LOVE IN BLUE HOUSE / CHAP 2
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Action (mungkin)
Pairing : Sasusaku
Rating : T
WARNING
TYPO, HINATANYA OOC BANGET, EYD BERANTAKAN DAN ABAL
.
.
Pagi menjelang. Suara burung berkicauan saling bersahutan untuk menyambut pagi yang indah dan cerah. Hinata sudah mempersiapkan semuanya. Dia memakai kemeja putih dengan blazer hitam di luarnya, serta celana panjang dan sepatu pantofel hitam tak lupa ia kenakan. Memang persyaratan baju yang dikenakan bagi orang yang akan menuju rumah istana presiden itu sangatlah ketat. Harus rapi dan resmi apalagi bagi calon pegawai di Blue House. Pukul delapan pagi merupakan jadwal dimana Hinata harus melakukan rentetan test. Namun dia memutuskan untuk datang lebih awal. Dia sudah tidak sabar untuk ada di sekitar lingkungan Blue House.
Blue House memiliki nama Jepang yaitu Seifu no kyūden. Luas Blue House sendiri sekitar dua ratus lima puluh ribu meter persegi yang terdiri dari beberapa bagian. Jarak antara pagar dengan rumah presiden lumayan jauh dan berpagar tinggi. Diantara dua sisi jalan di jaga ketat oleh pengawal. Blue House terdiri dari berbagai ruangan atau tempat diantaranya adalah tempat pers, kantor, tempat tinggal presiden dan departemen keamanan presiden. Hinata tersenyum senang ketika ia sudah sampai di depan pintu gerbang blue house. Sebelum ia masuk lebih dalam Hinata harus menyerahkan ID card terlebih dahulu. Setelah di periksa dengan ketat Hinata, ia pun diperbolehkan masuk. Hinata semakin semangat untuk menjalani hari pagi ini. Dari jauh dia melihat sebuah patung bersayap berdiri kokoh dan tegak di atas pondasi yang berbentuk bundar. Itu adalah bagian depan dari paviliun musim semi dan gugur yang biasanya dikenal dengan Aki to natsu. Aki to natsu merupakan tempat konfrensi pers presiden dan kantor untuk wartawan local serta asing. Hinata sebelumnya hanya melihat tempat ini di dorama saja namun sekarang ia bisa melihat secara langsung.
"Hei kau yang disana. Bisa tunggu aku sebentar?" teriak seseorang.
Suara seorang perempuan memecah kesunyian di sekitar Hinata. Mau tidak mau Hinata berhenti dan menunggu perempuan itu berlari kearahnya. Seragam yang di kenakan gadis itu sama dengan dirinya. Dilihat dari umur, mereka sebaya. Nafas gadis itu tersengal-sengal karena terlalu jauh berlari.
"Apa kau akan mengikuti test pengawal presiden hari ini?" tanya gadis itu.
"Eoh iya. Aku ikut test itu. Kenapa?" tanya Hinata polos.
"Syukurlah, kebetulan sekali. Kenalkan namaku Haruno Sakura. Aku juga mengikuti test itu. Kalau begitu ayo kita berangkat bersama. Ehm siapa namaniu" ucapnya Sakura ramah.
"Namaku Hinata, Hyuga Hinata" jawab Hinata singkat.
Mereka berdua saling tebar senyuman dan berjalan bersama menuju tempat khusus department keamanan presiden yang merupakan bagian dari Blue house. Ternyata yang ikut test ini lumayan banyak, ada sekitar lima puluh orang yang mendaftar tentunya pria lebih dominan disini. Untuk perempuan hanya ada tujuh orang. Banyak sekali rentetan test hari ini mulai dari test menembak, test bela diri, test psikologi dan yang terakhir adalah test ilmu pengetahuan. Menjadi pengawal presiden tidak hanya cekatan, tanggap, berani dan tangguh namun juga harus pintar. Seleksi ini begitu ketat. Dari lima puluh orang hanya akan di ambil sekitar sepuluh orang saja. Test baru akan dimulai satu jam lagi. Hinata ingin memanfaatkan waktu ini untuk melihat Blue House secara keseluruhan. Ada di dalam Blue House itu adalah impiannya jadi tak mungkin Hinata mengyia-nyiakan kesempatan ini.
"Sakura-chan, aku pergi dulu sebentar".
"Kemana?" tanya Sakura.
"Aku ingin melihat keseluruhan dari Blue House. Apa kau mau ikut?" tawar Hinata.
"Tapi satu jam lagi test akan di mulai. Aku takut nanti terlambat lagipula aku terlalu gugup dan masih belum maksimal menyiapkan semuanya. Gomen Hinata-chan".
"Eohtidak apa-apa. Aku pergi dulu".
"Iya, tapi kembalilah tepat waktu okey".
ooOOoo
Hinata mengangguk pelan. Tempat yang ia kunjungi pertama kali adalah balai publisitas karena letaknya tak begitu jauh dengan Departemen keamanan Presiden. Balai publisitas seperti sebuah galeri foto dan benda-benda unik milik president. Ada beberapa hadiah dari kepala Negara lain yang di pamerkan disitu. Suasana balai publisitas ini sangatlah sepi. Tidak banyak orang yang datang. Hinata terkesima dengan benda-benda yang dipamerkan di balai ini. Setelah puas Hinata kembali melanjutkan perjalanannya di sebuah tempat yang paling indah di Blue House yaitu Utsukushī. Utsukushī adalah sebuah lapangan rumput yang luas. Terdapat banyak pohon pinus di Utsukushī serta rumah tradisional Jepang di tengah-tengah pohon pinus. Sekarang adalah musim semi sehingga rumput yang di lapangan begitu hijau dan indah. Dia berjalan menuju sebuah bangku panjang yang terletak di bawah pohon pinus. Hinata tersenyum bahagia dengan pemandangan yang ada di depan matanya sekarang. Ia menarik nafas panjang dan memejamkan mata untuk menikmati suasana.
"Utsukushī ini benar-benar indah" gumamnya.
Mata Hinata tak henti-hentinya melihat sekitar pemandangan di Utsukushī. Tak jauh dari dia duduk ada sebuah danau buatan yang indah. Ada sosok seorang pria setengah baya sedang memancing. Hinata berniat untuk menyapa dan mengajaknya bicara. Tanpa ragu ia melangkahkan kakinya dan duduk tepat di sebelah orang itu. Dia berumur sekitar empat puluh lima tahun. Hinata tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ia memakai topi. Paman itu sama sekali tak bergeming dari alat pancingnya. Dengan sabar ia menunggu umpannya di tarik oleh ikan yang ada di dalam danau.
"Selamat pagi paman!" sapa Hinata ramah.
Pria itu menoleh dan tersenyum ramah pada Hinata walaupun dia sebenarnya agak kaget juga. Tangan pria itu tiba-tiba terangkat keatas seperti memberi tanda untuk mengehentikan sesuatu.
"Selamat pagi" ucap laki-laki itu ramah dan tersenyum.
"Paman sedang memancing? memangnya di dalam danau itu ada ikannya?" tanya Hinata santai. Pria itu tertawa kecil mendengar pertanyaan polos dari Hinata.
"Apa nona bekerja di Blue House. Ini masih jam kerja kenapa anda keluar?".
"Ahh itu. Aku bukan pekerja disini paman. Sekarang aku sedang mengikuti test untuk menjadi staf keamanan presiden atau lebih tepatnya sebagai pengawal presiden. Satu jam kedepan test baru dimulai jadi aku memutuskan untuk berkeliling Blue House hehe".
"Pengawal presiden?" Tanya paman. Raut wajahnya menggambarkan keterkejutan yang luar biasa. Hinata mengangguk penuh semangat. "Kau adalah seorang wanita, kenapa nona mengambil pekerjaan yang beresiko seperti ini? Apa nona tahu menjadi pengawal presiden itu harus siap mati".
"Iya paman aku tahu. Tapi itu adalah cita-citaku. Aku ingin menjadi seperti ayah, dia adalah sosok superhero yang sebenarnya didalam hidupku, bahkan dalam kehidupan presiden. Lagipula aku memiliki bakat beladiri yang lumayan bagus, aku juga bisa menembak, maka dari itu aku lebih memilih menjadi pengawal presiden daripada menjadi pegawai biasa. Aku sangat tertarik dan ingin tahu kinerja pemerintah dan orang-orang yang telah memajukan Negara Jepang ini paman. Dulu kita bukanlah apa-apa namun semakin lama Negara Jepang menjadi salah satu Negara maju di dunia. Kalau bukan karena tangan-tangan hebat yang memimpin maka Jepang tak bisa menjadi Negara seperti ini".
Pria itu terkesima dengan jawaban gadis belia berumur dua puluh dua tahun yang ada di depannya. Dia tidak menyangka masih ada anak muda yang peduli dengan Negara dan ingin tahu semua tentang kinerja pemerintahan.
"Ayahmu seorang pengawal presiden? Siapa namanya?".
"Nama ayahku Hyuga Hiashi. Ayahku mengundurkan diri dari blue house sekitar tiga tahun lalu dan mencoba untuk membangun bisnis sendiri. Dia mengundurkan diri karena ingin lebih menghabiskan waktu untuk keluarga. Tapi satu tahun setelah itu, ayah dan ibu meninggal karena kecelakaan pesawat. Satu tahun pengangkatan presiden Namikaze Minato ayah masih bekerja untuknya". Raut wajah Hinata yang tadinya ceria menjadi sedih. Pria setengah baya yang ada disamping Hinata mengerti bagaimana suasana hati gadis itu. Jadi dia membahas topik lain.
"Apa benar kau bisa bela diri dengan baik? Aku tidak yakin kau akan masuk?"goda paman itu pada Hinata.
"Hei, Paman, aku adalah salah satu senior dari club bela diriku. Baik aku akan tunjukan padamu" Ucap Hinata penuh antusias.
Dia mulai memperagakan gerakan bela dirinya dengan semangat. Di mata pria separuh baya itu gerkan Hinata memang memiliki power tersendiri dan setara dengan gerakan bela diri walaupun Hinata seorang perempuan. Hinata terlalu semangat sehingga membuat sepatu yang ia kenakan lepas jauh dari kakinya ketika memperagakan gerakan menendang. Dia sangat malu, Hinata segera mengambil sepatu itu dan berhenti berdemo ilmu bela dirinya. Seorang paman yang tak Hinata kenal tertawa lepas melihat tingkahnya. Hinata kembali ke tempat duduknya.
"Ahahahahhah, nona anda ini lucu sekali". Paman tak henti-hentinya tertawa sedangkan Hinata hanya meringis karena malu.
" Oh ya, apa paman tukang kebun disini?". Paman itu berhenti tertawa sejenak mendengar pertanyaan Hinata. Detik berikutnya ia kembali tertawa. Tawanya lebih keras daripada sebelumnya. "Paman kenapa? Apanya yang lucu?".
"Ahahahaha, tidak, tidak ada yang lucu ahahha".
Hinata nyengir melihat tingkah aneh laki-laki tua dihadapannya. Tiba-tiba alarm ponselnya berbunyi. Tiga puluh menit sebelum test dimulai Hinata sudah men-setting alarm di ponsel agar dia tidak terlambat dan lupa waktu.
"Ehmm, paman. Aku harus segera kembali. Tiga puluh menit lagi test sudah di mulai. Maaf kalau aku berlaku tidak sopan kepada paman.".
"Silahkan. Lain kali aku ingin kau menemaniku memancing lagi". Ujar paman. Hinata terkejut dengan ucapan paman yang baru dia kenal.
"Eoh? Ah iya paman". Hinata membungkukan badannya untuk menghormati orang yang lebih tua darinya lalu pergi.
"Ya! Gadis muda, siapa namamu?!". Teriak paman itu keras.
"Nama saya Hinata". Balas Hinata dengan teriakan yang tak kalah keras. Hinata kemudian melambaikan tangannya kepada paman misterius.
Pria paruh baya itu tersenyum senang. Selama beberapa tahun terakhir tak pernah ia merasakan tertawa lepas seperti tadi karena adanya tugas Negara yang harus ia emban dan laksnakan. Ketika Hinata menjauh, ada dua orang pria berjas dan berkaca mata menghampiri dirinya.
"Sudah lama saya tidak melihat anda tertawa lepas seperti ini tuan". Ucap salah satu pria itu dengan senyuman ramah.
"Iya aku sendiri juga menyadari hal itu. Aku sudah menemukan satu pengawal untuk putraku yang memiliki karakter pendiam serta kaku. Sepertinya gadis itu bisa mengatasi putraku dengan baik dan memberikan warna dalam hidupnya.. Anak itu memiliki sifat yang sama dengan Hyuga Hiashi. Semoga Departement Keamanan presiden menerimanya ".
ooOOoo
Tak terasa hari sudah mulai senja. Hari ini benar-benar melelahkan untuk Hinata. Semua test sudah ia jalani dengan baik. Hinata yakin point lebih yang di dapat darinya adalah test menembak dan bela diri. Untuk yang lain ia masih ragu dengan hasilnya. Pengumuman untuk di terima tidaknya itu adalah besok. Pihak Blue House akan menghubunginya nanti. Hal pertama yang Hinata lakukan setelah pulang adalah berbagi cerita dengan Neji nii-san. Dia ingin menceritakan semua perasaan yang ia rasakan hari ini. Bukan rumah Neji yang ia datangi namun sebuah tempat pelatihan tembak. Neji begitu konsentarsi untuk menembak tepat pada sasaran. Dia memakai alat pelindung lengakap Headphone untuk meredam suara tembakan dan kaca mata tebal untuk melindungi mata dari pecahan peluru. Ledakan-ledakan pistol membahana di lapangan kecil yang penuh dengan patung kayu. Neji berhasil menumbangkan satu persatu patung yang berbaris dan bergerak.
"Wow, Nii-san kau hebat sekali. Semuanya tepat sasaran" celetuk Hinata tiba-tiba. Neji menoleh mendengar suara yang sudah tak asing ditelinganya. Hinata menunjukan cemilan ringan yang ada di tangannya kepada Neji sambil tersenyum.
"Oh kau Hinata. Bagaimana dengan testmu hari ini?". Neji melepas sarung tangan, kaca mata dan penutup ditelinganya. Dia berjalan mendekat ke tempat duduk Hinata.
"Semuanya berjalan dengan baik. Doakan saja semoga aku di terima menjadi salah satu pengawal di Blue House hehe".
"Aku tidak ingin mendoakanmu karena aku tidak suka dengan pekerjaanmu".
"Nii-sanmasih khawatir padaku? tenang saja aku bisa menjaga diri dengan baik. Aku akan melakukan yang terbaik dalam pekerjaanku".
"Memangnya apa yang kau harapkan dari pekerjaan itu? Kebanggaan karena bersama pejabat-pejabat Negara yang tidak bersih. Apa karena uang sehingga kau merelakan nyawamu sendiri? Apa presiden memberi jaminan padamu kalau kau tidak akan terluka bahkan meninggal. Tentunya semua itu tidak ada bukan. Presiden menjadi sasaran utama kriminalitas bahkan organisasi besar terorisme serta anti pemerintahan. Apa kau lihat keadaan Jepang sekarang? Banyak gejolak yang terjadi di masyarakat. Organisasi anti pemerintahan sudah mulai ada. Hal ini terjadi karena kelompok masyarakat yang tak puas dengan kinerja pemerintahan sekarang. Jadi aku mohon berhentilah untuk mengejar cita-citamu yang konyol itu. Jadilah seorang perempuan pada umumnya"
"Nii-saj sebenarnya kau ini kenapa? Bukannya kemarin kau mendukungku untuk mengejar cita-citaku walaupun kau tidak menyukainya. Kenapa kau mengatakan hal semenyakitkan ini padaku. ada apa sebenarnya?".
Neji terdiam. Dia tidak berani menatap Hinata sedikitpun. Neji beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Hinata tanpa pamitan. Hinata bingung dengan sikap Neji kepadanya. Caranya memandang dirinya, bukan pandangan yang bersahabat seutuhnya seperti biasa namun ada sedikit pandangan benci dan ketakutan yang teramat dalam.
"Neji nii-san!" teriak Hinata namun pria itu sama sekali tidak menghiraukannya
ooOOoo
Tak terasa hari kembali bertemu dengan matahari. Hinata melakukan kegiatan rutin setiap pagi yaitu membersihkan rumah, menyuci pakaian serta memasak. Sarapan yang dia buat bukan hanya untuk dirinya sendiri namun juga untuk Neji nii-san. Usai memasak, Hinata membawa hasil masakannya ke rumah Neji yang tak jauh dari rumahnya. Hinata sudah memencet bel beberapa kali namun Neji tidak muncul. Dia membuka pintu rumah Neji karena Hinata punya kunci servenya.
"Neji nii-san, aku membawakan sarapan untukmu. Apa kau ada dirumah?".
Tak ada jawaban sama sekali. Hinata berjalan menuju kamar Neji. Mungkin dia masih tidur. Batin Hinata. Namun dugaannya salah, Neji juga tidak ada di dalam kamar.
"Mungkin dia sedang berolahraga" gumam Hinata.
Beginilah keadaan rumah Neji berantakan, tak terawat dan kotor. Nasib Neji sama dengan Hinata. Hidup sebatangkara dan membiayai kebutuhan dengan jerih payah sendiri. Neji mencoba hidup mandiri. Kerja keras Neji terbukti dengan yang sudah dia dapat sekarang. Neji adalah sosok pria yang suka dengan hal-hal yang berbau militer, taktik perang bahkan kadang dia juga membaca buku tentang cara-cara membuat bom ringan sampai nuklir. Tak ada yang tak di ketahui oleh Hinata tentang Neji, sebagian besar ia tahu hal-hal kecil yang Neji lakukan. Hanya satu yang tidak di ketahui Hinata yaitu tentang pekerjaan Neji. Setiap Hinata Tanya tentang hal itu Neji selalu mengalihkan pembicaraan.
Melihat keadaan rumah orang yang selalu perhatian padanya tak terawat seperti ini membuat hati nuraninya tergerak untuk membalas budi. Hinata sedikit demi sedikit menata barang-barang berserakan di lantai bahkan sampah organik sisa makanan dimana-mana. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan cepat ia merogoh ponsel di sakunya. Sebuah nomer tidak di kenal menghubunginya tanpa henti.
"Moshi-moshi—Iya—benarkan—iya aku mengerti. Arigatou" Hinata menutup ponselnya sejenak. Senyum mengembang di bibirnya. "Yeeeee! Aku di terima kerja di Blue House!". Hinata berjingkrak riang mendapat kabar bahagia tersbut.
Tanpa berpikir panjang dia segera pulang kerumah untuk mempersiapkan semuanya. Hinata benar-benar tidak menyangka dia bisa diterima. Jalan menuju sukses dan hidup lebih baik sudah terbuka lebar di depan matanya. Tinggal bagaimana Hinata menjalani proses itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan melakukan semuanya dengan cara yang terbaik.
TO BE CONTINUE
TERIMA KASIH BAGI YANG SUDAH REVIEW, FAV DAN FOLLOW FF INI ^.^
