Lagi-lagi ia mendapati dirinya berjalan melintasi koridor yang padat sepreti biasanya. Yah, sebentar lagi, kelas Tsunade –sensei akan dimulai. Namun ia tak berniat untuk menghadiri kelas itu cepat-cepat. Sasuke Uchiha, orang itu, lebih memilih untuk melangkahkan kakinya menuju kantin sebelum tiba-tiba ia berhenti ketika ia mendengar dentingan piano yang begitu lembut, dan menenangkan. 'Hn? Belum pernah aku mendengar Mozart yang demikian menyentuh. Rasanya ringan sekali. Tunggu sebentar, suara ini, bukankah berasal dari ruang 3, tempat Tsunade mengajar? Apakah wanita itu yang memainkannya? Tapi kalau itu dia, rasanya, sedikit berbeda dari biasanya…' menyadari pemikirannya itu, Sasuke segera bergerak menuju ruangan sang dosen. 'Siapa sebenarnya yang memainkan piano itu?'
Sasuke baru berhenti berjalan ketika ia tepat berada di depan pintu ruangan Tsunade. Ia baru saja akan mengetuk pintu ruangan tersebut namun keraguan menyerangnya ketika ia mendengar suara seseorang dari salam ruangan. "Seperti yang telah kuduga, Sakura. Ada nada yang masih kurang tepat tekanannya, dan jari-jarimu yang selip di bagian pertama, lalu pada bagian ketiga, kau terlambat masuk seperempat ketukan. Beberapa crescendo juga kau abaikan. Perhatikan ketukannya. Ya ampun, Sakura, berapa kali ku bilang, jangan lupakan tanda istirahatnya! Jangan mainkan lagu itu sesuka hatimu, anak ceroboh."
"Sakura?" bisik Sasuke pada dirinya sendiri. Ia masih menempel pada pintu ruangan, penasaran. Rasanya ia pernah kenal dengan seseorang yang mempunyai nama bunga musim semi itu. Sesosok yang khas dengan warna merah muda langsung melintas di kepalanya. Pemuda itu tak dapat mengingat wajah sosok itu, tapi ia dapat merasakan rasa hangat namun ganjil di dalam hati kecilnya.
"Tapi warnanya jadi tidak sesuai kalau begitu!" protes seorang gadis. Suara gadis itu terdengar akrab di telinga bungsu Uchiha ini, begitu pula dengan isi kalimatnya. Warna kah? Rasanya ada yang pernah berkata seperti itu kepadanya dulu sekali. Tsunade sedikit mengomel lagi soal permainan piano Sakura, tapi tak memakan banyak waktu.
"Baiklah, saya permisi dulu sensei." Ucapan sang gadis muda membuat Sasuke sadar kalau pertemuan tersebut sudah berakhir. Segera saja Sasuke mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan tempat itu, sayangnya pintu tersebut terbuka lebih cepat, menyingkap sosok gadis muda di baliknya.
Gadis itu, Sasuke ingat, adalah gadis yang kemarin. 'Jadi, dia yang bernama Sakura?' Pikir Sasuke. Sementara gadis itu hanya memberikan sebuah senyum hangat kepadanya yang entah mengapa terasa canggung menurut Sasuke.
"Uchiha, aku tak menyangka kau akan datang secepat ini ke kelasku. Biasanya kau terlambat." Tsunade memang menatap Sasuke dengan heran, tapi tetap saja wanita itu tak lupa menyindir sang murid. Namun Sasuke memutuskan untuk tak meladeni sang dosen, pemuda itu hanya membungkukkan badannya untuk memberi salam. "Masuklah dulu. Aku ingin berbicara sedikit dengan Sakura." Lanjut Tsunade.
Sebelum benar-benar memasuki ruangan berukuran kecil itu, Sasuke masih sempat mendengar kalimat terakhir dari Tsunade, "Sakura, plajari lagi bagian itu dengan baik. Waktumu tidak banyak lagi."
Warna merah serupa dengan nada Do, sang pembuka, yang merupakan awal. Merah, warna keberanian, berani untuk memulai sesuatu, tak banyak yang mampu melakukannya, kau tahu? Dan jingga adalah Re, sang pendamping yang sempurna untuk segala permulaan.
"Tch, kuso!" umpatan itu lagi-lagi terlepas dari bibir Sasuke. Untuk pertama kalinya, ia tak mengerti akan sesuatu. Demi kakek tua Madara, leluhur keluarganya… Uchiha bungsu itu tak tahu lagi ia harus mencoba metode macam apa. Ia sudah memainkannya tepat seperti yang tercantum di partitur, namun tak perduli berapa kali ia mencoba tetap saja ia merasa ada yang kurang. Lagu yang ia mainkan sekarang sama persis dengan yang dimainkan Sakura beberapa hari yang lalu, tapi mengapa terdengar begitu berbeda? Di mana salahnya?
Pertama, Sasuke berfikir ia terlalu lambat memainkan lagu itu. Yang kedua, ia menyangka ia salah meletakkan beberapa penekanan dan panjang nada. Lalu yang ketiga, pemuda itu mengira kalau mungkin saja ia salah mengatur tempo. Baru ketika ia mendapat pemikirannya yang keempat, Sasuke yakin kalau ternyata ia salah membaca partitur. Tapi tak satupun perkiraannya itu membuat permainan piano Sasuke terdengar seindah saat Sakura yang memainkannya.
Feeling Sasuke berkata jika ia tak dapat memainkan lagu itu –minimal- seperti Sakura, tak mungkin ia dapat bermain lebih baik dari siswa undangan itu. Ia harus dapat melakukan sesuatu, tapi apa? Rasanya, bertanya dengan salah satu dosennya tak akan memberinya jawaban yang memuaskan, terlebih lagi jika ia harus bertanya kepada Tsunade. Wanita itu tentu lebih senang jika ia gagal. Apakah ia harus bertanya kepada Sakura? Sasuke merasa harga dirinya kini dipertanyakan.
Jika saja ego Uchiha tak setinggi ini, mungkin Sasuke akan melontarkan kata menyesal. Bagaimana tidak? Meskipun ia adalah mahasiswa terbaik di universitas tempatnya menuntut ilmu, tetap saja tindakannya di ruang Tsunade-sensei minggu lalu itu sangat ceroboh.
Ia bahkan tak tahu siapa siswa undangan itu, apalagi kemampuannya? Tsunade bahkan lebih percaya kepada siswa asing itu, tentu saja hal itu tak dapat dianggap angin lalu. Apa yang dapat dilakukan Sasuke sekarang? Pemuda itu tahu, ia hanya dapat berlatih sebaik yang ia bisa. Waktunya tak lama lagi.
"Aa… ternyata kau yang sedang berlatih. Itu salah satu karya Mozart, bukan?"
Sebuah kalimat bersuara feminim, suara khas dari seorang gadis. Hanya itu yang dapat Sasuke pastikan sebelum menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa kiranya orang yang berani menginterupsi waktu latihannya.
"Hn?" ucap Sasuke, lebih terdengar sebagai usiran. Gadis itu hanya tertawa canggung. "Mengapa kau di sini?" tanya Sasuke, merasa kalau kata pertamanya itu tak berefek banyak untuk orang yang masih beridiri di depan pintu ruangan tempatnya berlatih.
Sakura tampak salah tingkah saat Sasuke berkata demikian, meskipun ia dapat mengatasi hal itu pada akhirnya. "Ah, kebetulan tadi aku sedang lewat di sekitar sini, dan… aku mendengar seseorang sedang memainkan piano, jadi aku datang untuk melihat siapa orang itu. Ternyata itu kau, Uchiha-san."
Hening terasa begitu Sakura menyelesaikan kalimatnya. Sasuke tak tahu harus merespon bagaimana ataupun apa. Biasanya, ia tak akan mau repot-repot untuk memikirkan hal itu.
"Uchiha-san, bisakah kau mainkan lagi lagu tadi?"
"Hn?"
"Lagu Mozart itu, Uchiha-san. Tolong mainkan lagi. Aku ingin mendengarnya langsung." Pinta Sakura.
Sasuke langsung menatap partitur yang terbuka di hadapannya. Perlahan, ia mulai menggerakkan jari-jarinya sehingga alunan musik lembut mulai terdengar oleh dua pasang telinggga yang berada di dalam ruangan itu.
Sakura tampak menikmati permainan piano pemuda Uchiha itu. Ia tak berkomentar sama sekali saat Sasuke memainkan karya Mozart tersebut, tak seperti Tsunade yang siap memotong setiap kali Sasuke melakukan kesalahan, tak perduli seberapa kecilnya itu. Gadis itu mendengarkan lagu tersebut dengan sungguh tenang, bahkan sampai dentingan terakhir dibunyikan, yang mana membuat Sasuke sedikit-banyak penasaran akan komentar gadis itu.
Setelah beberapa saat melewati ketenangan, Sakura pun mulai berkomentar, "aa… indah sekali." Sengaja gadis itu memberikan jeda sejenak sebelum ia melanjutkan, "tapi, dengan warna apa kau ingin mewarnai sonata ini, Uchiha-kun?"
"Apa maksudmu?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya, heran dengan pertanyaan ganjil gadis itu. Apakah ia tampak sedang mewarnai gambar di depan gadis itu?
"Maksudku… apa yang kau rasakan saat memainkan lagu ini, Sasuke-kun? Pernahkah kau perhatikan apa yang dirasakan Mozart sewaktu ia menulis lagu ini?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada polos, murni karena rasa ingin tahu. Tapi bagi Sasuke, pertanyaan itu memiliki nilai lain. Ia tak pernah berfikir seperti itu selama ini. Sasuke selalu berfokus dengan apa yang tertatera pada partitur lagu, tak kurang tak lebih. Menurutnya taka da yang lebih penting pada sebuah lagu lebih daripada not-not yang tertulis di atas notasinya. Dan Sakura, gadis itu, sangat mengetahui akan hal itu. Dari dulu, Sasuke sudah seperti itu, hingga sekarang pun ia tak berubah.
"Musik tak selamanya hanya didengar, dan not-not itu…" ujar Sakura seraya menunjuk partitur di hadapan Sasuke, "tak selamanya hanya di baca. Jika kau adalah seorang pianis, kau tak akan menganggap mereka benda mati layaknya sebuah meja. Mereka dapat hidup, dan sifat mereka tergantung bagaimana kau memainkan mereka, jika kau memahami mereka dengan hatimu, maka kau pun akan dapat melihat warna-warna yang dipancarkan dari tiap-tiap not itu. Itulah, mungkin, yang disebut warna dari musik." Jelasnya.
Rasa tak asing itu kembali muncul dalam diri Sasuke. Lagi-lagi ia merasa ia pernah bertemu dengan gadis itu. Sayangnya, ia tak dapat mengingatnya sama sekali. Tak pernah ia bertemu dengan seorang berambut hitam dengan sorot mata jade yang dimiliki gadis itu. Sebentar… kini Sasuke mengamati rambut hitam yang dimiliki gadis itu. Dalam imajiinasi yang dimilikinya, rasanya, warna itu tak sesuai untuk sang gadis. Seharusnya ia memiliki warna rambut yang lebih cerah, seperti warna-
"Uchiha-kun?" panggil Sakura menatap orang yang ia ajak bicara tadi. Semenjak komentarnya tadi, Sasuke tak mengeluarkan sepatah katapun, yang tentu saja membuat Sakura merasa khawatir.
Merah muda?
Untunglah, Sasuke menyadari panggilan dari Sakura. Satu hal yang tak ia sadari adalah dirinya yang tiba-tiba berkata, "mainkan satu lagu untukku, Sakura. Mainkanlah Eine Kleine Nachtmusik bagaimana menurutmu ia harus dimainkan."
Sakura tak begitu yakin dengan permintaan Sasuke barusan. Eine Kleine Nachtmusik, lagu itu, adalah lagu yang baru saja dimainkan Sasuke tadi. Lagu itu pula yang akan dimainkan Sasuke untuk konsernya pada bulan Mei mendatang, jika ia tak salah ingat. Dan lagi, tak biasanya Sasuke meminta orang lain untuk memainkan lagu yang akan ditampilkannya di depan orang lain.
Sakura mendekati piano lain yang terdapat di ruangan itu. Ia mengeluarkan partiturnya sendiri, kebetulan, ia juga memiliki partitur untul lagu Mozart yang satu itu. Gadis itu tak terburu-buru untuk menyentuh tuts piano di hadapannya. Ia membaca partitur itu terlebih dahulu pelan-pelan hingga ia merasa puas dengan apa yang didapatnya.
Dan suara piano pun mulai terdengar memenuhi ruangan itu.
Ini kedua kalinya Sasuke mendengarkan gadis itu memainkan suatu, dan kedua kalinya pula Sasuke terpana. Nada-nada piano itu terdengar berbeda. Tak seperti yang biasa di dengarnya. Biasanya saat Sasuke membuka lagu itu, hanya ada ketegasan dan hentakan yang memang disengajanya, tapi Sakura tak memainkannya seperti itu. Gadis itu, dibalik hentakan jari-jarinya pada tuts piano, terdapat kelembutan yang tersamar. Sedikit, namun cukup untuk mengubah kesan seluruh lagu dari awal.
Seakan ada sihir yang diberikan Sakura pada nada-nada itu sehingga terdengar begitu padu.
Bahkan, pada bagian kedua lagu itu, Sakura memainkannya lebih baik dari yang pernah dimainkan Tsunade, yang sebenarnya membuat Sasuke tak mempercayai pendengarannya sendiri. Sakura membawanya serasa berada di padang ilalang, dengan warna keemasan yang menari-nari di goda oleh hembusan semilir angin. Tanpa pemuda itu sadari, sudut bibirnya terangkat beberapa derajat membentuk senyuman . Di dalam imajinasinya, Sakura tampak menikmati permainan piano itu, gadis itu dan alam yang diciptakannya, mereka menyatu, membentuk harmoni yang memesona.
Sakura tak menyelesaikan lagunya. Untuk suatu alasan, gadis itu tiba-tiba saja menghentikan permainan pianonya, membuat segala ilusi yang dibuatnya menghilang. Dan Sasuke juga merasa ia punya alasan sendiri untuk merasa kecewa, meski ia tak dapat menjelaskannya dengan kata-kata.
"Aa, gomenasai Sasuke-kun!" ucap Sakura cepat-cepat. "Aku baru ingat kalau aku punya kelas untuk aku hadiri sekarang! Jaa." Sasuke tak mendapat kesempatan sedikitpun untuk merespon kalimat tersebut karena Sakura segera meraih partitur dan tasnya, kemudian segera keluar dari ruangan itu hanya dalam hitungan detik. Secepat gadis itu datang, secepat itu pula ia pergi.
Meskipun Sakura tak lagi memainkan lagu itu, namun nada-nada yang didengarnya tadi kini terus terngiang di benak sang pemuda, enggan untuk pergi. Nada-nada itu… seakan menghantuinya, tapi tak pelak, Sasuke menikmati tiap bayang-bayang yang dibuat nada itu. Apa yang di lakukan Sakura sehingga ia dapat begitu menikmati lagu ini? Diingatnya, gadis itu tak melakukan hal yang khusus. Hingga Sasuke teringat satu hal yang dilakukan Sakura, namun tak pernah ia lakukan.
Sakura menikmati lagu yang dimainkannya.
Pemuda Uchiha itu tak begitu yakin dengan kesimpulannya kali ini. Hanya saja, hanya itu satu-satunya perbedaannya dengan gadis itu. Apakah dengan menikmati lagu itu ia dapat memainkannya dengan lebih baik? Sasuke sangat meragukan hal itu, terlebih lagi, ia tak tahu bagaimana ia dapat melakukan hal itu. Bagaimana ia dapat menikmati lagu yang sedang ia mainkan?
'…jika kau memahami mereka dengan hatimu, maka kau pun akan dapat melihat warna-warna yang dipancarkan dari tiap-tiap not itu.' Suara Sakura kembali bergema di pikiran pemuda itu. Butuh waktu lama bagi Sasuke untuk merenungkan hal ini, sebuah hal yang baru baginya. Bagaimana mungkin ia dapat melakukannya?
'gunakan hatimu, perasaanmu, dan tuangkan semuanya dalam lagu ini, Sasuke-kun…' kini pikiran Sasuke menjadi terang mengingat kalimat itu. Ah ya, hal itu yang Sasuke lewatkan selama ini. Pemuda itu tak pernah memikirkan sentimentalitas dalam bermain musik, sementara yang ditunjukkan Sakura tadi, gadis itu membuktikan bahwa 'meski' kita hanya memainkan alat musik sesuai aturan, mematuhi apa yang tertulis di atas partitur-partitur, seorang pianis juga butuh menuangkan perasaannya sendiri.
Rasanya, Sasuke pernah mendengar seseorang berkata seperti itu kepadanya. Sasuke tak ingat siapa yang mengatakan hal itu, begitu banyak orang yang memberikan berbagai nasihat kepadanya. Tapi rasanya, orang itu adalah orang yang penting baginya. Apakah itu ibunya? Bukan. Itachi? Bukan juga. Ayahnya? Mustahil, ayahnya bahkan pernah mengatakan bahwa perasaan itu tak penting dalam musik. Tapi siapapun dia, Sasuke yakin, orang itulah yang membuka jalannya sekarang ini. Kini, entah mengapa , Sasuke merasa jauh lebih baik.
Sasuke kembali memikirkan gadis yang bernama Sakura itu. Gadis itu … luar biasa. Sasuke tak tahu kualitas apa yang ada di dalam gadis itu, tapi entah mengapa, ia selalu membawa kehangatan di hati tiap orang dengan caranya sendiri, membuatnya berbeda dari gadis kebanyakan. Gadis itu bahkan berhasil membuatnya tersenyum, sebuah hal yang hampir tak pernah dilakukannya. Tanpa di sadari Sasuke, ia mungkin mulai jatuh hati kepada gadis pemilik nama bunga musim semi itu.
Tidak. Sasuke menggelengkan kepalanya. Bukan saatnya ia memikirkan perasaannya. Saat ini ia harus berlatih, hingga ia dapat mempersembahkan sebuah lagu yang indah. Baru setelah itu… setelah itu ia akan melakukan sesuatu.
to be continue
Note:
Maaf karena chapter ini lama banget updatenya (_ _)
Chapter yang lalu, mungkin banyak membuat reader bingung.. hhehe..
Saya akan jelaskan sedikit mengenai chapter yang kemarin.
Pertama, tentang bagian Itachi dan Sakura yang berduet itu tahun 2001, usia Sakura kira-kira 10 tahun, sementara Sasuke 11 tahun. Lalu, yang di bahas dari sudut pandang Sasuke itu bisa di anggap 11 tahun setelah saat duet Itasaku. Sasuke sudah kuliah semester akhir.
Mengenai hubungan khusus antara Sasuke dan Sakura serta apa yang terjadi di masa lalu mereka, ehm… penasaaran? Hal itu akan di bahas di chapter depan XD nantikan chapter ke 3, yang akan membahas semua masa lalu Sasuke dan Sakura~ kyahaha~ *promosi* #digeplak reader
Karena adanya lompatan-lompatan waktu, cerita ini mungkin jadi membingungkan. Jadi, jangan sungkan untuk bertanya :3
Saya tunggu semua kritik, saran, ataupun komentarnya yaa~
Salam,
Sukoshi yuki
24 Desember 2014
