LOVELY COMPLEX (KaiHun Version)
Cast :
Kim Jongin, Oh Sehun (girl)
Park Chanyeol, Byun Baekhyun (girl)
Lay
Genre :
Highschool lives, Drama, Humor, Romance
Rated : T
Author : Ohorat
.
.
.
"Sehun-ah!"
"..."
GREP!
Tiba-tiba seorang namja tak dikenal memeluk Sehun begitu erat. Jongin tak kalah terkejutnya dengan apa yang baru saja ia lihat. Siapa orang aneh ini?
"Si-siapa kau?!" Sehun berontak dalam pelukan namja aneh itu.
"Aku Lay. Zhang Yixing!" jawab namja itu sebelum kemudian melepas pelukannya sambil tersenyum.
"Lay?"
"Kau tidak mengingatku? Aku selalu dekat denganmu saat sekolah dasar."
Sehun menatap ke atas, ia berusaha memutar semua rekaman bersama Lay saat duduk dibangku sekolah dasar.
"Ah! Ternyata kau. Lama tidak bertemu, aku hampir tidak mengenalimu. Aku pikir kau ke luar negeri."
"Aku baru saja kembali." namja berdarah China itu tak hentinya menebar senyum.
Entah Sehun yang memang terlalu asyik bernostalgia dengan teman lamanya atau ia benar-benar bodoh. Gadis albino itu hampir melupakan seseorang yang kini tengah menatap mereka datar. Wajahnya terlihat sedikit... kesal?
"Aku harus pergi." ujar Jongin sambil berlalu. Sehun tersentak, ia menatap punggung Jongin dengan perasaan bersalah.
"Sehun-ah, sekolahmu dimana sekarang?" Lay masih menghujani Sehun dengan pertanyaannya.
"Ah, di Seoul of Performing Arts."
"Oh, jadi disana."
.
.
.
Suara decit sepatu terdengar begitu nyaring siang itu. Tim basket Jongin tengah berlatih serius. Mengingat sebentar lagi akan ada pemilihan ketua tim oleh pelatih.
"Jongin, kau terlalu lambat!" seru Pak pelatih dengan suara lantangnya.
"Baik!" jawab Jongin sembari terus mengoceh lawan dihadapannya.
Di ambang pintu ruang olahraga, terlihat Sehun dan Baekhyun tengah menonton permainan Jongin. Namun, 'acara menonton' itu terganggu saat segerombolan siswi kelas 12 menghampiri mereka.
"Kami selalu melihatmu dan Jongin bersama-sama. Apa kau menyukainya?" tanya salahsatu dari mereka yang terlihat angkuh itu.
Sehun sedikit tersentak, "Eh? Tidak seperti itu."
"Aku pikir juga begitu," para siswi itu terkekeh, "Itu kan tidak mungkin."
Bukannya kesal, gadis albino itu hanya menatap mereka datar saat segerombolan siswi itu pergi masih dengan tawanya yang terdengar menyebalkan.
"Sehun-ah!" lagi-lagi seseorang memeluk Sehun dengan tiba-tiba. Siapa lagi kalau bukan teman masa kecilnya, Lay.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi!"
Sehun berontak, "Arghh! Lay, aku tidak bisa bernafas!"
Baekhyun hanya bisa melongo melihat kejadian langka didepannya.
Dari dalam ruangan pun terlihat Jongin dan Chanyeol memperhatikan Sehun yang masih setia dipeluk oleh Lay. Suara Lay yang terlalu nyaring saat memanggil Sehun tadi membuat perhatian mereka tercuri.
"Siapa itu?" tanya Chanyeol yang tidak mendapat jawaban apa-apa dari namja disampingnya, Jongin.
.
.
.
Langit cerah. Angin sepoy-sepoy dan suasana cukup sepi. Sehun memanfaatkan keadaan ini dengan duduk sendiri ditaman sekolah sambil menikmati bubble tea yang terlihat begitu segar. Dari pada mengganggu kedua sahabatnya yang mungkin sedang berpacaran, lebih baik ia menikmati waktunya dengan menghirup udara segar, pikirnya.
"Kenapa namja itu datang ke sekolah kita kemarin?" sebuah suara mengalihkan pandangan Sehun. Ia menatap Jongin yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Dia datang untuk menyelesaikan surat murid pindahan miliknya." Sehun kembali menyeruput minuman ditangannya.
"Apa? Dia akan pindah ke sekolah ini?" tanya Jongin lagi sambil melepas satu headset dari telinganya.
"Ya, mulai bulan April."
"Oh, itu bagus. Dia tipemu, kan?" sindir Jongin.
Sehun meletakan cup minumannya lalu menghadap Jongin, "Tidak, dia itu orang yang cengeng dan putus asa. Neneknya di Inggris memperlakukannya seperti seorang perempuan dan semua teman-temannya adalah perempuan." Jelas Sehun begitu semangat.
"Apa dia namja yang putus asa?"
"Itu benar! Mungkin sekarang dia tampan, tapi... aaaaa! Sialan! Seharusnya aku mengatakan kalau dia adalah mantan pacarku! Bodohnya aku! Kenapa aku terlalu jujur?!" Sehun berteriak frustasi sambil memegangi kepalanya membuat Jongin terkekeh.
"Aku pikir aku akan kalah denganmu, tapi kurasa tidak mudah bagi seorang gadis albino untuk mendapatkan pacar." ujar Jongin angkuh.
"Berisik!"
Namja tan itu bangkit, ia memasukan kedua tangan kedalam kantong celananya seperti biasa, "Hari ini kau tidak ada rencana, kan?"
Sehun mengubah ekspresi kesalnya menjadi bingung.
"Aku ingin pergi ke toko CD dan mencari CD baru GD. Kau mau ikut?" Jongin melirik gadis disampingnya dan langsung mendapat anggukan serta senyuman.
.
.
.
"Sehun-ah!" seru seseorang sambil melambaikan tangannya ke arah Sehun. Jongin yang sedari tadi berjalan disampingnya menjadi sweat drop setelah melihat namja yang menurutnya aneh itu.
"Cih, dia datang lagi."
"Lay, ada apa?" tanya Sehun saat namja China itu menghampirinya.
Sambil tersenyum, Lay menggenggam kedua tangan Sehun, "Aku datang untuk menjemputmu."
"Maaf, aku ada janji dengan Jongin hari ini." Jawab Sehun membuat bibir Jongin membentuk smirk.
Senyum manis Lay hilang seketika, alisnya bertaut bingung, "Jongin?"
Jongin kembali memasukkan kedua tangan kedalam kantong celananya sambil tersenyum meremehkan, "Oh, tidak apa-apa. Aku-"
"APA?! Kenapa makhluk hitam seperti ini ada di bumi?!" Lay meninggikan suaranya sembari menunjuk muka Jongin.
Namja berkulit tan itu mulai naik darah, "Apa yang kau katakan barusan?!"
"Sehun-ah, kau pergi dengan si hitam ini beberapa hari yang lalu, kan?" Lay berbisik tepat ditelinga Sehun membuat Jongin makin geram karena merasa ia seperti orang bodoh disini.
"Kau tidak pantas dengan kecantikannya Sehun!" tambah Lay kembali menunjuk muka Jongin.
"Cantik apanya? Bodoh! Pasti ada yang salah dengan kepalanya!" geram Jongin. Sedangkan Sehun, pipinya merah merona karena sudah disebut cantik oleh Lay.
"Apa masalahmu? Kau begitu kasar!" Lay masih melanjutkan perang mulutnya.
Jongin menarik kerah baju Lay, "Siapa yang kau panggil kasar? Mau berkelahi, botak?!"
"Bagaimana bisa aku disebut botak? Bodoh!" Lay terkekeh membuat Jongin semakin mengeratkan kepalan tangannya di kerah Lay.
"Aku tidak terima ini! Kau selalu membuatku kesal!"
Melihat keduanya semakin terbakar emosi, Sehun segera menarik Jongin dan menahannya, "Sudah, Jongin!"
Lay tersentak sembari merapikan kerahnya, "Jongin? Apa kau mempunyai janji dengan orang ini?"
Sehun mengangguk polos, "Iya."
"Ini tidak bisa dibiarkan! Kau begitu mengagumkan, Sehun-ah. Jika kau berjalan bersamanya, kau tidak lagi terlihat mengagumkan!" Lay memegangi pipinya frustasi, "Kau adalah pahlawanku waktu dulu. Aku berharap kau selalu mengagumkan seperti dulu."
Sehun memiringkan kepalanya bingung, "Pahlawanmu?"
Karena tersinggung dengan ucapan Lay tadi, Jongin kembali naik darah, "Akan kubunuh kau!"
"Diam kau hitam! Sehun adalah pahlawan pribadiku. Aku tidak akan membiarkanmu untuk memilikinya!"
"Hah?"
"Ayo!" tanpa memperdulikan Jongin, Lay menarik Sehun paksa untuk pulang bersamanya.
Dan Jongin hanya menghela napas menahan kekesalannya yang semakin membuncah akibat namja China itu.
.
.
.
Sejak kejadian kemarin, Jongin merasa benar-benar kesal. Ia menopang dagunya diatas meja. Tangan kanannya pun sibuk memainkan pensil. Ia tidak suka dengan namja bernama Lay itu. Apalagi ia selalu menyinggungnya dengan warna kulit. Cih, kekanakan sekali.
"Tentang itu, Lay sebenarnya bukan orang jahat." Sehun berdiri dihadapan Jongin. Ia bermaksud mewakili Lay untuk meminta maaf.
Jongin mendengus kesal, "Baru pertama kali ini aku marah dengan seseorang."
"Begitu ya." Gadis albino itu menunduk lemah.
"Ck, jangan melibatkanku dalam situasi yang tidak masuk akal!" Jongin bangkit berdiri.
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Kau kan pahlawan, lakukan sesuatu!"
Sehun menatap ke atas, ia terlihat berpikir, "Pahlawan, ya?"
Jongin melipat kedua tangannya didada, "Seorang namja membutuhkan perlindungan dari yeoja, sungguh menyedihkan. Payah!"
"Kau lebih menyedihkan, hitam!" ujar seseorang yang kini tengah berdiri disamping meja Jongin dan menatapnya kesal.
"Lay?" Sehun mengernyitkan dahinya heran karena Lay tiba-tiba datang.
"Pagi Sehun-ah. Aku membuatkanmu bekal makan siang. Apa kau suka sosis?" Lay menyodorkan sebuah kotak makan siang ke hadapan Sehun sambil tersenyum manis.
"Jangan seenaknya masuk ke kelas orang lain! Kau masih bukan siswa disini. Apa kau tidak punya malu?" sindir Jongin.
Lay mendekati Jongin, ia mengeluarkan seringaian yang cukup menakutkan, "Kau hitam yang cukup bersik, ya? Sekarang diam dan jangan berisik!"
"AKAN KUBUNUH KAU!"
Karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Sehun segera menarik Lay keluar kelas, "Terima kasih untuk bekal makan siangnya. Sebaiknya kau pergi sekarang!"
.
.
.
Hari sudah sore. Langit yang tadinya berwarna biru cerah kini berubah menjadi jingga. Sehun masih berjalan ditemani Lay sepulang sekolah tadi. Pikirannya kacau karena Jongin dan Lay tak henti-hentinya perang dan tak ada yang mau mengalah.
"Lay, bisa temani aku sebentar?"
Sehun mengajak Lay pergi ke game center. Ia tak ingin pulang kerumah dengan membawa beban pikiran. Semoga saja dengan bermain sebentar, ia dapat melupakan segala masalahnya.
"Ah, aku merasa jauh lebih baik sekarang!" Sehun merentangkan kedua tangannya saat keluar dari gedung yang bernama game center itu. Langit sudah gelap, angin malam pun menyapa kulit wajahnya.
"Kau tampak baikan saat tiba di pusat permainan. Kau mengagumkan karena tidak peduli apa yang kau lakukan." Lay tersenyum sambil memperhatikan gadis yang tengah berjalan disampingnya.
"Meskipun kau memujiku seperti itu, aku tidak merasa senang."
"Kenapa? Itulah yang membuatku kagum padamu, Sehun-ah."
Sehun menunduk, "Kau satu-satunya yang mengatakan hal seperti itu. Setiap orang selalu memanggilku Black & White di sekolah."
"Itu karena kau selalu bersama si hitam itu. Oh ya, apa hubunganmu dengannya?" tanya Lay membuat Sehun menatapnya sejenak.
"Kami tidak memiliki hubungan yang khusus. Kami hanya teman sekelas dan pulang bersama."
Lay mendecih, "Sehun-ah, kau itu keren! Kau membuang-buang waktumu dengannya. Dia benar-benar tidak keren!"
"Kau bisa mengatakan seperti itu, tapi sebenarnya dia memiliki banyak kualitas," Sehun menerawang sambil tersenyum. "Dia selalu berlatih basket dengan keras meskipun Pak pelatih selalu memarahinya. Lalu, setiap aku dalam kesulitan, dia selalu datang untuk menolongku. Dan pada saat malam natal..."
"Sehun-ah..." ucap Lay membuat gadis albino itu kembali menatapnya. "Kau suka dengannya, kan?"
DEG!
"Hah? A-apa yang kau katakan? Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya!" bantah Sehun dengan detak jantung yang mulai berdetak tak karuan.
Melihat sikap Sehun yang berlebihan itu saat membantahnya, Lay tersenyum, "Tidak apa-apa. Tidak peduli apa yang akan terjadi, aku tidak akan kalah dengan si hitam itu."
"Eh?" Sehun memiringkan kepalanya bingung.
"Aku selalu bermimpi suatu hari nanti kau akan menjadi pacarku. Dan kita akan menghabiskan hari-hari di SMA dalam percintaan. Suatu hari nanti, aku akan menyatakan cinta padamu dan memintamu jadi pacarku. Pikirkanlah baik-baik."
Sepertinya mengajak Lay ke game center untuk menghilangkan penat adalah suatu kesalahan bagi Sehun.
.
.
.
To be continue...
.
Nb: Pengennya temen masa kecil Sehun itu Tao, soalnya dia kan cengeng(?) tapi karena warna kulit Tao jg gelap(?) jadi Lay yang terpilih(?)
Lanjut? REVIEW! ^^
