Happy Family
Chapter 4 (END)
Cast : Sehun, Kai, Kris, Luhan, dll.
Pai : Hunkai, Kriskai, Hunhan, Krislu.
Warning : cerita abal, banyak typo, yaoi, mpreg, etc.
Note :
Hallo ^^ semoga masih ada yang ingat dengan ff abal ini. Maafkan saya karena updatenya lama. Akhir-akhir ini banyak banget masalah yang saya hadapi /kok curhat/ hahaha. Ini adalah chapter terakhir dari cerita ini. Saya bikinnya ngebut jadi maafkan typo dan maaf kalo ceritanya ga ngefeel. Chapter ini sangatlah panjang jadi maaf kalo jadinya bosen. Yang penting cerita ini sudah tamat. Saya senang sekali ^^. Btw terima kasih buat kalian semua yang sudah review dan menunggu cerita aneh ini. Saya selalu baca kok review kalian. Itu jadi bikin aku semangat lanjutin ffku. Juga terima kasih buat yang sudah PM atau mention nanyain kelanjutan ffku huhuhuhu u,u itu jadi cambukan buat aku nerusin ceritaku. Terima kasih semuanya. Selamat mambaca ^^
Chapter ini aku dedikasikan untuk kakak laki-lakiku yang akan bercerai dengan istrinya. Semoga kamu bias cepat menemukan kebahagiaan lain. Tuhan selalu bersamamu.
.
.
.
Jongin menunduk. Terus mengarahkan pandangannya pada secangkir kopi yang dipesannya. Ah sebenarnya kalau sedang stress begini tidak baik meminum kopi. Dia tidak suka juga. Tapi apa dayanya? Dia terlalu terkejut, tidak tau harus berbuat apa dan akhirnya hanya bisa ikut saja.
"Jadi, bagaimana kabarmu?"
Mendengar Kris berucap, Jongin langsung mendongak.
"Ah… A aku baik-baik saja ge." Jawabnya agak canggung.
Bagaimana tidak canggung jika kau bertemu dengan seseorang yang meninggalkanmu tiba-tiba selama 5 tahun? Bukankah bisa dibilang mereka ini masih ada hubungan?
"Oh iya, kapan gege datang?" tambahnya. Ingin membuat kesan nyaman dalam perbincangan ini walaupun sesungguhnya dia sendiri tidak merasa nyaman.
"Seminggu yang lalu. Dan beruntung sekali, aku memang sedang mencarimu."
Jongin agak tersentak mendengar penuturan Kris. Ia mengeratkan genggamannya pada cangkir.
"Ehm memangnya ada apa mencariku ge?"
Kris hanya tersenyum tipis kemudian meminum minumannya. Matanya terus menatap Jongin. Tersirat begitu banyak kerinduan yang tak Jongin sadari.
"Sudah lama sekali ya Jongin."
"Apa kau marah padaku?"
Jongin hanya semakin menunduk. Tidak berniat menjawab apa-apa.
"Bahkan aku baru tau kau menyukai kopi. Bukankah dulu kau membencinya?"
Jongin makin membisu. Bahkan Kris mengingat dan mengetahuinya dengan baik. Hal kecil itu. Hal yang tidak Sehun tau.
Kemudian dia merasakan sepasang tangan menggenggam tangannya. Yang membuatnya merasakan perasaan bersalah. Yang membuatnya merasa bodoh karna tak dapat menolak ini.
"Apa kau masih ingat janji kita Jongin?"
.
.
.
.
.
Sehun berjalan tak tentu arah. Setelah keluar dari club itu dia tidak tahu harus pergi kemana lagi. Yang pasti kembali ke rumah bukanlah hal yang tepat. Itu akan membuatnya makin memikirkan masalahnya. Tak jarang orang-orang mengumpat padanya yang berjalan dengan seenaknya. Menabrak mereka tanpa rasa bersalah. Pandangannya masih kosong. Mau bagaimana pun pikirannya tetap di penuhi Jongin.
"Jongin!"
Lihat! Bahkan dia berimajinasi seseorang menyerukan nama istrinya. Sehun merasa benar-benar hilang kesadaran sekarang.
"Jongin!"
Brengsek! Bahkan orang itu terus saja menyebut nama istrinya. Sehun menatap berkeliling. Kemudian matanya membelalak saat melihat pemandangan di hadapannya. Ia sadar benar sekarang.
"Aku mencintaimu Jongin. "
Sehun tidak cukup bodoh untuk tidak mendengar itu. Dan melihat seorang pria tengah memeluk istrinya. Apa-apaan ini? Apa ini yang dilakukan Jongin selama mereka bertengkar?
"Ge, aku… aku me…."
Tidak! Sehun tidak mau mendengar itu! Dia marah. Dia kecewa. Sudah cukup. Jongin membuatnya tampak semakin bodoh sekarang. Sehun berbalik dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
.
.
.
.
.
Apa Jongin begitu membencinya?
Apa Jongin benar-benar secepat itu melupakannya?
Apa pria itu lebih baik dari dirinya?
"Brengsek!" Sehun mengumpat. Dia menuju ke sebuah Bar kali ini. Minum-minum lagi. Jujur saja dia sakit hati. Jongin yang meninggalkannya, dia sadar betul itu salahnya. Tapi dia tidak menyangka Jongin akan berselingkuh dibelakangnya. Dan tampaknya Jongin dan pria itu sudah kenal lama. Jadi Jongin sudah lama berkencan dengan pria itu? Jadi selama ini dia yang terkhianati?
"Jongin kau tak pantas menuduhku selingkuh! Kau yang berselingkuh!" racaunya tak jelas.
Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri Sehun. "Tuan, tempat ini sudah mau tutup."
Sehun tak mengindahkan kata-kata pelayan itu. Ia terus meminum minumannya.
"Tuan, tempat ini sudah mau tutup." Ucap pelayan itu memaksa.
Sehun yang merasa terganggu segera mendorong pelayan itu.
"Panggil bosmu! Kalau aku mau aku bisa membeli tempat ini!"ucap Sehun angkuh. Kemudian dia kembali menyandarkan kepalanya pada meja.
Pelayan itu bangkit dan berjalan meninggalkan Sehun. Tak berapa lama datanglah pelayan itu dengan seorang namja.
"Oh Sehun?"
Yang di panggil tidak menjawab. Sehun sudah tertidur lelap di meja itu.
.
.
.
.
.
Jongin berjalan lesu. Entah mengapa kepalanya terasa sakit sekali. Begitu banyak kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Dan itu membuat nafsu makannya berkurang. Ia makan sedikit sekali.
Ia menekan bel pintu rumahnya.
"Jongin? Lama sekali kau berbelanja?" ucap ibunya yang membuka pintu.
Jongin tidak menjawab. Ia langsung memeluk ibunya erat. Dia butuh sandaran saat ini.
Ibunya sedikit terkejut. Kemudian mengelus punggung anaknya pelan.
"Ada apa? Kau bisa bercerita pada Umma."
Jongin menggeleng cepat.
"Aku tidak apa-apa Umma. Apa Hunjong sudah tidur?"
Ibu Jongin terdiam sejenak. Memandang wajah anaknya yang tampak lelah namun masih mencoba mengukir senyum. Apa anaknya ini ada masalah? Sebenarnya Jongin tidak memberi tahu ibunya soal kaburnya dia dari rumah. Jongin berdalih dengan mengatakan bahwa Sehun sedang pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Namun sepintar-pintarnya Jongin berbohong, ibunya tetap bisa merasakan keganjalan.
"Ya. Dia sudah tidur. Kau juga tidurlah sayang."
Jongin mengangguk kemudian tersenyum ceria. "Aku tidur dulu Umma. Selamat malam."
"Ya. Selamat malam."
Jongin berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Mengunci pintunya dengan cepat. Setelahnya dia langsung jatuh terduduk. Menangis dalam diam. Takut isakannya terdengar orang lain dia menutup mulutnya. Sungguh terasa sesak dadanya saat ini. Ia sudah lelah pada semua ini. Bukan hanya soal Kris tapi juga Sehun. Dia merasa dipermainkan Tuhan.
"Apa aku harus mengalah?" tanyanya pada diri sendiri. Ia berpikir ini bukan sepenuhnya kesalahan Sehun. Mungkin Sehun memang belum siap hidup seperti ini. Ini terlalu cepat bagi mereka. Harusnya dia memaklumi Sehun.
"Aku… aku tak ingin berpisah dengan Sehun…." Bibir Jongin bergetar. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
"Tuhan aku harus apa?"
.
.
.
.
.
Sehun merasakan sesuatu yang dingin dikepalanya. Ia pikir mungkin ini sebuah kompres. Badannya memang terasa sakit dan kepalanya apa lagi. Mungkin dia sedang demam. Tapi bukankah dia sendirian di rumah? Apa mungkin Jongin kembali?
Dibukanya matanya perlahan. Awalnya sedikit buram ia melihat sosok namja.
"Kau sudah sadar Sehun?"
Pandangan Sehun sudah jelas sekarang. Ia sedikit terkejut melihat sosok di depannya. Apa ini mimpi? Bagaimana bisa?
"Hey, kau pasti terkejut. Kau tertidur di bar milikku jadi aku mengantarmu pulang."ucap namja itu.
Sehun masih terdiam. Mencerna kata-kata namja itu. Sebenarnya dia juga masih tak pecaya.
"Kau Luhan?" Tanya Sehun memastikan.
Luhan mengangguk cepat. "Iya. Aku teman kuliahmu dulu. Kau ingat?"
Sehun mengangguk. Tentu saja dia ingat. Luhan adalah namja yang ditaksirnya sebelum dengan Jongin.
"Maaf aku lancang masuk ke rumahmu. Juga lancang mengobrak-abrik dapurmu. Aku panik tadi malam kau demam tinggi."
"Jadi kau yang merawatku?"
Luhan mengangguk. "Ya begitulah. Niatnya aku hanya mengantarmu saja tapi rumahmu sepi sekali. Aku jadi heran kenapa aku tidak menemukan Jongin dimana pun, apa dia pergi?"
Sehun menelan ludahnya. Ah dia tidak bisa bilang Jongin sedang kabur kan?
"Dia…"
"Ting Tong…." Suara bel rumah berbunyi.
Luhan berdiri cepat. "Biar aku yang buka. Kau kan sedang sakit. Tunggu disini."
Kemudian Luhan berlari keluar kamar Sehun.
.
.
.
.
.
Jongin menghela nafas. Setelah semalaman memikirkan banyak hal dia memutuskan untuk pergi menemui Sehun. Ia ingin memperbaiki semuanya, meminta maaf, dan memulai semuanya dari awal lagi. Mungkin ini yang bisa dia lakukan. Jujur saja dia merindukan Sehun dan sangat membutuhkannya. Apa lagi masalah Kris tempo hari, dia benar-benar butuh seseorang yang dapat membuatnya tenang dan nyaman.
Jongin masih berdiri di depan pintu rumahnya dan Sehun. Sengaja tak mengajak Hunjong karena mungkin mereka memang butuh waktu bicara berdua.
Dia menekan bel. Agak aneh rasanya menekan bel di rumah sendiri. Jongin menunduk, masih gugup bila harus menatap Sehun nantinya.
Tak lama kemudian seseorang membuka pintu.
"Jongin?"
Merasa bukan suara Sehun yang dia dengar, Jongin mendongak. Dia langsung terkejut.
"Luhan hyung?"
Jongin tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Jujur ia terkejut. Mengapa Luhan ada di rumahnya tiba-tiba? Apa Sehun yang membawanya kemari? Jongin tidak bisa memungkiri ada rasa sakit di hatinya mengingat Sehun pernah menyukai Luhan dulu.
"Dimana Sehun?" Tanya Jongin dengan sedikit bergetar.
"Ah dia…."
"Siapa yang datang Lu?"
Jongin mengalihkan pandangannya pada Sehun. Sementara Sehun hanya memandangnya dingin.
Merasakan ketegangan diantara Jongin dan Sehun, Luhan mulai ambil bicara. "Ah kau jangan salah paham Jongin, kemarin….."
"Aku demam. Luhan yang merawatku." Ucap Sehun menyela Luhan.
Jongin terdiam. Jujur saja ia merasa sakit hati. Secara tidak langsung Sehun menyindirnya. Itu membuat Jongin merasa tidak berguna sebagai istri. Suamimu sedang sakit tapi kau membiarkan orang lain yang merawatnya.
"Untuk apa kau kembali? Bukankah kau sudah senang dengan pria lain?"Sehun berucap sinis.
Jongin hanya bisa membelalakkan matanya. Dia tidak mengerti dengan maksud Sehun.
"Apa kau ingin cerai denganku? Baiklah aku akan mengurusnya besok."
Jongin semakin terkejut mendengar ucapan Sehun kali ini. Ini seperti sebuah tamparan baginya. Apa rumah tangganya benar-benar tidak bisa di pertahankan lagi? Apa Sehun sudah bosan dengannya maka dari itu dia bersama Luhan sekarang?
Sementara Luhan hanya bisa diam. Dia benar-benar tak menyangka ada di posisi seperti ini.
"Baiklah kalau itu maumu." Ucap Jongin. Bibirnya bergetar dan air matanya perlahan menetes membuat Luhan dan Sehun terkejut.
"Kau memang sudah bosan denganku kan? Baiklah terserah kau saja Sehun."dihapusnya air mata di pipinya.
Jongin menunduk. "Maaf kalau aku mengganggu. Aku pergi."
Dengan cepat dia berlari meninggalkan mereka.
"Jongin!" Luhan buru-buru mengejarnya.
Sementara Sehun entah mengapa merasa sesak saat melihat Jongin menangis tadi. Tidak bisa dipungkiri dia masih benar-benar mencintai Jongin.
"Jongin tunggu! Ku mohon kau salah paham!" Luhan mengejar Jongin kemudian menarik tangannya.
"Tidak perlu hyung!" Jongin berteriak. Air mata terus mengalir dari kedua matanya.
Luhan terdiam. Menatap sendu sahabatnya semasa kuliah dulu.
"Kau tidak perlu menjelaskan apa pun, kau jelaskan pun rumah tanggaku tetap berakhir." Jongin menangis dengan kencang kemudian memeluk Luhan.
Luhan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Yang dia bisa hanya menenangkan sahabatnya saat ini.
.
.
.
.
.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian?"
Luhan kembali lagi ke rumah Sehun setelah Jongin pulang menggunakan taksi. Jongin tak bicara apa-apa padanya. Ia hanya menangis terus-menerus di bahu Luhan. Luhan tidak ingin ikut campur sebenarnya. Ini kan urusan rumah tangga orang, tapi karena tadi dia sedikit terlibat jadi dia mulai ingin tahu.
"Aku yang bodoh." Jawab Sehun. Menyandarkan kepalanya pada sofa.
"Kau tahu kau bodoh, lalu mengapa kau mengajakanya bercerai?"
"Aku tidak tahu Lu. Aku hanya….. kau tahu ini terlalu cepat bagiku. Punya istri, punya anak, dan bekerja untuk mereka. Rasanya aku lelah sekali. Aku kehilangan masa mudaku." Ucap Sehun.
Mendengar itu Luhan langsung membulatkan matanya. "Jadi kau menyesal? Kau pikir Jongin tidak kehilangan masa mudanya?" Luhan mencoba mengontrol emosinya. Dia agak kesal dengan Sehun.
Sehun diam. Dia mulai berpikir.
"Aku rasanya ingin memarahimu habis-habisan Sehun, tapi beruntunglah kita ini teman lama. Kau begini tidak sebanding dengan pengorbanan Jongin yang kulihat dengan mataku sendiri. Jongin memang melarangku bercerita, tapi ku rasa saat ini adalah yang paling tepat untuk kau tahu."
Mendengar perkataan Luhan, Sehun langsung menatapnya. Memang apa yang dia tidak tahu tentang Jongin?
"Awalnya kau mendekatiku aku tahu."
Luhan memulai dan sudah sukses membuat Sehun terkejut.
"Tapi maaf kau bukan tipeku Sehun. Kemudian kau mendekati Jongin. Kau tidak tahu betapa takutnya aku. Saat itu Jongin sedang mengalami patah hati yang cukup menyakitkan dan yang aku tahu kau adalah namja brengsek yang hanya bermain-main saja. Jadi aku benar-benar memperingatinya."
Sehun sedikit kesal. "Apa aku sebrengsek itu?"
"Iya kau brengsek sekali hingga saat ini. Biar aku lanjutkan."
Luhan menghela nafas. "Tapi seiring dengan berjalannya waktu aku melihat Jongin berangsur membaik saat bersamamu. Dia bisa tersenyum dan tertawa lepas. Maka dari itu aku tidak pernah mempermasalahkannya."
Sehun teringat kembali akan masa lalunya. Pantas saja saat itu mendapatkan Jongin sangatlah sulit.
"Kau ingat tidak saat aku terpilih sebagai dancer dan pergi ke Amerika?"
Sehun mengangguk. Dia agak bingung. Memang apa hubungannya?
"Sebenarnya yang terpilih adalah Jongin. Tapi dia memberikannya padaku."
.
FLASHBACK
.
Hari itu hujan turun dengan deras. Luhan sedang berada di ruang dance. Sedang menari mengikuti alunan musik yang menggema di ruangan. Dia tak menyadari ada sosok yang tengah berdiri di pintu ruangan yang tak tertutup itu.
"Hyung….."
Luhan berhenti menari. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok namja yang berdiri basah kuyup dan menggigil.
"Astaga Jongin!"
Buru-buru Luhan menghampirinya.
"Mengapa kau bisa basah begini?"
"Hyung aku terpilih…." Jongin mengeluarkan amplop dari sakunya. Amplop itu sedikit basah.
"Maksudmu? Amerika?" Tanya Luhan terbelalak.
Jongin tersenyum kemudian mengangguk. Luhan langsung melompat saking senangnya. Akhirnya impian sahabatnya itu bisa terkabul.
"Selamat kau….."
"Tapi aku tidak bisa pergi hyung." Jongin masih tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Luhan terdiam. Menatap penuh tanya. "Kenapa?"
Jongin memegang perutnya dan menunduk. "A… aku hamil hyung."
Luhan diam. Dia terkejut. Dia tidak tahu harus menanggapi berita ini seperti apa. Harus senang atau sedih?
"Dokter bilang kandunganku lemah. Aku tidak boleh terlalu lelah. Aku rasa aku tidak mungkin menari lagi."
Luhan dapat melihat air mata Jongin. Dia ikut menyesal karena ini. Yang dia tahu pasti karena Oh Sehun. Namja sial itu! Mengingat itu membuat Luhan jadi menyesal membiarkan mereka dekat. Sehun benar-benar menghancurkan mimpi Jongin.
"Hyung…."
"Hm?"
"Maukah kau menggantikanku pergi ke Amerika?"
.
FLASHBACK END
.
"Begitulah."
Luhan mengakhiri ceritanya dan tak mendapat respon apa-apa dari Sehun. Namja itu bungkam. Larut dalam pikirannya sendiri. Mungkin sudah menyadari betapa jahat dan bodohnya dia. Betapa selama ini dia menjadi sosok yang tidak berguna bagi Jongin.
"Kau bohong kan Lu?"
Luhan menatap Sehun tajam. "Untuk apa aku berbohong?"
Sehun kembali diam. Dia benar-benar bodoh. "Aku rasa aku sudah terlambat."
"Terlambat apa?"
"Kemarin aku melihatnya dengan pria lain."
Luhan menatap Sehun serius. "Jongin mencintaimu Sehun. Dia tak mungkin berpaling pada yang lain. Dia bukan kau!"
"Sungguh aku melihatnya. Dan pria itu mengucapkan cinta padanya."
Luhan terdiam. Dia tidak percaya. "AH!" tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Itu pasti Kris. Beberapa saat yang lalu dia kembali kemari dan bertanya padaku tentang Jongin."
"Kris? Siapa dia?"
"Orang yang paling Jongin cintai sebelum kau. Tapi Kris meninggalkan Jongin tanpa alasan selama bertahun-tahun." Jelas Luhan.
Sehun kembali tertunduk. Sekarang Kris sudah kembali kan? Bisa saja Jongin juga kembali pada Kris. Mengingat dirinya sudah terlampau berbuat salah pada istrinya, hal itu bukanlah tidak mungkin. Ah Sehun benar-benar merasa menjadi manusia paling brengsek di dunia ini.
Luhan yang melihat kegundahan dari wajah Sehun menepuk punggunggnya untuk menenangkan.
"Dari yang aku tahu selama mengenal Jongin, dia adalah sosok pemaaf. Walaupun aku kadang kesal karena dia terlalu baik jadi lebih baik kau coba bicara dengannya. Aku yakin dia akan memaafkanmu. Apalagi kalian sudah terikat dalam pernikahan."
Sehun kembali menatap Luhan tak yakin. Dia ini sudah benar-benar keterlaluan. Jadi apa Jongin masih sudi memaafkannya?
"Cobalah. Kau tidak akan tahu sebelum mencoba." Ucap Luhan meyakinkan.
Sehun mengangguk pelan. "Baiklah aku akan mencoba bicara dengannya besok."
.
.
.
.
.
Luhan berjalan santai memasuki bar miliknya. Setelah pulang dari rumah Sehun seseorang menghubunginya dan menunggu di bar miliknya. Luhan sudah dapat menebak apa maksud orang itu. Dia berjalan ceria menuju sosok pria yang tengah menidurkan kepalanya di atas meja.
"Hai Kris." Luhan duduk disampingnya.
Kris masih memejamkan matanya. "Kau benar Lu. Aku sudah terlambat."
Mendengar itu Luhan tersenyum meremehkan. Temannya itu memang benar-benar sulit diberi tahu.
"Tapi kau tak bilang kalau dia sudah menikah." Ucap Kris marah.
"Apa aku setega itu untuk mengatakannya padamu?" Luhan sedikit tertawa.
Kris sekarang menatap Luhan tajam. Dia kesal mendengar tawa Luhan. "Justru mengetahuinya sendiri itu benar-benar membuatku hancur kau tahu?"
"Memang itu tujuanku."
Mendengar ucapan Luhan, pandangan Kris berubah menjadi bingung. Dia tidak mengerti maksud namja itu.
Luhan mengambil minuman beralcohol milik Kris kemudian meminumnya hingga habis. Wajahnya tampak memerah sekarang.
"Ah kita sama-sama sendiri sekarang."
Kris masih menatap Luhan lekat.
"Jadi mengapa kita tidak bersama saja?"
.
.
.
.
.
Jongin sedang menyuapi Hunjong di halaman belakang rumahnya. Wajahnya tampak murung mengingat kejadian kemarin. Dia sedih, kecewa, terpukul tapi dia harus tetap menjalani hidupnya kan? Paling tidak untuk anaknya. Jongin mulai mengukir sedikit senyum saat melihat Hunjong yang tertawa dengan mainan di tangannya.
"Ayo makan lagi sayang."
"Kau juga harus makan Jongin."
Tiba-tiba ibunya duduk disampingnya. Menatap Jongin dengan pandangan sedih.
"Ada apa denganmu sebenarnya? Apa ada masalah? Kau tak makan sejak kemarin."
Jongin sedikit tersentak dengan pertanyaan ibunya. Dia gugup. Dia tidak mungkin menceritakannya. Tidak mungkin mengatakan bahwa dia akan bercerai dengan Sehun. Jongin tidak mau membuat keluarganya bersedih. Paling tidak dia akan menyimpannya hingga Sehun menyerahkan surat cerainya.
"Aku tidak apa Umma. Hanya….. hanya sedikit merindukan Sehun."
Ibu Jongin mengelus kepala anaknya dengan sayang. Jongin merasa lebih baik dengan itu.
"Tapi kau harus tetap makan sayang."
"Iya Umma."
Tiba-tiba suara bel pintu rumah menarik perhatian mereka.
"Umma akan membukanya."
Ibu Jongin berjalan menjauhi Jongin. Tidak menyadari anaknya yang kini tengah memejamkan matanya.
"Akkkhh"
Jongin meremas perutnya. Rasanya sakit sekali. Dia menahannya sejak tadi.
.
.
.
.
.
Sehun berdiri di depan pintu rumah Jongin. Di tangannya ada sebuket bunga mawar berwarna peach kesukaan Jongin. Dia merasa gugup. Bahkan ini lebih menegangkan dari saat dia akan mengakui kesalahannya pada orang tua Jongin.
Tangannya terarah menekan bel. Sekarang dia tinggal menyiapkan diri dengan sumpah serapah yang akan dia dapat nanti saat orang dalam rumah membuka pintu.
Cklek
Dan…..
"Sehun? Kau sudah kembali?"
Sehun mendongak saat mendapati suara lembut ibu mertuanya.
"Ah aku?"
"Masuklah kau pasti lelah sepulang dari Jepang."
Hah?
Jepang?
Sehun sedikit kikuk. Dia tidak mengerti apa maksud ibu mertuanya itu. Dan lagi mana sumpah serapah yang dia bayangkan? Sehun kemudian masuk saja ke dalam rumah Jongin.
"Jongin tidak berselera makan akhir-akhir ini. Mungkin dia rindu padamu. Bujuklah dia agar mau makan."
Ah Sehun paham sekarang. Pasti Jongin tidak memberi tahu keluarganya tentang pertengkaran mereka.
"Dimana Jongin Umma?" Tanya Sehun.
"Dia ada di taman belakang bersama Hunjong."
Sehun mengangguk kemudian berjalan menuju taman belakang. Yang pertama dia lihat saat sudah sampai adalah Jongin yang sedang mengurus Hunjong. Ah itu keluarganya. Sehun benar-benar merindukan mereka.
Punggung Jongin yang tampak lelah tak luput dari penglihatannya. Mengapa Sehun tak menyadarinya? Betapa banyak pengorbanan Jongin untuknya. Untuk keluarga kecil mereka.
Sehun mendekat pada Jongin. Sementara Jongin masih belum menyadarinya.
"Jongin….."
Mendengar suara seseorang yang dikenalnya Jongin langsung terkejut.
"Se…. Sehun…." Jongin berdiri. Menggendong Hunjong dengan erat.
"Kita perlu bicara." Ucap Sehun.
Jongin memejamkan matanya. Kemudian menatap Sehun dengan pandangan terluka. "Baiklah. Tapi tidak di depan anakku. Aku akan membawanya masuk dulu."
Sehun merasakan sakit pada hatinya. 'Anak ku'. Jongin mengatakannya dengan tanpa beban. Tak mempedulikan Sehun yang merasa semakin bersalah saat ini.
.
.
.
.
.
"Jadi apa maumu sekarang?"
Mendengar petanyaan Jongin, Sehun terdiam. Sepertinya kata-kata yang sudah ia siapkan semalam menguap entah kemana.
"Oh apa kau mau menyerahkan surat cerai padaku?"
"Tidak. Jongin ku mohon dengarkan aku."
Sehun meletakkan buket bunga yang dibawanya tadi di depan Jongin. Membuat Jongin mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Aku minta maaf. Aku tidak ingin berpisah denganmu sungguh." Ucap Sehun dengan nada memelas.
Jongin berdiri dari duduknya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap Sehun tajam.
"Apa kau mau mempermainkanku?"
Sehun seakan ingin berhenti bernafas sekarang. Melihat Jonginnya yang seperti itu.
"Kau pikir aku barang apa? Yang bisa kau buang lalu kau pungut lagi!"
Bibir Jongin bergetar. Air matanya mengalir dengan deras. Dadanya terasa sesak. Sungguh dia tidak habis pikir dengan namja brengsek di depannya ini.
"Baby tenanglah ku mohon." Sehun ikut berdiri. Dia mencoba menggenggam tangan Jongin namun ditepis oleh Jongin.
"Sehun aku tidak kuat kalau harus begini. Sudah cukup kau menyakitiku. Merusak masa depanku. Kau ingin bercerai kan? Baiklah kalau itu maumu." Jongin mundur menjauhi Sehun.
Sehun merasa sangat bodoh saat ini. Sungguh bukan ini yang dia inginkan. "Jangan katakan hal itu. Aku selamanya tidak ingin bercerai denganmu. Aku masih membutuhkanmu. Sangat. Aku mencintaimu Jongin."
"Membutuhkan apa? Untuk memasakkanmu makanan? Mencuci pakaianmu? Menunggumu pulang kerja hingga larut? Atau untuk pelampiasan nafsumu hah?!" Jongin berteriak kesetanan. Dia merasa kepalanya mulai berputar.
"Aakkh…."
Jongin mengerang. Merasakan perutnya yang terasa sakit. Di menggigit bibirnya yang sudah tampak pucat.
Sementara Sehun langsung mendekatinya. Dia panik melihat Jongin yang seperti itu.
"Baby kau tidak apa-apa?"
"Jangan sentuh aku! Aaakkh….."
Kemudian Jongin kehilangan kesadarannya. Sehun langsung menangkap tubuh lemah itu.
"Jongin! Jongin!"
.
.
.
.
.
Ibu Jongin menangis sambil menggendong Hunjong. Dia sedang menunggu dokter memeriksa Jongin di ruangan rumah sakit itu. Sementara Sehun duduk di sampingnya. Menunduk memijat kepalanya yang sakit. Dia stress karna hal ini.
"Apa yang kau lakukan padanya Sehun?" ucap Ibu Jongin terdengar lemah.
"Maafkan aku Umma. Aku…. Sungguh aku mencintainya. Aku memang egois." Sehun semakin menunduk. Rasa menyesal itu tak kunjung hilang dari dirinya. Jongin jadi seperti ini, semua karena dia.
"Sejujurnya aku mendengar percakapan kalian tadi. Aku sangat kecewa padamu Sehun. Bukankah kau sudah berjanji untuk menjaga Jongin?"
"A… aku…"
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan. Sehun dan Ibu Jongin segera berdiri menghampirinya.
"Jadi bagaimana keadaannya dokter?" Tanya ibu Jongin.
"Keadaannya sudah lebih baik. Aku harap kalian lebih memperhatikan pola makannya. Sepertinya dia terlalu stress dan memaksa tubuhnya."
Mereka mengangguk kemudian dokter itu pergi.
Sehun segera masuk ke dalam. Dia melihat tubuh lemah Jongin masih belum sadarkan diri. Rasa bersalah itu kembali ada. Ibu Jongin membiarkan Sehun berdua dengan Jongin.
"Baby maafkan aku."
Sehun menggenggam tangan Jongin erat.
"Mengapa kau begini? Ku mohon jangan sakit. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri."
Sehun mengecup tangan Jongin. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi tangan Jongin.
"Aku mencintaimu sayang. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Maafkan aku. Aku menyesal. Aku memang bodoh."
Sehun merasakan tangan mengelus kepalanya. Dia mengangkat kepalanya dan mendapati Jongin dengan mata berkaca-kaca.
"A… aku juga mencintaimu Sehun." Ucap Jongin lemah. Jongin menangis lagi.
Sehun segera memeluk Jongin erat. Seakan tak ingin melepaskannya untuk selama-lamanya.
"Maafkan aku baby. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku yang salah. Aku memang bodoh! Sungguh aku mencintaimu. Dan maafkan aku karena telah merusak mimpimu."
Sehun terus meluapkan perasaannya pada Jongin. Betapa dia mencintai namja itu.
"Kita mulai semuanya lagi dari awal lagi ya?"
Jongin mengangguk dalam pelukan Sehun. Sebesar apapun dia marah pada Sehun akhirnya dia akan memaafkannya juga. Jongin terlalu mencintai sosok itu. Dia juga terlalu takut kehilangan Sehun.
"Saranghae. Saranghae Oh Jongin."
.
.
.
.
.
2 tahun kemudian
Wajah Jongin tampak gelisah. Dia tak henti-hentinya menggigit bibir bawahnya karena gugup. Jongin berada dalam kamar mandi saat ini. Dia sudah berada di dalam cukup lama. Hal itu membuat Sehun sedikit heran pada istrinya itu.
"Jongin?"
Sehun memanggilnya. Tak ada sahutan.
"Jongin?"
Masih tak ada jawaban. Akhirnya Sehun memutuskan membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci.
"Jongin?"
Sehun memandang heran istrinya yang sedang melamun itu.
"Ah! Sehun!" Jongin terkejut melihat Sehun tiba-tiba ada di depannya. Membuatnya dengan cepat menyembunyikan benda yang di genggamnya.
Sehun yang mengetahuinya, menatap penuh selidik.
"Apa itu yang ada di tanganmu baby?"
"Ah? Bukan apa-apa." Jongin menggeleng cepat kemudian tersenyum canggung.
"Baby jangan main-main denganku. Apa itu?" Tanya Sehun dan mulai mendekati Jongin.
Jongin kembali menggeleng. Tak menyadari bahwa dirinya benar-benar terpojok sekarang.
Sehun menggelitik pinggang Jongin. Membuatnya kegelian kemudian tak sadar mengangkat tangannya yang tadi ia sembunyikan di balik punggung.
Sehun langsung mengambil benda yang ada di tangan Jongin.
"Ah Sehun jangan."
Terlambat. Sehun sudah mengambil dan melihat benda itu.
Jongin langsung menundukkan kepalanya sementara Sehun masih dengan tampang kagetnya.
"Kau….. Kau hamil sayang?"
Jongin mengangguk pelan. Ah ia semakin takut sekarang.
GREP
Tiba-tiba dia merasa lengan Sehun memeluknya erat. Membuatnya terkejut dan sedikit sulit bernafas.
"Mengapa tidak mengatakannya padaku? Oh God terima kasih."
Jongin semakin terkejut dengan tingkah Sehun. Padahal awalnya dia sangat takut bila Sehun mengetahui hal ini.
"Ah aku…. Aku pikir kau akan marah. Kau tahu kan ini artinya akan ada bayi lagi di rumah kita. Aku takut kau terganggu."ucap Jongin takut-takut.
Sehun terdiam sejenak kemudian menatap Jongin dalam. Mengelus pipi Jongin lembut.
"Mungkin jika aku masih Oh Sehun yang dulu aku akan cemas dengan ini. Tapi hey ingat aku sudah berubah. Aku mencintaimu. Mencintai Hunjong. Dan aku memang menginginkan anak lagi darimu. Aku akan menyayangi kalian. Dan aku sepertinya sudah terbiasa dengan tangisan-tangisan anak kecil."
Sehun tersenyum tulus pada Jongin. Membuat Jongin merasa lega sekali. Sekarang Jongin bisa merasakan bahwa suaminya ini bertambah dewasa. Dia bahagia dengan itu.
"Kau suami terhebat Sehun."
"Dan kau juga istri yang paling sempurna Oh Jongin."
Mereka berpelukan kembali. Menyalurkan kebahagiaan yang ada. Sehun merasa benar-benar beruntung. Keluarganya bertambah sempurna sekarang.
"Ah iya. Aku harap anak kita perempuan."
.
.
.
.
.
END
Dan cerita ini berakhir dengan anehnya. Sekali lagi maaf kalau akhirnya tidak memuaskan/ tidak sesuai harapan Tapi jangan lupa review ya. Tulis juga ff mana yang kalian ingin saya cepat lanjutkan. Terima Kasih ^^
