LOVE IN BLUE HOUSE / CHAP 4

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Action (mungkin)

Pairing : Naruhina

Rating : T
WARNING

TYPO, OOC BANGET, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL

.

.

Di kamar Hinata, terlihat Haruno Sakura sedang bersiap-siap untuk kembali ke Tokyo namun hal ini tidak berlaku untuk Hinata. Pagi-pagi sekali Naruto sudah mengatakan kepada para pengawal untuk kembali ke Tokyo namun khusus Hinata tidak. Alasannya karena sekarang Naruto ingin berlibur jadi satu pengawal untuk menjaganya itu sudah cukup dan Naruto memilih Hinata. Tentunya itu semua hanya alasan Naruto agar para pengawal yang lain tidak tahu akan rencananya dengan Hinata. Di depan cermin kamar, berdiri seorang gadis berwajah kusut sambil memegangi bibirnya. Otaknya selalu memutar kejadian tadi malam. Sampai pagi ini sentuhan bibir Naruto terasa jelas di bibirnya.

"Asshhh, Hinata-chan kau benar-benar beruntung sekali bisa berduaan di pulau Hateruma dengan Naruto-sama. Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? dari awal dia sudah memilihmu, sekarang dia memilihmu lagi untuk mengawalnya di pulau yang romantis seperti ini. Apa jangan-jangan kau pacaran dengannya?" ucap Sakura. Namun Hinata mengabaikannya bahkan terkesan melamun. "Hei, Hinata!" teriak Sakura.

"Ah iya? Sakura-chan aku tidak mungkin menjalin hubungan dengannya. Dia itu bangsawan sedangkan aku hanya rakyat biasa. Kau ini jangan berpikir macam-macam. Aku juga tidak tahu kenapa dia selalu memilihku untuk mengawalnya".

"Baiklah semuanya sudah siap. Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik Hinata. Awas jangan macam-macam dengan pangeranku jumpa". Sakura melambaikan tangannya. Perlahan tubuh Sakura mengecil karena langkahnya yang semakin jauh.

"Salam buat yang lainnya".

Bayangan Sakura menghilang. Perlahan ia menutup pintu kamar. Hinata merebahkan tubuhnya, matanya memandang langit-langit kamar. Lagi-lagi ia terbayang kejadian tadi malam. Pikirannya tak lepas dari Naruto. Hidung mancungnya, bibir merahnya yang seksi serta mata birunya yang mempesona terlihat jelas didepan matanya. Wajahnya begitu sempurna dibawah sinar bulan. Ponsel Hinata berbunyi membuyarkan lamunannya. Tertera nama Naruto di layar ponselnya.

"Moshi-moshi—apa? sekarang—iya, aku mengerti". Hinata menutup ponselnya. " Dasar pria menyebalkan berkepala batu" gerutunya.

Tiga puluh menit kemudian. Naruto sudah menunggu Hinata di depan pintu penginapan. Mukanya memerah karena menahan amarah. Hal yang paling dibenci Naruto adalah menunggu. Belum pernah dia menunggu selama ini. Dari luar Naruto melihat Hinata belari menuju mobil yang di kendarainya.

"Dari mana saja kau? Apa kau tahu aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam?" ucapnya penuh amarah.

"Maaf, Lagipula kau tidak memberitahuku sebelumnya. Seharusnya kau memberitahuku terlebih dahulu agar aku bisa mempersiapkan semuanya. Lalu sekarang kita mau kemana?" tanya Hinata

"Ke tempat perbelanjaan. Aku tidak mau pacarku terlihat jelek dan tak berkelas. Hari ini aku yang menenentukan semua penampilanmu, mulai dari pakaian sampai gaya rambut jadi kau jangan mengeluh atau protes".

"Iya aku mengerti" ucap Hinata pasrah.

ooOOoo

Di pusat perbelanjaan ternama dan merupakan brand terkenal di sebuah butik. Hinata mencoba semua baju yang ada. Lebih dari sepuluh gaun pesta yang udah ia coba namun di mata Naruto tak ada yang cocok untuk Hinata. Hinata mulai putus asa, jika gaun yang terakhir tidak cocok lagi untuknya, Hinata akan memilih sendiri gaun untuk dirinya sendiri tak peduli Naruto setuju atau tidak. Gaun terakhir yang ia pakai adalah gaun pesta dengan panjang di atas lutut, berwarna merah hati dan hanya sisi kanan yang berlengan. Gaun itu terlihat begitu anggun saat Hinata memakainya. Di padu padankan dengan dompet berwarna keperakan menambah kesan mewah. Naruto terkesima melihat penampilan Hinata yang berbeda. Bahkan dengan gaun itu Naruto mengakui kalau Hinata begitu cantik.

"Bagaimana menurutmu? jangan bilang kalau gaun ini tidak cocok lagi untuku" ujar Hinata dengan wajah cemberut. Naruto hanya menganggukan kepala.

"Okey, aku ambil gaun beserta tasnya" ucap Naruto enteng. "Sekarang kita beli sepatu setelah itu kita langsung ke salon".

ooOOoo

Hinata tak bisa berkomentar apa-apa. Dia keluar dari butik langsung mengenakan gaun yang baru dibeli oleh Naruto. Dia ikut aja kemana Naruto akan membawanya. Diam adalah senjata ampuh untuk membuat semuanya cepat selesai daripada dia berkomentar malah adanya adu mulut dan menghambat semuanya. Proses memilih sepatu tidak selama saat memilih gaun karena sepatu hanya menyesuaikan dengan gaunnya. Hari semakin siang tak terasa semua kebutuhan Hinata untuk pestaa sudah terpenuhi. Masih ada sisa waktu lima jam lagi menuju pesta. Hinata ingin sekali menggunakan sisa waktu ini untuk berkeliling pulau Hateruma khususnya tempat wiasata kawah gunung merapi yang sering di sebut dengan Kazan atau Puncak Matahari Terbit. Tempat ini adalah tempat favorit Hinata di pulau Hateruma karena menurutnya tempat ini begitu , walaupun dia belum pernah kesana namun saat tahu tempat wisata ini dari presentasi Naruto, Hinata begitu ingin mengunjunginya. Di dalam mobil suasana begitu canggung, sehingga membuat Hinata sedikit takut untuk mengatakan keinginannya apa lagi kalau dia mengingat kembali kejadian kemarin malam.

"Ehm Naruto-kun, masih lima jam lagi pesta baru akan di mulai. Apa kau mau mengantarku ke Kazan. Saat aku melihat presentasimu, ternyata pemandangan disana begitu indah. Aku jadi ingin sekali mengunjunginya. Lagipula tempat itu tidak jauh dari sini kan. Bagaimana apa kau mau?".

"Aku sekarang tidak berminat untuk pergi kemanapun" jawab Naruto ketus dan terus berkonsetrasi menyetir.

"Oh jadi begitu" ucap Hinata singkat.

Wajah Hinata yang tadinya ceria berubah menjadi raut wajah yang muram dan sedih. Hinata tak mengatakan apapun dia hanya menghela nafas sebagai tanda kecewa. Naruto melihat kearah Hinata sejenak, ada rasa kasihan di dalam hatinya. Lima jam itu waktu yang lama lagipula semua pekerjaan dia Hateruma sudah berjalan lancar dan selesai.

"Baiklah kalau begitu ayo kita pergi kesana".

"Benarkah? Yeee Kazan akhirnya aku mengunjungimu".

"Ccchhhhh, kau ini kekanak-kanakan sekali" ejek Naruto. Namun senyum manis merekah di bibirnya melihat tingkah Hinata yang lucu.

ooOOoo

Tak terasa tiga puluh menit mereka berdua menempuh perjalanan. Sampailah mereka di Kazan atau Puncak Matahari Terbit. Terdapat sebuah kawah gunung merapi yang memiliki luas Sembilan puluh Sembilan ribu persegi dan tinggi seratus delapan dua meter di kawasan wisata ini. Di tebing-tebing dekat kawah tersebut terdapat sebuah rumah dan anak tangga untuk mempermudah pengunjung berjalan. Rumah itu terletak tepat dipinggi lautan luas nan biru. Tak jauh dari rumah tersebut terdapat hamparan luas bunga berwarna kuning. Naruto dan Hinata turun dari mobil. Bibir Hinata tak bisa berhenti berbicara dan memuja-muja tempat ini. Dia benar-benar takjub dengan salah satu lukisan indah Tuhan yang maha kuasa dan segalanya.

"Wuaa, pemandangan disini begitu menakjubkan. Lebih menakjubkan dari yang ada di presentasimu Naruto-kun. Aku baru pertama kali melihat tempat yang begitu indah seperti ini seumur hidupku" ucapnya senang. Naruto hanya membalasnya dengan senyuman.

Hinata berlari menuju hamparan bunga kuning. Dia merentangkan tangan dan memejamkan mata untuk menikmati semuanya. Telinganya mendengar berbagai suara mulai dari deburan ombak serta kicauan burung yang merdu. Di tengah-tengah hamparan bunga kuning ada sebuah jalan setapak yang membawa para pengunjung menuju pantai. Naruto mengambil kamera yang ada di mobilnya. Dia berjalan mendekat kearah Hinata sambil memotret pemandangan sekitar. Semua sudut yang ada di Kazan Naruto abadikan. Dari jarak sekitar dua meter Naruto melihat Hinata sudah berada di tengah-tengah hamparan bunga. Hinata membungkuk, tangannya meraih salah satu bunga kuning itu lalu menghirupnya. Di mata Naruto, saat itu Hinata terlihat sangat mempesona, kulitnya yang putih, rambutnya yang panjang bergelombang berwarna keunguan serta gaun merah hati yang ia gunakan membuat Hinata begitu cantik di tengah-tengah hamparan bunga. Naruto memotret Hinata, entah apa yang ia lakukan namun hatinya begitu ingin mengabadikan moment ini. Setiap gerakan yang Hinata lakukan merupakan obyek untuk Naruto. Sejenak Naruto menghentikan aktifitasnya. Matanya sekarang lebih terfokus pada Hinata yang asyik bermain dengan bunga-bunga yang ada di sekitarnya. Perasaan aneh dan tak menentu yang Naruto rasakan sekarang ketika ia memandang Hinata.

"Naruto-kun, kenapa kau diam saja. Kemarilah hehe" ajak Hinata. Suara Hinata menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"Aku tidak mau. Kau ini seperti anak kecil saja" ucapnya. Naruto berjalan menjauh dari Hinata. Dia ingin sekali mengabadikan keadaan sekitar pantai. Walaupun dia sering berkunjung ke daerah ini namun Naruto tak pernah punya kesempatan untuk memotret karena dia selalu bersama dengan rekan bisnisnya.

"Hei Naruto-kun, kau mau kemana?"

Hinata berlari membuntuti Naruto. Sampailah mereka di tepi laut. Naruto duduk santai di rumput yang hijau. Tangannya tak henti untuk memainkan kameranya.

"Wow, disini pemandangan lebih indah. Aku bisa merasakan bau khas pantainya" ujar Hinata namun Naruto tak menanggapi perkataanya.

Naruto lebih fokus untuk mengambil gambar keindahan pantai daripada menanggapi pembicaraan yang tak penting. Hinata terdiam melihat Naruto. Dia melihat Naruto dari atas dari bawah. Hinata mengakui kalau Naruto hari ini terlihat lebih tampan. Saat ia memotret kharisma dalam diri Naruto keluar. Hinata teringat kembali kejadian kemarin malam antara dirinya dan pria yang ada di depannya. Setiap dia mengingat hal itu, jantungnya berdetak tak menentu. Hinata masih bisa merasakan lembut dan basahnya bibir merah Naruto. Hinata tahu kalau yang Naruto lakukan hanya untuk membuat temannya cemburu akan dirinya dan Naruto.

"Naruto-kun, kalau boleh aku tahu, siapa pria tampan yang bersamamu tadi malam? kenapa kau melakukan hal seperti itu didepannya? Lalu siapa itu Asami?"

"Apa kau begitu ingin tahu siapa dia?" tanya Naruto. Hinata pun mengangguk. "Pria tampan? ahh, seleramu rendah sekali. Dia bernama Uchiha Itachi, dari dulu dia adalah teman sekolahku namun dia tak pernah berbuat baik padaku. Aku tidak tahu kenapa dia selalu iri padaku, mengejekku bahkan membenciku. Dulu kita saling bersaing satu sama lain, maka dari itu aku melibatkanmu dalam permainanku karena aku tak ingin kalah darinya. Maaf. Untuk yang satunya lagi namanya Asami, dia adalah mantan kekasihku. Dia putri dari mentri pertahanan dan keamanan negara. Tentu saja kau tidak asing dengannya karena media sering memberitakan dirinya yang menjadis alah satu lulusan terbaik di Harvard university, Amerika".

"Ahh, gadis itu. Aku ingat sekarang. Dia gadis yang sering muncul di televisi kan? Lalu kenapa hubungan kalian bisa berakhir?"

"Dia mengkhianatiku. Lima tahun lamanya kami menjalin hubungan. Walaupun kami jauh tapi hubungan itu masih berjalan baik dan sebagaimana mestinya. Hampir empat tahun kami menjalani hubungan jarak jauh. Tapi masalah mulai timbul di tahun kelima hubungan kami. Ada yang berbeda dengannya, dia sudah mulai tak peduli padaku, tak perhatian lagi padaku, dan ketika aku berencana untuk mengunjunginya di Amerika dia melarangku. Sampai pada akhirnya dia memilih untuk memutuskan hubungan ini. Awalnya dia beralasan sudah tidak bisa berhubungan jarak jauh lagi, dia ingin berkonsentrasi dengan kuliahnya. Aku menerimanya keputusan itu karena untuk kebaikannya. Tapi setelah aku selidiki lebih jauh, ternyata dia sudah punya laki-laki lain. Sakit sekali" raut wajah Naruto tampak sedih.

"Jadi kronologinya seperti itu. Pasti itu rasanya sakit sekali. Aku belum pernah merasakan cinta bahkan sampai sekarang aku masih belum pernah punya kekasih". Ungkap Hinata.

"Benarkah? Lalu yang tadi malam, apa itu ciuman pertamamu?"

" Iya itu adalah ciuman pertamaku. Kau itu telah mencurinya hehehe".

"Gomen, aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa berbuat seperti itu".

"Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Setelah aku tahu ceritamu, aku jadi ingin membantumu sepenuhnya hehe".

Hinata tersenyum lebar. Angin laut membuat rambutnya tak karuan dan kusut. Naruto melihat ada sebuah kelopak bunga kuning yang menempel di sisi kanan rambut Hinata. Dia langsung mengambilnya, hal ini membuat Hinata tertegun. Mata mereka beradu saling memandang antara satu dengan yang lain. Kecapatan denyut jantung Hinata tak normal. Dia tahu perasaan ini adalah perasaan cinta. Cinta lima detik ternyata hal itu memang benar-benar terjadi padanya. Hinata melihat dengan jelas kalau Naruto semakin lama semakin mendekatkan wajahnya. Dia tahu apa yang akan terjadi jika ia diam saja. Suasana romantis seperti ini pasti akan membuat orang yang datang berdua antara laki-laki dan perempuan terjerumus dalam keadaan yang sama. Walaupun mereka bukanlah sepasang kekasih.

"Naruto-kun pemandangan disana juga bagus. Aku ingin kesana" ucap Hinata tiba-tiba. Tentu saja hal ini membuat Naruto sadar akan hal yang ingin ia lakukan pada gadis yang ada didekatnya.

Hinata berdiri dan berlari dengan pipi yang merona merah karena malu. Naruto sendiri juga bingung dengan perbuatannya. Tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Hasshhh, sebenarnya apa yang terjadi padaku hari ini" gumamnya.

ooOOoo

Naruto duduk diam di ruang tunggu salon. Dia menghabiskan waktu dengan membaca koran ataupun majalah yang ada di depannya untuk melepaskan rasa bosan yang melanda dirinya. Menunggu adalah hal yang paling Naruto benci namun demi citra dan harga dirinya di depan musuh bebuyutannya Uchiha Itachi, dia rela menunggu Hinata di rias oleh peñata rias yang handal agar bisa merubah penampilan Hinata yang biasa menjadi anggun dan mempesona. Sepuluh menit kemudian, make over Hinata pun selesai. Dengan langkah ragu ia berjalan mendekati Naruto.

"Semuanya sudah selesai. Ayo kita berangkat sekarang". Ucap Hinata.

Suara Hinata yang tiba-tiba membuat Naruto terkejut, tapi penampilan Hinata lebih mengejutkan. Dress dengan satu lengan, panjang sepuluh senti diatas lutut berwarna merah hati, rambut panjang bergelombang dengan mahkota kecil diatas kepalanya serta sepatu kaca dan tas silver menyala yang ia bawa membuat Hinata tampak istimewa, apalagi make up natural cocok untuk dirinya. Hinata bak bidadari yang turun dari langit. Naruto yang memiliki selera yang tinggi terhadap wanita. Dia mengakui kalau Hinata memang terlihat lebih cantik daripada biasanya. Hinata sedikit risih dengan cara Naruto memandangnya.

"Kenapa kau memandangku seperti itu. apa aku terlihat begitu aneh malam ini?"

"Bukan begitu, kau tampak beda daripada biasanya. Ayo pergi".

Hari sudah gelap, jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Suasana di tempat wisata yaitu Bunjee Artpia penuh dengan kerlap-kerlip cahaya lampu warna-warni menambah suasana romantis di malam hari. Bunjee Artpia adalah taman yang memamerkan berbagai jenis bunga dan pohon di dalam pot. Tumbuhan di taman ini hampir sebagian besar diubah menjadi bonsai. Kabarnya lebih dari seribu tanaman yang di tanam disana bahkan tujuh ratus jenis tumbuhan di datangkan dari luar negeri. Diantara pohon-pohon terdapat lampion-lampion berbentuk hati yang bergelantungan. Semua meja, kursi sudah tertata rapi di lokasi utama dari Bunjee Artpia. Sebuah panggung sederhana menambah suasana meriah di pesta petang ini. Sebagian besar tamu undangan sudah datang. Tamu yang diundang bukanlah tamu sembarangan namun tamu dari kalangan bangsawan dan anak dari orang-orang pejabat tinggi negara yang diundang. Tiba-tiba pandangan semua tamu tertuju pada pintu masuk. Terlihat seorang wanita cantik berjalan anggun dan bergandengan tangan dengan seorang pria tampan. Keduanya tampak sempurna diantara para tamu undangan. Kedatangan mereka berdua menjadi bahan pembicaraan semua tamu.

"Siapa dia? Cantik sekali, kekasihnya juga begitu tampan mereka benar-benar serasi" gumam seorang gadis bertubuh subur kepada temannya.

"Iya kau benar. Mereka benar-benar sempurna. Tapi bukankah itu Namikaze Naruto putra dari presiden kita?".

Itachi yang tak jauh dari kedua gadis itu begitu penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan. Dia sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat. Naruto datang bersama seorang gadis cantik dan mempesona. Itachi memiliki sikap yang sama dengan Naruto, sangat tinggi dalam menilai tampilan fisik seseorang. Dia mengakui kalau gadis yang Naruto ajak kepesta lebih cantik daripada Asami".

"Selamat datang Naruto. Kekasihmu hari ini terlihat sangat cantik". Ucap Itachi dengan mimik wajah yang tak mengenakan kepada Naruto. "Acara sebentar lagi dimulai, silahkan masuk bersama para undangan lain aka nada kejutan untukmu."

Setelah mengatakan hal itu Itachi menyingkir. Naruto bingung dengan kata kejutan yang diucapkan Itachi. Mendadak perasaannya dirundung rasa gelisah yang luar biasa. Lebih dalam lagi Hinata dan Naruto masuk, tak disangka banyak sekali wartawan yang meliput pesta Itachi. Hal ini sangat dimaklumi karena Itachi sangat terkenal di Jepang. Sontak pemandangan ini mengharuskan Naruto untuk melepaskan tangannya dari tangan Hinata. Para wartawan tahu kalau Naruto adalah putra presiden. Hinata pun sama, dia begitu ketakutan kalau para wartawan itu salah paham dan membuat gossip yang tidak-tidak. Dari jauh terlihat seorang pembawa acara naik keatas panggung.

"Para undangan sekalian. Acara akan segera kami mulai, sebenarnya pesta ini bukan pesta biasa namun ini adalah sebuah pesta yang sangat luar biasa. Kalian pasti tak menyangka tamu yang akan hadir di malam hari ini. Tamu ini adalah tamu agung, semua orang Jepang mengenali beliau. Kita beri tepuk tangan yang meriah untuk presiden kita tuan Namikaze Minato"

Semua orang tertegun kemudian mereka menyambutnya dengan tepukan tangan yang meriah. Presiden Minato tersenyum ramah kepada semua undangan. Naruto dan Hinata berpandangan, mata mereka seolah mengatakan satu sama lain kalau mereka tidak mengerti dengan semua ini. Tapi Naruto sudah tahu arah dari acara ini, dia sudah merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Presiden Minato memang murah senyum kepada semua kalangan masyarakat dan yang lebih mengejutkan, beliau tersenyum kearah Hinata dengan sedikit menganggukan kepalanya. Hinata membalasnya dengan ragu, Dia berpikir kenapa perilaku presiden Minato begitu padanya. Apa beliau tahu kalau dirnya adalah pengawal blue house?

"Baiklah tamu selanjutnya adalah Ayah dari tuan Uchiha Itachi yang lebih kita kenal sebagai menteri pendidikan negara Uchiha Fugaku". Semua undangan lagi-lagi bertepuk tangan dengan meriah. "Baiklah untuk yang terakhir saya persilahkan nona Yumiko dan Uchiha Itachi untuk naik keatas panggung"

Dengan perasaan bahagia dan bebunga-bunga Itachi dan kekasihnya Yumiko berjalan beriringan menuju panggung. Penampilan mereka berdua benar-benar sempurna. Mereka bak seorang raja dan ratu yang berdiri didepan para rakyatnya. Itachi menatap Naruto penuh kemenangan namun Naruto hanya membalas tatapan itu dengan senyuman tipis.

"Baiklah semuanya sudah berkumpul disini. Untuk itu saya persilahkan sang pembawa cincin naik keatas panggung" ucap sang MC. Tiba-tiba Itachi membisikan sesuatu kepada pembawa acara. Entah apa yang dia bisikan namun hal itu membuat ekspresi pembawa acara itu sedikit terkejut. Itachi mengambil microfon dari tangan sang pembawa acara.

"Sebelum saya mulai acara inti dari rentetan upacara pertunangan ini. Saya ingin mengajak sahabat saya Namikaze Naruto putra dari presiden Namikaze Naruto bersama kekasihnya untuk mendampingi saya diatas panggung"

TO BE CONTINUE