LOVE IN BLUE HOUSE / CHAP 3
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Action (mungkin)
Pairing : NaruHina
Rating : T
WARNING
TYPO, HINATA OOC BANGET, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN, ALUR KECEPETAN DAN ABAL
.
.
.
Di depan bangunan Aki to natsu atau yang biasa disebut dengan gedung musim semi dan gugur. Para pengawal yang sudah terpilih berbaris rapi. Seragam mereka sangat sederhana hanya berjas dan dalamnya kemeja putih. Ada beberapa alat yang harus mereka pakai radio dan yang wajib adalah pistol. Pengawal yang di terima hanyalah sepuluh orang. Lima orang untuk pengawal presiden dan lima orang lagi untuk pengawal putra presiden. Ketua teratas dari pengawal presiden sudah membagi sepuluh yang teripilih dengan tugasnya masing-masing. Hinata dan teman yang baru dikenalnya Haruno Sakura mendapat tugas untuk mengawal putra presiden beserta tiga pria lainnya. sedangkan lima orang lainnya bertugas untuk mengawal presidennya sendiri. Sebelum melaksanakan tugas pertama mereka, Hinata dan pengawal yang lain mengucapkan sumpah atau janji terlebih dahulu untuk memberi semangat pada diri mereka
"Kami para pengawal istana blue house akan mengutamakan keselamatan keluarga presiden dan pejabat negara. Nyawa kami adalah nyawa mereka. Raga kami adalah raga mereka. Hidup kami adalah hidup mereka. Kami akan terus melindugi dalam keadaan apapun, bahkan jika nyawa kami taruhannya".
Semua pengawal mengucapkan kata sumpah dengan penuh semangat. Hinata agak berat mengucapkan kalimat terakhir. Ada perasaan takut yang ia rasakan namun memang itulah konsekuensi yang harus ia terima jika ia bekerja menjadi pengawal orang pertama di Jepang, Bahwa nyawanya sendiri bukan prioritas utama untuk diri sendiri namun nyawa orang lain yang lebih di utamakan.
"Baiklah, aku senang dan bangga melihat semangat kalian! Mulai sekarang lakukanlah semuanya dengan baik dan tak mengecewakan! ganbate!" kata ketua pengawal.
"GANBATE!"
ooOOoo
Hinata dan empat orang lainnya termasuk Haruno Sakura sudah berada di depan rumah mewah bercat putih. Bangunan ini adalah bangunan modern namun genteng atau atapnnya merupakan gaya arsitektur tradisional Jepang. Inilah bangunan utama diantara bangunan-bangunan yang ada di kompleks Blue House yang sering di sebut Seifu no kyūden. Bangunan mewah ini memiliki dua lantai. Lantai pertama adalah tempat ibu negara sedangkan lantai dua adalah tempat kepresidenan serta ruamg meeting. Hinata merasa senang dan bangga bisa berada tepat di depan rumah orang nomer satu di Jepang. Mereka berlima mengelilingi satu buah mobil mewah. Penjagaan untuk putra presiden lumayan ketat. Kalau kemana-mana selain mobil yang khusus untuk dirinya sendiri juga ada mobil khusus pengawal. Desas desus yang beredar dikalangan para pengawal, bahwa mereka akan menemani putra presiden pergi ke pulau Haterumauntuk urusan bisnis dengan investor asing hari ini. Tiga hari penuh mereka menghabiskan waktuk untuk menjaga putra presiden.
"Hinata apa kau sudah pernah bertemu putra presiden secara langsung?". Tanya Sakura tiba-tiba.
"Belum, tapi aku pernah melihatnya di telivisi. Dia benar-benar tampan hehe".
"Iya kau benar Hinata, dia benar-benar pria idolaku. Itu adalah alasanku kenapa aku ingin menjadi pengawal di blue house. Agar aku bisa bertemu dengan Namikaze Naruto haha".
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya mndengar alasan kenapa Sakura rela masuk dalam pekerjaan yang berbahaya ini hanya karena untuk bertemu dengan seorang putra presiden. Dari jauh Hinata melihat seorang pria memakai kaos putih polos berangkap rompi hitam yang terbuat dari kulit asli dan berkacamata berjalan gagah menuju mereka. Salah satu pengawal pria berlari cepat menuju laki-laki tampan itu untuk membawakan tasnya. Semakin lama pria itu semakin dekat. Semua pengawal berbaris lurus lalu memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Selamat pagi, perkenalkan saya Nagasawa Hitomi. Mulai hari ini saya akan mengawal anda " ucap seorang pria yang berperawakan tinggi besar dengan wajah tampan dan senyum yang menawan.
"Selamat pagi, perkenalkan saya Fujimura Shiho". Sekarang pria tinggi namun kurus dengan senang hati memperkenalkan dirinya pada putra presiden.
"Selamat pagi, perkenalkan saya pengawal baru anda nama saya Tonegawa Akemi" Pria yang tidak setinggi dua pria lainnya sedikit malu berhadapan dengan putra presiden.
"Selamat pagi, nama saya Haruno Sakura" ucapnya girang. Sakura benar-benar terlihat girang dan bahagia bisa berhadapan langsung dengan pria idolanya.
Mulai dari awal para pengawal memperkenalkan diri, wajah putra presiden itu sama sekali tak bersahabat bahkan terkesan angkuh dan arogan. Tak ada senyum sdikitpun yang terulas di bibirnya.
"Selamat pagi, perkenalkan saya Hyuga Hinata. Mulai hari ini saya akan mengawal anda" ucap Hinata santai dan ramah. Ia sedikit menundukan kepala sebagai tanda rasa hormatnya kepada salah satu anggota keluarga presiden.
Ekspresi putra presiden agak berbeda. Dia sedikit terkejut. Kaca mata hitam yang ia kenakan di lepas untuk memperjelas penglihatannya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Hinata malu mendapat tanggapan seperti itu. Semakin dekat pria wajah pria itu Hinata semakin merasa kalau wajah orang yang ada di depannya sangatlah tidak asing. Memori otaknya mulai bekerja secara perlahan untuk mengingat kejadian-kejadian beberapa hari lalu. Pria itu menjauhkan wajahnya, pandangannya sedikit sinis dan terkesan agak kesal. Hinata sekarang ingat benar-benar ingat kalau wajah pria yang ada di hadapannya sama persis dengan pria yang ia tuduh sebagai pencuri dua hari lalu. Dia semakin yakin setelah melihat plester kecil di ujung bibir kanannya. Hinata sedikit ketakutan dengan pikirannya sendiri. Dia berharap semoga apa yang ada di pikirannya salah besar.
"Biasanya di dalam mobil, aku di kawal oleh satu orang. Siapa yang bertugas mengawalku secara khusus hari ini?" tanyanya santai.
Semua pengawal saling pandang karena setahu mereka tidak ada aturan seperti itu. Ketua pengawal presiden mengatakan bahwa semuanya memiliki kerja yang setara untuk menjaga pejabat negara. Semua pengawal tak ada yang menjawab karena mereka tak tahu.
"Baik kalau begitu aku memilih dia untuk menjadi pengawal khususku hari ini". Sang putra presiden menunjuk tanpa ragu kearah Hinata. Sontak hal ini membuat Hinata kaget.
"A-aku?" tanya Hinata ragu sambil menunjuk batang hidungnya sendiri.
"Baiklah, sekarang ayo kita berangkat. Hari sudah semakin siang nanti aku terlambat meeting dengan para investor asing". Pria itu langsung membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Pengawal yang lain sudah berada di mobil khuusus mereka tapi Hinata malah diam mematung. "Tunggu apa lagi kau? cepat masuk".
Mau tidak mau ia harus menuruti apa perintah putra dari sang pejabat negara. Perasaannya semakin tak karuan. Ia yakin ini adalah misi balas dendam pria yang ia tuduh pencuri dua hari yang lalu. Hinata masih ingat dengan ancamannya jika pria itu bertemu dengan dirinya lagi maka ia akan memberikan sebuah pelajaran pada Hinata. Namun lagi-lagi Hinata berharap itu hanya pikiran buruknya. Mungkin saja wajahnya hanya mirip. Banyak yang mengatakan adada tujuh orang di dunia ini yang wajahnya hampir sama dengan diri kita. Perlahan mobil mulai berjalan. Suasana di dalam mobil begitu canggung. Hinata sama sekali tak berani melihat pria yang ada di sebelah kananya.
"Hei, kau lihatlah aku" perintahnya. Hinata menuruti apa katanya. "Apa kau tak ingat denganku?". Hinata menggeleng. "Kau lupa apa pura-pura lupa? Lihat ini!". Pria itu menunjukan ujung bibir yang masih diplester. "Kau telah memukulku dan sampai sekarang luka ini belum sembuh. Ini sungguh memalukan karena aku harus berpenampilan seperti ini di depan para investor asing".
Ternyata hal yang ditakutkan Hinata benar. Bahwa pria yang dipukul dan dituduhnya pencuri itu adalah pria yang ada di sebelahnya sekarang. Dia dalam masalah besar karena orang yang telah ia pukul bukanlah orang biasa melainkan anak dari seorang presiden. Bisa saja dia di jebloskan kedalam penjara atas tuduhan penganiayaan dan pencemaran nama baik. Hinata tak bisa membayangkan jika dia menghabiskan hidupnya di dalam bui.
"Orang yang sudah kau fitnah dan kau pukul bukanlah orang biasa dia adalah Namikaze Naruto, putra dari presiden Namikaze Minato. Kalau aku mau, aku bisa menjebloskanmu kepenjara sekarang juga atau bahkan mengusirmu dari negara ini". Ucap Naruto enteng.
"Tapi kemarin aku sudah minta maaf padamu. Aku sungguh menyesal telah menuduh orang sembarangan. Lagipula salah sendiri kau memakai pakaian yang sama dengan pencuri itu. Sekilas orang melihat pasti juga akan berpikiran sama denganku. Aku benar-benar menyesal Naruto-kun jadi tolong maafkan aku" mohon Hinata.
"Baiklah kau akan aku maafkan tapi semua itu ada timbal baliknya. Kau harus melakukan apa yang aku perintahkan, seorang pengawal bukan hanya sekedar mengawal majikannya namun juga melaksanakan perintah dari sang majikan".
"Apa?!"
ooOOoo
Setelah menempuh perjalanan satu jam dari Tokyo menuju pulau Hateruma. Rombongan dari Namikaze Naruto sang putra presiden langsung menuju hotel bintang lima dan termahal di pulai Hateruma. Namun untuk para pengawal, mereka hanya menginap di sebuah penginapan biasa yang tak jauh dari Hotel tempat Naruto istirahat. Mereka semua hanya sempat meletakan barang lalu segera beranjak ke hotel karena harus mengawal Naruto. Walaupun meeting berada di dalam hotel, penjagaan dari pengawal untuk Naruto masih di lakukan. Tiga diantaranya menjaga pintu masuk dan dua lainnya menjaga di dalam ruang meeting. Hinata dan pengawal Nagasawa Hitomi bertugas menjaga bagian dalam ruang meeting. Terlihat semua investor serius mendengar presentasi dari Naruto yang berbicara dalam bahasa inggris.
"Perusahaan Fox group menawarkan pembangunan resort berkualitas bintang lima di salah satu tempat wisata pulau Hateruma yaitu di sekitar Kazan. Kazan merupakan tempat wiasata yaitu kawah gunung berapi. Di sekitar lokasi ini banyak sekali pemandangan yang menakjubkan, hamparan bunga berwarna kuning menambah kesan romantik di kawasan ini. Konsep yang kami usung adalah "Romantisme di puncak matahari" sasaran kami untuk pelanggan hotel ini adalah para pengantin baru yang ingin berbulan madu maka dari itu kami….".
Hinata terkesima melihat presentasi yang Naruto utarakan. Dia baru pertama kali ini melihat seorang pria begitu berkharisma dalam memaparkan pendapat yang ada dipikirannya di tambah lagi ide-ide baru yang Naruto usung untuk membangun resort berkelas bintang lima. Hinata terus memandang tanpa henti hal ini di ketahui oleh Naruto. Sekilas ia melihat Hinata, sontak Hinata langsung mengalihkan pandangannya. Naruto tak peduli akan hal itu dia melanjutkan ide-ide yang masih belum ia ungkapkan.
ooOOoo
Naruto melemparkan jasnya di ranjang. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya. Semua jadwal sudah ia lakukan. Sebenarnya urusan bisnis yang ia tangani hanya satu hari saja namun dua hari sisanya ia gunakan untuk berlibur. Walaupun ia sering berkunjung di pulau Hateruma namun Naruto sama sekali tak merasa bosan. Naruto melepaskan semua bajunya, ia berjalan perlahan menuju kamar mandi. Tanganya memutar shower air hangat. Sekujur tubuhnya basah kuyup karena guyuran air dari atas. Hal ini membuat Naruto merasa lebih rileks dan fresh. Beban yang di tanggungnya hilang seketika. Usai mandi Naruto merasa begitu lapar. Bukan makanan mewah yang ia inginkan namun makanan camilan seperti takoyaki yaitu makanan ringan khas Jepang. Tapi tak mungkin makanan seperti itu di sediakan di hotel. Tiba-tiba Naruto teringat seseorang yang akan melakukan apapun yang ia perintahkan. Naruto memencet tombol ponselnya. Telfon Naruto pun di jawab.
"Hei, belikan aku takoyaki sekarang. Aku tunggu kau ditaman hotel. Sepuluh menit kemudian kau harus sudah datang!".
ooOOoo
Naruto tertawa kecil, dia puas sudah membuat gadis itu kebingungan. Bagi Naruto ini masih bukan apa-apa dari apa yang telah gadis itu lakukan padanya. Sambil menunggu Takoyaki datang, Naruto memutuskan untuk jalan-jalan dulu mengelilingi sekitar hotel. Naruto hanya memakan baju sederhana, kemeja santai berwarna biru denim dan celana panjang berwarna putih. Pula Hateruma memiliki kenangan tersendiri dan berharga buatnya. Kenangan bersama wanita yang dulu begitu dicintainya. Hubungan yang sudah terjalin hampir lima tahun kandas karena kepergian pujaan hatinya ke amerika untuk melanjutkan studinya. Dia rela menunggu sampai kapanpun gadis itu kembali, namun suatu saat sang gadis memutuskan hubungan secara sepihak. Awalnya Naruto tak tahu alasan gadis yang disayangi memilih berpisah dengannya. Ternyata setelah ia selidiki, gadis itu sudah punya pujaan hati lain, orang asli Amerika yang bernama Jorsh. Ia terlalu mencintainya jadi begitu sakit yang ia rasakan bahkan rasa itu menjadi benci. Kenangan-kenangan yang ia ingat tak terasa sudah membawa dia di sebuah bangku panjang taman hotel, tepat berhadapan dengan laut. Naruto menikmati angin pantai di malam hari, matanya terpejam, telinganya mendengarkan deburan ombak pantai.
"Naruto, akhirnya kita bertemu kembali. Aku dengar kau ada rapat dengan para investor asing untuk perkembangan perusahaanmu?" ucap seorang pria bersuara bass sambil tersenyum ramah.
Naruto tak mengatakan apa-apa. Pria itu bernama Uchiha Itachi, dia adalah putra dari seorang tokoh politik terkenal bernama Uchiha Fugaku. Dulu Itachi adalah teman sekolah Naruto dari kecil. Walaupun berteman di sekolah, hubungan mereka tak pernah baik. Itachi selalu melecehkan, memandang rendah Naruto bahkan terkadang dia begitu iri padanya. Kebencian Itachi semakin menjadi-jadi ketika ayah Naruto resmi menjadi presiden empat tahun lalu. Walaupun ayah Naruto dan Itachi bersahabat namun anak-anak mereka tak bisa saling berdampingan. Itachi tak sendirian dia bersama dengan seorang perempuan cantik dan seksi. Mereka terlihat mesra.
" Sedang apa kau disini? bukankah kau studi di Amerika?" tanya Naruto sinis.
"Aku sudah lulus dan aku baru tiba di Jepang hari ini. Kedatanganku di pulau Hateruma adalah untuk mengadakan pesta pertunanganku dengan kekasihku. Aku akan membuat pesta termegah yang pernah ada di Jepang ini" ujar Itachi dengan kesombongannya.
Naruto memperhatikan pacar Itachi dengan seksama. Tak disangka gadis itu mengedipkan mata padanya tanpa sepengetahuan Itachi. Naruto tertawa kecil, bahkan terkesan menghina.
"Kau selalu memamerkan apa yang kau punya di depanku? apa kau tidak lelah dengan perbuatanmu yang selalu berusaha unggul dariku. Kau masih menyimpan berjuta rasa iri padaku?" tanya Naruto santai. Itachi memandang Naruto penuh arti. Pandangan itu terkesan meremehkan kehadiran pria tampan yang ada di hadapannya.
"Aku iri padamu? dan berusaha unggul darimu?. Bukankah kau yang selalu berusaha unggul dariku. Hei, apa yang bisa kau kalahkan dariku?. Bahkan aku dengar kau ditinggal pergi oleh Asami demi pria lain. Aku yakin kau pasti belum mendapatkan pengganti Asami, benarkan? kau ini pria yang sangat payah" ejek Itachi.
Naruto bagaikan tersambar petir mendengar pernyataan Itachi. Naruto paling tidak bisa menahan amarah jika sudah menyangkut tentang mantan kekasihnya Asami, Naruto tak mau kalah dengan Itachi untuk masalah wanita.
"Kau salah besar Itachi. Aku sudah menemukan pengganti Asami dia lebih baik dan cantik dari Asami. Apa kau sendiri lupa kalau Asami lebih memilihku daripada kau. Apa kau ingat?".
Itachi tidak percaya kalau Naruto bisa menebak pikirannya. Rasa benci dan balas dendam lebih besar daripada sebelumnya karena ucapan Naruto yang menyakitkan.
"Benarkah, kalau begitu kenalkan dia padaku dihari pertunanganku besok di Bunjee Artpia jam tujuh malam. Ingat kau harus datang"
Naruto bingung siapa wanita yang bisa di ajak kerja sama untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Dari jauh Naruto melihat sosok Hinata berjalan menuju dirinya. Penampilan Hinata malam ini terlihat lebih segar karena memakai baju biasa. Kaos putih di rangkap dengan sweater biru, celana selutut dan bando berwarna biru berpola polkadot putih menambah kesan imut dalam dirinya. Hinata mengigit bibir bawahnya dan memandang garang kearah Naruto. Dia semakin kesal melihat Naruto asyik ngobrol dengan temannya sedangkan dia harus membelikan takoyaki dimalam dingin seperti ini.
"Hei, ini makanan yang kau minta. Lain kali jangan suruh aku membeli makanan untukmu di malam seperti ini. Mengerti!" kata Hinata berapi-api
"Ini adalah wanita yang aku maksud Itachi. Aku sangat mencintainya. Benar-benar mencintainya. Dia selalu mengerti aku dan tak pernah menyakitiku" ujar Naruto dengan tampang serius
"Apa yang kau katakan?" tanya Hinata bingung.
Hinata merasa Naruto menarik tangannya. Tubuhnya dengan Naruto begitu dekat tak ada pemisah diantara mereka. Tangan kanan Naruto dengan terampil merangkul pinggangya. Hal berikutnya yang terjadi adalah bibir Naruto sudah menyentuh bibir Hinata. Mata Hinata terbelalak lebar. Ia sama sekali tak menyangka Naruto akan melakukan hal ini padanya. Tak lama Naruto pun melepaskan ciumannya.
"Kalau kau menganggap aku tidak mempunyai gadis lain selain Asami kau salah. ini dia gadisku. Bagaimana dia lebih cantik dari gadismu bukan?. Nona, terima kasih atas kedipan mata yang kau berikan padaku, Lebih baik kau menjaga dan berpenampilan lebih sempurna lagi di mata kekasihmu Itachi. Ayo kita pergi Hinata-chan. Sudah malam, cuaca semakin dingin. Aku tidak mau kau sakit".
Kening Hinata berkerut. Dia semakin bingung dengan tingkah Naruto. Wanita yang di maksud? Dia benar-benar mencintainya?. Apa itu semuanya?. Hinata sama sekali tidak mengerti. Naruto menggandeng tangan Hinata lalu pergi meninggalkan Itachi dan kekasihnya.
"Baiklah, aku tunggu kehadiran kalian berdua dihari pertunanganku besok malam".
Hinata melihat Naruto. Ekspresi dia tegang bahkan terkesan marah. Dia terus memegang pergelangan tangan Hinata dan tak tahu kemana Naruto membawanya pergi. Hinata benar-benar tidak terima dengan perlakuan Naruto yang semena-mena terhadapnya. Apa lagi Naruto sudah mencuri ciuman pertamanya.
"Lepaskan aku! Hei Lepaskan aku!" bentak Hinata.
Naruto melepaskan genggaman tangannya. Mereka berdua berhenti diantara pohon sakura putih yang bermekaran. Indahnya bunga sakura yang mengitari mereka tak seindah hubungan mereka berdua.
"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau memperlakukanku seperti itu? Kenapa kau menciumku? Kau benar-benar keterlaluan!. Jangan karena aku takut dengan ancamanmu maka kau memperlakukan aku seenaknya. Aku tidak tahu dengan masalah kalian berdua tapi tolong jangan libatkan aku dengan kisah cintamu".
"Jadilah pacarku" ucap Naruto enteng.
" Apa?"Hinata semakin bingung.
" Mulai sekarang berpura-puralah menjadi kekasihku" jawab Naruto.
"Kau pikir kau ini siapa. Aku tidak akan mau menuruti perintahmu. Kalau kau mau menjebloskanku ke penjara silahkan. Itu lebih baik daripada aku harus bersama orang sombong dan keras kepala sepertimu. Aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku besok. Jangan bawa aku dalam masalahmu". Hinata melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia sudah tidak mau lagi berhadapn dengan orang seperti Naruto selama hidupnya.
"Aku mohon bantulah aku, sekali ini Hinata-chan".
Naruto pasang tampang melas dan puppy eyes. Hinata menggerutu sebal karena ia melihat ketampanan Naruto yang maha dahsyat. Hatinya meleleh, ia tak bisa lagi menolak keinginan pria tampan ini.
"Baiklah, tapi hanya untuk hari ini!" ucap Hinata.
TO BE CONTINUE
TERIMA KASIH BUAT YANG JADIIN FF INI SEBAGAI FAVORITE KALIAN. TERIMA KASIH JUGA BUAT KALIAN YANG MENYEMPATKAN DIRI UNTUK REVIEW DAN FOLLOW FF INI. AKU NGGAK NYANGKA FF GAJE DAN ALURNYA BERANTAKAN INI MENDAPATKAN APRESIASI YANG BAGUS DARI WARGA FNI ^.^
I LOVE U ALL
