Big Thank's to :

purnama716, Oh SamHan, Kim Bo Mi, my lulu, Guest, lupiiee. elf, BaixianGurls, deercho, LM90, barbieLuKai, Park Regolas, uwiechan92, Novey, Fujoshi203, SehunnieRubbies, HyunRa

.

.

.

The Ice Prince©lateauntumn

.

.

.

.

Mimpi burukku sepertinya baru saja dimulai. Terima kasih untuk Xi Luhan yang ternyata memutuskan untuk melanjutkan di sekolah yang sama dengan kami. Feeling-ku tentang orang ini ternyata memang tepat. Orang yang tergolong hemaprodith itu sepertinya memang berbakat sekali menyusahkan orang.

Setelah dia menghebohkan seluruh siswa di kelas karna gender-nya yang tak jelas itu, -semua berfikiran kenapa orang yang mereka bilang cantik itu menggunakan celana dan bukan rok-dia juga dengan seenaknya saja meminta pada sonsaengnim untuk duduk bersama Jongin dengan alasan agar dia mampu mengejar ketertinggalannya di sekolah ini. Cih! Siapa suruh dia pindah di saat semua murid High School akan mengikuti ujian kenaikan kelas. Itu membuatku terpaksa harus meninggalkan tempat dudukku dan pindah di seberang bangku mereka.

Dan aku bersumpah tadi aku sempat melihatnya menyeringai saat aku sengaja menatapnya yang sudah duduk manis di bangku kesayanganku!

Anak ini, sepertinya dia sengaja menjauhkan aku dari Jongin. Sengaja membuat jarak di antara kami, begitu? Heh! Benarkah itu maumu? Kau pikir kau akan menang melawanku? Awas kau, anak baru!

.

.

.

.

.

"Oi! Hari ini mau mampir ke rumahku tidak?" tanyaku saat Jongin hendak beranjak dari tempat duduknya karna bel pulang baru saja berbunyi.

"Eh?" Dia mendongak menatapku yang telah berdiri di sampingnya. Melirik ke arah Luhan yang kurasa sedang pura-pura tak mendengar pembicaraan kami.

"Tapi Sehun~ah, aku sudah janji akan mengajak Luhan berkeliling Seoul hari ini." Dia tersenyum sungkan. Aku tau dia pasti merasa tak enak padaku. Bermain ke rumahku setelah jam pelajaran usai sudah jadi rutinitas harian kami sejak nenek meninggal. Entah kami habiskan untuk bermalas-malasan, main game, atau kadang bertengkar mengenai hal yang tak penting.

Yah, walau sesekali ganti aku yang mengunjungi rumahnya. Tapi, karna di rumah Jongin terdiri dari keluarga besar, aku sering merasa tak nyaman. Entahlah, walau keluarganya baik sekali padaku tetap saja ada rasa ragu yang masih terasa terselip. Kurasa aku belum mampu menerima kebaikan orang lagi atau mungkin akulah yang belum ingin membuka diriku untuk orang lain. Aku yang sepertinya masih belum bisa mengizinkan orang lain mendekatiku atau mengenalku lebih jauh. Sebut saja aku trauma atau apa, toh aku tidak peduli. Ketakutanku akan sakit yang akan kuterima setelahnya masih terus menghambat proses sosialisasi-ku. Aku sepenuhnya belum mau mempercayai orang lain selain diriku sendiri. Yah, kecuali Kai tentu saja.

Aku tersenyum tipis, mungkin nyaris tak terlihat. Senyum miris yang tipis.

Xi Luhan sialan! Dia baru sehari berada di sini dan dia sudah berani memecah perhatian Jongin padaku. Bahkan Jongin menempatkan posisiku di tempat nomor dua sekarang.

"Terserah kau sajalah!" jawabku dingin.

Xi Luhan, aku benar-benar membencimu!

Sesegera mungkin aku meninggalkan mereka berdua sebelum aku merasa muak. Aku hendak berbalik dan menjauh dari mereka. Tapi sebuah tangan mencekal pergelangan tanganku, membuat langkahku terhenti seketika.

Kutolehkan kepalaku, menatap siapa sosok yang mencegahku pergi itu. Dalam hati tentu saja aku berharap Jongin-lah yang melakukannya. Mungkin dia berubah pikiran dan meninggalkan idiot itu untuk pergi bersamaku.

Well, kadang kenyataan itu memang tak seperti yang kau harapkan. Senyum yang kukulum tadi langsung lenyap seketika ketika aku tau siapa yang menyentuhku. Babo Sehun! Harusnya aku sadar tangan Jongin tak mungkin sehalus tangan perempuan seperti ini. Dan harusnya aku tak berharap terlalu jauh jika kenyataan yang kuhadapi ternyata mengecewakan.

Aku medesah kecewa dengan sangat pelan sebelum menatap dia malas.

"Kau bisa ikut kami jika kau mau." tawarnya dengan senyum sok manis seperti biasanya membuatku memutar bola mataku malas.

"Tidak, terima kasih! Aku masih punya urusan penting daripada berjalan-jalan tak jelas bersama kalian." Kugunakan sebelah tanganku yang bebas untuk melepaskan tangannya yang masih mencengkram pergelangan tanganku. Sementara Luhan hanya ber-"oh!" ria dengan tampang innocent-nya.

"Hey! Kau marah?" tanya Jongin. Jari-jarinya menarik bahu kananku, membuat aku mau tak mau berhadapan dengannya.

Aku tersenyum sinis, berusaha senormal mungkin bersikap di depannya.

"Aku marah? Seperti kurang kerjaan saja. Sudah ya!" pamitku. Jongin melepaskan tangannya dari bahuku. Lagi-lagi membiarkanku pergi begitu saja. Cih!

Pundakku ditepuk lagi dan refleks aku menoleh kembali ke belakang. Kali ini apa lagi?

Dan ternyata si idiot Luhan yang melakukannya.

"Byee~" Dia tersenyum dan melambai padaku dengan wajahnya yang ceria. Dan aku kembali memutar bola mataku karna tingkahnya.

Sebenarnya mau namja bernama Xi Luhan itu apa sih? Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya yang aneh itu. Bukankah tadi dia yang mengajak Jongin untuk menemaninya berkeliling Seoul, kenapa sekarang dua idiot itu malah tersasar ke rumahku seperti ini? Dia mau pamer padaku atau mau mengejekku, begitu? Dia penasarankah seperti apa latar belakang saingannya? Well, predikat menyebalkan sepertinya memang pantas sekali untuk kau sandang, Luhan~ssi!

"Luhan bilang dia ingin tau dimana rumahmu, dan begitu kutunjukkan dia malah mengajak mampir." jelas Jongin seraya melepas sepatunya saat melihatku yang duduk di satu-satunya ruang tamu di rumah ini tengah menatapnya bingung dengan kehadirannya yang tiba-tiba membuka pintu rumahku.

Masuk tanpa permisi memang sudah jadi kebiasaannya. Dan kebetulan aku memang tak pernah mengunci pintuku saat aku berada di rumah. Wajar, kan? Lagipula aku senang jika Jongin menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri tanpa perlu merasa sungkan atau sekedar basa-basi tak penting sebelum masuk. Toh, pintu rumahku selalu terbuka untukknya.

Tapi tidak untuk orang yang memasang muka sok manisnya di belakang Jongin! Wajahnya yang terlalu bersih untuk ukuran namja itu masih saja menyunggingkan senyumnya walau aku menatapnya jengah.

"Annyeonghaseyo~" Dan aku benci sikap sok ramahnya itu.

Tak kupedulikan sapaannya dan memilih kembali tenggelam dalam buku yang sedari tadi ku baca.

"Sehun~ah! Kau punya soda tidak? Jeongmal, rasanya aku haus sekali!" Jongin duduk bersila tepat di sebelahku dengan satu tangannya yang bebas mengibas-ngibaskan kerah T-shirt birunya. Kulirik sekilas namja yang kadang tampak menggemaskan itu lewat sudut kacamata baca-ku. Mata coklat gelap yang bulat, hidung yang tak terlalu mancung dan bibir penuhnya, dan rambut coklatnya yang sudah nyaris menutupi mata. Ck! Kadang kalau dia tersenyum terlalu ceria -yang biasanya hanya dia tunjukkan pada keluarganya tentu saja dan bukan padaku- dia bisa terlihat sangat mempesona ketika bibirnya tertarik ke atas, menampakkan deretan giginya yang rapi dan juga pipinya yang berkumpul penuh menyudutkan mata bulatnya. Manis dan tampan secara bersamaan. Bukankah itu keren? Yah, walau tentu saja kenyataannya aku jauh lebih tampan dan juga keren darinya, hahaha!

"Sepertinya masih ada di lemari pendingin. Ambil sendiri sana! Kau sudah tau tempatnya kan?"

"Cih! Sudut rumahmu yang sebelah mana yang tak kutau, idiot!"

Aku tertawa dalam hati. Jongin berdiri dan segera beranjak dari tempatnya menuju dapur.

"Sepertinya kalian sangat akrab" Tiba-tiba Luhan berkomentar. Ku tolehkan kepalaku refleks ke arahnya yang sepertinya menyunggingkan sebuah senyum yang...tulus?

"Biasa saja." Setengah mati aku berusaha menahan senyumku karna komentarnya tadi dan tetap memasang ekspresi datar andalanku.

"Rumahmu ternyata cukup rapi untuk ukuran anak laki-laki." Luhan berkomentar lagi seraya terus mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut rumahku.

"Biasa saja." sahutku tak acuh dan kembali fokus ke bukuku.

"Dingin sekali." komentarnya pelan sembari menggembungkan pipinya saat bicara. Aku berpura-pura tak mendengar komentarnya itu dan tetap fokus pada bukuku. Tapi kemudian dia tersenyum kecil dan kembali berceloteh.

"Oh, ya! Kau tinggal sendirian di sini? Jongin bilang begitu padaku tadi."

"Kenapa menanyakan hal yang sudah kau tau?" jawabku tak acuh sambil membalik halaman bukuku.

"Sehun~ah!"

"Jangan sok akrab memanggilku!" sahutku datar.

"Ish! Sepertinya kau benar-benar tidak suka denganku." rajuknya kesal.

Aku menghela nafas jengkel. "Sudah tau masih bertanya."

"Kau..."

"Sehun~ah! Hanya tinggal satu dan kau tak punya apapun lagi di lemari pendinginmu. Kau belum belanja bulanan ya?" Jongin muncul dari balik pintu dapur. Meneguk cairan soda yang ada di genggamannya, membiarkan cairan berkarbonasi itu mengalir masuk membasahi kerongkongannya.

Aku mengingat-ingat sebentar. Sepertinya memang belum berbelanja. Uang tabungan nenek sudah semakin menipis dan seingatku aku juga sedang berhemat, menjadikanku malas membeli sesuatu atau sekedar mengecek persediaan makanan di dapur. Well, sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan sampingan jika aku masih ingin bertahan hidup disini.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Well, Annyeong semua~ akhirnya punya mood nulis setelah denger labar Chanyeol Yejin yg bikin galau -_- dan oiya~ buat Love Letter nya sorry ya ngaret kkk salahin tu berita sialan yg bikin aku down sama Chanyeol T.T

Dan~ yes~ mau dibawa kemana ni ff guys? Pairing nya masih samar kan? Enaknya apa? HunHan? KaiHun? Atau KaiLu? Kkkk

dan~ thanks udah mau mampir~ lain kali datang lagi ya ^^