Anak laki-laki yang sebulan lalu merayakan ulang tahun ke sepuluhnya memandang luar jendela kaca mobil saat memasuki area yang mewajibkan kendaraan menurunkan lajunya. Sedari tadi ia tak lagi sibuk dengan game portable bernama PSP yang biasa dimainkan. Senyum kecil tampak dibibir tebalnya saat bangunan khas itu terlihat. Sebentar lagi ia sampai-

"Eomma, turunkan aku didepan sana." tunjuk sang anak berambut brunette ikal. Yang diberi permintaan mengernyitkan kening heran, namun tetap mengurangi kecepatan kendaraan.

"Sekolah?" tanya wanita anggun itu saat menepikan mobil ditempat yang diinginkan anaknya.

Lirikan mata namja kecil terarah pada wanita bermarga Cho itu, "Aku mau menemui temanku dulu, nanti biar dia yang mengantar ke tempat Harabeoji," ia membuka pintu benda beroda empat dan segera keluar.

Heechul menurunkan kaca mobil, ingin tahu lebih. "Kau punya teman disini?" tanyanya sangsi.

Bocah tampan tak bersuara, namun kepala yang mengangguk pasti dan lambaian tangan putera semata wayangnya meyakinkan wanita itu untuk kembali melanjutkan perjalanan.

"Baiklah, hati-hati kalau begitu. Bye sayang,"

Setelah menjawab 'Bye eomma' dengan senyum manisnya, anak itu segera berjalan ke depan gerbang yang bertuliskan Everlasting Elementary School.

Melongok jam tangan, menerka tak lama lagi area itu akan dipenuhi anak-anak yang ingin segera pulang. Menghela nafas dalam, ia menatap bangunan kotak bertingkat dua dihadapannya lalu bergumam pelan.

"Aku ingin bertemu, Sungmin-ah."

.

.

Found You

Chibi KyuMin

Sungmin Still Mine!

Romance, Friendship, Family

It just my delution, Hope you like it.

enJOY~

.

.

Punggung namja kecil berparas tampan itu menempel pada tembok berlukis warna putih gading. Matanya tak pelak memandang tajam siapa saja yang keluar melewati gerbang sekolah, lewat di depannya.

Sesekali ia mencebik tak suka saat beberapa siswa menoleh memandang penasaran. Oh tolong, jangan salahkan wajah datar yang membuat baik yeoja maupun namja disana tak pelak memalingkan muka demi melihatnya. Ah, juga jangan salahkan sang eomma yang kemarin membelikan setelan pakaian dan memaksa Kyuhyun mengenakannya.

Sekolah mulai sepi namun anak bernama Kyuhyun itu belum menemukan yang dicari. Hampir satu jam ia menunggu disana, tak ada hasil. Padahal ia sangat yakin Sungmin bersekolah disini. Tentu karena hanya sekolah tingkat dasar itulah satu-satunya ditempat ini.

"Hei maaf, tolong bisa kau ambilkan bolanya?" teriakan keras menyapa telinga Kyuhyun. Tak jauh dari tempat berdiri sebuah bola sepak berhenti bergulir. Melirik kearah suara yang dimiliki namja kurus dengan badan setengah membungkuk, kedua tangan berada di lutut.

"Kau payah," terdengar mengejek lawan mainnya saat Kyuhyun memutuskan mengambil bola itu dan berjalan ke arah dua namja beda tinggi badan itu.

"Terimakasih," namja bernama Eunhyuk itu tersenyum hendak mengambil bola yang disodorkan namun dengan cepat Kyuhyun menjauhkan.

"Tunggu, aku ingin bertanya." ujar Kyuhyun.

Eunhyuk mengerutkan dahi heran lalu menengok kearah temannya yang juga serius memperhatikan namja dihadapan mereka berdua.

"Kalian kenal Sungmin? Lee Sungmin?" tanya namja tertinggi.

"Ah, Minnie. Tentu saja, kami sekelas. Memang kenapa?" sahut namja lain berwajah komikal.

"Apa dia sudah pulang?"

"Pulang? Hari ini dia tidak masuk." terang namja pemilik nama Donghae tersebut.

"Appanya pulang dari kota, Minnie kemarin bilang mau menjemput di stasiun bersama eommanya hari ini." jelas Eunhyuk lebih lanjut.

Kyuhyun mengangguk mengerti, pantas saja ia tak melihat namja yang dicari. Padahal ia memperhatikan muka-muka yang lewat di depannya dengan seksama. "Oh begitu, padahal aku ingin bertemu." gumam kecil namun masih tertangkap indera pendengar Eunhyuk.

"Kami akan sampaikan pada Minnie kalau kau mencarinya," ujar Eunhyuk memberi solusi.

Anggukan setuju dari Kyuhyun. " Ah ya, bolamu." kali ini Kyuhyun benar menyerahkan si kulit bundar pada dua namja pecinta sepakbola.

"Kalau begitu aku pulang, terimakasih." Kyuhyun menampilkan senyum kecil sebelum berbalik pergi dengan langkah cepat meninggalkan tempat menuntut ilmu. Ingin segera sampai rumah harabeojinya. Rencana pulang bersama Sungmin telah gagal.

Untungnya ia masih mengingat jalan menuju rumah ayah dari eommanya. Tinggal lurus mengikuti jalan sedikit menanjak lalu berbelok ke kanan melewati taman –tempat Kyuhyun bertemu Sungmin tiga tahun lalu. Setelahnya ia harus berbelok ke arah kiri, rumah yang terlihat paling besar itulah destinasinya.

Sementara di lapangan sekolah, Eunhyuk dan Donghae memandang kepergian cepat Kyuhyun dengan kerjaban polos. Merasa ada hal yang masih mengganjal dipikiran mereka.

"Hae, kau merasa lupa sesuatu tidak?" lamat-lamat suara Eunhyuk terdengar.

"Hmm.. sepertinya begitu, apa ya?" Donghae menggaruk kepalanya meskipun tak gatal.

Eunhyuk mencoba mengingat percakapan dengan namja stylish tadi. Mencerna kembali ucapan spontannya, 'kami akan sampaikan pada Minnie kalau kau mencarinya.' seperti ada yang kurang.

Saat akhirnya tersadar ia menepuk kening secara dramastis. "Aish! Pabboya!" ucapnya kesal sendiri. Bagaimana mungkin hal sepele itu bisa terlupakan?

"Eoh.. wae hyuk?" tanya sang namja bermuka innocent, ia juga ikut berfikir tadi! Namun sayang tak menemukan jawaban. Mendesak Eunhyuk dengan raut penasaran, malah mendapati tatap miris namja penyuka pisang itu.

"Kita lupa bertanya namanya.."

.

.

.

Sungmin baru sampai rumah sore hari. Ia tertidur digendongan tubuh gempal ayahnya dalam perjalanan pulang. Bergelung tak nyaman dengan posisinya, mengerucutkan bibir dalam tidurnya. Pasangan namja dewasa lain tersenyum geli melihat tingkah anak mereka.

"Yeobo, cepat bukakan pintu. Sungmin semakin berat saja, kau beri makan apa dia? huh.." candaan ringan terlontar pada sang istri yang hanya menggelengkan kepala sambil tertawa. Tahu betul rindu macam apa Lee Young Woon pada putra kesayangan.

Sungmin terusik dengan keramaian itu hingga nyawanya sepakat untuk kembali dan membawanya ke alam sadar. Kening bertaut dan tangan menutup muka, menghalau sinar matahari yang mulai meredup di ufuk barat sana.

"Uungh, appa.." seraknya khas.

"Aaa- kau bangun baby Minnie?"

Sungmin melonggarkan pelukan tangan pada leher appanya lalu mengerjab menatap sosok yang tengah tersenyum padanya, mengangguk-angguk lucu. Menerima ciuman sang ayah di pipi kiri.

"Kalau begitu lekas turun, kau ini berat tau!" cebik menggoda namja yang akrab disapa Kangin itu.

"Issh, appa!" tak terima, Sungmin memukul pelan punggung ayahnya. "Yasudah turunkan sekarang!" perintahnya main-main. Sebenarnya Sungmin masih ingin berada digendongan, kenapa tak peka sekali ayahnya ini! Mereka kan sudah lama tak bertemu, yah satu tahun memang waktu yang tak singkat sama sekali menurut anak manis itu.

Bahkan Sungmin sampai membujuk eomma agar dibolehkan ikut menjemput dan tidak masuk sekolah. Ah, ngomong-ngomong soal sekolah Sungmin mendadak ingat janjinya dengan Eunhyuk. Namja yang terlalu aktif hingga sering menguap di kelas karena badannya tak bergerak itu dimintanya mencatat materi yang disampaikan guru. Hal yang pasti dikerjakan dengan gerutuan oleh namja bermarga Lee itu.

Kekehan kecil menyertai turunnya Sungmin dari gendongan. Setelah elusan sayang dari sang appa pada kepalanya, Sungmin segera berlari masuk ke dalam rumah, mencari ibunda yang telah masuk lebih dulu untuk meminta ijin. "Eomma, aku mau ke rumah Eunhyuk sebentar ya."

"Tunggu, Sungmin!"

Namja kecil itu menghentikan langkah dan berbalik lagi ke arah ibunda. "Waeyo?"

"Kau belum mandi? Mandi dulu sana. Eomma sekalian ingin menitipkan oleh-oleh, akan eomma siapka dulu."

"Nde eomma."

Bergegas Sungmin membasuh tubuhnya, rasanya tubuh jadi lebih segar mengingat seharian tadi pasti peluhnya keluar banyak diantara lautan manusia saat menjemput ayahnya. Segera setelah siap, Sungmin menghampiri ibunya yang memberi bungkusan untuk diantar ke ibu sahabatnya.

Sesampainya disana, ia disambut hangat oleh ibu Eunhyuk. Memberi tahu Sungmin bahwa namja yang dicari tengah berada dikamar. Sungmin langsung menuju tempat yang dimaksud tanpa sungkan. Tak heran, mereka kan sudah lama menjalin pertemanan.

"Hyuk-ah!" Sungmin coba mengangetkan namja yang sedang berbaring miring dengan buku tegak dibacanya. Tak merespon, sepertinya Eunhyuk sudah sangat hafal langkah kaki Sungmin.

"Manga lagi?" ujar namja yang memiliki bibir berbentuk unik itu merebut buku.

"Yah!"

"Bagaimana sekolah? Kau mencatat penjelasan Seonsaengnim kan tadi? Ada tugas apa?" Sungmin duduk di kursi belajar sebelah ranjang Eunhyuk memberondong pertanyaan.

Dengan malas, namja April bangun dari tidur malasnya dan mengambil buku catatan di dalam tasnya. "Ini, sekarang kembalikan komikku," pintanya.

Pertukaran buku, Sungmin mengecek catatan milik Eunhyuk. Mungkin tak serapi dan selengkap miliknya, tapi sudah lebih dari cukup lah untuk Sungmin. Daripada tidak ada sama sekali bukan?

"Pinjam dulu ya, akan kusalin malam ini lalu besok aku kembalikan di sekolah,"

"Hmm,"

"Terimakasih hyuk, kalau begitu aku pulang dulu."

Eunhyuk hanya melirik dari ekor matanya punggung Sungmin yang berjalan ke pintu kamarnya.

"Eh! Tunggu hyung!" mendadak ia teringat kejadian disekolah hari ini.

Sungmin menoleh, "Apa?"

"Tadi ada anak laki-laki mencarimu."

Lawan bicara Eunhyuk mengernyit bingung. "Siapa?"

"Aku tak tahu.."

Sungmin kembali melangkahkan kaki ke kursi untuk duduk, menanti penjelasan Eunhyuk.

"Sebenarnya aku lupa menanyakan namanya hyung, hehehe." cengiran tanpa dosa ditunjukkan.

"Tapi sepertinya dia bukan orang sini Min hyung." jelas Eunhyuk. Tak lama ia kembali berbicara "hm, pakaiannya bagus, wajahnya juga lumayan tampan. Dia lebih tinggi dari aku, rambutnya ikal berwarna coklat. Umm, apalagi ya.." namja itu berusaha mengingat lagi.

Sungmin turut membayangkan ciri yang disebut Eunhyuk. Tak ada gambaran. Ah sebenarnya ada, satu sosok yang tiba-tiba kembali dalam memorinya. Rambut ikal, warna coklat, seperti seseorang yang pernah ia kenal saat libur natal tiga tahun lalu.

Tidak, tidak, tidak mungkin. Lagipula Cho Kyuhyun lebih pendek darinya. Oh, kau lupa memperhitungkan cepatnya pertumbuhan Sungmin-ah.

Juga, ini belum masuk musim libur tak mungkin jika namja itu yang datang untuk menemuinya. Nyatanya, tiga tahun terakhir Sungmin berharap namja itu kembali berkunjung saat liburan dan bisa bermain bersama lagi, tapi sia-sia. Kyuhyun tak pernah datang lagi.

"Min hyung, kau kenal tidak dengan anak lelaki itu?" ucap Eunhyuk mengusik lamunannya.

"Aku tak yakin hyuk.. Sepertinya tidak,"

Mengangkat bahu, Eunhyuk tak ambil pusing. "Begitu.. ah yang penting aku sudah menyampaikan pesan kalau dia mencarimu." Kembali pada kegiatan awalnya, tak menghirau Sungmin yang pamit sekali lagi lalu keluar dari kamarnya.

.

.

.

Kyuhyun tak bisa memejamkan matanya, padahal waktu sudah hampir tengah malam. Maklum, hari pertama. Untuk beberapa tahun kedepan –tak tahu pastinya, ia akan tinggal disini, menempati kamar ini. Lama-lama pasti terbiasa.

Menolak keinginan orang tua agar Kyuhyun ikut pindah ke Jepang membuat alternative pilihan tinggal bersama sang kakek. Appanya sudah lebih dulu tinggal disana setahun belakang, alasannya memantau perkembangan cabang perusahaan.

Sampai akhirnya minggu lalu Cho Hangeng meminta pengertian istri dan anaknya bersama –tinggal disana. Heechul tentu tak menolak, kebetulan ia juga ingin memperluas usaha butiknya. Tapi Kyuhyun? Bocah itu tak menuruti keinginan appanya.

Tak habis pikir, kedua orang tuanya minta pengertian? Semua demi masa depan Kyuhyun? Selalu seperti itu alibi mereka.

Harusnya Kyuhyun yang dimengerti, harusnya mereka sadar Kyuhyun jauh di dalam hatinya ingin sedikit saja appa dan eomma memberi perhatian. Ah, lagipula ia sudah biasa ditinggal sendiri sejak kecil. Tak masalah mau dimanapun, Kyuhyun yakin bisa mengurus dirinya sendiri.

"Kyuhyun-ah? Kau masih bangun?" Heechul mengintip dari celah kecil pintu yang dibukanya.

Kyuhyun membuka selimut yang menutupi kepalanya dan menatap ibunya yang tersenyum seraya mendekat padanya. "Tak bisa tidur heum?"

Kyuhyun memejamkan mata saat Heechul membelai rambutnya. Sudah berapa lama Heechul tak menyentuhnya selembut ini? Entahlah, Kyuhyun lupa. Lebih-lebih ia juga tak terlalu suka sentuhan itu.

"Tidurlah, besok kau bisa langsung masuk sekolah. Tadi eomma sudah bertemu guru walimu. Kau juga sudah melihat sekolahmu kan tadi?"

Kyuhyun menguap, ia mengangguk memejamkan mata. Benar, ia harus tidur sekarang. Besok pasti ia bisa bertemu namja yang gagal ditemuinya tadi siang. Sayangnya hari ini Kyuhyun tak cukup sabar menunggu besok untuk bertemu.

"Besok eomma juga harus kembali ke Seoul, setelah mengantarmu. Tak apa kan?"

Kyuhyun mendengus, "nde eomma.." jawabnya malas.

Kembali menarik selimut hingga menutupi wajahnya, Kyuhyun memiringkan tubuhnya menghadap ke dinding. Heechul kedapatan punggung berbalut kain, mengelus beberapa kali sebelum beranjak pergi ke kamarnya sendiri.

Pagi hari pukul sembilan Kyuhyun dan eommanya meninggalkan rumah besar bergaya kuno khas Korea. Tujuannya jelas Everlasting Elementary School, sekolah yang akan bertambah penghuni seorang namja kelas empat.

Koridor sekolah sepi, mengingat mereka memang datang saat pelajaran telah dimulai. Rencananya Kyuhyun akan diperkenalkan setelah jam istirahat pertama. Saat memasuki ruangan kepala sekolah disana, para siswa berlarian keluar kelas, menikmati jam istirahat mereka.

Sementara Kyuhyun harus bersabar mengurus berkas-berkasnya. Tak luput dari matanya amplop yang ia yakin berisi sejumlah uang diberikan ibunya pada tetua di sekolah itu. Pindah sekolah juga butuh banyak biaya rupanya.

Seorang guru pria muda masuk ke dalam ruangan dan tersenyum ramah pada Kyuhyun. Namja kecil itu ingat, ahjussi ini yang kemarin berbincang dengan ibunya. Pastilah guru wali di kelasnya.

Kyuhyun mengikuti langkah Jung Seonsaengnim memasuki sebuah kelas. Isinya tak lebih dari dua puluh lima siswa jika ia hitung meja kursinya. Sorak ramai langsung hilang saat mereka sampai di depan kelas.

Kyuhyun mengangkat muka, memandang penjuru arah sebelum memperkenalkan diri.

"Annyeonghaseo, Cho Kyuhyun imnida." Sedikit membungkukkan badan. Tatapan mata penasaran ia lihat dari wajah-wajah kecil di depannya.

Sekali lagi, ia menelisik penjuru kelas. Tak ada wajah Sungmin disana, matanya berubah sendu. Tapi pandangannya tak luput dari dua orang yang kemarin sempat ia lihat, melambaikan tangan kearahnya.

"Kyuhyun-ah, kau bisa duduk disana, belakang sendiri tak masalah kan? Sebelah Lee Donghae." petuah guru berambut cepak padanya.

Donghae berdiri untuk menunjukkan dirinya, mempermudah Kyuhyun menghampiri. Ia langsung diserbu dengan bisikan perkenalan dari teman sebangkunya, dan namja di seberang depan. Namja yang kemarin memintanya mengambil bola, namanya Hyukjae tapi ia minta dipanggil Eunhyuk.

Sedangkan di depannya sendiri, sebuah kursi tak berpenghuni namun anehnya ada tas berwarna pink disana. Kyuhyun menyimpulkan yang duduk di depannya nanti adalah seorang yeoja.

SRAAAAAAK

"Mianhae seongsaengnim saya terlambat, Nam saem meminta saya menemui beliau tadi." ucap namja kecil yang baru datang itu sopan.

Kyuhyun menegakkan badan, matanya tak lepas terarah pada sosok di depan sana. Tak bisa dipercaya, Kyuhyun tak menyangka Sungmin masih memiliki wajah yang sama. Sama sekali paras yang masih jelas diingatan itu berjarak tak lebih dari lima meter darinya.

Setelah mendapat persetujuan Jung saem, Sungmin langsung berlari menuju tempat duduknya. Tepat di depan Kyuhyun, membuat namja itu terbelalak tak percaya.

Hatinya tercubit sakit saat ternyata Sungmin tak mengindahkan kehadirannya. Tak sadar? Tak peka? atau memang dirinya tak terlihat? Baik lupakan yang terakhir, Kyuhyun masih manusia. Lalu kenapa Sungmin tak memandang ke arahnya?

Kyuhyun kecewa.

Namun sedetik kemudian kekecewaan itu berganti menjadi rasa gugup saat ia mendengar bisik-bisik Eunhyuk dan reaksi 'Ehh?' dari Sungmin saat Eunhyuk berkata 'namja yang kemarin mencarimu ada dibelakangmu hyung,' itu tandanya Sungmin memang belum sadar akan kehadirannya tadi.

Kyuhyun menatap kepala yang –entah kenapa gerakan itu dimata Kyuhyun menjadi sangat lambat menoleh kebelakang, onix berlian yang menghunus langsung obsidian pekatnya.

Wajah Kyuhyun tetap datar, tapi yakinlah kalian degup jantungnya tak sedatar itu. Didalam sana, berdetak begitu cepatnya. Kyuhyun mencoba melukiskan senyum pertamanya di hari ini. Sungmin diam tak berkedip.

Satu menit mata itu saling bertaut, membuat raut heran dari masing-masing teman sebangku mereka.

"Cho Kyuhyun?" akhirnya, namja di depannya mengeluarkan tenornya.

Senyum Kyuhyun melebar. Kyuhyun lega ia tak perlu memperkenalkan diri lagi pada namja yang duduk tepat didepannya. Berarti Sungmin masih ingat padanya, bunga bermekaran di hati murid baru itu.

"Senang kau masih mengingatku, Lee Sungmin."

.

.

.

Hai ^^

Saya jatuh cinta lagi dengan Lee Sungmin!

Cuma bisa sedikit menulis delusi saya

tentang Kyuhyun dan Sungmin

Terimakasih *bow