Minna! Maaf ya, Sum kurang menepati janji, hehehe. Soalnya kemarin itu Sum melihat respon yang kurang. Jadinya Sum putuskan hari ini updatenya *di jitak sama para readers* tapi karena masih banyak yang suka dengan fict ini. Sum gak jadi menghapus fict ini! Yey! *heboh sendiri* ya udah deh langsung aja. Sum gak banyak bacot hari ini, soalnya Sum lagi puasa. Nanti kalau ngebacot para readers emosi lagi XD (readers : perasaan itu ngebacot juga deh tor! Cepetan!) Yosh! Selamat membaca!
Summer172 present :
Hujan mempertemukan mereka..
Dua insan yang saling mencintai namun tak bisa membagi cinta..
Hujan memisahkan mereka…
Saat mereka tak bisa mengatakan cinta..
Perpisahan bukanlah arti bahwa tidak ada cinta yang bersatu..
Namun..
Karena perpisahan itulah..
Sebuah cinta baru muncul..
Dan hujan yang menjadi saksinya..
Naruto by Masashi Kishimoto
Love Rain by Summer172
and The Poster by Tikais
…
Warning : OOC(maybe), Typo, Gaje, Etc.
…
Don't like? don't read!
Sakura masuk ke kamar karoke. Air mata yang sempat diusapnya kembali mengalir ketika Naruto tidak ada dihadapannya. Dia sangat terpukul, ia mengira kalau Naruto berbeda dengan pria lain. Tetapi, sama saja. Tidak ada yang bisa mengerti dirinya, tidak ada yang bisa mengerti hatinya, tidak ada. Tidak ada.
Moegi yang melihat Sakura masuk dengan linangan air mata, merasa khawatir. "N-neechan tidak apa? Apa yang terjadi?"
Untung saja semua sedang sibuk melihat Kiba yang sedang kehilangan kewarasannya. Jadinya, tidak ada yang memperhatikan Sakura yang sedang menangis."Hiks..M-Moegi..hiks..ayo kita kembali ke Konoha malam ini."
Moegi membulatkan matanya."Apa?! ada apa?"
Sakura menghentikan tangisnya. Lalu menghapus air mata yang mengalir di pipinya." Pokoknya, kita pergi malam ini!" Sakura lalu menarik paksa Moegi dari kamar karoke.
Moegi mencoba memberontak."N-neechan! Tunggu dulu. Kita harus pamit dulu pada mereka!"
Sakura malah mengencangkan pegangan tangannya pada Moegi."Tidak usah. Kita kabari jika sudah sampai!"
Moegi akhirnya menurut. Jika sudah begini, tidak mungkin Sakura akan mengikuti keinginan Moegi.
Naruto sudah tidak ada di sana –tempat mereka sempat bertengkar tadi. Sakura sempat berhenti dan berjalan lagi. 'Dimana Naruto?' pikirnya. Tapi dia tidak ambil pusing dengan itu. Bukankah dia sudah berharap tidak akan bertemu lagi dengan Naruto?
.
.
Jika kalian bertanya sedang apa dan dimana Naruto kini, inilah jawabannya. Naruto sekarang sedang berada di bar. Minum-minum untuk membuatnya merasa lebih baik. Benarkah? Atau hanya untuk pelampiasan saja? Entahlah, yang jelas dia sedang depresi saat ini. Ini mungkin karena Sakura. Sakura memutuskan untuk membencinya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Padahal malam ini dia akan menjadikan Sakura kekasihnya. Dan hidup bahagia selamanya. Tapi, ini bukanlah cerita negeri dongeng yang membuat seorang buruk rupa menikahi putri cantik. Ini adalah kehidupan nyata yang selalu menghadirkan kepahitan. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Naruto memegang minumannya lalu mengocok-ngocoknya sebelum ditegaknya. Dia sepertinya sedang mabuk berat, dia sudah lupa berapa gelas dia minum malam ini. Dia berniat untuk tidur di bar ini sampai pagi. Mungkin? Naruto menyilangkan kedua tangannya di atas meja lalu ditenggelamkannya wajahnya yang tampan itu. Posisi yang cukup nyaman untuk memulai aksi tidurnya.
Seorang pemuda duduk di samping Naruto."Saya pesan segelas wine." Pesannya pada pelayan yang ada di bar tersebut.
"Sebentar, tuan."
Pemuda itu lalu melihat ke arah Naruto.'Mabuk berat heh?'
"Hei tuan! Apa kau membutuhkan bantuanku?" Ujar sang pemuda mencoba membangunkan Naruto.
Naruto mengangkat wajahnya sebentar untuk melihat orang yang berani membangunkannya. Lalu membaringkan kepalanya lagi."Huk..tidak perlu..akuu..akuu juga tidak mengenalmu."
Sebelum melanjutkan perkataannya, wine yang sebelumnya ia pesan telah datang dan dia segera meneguknya. "Kau punya masalah heh?"
Naruto mencoba mengangkat kepalanya yang terasa berat. "Kau tahu saja, aku..aku sedang patah hati, hahaha." Ucap Naruto.
Pemuda itu memperhatikan setiap lekuk wajah Naruto, sepertinya dia pernah melihatnya. "Kau, bukannya kau Namikaze Naruto?" Tebaknya.
Naruto memukul-mukul dadanya."Ya! itu aku! Si pria yang dapat melumpuhkan hati wanita dalam tiga detik!" Naruto tersenyum ketus."Julukan yang konyol."
Pemuda itu terlihat senang."Kebetulan sekali. Aku sudah mencoba untuk menghubungi manager mu. Tapi dia kelihatannya sedang sibuk. Jadi, bisakah kita membicarakan ini secara langsung?"
"Ya! Terserah kau saja! Aku tidak peduli."
"Baiklah. Bagaimana kita bicarakan ini di kediaman atau tempat kau menginap. Aku tidak bisa bicara disini. Bagaimana?" Tanya pemuda itu.
"Kan sudah kubilang! Terserah kau saja! Tapi aku sedang tidak membawa mobil."
Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya."Baiklah. aku yang akan mengantarkanmu. Lagi pula kau tidak bisa pulang sendirian dengan kondisimu yang seperti ini. Ayo!"
Lalu pemuda itu mengalungkan tangan Naruto di lehernya dan segera membantunya untuk berjalan.
Naruto melirik pemuda itu. 'Dia mirip..Sakura-chan.'
.
.
"Bibi Kushina! Bibi Kushina! Tolong buka pintunya!" Teriak seorang gadis sambil sesekali mengetuk-ngetuk pintu rumah Kushina. Dia sedang kesusahan sekarang, memapah seorang gadis yang tengah mabuk.
Akhirnya, setelah beberapa menit meneriaki nama pemilik rumah. Pemilik rumah itu membukakan pintunya. Awalnya, Kushina tidak mengenali siapa yang datang selarut ini, akibat kurangnya pencahayaan. Tapi, setelah dia menyipitkan matanya, mencoba untuk melihat lebih jelas siapa yang berkunjung, Matanya tiba-tiba membulat sempurna."M-Moegi dan Sakura-chan? sedang apa kalian disini?" Lalu dia melihat kearah Sakura."Sakura-chan? Apa dia mabuk?"
"Maaf bibi Kushina, aku sudah melarangnya minum diperjalanan pulang ke Konoha. Tapi dia tidak mau mendengar. Sakura-nee jadi mabuk seperti ini. Aku minta maaf!" Ujar Moegi sambil membungkuk.
Kushina menggelengkan kepalanya."Bukan salahmu. Kalau ada masalah dia pasti akan mabuk-mabukkan dan datang kesini. Jadi, apa dia sedang ada masalah?"
Moegi menggigit bibir bawahnya."Sepertinya begitu bi, aku juga tidak tahu apa masalahnya."
"Yasudah, kau tinggalkan saja Sakura disini. Bibi yang akan mengurusnya. Kau pulang saja, sepertinya kau sudah kelelahan." Ujar Kushina. Lalu memegangi Sakura.
Moegi membungkuk memberi hormat."Maaf ya bi merepotkan."
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Aku ini kan ibunya." Uja Kushina sambil melihat kearah Sakura yang sudah tertidur pulas.
"Baiklah aku pergi dulu bi. Selamat malam." Ucap Moegi lalu berbalik mengarah ke mobilnya untuk segera pulang.
Kushina menutup pintu rumahnya. Dan melihat kearah buah hatinya, yang sekarang sedang dipapahnya menuju kamar lama anaknya itu. "Masalah hati lagi kan Sakura-chan?" Ujar Kushina prihatin.
.
.
Cahaya matahari masuk dari sela-sela gorden. Memaksa sang pemuda untuk bangun dari tidurnya yang lelap. Kepalanya masih pusing dan perutnya terasa mual akibat efek alkohol semalam. Ya maklum saja, pemuda ini stress berat kemarin.
"Aku dimana?"Tanya Naruto pada dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Naruto melihat sekeliling kamarnya."Huh, aku ingat, ini di penginapan. Dan juga aku masih ingat kejadian semalam."
Tok.
Tok.
Tok.
Ada yang mengetuk pintu kamar Naruto."Kau sudah bangun Naruto?!" Teriak Kiba dari luar kamar.
Naruto masih memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Ingin mati rasanya, itulah yang dipikirkan Naruto sekarang."Ya, masuk saja Kiba!"
Kiba masuk dengan nampan berisi susu dan roti yang berisi selai coklat kesukaan Naruto, Kiba juga membawa sebuah buku yang tebal. "Ini, makanlah dulu, kau mabuk berat semalam. Kau harus memulihkan kekuatanmu." Ujar Kiba dan menaruh nampan itu di meja kecil dekat dengan tempat tidur Naruto.
Naruto meminum susunya sampai habis, tidak ada yang tersisa setetes pun. Naruto melirik buku yang dipegang Kiba. "Kau ini Kiba, sudaha tidak membawakanku ramen, kau malah menyuruhku membaca buku yang setebal itu."Omel Naruto.
Kiba melihat buku yang dipegangnya. Dari jauh memang kelihatan seperti itu. Tapi, jika dilihat lebih detail lagi, ini adalah lembaran kertas yang dijilid menjadi satu, isinya bukanlah tentang ilmu pengetahuan popular, novel kisah cinta apalagi buku tentang trik-trik untuk berdiet. Ini adalah sebuah naskah film.
Kiba mendengus kesal."Apanya yang sebuah buku! Ini naskah film tau!" Kiba langsung melempar naskah itu pada Naruto.
Naruto dengan sigap menangkap naskah itu."Naskah? untuk apa aku membaca naskah film?"
"Untuk apa?! Untuk apa kau bilang?! Kau lupa kalau semalam ada sutradara film yang memberimu kontrak menjadi peran utama. Dan kau menerimanya tau!" Omel Kiba.
Naruto berusaha keras untuk mengingat. Benar, saat itu ada seorang pemuda yang ia temui di bar. Dan berkata kalau dia sedang mencari Naruto. Apa jangan-jangan pemuda itu adalah sutradaranya? Naruto membulatkan matanya."Jangan bilang, aku menandatangani kontrak itu saat mabuk?"
Kiba membenarkan."Ya, aku tidak bisa menghentikamu karena saat itu aku juga mabuk." Wajah Kiba merona tipis saat mengingat kejadian kemarin malam.
Naruto mencoba berfikir bagaimana dia bisa keluar dari masalah ini." Bagaimana ini? Apa kita batalkan saja kontraknya Kiba?"
Kiba menjitak pelan kepala Naruto."Baka! jika kita melakukan itu. Kau! Bahkan aku juga bisa dituntut!"
"Benar juga, jadi bagaimana?Hah! Dasar! Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Memang kenapa harus aku yang jadi pemeran utama prianya? Aku kan bukan aktor!" Naruto menarik rambutnya frustasi.
Kiba menyilangkan kedua tangannya didepan dada."Menurutku. kau itu adalah seorang fotografer muda yang terkenal akan ketampanannya. Dan banyak para gadis remaja yang menjadi penggemarmu. Makanya, sutradara itu mengambilmu sebagai peran utama pria. Untuk mendongkrak popularitas film ini!" Jelas Kiba panjang lebar.
Naruto sempat kaget mendengar penjelasan Kiba yang panjang itu, bagaimana tidak. Biasanya juga, Naruto dan Kiba itu sebelas duabelas –baka nya."Kau ternyata pintar juga Kiba!"
"Tentu saja! Kiba!" Ujar Kiba membanggakan dirinya."Kau baca saja dulu naskahnya. Paling tidak kau harus mengetahui jalan ceritanya. Ya sudah, aku pergi dulu. Jaa ne."
"Kau mau kemana?"Tanya Naruto.
"Kau cari tahu saja sendiri!" Kiba langsung berlari pergi dari kamar Naruto.
Naruto tersenyum kecut.'Mungkin, jika aku ditenggelamkan oleh kesibukkan syuting. Aku bisa melupakan Sakura-chan.' Pikirnya.
Naruto membolak-balikkan asal lembaran naskah itu. Dan menemukan kata-kata yang membuatnya tertarik. Dan mulai membaca satu bait kalimat itu. "Cinta tidak mengucapkan kata maaf."
.
.
"Cinta tidak mengucapkan kata maaf?! Apa-apaan itu? Bukankah seharusnya cinta itu mengucapkan kata maaf saat bertindak salah dan mengucapkan terimakasih setelah cinta memberikan kebahagiaan? Benarkan, Kaachan?" Ujar Sakura yang sedang membaca naskah film yang akan ia perankan. Saat ini, Sakura, Kushina, dan Moegi sedang sarapan bersama.
Kushina yang tengah asik menyantap sarapannya, dikagetkan dengan pertanyaan yang diberikan Sakura, kata-kata itu begitu familiar di telinganya."A-apa itu, kata-kata dari film Love Rain?" Tanya Kushina dengan nada yang sedikit tidak yakin.
Sakura membenarkan."Aku akan memerankan tokoh utama wanitanya. Mizuki."
Kushina tersenyum senang."Benarkah? Sakura-chan tahu? Dulu, itu adalah film kesukaan Kaachan!" Kushina menyatukan kedua tangannya dan ditempelkannya ke pipi."Dulu itu, Mizuki diperankan oleh artis cantik Tsunade dan Kenji diperankan oleh aktor tampan Jiraya. Ya, walaupun mereka sudah tua sekarang. Dan diluar dugaan, mereka menikah setelah film selesai di produksi." Jelas Kushina pada anaknya, menerawang jauh mengingat masa lalunya.
Sakura masih sibuk bergulat dengan roti selai strawberry-nya. Ya, bisa dibilang sedikit mengacuhkan ibunya. "Jadi, siapa yang akan menjadi Kenji?" Tanya Kushina semangat, pada dua orang gadis yang berada di hadapannya.
Sakura menggeleng pelan."Sakura tidak tahu."Lalu menoleh kearah Moegi yang sedang duduk disampingnya."Kau sudah tahu Moegi?"
Moegi mengecek e-mail nya melalui ponsel. "Belum, tapi aku mendapatkan kabar kalau neechan pagi ini,harus segera datang ke café Sabaku, katanya, akan ada konfrensi pers untuk film ini. Semua pemeran utamanya datang kok." Jelas Moegi.
Alis Sakura berkerut."Café Gaara-nii? Ya sudahlah, kita berangkat sekarang. Sepertinya kita sudah terlambat." Sakura lalu menoleh pada ibunya."Kaachan, Sakura pergi dulu ya." Lalu Sakura dan Moegi beranjak pergi dari meja makan.
"Hmm, hati-hati di jalan ya!"
Sakura dan Moegi keluar dari rumah Kushina. Mereka menuju mobil mewah berwarna hitam -mobil Sakura. Untuk segera berangkat ke tempat tujuan. Mobil yang dikendarakan oleh Sakura melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah yang cukup luas itu. Baru saja Sakura keluar, ada seorang pria yang berkunjung kerumah Kushina. Pria itu sempat melihat mobil Sakura yang melaju pergi, tapi dia tidak menghiraukannya. Pria itu tampak ragu-ragu berjalan ke rumah Kushina. Dia hanya berdiri didepan pagar rumah, keringat dingin membasahi wajah tampannya itu. Tapi akhirnya, dia memberanikan diri untuk masuk dan menekan bel rumah sang pemilik. Beberapa kali dia menekan bel rumah belum ada juga sahutan yang ia dengar dari dalam. Saat hendak menekan bel itu lagi, terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Ya! Tunggu sebentar!"
Kushina segera membukakan pintu untuk tamu 'istimewa'-nya itu. "Ya, ada yang bisa-" Suara Kushina tercekat di tenggorokkan saat tahu siapa yang datang.
"Kushina."
Suara Kushina masih tercekat, dia tampak ragu untuk menjawab sahutan dari pria itu. Tapi, dia mencoba menenangkan diri secepatnya, pasalnya dia tidak ingin tamunya itu menunggu terlalu lama dengan jawaban Kushina."M-Minato? Kenapa kau kemari?"
.
.
"Kapan pemeran utamanya datang? Merepotkan." Omel seorang gadis berambut pirang pada salah satu rekannya.
"Hei Ino! Itu trademark-ku. Mendokusai." Komentar salah seorang pemuda berambut nanas yang duduk berdekatan dengan gadis yang ia panggil Ino tadi.
Ino hanya nyengir dengan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf 'V'. "Hehehe, maaf ya Shikamaru, aku sedang bosan. Pemeran utamanya lama sekali. Kita kan sudah menunggu satu jam disini." Ujar Ino yang sudah mulai menampakkan raut kekesalan.
"Jangan berlebihan Ino! Kita baru tiga puluh menit menunggu disini!" Omel seorang gadis berambut merah panjang dengan kacamata, lalu berpaling pada pemuda raven disampingnya."Iyakan, Sasuke-kun?"
"Hn."
Ino mengendus kesal."Kau yang berlebihan Uzumaki Karin!"
Karin langsung menatap tajam Ino. Tapi tidak membuat Ino takut. "Apa katamu?! Kau itu yang berlebihan! Baru juga menunggu tiga puluh menit disini, sudah membuat keributan! Artis macam apa kau ini!" Bentak Karin pada Ino.
Ino yang merasa tidak terima diperlakukan seperti itu, segera berdiri untuk menarik rambut merah Karin. Tapi, Shikamaru melarangnya."Jangan buat keributan Ino. Jika para wartawan gosip itu mengetahuinya, habis sudah."
Ino tidak bisa berbuat banyak, ucapan Shikamaru ada benarnya. Ino hanya bisa mendengus kesal dan melihat Karin yang sedang bermanja-manja dengan Sasuke -yang notabennya adalah pacarnya sendiri- dengan tatapan marah.
'Awas saja kau Karin! Jika ada adegan dimana aku harus memukulmu! Aku akan melakukannya dengan suka rela!' Pikir Ino.
Ceklek
Semua yang sedang menunggu di ruang tunggu -yang sebenarnya adalah kantor Gaara- langsung menoleh kearah pintu. Mereka menunggu-nunggu siapa yang ada di balik pintu itu.
"Maaf ya semua, aku terlambat." Ujar seorang gadis bersurai merah muda. Dia bersama asistennya. Moegi.
Ino sontak berdiri saat tahu siapa yang baru datang, yaitu sahabat pink-nya. Haruno Sakura."Forehead?"
"Pig?" Ujar Sakura kaget.
"Haa! Sakura!" Teriak Ino histeris dan langsung memeluk Sakura.
Sakura pun melakukan hal yang sama."Ino! kau kembali?" Ujar Sakura melepaskan pelukkan Ino.
"Yah, begitulah! Padahal aku sudah tenang tinggal di Iwagakure sebagai guru musik. Banyak sih yang menawariku bermain film lagi. Tapi aku menolaknya, dan saat ada tawaran untuk berperan di film ini, aku langsung mengambilnya. Ternyata ini adalah takdir, forehead!"
Shikamaru, Karin dan Sasuke hanya sweatdrop melihat tingkah kedua gadis itu. Dan Moegi hanya tersenyum senang melihat kedua sahabat ini bisa berkumpul lagi.
"Ternyata kau yang menjadi Mizuki heh? Sakura." Tanya Sasuke dingin.
"Ya begitulah! Apa kau yang menjadi Kenji?"
"Bukan."
"Dia belum datang."Jelas Ino.
Tanpa mereka sadari. Ada seorang pemuda yang masuk."Apa sekarang sudah bisa kita mulai konfrensi pers nya?" Tanya seseorang dari belakang Moegi.
Semuanya menoleh kearah suara."Gaara-nii! Sudah lama tidak bertemu!" Ujar Sakura senang.
Gaara tersenyum tipis."Ya. sudah lama. Aku menjadi produser film ini. Kau pasti akan terkejut jika mengetahui sutradaranya."
Sakura terlihat penasaran."Memangnya siapa dia?"
Dari balik pintu muncul, seorang pemuda yang tidak kalah keren dari Gaara. Wajah tampan dengan rambut berwarna merah menambah kesan imut padanya. Siapa lagi dia kalau bukan Sasori."Kejutan!"
Sakura membulatkan matanya dan segera memeluk Sasori."Sasori-nii? Kapan pulang ke Konoha?"
"Tadi pagi Sakura." Ucap Sasori tenang.
Sakura mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipinya."Kenapa tidak memberi kabar pada aku ataupun kaachan?"
Sasori tertawa melihat tingkah adik perempuannya itu."Kalau aku memberitahumu. Ini bukan kejutan lagi namanya!"
"Ehem. Apa sudah selesai acara reuniannya? Aku masih punya kesibukkan selain konfrensi pers ini." Celetuk Sasuke.
Sasori memaksakan untuk tertawa."Yahaha, kalau begitu langsung saja."
Sakura mencegat Sasori."Tunggu! aktor yang memerankan Kenji belum datang!"
"Tenang saja. Dia akan segera sampai sebentar lagi." Komentar Gaara.
.
.
Konfrensi pers akan dimulai. Para wartawan maupun jurnalistik berita telah duduk di kursi yang disediakan. Sakura dan kawan-kawan juga telah duduk di posisi masing-masing.
Sasori membuka konfrensi pers-nya."Selamat pagi semua. Hari ini,kami akan memperkenalkan akrtis dan aktor yang akan bermain dalam film ini. Jika teman-teman ada yang ingin bertanya. Saya mohon pertanyaannya jangan diluar dari peran aktris dan aktor dalam film Love Rain ini." Kata Sasori tegas. Lalu dia melanjutkan penjelasannya,"Baik. Jika kalian sudah mengerti. Kita mulai perkenalannya dari Uzumaki Karin."
"Baik. Selamat pagi semua. Saya disini berperan sebagai Aiko. Kakak dari Kenji." Ujar Karin memperkenalkan karakter yang akan dibawakannya.
"Saya disini berperan sebagai Akio. Sahabat Kenji dan Mizuki." Ujar Sasuke tetap dengan gayanya yang stay cool.
Dilanjutkan dengan Shikamaru tanpa trademark-nya."Saya disini berperan sebagai Shin. Sahabat dari Kenji dan Mizuki."
"Selamat pagi semua! Saya disini berperan sebagai Michiko. Sahabat dari Kenji dan Mizuki. Mohon bantuannya!" Ujar Ino penuh semangat.
Kini giliran Sakura yang memperkenalkan karakter yang akan diperankannya."Selamat pagi semua! Disini saya akan berperan sebagai Mizuki."
Jepret!
Jepret!
Jepret!
Sasori langsung mengambil alih pembicaraan."Ya! teman-teman wartawan ada yang punya pertanyaan?"
Beberapa wartawan mengangkat tangannya, berebut mengambil kesempatan untuk bertanya. Sasori menunjuk salah satu wartawan.
"Saya Ten-Ten dari majalah Konoha. Ingin bertanya, mengapa anda sebagai sutradara untuk film ini. Memilih Ino yang notabennya sudah keluar dari dunia hiburan? Terimakasih."
Sasori melirik sekilas kearah Ino, yang sepertinya juga tampak penasaran mendengar jawabannya."Saya memilih Ino. Karena, akting yang dia suguhkan sangat bagus dan karakter Michiko disini hampir mirip dengan karakter Ino yang cerewet tapi care, terkesan centil, cantik dan seksi. Jadi saya memutuskan untuk memilih dia." Jawab Sasori mantab. Ino tertunduk malu mendengar penjelasan dari sutradaranya itu.
Setelah selesai memberikan jawaban. Para wartawan kembali berebut memberikan pertanyaan. Sasori memilih salah satu.
Wartawan itu berdiri."Saya Tayuya dari tabloid wanita. Ingin bertanya, banyak akrtis yang lebih senior dengan pengalaman akting yang sudah tidak usah diragukan lagi. Tapi kenapa anda memilih akrtis pendatang baru untuk memerankan karaker utama di film ini? Apa karena Sakura-san adalah adik anda? Tolong berikan alasan anda. Terimakasih."
Sakura sempat emosi mendengar pertanyaan itu. Bagaimana tidak? Dia saja tidak tahu kalau kakak nya yang menjadi sutradara dan menawarkannya peran ini. Sakura melirik sebentar Sasori, Sasori kelihatan santai saja.
"Alasan? Aku tidak perlu alasan untuk itu. Kalian semua disini pasti tau, Sakura adalah artis multitalented, yang selalu diincar oleh para sutradara-sutradara terkenal. Tapi, mengapa saya sebagai kakaknya harus memiliki alasan?" Sasori jeda sejenak, karena semua yang ada disana tergelak mendengar ucapan Sasori." Saya tidak memiliki alasan karena saya tahu, Haruno Sakura bisa memerankan karakter ini dengan sangat baik." Lalu Sasori mengedipkan sebelah matanya ke Sakura sambil tersenyum. Sakura sangat bangga mendengar niichan-nya berkata seperti itu.
"Baiklah pertanyaan terakhir?" Tanya Sasori.
Akibat pernyataan Sasori yang terakhir, para wartawan semkin ganas. Mereka sampai ribut ingin mengambil bagian. Keadaan yang semula tentram damai sentosa(?) berubah menjadi ribut. Sasori mencoba menenangkan kembali suasana.
Sasori bangkit dari tempat duduknya. "Teman-teman tenang! Saya akan menunjuk orangnya! Kamu yang memakai kacamata!" Ujar Sasori sambil menunjuk orang yang dia maksud. Sasori melihat raut kekesalan dari wajah para wartawan yang tidak dapat memberikan pertanyaan. Sasori terkekeh geli.
Pemuda yang ditunjuk langsung berdiri."Saya Kabuto dari majalah Oto. Saya ingin menanyakan tentang pemeran utama laki-laki yang akan memerankan Kenji. Dia itu siapa? Dan kenapa dia belum datang juga saat ini. Terimakasih."
Sakura melirik bangku kosong yang tepat berada disebelah kirinya. 'Ya, aku juga penasaran.'
Sasori menjadi pusat perhatian sekarang. Semua pandangan tertuju padanya, tidak terkecuali dengan para akrtis dan juga aktor yang sangat penasaran dengan orang itu.
"Baiklah, mungkin itu lah yang menjadi pertanyaan untuk para teman-teman wartawan dan juga para pemain. Sebenarnya pemeran utama pria ini sudah lama saya incar. Dia memang bukan seorang selebritis. Tapi, dia sangat popular akhir-akhir ini. Jadi saya mencoba membujuknya supaya bisa ikut dalam proses pembuatan film ini. Dia adalah-"
Pintu café terbuka, menampakkan seorang pemuda berambut kuning bersama dengan managernya. Berjalan santai kearah tempat diselenggarakannya konfrensi pers. Semua orang yang tadinya mendengar penjelasan dari Sasori, mengalihkan pandangannya kearah pemuda itu. "Maaf ya semuanya aku terlambat. Jalan menuju kemari sangat macet." Ujarnya santai.
Sakura yang kaget melihat pemuda itu, sontak berdiri dan menggebrak meja."Naruto?!"
Semua orang yang semula memandang heran Naruto. Kaget saat mendengar gebrakan meja Sakura, mereka menatap Sakura dengan pandangan terkejut. Naruto yang mendengar panggilan Sakura, tidak kalah terkejutnya."Sakura-chan?"
Huahaha *ketawa nista* bagaimana? Apa tambah gaje? Ohya disini Sasori saya buat sifatnya hampir seperti Naruto dan hampir seperti Sasuke *eh? Dan bagi yang kemarin membaca chap 3, dan melihat Hinata yang rada-rada AU. Saya mohon maaf ya, saya gak bermaksud membuat kalian benci pada Hinata. Hanya saja itu tuntutan peran *ceelah* jadi jangan pernah membenci Hinata ya! Anggap saja Hinata yang kemarin seperti Hinata di RTN. Dan jika ada yang bertanya apakah Hinata muncul lagi atau nggak, Sum belum bisa mastiin itu. Jadi ya! Tetap semangat walaupun sedang puasa! Yosh! Review-nya plisss ^^
