"Minnie lihat! pakaiannya bagus sekali! Sepertinya anak orang kaya, mungkin dia dari kota." bocah berumur tujuh tahun itu melihat anak yang kira-kira seumuran dengannya dengan tatapan kagum. Pakaian yang dikenakan, jelas mencolok. Berbeda telak dari pakaiannya maupun pakaian teman-teman sekolah lainnya.

"Heum.." sosok yang dipanggil Minnie tadi hanya menggumam dan mengangguk. Matanya ikut memperhatikan bahan bincang yang melintas di depan mereka. Langkah kecil sosok itu melangkah mengikuti wanita cantik di depannya.

Sekilas mereka bertatapan, membuat anak manis bergigi kelinci itu menampilkan senyum terbaiknya sementara sang anak kaya membuang muka.

"Huh, sombong sekali. Ayo kita pulang Minnie." bocah penyuka buah pisang itu mendecih kesal. Hei, ia juga menampilkan gummy smilenya tadi!

"I-iya." Kaki mungil itu beranjak mengikuti langkah temannya yang dihentak-hentakkan kesal. Sekilas ia menolehkan kepala lagi ke belakang, menatap punggung anak laki-laki berbalut mantel biru tua itu.

.

.

Found You

Chibi KyuMin

It just my delution, Hope you like it.

enJOY~

.

.

Lee Sungmin. Nama bocah yang akrab dipanggil Minnie itu melambaikan tangan perpisahan pada Eunhyuk, bocah yang tak kalah lucu darinya. Ia kini berusia tujuh, namun saat pergantian tahun beberapa minggu lagi angka delapan lah yang akan menandai umurnya.

Melihat paras Sungmin yang manis, tak sedikit orang dewasa tertipu gendernya. Bocah berpipi bulat menggemaskan itu seorang namja, bukan yeoja! Catat itu.

Sungmin menjalani pendidikan sekolah dasar, tingkat dua. Namja kecil aktif yang tadi bersamanya biasa ia panggil Hyukkie, teman sekelas sekaligus tetangganya. Setelah berpisah, Sungmin berlari melewati pekarangan rumah yang sebagian tertutup salju, dingin membuatnya ingin cepat sampai rumah.

"Eomma aku pulang." teriak Sungmin memasuki tempat tinggalnya.

"Iya sayang, eomma masih ada tamu. Kalau lapar ambil makan sendiri ya di dapur." jawab eommanya sambil lalu.

Mengikuti apa yang dibilang ibunya, Sungmin beranjak ke dapur mengambil makan lalu menuju ruang keluarga tepat di sebelah ruang tamu setelah meletakkan tas sekolah dan mengganti pakaian santai. Ia menikmati makan siangnya disana. Namun, jarak yang dekat membuat percakapan eomma dan ahjumma-ahjumma lainnya terdengar jelas. Ditambah televisi disana masih rusak dan belum diperbaiki. Tch, menyebalkan.

Kalian tahu, aku tadi melihat Heechul! Setelah menikah dengan keluarga Cho yang kaya itu dia tak pernah kesini kenapa sekarang ia pulang? Apa ia sedang memiliki masalah?

Kudengar dia kembali bersama anak laki-lakinya. Apa mereka sudah bercerai ya?

Dia sombong sekali, mentang-mentang orang kaya sejak dulu sikapnya seenaknya saja

Namja kecil itu sesekali mencebik mendengar pembicaraan tamu-tamu ibunya. Ia mengunyah makanannya cepat-cepat. Orang dewasa senang sekali membicarakan orang lain, padahal kan belum tentu benar. Jujur Sungmin kurang suka saat teman-teman ibunya itu bertandang kerumahnya. Pasti bergosip lagi.

Aah, setelah makannya selesai ini keluar saja, bermain dipekarangan atau ditaman sepertinya lebih baik.

TAP TAP TAP TAP

"Sungminnie, mau kemana?" sayup-sayup suara dari dalam rumah terdengar.

"Aku mau keluar sebentar eomma!" jawab Sungmin seraya berlari keluar.

Namja bermata bulat itu mengeratkan jaketnya, cuacanya sangat dingin meski tak ada salju yang turun. Langkah kecilnya terarah pada taman yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya disana, Sungmin mengedarkan pandangan pada taman berwarna putih itu. Nampaknya salju padat masih menutupi sebagian tempat bermain itu.

Matanya berbinar cerah saat pandangannya menangkap tubuh selain dirinya. Bersorak dalam hati kala mengetahui bukan ia satu-satunya yang berada disana. Anak lelaki bermantel biru yang tadi ia lihat saat pulang sekolah tengah sendiri duduk di kursi kayu taman memainkan benda elektronik di tangannya.

'Anak orang kaya, mainannya pun bagus..' monolog Sungmin dalam hati, sedikit iri.

Ia mendadak teringat pembicaraan teman-teman eommanya tadi. Masih terbayang pula juga wanita cantik yang tadi diikuti namja kecil itu.

'Apa yang tadi dibicarakan ya? Anak dari keluarga Cho yang kaya itu. Untuk apa ia sendiri disini?' tanya Sungmin pada batinnya.

Menolehkan kepala ke sekitar, tapi tak ada satupun selain mereka berdua. Memberanikan diri, Sungmin menghampiri sosok namja belia itu.

"Kenapa kau memandangku seperti itu? Ada perlu apa? Kalau ada cepat katakan." seloroh namja itu tak suka akan kehadiran Sungmin.

Penasaran akan pemikirannya tadi, Sungmin memutuskan untuk bertanya. Meskipun keraguan dan takut menyelimuti. "K-kau anak keluarga Cho itu? S-sedang apa sendirian disini?"

"Benar, aku anak keluarga Cho. Namaku Cho Kyuhyun! Memang kenapa kalau aku sendirian?" jawabnya dengan nada sinis. Tak sedikitpun matanya berpaling, tetap terfokus pada gadget canggihnya.

Kasar. Hal itulah yang pertama terbersit di benak Sungmin mendengar jawaban Kyuhyun. Tapi ia segera menepis pikiran negatif itu, tak baik berburuk sangka pada orang yang belum dikenal kan?

"Mmm, tidak apa. Daripada sendirian bagaimana kalau main denganku?" tawar namja berjaket pink itu.

Kyuhyun diam. Ia mengangkat muka dan melirik sejenak demi melihat Sungmin. Menelisik dari atas sampai bawah penampilan biasa-biasa saja itu.

"Tch, tidak mau! Sudah, pergi sana!" usir Kyuhyun. Kembali, ia fokus pada game di tangannya.

Tak bergeming dari posisinya, namja manis itu memperhatikan apa yang dilakukan Kyuhyun dengan kepala tertunduk, terdiam mendengar penolakan itu. Matanya berkaca, tak pernah ia dibentak dan diusir seperti itu. "Ohh begitu.." cicit suaranya kecil.

Perlahan ia berbalik dan pergi tak jauh dari tempat Kyuhyun berada. Berjongkok memainkan salju dibawahnya, membentuk gumpalan-gumpalan padat kecil sesuai imajinasinya. Sesekali ia melirik ekspresi serius Kyuhyun memainkan gamenya, berharap namja kota itu mau bermain bersama.

"Aaaarkhh!" Teriakan Kyuhyun sontak membuat Sungmin kaget dan memperhatikan namja yang tak lebih tinggi darinya itu seksama. Menanti dengan penasaran, apa yang sedang terjadi atau yang akan terjadi selanjutnya.

YOU LOSE

Kata laknat itu terpampang di layar PSP Kyuhyun. Melotot tak percaya menjadi reaksinya.

"Aaarkh!" tak lama, Kyuhyun berteriak lagi. Selain kalah, rupanya baterai benda portable itu habis, membuat layar menjadi hitam dan tak bisa dimainkan lagi. Kasihan sekali.

Sambil mendengus dan bergumam tak jelas ia menyimpan mainan itu ke dalam saku jaketnya.

Kyuhyun melihat jam di pergelangan tangannya. Masih satu jam lagi ibunya menjemput disini. Entah kenapa ia tak diperbolehkan ibunya ikut masuk ke rumah kakeknya dan malah ditinggal di taman ini. Sendirian.

Tapi tak apa, namja kecil itu sudah terbiasa sendiri. Padahal usianya baru enam tahun. Orang tuanya selalu sibuk. Bahkan, Kyuhyun merasa lebih dekat dengan pengasuhnya daripada orang tua sendiri.

"Hei, ayo main denganku." suara tenor renyah tadi kembali merasuk pendengaran Kyuhyun, membuatnya mendongak pada namja yang lagi-lagi berdiri didepannya.

'Ah, anak yang tadi. Padahal kan sudah ku usir, kenapa malah datang lagi.' Ia menatap heran. Selama ini tak pernah ada anak yang berani mengusiknya. Apalagi ia sudah mengeluarkan nada tak bersahabatnya tadi.

Kyuhyun menggeleng kuat. "Tidak mau! pergi sana!" bentaknya.

Sungmin tersenyum, dengan santai kemudian menjawab "Aku tidak mau pergi, aku mau main denganmu."

Sungmin berfikir, mungkin Kyuhyun takut dengan orang baru. Kembali berusaha, ia duduk di ruang kosong kursi yang di duduki Kyuhyun. Tepat disebelah.

"Ah! Aku Sungmin, Lee Sungmin. Ayo main denganku?" nada ceria Sungmin seraya mengulurkan tangan kanannya.

Kyuhyun melirik bergantian ke arah tangan terulur itu dan tanah bersalju di bawah, tak berniat membalas. Sungmin menjadi salah tingkah. Ia mengerucutkan bibirnya dan memasukkan kembali tangannya ke dalam jaket.

Lima menit suasana dingin dalam arti tak ada tanggapan dari Kyuhyun.

Senyum dan usaha Sungmin mulai memudar atas sikap Kyuhyun. Mungkin namja itu memang tak suka dengannya, bukan karena takut bertemu orang baru seperti pemikiran awalnya.

Menghembuskan nafas berat, sepertinya Sungmin memutuskan untuk menyerah. "Umm, maaf kalau kau merasa terganggu, sebaiknya aku per-"

"B-baiklah kalau kau memaksa. Aku mau main denganmu!" sentak Kyuhyun tiba-tiba.

Sungmin mengerjabkan mata, mulutnya belum mengatup sepenuhnya. Kaget untaian kata terpotong. Kalimat 'sebaiknya aku pergi saja' tak jadi keluar dari bibir pinkishnya. Sejurus kemudian Sungmin melihat Kyuhyun yang kini berlari kearah ayunan.

Kyuhyun duduk dan bermain di ayunan. Pandangannya lekat tertuju pada bocah manis bergender sama dengannya yang dengan berani menyapanya. Menawarkan itikad baik untuk bermain bersama. Selama ini, tak ada yang mau mendekatinya. Terutama setelah perilaku kasar yang Kyuhyun lancarkan di awal pertemuan.

Hati Kyuhyun diliputi perasaan hangat tak terkira. Apa teman sejati benar-benar ada? Kyuhyun merasa telah menemukan jawabannya. Di usia yang masih belia, ia mengikrarkan hal paling tak masuk akal di dunia. Anak laki-laki bernama Sungmin itu, ia harus menjadi teman Kyuhyun selamanya. Itu tekadnya.

"Y-ya! Jadi main tidak?!" teriak Kyuhyun, menutupi salah tingkahnya. Sungmin terkikik geli, mengangguk senang kemudian berlari menghampiri Kyuhyun.

Mereka bermain, mengobrol, saling mengejek lalu tertawa bersama sampai eomma Kyuhyun yang bernama Heechul itu datang. Sedikit mengomel karena baju Kyuhyun yang jadi tampak kotor akibat main perosotan.

Entah apa yang dipikirkan Kyuhyun saat ia tiba-tiba berlari ke arah Sungmin dan memeluk erat sang namja berzodiak Capricorn.

"Kuharap kita bisa bertemu lagi, Sungmin-ah." bisik terakhir Kyuhyun. Salam perpisahan mereka hanya sebatas itu saja.

Esoknya, ternyata Kyuhyun sudah kembali ke kota. Sungmin masih mendengar dari sang eomma dan ahjumma penggosip lainnya kalau sikap anak nyonya Cho itu sama sekali tidak manis. Sungmin menggerutu mendengarnya.

"Huh, tapi menurutku dia baik!" ucapnya, lebih untuk dirinya sendiri.

"Semoga kita bisa bertemu lagi, Kyuhyun-ah." Sungmin mengulum senyum mengingat harinya kemarin bersama Cho Kyuhyun.

.

.

.

I still Love Kyuhyun and Sungmin

KyuMin, Never Ending Love Story