Minna! Maaf ya, fict ini gak update kilat lagi -_-V (apa lagi alasan lu tor?). S-saya..s-saya.. kena wabah malas saat liburan! *gubrak* hehehe. Alasan lainnya adalah, ide untuk fic ini hilang begitu saja, padahal akhirnya udah dapat #PLAK. Saya mau selesaiin ini fict tapi kurang semangat. Saya mau hentikan ini fict tapi gak enak sama para readers. Jadi saya minta sarannya ya! Fict ini harus lanjut apa nggak. Oke kalau begitu langsung aja. Selamat membaca!
Summer172 present :
Hujan mempertemukan mereka..
Dua insan yang saling mencintai namun tak bisa membagi cinta..
Hujan memisahkan mereka…
Saat mereka tak bisa mengatakan cinta..
Perpisahan bukanlah arti bahwa tidak ada cinta yang bersatu..
Namun..
Karena perpisahan itulah..
Sebuah cinta baru muncul..
Dan hujan yang menjadi saksinya..
Naruto by Masashi Kishimoto
Love Rain by Summer172
and The Poster by Tikais
…
Warning : OOC(maybe), Typo, Gaje, Etc.
…
Don't like? don't read!
Sakura tampak senang bertemu dengan ayah Naruto, bagaimana tidak? Seorang Namikaze Minato, pelukis terkenal pada masa dimana Sakura masih mengenyam pendidikan sekolah menengah, tengah berdiri didepannya dan mengajak berkenalan. Jika bukan karena banyak orang disini, mungkin Sakura sudah pingsan. Walaupun lelaki paruh baya itu sudah pensiun dari dunia melukis dan menjadi dosen di salah satu universitas terkemuka. Sakura tetap menjadi fans nomor satu dari pria tampan ini.
Sakura terbengong melihat pria yang ada di depannya. Tidak tahukah dia, Minato sudah mulai melirik Naruto dengan tatapan ada-apa-dengan-pacarmu-ini? Dan Naruto membalasnya dengan tatapan mana-aku-tahu-dia-bukan-pacarku. Merasa resah ditatap seperti itu oleh Sakura, Minato mengulang perkenalannya tadi.
"Nona, kau baik-baik saja? Namaku Namikaze Minato senang berkenalan denganmu." Minato masih mempertahankan tangannya yang diulurkan pada Sakura.
Sakura –yang masih belum sadar- langsung menjabat tangan Minato sekuat yang ia bisa."Hehe, m-maaf, namaku Sakura, aku..hehe..penggemar beratmu."
Minato mencoba melepas jabatan tangan Sakura, tapi tidak berhasil."M-maaf, bisakah kau melepaskan tanganku Sakura?" Ujar Minato gugup atau… ketakutan?
Sakura sadar kalau dia terlalu kuat menjabat tangan Minato dan dia segera melepaskannya."Maaf Minato-sama, aku tidak bermaksud-"
"Untuk apa tousan kesini?" Komentar Naruto pada ayahnya dengan nada sinis.
"Aku sedang liburan Naruto."
Naruto tersenyum sinis."Tousan masih bisa berlibur setelah menyakiti hati kaasan?"
Sakura, Moegi, dan Kiba terkejut dengan perkataan Naruto. Sakura mencoba mencairkan suasana."S-sudahlah Naruto, ayahmu kesini hanya untuk liburan haruskah kau-"
Naruto menatap tajam Sakura."Ini bukan urusanmu Sakura-chan, kau tidak tahu masalahnya, jadi jangan ikut campur." Naruto pergi berlalu begitu saja meninggalkan ayahnya, Sakura dan teman-temannya yang lain. Kiba mencoba mengejar Naruto.
Sakura menahan nafas. Baru kali ini dia berjumpa dengan orang yang mengerikan seperti Naruto –dan juga pastinya manusia yang terlalu baka. Minato yang melihat ekspresi Sakura yang syok, lantas menepuk-nepuk bahu Sakura untuk menenangkannya. "Jangan khawatir Sakura, dia memang selalu seperti itu."
Sakura menoleh pada Minato."Selalu?"
Minato tersenyum."Jika kita bertemu lagi, aku akan menceritakannya. Sudah dulu ya. Sakura." Minato berlalu pergi. Sakura tahu, Minato pasti sangat sedih diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri. Minato hanya tersenyum palsu untuk membuat Sakura tenang dengan kejadian tadi.
"Neechan tidak apa-apa kan?" Tanya Moegi pada Sakura.
Sakura tersenyum sedih."Tidak apa, hanya saja, aku merasa kasihan pada Minato-sama dan juga..Naruto."
.
.
Dua hari berlalu, pemotretan memang berjalan sukses. Tapi semenjak kejadian itu, agaknya Naruto menjauh dari Sakura. Padahal sebenarnya Sakura ingin lebih mengenal Naruto, entah mengapa, hanya saja dia ingin sekali lebih dekat dengan Naruto.
"Apa tema hari ini Kiba?" Tanya Naruto pada sahabatnya itu. Sekarang ini Naruto dan Kiba berjalan menuju lokasi pemotretan, ya tentunya dengan jas hujan mereka.
"Masih sama seperti kemarin Naruto, Putri Hujan." Jawab Kiba.
Naruto mendengus."Tidak ada yang lain he? Tema Putri Hujan itu sepertinya ketinggalan zaman. Kenapa tidak. 'Cinta dalam Hujan' atau 'Kecantikkan Seorang Wanita Ditengah Hujan' itu kan lebih keren."
"Hahaha. Kau sudah gila! Jika kita memakai tema 'Cinta dalam Hujan' akan terjadi protes! Model kita dua-duanya adalah wanita. Na-ru-to." Ejek Kiba. Naruto hanya mendengus kesal mendengarnya.
Sesampainya di lokasi pemotretan. Mata Naruto menangkap sosok gadis berambut merah muda yang tengah asik mengobrol dengan asistennya. Dibawah lindungan payung tentunya. Gadis itu memakai dress panjang berwarna merah muda senada dengan rambutnya. Surai merah mudanya yang sebahu itu, hanya dibiarkan tergerai dengan tiara sebagai penghiasan rambutnya.
'Dia cantik.' Itulah yang dipikirkan Naruto sekarang. Sebenarnya dia tidak ingin menjauhi gadis yang telah membuat jantungnya merasakan debaran yang aneh. Entahlah, mungkin karena kemarin dia membentak Sakura , dia merasa bersalah. Dan sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa, minta maaf? Kau menyuruhnya untuk minta maaf? Jangan harap, dia tidak akan pernah meminta maaf pada siapapun termasuk neneknya sendiri. Dia membenci kata maaf.
Sakura yang masih asik mengobrol dengan asistennya, tiba-tiba melihat kearah Naruto. Naruto yang ketahuan 'memandangnya dari jauh' sontak saja memalingkan mukanya kearah Kiba dan berpura-pura ngobrol dengan Kiba. Tapi sialnya, Kiba malah berbicara dengan orang lain. Naruto yang merasa salah langkah langsung menggaruk-garuk kepalanya.
Sakura yang melihat itu hanya tersenyum.'Dasar baka.'
.
.
"Oke! Kita break dulu!" Ucap Kiba lantang. Para kru langsung berlari ke tenda masing-masing. Mereka sudah memikirkan secangkir coklat panas dan sepiring biskuit coklat untuk menemaninya. Dua gadis yang menjadi model juga sudah pergi ke tenda masing-masing akibat kedinginan, karena mereka hanya memakai dress tipis dan diharuskan berpose ditengah hujan tanpa payung dan apapun yang dapat melindungi mereka dari hujan.
"Naruto, boleh kan aku lihat hasilnya?" Mohon Kiba pada Naruto.
Naruto yang sedang minum teh hangat di tendanya hanya mengangguk .
Kiba tersenyum mesum.'Asik, paling tidak aku bisa melihat foto Hinata terus..' Pikirnya.
Saat dia melihat-lihat hasil jepretan Naruto, Kening Kiba berkerut. Karena yang ada hanya foto Sakura, padahal kan mereka berpose bersama dalam beberapa sesi. Tapi yang ada hanya foto Sakura dan tangan Hinata, dan ada juga yang hanya menampilkan Sakura dengan setengah bagian tubuh Hinata. Ini mengerikan.
'Apa-apaan ini?' Pikir Kiba.
"Hei Naruto! Kau berniat dibunuh oleh pihak majalah? Kenapa hasilnya seperti ini?" Ujar Kiba dengan nada marah sambil memperlihatkan hasil jepretan Naruto.
Naruto melirik malas pada Kiba. "Memang apa masalahnya? Aku tidak pernah diprotes oleh pihak mana pun, apa lagi sampai dibunuh. Malahan mereka yang mencariku lagi." Ujar Naruto santai.
"Hei..hei..hei.. itu memang benar. Tapi yang ini sangat mengerikan Naruto. Kita punya dua model. Dan kau hanya memotret Sakura? Hinata bagaimana? Jangan-jangan kemarin kau melakukan ini juga!" Protes Kiba dan langsung melihat hasil jepretan Naruto yang kemarin.
Naruto menghela nafas."Hei! aku ini professional tau! Aku akan memotret orang yang benar-benar professional juga!"
Kiba menoleh kearah Naruto."Maksudmu?"
"Hinata itu menoleh terus padaku dengan wajah memerah. Tentu saja aku kesal." Ujar Naruto dengan nada kesal yang dibuat-buat. Alasan yang tidak masuk akal Naruto. Kenapa tidak kau bilang saja yang sebenarnya. Bahwa kau hanya ingin memotret Sakura.
Kiba mengerenyitkan alisnya heran. Alasan macam apa itu? " Terserah kau mau beralasan seperti apa! Tapi ingat! Besok adalah hari terakhir pemotretan, dan kau harus professional! Jika tidak, kau akan kehilangan pekerjaanmu sekaligus popularitas. Ingat itu!" Kiba memperingatkan Naruto dan langsung keluar dari tenda. Karena terlalu marah. Kiba lupa dengan rencananya untuk melihat hasil jepretan yang kemarin.
Setelah Kiba pergi, Naruto menarik rambutnya frustasi. "Hah! Kenapa aku bisa begini?"
"Apa kau mau jalan-jalan ke danau cinta lagi?" Ujar seorang gadis yang tengah berdiri di depan tenda.
Naruto menoleh."Sakura-chan?
.
.
"Sudah berapa lama kau berdiri disana Sakura-chan?" Tanya Naruto pada Sakura yang sekarang ini beriringan berjalan bersamanya di pinggir danau.
Sakura menoleh kepada Naruto."Cukup untuk mendengar semuanya."
"Hahaha, pasti kau tertawa mendengar alasan ku yang tadi."
Sakura tersenyum."Tidak juga, aku malah ingin bertanya, kenapa kau hanya memotretku tadi?"
Naruto sontak gugup. Dia tidak sempat memikirkan alasan yang pas untuk itu."Y-yahahaha, a-alasannya seperti yang kau dengar tadi." Jawab Naruto dengan cengiran khasnya.
Sakura mengerucutkan bibirnya yang membuatnya tambah manis di mata Naruto."Kukira itu alasan konyol yang kau buat untuk membohongi Kiba, tenyata itu benar? Jadi tidak salahkan aku memanggilmu baka?" Canda Sakura. Beberapa detik hening melanda. Tapi selanjutnya mereka sama-sama tertawa.
"Terus, kenapa kau menjauhiku?" Tanya Sakura dengan nada serius.
Naruto kembali salah tingkah."I-itu, entahlah, kurasa aku merasa bersalah telah bersikap dingin padamu. Dua hari yang lalu." Ujar Naruto menyesal.
Sakura terkejut."Kenapa kau merasa bersalah? Aku tidak apa-apa."
"Jadi kau tidak marah? Syukurlah kalau begitu." Ujar Naruto senang sambil mengelus dadanya.
"Ohya, Naruto. Kau tidak akan memintaku mengganti kameramu lagi kan?" Goda Sakura.
Naruto langsung menoleh pada Sakura. Dan dia baru ingat kalau dia juga merusak ponsel Sakura. "Ah, tidak, anggap saja impas, mengingat aku juga merusak ponselmu."
Mereka berhenti sesaat untuk melihat pemandangan danau. Tidak ada yang berani memulai untuk bebicara. Mereka sama-sama menikmati pemandangan untuk beberapa menit.
Sakura menoleh pada Naruto. "Jadi itu benar?" Tanya Sakura memecahkan keheningan.
Naruto menoleh kearah Sakura dengan tatapan heran. "Maksudmu?"
"Setelah kejadian dua hari yang lalu, aku mengingat ceritamu yang saat itu kau ceritakan padaku. Pertamanya, aku mengira itu hanyalah cerita omong kosong yang kau buat untuk meenggoda beberapa gadis." Sakura melihat wajah Naruto yang sedikit memerah dan Sakura tersenyum lalu dia melanjutkan perkataannya."Tapi, setelah melihat kejadian itu, malamnya aku berfikir kalau ceritamu itu adalah kisah nyata. Jadi aku-"
"Sejak kecil, aku selalu melihat ayah dan ibuku tidak pernah bahagia, ayahku ada dirumah hanya saat malam. Dan paginya dia sudah tidak ada dirumah. Saat itu aku baru berumur enam tahun dan tidak mengerti semua itu, aku berfikir bahwa ayahku bekerja keras untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga." Wajah Naruto tiba-tiba berubah menjadi sedih."Tapi, setelah aku berumur sepuluh tahun. Aku mendengar pertangkaran kedua orang tuaku. Ibuku sampai menangis dan menyebut-nyebut soal cinta pertama ayah itu. Lalu ibu meminta ayah untuk menceraikannya atau ibu sendiri yang akan menggugatnya. Mungkin karena ayah juga tidak tahan lagi, jadi ayah memutuskan untuk menceraikan ibuku dan pergi dari rumah. Semenjak ayah dan ibu bercerai, aku tinggal bersama ibuku, dan jarang bertemu ayah. Mungkin karena itulah aku membenci ayahku dan juga cinta pertamanya itu, walaupun aku tidak pernah bertemu dengan wanita itu." Jelas Naruto panjang lebar.
Naruto lalu menghadap kearah Sakura, begitu pula sebaliknya. Naruto lalu memegang bahu Sakura dengan kedua tangannya. "Apa kau masih berfikir kalau cerita itu palsu? Baru pertama kalinya aku menceritakan kehidupanku yang menyedihkan ini pada seseorang yang baru kukenal. Kiba pun tidak tahu masalah ini. Dia hanya tahu kalau hubunganku dengan Tousan tidak berjalan baik. Jadi, Sakura-chan. apa kau punya solusi untukku?" Tanya Naruto pada Sakura yang masih diam. Mata biru Naruto menatap dalam mata emerald Sakura.
Sakura tersenyum tulus."Kau hanya perlu memaafkan ayahmu dan selalu tersenyum walaupun hatimu sedang hancur. Itu akan membuatmu sedikit lebih baik." Sakura lalu menyentuh ujung bibir Naruto dan menariknya keatas sehingga tampak tersenyum.
Setelah Sakura melakukan hal tersebut, suasana tiba-tiba menjadi hening. Hujan semakin deras. Membuat mereka berdua basah kuyup karena mantel yang mereka kenakan tidak cukup tebal untuk melindungi mereka. Naruto masih memegang bahu Sakura. Mata biru Naruto tidak bisa lepas menatap mata indah Sakura. Mereka hanya saling menatap dalam hujan. Dan akhirnya, Naruto mengeliminasi jarak diantara dia dan Sakura. Semakin lama, jarak diantara mereka semakin menepis, Sakura menutup matanya. Dan bibir Naruto menyentuh lembut bibir Sakura. Naruto menciumnya dengan lembut, Sakura juga membalasnya, bukan ciuman karena nafsu tapi mungkin ciuman karena cinta? Entahlah yang jelas mereka berdua menikmatinya. Dan hujanlah yang akan selalu menjadi saksi.
.
.
Mereka berdua kembali ke lokasi pemotretan dengan wajah yang memerah, ah bukan, bukan karena kedinginan, tapi, yah, pastinya kalian sudah tahu apa yang terjadi. Moegi dan Kiba yang, ya, kembali lagi menjadi tim pencari Naruto dan Sakura akhirnya bertemu mereka.
"Neechan! Neechan dari mana sih? Pemotretan seharusnya sudah berjalan lima menit lalu!"Omel Moegi pada Sakura yang ngomong-ngomong wajahnya tambah memerah.
"Kau juga Naruto! Apa yang kukatakan padamu tadi? Kau harus professional, jangan sembarangan pergi-pergi begitu saja! Aku dan Moegi sangat khawatir dengan kalian berdua, apa kalian bertengkar lagi?" Kiba sepertinya sedang emosi, apa karena dia tidak mendapatkan foto Hinata ya?
"Kenapa kau jadi pemarah begini Kiba? Kau itu managerku, bukan ayah atau ibuku. Jadi jangan ikut campur!" Balas Naruto.
Sakura menengahi adu mulut itu. Sebelum terjadi adu otot. "Sudahlah, . aku yang salah, seharusnya aku tidak mengajak Naruto tadi." Sakura menunduk."Maaf ya. Kiba."
Naruto menoleh kearah Sakura."Ini bukan salahmu Sakura-chan." Lalu menoleh pada Kiba."Aku menyesal Kiba. Aku hanya ingin menjernihkan pikiranku tadi. Jadi aku pergi sebentar, ayo kita mulai saja sekarang pemotretannya." Naruto lantas menarik tangan Sakura dan pergi dari sana. Kiba dan Moegi hanya terbengong melihat gelagat mereka. Moegi dan Kiba berfikir ulang apa yang baru saja terjadi, wajah yang memerah saat kembali , pembelaan satu sama lain, dan berpegangan tangan?
"Apa yang terjadi Kiba-san? Apa mereka pacaran?" Tanya Moegi pada Kiba.
Kiba melihat punggung mereka berdua yang semakin lama semakin hilang dari pandangan. Lalu menoleh pada Moegi."Mungkin…"
"Kenapa kau tidak meminta maaf?"Ujar Sakura yang saat ini sedang berada disamping Naruto.
Naruto mengeleng."Aku tidak pernah mengucapkan kata itu. Untuk siapapun." Ujar Naruto dingin.
Sakura merasa heran."Kenapa?"
Naruto berhenti dan menatap Sakura."Karna, ayahku selalu mengatakan hal itu pada ibuku. Dan apa yang terjadi? Sama seperti biasanya, ayahku selalu bersikap dingin pada ibuku." Lalu Naruto berlalu pergi, meninggalkan Sakura dan melepaskan genggaman tangannya.
Sakura menatap kepergian Naruto."Kenapa kau belum bisa memaafkan ayahmu?" Gumam Sakura sedih.
.
.
Hari terakhir pemotretan berjalan sukses. Mereka mengadakan karoke bersama. Semuanya datang, tak terkecuali Naruto dan Sakura. Setelah 'adegan ciuman ' itu terjadi. Mereka makin akrab saja. Sampai-sampai semua kru pemotretan menganggap mereka berdua pacaran.
"Hua! Kiba, kau menginjak kakiku. Jangan terlalu bersemangat!'
"Hahaha, aku sedang mabuk tau! Jangan mengganggu Kiba sang master!" Teriak Kiba yang sedang mabuk lalu berdiri diatas meja."Aku akan bernyanyi! Dengar ya! Lagu ciptaankuuu, untuk Hinata tersayang!"
"HUUU! KIBA! KIBA! KIBA!" Teriak para kru histeris. Hinata hanya meringis, antara malu dan marah. Sakura dan Naruto hanya tertawa melihat tingkah Kiba yang sedang mabuk.
Kiba memulai aksinya."Aku selalu mencintaimu! Tapi kau tidak pernah peduli..Hinata I LOVE YOU!" Dendang Kiba, dengan suara fals nya juga lirik dan nada yang kacau.
Hinata hanya mendengus kesal. 'Apa-apaan Kiba itu? Buat malu saja.' Pikirnya.
"Naruto… aku ke wc sebentar ya!" Ujar Sakura pada Naruto.
"Iya Sakura-chan! hahaha! Hei Kiba! Kau membuatku bangga! Hahaha!"
Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu berjalan keluar dari kamar karoke.
Hinata melirik kepergian Sakura. 'Ini kesempatanku!' Hinata tersenyum licik. Lalu menghampiri Naruto.
"Naruto-kun, aku ingin bicara denganmu sebentar, boleh tidak?" Ujar Hinata pada Naruto.
Naruto melirik malas."Mau bicara apa? Disini saja."
"I-ini penting Naruto-kun! Aku tidak ingin pembicaraan kita didengar orang lain!"
Naruto akhirnya bangkit dari tempat duduknya."Baiklah. ayo keluar."
.
.
Hinata memilih tempat yang agak sepi dari keramaian. tepatnya di halaman parkir gedung karoke.
"B-begini Naruto-kun, aku ingin bilang..hmm..aku ingin bilang.." Hinata ragu-ragu untuk mengatakannya.
Naruto tidak sabar menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Hinata. Dan memaksa Hinata untuk cepat mengatakannya."Cepatlah Hinata! Kau ingin bilang apa?"
Hinata akhirnya memberanikan dirinya."Aku mencintaimu Naruto-kun!"
.
.
Sakura kembali ke kamar karoke, tapi dia tidak melihat Naruto berada di tempat duduknya."Moegi! dimana Naruto?" Akibat suara musik yang keras Sakura harus teriak-teriak jika ingin bicara.
Moegi melihat kearah Sakura."Tadi aku lihat dia keluar!"Moegi melihat lagi kearah Kiba yang bertingkah semakin gila."Kiba-san! Kau membuatku takut! Jangan bertingkah seperti itu!"
"Naruto pergi kemana?"Gumam Sakura. Lalu dia berniat mencarinya dan tidak menghiraukan lagi tingkah gila Kiba.
.
.
Naruto kaget mendengarnya."A-apa?"
Wajah Hinata sudah memerah seperti tomat. "A-aku mencintaimu Naruto-kun! Apa kau tidak menyadarinya selama ini?"
Naruto menyilangkan kedua tangannya di depan dada."Aku tidak bisa berpacaran denganmu, aku sudah menyukai orang lain."Ujar Naruto tenang dan berbalik menuju gedung karoke. Tapi, Hinata menarik Naruto dan langsung menciumnya.
.
.
Sakura sedang mencari Naruto yang hilang entah kemana. Tapi belum ketemu juga. Akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di bangku café yang berada di gedung karoke itu. Saat dia memandang keluar jendela, Sakura melihat Naruto dan juga Hinata di halaman parkir. Sakura berniat menghampirinya.
Sakura berlari kearah Naruto. "Naru-" Betapa kagetnya Sakura melihat Naruto dan Hinata sedang berciuman. Sakura menitikkan air matanya. Semakin lama semakin deras. Lalu dia berjalan pergi.
Naruto melepaskan ciuman dari Hinata."Apa yang kau perbuat! Kau sudah gila!" Lalu Naruto berbalik untuk segera pergi dari Hinata.
Saat berbalik, Naruto melihat ada sosok gadis bersurai merah muda yang sepertinya baru melihat kejadian itu."Sakura-chan? Apa dia melihatnya?"Naruto membulatkan matanya dan segera mengejar gadis itu untuk menjelaskan semuanya. Dia berlari sekuat yang ia bisa. Meninggalkan Hinata sendirian.
Hinata tersenyum licik."Tidak apa kau tidak mencintaiku. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu. Orang lainpun tidak."
.
.
Naruto mengejar Sakura dan memanggilnya. Tapi Sakura tidak mau berhenti. "Sakura-chan tunggu! Aku akan menjelaskan semuanya!"
Sakura lalu berhenti dan cepat-cepat menghapus air matanya dan berbalik kearah Naruto."Tidak ada yang perlu dijelaskan Naruto. Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kau ingin mempermainkanku dan juga Hinata kan?! Aku tidak menyangka kau seperti itu Naruto! Kukira kau berbeda dari pria yang pernah kutemui! Tapi sama saja! Tidak ada bedanya! Aku berharap kita tidak pernah bertemu lagi!" Sakura berlari kearah kamar karoke. Meninggalkan Naruto tanpa penjelasan sedikitpun.
Naruto terdiam kaku disana dengan tatapan sedih kearah Sakura. "Tapi, aku mencintaimu Sakura-chan." Lirihnya.
Hua! Kan! Kan! Kan! Gak percaya! *sambil nunjuk muka para readers* ini fict jadi gaje minta ampun! T_T *abaikan* rencananya chapter 4 akan saya publish beberapa jam lagi atau mungkin besok. Jadi, reviewnya please!
