Chapter 2: Pemburu Sakura Semerah Darah
Luka mengambil sebuah topeng festival berwarna pink sakura dengan hiasan indah di sekeliling topeng tersebut, kemudian dia memakai topeng itu dan keluar dari kamarnya. Di dekat pintu keluar, Rin dan Len telah memakai topeng mereka dan menunggunya.
Kemudian mereka kembali menuju kegelapan malam, selama beberapa belas menit. Rin dan Len mendiskusikan cara memerangkap gadis itu. Kemudian mereka sampai di sebuah hotel mewah, setelah memarkirkan mobil mereka di sebuah gang kecil. Kedua anak kembar itu keluar, Len memandang Luka "Tunggulah di mobil, kami akan membawa dia kemari"
Wanita itu mengangguk kecil, kemudian pemuda itu memasuki hotel itu. Terlihat Rin sedang berbicara dengan resepsion, setelah beberapa menit berlalu gadis itu kembali "Gumi, lantai 13 kamar no 1313" Len tersenyum kecil saat mendengar angka yang disebutkan kembarannya "Tiga kali angka sial" Rin tersenyum manis "Dan ini tanggal 13, empat kali angka sial"
Sementara itu di kamar 1313, terlihat seorang gadis berambut hijau sedang memandang keluar jendela dengan gelisah. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di kasur, kilasan ingatan – ingatan akan kekasihnya yang telah dia bunuh mengalir dalam kepalanya.
Baru saja dia hendak memejamkan mata, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya "Room service" gadis itu menghela nafas dan membuka pintunya sambil berkata "Aku tidak memesan apa-" ucapannya terhenti saat melihat pisau yang diacungkan ke lehernya.
Len tersenyum sambil menekan pisaunya "Tentu kau tidak memesan apapun" Rin menatapnya dengan dingin "Ikuti kami dengan tenang dan kau tidak akan terluka" Gumi segera menggelengkan kepalanya, jelas dia mengenal sepasang anak kembar yang berdiri di depannya.
Rin tersenyum sinis "Kalau begitu kami harus membawamu secara paksa" gadis itu segera menubruk Gumi dan mencekiknya "Sayang kau bukan mainanku" kemudian dia menghantam kepala gadis berambut hijau itu ke dinding hingga pingsan "Oyasuminasai, Gumi"
Len menghela nafas, kemudian dia menelpon Luka "Semua sudah selesai, Nee-san. Katakan dimana tempatnya"
"Gang di samping parkir mobil kita"
Kemudian mereka berdua segera membawa gadis itu ke gang gelap tempat Luka menunggu mereka, beberapa saat kemudian mereka sampai ke gang itu. Luka telah selesai menyiapkan alat miliknya, wanita itu segera mengikat gadis itu dengan cekatan dan mengikat mulutnya dengan kain.
Rin memberikan sebotol air dingin kepada Luka, air itu segera disiramkan ke wajah gadis itu. Gumi terbatuk dan menatap sekeliling dengan liar, kemudian matanya terbelalak saat dia melihat Luka berdiri di depannya "Mmmh! Mmph!"
Luka tertawa kecil, kemudian dia mengangkat dagu gadis itu "Tenanglah, malam ini akan menjadi malam yang sangat menyenangkan" sesaat kemudian Luka melecut tubuh Gumi dengan cambuknya, gadis itu menyeringai kesakitan. Wanita berambut pink itu tersenyum kejam.
Kemudian wanita itu mengambil sebuah gunting kuno, dengan cekatan dia menggunting jari – jari kaki dan tangan Gumi, lalu dia menghujamkan gunting itu ke perut gadis itu. Dia mengeluarkan organ – organ dalamnya dan dia gunting kecil – kecil, setelah itu dia hamburkan ke seluruh badan gadis itu, baru dia menghujam jantungnya berkali – kali.
Len dan Rin menghela nafas saat melihat wanita itu melakukannya dengan senyuman sadis menghiasi wajahnya yang cantik 'Dasar psikopat sejati' kemudian kedua kembaran itu melihat kelopak sakura beterbangan, perlahan namun pasti kelopak – kelopak pink yang indah itu mulai berwarna merah karena terkena percikan darah.
Luka tersenyum puas saat melihat hasil karya-nya, kemudian dia menyimpan cambuk dan guntingnya sambil membayangkan reaksi masyarakat jika mengetahui hal ini 'Besok pagi akan ada berita yang sangat menarik'
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah mereka, tidak sabar menanti berita besok pagi.
Keesokan paginya mereka bertiga sarapan, kali ini Luka yang membaca koran. Sebuah judul raksasa tercetak di halaman pertama "Kematian Misterius Seorang Siswi SMU, Dendam Atau Korban Psikopat Berantai?"
Ketiganya tertawa keras, Rin menghapus air matanya "Dendam atau korban psikopat? Oh ho ho ho ho" Len tertawa sambil memegang perutnya "Ah ha ha ha ha apa mereka bodoh?" Luka menutup koran sambil menatap sinis koran itu "Mereka tidak tahu bahwa gadis itu adalah salah satu pemilik 'itu' "
Ketiganya bertukar pandangan geli, Len memandang kalender "Untung hari ini hari sabtu, kira – kira nanti malam siapa yang akan bertugas?" Rin dan Luka mengangkat bahunya "Mungkin Meiko-nee atau ayah" Luka tersenyum mendengar ucapan gadis itu "Atau mungkin Lemy, saudara kalian"
Keduanya mengangkat bahu sambil tertawa kecil dan berkata secara bersamaan "Kita lihat saja nanti Nee-san"
~~~ To Be Continued ~~~
Nitsuki: "Asik! Bisa update yang kedua! Kali ini korbannya pemilik vessel wrath! Karena belum muncul lagunya jadi nyangkut ke lagu 'Last Revolver' fufufu~"
Gumi: "Nitsuki-chan jahat! Kok Gumi dibunuh sama Luka-neesan sih?" (meluk Nitsuki dari belakang)
Nitsuki: "Aa! Gumi! Itu kan gara – gara jatah Rin udah habis! Kalo si Len tuh nanti~"
Gumi: "Kapan?"
Nitsuki: "Nanti~ Nitsuki masih gak tau, untuk 2 chapter berikutnya udah tersedia eksekutor masing - masing"
Gumi: "Gakupo-chan?"
Nitsuki: "apa?! Gakupo-chan?! Fufufu… hahahahahaha… ahahahahaha!"
Gumi: "Kok Nitsuki-chan ketawa?"
Luka: "Mungkin butuh RSJ"
Nitsuki: "Samurai suram gitu dipanggil pake surfiks –chan?! Ahahahahaha"
Luka: "Lupakan dia, untuk readers review atau kalian yang akan mendapat giliran untuk menjadi korbanku di chapter tambahan nanti" (pasang muka psikopat)
Gumi: "Luka-neesan" (sweatdrop)
Nitsuki: "Gomen ne minna, please review…" (Dark laugh)
