LOVE IN BLUE HOUSE / CHAP 5
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Action (mungkin)
Pairing : Naruhina
Rating : T
WARNING
TYPO, OOC BANGET, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL
.
.
.
Semua tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah. Sorakan demi sorakan keluar dari mulut mereka. Seorang gadis kecil berumur sekitar dua belas tahun tiba-tiba berjalan keatas panggung dengan membawa sebuah kotak hitam beralaskan bantal merah. Gadis itu bak seorang putri dengan balutan gaun putih dan mahkota kecil di atas kepalanya. Pernyataan Itachi membuat Naruto dan Hinata bingung, tak tahu harus berbuat apa. Tak hanya mereka berdua yang kaget dengan apa yang terjadi namun ayah Naruto presiden Namikaze Minato juga terkejut dengan hal ini. Hinata sangat ketakutan, dia takut kalau hal ini akan membuat dirinya menjadi bahan gunjingan publik atau bahkan dia akan kehilangan pekerjaannya sebagai pengawal Blue House. Hinata tiba-tiba merasakan pergelangan tangannya ditarik oleh Naruto.
"Hei Naruto-kun, apa yang akan kau lakukan?," tanyanya namun Naruto tak menghiraukan dirinya. Dia terus menggandeng Hinata sampai ke atas panggung.
Para wartawan semakin semangat memotret mereka berdua. Hinata yakin, ini akan menjadi berita utama baik dimedia cetak maupun elektronik. Sekilas Hinata melihat kea rah ayah Naruto. Raut wajahnya tampak datar seolah semua baik-baik saja bagi beliau atau mungkin datarnya ekspresi beliau merupakan cara untuk menahan amarah yang bergejolak dihatinya. Hinata tak tahu yang jelas tamatlah sudah semuanya. Kali ini dia akan benar-benar kehilangan pekerjaanya. Batin Hinata dalam hati.
"Baiklah, pembawa cincin pertunangannya sudah di atas panggung. Sebelum dilakukannya tukar cincin alangkah baiknya jika kita mempersilahkan tuan Namikaze Minato sebagai saksi disini mengungkapkan perasaannya tentang hari pertungan putra dari sahabatnya," ucap MC penuh semangat.
Ayah Naruto yang tak lain adalah presiden Jepang, Namikaze Minato naik ke atas mimbar dan mulai mengungkapkan perihal pertunangan ini.
"Selamat malam semuanya. Disini saya berbicara kepada anda semua sebagai seorang sahabat dari tuan Uchiha Fugaku bukan sebagai pemimpin negara". Para undangan tertawa dengan pernyataan beliau. "Saya merasa terhormat bisa diundang dan dijadikan saksi diacara pertunangan putra tuan Uchiha Fugaku sekaligus sahabat saya. Tak banyak kata yang saya ucapkan. Saya berharap semoga acara ini akan berjalan lancar. Arigatou"
Ayah Naruto turun dan berdiri di sebelah putra sahabatnya dengan raut wajah yang berbeda dengan sebelumnya, beliau tersenyum didepan khalayak ramai namun hal itu membuat tanda tanya besar bagi putranya. Naruto berpikir akankah ayahnya kecewa, marah, atau biasa saja dengan apa yang terjadi. Itachi benar-benar keterlaluan terhadap dirinya. Ini bukan sekedar persaingan biasa namun ini sudah menyangkut reputasi ayahnya dan keluarganya dimuka publik. Naruto berniat untuk membalasnya kelak.
"Baiklah kalau begitu, kita langsung saja pada inti acara yaitu pertukaran cicin antara dua pasangan, tuan Uchiha Itachi silahkan."
Itachi mengambil salah satu cincin berukuran kecil. Dengan hati-hati ia mulai memasangkan cincin tersebut di jari manis tangan kiri. Kebahagiaan tergambar jelas diwajah gadis cantik yang tepat di depannya. Sekarang giliran Yumiko yang memasangkan di jari manis Itachi. Sorak sorai para tamu undangan terus bergemuruh. Prosesi berikutnya, Itachi dan Yumiko diharuskan untuk memotong kue lalu diberikan kepada orang tua mereka masing-masing, tak lupa Itachi juga memberikan potongan kue kepada Hinata dan Naruto.
"Waw, hari ini benar-benar terlihat sangat romantis. Sebelum para undangan makan malam dan melanjutkan dengan pesta dansa, aku ingin bertanya kepada kedua pasangan ini. Yumiko-chan, bagaimana perasaanmu?," ucap MC acara.
"Aku benar-benar merasa bahagia hari ini. Tak ada yang lebih membahagiakan lagi kecuali moment ini selama hidupku. Doakan saja hubungan kami semoga sampai ke jenjang pernikahan," kata Yumiko dengan hati yang berbunga-bunga.
"Itachi-kun, bagaimana denganmu?."
"Tentu saja aku bahagia hari ini," ucap Itachi singkat dengan senyum sumringah.
"Hanya itu saja?" tanya MC sekali lagi, Itachi pun mengangguk.
"Baiklah kalau begitu kita lanjutkan keacara selanjutnya. Untuk para undangan nikmati makan malam serta berdansalah sepuasnya. Tentunya pembukaan acara dansa di mulai oleh kedua pasangan malam ini bukan? ".
"Iya," teriak semua undangan.
Semua orang diatas panggung turun dan berbaur dengan semua undangan kecuali ayah Naruto dan ayah Itachi. Hinata benar-benar pusing, pikirannya kalut. Dia takut akibat yang akan diterima olehnya nanti. Dia hanya bisa pasrah kelak dengan apa yang akan terjadi nanti dihidupnya. Dia siap jika harus dipecat. Naruto melihat Hinata yang tampak sedih. Hatinya tergerak untuk menenangkan pikirannya.
"Semuanya akan baik-baik saja percayalah padaku. Ayah tidak akan marah padamu HyugaHinata. Dia juga tidak mungkin memecatmu hanya karena ini."
"Bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan?," tanya Hinata heran.
"Karena aku adalah sebagian dari jiwamu," ucap Naruto spontan namun lirih.
"Apa?."
ooOOoo
Belum sempat Hinata mendapat penjelasan dari Naruto atas ucapannya. Dua orang pria tampan sudah menghampiri Naruto. Dari penampilan mereka sudah terlihat sosok pria keturunan pejabat dan bangsawan. Mereka adalah teman Naruto waktu masih sekolah menengah atas. Pria tinggi berjas hitam putih dengan rambut cepaknya bernama Watanabe Daichi sedangkan pria berjas silver dengan rambut agak panjang bernama Hashimoto Hiro.
"Naruto bagaimana kabarmu?,"tanya Hiro
"Seperti yang kau lihat. Aku begitu baik hehe," jawab Naruto.
"Naruto, pacarmu benar-benar cantik. Nona kalau kau sudah bosan dengan Naruto datanglah padaku aku akan lebih membahagiakanmu hehe." Daichi mulai meluncurkan jurus-jurus rayuan mautnya.
" Hei, jangan macam-macam kau. Dia hanyalah miliku," sahut Naruto.
"Ahahah aku tahu. Sekarang bergabunglah dengan kami. Tenang, kekasihmu tidak akan diculik oleh orang,"
Naruto tak menjawab dia hanya menatp Hinata sejenak, seolah dia meminta persetujuan Hinata apakah diijinkan olehnya atau tidak.
"Pergilah, tidak apa-apa jika aku sendirian,"
"Baik kalau begitu. Aku pergi," pamit Naruto
Naruto pun pergi bersama teman-temannya. Hinata menghabiskan saat-saat pesta sendirian. Dia lebih memilih makan-makanan enak yang sudah terhidang di meja daripada harus melihat pesta dansa. Tiba-tiba seorang pria berjas mendatanginya.
"Apa anda nona Hyuga Hinata?," tanya seseorang ramah.
"Ehh? Iya benar, ada apa anda mencariku?."
"Tuan presiden ingin berbicara dengan anda."
"Apa? Presiden?."
ooOOOoo
Di sebuah ruangan khusus tempat makan malam presiden. Hinata duduk diam, dia merasa canggung dengan situasi seperti ini. Dia sendiri juga tidak menyangka bisa satu meja makan malam dengan pak presiden. Hinata tahu beliau akan membicarakan kejadian malam ini mengenai hubungannya dengan putranya, dan setelah itu beliau akan memecatnya. Hinata yakin hal itulah yang akan terjadi padanya. Laki-laki paruh baya itu tersenyum ramah pada Hinata. Ruangan ini didesain seperti rumah tradisonal Jepang, disisi kanan Hinata terdapat pintu kaca bergaya tradisional. Jadi dari dalam bisa melihat pemandangan indah diluar. Hinata terus menunduk karena ia begitu malu, sesekali ia melirik orang tua yang ada di depannya.
"Jangan tundukan kepalamu. Lihatlah aku," perintah ayah Naruto. Perlahan Hinata menengadahkan kepalanya dan mulai memandang beliau sambil tersenyum. "Aku sungguh senang kepala departemen keamanan meloloskan anda untuk bekerja menjadi pengawal presiden diBlue House. Aku jadi teringat awal kita bertemu dulu. Anda adalah gadis yang ceria, jujur serta lucu, membuat orang di sekitar anda merasakan kebahagiaan yang anda punya," ucap ayah Naruto panjang lebar.
"Awal kita bertemu dulu? Maaf saya bertanya seperti ini tapi kapan anda bertemu dengan saya? karena aku merasa tak pernah bertemu dengan pak presiden sebelumnya," tanya Hinata polos. Dia memang merasa tak pernah bertemu dengan orang nomer satu di Jepang ini.
"Ahahahahahha," suara tawa presiden memecah keheningan didalam ruangan "Jadi anda tidak tahu kalau itu adalah saya? iya tentu saja karena pada saat itu saya memakai topi. Apa anda ingat seorang pria tua sedang asyik memancing di danau. Dengan jaket putih serta topi coklat."
Hinata kembali memutar kejadian-kejadian yang sudah ia lewati. Iya, dia sudah mulai ingat. Pada saat hari pertama dia mengikuti test masuk menjadi pengawal blue house, Hinata bertemu dengan pria paruh baya yang asyik memancing. Dia benar-benar tidak tahu kalau itu beliau apalagi pada saat itu Hinata melakukan hal yang konyol. Itu sungguh memalukan.
"Astaga, jadi paman itu adalah anda ?," tanya Hinata. Ayah Naruto mengangguk. Hinata benar-benar malu, andai saja wajahnya bisa dilepas dan disembunyikan. "Maafkan saya jika ada sikap saya yang kurang sopan pada saat itu." Hinata berdiri dan membungkuk beberapa kali
"Aduh kau ini. Tidak ada sikapmu yang kurang sopan malah saya merasa terhibur denganmu. Saya senang kepala departemen menugaskanmu untuk menjadi pengawal putraku. Siapa tahu saja dengan adanya kau sifat keras kepala dan kakunya hilang. Tolong jaga Naruto dengan baik, raut wajahnya setelah bertemu denganmu lebih terlihat cerah."
"Tentu saya akan menjaga dia dengan baik karena itu sudah tugas saya."
"Aku mengajak anda makan malam karena aku ingin mengatakan sesuatu,"ucap ayah Naruto penuh keseriusan. Hinata sudah tahu apa yang akan dibicarakan.
"Pak presiden, maafkan saya. Saya tahu apa yang akan anda bicarakan. Saya mau menjelaskan kalau saya tidak ada hubungan apa-apa dengan putra anda. Saya hanya membantunya berpura-pura menjadi pacarnya, dia berbuat seperti itu karena Itachi selalu mengejeknya . Saya mohon jangan pecat saya," ujar Hinata memelas. Ayah Naruto terdiam mendengar ucapan Hinata. Tiba-tiba ledakan tawa datang dari beliau.
"Ahahahaha kau benar-benar lucu. Aku tidak menghiraukan hal semacam itu, biarlah Naruto yang menyelesaikan masalahnya sendiri, aku juga tidak akan memecatmu nona. Aku tahu kalau Itachi itu begitu iri dengan Naruto dari dulu," ucap ayah Naruto dengan senyum ramahnya.
"Benarkah anda tidak marah padaku? Arigatiu Gozaimasu," ucap Hinata. Ayah Naruto pun mengangguk.
"Aku ingin menceritakan kisah ayahmu denganku padamu. Hyuga Hiashi, ayahmu dulu adalah sahabat baiku sebelum aku menjadi presiden. Aku sangat menyayanginya seperti keluarga sendiri. Hal terberat yang aku alami bersama ayahmu ketika aku tahu dia adalah pengawalku. Pekerjaan menjadi pengawal presiden begitu berbahaya, nyawa mereka seolah tak berharga dikalangan kami. Pernah suatu saat dia mencoba melindungiku dari serangan teroris diawal karirku menjadi pesiden. Dia terluka parah di bagian dada kananya, aku merasa benar-benar berdosa telah membuatnya terluka demi melindungiku. Ayahmu benar-benar orang yang baik. Banyak persamaan antara kau dan ayahmu, aku merinduukannya maka dari itu aku memanggilmu," ucap ayah Naruto panjang lebar.
Hinata hanya mengangguk dan tersipu malu. Dia tidak menyangka kalau ayahnya adalah sahabat presiden Namikaze Minato sewaktu kecil. Tak pernah sekalipun ayahnya menceritaka hal ini baik pada dirinya bahkan ibunya. Dia bangga ada orang yang mengatakan padanya bahwa dirinya mirip ayahnya. Apalagi yang mengatakan hal semacam itu adalah orang nomer satu di Jepang.
"Walapun ayah terlihat gagah tapi dia sangat takut dengan kecoak hehe."
"Ahahaha, benarkah?. Silahkan minum tehnya jangan lupa makan yang banyak biar sehat dan tidak lemas kalau bekerja".
Hinata lagi-lagi tersenyum menanggapi perkataan Presiden. Sedikit demi sedikit Hinata menyeruput teh. Matanya beralih memandang pria tua didepannya. Ada sebuah titik sinar hijau dipinggiran kepala ayah Naruto. Hinata merasa aneh dengan pemandangan ini. Secara perlahan mata Hinata menelusuri dimana asal sumber sinar itu. Dari jauh terlihat sosok pria dengan mengenakan masker hitam tanpa ragu menodongkan senjata siap untuk menembak. Sontak hal ini membuat Hinata terkejut dan takut.
" AWAS," teriaknya.
Hinata dengan sigap berlari dan mendorong ayah sang presiden kebelakang. Pyaarrr! terdengar bunyi pecahan guci karena terkena tembakan. Pekikan teriakan para tamu undangan membuat suasana malam ini sangat mencekam. Semua tamu berhamburan lari untuk menyelamatkan diri. Detik berikutnya seluruh pengawal presiden bergerak masuk dan membentuk formasi tertentu untuk melindungi beliau sedangkan pengawal lainnya mengejar si pelaku penembakan. Hanya ada satu pengawal yang menenangkan ayah Naruto dari kepanikan dan keterkejutan.
"Apa itu tadi?," tanya ayah Naruto dengan nada gemetar.
"Pak presiden, segeralah keluar dari sini. Tempat ini sudah tidak aman untuk anda," ucap Hinata penuh rasa khawatir.
"Naruto, putraku Naruto."
"Tenanglah pak, saya akan mencari Naruto sekarang. Senpai, lindungilah beliau."
Hinata langsung bergerak dan berlari secepat mungkin untuk mencari Naruto. Dia tak melihat satu pun orang yang ada di lokasi pesta. Hinata begitu takut jika terjadi apa-apa dengan Naruto. Dia tak membayangkan kalau tiba-tiba ia melihat Naruto tergeletak dan tak bernyawa lagi.
"Naruto-kun, Naruto-kun. Kau dimana?," teriak Hinata sekencang-kencangnya.
Tak ada jawaban dari teriakan-teriakannya. Perasaan Hinata semakin gundah dan khawatir. Bagaimana kalau Naruto disandera? bagaimana kalau Naruto dibunuh? itu yang ada didalam benaknya. Hinata berlari kesana kemari tak tahu arah. Hinata berdiri di pinggir meja, matanya mulai berair karena tak bisa menemukan Naruto. Ia takut untuk kehelingan Naruto secepat ini. Tiba-tiba ia merasakan pergelangan kakinya dipengang oleh seseorang.
"Hinata-chan, Hinata-chan," suara tenor seorang pria memanggil lirih Hinata.
Gadis itu hafal betul kalau suara itu adalah suara Naruto. Hinata langsung membungkuk dan membuka penutup meja. Terlihat Naruto dengan ekspresi wajah yang ketakutan dan panik.
"Naruto-kun apa kau baik-baik saja?," tanya Hinata. Naruto mengangguk lemas. "Keluarlah, disini sudah aman. Lebih baik kita segera masuk kedalam hotel dan kembali ke Tokyo,"
Naruto keluar dari bawah meja. Ekspresi takut masih terlihat jelas diraut wajah Naruto. Hinata tanpa sengaja melihat telapak tangan Naruto bersimbah darah namun ia tak betanya untuk saat ini kenapa tangannya bisa terluka.
"Naruto-kun peganglah pinggangku, ikuti kemana aku akan pergi. Jangan sekalipun kau melepasnya. Aku akan melindungimu."
ooOOoo
Hinata menyusuri jalan setapak di sekitar bunjee artpia dengan hati-hati menuju ke hotel. Tanganya selalu siap dan sigap menodongkan pistol. Sesekali ia menodongkannya di semak 'belukar ataupun di pinggiran pohon. Sejauh ini semuanya aman tak ada serangan balik yang ditujukan kepada mereka. Mungkin yang diincar oleh orang itu adalah hanya presiden bukan Naruto. Sesampainya dikamar Naruto, Hinata langsung mengambil perelengkapan obat-obatan yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Naruto duduk di sofa sambil merintih menahan luka di tangannya. Hinata duduk diatas meja yang pendek tepat di depan Naruto. Hinata membasuh luka Naruto dengan air bersih.
"Ouchh, sakit, pelan-pelan kalau mengobati," protes Naruto.
"Hei aku sudah pelan, kau ini cerewet sekali. Bagaimana bisa ada luka seperti ini ditanganmu? lukamu begitu dalam."
"Saat para tamu undangan berhamburan lari tanpa sengaja tanganku mengenai potongan gelas yang pecah. Pada saat itu aku panik sehingga aku tidak waspada melihat hal-hal kecil di sekelilingku."
"Oh jadi begitu lalu dimana Itachi dan tunangannya?," tanya Hinata.
Sekarang dia sibuk membalut perban di telapak tangan Naruto. Naruto tak menjawab dia hanya diam dan memandang Hinata penuh arti. Naruto merasakan hal aneh di dalam hatinya. Entah kenapa ia merasa tak mau jauh dengan Hinata. Jantungnya berdegup kencang lagi, hatinya berbunga-bunga jika Hinata ada di dekatnya. Naruto tahu kalau perasaannya berubah menajdi perasaan suka, sayang atau bahkan cinta. Mungkin itu semua terlalu cepat namun itulah yang ia rasakan sekarang. Naruto ingin mengatakan apa yang dia rasakan.
"Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu. Hinata-chan, seluruh publik sekarang mengira kalau kau benar-benar kekasihku. Aku tak menyangka kejadiannya seperti ini. Aku rasa kita jangan berbohong lagi," jelas Naruto panjang lebar.
"Aku setuju. Kau harus cepat-cepat mengklarifikasi semuanya. Sekarang dimana kopermu? Aku akan membereskan semua pakaianmu dan kembali ke Tokyo sekarang bersama ayahmu. Tempat ini sudah taka man lagi,"
"Bukan seperti itu. Yang aku maksudkan kita benar-benar menjalin
hubungan ini. Kalau awalnya kau hanya berpura-pura menjadi pacarku sekarang kau jangan berpura-pura lagi," ucap Naruto cepat.
"Aku tahu dan memang kita harus menjelaskan semuanya kalau itu hanya salah paham belaka," sahut Hinata.
"Bukan seperti itu. Hinata-chan, aku jatuh cinta padamu,"
Hinata berhenti sejenak dari aktivitasnya. Dia tak percaya kalau Naruto akan mengatakan hal itu bahkan memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Ingin sekali Hinata mengatakan hal yang sama namun dia tahu siapa dirinya. Dia hanyalah seorang pengawal presiden tak pantas ia bersanding dengan Naruto. Hinata tahu Naruto hanya bergurau dengan omongannya. Hinata menatap Naruto tajam.
"Aku bertugas untuk melindungimu Naruto-kun, tanggung jawabku untuk menjagamu sangatlah besar. Nyawamu lebih berarti, jadi sekarang bukan saatnya kau bercanda," ucapnya.
Hinata akhirnya menemukan koper Naruto diatas lemari. Diambilnya kopers itu. Satu persatu mulai Hinata memasukan semua pakaian kedalamnya. Naruto terdiam, termenung dan berpikir. Ia baru sadar kalau Hinata melindunginya melebihi apapun, ia baru sadar kalau nyawa Hinata tak ada harganya demi menyelamatkan dirinya. Hal ini membuat hati Naruto terasa perih.
"Aku tidak bercanda. Aku serius, mungkin buatmu aku konyol karena baru beberapa hari kita kenal, aku sudah mengatakan cinta padamu tapi itulah yang aku rasakan. Cinta lima detik, apa kau tahu istilah itu?."
Hinata terdiam sesaat. Cinta lima detik, ya benar itulah yang ia rasakan saat mengenal Naruto. Dan itu terjadi disaat dia dan Naruto berdua seharian. Tok..tok..tok..terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Naruto. Hinata tahu orang itu adalah tentara yang menjemput Naruto untuk membawanya pulang di Tokyo.
"Kau akan pulang bersama ayahmu malam ini dikawal oleh para tentara militer. Ketua pengawal blue house dan departemen keamanan akan mengadakan rapat darurat disini bersama dengan pengawal yang lain," ucap Hinata.
"Aku tidak mau, aku ingin bersamam disini," bantah Naruto.
"Naruto-kun! apa kau lupa siapa aku? aku adalah pengawalmu, aku adalah gadis biasa. Aku tidak pantas bersanding dengan darah bangsawan sepertimu. Kehidupanku dan kehidupanmu sangatlah berbeda. Apa kau tidak menyadari itu?,"
Naruto terdiam mendengar perkataan Hinata namun dia tidak peduli dengan semua itu yang ia inginkan hanyalah Hinata, cinta Hinata bukan status sosial yang ia inginkan. Hinata bergegas membuka pintu. Naruto tahu Hinata juga mencintainya karena mata Hinata tak bisa berbohong. Mata Hinata berbicara saat Hinata memandang dirinya.
"Tunggu sebentar , kau sama sekali tak mengatakan padaku kalau kau tidak mencintaku bukan? Aku tahu aku mencintaiku, matamu itu tak bisa berbohong Hinata-chan,"
"Kau salah besar Naruto-kun. Aku sama sekali tidak mencintaimu. Sekarang cepatlah anda pulang. Pak presiden sudah menunggu anda" Hinata mengatakan hal itu sambil membuka pintu kamar Naruto. Terlihat lebih dari empat tentara yang menjemput Naruto.
"Aku tahu kau berbohong Hyuga Hinata. Aku akan menunggumu di Tokyo."
Iya memang benar kalau dia juga mencintai Naruto, Bagaikan langit dan bumi itulah peribahasa yang tepat untuk dirinya dan Naruto. Lebih baik dia tidak mengakui perasaannya.
TO BE CONTINUE
MAAF KALAU PART INI GAG JELAS
AKU BENAR-BENAR BERTERIMA KASIH PADA KALIAN KARENA UDAH MAU REVIEW, FAVORIT, DAN FOLLOW FF INI.
MAAF JUGA AKU TIDAK BISA MEMBALAS REVIEW KALIAN SATU-SATU. AKU BENAR-BENAR TERIMA KASIH :)
