Minna! Maaf ya, fict ini gak update kilat. Soalnya, saya berfikir keras untuk ide fic ini selanjutnya #PLAK
Sum juga gak nyangka lumayan banyak yang nge-review, hehehe, jadi , terimakasih buat yang udah nge-review, tapi maaf Sum gak bisa bales satu-satu, soalnya ada yang gak login atau apalah Sum belum ngerti masalah yang gituan,hehehe *gubrak* dan makasih juga buat yang udah nunggu ni fict, walaupun chapter yang ini, menurutku terlalu gaje :D hehehe ya udah deh, dari pada Sum tambah nge-bacot mending langsung aja. Yosh! Selamat membaca!
Summer172 present :
Hujan mempertemukan mereka..
Dua insan yang saling mencintai namun tak bisa membagi cinta..
Hujan memisahkan mereka…
Saat mereka tak bisa mengatakan cinta..
Perpisahan bukanlah arti bahwa tidak ada cinta yang bersatu..
Namun..
Karena perpisahan itulah..
Sebuah cinta baru muncul..
Dan hujan yang menjadi saksinya..
Naruto by Masashi Kishimoto
Love Rain by Summer172
and The Poster by Tikais
…
Warning : OOC(maybe), Typo, Gaje, Etc.
…
Don't like? don't read!
SUNAGAKURE, 2013
Jepret!
"Angkat dagumu sedikit!"
Jepret!
"Naruto!"
Jepret!
"Namikaze Naruto!"
Pemuda yang dipanggil Naruto tadi merasa kesal ada yang mengganggunya memotret. Lalu dia menyuruh semua kru yang bekerja untuk istirahat. "Hah! Kita break dulu!"
Lalu dia menoleh ke arah pemuda yang memanggilnya tadi."Ada apa Kiba? Kau tahukan..aku paling tidak suka diganggu saat pemotretan?!" Ucap Naruto dengan nada kesal.
Pemuda yang bernama Kiba tadi hanya nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Hehehe…Bukan begitu Naruto..ada berita penting tau!"
Naruto hanya menarik nafas dalam." Apa itu? Jangan bilang ada gossip mengenai ku lagi.." Ujar Naruto sambil mengutak-ngatik kameranya.
"Tentu saja bukan..ini tentang pemotretan di Amegakure.."
Naruto tampak berfikir."Amegakure? Kapan? Aku tidak mengingatnya.."
Kiba yang mendengarnya langsung sweatdrop."Dasar fotografer baka! Itu saja kau tidak mengingatnya?"
Naruto mengangguk lugu. "Mana bisa aku ingat..kalau aku tidak makan ramen! Ayo kita cari ramen dulu!" Ujarnya sambil menarik telinga Kiba.
"Aw! Sakit tahu!"
.
Di kedai ramen, Naruto sedang berbicara dengan Kiba. Sambil memakan ramennya yang baru datang.
"Jahi hiha ahan he Hamehahuhe?" (Jadi kita akan ke Amegakure?)
Kiba hanya menggeleng-gelengkan kepalanya."Telan dulu baru ngomong!"
"Hehe.." Lalu Naruto menyeruput kuah ramennya dan melanjutkan pertanyaannya."Kapan kita akan pergi ke Amegakure?"
"Besok..dan kita akan disana selama 4 hari.."Jelas Kiba.
"Paman! Tambah satu lagi ramennya ya!" Teriak Naruto pada paman yang menjual ramen.
Kiba yang merasa diacuhkan langsung emosi."Hei Naruto! Kau mendengarnya tidak?"
Naruto menoleh ke arah Kiba."Tentu saja aku mendengarnya…lalu siapa yang akan menjadi modelnya?"
Kiba tampak mengingat-ngingat."Ada dua orang, yang pertama namanya Hyuuga Hinata yang kedua siapa ya? Kata mereka dia adalah artis yang terkenal saat ini. Tapi kok aku lupa namanya ya?"
Naruto tidak mendengarkan, dia hanya asik memakan ramennya yang kedua.
.
.
Besoknya, para kru pemotretan sudah tiba di Amegakure. Termasuk Naruto dan Kiba, tapi apa yang terjadi?
"Apa kau melihat Naruto?" Tanya Kiba pada setiap orang yang dia temui.
"Tidak, bukannya kau bersama dia tadi?" Ujar salah satu kru.
"Aish, tadi aku memang bersamanya. Tapi tadi aku pergi ke wc sebentar, lalu saat aku kembali..dia hilang. Kemana sih dia?" Jelas Kiba dengan nada kesal.
"Kau ini bodoh sekali. Kenapa kau tidak menelponnya saja?" Ujar seseorang yang tadi berbicara dengan Kiba.
Kiba menepuk keningnya."Iya juga ya… kenapa tidak dari tadi saja? Dasar kau ini Kiba." Marahnya pada dirinya sendiri.
Lalu dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Lalu memijit angka-angka yang ada di ponselnya tersebut dan mendekatkan ke telinganya, setelah tersambung." Halo.. Naruto! Kau dimana? Aku mencarimu dari tadi!"
Orang yang ditelpon hanya bisa menjauhkan ponselnya dari telinga akibat teriakan dari Kiba tadi." Pelan-pelan sedikit Kiba! Kau bisa membuat telingaku tuli!"
"Ya maaf, aku sedang emosi gara-gara kau tidak ada disini. Kau dimana sih?" Tanya kiba dengan nada yang sedikit lebih lembut dari yang tadi.
"Aku sedang jalan-jalan…"
"Jalan-jalan katamu? Di desa yang selalu hujan ini? Apa kau pakai jas hujan?"Sederet pertanyaan terlontar dari bibir Kiba.
"Iya Kiba! Aku pakai kok..jangan khawatir.. lalu.. apa modelnya sudah sampai?"
Kiba melihat sekeliling."Sepertinya sudah..ja-"
"Sudah ya Kiba.. aku akan ke sana sebentar lagi, ok?" Potong Naruto lalu menutup telponnya.
"N-Naruto? Halo? Halo?" Lalu Kiba mematikan ponselnya."Dasar Naruto!"
"Maaf…apa kau Kiba-san?" Tanya seorang gadis berambut orange dari arah belakang Kiba.
Kiba yang merasa namanya dipanggil lalu menoleh kearah suara."Ya..ada apa ya?"
"Apa kau melihat Sakura-neechan? Dari tadi aku tidak bisa menemukannya.."
.
.
Seorang gadis cantik yang memakai jas hujan sedang mengendap-ngendap pergi dari lokasi pemotretan. Dia adalah Haruno Sakura.
Setelah berada agak jauh dari lokasi. Dia mulai bernafas lega."Akhirnya! Aku bisa melihat yang namanya danau cinta!" Ujarnya semangat."Tapi, sayangnya disini tidak ada Gaara-nii." Tambahnya, bedanya sekarang dia tampak kurang semangat.
Danau cinta, adalah sebuah nama danau yang begitu indah, terletak di Amegakure. Danau ini memiliki sebuah mitos yang diketahui oleh semua penduduk Amegakure. Mitosnya berisi 'jika ada seorang pemuda dan seorang pemudi yang melihat danau ini secara bersamaan. Maka mereka akan bersatu untuk selamanya' maka dari itu, seorang Haruno Sakura ingin melihatnya walaupun hanya sendirian. Akhirnya Sakura sampai juga di danau yang indah itu.
Sakura terpesona melihat danau itu. Walaupun hujan, tapi tetap saja danau itu masih terlihat indah. "Indah sekali… pantas saja orang-orang menamainya danau cinta.." Gumamnya.
Saat dia berjalan untuk melihat pemandangan sekitar. Tiba-tiba saja dia menabrak seorang pemuda yang sedang membawa kamera. Lalu kamera yang dibawa pemuda itu jatuh dan kameranya pun hancur. Pemuda yang melihat kameranya hancur langsung membentak sang gadis.
"Hei! Apa yang kau lakukan nona? Kau membuat kameraku hancur!" Bentak pemuda itu pada gadis yang saat ini memasang wajah bersalah.
"M-maafkan aku..aku tidak sengaja.." Ujar Sakura sambil menunduk.
"Hah! Bagaimana dengan kameraku? Kau kira dengan meminta maaf kameraku bisa kembali utuh? Begitu?" Tanya pemuda itu dengan nada sedikit membentak.
Sakura yang dibentak seperti itu merasa kesal juga. Sambil mengangkat wajahnya yang cantik itu dia balas memebentak." Aku kan sudah minta maaf! Kenapa kau malah marah terus kepadaku?"
Pemuda itu kaget lalu menyeringai."Heh? Dasar kau ini… untung saja kau wanita, kalau tidak mungkin aku akan-"
"Akan apa? Menamparku? Silahkan saja.." Potong sakura sambil menyodorkan wajahnya yang mulus itu.
Pemuda yang merasa dilawan oleh Sakura tidak bisa menahan kesabarannya lagi. "Kau ini!" Geram pemuda itu dengan mengangkat sebelah tangannya. Mungkin akan menampar Sakura.
Sakura yang melihat itu hanya bisa pasrah dan menutup matanya. Tapi..
1 detik
2 detik
3 detik
Sakura tidak merasakan sakit. Karna penasaran, Sakura memberanikan diri untuk membuka matanya. Ternyata pemuda itu hanya melihatnya dalam diam.
"Aku tidak bisa menampar wanita." Kata pemuda itu sambil melihat ponsel yang dipegang Sakura." Jadi, berikan ponselmu itu." Ujarnya sambil menujuk ponsel yang dipegang Sakura.
Sakura lalu memandangi ponsel yang ada ditangannya."U-untuk apa?"
"Berikan saja!" Ujar pemuda itu sambil merebut ponsel tersebut dari tangan Sakura.
Sakura seperti tidak mempunyai tenaga untuk mempertahankan ponsel itu dari tangannya. Setelah sadar ponsel itu tidak di tangannya. Sakura malah marah besar." Hei! Untuk apa kau mengambil ponselku? Aku akan mengganti kameramu kok!" Ujar Sakura.
Pemuda itu hanya memandangan Sakura dengan tatapan jahil."kalau kau mau ponselmu kembali. Kau harus tunggu disini sampai temanku datang, bagaimana?" Tanya pemuda itu.
Sakura tanpa berfikir panjang langsung mengiyakan perjanjian yang dibuat sepihak oleh pemuda yang baru saja dikenalnya.
Pemuda itu tersenyum jahil."Bagus, kalau begitu…aku akan telpon dulu temanku menggunakan ponselmu ini.."
Sakura terlihat tidak senang."Kenapa harus memakai ponselku? Kau kan juga punya ponsel baka!"
Naruto mengacuhkan pertanyaan dari Sakura, dia langsung saja menggunakan ponsel Sakura untuk menelpon temannya. "Halo? Kau cepat datang ke danau cinta. Kameraku baru saja dirusak oleh seorang gadis." Pemuda itu tampak mendengarkan perkataan dari teman yang ditelpon." Ponselku? Pulsanya habis tau!" Bisik pemuda itu, tapi masih bisa didengar oleh Sakura.
Kening lebar Sakura tampak berkerut.'Pulsanya habis?'
Lalu Sakura tersenyum mengejek.'Cerdik sekali dia..' Batinnya.
Setelah selesai menelpon, Pemuda itu menoleh ke arah Sakura."Aku akan menyita ponselmu sampai temanku datang.."
Sakura membulatkan matanya."Kau! Seenaknya saja! Apa kau tidak percaya padaku? Aku kan sudah bilang. Aku akan mengganti kameramu itu! Aku janji!" Kata Sakura sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf 'v'.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya."Tidak, aku memang tidak percaya padamu. Mana bisa aku percaya pada orang yang baru aku kenal?" Kata pemuda itu tenang.
Sakura hanya bisa mendecah. Lalu melihat kearah danau cinta yang berada didepannya. Pemuda itu mengikuti hal yang sama. Hening tercipta, memang, danau itu terlihat sepi mungkin hanya mereka berdua yang ada di danau itu.
"Danau ini indah.." Gumam Sakura. Tapi masih bisa didengar oleh pemuda berambut kuning itu.
Pemuda itu menoleh ke arah Sakura lalu tersenyum. Entah kenapa, saat melihat wajah damai gadis itu. Pemuda tersebut merasakan jantungnya berdebar kencang. Pemuda itu lalu merona. "Aku merasakannya…"
Sakura yang mendengar perkataan pemuda itu menjadi heran."Merasakan? Merasakan apa?" Tanyanya.
Pemuda yang ditanyai malah merasa gugup."A-apa? T-tidak a-ada apa-apa kok.."
Sakura yang melihat gelagat pemuda itu, hanya ber 'oh' ria. Karna dia memang tidak mau mencampuri urusan pemuda itu, dia hanya ingin ponselnya kembali dan segera kembali ke hotel untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah kedinginan karena hujan gerimis yang katanya abadi ini.
"Kapan temanmu itu datang? Aku harus segera kembali ke penginapan.." Tanya Sakura kepada pemuda itu.
Pemuda yang wajahnya masih merona itu menggeleng pelan."Aku juga tidak tahu… mungkin sebentar lagi."
"Oh begitu, jadi, profesi mu itu apa? Aku lihat kau sayang sekali pada kameramu itu. Apa kau seorang fotografer?" Tanya Sakura untuk memecahkan keheningan sekaligus mengurangi rasa dinginnya.
"Ya begitulah, kau tahu? Aku ini fotografer yang terkenal di seluruh penjuru Negara Hi!" Ujarnya menyombongkan diri pada Sakura.
Sakura langsung sweatdrop . 'Sombong.' Pikir Sakura.
Lalu Naruto melanjutkan perkataannya." Apa kau tahu? Aku ini dikenal sebagai fotografer tampan yang dapat menaklukkan wanita hanya dalam 3 detik…"
Sakura tersenyum meremehkan."Heh? mana mungkin?" Ujar Sakura sambil mengalihkan wajahnya ketempat lain.
Pemuda itu hanya tersenyum dan mulai mendekati Sakura."Aku tidak pernah yakin cinta itu dapat memberikan kebahagiaan.." Ujarnya sambil memasang wajah sedih."Karna, ayahku selalu mengenang cinta pertamanya dan tidak pernah mencintai ibuku…" Sakura yang mendengarnya mulai tertarik dan menoleh kearah pemuda tadi."Karna itu, ibuku juga tidak pernah bahagia.. tapi semenjak melihatmu..aku mulai percaya cinta dapat meberikan kebahagiaan.." Kata Naruto sambil menatap mata indah Sakura.
Lalu Naruto mulai menghitung."Satu…dua…ti.." Melihat wajah Sakura yang masih biasa saja. Naruto mulai kecewa."..ga..huhh.." Lalu Naruto menjauh lagi dari Sakura.
"Kau ini wanita tidak sih? Masa tidak tergugah sedikitpun mendengar kata-kataku?" Ujar pemuda berambut kuning itu dengan nada kesal.
"Tentu saja aku wanita baka! Pantas saja aku tidak tergugah.. cerita palsumu itu aneh sekali.."
Pemuda itu menatap tajam ke arah Sakura." Itu bukan cerita palsu! Itu-"
"Itu seperti cerita ibuku, ibuku selalu bercerita tentang cinta pertamanya dan dia bilang, dia sangat mencintai cinta pertamanya itu.." Pemuda itu mulai mendengarkan dengan serius kisah yang diceritakan oleh Sakura."Dia tidak bisa melupakannya, walaupun sudah memiliki suami yang baik seperti ayah, kau tahu? Mereka berpisah karena cinta pertama ibuku itu akan dijodohkan dengan wanita lain. Tapi ibuku selalu bilang 'tidak apa, cinta tidak harus memiliki bukan?" Pemuda itu mulai tertarik dengan cerita Sakura."Aku juga ingin seperti ibuku.. memiliki cinta sejati..walaupun tidak harus memiliki."
Tanpa disadari, pemuda itu sudah mendekat lagi pada Sakura. Sakura mulai menghitung."Satu..dua….tiga! Wajahmu memerah! Hahaha.." Ujar Sakura yang merasa sudah menang.
Pemuda itu hanya diam terpaku. Entah kenapa, sepertinya gadis yang sedang menertawainya saat ini memiliki apa yang dia cari selama ini yaitu debaran."A-aku merasakannya..untuk yang kedua kalinya.." Katanya tergugup-gugup.
Sakura menghentikan tawaannya. "Apa? Dari tadi kau selalu berkata 'aku merasakannya!' apa itu?" Tanya Sakura penasaran.
Pemuda yang sangat dekat dengannya ini. Langsung saja memeluknya. Sakura yang diperlakukan seperti ini tentu saja kaget dan dia mencoba memberontak."Apa yang kau? Apa yang kau lakukan?!"
"Sebentar saja…"
Sakura yang terlanjut terbawa emosi langsung saja mendorong pria itu dengan kekuatan monsternya." Apanya yang sebentar!"Ujarnya sambil mendorong pria itu. Tanpa disangka-sangka, pemuda berambut kuning itu tercebur ke dalam danau yang ada dihadapan mereka.
"Huaaa!" Teriak pemuda itu.
Sakura yang panik tidak bisa berbuat apa-apa. Ponselnya pun tercebur bersama dengan pemuda itu.
"Hei nona! Tolong aku! Aku tidak bisa berenang!"Ujar pria itu, sesekali wajahnya masuk kedalam air.
Sakura yang mendengar itu langsung saja melepas sepatunya dan berenang ke arah pemuda itu. Sakura mencoba menggapai pemuda itu, setelah mendapatkannya Sakura langsung saja menariknya ke permukaan. Lalu dia membaringkan pemuda itu didekat danau.
"Hei bangun!"Ujar Sakura sambil menepuk-nepuk pipi pemuda itu. Tapi pemuda itu masih pinsan.
Sakura panik, jika pemuda itu tidak segera bangun, dia bisa saja masuk penjara. Sakura menatap wajah pemuda itu."Tidak ada cara lain, aku harus melakukannya."Ujar Sakura.
Tanpa sepengetahuan Sakura, pemuda itu mengintip melalui matanya yang sebelah kanan. 'Asik! Dia akan memberikanku nafas buatan!' Batinnya sambil tersenyum jahil.
Sakura yang tidak melihatnya. Langsung saja ingin memberikan nafas buatan dengan menutup mata. Pemuda itu memonyongkan bibirnya. Tapi, ketika Sakura mengintip sedikit dan melihat pemuda itu memonyongkan bibirnya langsung saja Sakura murka. 'Dasar! Dia membohongiku ternyata! Rasakan ini!' Batin Sakura sambil tersenyum jahil.
Lalu Sakura mendorong tubuh pemuda itu ke danau. Pemuda itu langsung berteriak."Hua! apa yang kau lakukan?!" Ujar pemuda itu yang tercembur kembali ke danau.
Sakura berdiri."Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan?! Kau berbohong padaku supaya aku memberikan nafas buatan! Dasar hentai!" Kata Sakura sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
Pemuda itu lalu naik ke permukaan danau. "Apanya yang hentai? Ini sebagai pelajaran telah mendorongku tadi!" Balas pemuda itu.
Mereka menatap satu sama dengan tatapan tajam.
'Dasar hentai!'
'Perempuan galak!'
"Sakura-nee!" Panggil seorang gadis yang berlari kearah Sakura dan pemuda itu ,sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Naruto! Ternyata kau disini!" Teriak seorang pemuda berambut coklat yang berlari disamping gadis tersebut.
Kedua orang yang dipanggil itu sama-sama menoleh kearah dua orang yang sama-sama memanggil mereka. Sakura yang mendengar nama pemuda itu, langsung berujar."Jadi kau yang namanya Naruto?!"
Naruto langsung menoleh kearah Sakura."J-jangan bilang kau adalah salah satu modelku?!" Tanya Naruto membulatkan matanya.
.
.
"Ternyata kalian sudah saling kenal ya?" Ujar Kiba yang sedang mengemudikan mobilnya. Ya, mereka berempat sudah dalam perjalanan menuju penginapan.
"Saling kenal apanya? Kau tahu Kiba? Sakura-chan inilah yang telah merusak kameraku!" Protes Naruto sambil menekankan embel-embel chan.
Sakura yang tidak terima diejek seperti itu, langsung balik memprotes."Hei! Kau juga berbohong padaku! Gara-gara pemuda hentai ini! Aku jadi basah kuyup!" Sakura mengeratkan handuk yang dipakainya.
Selama perjalanan mereka saling beradu argument. Tidak henti-hentinya mereka bertengkar walaupun sudah dilerai oleh Moegi ataupun Kiba. Jika sudah dilerai mereka memang berhenti, tapi pasti ada saja yang memulainya. Moegi dan Kiba pun berhenti melerai, mereka berfikir 'kalau capek, pasti mereka akan berhenti sendiri'. Ternyata pemikiran Moegi dan Kiba tidak berlaku untuk mereka berdua. Sesampainya di penginapanpun mereka tetap beradu argument.
"Ini salahmu!"
"Kenapa harus salahku Sakura-chan? Bukannya kau duluan?"
"Tentu saja bukan! Seharusnya aku tidak melihat danau itu bersamamu!"
"Kenapa? Seharusnya kau bersyukur bisa melihat danau itu bersama pemuda tampan sepertiku!" Ujar Naruto dengan pede nya.
Moegi dan Kiba hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka berdua.
"Naruto?"
Naruto yang merasa dipanggil oleh seseorang langsung menghentikan pertengkarannya dengan Sakura. Dan menoleh. Sakura yang merasa penasaran juga menoleh kepada pria yang memanggil Naruto tadi.
Naruto langsung membulatkan matanya."T-Tousan?"
Sakura kaget mendengar ucapan Naruto tadi."T-Tousan? Ayahmu seorang-"
"Namikaze Minato. Senang berkenalan denganmu." Potong pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Sakura.
Hua! Tolong ampuni Sum readers! Sum nggak tahu, fict ini jadi gaje minta ampun T_T *nangis Bombay* oh ya, sampai lupa, danau cinta itu hanya ilusi Sum, mana ada namanya danau cinta di Amegakure, hehe. Sum tidak bisa berkata-kata lagi. Langsung aja deh, reviewnya please!
