Minna! Chap 7 update nih! *udah nongol ni bocah?* gomen, gomen, Sum baru kembali setelah satu minggu lebih. Atau mungkin udah dua minggu? Hehe, Sum gak ngitung *pletak* XD
Yosh! Selamat membaca!
Summer172 present :
Hujan mempertemukan mereka..
Dua insan yang saling mencintai namun tak bisa membagi cinta..
Hujan memisahkan mereka…
Saat mereka tak bisa mengatakan cinta..
Perpisahan bukanlah arti bahwa tidak ada cinta yang bersatu..
Namun..
Karena perpisahan itulah..
Sebuah cinta baru muncul..
Dan hujan yang menjadi saksinya..
Naruto by Masashi Kishimoto
Love Rain by Summer172
and The Poster by Tikais
…
Warning : OOC(maybe), Typo, Gaje, Etc.
…
Don't like? don't read!
Naruto's POV
"Sakura-chan, kau serius?"
Apa aku tidak salah dengar? Gadis yang ada dihadapanku sekarang ini, memintaku untuk berbaikan dengan Tousan? Hei, segitu besarkah rasa kagumnya pada ayahku, sehingga dia lebih membela ayahku ketimbang pacarnya sendiri? Oke, aku akui, kami baru beberapa menit menjadi sepasang kekasih. Tapi kan, tetap saja.
"Tentu saja aku serius Naruto, aku tidak ingin kau berdosa hanya karena membenci Tousan-mu! Dan aku juga tidak ingin terkena imbas dosanya," jawabnya santai. Dan pergi meninggalkanku yang masih terduduk di tanah. Aku tertegun melihat tingkahnya. Untung saja aku kembali sadar lalu mengejarnya.
Aku mensejajarkan langkahku dengan gadis pink ini. "Aku malas bertemu dengannya Sakura-chan, lebih baik kita berkencan atau apalah, terserahmu. Yang penting tidak bertemu dengan ayahku," pintaku dengan nada manja. Yang kuyakini dapat melumpuhkan hati para gadis.
Sakura tampak berfikir. Lalu dia berhenti dan menoleh padaku dengan tatapan yang sulit diartikan menurutku. "Baiklah, besok kita jalan-jalan. Aku tunggu kau di kedai ramen Ichiraku jam satu siang. Jangan terlambat ya Naruto…sayang," godanya sambil tersenyum jahil. Dan menuju ke mobilnya.
Aku hanya terbengong melihat mobil mewahnya itu melaju pergi. Ah, kenapa harus di kedai pinggir jalan itu? Aku akui kedai itu adalah kedai ramen favoritku. Tapi, masa aku harus memakai penyamaran lagi? kan tidak asik. Iya aku tahu, kemarin aku malah mengajaknya pergi ke pasar tradisional. Dan masalahnya itu bukan ideku, itu ide Moegi, jujur saja aku tidak ingin kembali ke sana lagi. Tapi, kalau soal Taiyaki itu, aku memang pernah memakannya. Ibuku yang membuatkannya untukku.
Sekarang aku bertanya, kenapa tidak di restoran terkenal saja dan memakai baju yang layak dipakai oleh kalangan seperti aku dan Sakura? Huh. Apa jangan-jangan dia ketagihan menyamar? Kalau begitu aku tidak akan pernah mengajaknya menyamar lagi. Tanpa sadar aku menyeringai senang. Ya, paling tidak, Tousan ku tidak jadi di undang.
.
.
Oke, ternyata aku salah. Wajahku yang berseri-seri dibalik masker berubah menjadi wajah cemberut dan masam. Sudah memakai pakaian yang misterius begini ( aku jadi seperti teroris saja ) ditambah pula dengan kehadiran orang ini, membuatku tambah jengkel. Kalian pasti tahu siapa dia.
Sakura tersenyum ke arahku. "Hai Naruto, ayo duduk," ucapnya sambil menepuk-nepuk kursi yang ada disebelahnya. Mengisyaratkanku untuk segera duduk.
Dengan langkah lesu aku segera mendekatinya dan tentunya mendudukan bokongku ke kursi yang ada di sebelahnya.
Aku hanya tersenyum kecut melihat pacarku ini kembali tidak mengacuhkanku dan berbicara pada pria yang ada disampingnya itu. Pria itu juga memakai samaran seperti kami. Memakai baju kaos hitam polos, lalu dilapisi dengan kemeja berwarna putih. Dan memakai jeans, tak lupa dia memakai sepatu sport bewarna putih. Ohya, dia juga memakai kaca mata hitam dan topi. Oke, aku akui, ayahku ini memang sangat keren, pantas saja banyak gadis yang nge-fans padanya, aku saja sampai ngiler begini. Tapi, jangan harap aku mengatakannya secara langsung. Bisa jatuh image-ku nanti.
Aku menopang dagu dan menatap malas pada mereka, aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan sampai-sampai Sakura bisa tertawa begitu. Ah, seharusnya bukan itu yang aku pertanyakan sekarang. Yang jadi pertanyaannya, kenapa dia bisa ada disini? Bukannya kemarin Sakura-chan tidak menyebut dia di undang?
Tanpa kusadari aku langsung menarik lengan Sakura, memaksanya agar melihatku. Sakura dan lelaki itu tampak terkejut.
"Aku mau bicara sebentar," ujarku dingin.
Sakura tampak tersenyum pada pria itu sebelum akhirnya kami keluar dari kedai ramen. Aku melepaskan pegangan tanganku lalu berusaha mengintrogasinya.
"Sakura-chan, kenapa ada Tousan disini? Bukannya kau kemarin bilang tidak mengundang ayahku?" Tanyaku dengan nada dingin.
Gadis ini hanya mendengus. "Jangan pura-pura dingin. Kau jadi seperti Sasuke saja." Sekarang dia malah tidak menjawab pertanyaanku.
"Aku serius Sakura-chan, jawab pertanyaanku yang tadi," ujarku dengan nada serius. Dan jujur saja, ini bukan gayaku, aku ingin tertawa sebenarnya.
Sakura melipat tangannya di depan dada. "Yang aku ingat, aku tidak pernah bilang aku tidak mengundang ayahmu."
Bukannya kemarin dia bilang 'baiklah'? Yang berarti tidak mengundang ayahku kan?
"Aku kemarin memang berkata 'baiklah', tapi bukan berarti aku tidak mengundang ayahmu. Kau salah mengerti baka!" Oke, ini aneh, perkataannya seperti jawaban untuk pertanyaanku yang tadi. Apa Sakura-chan punya kekuatan membaca pikiran orang ya?
Gadis itu menghela nafas, "Sudahlah Naruto, ayo kita ke dalam!" Perintahnya sambil menarik tanganku supaya mengikutinya.
Untung saja di sana sangat sepi. Hanya ada aku, Sakura-chan, dan Tousan. Ohya, aku sampai melupakan pria paruh baya yang ada di pojok kedai, sedang memakan ramen. Aku bertaruh, itu pasti ramen dengan porsi jumbo.
Ayahku tersenyum pada kami, yang aku yakini hanya tersenyum pada pacarku yang cantik ini. Kalian tahu kan, dia selalu bersikap dingin padaku dan Kaasan.
"Jadi? Kalian memang pacaran?" Tanya pria itu.
Aku langsung menyambar pertanyaannya sebelum pacarku yang manis ini menjawabnya, "Kenapa kau selalu ingin tahu urusanku?" Jawabku dingin. Ah, aku selalu senang melakukan ini.
Sakura menatapkku dengan wajah kesal, pasti dia akan membela ayahku lagi. "Naruto, sopan sedikit kenapa? Ini ayahmu!" Ujarnya setengah berbisik.
Lalu dia tersenyum pada ayahku. Senyum yang sangat manis. "Ah, Minato-sama. Jangan dengarkan perkataan Naruto, dia memang selalu begitu. Iya, kami…" Sakura menjeda sejenak perkataannya untuk berdehem. Lalu dia melanjutkan, "Berpacaran."
Oke, aku penasaran dari mana ayahku ini mengetahuinya. "Dari mana Tousan tau hal itu? Apa kau memata-matai kami?" Tanyaku penuh dengan kecurigaan. Sakura sampai-sampai menyikutku karena ini.
Dan yang membuat kami terbengong adalah, pria itu hanya tertawa lepas mendengarkan pertanyaanku. Sebelum akhirnya dia berkata, "Kau ini ada-ada saja Naruto. Aku tidak perlu memata-matai kalian. Berita ini sudah menyebar! Bacalah ini!" Perintahnya sambil memperlihatkan sebuah majalah (yang tadinya aku kira adalah sebuah majalah dewasa).
Aku segera membaca judul utama, majalah gossip ini. "Haruno Sakura dan Namikaze Naruto terlibat cinta lokasi! Lihat halaman du-" Kepalaku tiba-tiba terasa sakit. Pasti Sakura menjitakku (lagi).
"Itai! Sakura-chan! kenapa kau memukulku?"
"Baka! Kenapa kau juga membaca lanjutannya?"
Oke, aku hampir sweatdrop mendengarnya. Hanya karena masalah ini dia menjitak kepalaku?
"Bukannya tadi, kita disuruh membaca ini?"
"Aish, tidak sampai begitunya juga kan!" Ujarnya kesal.
"Sudahlah! Ramennya sudah datang! Kalian tidak ingin makan?" Ayahku menengahi. Sudahku bilangkan, ayahku itu suka ikut campur.
.
Saat ini kami sedang berjalan-jalan di taman. Aku menggandeng tangan Sakura, lalu Sakura tersenyum padaku. Sedangkan Tousan, dia sibuk memainkan ponsel miliknya. Hah, pasti dia sedang sms-an dengan cinta pertamanya itu!
Setelah lelah berjalan, kami akhirnya duduk di bangku taman. Aku bisa melihat anak-anak sedang bermain dengan orang tua mereka. Mereka berlari-lari senang, ada pula yang bermain bola dengan ayahnya. Sebenarnya aku merasa iri dengan itu semua. Saat kecil, orang tuaku tidak pernah mengajakku jalan-jalan ke taman. Tousan sibuk dengan pekerjaannya. Tidak. Dia menyibukkan dirinya sendiri supaya tidak bertemu dengan aku dan Kaasan.
Dari dulu aku selalu berharap aku tidak pernah dilahirkan dari keluarga yang tidak saling mencintai. Ibuku memang mencintai ayah. Tapi, ayahku? Dia tidak pernah mencoba mencintai ibuku, di hatinya hanya ada perempuan sialan itu. Dan aku benci, sangat-sangat benci padanya.
"Minato-sama, Naruto. Aku mau membeli minum. Kalian bisa tunggu di sini, kan?" Sakura menatapku penuh arti sebelum ia pergi. Aku tahu, Sakura pura-pura membeli minum supaya aku dan Tousan bisa berbincang-bincang. Tapi, mana mungkin.
Sakura berlari kecil meninggalkan kami berdua yang sedang duduk. Aku menarik nafas, lalu membuangnya. Aku tidak yakin kami akan baikan. Karena, Tousan selalu bersikap dingin padaku. Itu yang selalu kuyakini.
"Bagaimana keadaan Kaasan-mu?"
"Hah? A-apa?" Sial, kenapa aku malah bertanya balik dengan suara cempreng dan bergetar?
Dia tersenyum, sepertinya menahan tawa. "Aku tanya, bagaimana keadaan Kaasan-mu?"
Kaasan-mu? Pertanyaan macam apa itu? "Dia baik-baik saja. Semenjak kau tidak ada disampingnya," jawabku ketus.
Senyum Tousan hilang seketika setelah mendengar jawabanku. Ah, sepertinya aku menang telak.
"Naruto, apa salah Tousan? Kenapa kau selalu seperti itu?" Tanyanya. Ia menatapku sendu.
Kenapa dia malah bersikap seperti itu? Hah! Dia salah! Dia yang salah! Makanya aku membencinya! Apa dia tidak pernah merenungi kesalahannya sendiri?!
"Kenapa tidak kau tanya sendiri pada dirimu?!" Bentakku. Dia hanya diam dan menunduk. Aku mulai kesal, aku tidak bisa didiamkan seperti ini. Lebih baik aku di tampar olehnya dari pada tidak diacuhkan. Aku menghentakkan kakiku.
"Apa kau tidak mendapatkan jawabannya? Kalau begitu biar aku beritahu!"
"Kau! Sudah menghancurkan hidupku dan Kaasan!"
"Tidak pernah menanggapi Kaasan lalu mencampakkannya demi wanita sialan itu!"
"Apa kau puas sekarang? Aku membencimu! Kau tahu itu! Kau tahu!"
"Apa kau juga membenciku?! Hah! Lebih baik begitu!"
Nafasku memburu, semua yang selama ini aku pendam sudah terlepas. Aku tahu itu alasan yang konyol. Tapi, karena alasan itu aku membenci ayahku.
Aku dapat melihat anak-anak yang sedang bermain melihat kearah kami dan orang tuanya hanya dapat menutup telinga anak-anak mereka. Agar tidak mendengarkan kata-kataku yang begitu kasar. Sial, untung saja aku memakai masker dan kacamata. Kalau tidak, mungkin para wartawan sudah menaruh masalah ini di halaman depan.
Aku menunggu jawaban darinya. Tapi, yang kudapat hanyalah sebuah senyuman tulus dari lelaki yang kusebut Tousan ini.
Aku tertegun melihat tingkahnya ini. "Kenapa?" Gumamku. Tapi, sepertinya lelaki ini masih bisa mendengarnya.
Senyumnya semakin mengembang sebelum akhirnya ia menjawab, "Aku tidak pernah membencimu. Karena kau adalah anakku."
Tubuhku lemas seketika. Otakku yang tidak pintar ini, tambah tak bisa mencerna kata-katanya. Apa maksudnya? Apa aku salah selama ini?
Aku menahan nafas saat tahu ayahku memelukku dengan lembut. "Aku tidak pernah memelukmu dan menemanimu seperti para ayah yang lain. Aku tidak pernah berkata 'kau hebat,nak!' saat kau bisa mendapat sesuatu yang membanggakan. Aku tidak pernah mengajak kau dan Kaasan-mu untuk berfoto keluarga dan bersenang-senang layaknya keluarga lain. Aku tahu, aku salah, aku tahu itu Naruto."
Dia menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya lagi, "Aku juga tahu kau selalu membenciku karena perlakuanku yang menurutmu sangat dingin dan tak menyenangkan. Tapi, sadarlah, setiap kali aku mencoba mendekatimu, kau selalu menjauh dariku. Setiap kali aku ingin bertemu denganmu, aku selalu tidak bisa karena kau selalu menatapku dengan tatapan kebencian. Saat aku ingin meminta maaf pada kalian, aku, aku selalu diliputi rasa bersalah karena tidak bisa menjadi ayah dan suami yang baik bagi kalian."
"Walaupun terlambat. Aku... aku minta maaf Naruto, maaf karena selalu membuat kau dan ibumu dalam kesulitan, maaf tidak bisa menjadi ayah yang baik bagimu. Dan maaf, aku selalu tidak menghiraukanmu. Mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik bagimu. Aku janji, aku janji."
Aku tercengang mendengar perkataannya. Harus kuakui, dia benar, setiap kali dia akan berbicara denganku, aku selalu menjauhinya dan bahkan menentangnya. Aku selalu menganggap diriku benar dengan kesalahan-kesalahan ayahku itu. Dan tidak pernah mencoba memaafkannya, bahkan menjadikan alasan sikap dingin ayahku itu untuk terus membencinya.
Aku menyadari, aku juga salah. Mungkin sudah saatnya untukku memaafkannya dan memulai hidup baru yang menyenangkan bersama ayah dan ibuku. Walaupun mereka tidak bersama.
Perlahan –tanpa sadar aku memeluknya. Tepatnya membalas pelukannya. Dan mengatakan hal yang selama ini tidak pernah kuucapkan pada orang lain, kecuali Sakura-chan.
"A-aku juga minta maaf. Maaf karena aku selalu menghindar darimu. Maaf selalu berkata dan bersikap kasar padamu. Dan maaf tidak pernah mencoba memaafkanmu…Tousan," kataku lirih. Aku dapat merasakan terkejutannya. Bukannya melepaskan pelukanku, ayahku malah mempererat pelukannya.
"Arigatou Naruto, Arigatou!" Bisiknya.
Tanpa sadar aku menarik sudut bibirku. Aku merasakan kelegaan yang selama ini tidak pernah aku rasakan, dan terimakasih untuk ini Sakura-chan.
Normal POV
"Sama-sama Naruto. Aku senang dapat membantumu," gumam seorang gadis dengan senyum yang tidak pernah lepas darinya. Gadis pink ini tengah berdiri di balik pohon sambil memegang kantong plastik yang berisi tiga buah botol air mineral.
Awalnya dia merasa ragu melakukan hal ini. Bagaimana ia mengingat kekerasan kepala Naruto –yang ia akui sama saja dengannya. Bagaimana dia mengingat sikap dan perkataan Naruto yang selalu kasar pada ayahnya sendiri, yang membuat Sakura hampir putus asa karena hal itu.
Tapi, semuanya telah terbayar dengan adegan mengharukan ayah dan anak ini.
Ia segera berlari kecil menuju bangku taman tempat dua orang yang mirip ini tengah duduk sambil berpelukan. Seperti tak mengetahui apa-apa, ia segera memberikan dua buah botol air mineral kepada kedua orang yang masih berpelukan itu.
"Ehem, Minato-sama, Naruto. Ini, minum dulu," ujarnya sambil menyodorkan dua buah botol air mineral itu.
Naruto dan Minato terlihat kaget dan langsung melepaskan pelukan mereka. Naruto menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Sedangkan Minato terlihat tersenyum. Mereka lalu mengambil kemasan air mineral itu.
Sakura masih berdiri dan melihat kearah mereka berdua. "Baiklah. Sekarang kita bisa pulang?"
.
.
Seorang wanita bersurai merah tengah asik membongkar barang-barang lama yang berada di dalam sebuah kardus. Barang-barang itu sengaja dia simpan, berharap, hari itu akan datang. Hari dimana dia dan Minato kembali bersama. Dan, ya, hari itu,akhirnya datang, tidak sia-sia dia menunggu dan berharap. Tapi, yang jadi pertanyaannya, apakah ini akan berakhir bahagia?
Dia membuka kardus itu. Menatap bahagia barang-barang yang pernah Minato beri. Seperti, boneka beruang yang saat itu ia rengekan pada Minato, sampai-sampai dia merajuk selama seminggu pada pria tampan itu. Tapi, akhirnya lelaki itu merelakan uang tabungannya dan membelikan boneka beruang itu untuk Kushina.
Kushina terkikik geli saat mengingat hal itu. Selanjutnya ada jam tangan merah yang terakhir kali Minato berikan padanya. Rasanya dia ingin menangis lagi saat mengingat hal itu. Wanita itu menghela nafas panjang, berusaha supaya bulir bening itu tidak mengalir lagi dari pipinya. Dia tidak boleh menangis, inilah akhir ceritanya, dia dan Minato akhirnya bisa bersama. Untuk apa lagi dia menangis?
Ceklek
Seseorang membuka pintu lalu masuk dengan wajah yang berseri-seri. Membuat Kushina terheran-heran melihatnya.
"Apa aku mengganggu Kaachan?" Tanya gadis bermanik emerald itu. Senyum tidak pernah lepas dari bibir mungilnya.
Kushina tersenyum lembut. "Tentu saja tidak Sakura-chan. Kau dari mana? Kelihatannya senang sekali?"
Senyum Sakura tambah lebar. Sampai-sampai terlihat seperti cengiran oleh Kushina. Ia segera duduk di kasur milik Kaachan-nya itu. "Kaachan tahu?"
Kushina tertawa mendengar pertanyaan putrinya yang manis itu. "Bagaimana Kaachan bisa tahu jika kau tidak memberi tahukannya?"
Sakura menggaruk pipinya, malu. "Hehe, benar juga. Tadi aku berjalan-jalan dengan err teman priaku," pipinya tiba-tiba merona. Lalu ia melanjutkan, "Dan juga dengan Tousan-nya…," lagi-lagi pipi Sakura merona. Maksudnya tambah merona.
Kushina tersenyum jahil. "Ah, bilang saja dia pacarmu! Kenapa kau tidak bilang pada Kaachan? Huh, sudah bertemu calon ayah mertua lagi," goda Kushina. Oke, jangan ditanya lagi, wajah Sakura sudah berubah merah padam seperti tomat merah kesukaan Sasuke.
"Kaachan! J-jangan menggodaku t-terus! Aku belum s-selesai bicara!" Omel Sakura terbata-bata.
Kushina terkikik geli saat mengetahui godaannya berhasil membuat Sakura salah tingkah. "Baiklah, lanjutkan ceritamu."
"Ah! Lupakan saja," ujar Sakura sebal. Sebenarnya dia tidak ingin Kaachan-nya itu menggodanya lagi. Lalu dia beralih pada kardus yang sedang berada di atas kasur. "Uh, itu apa Kaachan?"
Kushina yang masih penasaran, langsung beralih pada kardus yang berada di depannya. Dan tentunya melupakan cerita Sakura tadi. "Oh ini, ini barang-barang milik Kaachan saat masih muda."
Sakura tersenyum jahil. Dia ingin menggoda wanita cantik ini. Ah, ibu dan anak sama saja. "Bersama cinta pertama Kaachan? Aish, Kaachan dan lelaki itu sangat romantis ya?" Ujar Sakura dengan nada jahil. Sambil menyatukan tangannya di depan dada.
Kushina merona tipis. "H-hei! Jangan menggoda Kaachan! Kau ini, sudah punya pacar dan bertemu calon ayah mertua, tapi, tidak pernah memberitahu Kaachan! Dasar anak durhaka, huh."
Senjata makan tuan kalau begini. Berniat menggoda ibunya, malah dia yang digoda balik. "B-bukan begitu! Kaachan, kami itu baru saja menjadi sepasang kekasih. Jadi Sakura belum sem-"
"Ah! Jangan banyak alasan. Besok kau harus membawanya kemari dan kenalkan pada Kaachan. Jika tidak, Kaachan tidak akan merestui hubungan kalian!" Perintah Kushina. Membuat Sakura sweatdrop seketika.
Sakura mendengus kesal. "Baik, baik. Kaachan menang! Besok aku akan membujuknya kemari," ucap Sakura.
"Kenapa harus dibujuk? Pria itu memang harus kemari jika ingin serius dengan anak ibu yang cantik ini!" Kushina lalu mengambil jam tangan itu kembali dan membersihkannya.
Sakura memeluk ibunya dari samping. "Iya Kaachan," ujarnya lembut meiyakan perkataan ibunya, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Kushina.
Tiba-tiba matanya mengamati sesuatu yang menarik dari dalam kardus. Sebuah foto dengan bingkai berwarna hitam. Ia mencoba mengambil foto itu. Lalu mengamatinya, ini sepertinya foto Kaachan-nya dengan pria yang disebut-sebut sebagai cinta pertama ibunya itu. Dalam foto itu, seorang pria berambut kuning merangkul mesra ibunya dan menunjukkan sebuah cengiran khas. Sementara ibunya yang cantik itu terlihat membentuk jarinya menjadi huruf 'v' dan tersenyum lebar. Yah, mereka pasangan yang serasi.
Eh, tunggu dulu. Rambut kuning? Cengiran yang khas? Sekilas pria ini mirip dengan… Naruto? Tidak, bukan hanya itu. Ia merasa pernah melihat pria ini, malah serasa sangat dekat dengannya.
'Ingat Sakura! Ingat!' Batinnya mencoba mengingat-ingat pria yang ada di dalam foto ini. Tiba-tiba saja matanya membulat, tubuhnya menegang seketika. Dia ingat siapa lelaki ini, dia ingat. Bagaimana mungkin dia bisa lupa? Ini adalah idolanya sejak remaja dan pria ini baru saja dia temui bersama dengan Naruto -pacarnya. Pria ini adalah,
"K-Kaachan, ini siapa?" Tanya Sakura was-was sambil menunjukkan foto ini pada ibunya. Kami-sama, semoga saja dia salah, semoga saja. Dia berharap orang itu bukanlah pria yang ada di dalam foto ini.
'Kumohon..,' batinnya.
Kushina mengambil bingkai foto itu dari tangan Sakura, mencoba meneliti kembali apa yang ada di dalam foto itu. Tentunya sebuah cinta dan kehangatan –menurutnya.
Kushina tersenyum lembut dan berkata, "Ini Kaachan dan pria yang sangat Kaachan cintai. Dia yang sering Kaachan ceritakan padamu, Sakura-chan," ujar Kushina lembut tanpa menoleh sedikit pun pada Sakura.
Sakura menampakan raut kekhawatiran. Ia mulai was-was dengan jawaban ibunya pada pertanyaanya yang selanjutnya. "S-siapa namanya?"
Tanpa menyadari nada khawatir dari anak perempuannya ini, dengan enteng Kushina menjawab, "Ah, namanya, Minato." Tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya pada foto itu.
Sakura menggeleng pelan. Tidak. Ini tidak mungkin! Pria itu tidak mungkin Minato-sama, orang yang ia kenali sebagai ayah dari Naruto –pacarnya sendiri. Mungkin dia salah, mungkin pria yang ada di foto itu adalah pria lain dengan nama Minato dan ciri-ciri fisik yang sama. Ya, dan pastinya itu bukan Minato-sama, ya, itu bukan. Sakura mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Kushina menoleh pada Sakura. "Kaachan sampai lupa, nama lengkapnya. Namikaze Minato. Ya, Namikaze Minato."
Air muka Sakura berubah dengan cepat, menampakan raut terkejut. Tubuhnya masih tegang. Keringat dingin mengucur keluar dari pelipis dan dahinya.
Namikaze Minato? Oh, sial. Ini buruk. Tidak. Ini sangat-sangat buruk.
A/N :
Oke. Oke. Sum tahu, chap ini sangat pendek dan lamaaaaa pakai banget updatenya. Maklumlah hari libur kemarin Sum memilih untuk mengistirahatkan sejenak pikiran, jiwa dan raga (?) yang telah letih dan lesu (?). jadi, Sum minta maaf ya, yang sebesar-besar-besar-besarnya^^
Untuk para readers yang telah sudi me-review dan menunggu fict ini, Sum ucapkan terimakasih :D gomen ya, lama update^^ taulah Sum itu remaja labil yang akan menghadapi UN. Jadi suka males-malesan kalau lagi libur *apa hubungannya coba?* ._.v
Dan, maaf ya, review nya gak Sum balas di chap ini. Tapi, Sum sangat menghargai review dari kalian^^
Dan untuk para siders yang telah sudi membaca fict ini, Sum juga ucapkan terimakasih *bungkuk-bungkukan badan*
Yosh! Ditunggu review nya^^
.
.
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke- 68! Semoga Indonesia makin maju dan para tikus perusak bisa musnah dari Indonesia yang tercinta ini, hohoho *ketawa nista* *plak* *abaikan* XD
Merdeka!
