinggiran kutaraja, sebuah jung tempur kecil tampak berlayar masuk melawan arus sungai ke dalam kota. Seluruh meriam yang mereka punyai disiagakan, siap menembak musuh. Semua awak yang ada entah sedang menyiapkan meriam, mendorong maju perahu dengan dayung dan galah, atau berjaga dengan cemas di dek.

"Setan alas..." geram Ra Wedeng yang mengerahkan Brajamusti miliknya untuk menekan hawa siluman. "Gila. Siluman itu bisa mengubah kutaraja sampai jadi mimpi buruk begini..."

"Setelah dipikir-pikir lagi, memang mengerikan..." imbuh Medang sambil berdiri di belakang Wedeng. Di sekeliling mereka, para awak perahu sibuk mendorong perahu dengan galah bambu. "Tak terdengar suara hewan apapun... burung, kucing, anjing... bahkan angin pun tak bertiup."

"...Kau betul, Nyai," ujar Anjasmara yang baru keluar dari palka. "Hee Unang! Bagaimana di atas sana?"

"Saya... kehabisan kata-kata, rakryan!" balas awak bernama Unang itu. Ia sedang berdiri di sebuah pijakan dekat puncak tiang layar, biasa digunakan untuk memindai cakrawala dan mengintai musuh. "Seluruh kota nampaknya berubah warna, seperti ada yang mengecat dengan warna-warna yang aneh! Dan ada payung kerajaan besar yang tiangnya mencuat dari tengah kutaraja!"

"Apa mungkin kita harus menumbangkan payung itu agar mantra keparat ini bisa diakhiri?" gumam Wedeng sambil melipat tangan.

"Aku tak tahu persis..." balas Medang sambil menghela nafas. "Tapi kalau itu pusat segala kegilaan yang sedang berlangsung, sangat mungkin Ra Tanca dan suamiku akan menuju ke sana."

"Ada orang!" seru Unang dari tempatnya berdiri. "Tapi... tapi mereka... nampak aneh, Rakryan! Tidak seperti manusia biasa! Rambutnya tidak hitam, dan nampaknya kulitnya pucat sekali! Mereka... jagad Dewa Batara, banyak yang berkerumun dan menunjuk-nunjuk kita!"

"Kota ini sudah gila semua..." rutuk Wedeng. "Hooi kalian! Siapkan senjata dan panah kalian! Siaplah kalau mereka mencoba naik!"

" Nyai, kau bawa senjata?" tanya Anjasmara.

"Tidak, tapi kalau kalian punya toya untuk kugunakan, itu bagus," jawab Medang sambil menghela nafas.

"Kami punya senjata cadangan di bawah..." balas Anjasmara cepat. "Ada tombak, pedang, dan busur-panah."

"Panah juga boleh," ujar Medang sambil menuju palka.

"h1DUp pRaBU jAY4N39aRA!"

Sorak-sorai kaum pemuja yang mulai terdengar itu terdengar semakin santer. Jumlah mereka yang tadinya beberapa gelintir sekarang bak memenuhi kedua tepi sungai. Dengan wajah yang liar, mereka bak menunggu perahu itu berlabuh atau menemui jembatan. Setidaknya sampai sebuah panah melesat dan mengubur matanya di tengah dahi seorang pemuja. Anjasmara dan Wedeng terhenyak, dan setelah melihat sekeliling menemui Medang dengan busur yang baru saja ditembakkan. Semua pihak pun hening sejenak.

"Sungai akan menghalangi mereka. Tak ada salahnya mengurangi musuh, toh jumlah mereka pasti tidak tak terbatas," ungkap perempuan itu tenang.

"94nYa4444444NG!"

"Sebenarnya itu... ide yang bagus juga," gumam Anjasmara sambil memperhatikan para pemuja tumpah ruah ke sungai yang cukup lebar dan dalam itu. "Hee, turunkan jangkar! Biar kita tunggui mereka ha..."

"Jangan! Maju terus!" seru Wedeng sambil memberi isyarat. "Kalau kita diam dan mereka sampai ke sini, kita bisa jadi makanan empuk! Biar kita tunggu berlabuh saja, karena paling tidak kita bisa lari ke darat!"

"Itu juga betul," ujar Medang sambil tertawa kecil dan melepas panah, setiap panahnya merenggut satu nyawa entah karena tertembus atau tenggelam.

"Rakryan, apa perlu kita menembak mereka dengan meriam? Sekarang pun sudah mulai ada yang masuk jarak tembak..." tanya seorang pelaut pada Anjasmara.

"Jangan dulu, mungkin...?" balas Anjasmara agak ragu. "Aku tak yakin berapa banyak tembakan yang kita butuhkan untuk menjatuhkan payung itu..."

"Jangan kuatir, kita bawa gotri[16] juga," ujar Wedeng sambil melepaskan panah pada seorang pemuja yang sudah terlalu dekat. "Habiskan saja peluru gotri kita di sini, toh kita tak bisa menembak saat kita memindahkan meriam ke arah Bale Manguntur!"

"Kalian dengar sang rakryan!" seru Anjasmara sambil menoleh ke arah anak buahnya. "Siapkan meriam, isi dengan gotri! Bersiaplah menembak ke arah kompulan musuh yang paling banyak!"

"Baik, rakryan!"


...


"Kalian dengar itu?" tanya Tanca sambil tetap bergerak. Kediaman Adityawarman sudah dekat, dan mereka semua tak lagi berlari.

"Ya... dentum meriam, tak salah lagi," imbuh Tamamo. Telinganya berkedut sedikit, berusaha mencari asal suara. "Rasanya dari arah kali..."

"Berarti si Medang berhasil mencegat perahu Wedeng, dan mereka tak terpengaruh hawa siluman..." desis Severa sambil mengelus dagu. "Tapi aku tak mengerti, kenapa mereka membuang-buang peluru?"

"Mungkin mereka memakai peluru gotri," ujar Meiling yang menjaga arah belakang mereka. "Kakekku dulu pernah bekerja pada Keluarga Ching di Campa. Mereka memakai peluru gotri untuk mengurangi jumlah awak kapal sebelum mereka naiki..."

"Betul juga... kalau mereka punya grapeshot dan mereka memakainya pada kerumunan orang seperti tadi... dampaknya bakal mengerikan," ujar Severa sambil manggut-manggut.

"...kenapa tiba-tiba jadi berkabut?" gumam Tamamo sambil memperlihatkan sekeliling. Benar saja, kabut putih mulai turun bak subuh, padahal mereka berangkat agak siang.

"Ini pengaruh hawa siluman, hati-hati," geram Severa sambil bergerak maju dengan kuda-kuda siaga. "Jangankan cuaca, waktu pun menjadi mainannya..."

"Aiya... merepotkan sekali..." komentar Meiling sambil mendengus. "Tunggu... rasanya aku mendengar langkah kaki. Hanya sedikit."

"Kau benar..." imbuh Tamamo sambil bersiaga. "Dan ia bergerak ke arah kita..."

"Tunggu, bukannya itu... Yuyu?" gumam Tanca sambil menyipitkan mata. Benar saja, sebuah bayangan yang tak asing tampak di depan, mendekati mereka dengan langkah yang sama hati-hatinya.

"Ah... Airen! Di sini, Airen!" seru Meiling memanggil suaminya itu. Sejenak siluet itu melonggarkan pertahanannya, sebelum melejit cepat ke arah tengah formasi empat orang itu.

"Kakang!" seru Tanca tertahan ketika sosok itu mengubur salah satu golok kembarnya di perut Tanca.


Glossarium

[13]: 'Seperti banteng ketaton' adalah ungkapan Jawa yang berarti 'mengamuk membabi buta'.

[14]: Gongfu di sini bukan merujuk pada kungfu-nya itu sendiri, melainkan hasil dari latihan.

[15]: 'kebesaran mulut', bhs. Jawa.

[16]: 'Grapeshot' saya terjemahkan menjadi 'peluru gotri'. Wujudnya adalah bola-bola timbal (logam lain atau bahkan kerikil juga bisa) yang dibungkus dalam kantong kain lalu ditembakkan seperti layaknya peluru meriam biasa. Karena bentuknya kecil-kecil dan tak seberat bola meriam yang biasa, peluru ini tak bisa menembus dinding kapal; namun karena pelurunya menyebar setelah ditembakkan, peluru jenis ini sangat efektif untuk ditembakkan ke kerumunan orang.


A/N: Bagi yang mengikuti Madoka Magica, apa penggambaran saya terhadap Labirin Witch udah tepat? :3c