LOVE IN BLUE HOUSE / CHAP 6/6 [END]
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Action (mungkin)
Pairing : NARUHINA
Rating : T
WARNING
TYPO, OOC BANGET, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. FF INI ADALAH SADURAN DARI CERBUNG YANG AKU IKUTIN LOMBA NAMUN TAK JUARA. JANGAN KHAWATIR FF INI NGGAK AKAN NGENGANTUNG KARENA INI UDAH END SEBENARNYA. MAAF JIKA ALURNYA TERLALU CEPAT
Satu minggu kemudian …
Pagi yang cerah menyelimuti kota Tokyo. Kicauan burung menambah semarak pagi nan indah di kawasan sekitar blue house. Para pejabat negara sangatlah terlihat sibuk daripada hari-hari biasanya. Penjagaan di sekitar blue house lebih diperketat pasca serangan yang ditujukan kepada presiden Namikaze Minato kemarin. Semua media baik elektronik maupun cetak menjadikan berita ini sebagai berita utama. Banyak spekulasi yang berkembang dikalangan masyarakat, ada juga yang mengatakan bahwa hal ini dilakukan oleh pembunuh bayaran dari pihak Jepang utara bahkan ada juga yang beranggapan ini adalah ulah kandidat lawan untuk membatalkan presiden mencalonkan Namikaze Minato kembali dirinya dipemilu presiden dua ribu dua belas . Entah mana yang benar semua tidak ada yang tahu. Yang jelas, ini membuat kabar tentang putranya dan seorang wanita tak mencuat.
Di dalam rumah presiden. Seorang pria paruh baya bersama seorang wanita yang seumur dengannya, duduk santai sambil melihat televisi. Walapun dia terlihat fokus namun pikirannya memikirkan sesuatu. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi padanya? apakah kinerja pemerintahannya begitu buruk? Tak disangka telivisi yang dilihatnya mati.
"Ayah, Berhentilah melihat berita dan mendengar pendapat-pendapat negatif tentang Ayah. Biarkan publik berbicara apa yang terpenting adalah bagaimana anda yang sebenarnya," tutur Naruto.
"Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi? kenapa? apa yang salah?," ujar ayah Naruto yang terlarut dalam kegelisahan.
"Sayang, aku rasa ini erat hubungannya dengan Uchiha Fugaku. Entah kenapa aku beranggapan buruk terhadapnya, tapi selama bebeapa bulan terakhir dia selalu bersikap tidak bersahabat padamu bahkan dia terang-terangan menyatakan perang padamu. Dia ingin sekali pada pemilu tahun ini dia yang menang," ujar ibu Naruto.
"Jangan beranggapan buruk dulu, belum tentu itu perbuatannya tapi bagaimanapun aku sangat bersyukur ada gadis itu yang bersamaku. Dia benar-benar gadis pemberani. Kalau bukan karenanya aku mungkin tidak ada disini sekarang."
"Gadis? Siapa?," tanya Naruto.
"Dia adalah pengawalmu, namanya Hyuga Hinata. Jika kau bertemu dengannya tolong sampaikan rasa terima kasih kami padanya," kata ibu Naruto.
"Ahh, tentu akan aku sampaikan," ucap Naruto, mulutnya tak henti-hentinya mengunyah roti selai kacang yang sudah disiapkan ibunya.
Membahas tentang Hinata, selama beberapa hari terakhir sejak Naruto menyatakan cintanya. Hinata semakin menjauhinya. Dia jarang berbicara padanya. Walaupun Naruto sengaja membuat Hinata marah tapi gads itu hanya memendam amarahnya berbeda dengan dulu, jika Naruto membuat ulah yang membuat dirinya kesal Hinata pasti akan membantahnya. Naruto tak akan menyerah untuk mendapatkan cinta gadis itu. Hinata membuat hidupnya lebih berwarna dan yang penting semenjak kehadiran Hinata wataknya yang kaku dan serius berubah menjadi santai dalam menghadapi hidup. Pagi merupakan hal yang Naruto suka karena dipagi hari Naruto bisa berjumpa lagi dengan Hinata. Naruto bersiul sambil berjalan menuju mobil yang sudah siap membawanya ke kantor. Para pengawal juga sudah siap untuk melakukan tugasnya namun ada yang berbeda di pagi ini. Hyuga Hinata tidak datang.
"Dimana pengawal Hyuga Hinata?," tanyanya santai.
"Dia tidak bisa datang karena sakit demam. Jadi hari ini saya yang akan menjadi pengawal khusus anda tuan," ucap sosok pengawal tampan dan gagah yang bernama Fujimura Shiho. Naruto tak menanggapi, dia langsung masuk ke dalam mobil.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Naruto memang menyukai Hinata dikalangan para pengawal lainnya. Para pengawal menganggap Hinata dan Naruto benar-benar pacaran. Namun jika Hinata ditanya soal itu, dia selalu mengelak tapi para pengawal lain tidak percaya dengan pengakuannya. Mobilpun melaju dengan pelan. Naruto khawatir dengan keadaan Hinata. Dia ingin sekali menjenguknya.
"Pengawal Fujimura Shiho, bisakah kau memberi tahu padaku dimana alamat rumah pengawal Hyuga Hinata?".
ooOOOoo
Hinata melangkah gontai menaiki tangga yang terbuat dari batu menuju rumahnya. Badannya sangat demam. Tapi bagaimana lagi, dia harus membeli obat sendiri karena tak ada seorangpun orang yang tinggal bersamanya. Sesampainya ditangga paling atas, pandangan Hinata beralih ke rumah Neji. Rumah itu terlihat kumuh, sepi serta tak terawat. Sudah hampir dua minggu ini Neji tak pulang. Setiap Hinata mencoba untuk mengubunginya, ponselnya selalu mati. Hinata sangat merindukan sosok kakak dari Neji.
"Hei, Hyuga Hinata," pria bersuara tenor mengagetkan dirinya yang berdiri mematung dan terlarut dalam lamunannya. Hinata menoleh ke asal sumber suara. Terlihat pria berjaket kulit coklat, bertopi merah berdiri tegak tepat disamping pintu rumahnya. Hinata sudah bisa mengenali siapa dia walau pria itu menyamar.
"Kau? sedang apa kau disini? apa kau datang tanpa pengawal," tanya Hinata.
"Tentu saja tidak. Aku datang bersama mereka," Naruto melihat kearah para pengawal berkumpul. Sakura melambaikan tangannya pada Hinata penuh semangat. Hinata membalas lambaian Sakura temannya, tak kalah semangat dan tersenyum ramah.
"Aku ingin tahu kenapa pengawal Hyuga Hinata membolos kerja. Apa kau tahu sanksi yang kau dapat jika membolos?," ucap Naruto santai.
"Apa? membolos katamu. Apa pengawal Fujimura Shiho tidak memberitahumu kenapa aku tidak masuk kerja?,"
"Dia memberitahuku. Kau tidak masuk karena sakit demam."
"Jadi kau sudah tahu? lalu untuk apa kau kesini?," tanya Hinata kesal.
"Karena aku merindukanmu," jawabnya singkat dan tegas. Hinata tak bisa berkutik lagi. Kata-kata Naruto tak bisa dia bantah karena kejujurannya membuat dirinya malu. Hinata hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan masuk kedalam rumah diikuti oleh Naruto.
Naruto terenyuh melihat kondisi rumah Hinata yang sempit bahkan terkesan sedikit kotor. Andai dia hidup di tempat seperti ini pasti dia tidak akan tahan. Dapur bercampur jadi satu dengan kamar tidur. Tidak ada dipan, hanya kasur biasa yang diletakan diatas lantai. Naruto duduk tak jauh dari kasur. Hinata melempar obat yang baru saja dibeli tepat disamping Naruto. Mata Naruto tak henti-hentinya melihat keadaan sekitar. Diatas meja kecil tak jauh dari tempat tidur, tertata rapi foto-foto Hinata bersama keluarganya dalam bingkai. Wajah seorang pria paruh baya difoto itu tak asing buat Naruto.
"Hei, bukankah ini pengawal Hyuga Hiashi?," tanya Naruto sambil mengambil foto keluarga yang ada dihadapannya. Hinata tak menggubris, dia sibuk meminum obat yang dibelinya. "Kau putridpengawal Hyuga Hiashi?".
"Iya, kenapa ?," Hinata menanggapi dengan nada malas.
"Aku mengenalnya dengan baik. Ayahmu dulu adalah sahabat ayahku, kau tidak tahu tentang hal ini ?aku sedih ketika mendengar beliau meninggal dalam kecelakaan pesawat bersama istrinya," ucap Naruto.
"Aku sudah tahu satu minggu yang lalu saat aku makan malam bersama ayahmu," Jelas Hinata. Naruto mengangguk tanda mengerti.
"Oh iya. Ayah dan ibu khususnya aku sangat berterima kasih kau telah menyelamatkan ayahku. Andai kau tak ada disana pada saat itu entah bagaimana nasib ayahku,"
"Itu sudah menjadi tugasku. Entah bagaimanapun berbahayanya itu. Kita sebagai pengawal harus mementingkan nyawa presiden bahkan terkadang harus mempertaruhkan nyawanya sendiri."
Naruto tak membantah. Memang benar begitulah tugas seorang pengawal kepersidenan. Nyawa sendiri tak berharga, namun nyawa orang lain yang lebih berharga. Naruto tak mau kalau Hinata mempertaruhkan nyawa demi melindunginya. Maka dari itu beberapa hari yang lalu Naruto membujuk Hinata untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya namun tak berhasil. Bahkan terang-terangan Naruto meminta kepala departemen Keamanan untuk memecatnya namun permintaan itu ditolak karena alasan yang tak mendasar.
"Jika aku dalam keadaan bahaya. Jangan sekali-kali kau berusaha untuk mempertaruhkan nyawamu. Aku tak ingin kau terluka karenaku Hyuga Hinata," ujar Naruto.
Sejenak suasana menjadi sunyi sepi. Tatapan keduanya serius.
Hinata tak menyangka kalau Naruto sangat peduli padanya. Hinata sebenarnya mencintai Naruto namun dia tidak akan mengatakan hal itu karena dia gadis biasa bukan putri pejabat. Hinata ingin mengukngkapkan perasaannya dari cara dia melindungi Naruto bahkan dia rela mati disaat Naruto dihadapkan dalam situasi yang berbahaya. Mata Naruto sekarang beralih melihat kalender bermotif panda. Ada lingkaran merah yang mengelilingi tanggal enam di bulan mei bertuliskan "hari ulang tahunku".
"Hei, benarkah hari ini kau berulang tahun?."
"Ah, iya hari ini adalah hari ulangtahunku."
"Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday….Happy birthday to you. Yeeeee….". Naruto bernyanyi dan bertepuk tangan untuk Hinata.
"Arigatou. Kau orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Semenjak kedua orang tuaku meninggal aku tak lagi merayakannya." Hinata tampak sedih mengingat masa lalunya. Naruto memandag Hinata dengan perasaan iba. "Hei, kenapa kau memandangku seperti itu?," omel Hinata.
"Apa kau ingin menangis?," ucap Naruto.
"Siapa yang ingin menangis. Bukankah seharusnya sekarang ini jam kerjamu?," ucap Hinata untuk membelokan pembicaraan karena memang dirinya ingin menangis.
"Baik. Aku akan berangkat kerja tapi nanti jam tujuh malam aku akan menjemputmu. Jangan protes, kau harus menurutiku, mengerti!."
"Untuk apa kau menjemputku? memang kita mau kemana?."
"Rahasia. Kau pasti tidak akan melupakan hal ini selama hidupku. Jam tujuh malam" dengan berjalan mundur Naruto mengatakan hal itu. dia memberikan satu kedipan matanya kepada Hinata.
"Dasar pria menyebalkan." walau menggerutu namun ada senyum kebahagiaan yang tersirat dibibirnya. Hinata beringsut tidur lagi agar kondisinya cepat pulih.
ooOOoo
Pagi berganti sore, sore beraganti malam. Jam sudah menunjukan pukul tujuh lebih lima menit. Di sebuah taman kecil nan terpencil terlihat empat orang berjas terkapar karena kelelahan didalam mobil. Daerah ini begitu gelap, tak ada satupun cahaya yang meneranginya.
"Hari ini benar-benar melelahkan. Aku pikir menjadi pengawal blue house tidak akan melakukan hal semacam ini. Apapun akan dilakukan demi cinta," protes pengawal yang bernama Nagasawa Hitomi ditempat duduk belakang.
"Hinata benar-benar beruntung disukai oleh pangeranku. Aku begitu iri padanya. Tapi itu dulu sekarang aku sudah jatuh cinta pada seseorang yang ada di depanku hehe." Sakura berkata sambil memandang pengawal Fujimura Shiho namun Shiho-kun tak menanggapi omongan Sakura.
"Apa kalian tidak merasa aneh dengan mobil yang ada didepan kita? saat kita menyiapkan semuanya, mobil itu sudah berada disini namun sampai sekarang dia tak kunjung pergi. Apapun itu kita harus waspada," ucap Shiho.
"Iya benar sekali. Aku sebenarnya juga curiga dengan mobil itu," sahut pengawal Tonegawa Akemi. "Itu mereka sudah datang."
Hinata dan Naruto turun dari sebuah mobil mewah. Hinata sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Pikiran buruk menghinggapi otaknya. Dia takut Naruto akan berbuat macam-macam padanya. Naruto mengambil ponsel di sakunya untuk menerangi jalan yang mereka lewati.
"Sebenarnya kau akan membawaku kemana?," tanya Hinata.
"Sudah bilang padamu jangan protes," Naruto menggandeng Hinata dengan langkah hati-hati. "Kita sudah sampai. Tutuplah matamu. Di hitungan ketiga buka matamu."
"Apa aku bisa mempercayaimu jika kau tak akan berbuat macam-macam."
"Hei, aku bukan pria seperti itu. Cepat tutup matamu," Hinata perlahan menutup matanya. "Satu…dua….tiga…"
Saat Hinata membuka matanya tak ada yang berubah. Semuanya masih terlihat gelap. Tiba-tiba semua pohon dan tumbuhan di taman bercahaya warna-warni diiringi dengan lagu romantis dari Eric Clapton berjudul Woderful tonight. Satu blok tanaman berwarna kuning, blok lainnya biru, putih dan sebagainya. Di tengah-tengah taman kecil yang mengelilinginya terdapat lampion berbentuk hati dan sepasang angsa. Pohon yang tak berdaun terlihat sangat indah ketika dihias oleh lampu warna-warni. Hinata terbelalak, mulut menganga lebar. Dia tak menyangka berada ditengah-tengah tempat indah seperti ini. Hinata menangis karena terharu. Hinata tak henti-hentinya memandang Naruto.
"Ini kado ulang tahun untukmu dariku. Aku harap kau menyukainya," ucap Naruto tersenyum puas karena berhasil membuat Hinata tak bisa mengatakan apapun.
"Ini benar-benar indah Naruto-kun. Aku tak pernah tahu hal semacam ini. Arigatou. Ini benar-benar romantis. Apa kau yang membuat semua ini?".
"Bukan, para pengawal yang merangkainya tapi yang membuat desainnya aku. Kau masih belum melihat inti dari lampu-lampu ini."
Alunan lagu Eric Clapton masih menggema disekitar taman kecil. Perlahan Naruto memutar tubuh Hinata agar bisa melihat apa yang ada dibelakangnya. Hinata semakin takjub. Rangkaian kawat raksasa membentuk huruf "I love you" dipenuhi dengan lampu putih dan biru sebagai penghias. Tangis Hinata semakin menjadi-jadi.
"Bagaimana? indah bukan? apa kau masih menolaku? apa kau masih tidak mau jujur dengan perasaanmu sendiri kalau kau sebenarnya juga mencintaiku?."
Hinata tak bisa berkata apa-apa. Sudah cukup semuanya. Dia sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi karena sikap Naruto padanya yang seperti ini. Selalu memperhatikan dan membuat kejutan yang sangat berarti untuknya. Dia sudah merasa muak.
"Aku menyerah Naruto-kun. Aku me ..."
Mendadak semuanya kembali gelap. Dia tak bisa melihat wajah Naruto. Terdengar suara langkah cepat beberapa orang menuju kearahnya. Terdengar suara erangan seseorang pria seperti memberontak.
"Naruto-kun, kau dimana? Hei, Naruto-kun jawab aku," ucapnya panik. Hinata mengambil ponselnya untuk menerangi keadaan sekitar. Tampak dua orang menyeret paksa Naruto dengan mulut disumpal dengan Kain. "Hei, kalian, mau kau bawa kemana dia?."
Hinata berlari mengejar dua orang misterius itu. Di luar area taman sudah terjadi baku tembak antara empat pengawal dan kelompok tak dikenal. Dua orang misterius itu memasukan Naruto kedalam mobil dan membawanya pergi. Semua pengawal dengan cekatan masuk kedalam mobil diikuti oleh Hinata. Mereka mengkuti kemana mobil hitam itu berjalan.
"Hinata-chan, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Sakura panik.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba semua menjadi gelap dan Naruto sudah dibawa oleh mereka. Aku akan menelpon pihak kepolisian dan departemen keamanan Blue House." Tangan Hinata gemetar saat memencet tombol angka diponselnya. "Halo, departemen keamanan blue house, saya pengawal Hyuga Hinata, kami ada dalam kesulitan. Tuan Namkaze Naruto diculik oleh sekelompok orang yang tak dikenal. Kami sedang mengejar mereka. Cepat berikan bantuan"
"Apa kata mereka Hinata-chan?," tanya Sakura.
"Mereka akan segera mengirim bantuan".
ooOOoo
Hinata dan para pengawal lainnya berhenti disebuah gedung tua. Didepan gedung bertingkat sudah terparkir mobil yang dikendarai oleh para penculik. Mereka berlima mengendap-ngendap menyusuri tiap gedung. Sedikit mereka masuk kedalam, dibalik pintu disebuah ruangan kecil, terlihat Naruto duduk dikursi dengan tali yang melilitnya. Mulutnya dibekap oleh lakban. Hinata begitu marah, pistolnya yang kosong ia isi penuh dengan peluru. Di luar ruangan itu terdapat sekitar sepuluh orang penjaga.
"Akemi, kami akan mengecoh penjaga-penjaga itu. Kau segeralah masuk kedalam ruangan untuk menyelematkan Naruto-sama. Kita sangat beruntung karena tak ada satupun dari mereka yang membawa pistol saat ini" ucap pengawal Shiho sambil melihat pistol yang tergeletak dimeja kuno.
"Tidak, biar aku yang memasuki ruangan dimana Naruto ditahan. Ini tanggung jawabku, karena aku Naruto mendapat musibah ini."
"Hinata ini terlalu berbahaya untukmu," kata Sakura penuh kekhawatiran.
"Aku tidak takut. Aku ingin menyelamatkannya. Aku mohon."
Hinata mengatakan hal itu dengan air mata yang mengalir dipipi mulusnya.
Tak lama Shiho mengangguk. Dia mengijinkan Hinata untuk mempertaruhkan dirinya dalam bahaya. Shiho tahu bagaimana perasaan bersalah Hinata. Kelima pengawal saling mengangguk. Mereka mulai beraksi. Dengan langkah pelan mereka mulai mendekat. Kelima pengawal itu membekap mulut musuh lalu mematahkan lehernya. Bagaimanapun mereka berhati-hati namun langkah mereka tercium. Terjadi baku hantam antara mereka. Hinata menyelinap diantara para penjaga. Tak ada seorangpun, yang menjaga Naruto. Naruto terbelalak melihat kehadiran Hinata. Dia menggelengkan kepalanya bermaksud untuk memperingatkan Hinata agar selalu waspada dan segera keluar. Hinata tak memperdulikan Naruto, dia melepas lakban yang menutupi mulut Naruto dan melucuti tali yang mengikat tubuhnya. Bunyi sirine terdengar jelas. Hinata tahu polisi sudah datang.
"Hinata-chan, apa yang kau lakukan disini? pergilah. Jangan pertaruhkan nyawamu demi aku, Cepat pergi."
"Tidak, aku tidak akan pergi. Apa kau lupa tugas seorang pengawal kepresidenan Selain itu aku meyelamatkanmu karena aku mencintaimu".
Naruto bahagia mendengar pegakuan Hinata. Braak! Tiba-tiba pintu ruangan kecil itu tertutup. Dua orang bermasker muncul secara tiba-tiba dibalik pintu. Seorang pria berperawakan tinggi besar dengan tangan penuh tato tersenyum sinis melihat Hinata, sedangkan pria satunya lagi dengan perawakan normal seperti laki-laki pada umumnya terdiam dan terus menatap Hinata.
"Wah, kau benar-benar gadis pemberani. Demi cinta kau rela mempertaruhkan nyawamu. Aku benar-benar salut padamu gadis cantik."
"Jangan mendekat," Hinata menodongkan pistolnya kearah pria bertato tersebut namun pria bermasker menempelkan pistolnya tepat ke kepala Hinata.
"Hinata, apa kau baik-baik saja di dalam? Jawablah aku!." teriakan Sakura dengan menggunakan megaphone terdengar jelas dari dalam ruangan Hinata dan Naruto berada. Hinata tak menjawab. Posisi seperti ini tak mungkin untuknya untuk menghiraukan hal lain.
"Lepaskan pistolmu, kalau tidak, aku tidak segan-segan membunuhmu," ancam pria bermasker yang memiliki tatapan mata yang tajam.
"Kepada kalian, kami polisi disini. Aku peringatkan segeralah kalian menyerahkan diri sebelum kami bertindak keras terhadap kalian. Apa kalian mendengar?."
Suara sirine menggema diseluruh ruangan gedung tua nan kotor ini. Hinata perlahan melepaskan pistolnya. Pria bertato itu kemudian mengambil pistol Hinata. Hinata dan Naruto diseret menuju keluar gedung. Anak buah mereka sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Kepala mereka tak jauh dari mulut pistol yang siap memuntahkan peluru kapanpun. Sesampainya diluar gedung terihat begitu banyak polisi bersenjata, siap untuk menyerang mereka berudua.
"Dengarkan aku, sampaikan pada presiden kalian. Kami ingin presiden Namikaze Minato mundur dan membatalkan pencalonananya dipemilu persiden tahun ini. Kami tidak puas dengan pemerintahannya yang korup dan kotor. Jika tidak, aku akan membunuh putranya dan pengawal ini. Cepat hubungkan aku dengan presiden kalian."
Hinata sesekali melirik penjahat yang menyanderanya. Penjahat itu lengah. Hinata tak mau membuang kesempatan ini. Dengan cepat Hinata menepis pistol dari tangan pria itu lalu menendangnya dengan keras. Pria bermasker itu tersungkur dan kesakitan. Hal ini membuat Naruto bisa melarikan diri. Naruto berlari kearah Hinata. Pria satunya mencoba untuk menembak Naruto. Hinata yang melihat hal ini, berlari maju secepat mungkin. Tangannya mendorong Naruto dengan kuat. Narutopun terjatuh. Jarak Hinata dan pria bermasker itu begitu dekat.
Daaar!terdengar keras suara tembakan. Sebuah peluru tertancap disebelah dada kiri Hinata. Naruto shock dengan apa yang ia lihat. Hinata terduduk lemas memegang dadanya. Wajahnya pucat, darah segar mengucur deras dan mewarnai lantai yang terbuat dari semen. Pria bermasker tampak tak percaya dengan perbuatannya. Dia berlutut dengan mata berkaca-kaca. Perlahan pria bermasker itu membuka maskernya. Hinata tak percaya melihat wajah dibalik masker.
"Neji Nii-san? " ucap Hinata lirih karena menahan sakit. "Kenapa? Kenapa?."
"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku melakukan ini untuk mendapatkan uang biaya rumah sakit ibuku Hinata-chan. Karena ini aku tak suka kau bekerja di blue house aku …"
Daar!suara keras tembakan terdengar lagi. Tubuh Neji tergelak di lantai. Tak ada tanda kehidupan lagi dalam dirinya. Peluru panas sudah menembus kepalanya.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Nii-san," Hinata terisak. Tubuhnya semakin lama terasa semakin lemas. Penglihatannya sudah tidak jelas. Semuapun menjadi gelap.
"Hinata-chan, Hinata-chan." Naruto berusaha membangunkan Hinata namun Hinata sama sekali tak merespon panggilannya.
ooOOoo
Di ruangan serba putih selebar tiga kali empat meter. Naruto tampak gelisah. Dia duduk disebelah gadis yang terbaring lemas di ranjang. Sudah hampir satu hari penuh gadis itu tak kunjung bangun. Naruto merasa bersalah pada Hinata, demi melindungi dirirnya Hinata terluka parah. Naruto merasakan jari jemari Hinata bergerak. Perasaannya begtitu bahagia. Dia sangat bersyukur karena Tuhan mengabulkan doanya.
"Naruto-kun, Naruto-kun," gumam Hinata.
"Iya aku disini. Hinata-chan apa kau sudah merasa baikan?".
"Iya aku baik-baik saja, Bagaimana denganmu?," tanya Hinata lemas.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku, pikirkanlah dirimu sendiri."
"Bagaimana kabar ayah dan ibumu?".
"Semuanya sehat. Ayah akan mengundurkan diri dari jabatannya besok, walaupun masa jabatannya baru akan habis dua minggu lagi namun ayah tidak ingin keluarganya menjadi korban oleh para lawan politiknya. Ayah juga membatalkan pendaftaran dirinya untuk pemilihan calon presiden tahun ini".
"Lawan politik? apakah orang yang menculikmu utusan lawan politik ayahmu?."
"Iya. Dia adalah pembunuh bayaran yang disuruh oleh Uchiha Fugaku. Mereka sengaja menggunakan aku sebagai alat untuk mengancam ayah agar beliau bersedia mengundurkan dari pencalonanya. Apa kau ingat tragedi penembakan saat dipesta pertunangan Itachi. itu juga ide dari Uchiha Fugaku. Ternyata dia menjebak aku dan ayah disarangnya namun sayang itu tak berhasil. Aku tidak menyangka kenapa dia bisa berbuat sekejam itu terhadap keluarga kami."
Hinata tiba-tiba mengingat saat-saat dimana Neji mendekati ajalnya. Dia melihat sendiri Neji ditembak mati oleh polisi. Hal ini membuatnya sedih karena dia harus kehilangan kasih sayang seorang kakak.
"Aku merindukan Neji nii-san. Naruto-kun apa kau tahu dimana makamnya. Jika aku sudah sembuh aku ingin berkunjung disana"
"Baiklah. Aku mengerti"
ooOOoo
Dua hari setelah kesembuhannya. Hinata dan Naruto memutuskan untuk pergi kepemakaman Neji. Hinata sudah tak bisa membendung tangisnya lagi ketika ia berdiri tepat didepan makan Neji. Hinata meletakakan karangan bunga yang ia bawa. Naruto hanya bisa menenangkan Hinata dengan mengelus-ngelus pundak kekasihnya agar lebih rileks.
"Nii-san, apa kau sudah bahagia disurga? disini aku sangat merindukanmu. Aku rindu saat-saat kita bermain, bertengkar bahkan menangis bersama. Nii-san, kau adalah orang terbaik di dunia yang pernah aku temui. Seberapa besar kesalahanmu, aku tetap menyayangimu. Nii-san, aku dan Naruto sudah sepakat akan membiayai pengobatan bibi. Aku akan merawatnya dengan baik sebagai balas budiku kepadamu. Kau selalu ada dihatiku nii-san."
Hinata memberi penghormatan terakhir kepada Neji. Selangkah demi selangkah kakinya mulai meninggalkan makam Neji. Berat rasanya menerima kenyaataan ini. Namun inilah hidup dan takdir yang sudah Tuhan gariskan dalam hidup Neji dan juga dirinya
ooOOoo
Usai dari makam Neji. Hinata dan Naruto memutuskan untuk mengunjungi pantai yang tak jauh dari Tokyo. Mereka bersandar didepan mobil. Naruto mengenggam erat tangan Hinata seolah ia tak membolehkan Hinata menjauh darinya. Langit mulai kemerahan dihari yang senja membuat pemandangan pantai terlihat indah. Burung-burung laut berterbangan menambah semarak suasana pantai. Tak ada suara lain disekeliing mereka kecuali deburan ombak. Naruto memejamkan matanya, dia mencoba merasakan bau khas pantai.
"Ahhh, hidup menjadi rakyat biasa itu lebih menyenangkan, damai dan nyaman. Kita tak dihantui oleh para lawan politik atau orang-orang yang tidak suka terhadap kita. Dunia politik itu memang kejam jika orang didalamnya adalah orang-orang yang tak memiliki hati yang tulus," kata Naruto. Matanya memandang lurus ombak yang seakan berjalan senang menuju kearahnya.
"Kau benar. Memang begitulah hidup. Semua pasti ada yang baik dan ada yang buruk. Ada yang bersih ada yang kotor. tinggal bagaimana kita menyikapinya."
Hinata tersenyum manis. Dia juga merasa bahagia dengan adanya Naruto didekatnya. Naruto mengalihkan pandangannya ke gadis yang dicintainya. Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal dibenaknya.
"Honey, apa kau sudah menyerahkan surat pengunduran dirimu?."
"Belum aku serahkan. Aku masih bingung, jika aku mengundurkan diri darimana aku bisa mendapatkan uang. Pekerjaan apa yang layak untuku kelak atau perusahaan mana yang mau menerimaku."
"Aku tidak mau tahu. Kau harus mengundurkan diri, pekerjaan itu sangat berbahaya buatmu. Aku tidak mau kau mempertaruhkan nyawamu demi orang lain. Masalah uang kau jangan khawatir karena aku yang akan menafkahimu" ucap Naruto tegas.
"Menafkahiku? tapi aku bukan istrimu?."
Naruto terdiam sejenak. Perlahan dia berlutut dihadapan Hinata. Tangan Naruto merogoh saku jasnya. Sebuah kotak hitam cantik sudah digenggamnya. Naruto sama sekali tak ragu untuk membuka isi didalamnya. Hinata tak percaya. Satu cincin berlian yang indah sudah ada di depan matanya. Naruto memasangkan cincin berlian itu dijari manis Hinata. Senyum kebahagiaan merekah dibibir Naruto yang tipis.
"Will you marry me?," ucap Naruto lembut. Hinata terdiam, tak percaya kalau Naruto akan melamarnya. Hinata tak pernah menyangka kalau Naruto sudah memikirkan hubungan mereka seserius ini. Hinata sudah tahud jawaban untuk Naruto.
"Yes, I do," jawab Hinata dengan wajah semu merah karena malu.
Naruto bahagia, sangat bahagia. Wanita yang dicintainya menerima lamarannya. Naruto bersorak, berjingkrak bahkan dia sedikit menangis karena bahagia. Dia memeluk Hinata begitu erat, sangat erat karena ia begitu mencintai gadis yang hampir meninggalkannya. Dia tak mau hal itu terulang lagi. Mereka berdua saling memandang. Wajah mereka semakin lama semakin mendekat. Naruto mengecup bibir Hinata dengan lembut.
"Aku mencintaimu Hinata."
THE END
MAAF JIKA INI GAJE DAN DILUAR HARAPAN KALIAN :)
TERIMA KASIH TEMAN-TEMAN YANG SUDAH FOLOW, FAV DAN REVIEW FF INI. I LOVE YOU ALL.
MAAF YA KALAU ACTIONNYA DISINI KURANG GREGET
