Minna! Chap 5 update! Ada yang menunggu? –nggak- *pundung di pojokkan* alasan Sum lama update-nya, ada dua. Yang pertama Sum lagi sibuk sekolah, baru masuk aja udah dikasih pr yang bejibun ==" yang kedua, chap ini idenya buntu ditengah jalan. Chap ini udah 4 kali Sum ulang *gubrak* jadi mungkin chap ini kurang greget dari chap yang sudah-sudah. Gomen ne! jadi langsung aja ya. Yosh! Selamat membaca XD

Summer172 present :


Hujan mempertemukan mereka..

Dua insan yang saling mencintai namun tak bisa membagi cinta..

Hujan memisahkan mereka…

Saat mereka tak bisa mengatakan cinta..

Perpisahan bukanlah arti bahwa tidak ada cinta yang bersatu..

Namun..

Karena perpisahan itulah..

Sebuah cinta baru muncul..

Dan hujan yang menjadi saksinya..


Naruto by Masashi Kishimoto

Love Rain by Summer172

and The Poster by Tikais

Warning : OOC(maybe), Typo, Gaje, Etc.

Don't like? don't read!


Sudah lima menit berlalu sejak Minato dipersilahkan masuk oleh Kushina. Tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Minato yang duduk di samping wanita bersurai merah itu hanya menunduk gugup, dan sesekali melihat kearah Kushina. Kushina pun begitu, tidak tahu apa yang harus ia katakan. Terlebih lagi, ini bukanlah pertemuan pertama mereka setelah dua puluh sembilan tahun tak berjumpa. Ya, mereka pernah bertemu beberapa hari sebelumnya dengan suasana yang kurang mengenakkan.

"K-kau mau dibuatkan minum? Teh? Kopi? Atau sirup?" Tanya Kushina gugup.

Minato menoleh kearah Kushina, yang tidak melihatnya sama sekali walaupun sedang bertanya."T-tidak usah repot-repot, aku hanya ingin berbincang-bincang saja. Yahahaha." ujar Minato canggung sambil mengosok-gosok tengkuknya.

Kushina masih tidak ingin melihat wajah tampan Minato, dia terus menunduk."Jadi untuk apa kau kesini?"

"Aku hanya ingin minta maaf padamu. Aku sangat menyesal Kushina."

"Ah, tidak apa, cintakan- eh maksudku, aku sudah memaafkanmu." ujar Kushina, yang masih terlihat tidak ingin menatap mata Minato secara langsung.

Minato tersenyum miris."Apa kau membenciku? Kenapa kau tidak ingin menatapku?"

Kushina kaget mendengar pernyataan Minato. Ia bingung harus menjawab apa. "Aku hanya..aku-"

Tiba-tiba saja Minato memegang dagu Kushina, memaksa agar Kushina menatap mata birunya."Lihat aku Kushina..lihat aku.. aku masih sangat mencintaimu. Aku ingin kita mengulanginya lagi, seperti dua puluh sembilan tahun yang lalu." mohon Minato.

Kushina miris melihat Minato yang seperti ini padanya, bukankah dia yang melepaskan tangan Kushina saa itu? Dan pergi begitu saja tanpa pamit secara langsung dan hanya meninggalkan sepucuk surat. Dan sekarang pria bodoh ini ingin kembali? Tidak mungkin.

Kushina menepis tangan Minato yang saat ini memegang dagunya. "Kau tahu Minato. Sejak kau pergi, kehidupanku hancur! Aku selalu menangis di taman dekat kampus. Saat itulah aku berfikir kalau kau hanya mempermainkanku!" Jeda sejenak. Matanya sudah mulai berkaca-kaca," Tapi, Kizashi, sahabatmu itu yang menolongku. Menyakinkanku kalau kau akan kembali dan dia juga yang selalu menghiburku. Dia sangat baik Minato, sangat baik. Jadi kami putuskan untuk menikah." Kushina kembali menjeda penjelasannya. Ia bisa melihat wajah Minato yang berubah syok," Kami memiliki dua orang anak, kami berempat hidup bahagia. Tapi, satu tahun yang lalu K-Kizashi..Kizashi-"Kushina menutup mulutnya, tangannya bergetar hebat, ia tidak bisa melupakan Kizashi yang sudah pergi meninggalkannya. Untuk selama-lamanya. Walaupun Kushina tidak mencintai Kizashi sepenuh hati. Tapi, Kushina akan selalu mengenangnya sebagai suami dan ayah yang baik.

Minato yang melihat itu langsung memeluk Kushina erat. Hatinya sebenarnya sakit dan perih. Melihat wanita yang dicintainya menikah dengan orang lain, apalagi suami Kushina adalah sahabatnya sendiri. Dialah yang salah, seharusnya dia bisa memberitahu Kushina yang sebenarnya, mungkin saja Kushina dapat membantunya saat itu dan kejadiannya tidak akan menjadi seperti ini. "Aku menyesal Kushina, sangat menyesal. Seharusnya aku memberitahumu yang sebenarnya, saat itu."

Kushina melepas pelukan Minato, dan menatap heran Minato."M-maksudmu?"

Minato menunduk sedih."Sebenarnya, aku tidak dijodohkan. Saat itu aku menderita penyakit TBC yang sudah parah. Dokter menganjurkanku untuk berobat ke Iwagakure." jeda sejenak. Kushina tercekat mendengarnya. Lalu Minato melanjutkan," Aku hanya memberitahu tentang penyakitku ini pada Kizashi, lalu aku menyuruhnya untuk tidak mengatakan itu padamu. Lima tahun setelah itu, aku sembuh dan kembali ke Konoha untuk mencarimu. Tapi, aku mendengar dari teman-temanmu bahwa kau sudah menikah. Aku terlambat, saat itu aku bertemu dengan juniorku di kelas melukis, Senju Mebuki. Dan sama sepertimu, akhirnya aku menikah dengannya. Tapi, satu tahun yang lalu, aku bercerai dengannya. Aku tidak ingin menyakiti Mebuki lagi, karena rasa cintaku yang masih ada padamu." jelas Minato panjang lebar. Wanita yang berada disampingnya hanya menunduk.

Minato tersenyum miris."Aku tahu kau pasti sangat membenciku. Jadi aku minta maaf, telah membuat mu menderita selama ini. Aku berharap kita bisa bertemu lagi lain waktu. Mungkin sebagai seorang..teman." Minato bangkit dari tempat duduknya, dan berpamitan pada Kushina,"Aku pamit pulang dulu Kushina. Maaf telah menganggu pekerjaanmu. Sayonara." setelah berpamitan, Minato beranjak pergi meninggalkan Kushina yang tengah menunduk. Menangis.

Apa dia salah saat ini? Apa yang harus dia lakukan? Dia masih mencintai Minato. Tapi dia terlalu takut untuk mengatakannya. Takut kehilangan Minato untuk kedua kalinya. Tapi, jika ia tidak mengambil kesempatan ini, belum tentu dia dapat bertemu dengan Minato lagi. Kushina menghapus air matanya. "Tidak. Aku harus mengejarnya. Aku harus. Harus." Kushina bangkit dari sofanya dan berlari keluar dari rumahnya.

Ia terus berlari, berharap Minato belum jauh dari sana. Kushina sampai di depan pagar rumahnya. Melihat kanan-kiri mencari Minato. Saat ia melihat kearah kanan, ia melihat seorang pria berambut kuning, berjalan gontai menuju tempat mobilnya terparkir. Kushina lari mengejarnya dan langsung memeluk pria itu dari belakang. Pria itu sedikit tersentak.

"Kushina?" Pria itu ingin berbalik menghadap kearah wanita yang tengah memeluknya itu. Tapi Kushina melarangnya.

"Jangan berbalik. Aku..hiks..ingin begini saja. Kenapa tadi kau mengucapkan maaf? Bukankah..hiks..cinta tidak mengucapkan kata maaf?" Ujar Kushina terisak.

Minato menitikkan air matanya dan segera menggenggam tangan Kushina, yang saat ini berada di pinggangnya. "Aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi. Selamanya."

.

.

Jepret!

Jepret!

Jepret!

Mulai dari wartawan gossip, majalah, koran, bahkan majalah olahraga (?). Memotret kejadian langka ini. Ya, kejadian dimana Naruto dan Sakura saling berpandangan, pandangan yang sulit diartikan menurut mereka. Sebenarnya, Sakura sudah mulai melupakan kejadian semalam. Tapi, setelah Naruto berada di hadapannya, gadis itu malah mengingat kembali kejadian kemarin malam yang menurutnya sangat menjijikan. Begitu pula Naruto, niatnya untuk melupakan Sakura dengan kesibukan syuting. Malah bertemu Sakura di lokasi yang sama. Mungkinkah takdir mengambil alih?

Sasori menyeringai jahil.'Ternyata benar. Gossip itu benar.' pikirnya.

"Ehem, Naruto." panggil Sasori. Tapi Naruto masih saja diam terpaku disana. Kesal diperlakukan seperti itu, Sasori mulai berteriak,"NAMIKAZE NARUTO!"

"Ah? Apa? Ada apa?" Ujar Naruto terbata-bata dan melihat kanan-kiri mencari orang yang memanggilnya.

"Aku yang memanggilmu! Naruto! Cepat kau duduk ditempatmu. Bangku disamping Sakura itu!" Perintah Sasori.

Naruto hanya menurut. Tapi Sakura tidak. Dia mencoba membujuk kakak satu-satunya itu. "Niichan… aku pindah ketempatmu saja ya..," rengek Sakura yang masih berdiri.

Sasori menggelengkan kepalanya dan menatap Sakura dengan tatapan ingat-disini-ada-wartawan infotaiment. Sakura yang mengerti dengan tatapan kakaknya itu, kembali duduk dengan muka masam. Naruto juga duduk ditempatnya dan menoleh kearah Sakura yang sedang mengetuk-ngetuk meja sambil menggerutu yang tidak jelas. Naruto tersenyum melihatnya.

"Baiklah, aku akan melanjutkan kembali penjelasanku yang terhenti karena insiden kecil." Sasori melirik sebentar Naruto yang terlihat cengar-cengir. Sasori menarik nafasnya,"Dialah orang yang akan memerankan Kenji." ujar Sasori tenang.

Suasana kembali ribut setelah Sasori mengatakan hal itu. Para wartawan berbisik-bisik, tidak percaya kalau Naruto yang memerankannya. Para pemain pun ada yang tidak percaya, seperti Karin.

'Bagaimana mungkin orang seperti dia bisa menjadi pemeran utama, mengalahkan Sasuke-kun yang berbakat?!' Omel Karin dalam hatinya.

Ino menyikut Sakura."Apakah dia pacarmu? Ah bukan, dilihat dari expresimu dan juga si baka itu, hmm..coba kupikir, apa dia mantanmu?" Goda Ino.

Sakura melirik malas pada Ino."Yang benar saja Pig! Aku dan dia saja belum pacaran, kenapa malah kau bilang dia mantanku?"

Ino terkikik pelan mendengar penuturan Sakura. "Ah, benarkah? Kalian itu cocok loh!" Ujar Ino setengah berbisik.

Sakura melirik kearah Naruto yang sibuk dengan ponselnya. "Dia itu pria brengsek yang bisanya mempermainkan hati wanita."

Ino mengangguk lugu."Oh, aku juga pernah mendengar gossipnya, katanya dia dijuluki pria tampan yang dapat melumpuhkan hati wanita dalam 3 detik! Dan dia juga seorang playboy. Jadi itu benar?" tanya Ino penasaran.

Sakura mengibas-ngibaskan tangannya."Jangan percaya! Aku saja tidak mempan dengan godaannya! Tapi kalau gossip playboy itu memang benar." Sakura langsung menunduk mengingat kejadian malam itu.

Ino mebulatkan matanya."Jadi kau pernah digoda olehnya?"

Mendemgar hal itu, Sakura kembali mengangkat kepalanya. Wajahnya merona tipis." T-tidak! Aku hanya-"

"Baiklah, sekian konfrensi persnya! Kalian tunggu saja filmnya tayang! Terimakasih untuk para teman-teman wartawan yang telah sudi datang ke acara ini." ujar Sasori, memotong pembicaraan Sakura dan Ino.

Semua yang datang memberikan tepuk tangannya.

.

.

Konfrensi pers akhirnya selesai. Para aktris dan aktor dipersilahkan pulang dan istirahat karena besok, syuting untuk film Love Rain akan segera dimulai.

" Neechan. Aku ke toilet sebentar ya." Ujar Moegi pada Sakura yang sedang asik mengobrol dengan Ino. Sakura hanya mengangguk.

Moegi bangkit dari tempat duduknya dan pergi keluar dari café. Ia berharap Sakura tidak melihatnya sedang berjalan keluar dari café bukannya ke wc. Karena saat ini dia sedang mencari Naruto, yang terakhir kali dia lihat keluar dari café.

Moegi akhirnya berhasil menemukan pemuda berambut kuning itu. Tapi, Naruto sudah sampai ditempat mobilnya terparkir. Moegi yang melihat itu segera berlari mengejar Naruto." Naruto-nii! Naruto-nii! Tunggu! Jangan pergi dulu!" Panggil Moegi dari jauh. Untung saja Naruto mendengar panggilan dari Moegi.

Naruto berbalik, dan melihat siapa yang memanggilnya."Eh? Kau..," Naruto mencoba mengingat nama gadis itu.

Moegi yang telah berada di hadapan Naruto terlihat kelelahan. "Hosh..hosh..aku ingin bicara denganmu sebentar..hosh. Oh ya, namaku Moegi."

"Bukannya kau asisten Sakura-chan?" Tanya Naruto."Lalu untuk apa kau ingin berbicara denganku?"

Moegi melihat kanan-kiri takut dilihat oleh pengunjung café." L-lebih baik kita bicarakan ini di dalam mobilmu. Aku tidak ingin pembicaraan kita didengar orang lain. Apa lagi sampai menjadi gossip." ujar gadis berambut orange itu.

Naruto mengelus-ngelus dagunya tampak berfikir."Kau benar." ujar Naruto lalu membuka pintu mobilnya.

"Cepat masuk!" Perintah Naruto pada Moegi. Gadis itu segera memasuki mobil Naruto.

Naruto juga memasuki mobilnya."Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanyanya.

Moegi menunduk dalam, sebenarnya dia tidak berani membicarakan ini pada Naruto. Tapi dia merasa harus mengatakannya. "I-ini soal Sakura-nee..," ujarnya lirih. Hampir terdengar seperti sedang berbisik.

Deg, walaupun Moegi mengatakannya dengan suara yang pelan. Tapi, Naruto tetap bisa mendengarkannya. Akibatnya, jantung Naruto berdebar lebih kencang."S-Sakura-chan? ada apa dengannya?"

Moegi masih menunduk dalam, dia menggit bibir bawahnya. Bagaimana cara menjelaskannya?

" Hari itu, hari dimana kita mengadakan pesta. Aku melihat kalian begitu akrab. Bukan. Tapi semenjak kalian kembali ke lokasi pemotretan dengan wajah merona, banyak yang berkata kalian berdua itu berpacaran..," Moegi menjeda sejenak perkataannya, Naruto mendengarkannya dengan baik, lalu ia melanjutkan, " Tapi, setelah dia kembali ke kamar karoke, aku melihatnya menangis. Awalnya aku memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat di perjalanan pulang ke Konoha. Dia memintaku berhenti di bar, dan dia minum terlalu banyak, sampai-sampai di ma-"

Naruto membulatkan matanya tidak percaya. "Sakura-chan, mabuk?" Tanya Naruto memotong penjelasan Moegi.

" Iya, Niichan benar. Dia mabuk berat. Dan dia berbicara asal. Aku mendengar kalau dia berkata Niichan berciuman dengan Hinata-san dan dia sangat membencimu. Tapi, dia juga berkata kalau selama dua tahun menjauhi lelaki itu. Akhirnya dia bisa merasakan hal yang sama saat bersamamu." Moegi menyudahi penjelasannya.

Naruto tidak mengerti apa yang dikatakan Moegi. "Maksudmu, dengan lelaki itu?"

Moegi menghela nafas panjang." Sakura-nee dari dulu menyukai Gaara-nii. Sahabat dari Sasori-nii. Tapi, Gaara-nii sudah bertunangan dengan Matsuri, seorang dokter yang cantik dan pintar. Sakura-nee terpukul mendengarnya. Sejak saat itu dia menjauhi Gaara-nii. Tapi, Gaara-nii malah ada disini, aku kira kalau Sakura-nee bakal murung jika bertemu dengan Gaara-nii. Tapi ternyata dia menanggapinya dengan santai. Aku berfikir kalau ini semua karena Niichan." Jeda sejenak. Moegi mengangkat wajahnya yand sedari tadi ditundukkannya."Aku mohon, Niichan kembali mendekati Sakura-nee, aku yakin Niichan pasti bisa membuatnya gembira!" Mohon gadis tersebut.

Naruto menundukkan kepalanya."Bukan itu masalahnya. Sekarang Sakura-chan mungkin sudah tidak percaya lagi padaku. Bagaimana aku bisa mendekatinya?" Ujar Naruto murung.

Moegi memegang pundak Naruto. Naruto masih menunduk."Niichan..aku yakin Niichan pasti mencintainya. Aku juga yakin kalau Niichan bisa membuat Sakura-nee percaya lagi padamu."

Naruto masih bergeming dengan posisinya dan tidak mengacuhkan perkataan dari Moegi.

Moegi kembali menghela nafasnya."Sakura-nee sebenarnya mencintaimu..," kata-kata itu berhasil membuat Naruto mengangkat wajahnya yang tampan. "Aku mendengarnya saat dia sedang mabuk. Niichan tahukan, orang mabuk itu bukan hanya asal bicara, kadang-kadang mereka juga mengatakan rahasia pribadinya jika sedang stress." ujar Moegi meyakinkan Naruto.

Naruto tersenyum senang." Benarkah?"

Moegi menjawabnya dengan anggukan kepala. "Yang perlu Niichan lakukan hanyalah membuat Sakura-nee percaya padamu. Pokoknya, aku akan membantu Niichan. Karena aku tahu. Kalau Niichan tidak mungkin berciuman dengan Hinata-san. Jadi, aku mohon Niichan bisa membuat Sakura-nee percaya!" Bujuk Moegi.

Naruto menunjukkan cengiran khasnya."Kau benar! Harusnya aku lebih berusaha membuat Sakura-chan percaya. Terimakasih Moegi!" Ucap Naruto penuh semangat.

"Kalau begitu, sampai jumpa besok Niichan," pamit Moegi. Lalu Moegi keluar dari mobil Naruto.

Moegi melambaikan tangannya pada mobil Naruto yang sudah mulai tak terlihat oleh mata. Moegi menghela nafas lega, lalu terkikik geli." Ternyata aktingku tidak terlalu buruk, Sakura-nee mabuk dan berkata asal memang benar. Tapi kalau Sakura-nee mencintai Naruto-nii? Aku tidak tahu juga. Yah, tidak apalah sedikit berbohong. Ini kan demi kebaikan mereka juga. Naruto-niigomen ne." ujar Moegi pada dirinya sendiri.

"Moegi! Sedang apa kau disana?" Tanya seorang gadis yang berdiri di depan pintu café.

Moegi yang mengetahui dengan pasti siapa pemilik suara itu, segera berbalik dan memasang senyum manis."A-ah Neechan rupanya, aku..aku.. sejak kapan Neechan berdiri disana?" Tanya Moegi mengalihkan pembicaraan.

Sakura berjalan mendekati Moegi. "Baru saja, ya sudah, ayo kita pulang. Aku ingin istirahat untuk besok."

Moegi memeriksa buku catatan schedule Sakura."Ah, tunggu Neechan! Neechan harus pergi ke salah satu stasiun tv swasta, lalu menjalani pemotretan dan-"

"Hah! Merepotkan!" Omel Sakura meminjam trademark Shikamaru. Mungkin saat ini Shikamaru sedang menggaruk telinganya yang gatal karena trademark-nya dipakai orang lain.

.

.

"Cut! Naruto! Sakura! Ini sudah take yang ke sepuluh! Konsentrasi!" Teriak Sasori kesal. Bagaimana tidak, waktu yang seharusnya bisa mengambil scene yang lain, malah dihabiskan dengan scene ini.

Sebenarnya scene ini cukup mudah, Naruto dan Sakura diharuskan berjalan dari arah berlawanan dan mereka bertabrakan. Sakura meminta maaf lalu pergi dari sana. Tapi, tidak semudah itu bagi mereka berdua. Tidak percaya? Lihat saja.

"Make up artist! Cepat! Dandani mereka lagi!" Perintah Sasori dengan nada marah. Shion dan Sarah yang notabennya adalah make up artist langsung berlari menuju Sakura dan Naruto. Mereka tidak ingin membuat Sasori tambah marah.

Naruto tersenyum kearah Shion yang sedang menambah lipstick di bibir Sakura, membuat Shion merona hebat. Akibatnya, lipstick itu keluar jalur, tertarik sampai ke pipi Sakura.

"Hei! Apa yang kau lakukan!" Omel Sakura.

Shion yang sadar membuat kesalahan segera meminta maaf."M-maaf Haruno-san, aku tidak sengaja. Biar aku bersihkan!" Shion langsung mengambil tisu yang berada di dalam tas sandangnya.

Sakura menepis tangan Shion yang ingin mengelap pipinya. "Ah! Tidak usah! Berikan tisu itu! Jika kau tidak mau medandani aku, lebih baik kau dandani saja si baka itu!" Omelnya. Sakura merebut paksa tisu yang ada di tangan Shion.

Semua kru melihat kearahnya, tidak terkecuali Naruto. Sakura acuh tak acuh dengan pandangan itu. Sakura masih marah dengan perlakuan Shion. Atau cemburu?

Sasori menghela nafas. "Sudah! Semua stand by! Jangan lupa hujan buatannya!" Semua kru langsung stand by di tempatnya. Sakura dan Naruto tak terkecuali.

"Camera. Rolling. Take eleven….action!"

Naruto dan Sakura segera berlari dari arah berlawanan. Naruto memakai tangannya untuk melindunginya dari hujan. Sedangkan Sakura memakai tasnya sebagai pelindung. Saat sudah dekat mereka menabrakan diri sesuai tuntutan scenario.

Naruto menatap sendu pada Sakura. Dia masih ingat saat Sakura mengatakan kalau dia tidak ingin melihat Naruto lagi. Dan, hal menyenangkan yang terjadi di Amegakure bersama Sakura. Bukan hanya Naruto yang begitu, tapi gadis yang dihadapannya juga sama. Sakura sebenarnya tidak mau mendiami dan membenci Naruto. Tapi bagaimana lagi? Sakura sudah terlanjur sakit hati melihat kejadian malam itu.

"Maaf! Aku sedang buru-buru, aku permisi dulu." Sakura memulai aktingnya dengan sangat baik. Seperti yang telah diatur scenario, Sakura berlari kecil melewati Naruto.

Tapi, Naruto menahan lengannya. Sakura pun berhenti berlari. "Apa kau membenciku?"

Sakura diam saja, tidak ingin menjawab pertanyaan dari Naruto.

Sasori yang melihat adegan yang tidak diinginkan kembali terjadi, segera menghentikan pengambilan gambar."Cut!"

Camera pun berhenti merekam. Para kru mendesah, mereka sedikit kecewa. Padahal mereka sudah menahan nafas, karena ingin mendengar jawaban dari Sakura.

Sasori memijat-mijat pelipisnya. Dia pusing melihat tingkah mereka. Kalau bukan Sakura yang terbawa emosi, pasti Naruto yang berbuat ulah. "Kita break sebentar! Naruto dan Sakura ikut denganku! Aku ingin bicara."

Naruto dan Sakura mengikuti perintah Sasori.

.

.

"Ada apa dengan kalian? Akting kalian sangat bagus! Tapi, saat Sakura memulai dialognya. Pasti ada saja masalah." Omel Sasori.

"Bukan begitu, kami hanya kurang konsentrasi sa-"

"Tidak ada alasan! Jika kalian berdua tidak bisa fokus dengan syuting ini. Kau maupun Sakura akan segera aku ganti! Mengerti?" Peringatan tegas dari Sasori membuat mereka bergidik.

"Baik Niichan..,"

"Ya, Sasori-san."

Sasori mengangguk, lalu berjalan pergi dari sana. " Ohya, satu lagi. Selesaikan masalah kalian disini. Aku tidak mau tahu, pokoknya harus selesai. Jika tidak! Kalian tidak boleh pergi keluar dari tenda ini! Ingat itu!" Tegasnya dan melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat terhenti.

Sakura tidak mengacuhkan Naruto. Ia duduk dengan santai di kursi yang berada disana.

"Ini takdir Sakura." ujar Naruto singkat. Tapi, dapat membuat Sakura sedikit tersentak.

"Bukan. Ini hanya sebuah kebetulan." jawab sakura dengan nada ketus.

" kalau itu yang kau yakini, aku tidak akan berdebat. Tapi, bisakah kau menjawab pertanyaanku yang tadi?" Tanya Naruto.

"….."

Naruto menyilangkan kedua tangannya didepan dada."Sakura-chan?"

"Pertanyaan yang mana?" Tanya Sakura pura-pura tidak tahu.

Naruto melangkah ke kursi yang berdekatan dengan kursi yang diduduki Sakura. Naruto lalu duduk di kursi kayu itu. "Jangan pura-pura tidak tahu Sakura-chan!" Bentak Naruto.

"Menurutmu?!" Sakura balik bertanya.

"Kau masih marah dengan kejadian malam itu? Biar aku jelaskan. Sebenarnya aku dan Hinata itu tidak berciuman! Dia saja yang menarikku lalu merebut ciuman itu." Naruto mencoba menjelaskan.

Sakura tersenyum sinis." Benarkah? Pria sepertimu tidak bisa dipercaya." Sakura bangkit dari duduknya. Lalu melenggang pergi. Tapi Naruto mencegatnya. Dan memaksa Sakura agar dapat melihatnya.

Naruto menatap intens mata emerald Sakura."Apa yang bisa membuatmu mempercayaiku?"

Dilihat seperti itu, Sakura memalingkan wajahnya yang ngomong-ngomong merona tipis."Aku hanya ingin kau meminta maaf."

"Aku minta maaf."

Mendengar hal itu, Sakura melepas paksa tangan Naruto." Tulus dari hatimu, tidak asal maaf. Tapi berasal dari sini." Ujar Sakura sambil menyentuh dada Naruto.

"KYAAA!"

Naruto dan Sakura kaget mendengar teriakan itu. Teriakan seorang gadis.

"I-ino?" Ujar Sakura. Mereka berdua langsung berlari keluar dari tenda. Melupakan sejenak perkelahian mereka tadi.

Para kru sudah ramai berkumpul disana. Naruto dan Sakura mencoba menerobos kerumunan orang yang mengelilingi tempat itu.

Betapa terkejutnya mereka saat melihat seorang pria berambut nanas yang tidak sadarkan diri tertindih sebuah lampu penerangan untuk syuting. Dan disampingnya terduduk seorang gadis blonde. Tubuh gadis itu bergetar hebat, buliran bening keluar tak henti-hentinya dari mata indahnya.

Naruto menoleh pada Sasori yang berada disampingnya."S-Shikamaru.. ada apa dengannya?"


Fufufu :3 Sum jadi malu *pletak* jelek kah? Sum perlu masukkan XD jadi review-nya pliss!

Special thanks to :

Namikaze Immah-chan Sapphire

Dear God

Adityaisyours

Spring Field Linda

Ghinapink

Aurora Borealix

Arisaaoi

Haruno Mitsuka

Yola-ShikaIno

Soputan

Red Devils

Mako-chan

Matsusitha

Asbobi

Chitay NaruSaku

Zip

Man utd

Gwest

beberapa Guest

dan para pembaca yang telah sudi berkunjung kesini :D