Sebelum ngebacot, Sum mau balas review yang gak login dulu :
Gwest : uhuhu, makasih ya udah mau nge-review lagi :D ya, chap ini aja lama update, karena Sum bertapa lagi :P di chap ini Saku udah percaya :D dan nasib Shikamaru juga diceritain disini :D oke deh kalau udah baca review lagi ya :D *pletak*
Guest1 : sebelumnya makasih udah mau review. Maaf membuat mu kecewa karena fictnya gak panjang tapi yah cuma segitu kemampuan Sum. Gomen ne
Zip : makasih udah mau nge-review lagi :D gimana ya? Kayaknya harus nunggu endingnya deh :D Sum juga bingung mau buat pair mana yang bahagia *plak* XD oke deh baca terus ya :D
Soputan : makasih (lagi). Akan dilanjutkan kok :D
Guest2 : makasih udah mau nge-baca dan nge-review :D
Kanselir : iya selingkuh itu emang indah *bletak* XD makasih ya udah mau mampir :D
Guest3 : Kenapa Cuma 'hn'? Jelek ya? Gomen ya Sum akan perbaiki lagi jika kurang bagus :D tapi, makasih udah mau mampir :D
Nakumi-chan : makasih udah mau mampir :D dan makasih udah bilang chap kemarin bagus *terharu* iya disini Ino dipasangin sama Shika :D
Guest4 : yosh! Makasih udah mau mampir :D
Guest5 : Shika ketiban lampu wkwk XD masalah NS jadi saudara atau nggak, Sum akan coba usahain nggak jadi saudara. Tapi gak janji juga :D ohya makasih ya udah mau mampir :D
NS : nih lanjutannya :D makasih ya udah mau mampir
Caca Amanda : makasih udah mau mampir dan juga bilang keren :D Hinata jadi antagonis? Kayaknya diawal aja deh XD tapi gak menutup kemungkinan Hinata muncul lagi :D okedeh, baca terus ya *gubrak*
.
Minna! Sum akhirnya kembali setelah 1 minggu lebih bertapa dan pergi meninggalkan fict ini *bletak* dan malah ngurusin projek baru yang rencananya akan segera publish *loh? Yang satu ini aja belum selesai udah mau buat yang baru aja?* dan akhirnya chap 6 update! Yey! Tapi, gomen ya kalau fict ini tambah gaje luarrrrrrrrrrrrrrr binasa,eh, maksudnya luar biasa XD
Oke deh, yosh! Selamat membaca :D
Summer172 present :
Hujan mempertemukan mereka..
Dua insan yang saling mencintai namun tak bisa membagi cinta..
Hujan memisahkan mereka…
Saat mereka tak bisa mengatakan cinta..
Perpisahan bukanlah arti bahwa tidak ada cinta yang bersatu..
Namun..
Karena perpisahan itulah..
Sebuah cinta baru muncul..
Dan hujan yang menjadi saksinya..
Naruto by Masashi Kishimoto
Love Rain by Summer172
and The Poster by Tikais
…
Warning : OOC(maybe), Typo, Gaje, Etc.
…
Don't like? don't read!
"Temanmu itu brengsek," ujar seorang gadis blonde pada pria yang tengah duduk disampingnya.
Pria itu melirik malas pada gadis tadi. " Lalu? Kau mau apa?" Balas pemuda itu malas.
Gadis itu terlihat mendecak kesal. " Jika temanmu saja sudah brengsek seperti itu. Berarti kau sama saja dengannya, Nara Shikamaru."
Pemuda itu tampak kesal juga melihat tingkah gadis blode ini. Apa maksudnya dengan 'kau sama saja dengannya'? apakah gadis cerewet yang berada disampingnya saat ini tengah mengatakan kau-juga-brengsek.
" Apa maksudmu Nona Yamanaka? Kau mencoba mengatakan aku juga brengsek?" Komentarnya. Shikamaru menatap tajam kearah Ino.
Ino tidak takut melihatnya, ia malah menatap balik Shikamaru dengan tajam. " Tentu saja, aku masih ingat dengan kejadian dua tahun lalu yang membuat aku berhenti dari dunia entertainment!" Ino berteriak karena kesal.
Shikamaru yang mendengar itu cukup kaget. Ia dapat melihat para kru berbisik-bisik sambil melihat mereka berdua. Shikamaru mengambil nafas.
" Jadi kau masih ingat dengan kejadian itu? Aku dan Temari tidak ada apa-apa Ino. Kau hanya salah paham."
Ino tidak menggubris ucapan Shikamaru ia berdiri dan melenggang pergi dari sana. Membuat Shikamaru tertegun melihatnya. " Wanita memang merepotkan!" Celetuk Shikamaru.
Sebelum benar-benar menjauh dari sana, Ino menghentikan langkahnya dan berbalik. " Hei! Tukang tidur! Aku akan mempercayaimu jika kau bisa membuktikan kalau kau bukan pria brengsek!"
Setelah mengatakan hal itu. Ino melanjutkan jalannya kembali. Ia melewati sebuah lampu yang bisa dibilang tinggi dan besar itu. Shikamaru melihat kepergian Ino, dan pastinya dia juga bisa melihat lampu itu sedikit tempang dan sepertinya akan jatuh menimpa Ino.
Mata Shikamaru membulat sempurna saat tahu lampu itu akan jatuh menimpa Ino. Dia cepat-cepat berlari kearah Ino.
"INO! AWAS!"
Saat Ino akan berbalik, ia malah merasa tubuhnya di dorong seseorang.
"Aw! Shika kau ini ke- KYAA!" omelan Ino terpotong saat ia melihat Shikamaru sudah tergeletak didepannya dan tertindih oleh lampu penerangan yang tadi ia lewati.
Badan Ino tiba-tiba menjadi lemas. Bulir-bulur air mata sudah keluar dari mata indahnya. Ia mencoba mendekati Shikamaru dengan kakinya yang sudah mulai lemas. Tapi, ia tidak kuat. Ino jatuh terduduk di samping Shikamaru. Semua kru sudah mulai mendekati tempat itu termasuk Sasori. Mereka semua berbisik-bisik, tidak ada yang mencoba membantu Shikamaru. Sampai akhirnya Naruto dan Sakura tiba. Mereka terlihat syok melihat peristiwa itu.
Naruto menoleh kepada Sasori yang saat ini berada disampingnya. " S-Shikamaru… dia kenapa?"
"…"
Karena kesal tidak digubris Naruto mencengkram kerah baju Sasori. " Jawab aku! Shikamaru kenapa?!"
"…"
" Sudahlah Naruto. Tenang dulu," Sakura mencoba menenangkan Naruto.
Naruto melepaskan cengkramannya dan beralih lagi pada Shikamaru, " Hei! Apa kalian tidak mau membantunya! Ayo cepat bantu aku mengangkat lampu ini!" Teriak Naruto marah.
Semua orang bergidik ngeri melihat amarah Naruto. Mereka dengan cepat membantunya.
Setelah memindahkan lampu itu, Naruto menyuruh mereka mengangkat tubuh Shikamaru ke mobilnya. Ia akan membawa sendiri Shikamaru ke rumah sakit.
Sakura mencoba menenangkan Ino. " Sudahlah Ino, Shikamaru akan baik-baik saja," ujar Sakura sambil mengelus bahu Ino.
"…"
"Naruto akan membawanya ke rumah sa-"
Tiba-tiba Ino bangkit dan langsung berlari kearah Naruto. Naruto yang akan masuk ke mobilnya dihentikan oleh Ino.
"N-Naruto, aku ingin ikut ke rumah sakit, aku harus ikut. Karena semua ini salahku," lirihnya.
Naruto menghela nafas. " Ya sudah, cepat masuk ke dalam mobil!" Perintah Naruto.
Ino mengikuti perintah Naruto dan segera masuk ke dalam mobil. Segera mobil itu melaju pergi meninggalkan lokasi syuting.
Sakura menatap kepergian mereka. " Apa yang terjadi Ino?" Gumamnya.
.
.
Kushina masih saja memeluk Minato, seperti takut kehilangan lelaki itu. Bedanya sekarang, mereka kembali berada di rumah Kushina.
Minato tersenyum jahil. "Apa kau tidak berniat melepaskan pelukanmu?" Goda Minato.
Wajah Kushina tiba-tiba memerah dan langsung saja dia melepaskan pelukannya. "Huh, kau ini, masih saja suka menggodaku," komentar Kushina.
Minato tersenyum mengejek. " Hei, bukannya tadi kau marah padaku. Lalu kenapa kau terus memeluk ku?"
Minato, kau ini bagaimana? Lihatlah wajah Kushina sudah seperti kepiting rebus sekarang, kau masih saja terus menggodanya.
Kushina mengalihkan wajahnya kearah lain. " A-apa? Kau itu jangan terlalu percaya diri Mi-"
Minato tiba-tiba menarik Kushina ke pelukannya. "Kau tahu, aku senang sekali kita bisa kembali seperti ini," ujar Minato sebelum Kushina sempat protes padanya.
Kushina lalu tersenyum lembut. "Iya, aku juga," Lalu ia melepaskan pelukan Minato, "Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?"
"Baiklah, kalau begitu besok jam sepuluh pagi aku akan menjemputmu. Hmm, ya sudah aku permisi dulu ya Kushina," ujar Minato lembut.
Kushina mengangguk. "Baiklah, aku akan mengantarmu sampai ke pagar."
.
.
"Hiks…hiks…hiks."
"Sudahlah Ino. Kau menangis seperti Shikamaru akan mati saja."
Ino menoleh pada pemuda jabrik yang berada di dekat jendela. "Kau mendoakannya hiks.. mati?! Dasar baka!"
Pemuda yang diketahui bernama Naruto itu memutar bola matanya malas. "Kau yang baka! Dokter kan sudah bilang dia tidak apa-apa! Hanya tulang belakangnya saja yang retak!"
"Hei! Tadi siapa yang paling panik? Kau kan! Kenapa malah sekarang kau yang bersikap santai?!" Balas Ino sengit.
Wajah Naruto merona tipis, benar juga. Bukannya dia yang paling panik tadi?
"S-sudahlah! Aku ke wc sebentar." Ujar Naruto mengalihkan pembicaraan. Lalu dia pergi ke wc yang untungnya berada di dalam kamar.
Setelah pengganggu kuning itu menghilang, Ino kembali melihat kearah Shikamaru yang berada di depannya. Shikamaru saat ini sedang terbaring di kasur yang tak bisa dibilang besar itu. Tangannya diberi infus dan tubuh bagian atasnya dililit oleh perban. Ino memandang sedih Shikamaru. Dia takut Shikamaru meninggal karena menolongnya, untung saja ada Naruto yang membawanya ke rumah sakit. Mungkin kali ini dia harus berterimakasih pada pemuda baka itu.
Ino melipat tangannya diatas kasur lalu ia membenamkan wajahnya. "Kenapa kau harus melakukan ini Shikamaru? Kau bisa saja mati kan?"
"…"
"Kenapa tidak kau biarkan saja aku yang berada di posisimu sekarang?"
"…"
"Jawab aku Shika!"
"Aku ingin membuktikan kepada wanita yang merepotkan ini, kalau aku bukanlah pria brengsek."
Mendengar suara yang tidak asing lagi di telinganya. Ino langsung mengangkat wajahnya. "Shika? Kau sudah bangun? Sejak kapan?"
Shikamaru mencoba untuk duduk, "Aw, sakit sekali..," Ino langsung menjitak kepala Shikamaru.
"Hei! Kenapa kau malah menjitakku? Dasar, mendokusai! Harusnya kau membantuku untuk duduk."
Ino tiba-tiba menerjang Shikamaru, "Hiks..kau lebih baka dari pada Naruto! Kenapa..hiks..kau melakukan itu?"
Shikamaru tertegun lalu tersenyum lembut. "Kan sudah kubilang, aku ingin membuktikan kalau aku bukanlah pria brengsek. Dan lebih dari pada itu..aku..aku..," kata Shikamaru tergagap-gagap.
Ino melepaskan pelukkannya. Gadis itu tampak heran. "Kau? Kenapa?"
Baru kali ini dia melihat wajah Shikamaru memerah seperti itu. Memangnya Shikamaru ingin berkata apa?
"Aku..aku masih mencintaimu..w-walaupun kau gadis yang merepotkan bagiku. Tapi aku ingin kita kembali bersama l-lagi," ucap Shikamaru gugup. Dia takut gadis merepotkan ini akan tertawa mendengarnya. Bisa-bisa image nya jatuh dimata gadis ini.
Awalnya Ino hanya diam dan menatap Shikamaru dengan tatapan tak percaya. "Kau gila Shikamaru? Bagaimana dengan Temari?"
Shikamaru menghela nafas panjang. "Kau masih tidak percaya padaku? Biar aku jelaskan, dua tahun yang lalu. Sutradara yang mensutradarai film kami menyuruh aku dan Temari berpura-pura pacaran untuk mendongkrak film itu. Tapi, kami menolak, kau tahu kan Temari sudah bertunangan dengan pacarnya yang bernama Kakashi itu. Dan aku sudah punya kau. Dengan liciknya, sutradara itu malah menyebarkan gossip itu tanpa sepengetahuan kami. Saat aku akan menjelaskan semuanya, kau malah pergi dan memutuskanku secara sepihak. Jadi siapa yang gila? Kau atau aku?"
Wajah Ino memerah sekarang. Jadi selama ini dia hanya salah paham? Demi apa pun, begitu bodohnya dia. "J-jadi selama ini aku salah paham? Kau tidak berpacaran dengan Temari?"
"Sayangnya aku harus mengakui itu tidak benar," ujar Shikamaru jahil.
Ino memukul pelan lengan Shikamaru. "Kau ini! Kenapa tidak mengejarku?"
"Aku kira kau tidak mau dikejar."
"Tentu saja aku mau," ceplos Ino. Ino segera menutup mulutnya. Ketahuan juga kan Ino?
Shikamaru menyeringai. "Jadi? Kau masih menerimaku?"
Ino mengangguk yakin. "Tentu saja!"
"Lain kali jangan salah paham dulu!"
"Bagaimana tidak salah paham! Aku menelponmu saat itu tapi kau tidak mengangkatnya!"
"Kenapa kau jadi menyalahkanku, mendokusai!"
Karena asik berdebat. Mereka sampai tidak tahu ada yang mengupik sejak tadi dibalik pintu wc. Siapa lagi kalau bukan Naruto.
"Hebat sekali Shikamaru dapat meyakinkan gadis merepotkan itu. Apa aku harus mencoba cara Shikamaru ya? Ah! Kau gila Naruto! Mana mungkin aku mencelakai diriku sendiri?" Gumamnya yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
.
.
Ini adalah hari kedua syuting. Sakura sedang duduk di bangku khususnya. Ia sedang mencoba menghafal naskah yang sekarang berada di tangannya. Sesekali ia melihat kearah Ino yang sedang menyuapi Shikamaru. Ia tersenyum. Ya, Shikamaru sudah diizinkan pulang mengingat lukanya tidak terlalu fatal.
'Akhirnya Ino kembali bahagia. Aku kira dia akan seperti itu selamanya. Kapan ya aku bisa seperti itu bersama Naruto?'
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Apa yang aku pikirkan? Bersama Naruto? Mana mungkin?!'
Sakura menutup matanya, mencoba menghafal kembali naskahnya dan juga berusah menghilangkan Naruto dari pikirannya.
"Sakura-chan?"
'Bagus, sekarang aku malah mendengar suaranya memanggilku!' pikirnya. Lalu ia memukul kepalanya, 'Lupakan dia Sakura!'
"Sakura-chan? Kau tidak apa-apa kan?"
'Suaranya malah jadi semakin nyata! Aduh bagaimana ini?' Lalu ia berpikir sejenak, "Eh, tunggu dulu, jangan-jangan dia memang sedang memanggilku?" Gumam Sakura.
Namun, sayangnya gumaman itu terdengar jelas oleh Naruto. Ia terkekeh pelan. "Siapa yang memanggilmu? Hantu?"
Sakura kaget, lalu di membuka matanya. 'Sial!' Pikirnya.
"Sedang apa kau disini? Tidak adakah hal lain yang membuatmu bahagia selain menggangguku?" Ujar Sakura ketus. Lalu ia berpura-pura membaca naskah yang ada ditangannya.
Naruto menghela nafas. Lalu menarik tangan Sakura, memaksa agar ikut dengannya. "Ayo! Ikut aku!"
Akibat tarikan dari Naruto, Sakura hampir saja jatuh. Untung saja ia sempat memegang tangan Naruto.
"Hei! Kita mau kemana? Aku bisa saja melaporkanmu pada Sasori-nii jika kau tetap memaksaku untuk ikut," gertak gadis merah muda itu. Tapi, ya, mana mungkin Naruto termakan dengan gertakkan itu.
"Aku berani mengajakmu karena sudah minta izin pada Sasori-san, lagi pula dia itu menyetujui hubungan kita, yang artinya sebentar lagi dia akan menjadi kakak ipar ku," ujar Naruto dan menekan kata kakak ipar. Naruto juga menunjukkan cengiran khasnya yang berakibat fatal pada jantung Sakura.
Wajah Sakura merona hebat. "Baka! A-aku tidak menanyakan itu. Kita sekarang mau kemana?"
"Ke pasar tradisional."
.
.
"Kau mau Taiyaki?" Ujar seorang pria berambut kuning pada wanita yang sekarang berada disampingnya ini.
Wanita itu menoleh. "Boleh, beli satu saja."
Lelaki itu tersenyum lalu beralih kepada pedagang yang menjual kue itu. "Bi, aku pesan satu."
"Ya, tunggu sebentar Tuan." Ujar pedagang itu sambil mengambil kue yang dipesan oleh lelaki tadi.
"Ini Tuan. Terimakasih, apa anda berdua sepasang kekasih?"
Dengan malu-malu wanita itu menjawab, "Ya begitulah Bi."
"Ah pantas saja, kalian tampak serasi."
"Terimakasih Bi, ini uangnya," ujar pria tadi pada bibi penjual itu, ia menoleh lagi pada wanita bersurai merah yang berada disampingnya, "Jadi, kita mau kemana lagi Kushina?"
Kushina tampak menunjuk satu stand aksesoris. "Bagaimana kalau kita kesana Minato?"
"Baiklah, ayo."
Kushina dan Minato berjalan pergi dari stand Taiyaki tadi. Baru beberapa langkah mereka berjalan pergi datanglah pasangan yang aneh ini –maksudnya satu pasangan yang tak kalah serasinya.
"Hei! Kenapa kita kesini Naruto? Disini becek, kotor, dan bau," ujar gadis berambut pendek sebahu itu.
"Diam saja, kau mau Taiyaki tidak?" Tanya pemuda itu.
"Apa? Kau bilang apa tadi? Tai..Tai.. apa tadi?" Tanya balik gadis yang diketahui bernama Sakura.
Naruto sweatdrop. "Kau tidak pernah mencicipi yang namanya Taiyaki? Kami-sama! Mengapa aku bisa jatuh cinta dengan wanita yang seperti ini?!"
Wajah Sakura merona tipis, apa dibilangnya tadi? Jatuh cinta? Apa pemuda yang berada disampingnya ini sudah gila?
"Maaf, apa kalian baik-baik saja? Dandanan kalian sangat…," wanita itu jeda sejenak, memikirkan kata yang pantas dan sopan untuk mereka berdua, "Tidak biasa."
Naruto dan Sakura melihat satu sama lain dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Ah benar, penampilan mereka sangat aneh. Sakura memakai celana jeans dan jacket. Dia juga memakai kacamata dan topi untuk menutupi identitasnya sebagai Haruno Sakura. Tak beda jauh dengan Sakura, Naruto juga memakai pakaian yang sama dengan gadis pink itu. Hanya saja Naruto juga memakai masker untuk menutupi kumis kucing yang sudah menjadi trademark-nya.
Sebenarnya mereka tidak mau memakai pakaian yang seperti itu. Tapi, yah bagaimana lagi? Jika mereka tidak mau menjadi cover majalah gossip, mereka harus melakukan ini.
"Ah, kami tidak apa-apa kok Bi. Kami ingin membeli Taiyaki itu! Aku pesan dua," sambar Naruto. Ia tidak ingin ditanyai aneh-aneh lagi.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Bibi itu lalu mengambil pesanan Naruto lalu memberikannya. "Ini Tuan, apa kalian juga sepasang kekasih?"
"Maunya begitu Bi," ceplos Naruto.
Sakura langsung menjitak Naruto. "Baka! Aku saja belum memaafkanmu!"
Walaupun kesakitan, Naruto tetap saja ingin menggoda Sakura, "Berarti kalau Sakura-chan sudah memaafkanku, aku dan Sakura-chan bisa berpacaran begitu?"
Perempatan sudah muncul di kepala Sakura. "Jangan membuatku marah NA-RU-TO," ujar Sakura dengan latar aura gelap di belakangnya.
Bibi pedagang dan Naruto menelan ludah melihatnya, "B-baiklah S-Sakura-chan. Ini Bi uangnya. Kami pergi dulu ya."
"Y-ya Tuan, terimakasih."
Naruto berjalan didepan Sakura. Sakura hanya mengikutinya dari belakang –masih dengan latar aura gelap di belakangnya.
Naruto berhenti dan membuat Sakura menabraknya. "Hei! Kau ini kenapa?"
Naruto berbalik, "Ini, kau belum pernah mencoba ini kan? Cobalah," ujar Naruto dan memberikan satu Taiyaki pada Sakura.
"Eh? Kuenya berbentuk ikan?" Tanyanya bingung, ia membolak-balikkan Taiyaki itu.
Naruto lagi-lagi sweatdrop. Ternyata wanita ini lebih bodoh darinya. Mana mungkin kue itu berbentuk bintang laut jika arti Tai sendiri adalah ikan.
"Tentu saja Sakura-chan. Tidak mungkin Taiyaki berbentuk bintang laut, kalau arti dari Tai sajaadalah ikan."
Sakura hanya bisa merona mendengar hal itu. Ya, mana dia tau, dia saja tidak pernah memakan makanan yang bernama Taiyaki ini.
"Yosh! Ayo kita lanjutkan kencan kita!" Ujar Naruto dengan mata yang berbinar-binar.
Sakura kembali menjitaknya. "Aw! Sakit tau Sakura-chan!"
Sakura menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau jangan menganggap ini kencan. Ini adalah pemaksaan tau! Lebih baik kau antar aku kembali ke lokasi syuting," komentar Sakura.
Naruto tiba-tiba saja menarik tangan Sakura. "Tidak, kita harus jalan-jalan dulu. Aku tidak akan mengantarkanmu kembali ke lokasi syuting sebelum jalan-jalan kita selesai. Kalau kau mau kembali, apa boleh buat, pergi saja dengan angkutan umum," jelas Naruto dengan nada datar. Membuat Sakura bungkam dengan pernyataannya.
Dengat sangat terpaksa Sakura mengikuti ajakan Naruto. Mana mau dia kembali ke lokasi syuting dengan angkutan umum? Bukannya kembali dengan selamat, ia mungkin atau malahan pasti akan dikejar-kejar oleh fans nya itu sampai ke tempat yang tidak ia kenali. Dan paginya dia akan mendapatkan dirinya di cover depan majalah gossip dengan judul HARUNO SAKURA DIKABARKAN MENGHILANG SETELAH DIKEJAR PARA FANS NYA YANG GILA dan pria disampinya ini pasti akan tertawa terbahak-bahak mendengar berita itu.
Mereka akhirnya berjalan-jalan dan mencicipi semua makanan yang tidak pernah di makan oleh Sakura. Sebenarnya Sakura tidak marah lagi pada Naruto mengingat dia membuat Sakura tersenyum kembali. Tapi yah, seorang Haruno Sakura mana mau mengakui hal itu, benarkan?
Disisi lain, Minato dan Kushina juga sedang menikmati kencan mereka yang pertama –sejak dua puluh sembilan tahun tidak berjumpa. Kushina sampai membeli dua buah kaos yang kata pedagangnya adalah kaos 'couple'. Dan terakhir mereka berjalan ke stand sayuran untuk membeli beberapa sayuran yang akan Kushina masak untuk Minato. Dan sangat-sangat kebetulan, Naruto dan Sakura akan melewati stand itu.
Kembali terjadi kebetulan, Naruto melihat ayahnya yang sedang bercanda dengan Kushina. 'Tousan? Kenapa dia bisa berada disini? Dan siapa wanita itu? Jangan-jangan dia wanita yang ayah bilang cinta pertamanya itu? Ah brengsek! Jika Sakura melihatnya pasti dia akan menghampiri ayahku. Bagaimana ini? Aku malas bertemu dengannya, apa lagi ada wanita itu. Ah! Aku tahu!'
Naruto mengambil selangkah didepan Sakura, membuat Sakura agak kesal karena menghalangi jalannya. "Minggir! Kenapa kau selalu menghalangi jalanku ha?"
Naruto membuka maskernya dan menunjukkan cengiran khasnya, yang err.. sedikit tidak tulus dan kaku. "S-Sakura-chan, bagaimana kalau kita kesana saja?" Ujar Naruto sambil menunjuk stand Taiyaki yang sudah mereka kunjungi.
Sakura melihat ke tempat yang Naruto tunjuk. Lalu beralih lagi pada Naruto. Ia sekarang menatap malas pada Naruto. "Maksudmu stand Taiyaki tadi? Sepertinya ke'baka'an mu sudah stadium akhir Naruto," ungkapnya santai. Ia lalu menyuruh Naruto minggir, tapi Naruto terus berdiri disana.
"Tidak, kita harus pergi!"
"Memangnya disana ada apa? Biar aku melihatnya!"
"T-tidak ada apa-apa, disana cuma ada..cuma ada..ah! orang gila! Ya, orang gila!" Teriak Naruto, membuat orang yang ada disekitar mereka berbisik-bisik, dan ada pula yang menahan tawa mendengar hal itu.
Sakura masih terlihat penasaran dengan apa yang ada dibelakang punggung Naruto. Tapi, Naruto tentu saja tidak ingin Sakura mengetahui nya.
Naruto memegang kedua bahu Sakura dan memaksanya berbalik. Lalu mendorongnya pergi dari sana. "Kita kembali saja Sakura-chan, kau mau kembali kan tadi?"
"T-tapi Naruto a-" Sakura menghentikan omelannya. Ah, kalau sudah begini mana mungkin si baka itu mau mengikuti perintahnya.
Kushina melihat kearah mereka yang sudah mulai menjauh. 'Dasar anak zaman sekarang, pacar pun dikekang begitu,' pikirnya.
*alurnya aku cepetin ya^^ sekarang hari terakhir syuting^^ mohon maklum*
Dua bulan sudah berlalu, dan hari ini adalah take terakhir. Berakhirnya syuting bukan berarti Sakura dan Naruto sudah berbaikkan. Memang beberapa minggu yang lalu mereka jalan bersama. Tapi yah, tahu sendirikan Sakura itu bagaimana? Dia ingin Naruto meminta maaf setulus hatinya. Bukan malah mengajaknya jalan-jalan.
Sasori mengumpulkan semua kru beserta para bintang film nya.
"Baiklah teman-teman, ini adalah hari terakhir kita syuting. Aku berharap hari ini berjalan lancar. Oke! Semuanya semangat!" Teriak Sasori semangat.
"Yosh!"
"Ayo kita mulai!"
Naruto dan Sakura sudah siap didandani. Ini take terakhir yang akan menjadi akhir ceritanya. Sakura diberikan payung karena memang akan berlatar belakang hujan. Sedangkan Naruto tidak diberikan apa-apa.
Mereka berdiri berhadap-hadapan. Sakura memegang payung itu, yang nantinya akan menjadi pelindung mereka dari hujan.
"Baiklah, adegannya, Mizuki dan Kenji akan berpisah. Karena Kenji melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Mengerti?" Sasori mengingatkan.
"Mengerti," ujar mereka bersamaan.
"Semua stand by!"
"Camera. Rolling…. Action!"
Hujan buatan sudah diturunkan (?), mereka sama-sama menatap sendu. Entah karena tuntutan peran atau karena perasaan mereka masing-masing.
'Mati aku, aku lupa dialognya! Ah, aku buat-buat saja, ceritanya kan hampir sama seperti kisah nyataku," batin Naruto.
"Apa…aku melakukan sesuatu yang salah?"
'Apa-apaan ini? Apa dia lupa dialognya? Tapi kenapa Sasori-nii tidak menghentikan adegannya?' Pikir Sakura.
"Apa kau lupa Kenji? Aku tidak akan pernah lupa dengan kejadian itu!" Oke, sekarang Sakura melupakan dialognya, dan malah mengungkit-ungkit masalah yang sudah berlalu itu.
Dan yang paling mengerikan adalah, Sasori malah menikmati adegan ini! Kami-sama, tolonglah film ini!
Naruto ikut terbawa suasana. "Kenapa kau selalu membahas itu? Bukankah sudah aku bilang itu hanya salah paham?"
Sakura menatap tajam Naruto. "Hei! Apa kau pikir aku bodoh?! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!" Teriak Sakura marah. Mata Sakura sudah mulai berkaca-kaca.
"Aku pikir, kau berbeda, tidak seperti lelaki brengsek yang pernah aku temui. Tapi…," Sakura menjeda perkataannya, bulir bening telah keluar dari mata emerald-nya. Lalu dia melanjutkan, "Tapi, ternyata kau sama saja."
Naruto tertegun melihatnya, apakah wanita monster dihadapannya adalah wanita yang serapuh ini?
"Di hari terakhir ini, aku..aku…aku berharap tidap pernah bertemu denganmu lagi," ujar Sakura lirih. Ia lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Naruto.
Kini tubuh Naruto sudah dibasahi dengan hujan. Ia melihat kepergian Sakura walaupun sedikit kabur karena terkena hujan.
"Sakura-chan..," lirihnya.
Semua orang menahan nafas melihatnya. Akting mereka sangat bagus dan mendalami. Bahkan ada kru yang sampai menangis melihatnya.
"Sakura-chan!"
Merasa namanya dipanggil. Sakura menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
"Aku minta maaf… aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini pada gadis yang baru aku kenal. Tapi, aku…aku sangat mencintaimu. Tolong jangan membenciku, aku mohon," ujar pemuda jabrik itu. Membuat Sakura tersentak.
Ia tahu. Bukan. Semua orang tahu, perkataan Naruto sangat tulus. Haruskah dia acuh tak acuh pada Naruto? Sementara Naruto sudah meminta maaf dengan tulus seperti permintaannya?
Tapi, Sakura malah melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Naruto jatuh terduduk dan menangis. Begitu sial kah dia sehingga wanita yang dicintainya pergi begitu saja. Atau ini karma karena telah membenci ayahnya? Entahlah.
Kamera masih merekam kejadian itu. Apa lagi yang ditunggu oleh Sasori? Bukankah ini sudah berakhir?
Naruto merasakan hujan tidak lagi membasahi seluruh tubuhnya. Apa salah seorang kru berbaik hati meneduhi nya?
"Cinta tidak mengucapkan kata maaf kan Naruto? Lagi pula, aku sudah memaafkanmu."
Naruto mengenal suara ini. Ini adalah suara, "Sakura-chan?" Naruto langsung mendongak dan mendapati Sakura yang tengah memayunginya dan tersenyum lembut.
Sakura melepaskan payungnya dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Naruto, sebelum akhirnya Sakura memeluknya. "aku juga mencintaimu Naruto," bisiknya. Membuat Naruto tersenyum bahagia lalu membalas pelukan Sakura.
"Terimakasih, aku sangat mencintaimu."
"Cut!" Teriak Sasori. Semua orang bertepuk tangan melihat akhir yang bahagia ini.
Garaa menepuk bahu Sasori. "Sasori, tidak apakah kita mengubah ending-nya?" Tanya pemuda Sabaku itu, masih dengan gaya cool nya.
Sasori tersenyum. "Hei, para penonton malah akan menyukai perubahan ini. Kita hanya tinggal mengedit saja."
Hujan buatannya sudah dihentikan. Dan camera sudah berhenti merekam. Tapi, Naruto dan Sakura masih saja betah berpelukkan.
"Jadi, kau sudah memaafkan ku?" Tanya Naruto.
"Sebenarnya baru sembilan puluh persen. Ada satu syarat lagi yang harus kau penuhi," jawab gadis cerewet itu.
"Apa?"
"Kau harus berbaikan dengan ayahmu..,"
Air muka Naruto tiba-tiba berubah tidak suka. Lalu dia melepaskan pelukannya. "Sakura-chan, kau serius?"
Hohoho, Sum merasa sedikit lega karena sudah sampai tahap dimana Sakura sudah mulai percaya dengan Naruto. Walaupun adegannya sedikit dipaksakan *atau malahan banyak* *plak* XD
Dan makasih untuk readers yang telah membaca fict gaje ini :D Sum sangat menghargainya.
Okedeh, Sum tunggu review nya :D tapi kalau flame Sum belum siap, jadi jangan nge-flame ya :D
