Loser
Chapter 2
Harry Potter © JKR
.
.
Tergesa-gesa, Hermione berlari memasuki Aula Besar dengan Draco di belakangnya. Di tangan Draco sendiri ada tas selempang super-berat—yang sudah dimantrai dengan mantra penguat sehingga mampu menahan berat puluhan buku tebal—milik Hermione. Sembari bersusah-payah mengejar Hermione, remaja tampan yang atletis itu berteriak kencang, "Sweetheart, tasmu ketinggalan!"
Mendengar kata 'Sweetheart' dari mulut seorang Pure-blood yang congkak, seluruh siswa-siswi Hogwarts langsung menghentikan aktivitasnya. Iris mata mereka kompak menatap adegan kejar-kejaran live, dan mata mereka seolah akan jatuh ke lantai batu ketika menyadari bahwa panggilan maha-romantis dari Draco itu ditujukan kepada Hermione.
Seantero Aula pun langsung dipenuhi oleh bisik-bisik.
"Hah? Dua orang Ketua Murid yang terkenal selalu bertengkar itu berpacaran?"
"Itu pasti rekayasa!"
"Tidak mungkin!"
"Demi kancut Merlin…."
Wajah Hermione sontak merah-padam. Ia nyaris saja meneriakkan 'shut up' pada seluruh siswa-siswi yang sedang menikmati sarapan, namun niatnya itu ia pendam ketika melihat Ginny sedang melambaikan tangan di pojok meja Gryffindor. Ia bergegas menemui sahabatnya itu, mengabaikan Draco yang terseok-seok menghampirinya.
Ginny langsung 'menohok' Hermione begitu gadis berambut ikal itu duduk di sampingnya. "Jangan bilang kalau kau benar-benar pacaran dengan Malfoy?"
Hermione mendelik. "Tentu saja! Kaupikir aku sudah gila?"
"Lalu?"
"Ini cuma game!" jelas Hermione. "Ferret yang sok ganteng itu menantangku untuk bermain sebuah game yang syarat utamanya adalah: para pemain harus berpura-pura menjadi sepasang kekasih selama waktu yang telah ditentukan, kemudian, siapa yang duluan jatuh cinta, dia kalah. Dan—"
Penjelasan Hermione terpotong oleh kalimat Draco yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk dengan—kelewat—pede di sampingnya. "Lain kali jangan tinggalkan aku ya, Sayang. Ini, aku sudah membawakan tasmu."
Ginny nyaris tersedak ketika mendengar kata 'Sayang', sementara Hermione tak bisa menahan amarahnya lagi sehingga ia berteriak, "Jangan pernah memanggilku dengan kata 'Sayang'!"
Draco tak ambil pusing. Ia langsung mencomot sepotong paha ayam dengan rakus sambil menjawab, "Kenapa? Aku kan pacarmu. Kalau kau berkata begitu, sumpah deh, kau menyakiti perasaanku."
Kali ini Ginny benar-benar tergelak. "Hahaha…."
.
.
Setelah menghadiri seluruh kelasnya di hari ini dan sampai di Asrama Ketua Murid, Hermione langsung mengempaskan pantatnya di sofa dan menghela napas. Kepalanya benar-benar pusing dan entah kenapa beberapa indera-nya tak berfungsi sempurna lagi. Ia kesulitan mendengar dengan seksama dan kesulitan pula untuk melihat dengan jelas. Mungkin ia terlalu lelah, dan ia yakin kalau 70 persen kelelahannya itu diakibatkan oleh tingkah parthner-nya, Draco Malfoy.
Seharian ini, Draco selalu saja menguntit dan mengganggunya. Tadi pagi, ketika Gryffindor ada kelas Ramuan bersama Slytherin, Draco tak henti-hetinya memotongkan segala bahan-bahan yang diperlukan Hermione. Draco bahkan tidak mengacuhkan tolakan tegas dari Hermione. Alasan cowok berdagu-runcing itu adalah: ia takut kalau tangan Hermione akan luka ketika memotong-motong bahan menggunakan pisau.
Lalu, ketika jam makan siang tiba dan Hermione memutuskan untuk melewatkannya karena harus pergi ke perpustakaan, Draco nekat mengikuti dan membawakan gadis itu semangkok sup jamur yang lezat ke dalam perpustakaan. Kemudian, ketika Hermione tiba-tiba membentak Draco, sup itu terlempar dan mengenai salah satu buku perpustakaan.
Madam Pince pun ngamuk hebat. Hermione belum pernah melihat Madam Pince marah hingga wajahnya berubah menjadi ungu dan hidungnya mengerut. Lagipula, biasanya, Madam Pince hanya memberikan omelan dan mengatur jadwal detensi, namun tadi siang, Madam Pince sampai harus mengejar-ngejar Draco demi menyalurkan emosinya. Draco pun langsung diberi detensi yang paling berat: membersihkan toilet paling bau di Hogwarts.
Dasar Musang gila, batin Hermione sembari memijat-mijat pelipisnya. Kepalanya tambah pusing dan ia tak bisa menemukan solusi yang paling tepat untuk rasa pusingnya itu selain mandi berendam di air lavender yang wangi.
Karena itu, ia pun langsung berjalan ke kamar mandi dengan sempoyongan. Namun ternyata…
"Malfooooooooy! Ngapain kau?!" teriak Hermione kaget setelah memutar gagang pintu. Ia pun langsung menutup mata dengan gugup ketika menyadari bahwa Draco—sambil bersiul dengan santai—sedang asyik menggosok-gosok badannya di bawah shower tanpa mengenakan apa pun. "Kenapa pintunya tidak kaukunci, Tolooool?!"
"Untuk apa?" tanya Draco cuek. "Dan please, stop memanggilku dengan 'Malfoy' atau 'Tolol'. Sekarang, kau adalah pacarku, Darling. Anyway, ada apa? Kau juga mau mandi?"
"Dasar bego!"
"Kenapa, sih?" tanya Draco heran. "Kalau kau juga mau mandi, ayo, sini."
Hening.
Mulut Hermione membuka, super-kaget. Wajahnya merah padam. Ia bergegas keluar dan membanting-pintu tanpa berkata apa-apa lagi. Ia tidak menghiraukan teriakan-teriakan Draco dari dalam kamar mandi karena ia sudah muak. Game super-konyol ini baru berjalan selama 1 hari kurang, tapi ia sudah tidak tahan. Tingkah Draco sudah kelewatan!
Draco, tanpa menyelesaikan mandinya dan tanpa membilas shampoo mint yang masih memenuhi rambut pirang platina-nya, langsung mematikan shower, melilitkan handuk ke sekeliling bagian bawah tubuhnya, lalu bergegas mengejar Hermione yang langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
"Hermione!" panggil Draco sambil menggedor-gedor pintu itu. "Hermy! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban.
Setelah lama menggedor pintu—dan tetap tidak ada jawaban yang berarti—Draco memutuskan untuk mengambil tongkat di meja kamarnya, lalu membuka paksa pintu itu dengan mantra. "Alohomora!"
Pintu yang dihiasi oleh hiasan-hiasan khas Gryffindor itu pun terbuka.
Draco langsung menghambur. "Hermy! Kenapa kau—"
Kalimat Draco terhenti ketika ia melihat Hermione sedang terduduk di pinggir kasur dan ada setetes air mata yang mengalir di pipinya. Berbeda dengan tingkah Hermione biasanya, kali ini gadis cantik itu sama sekali tidak mengacuhkan Draco. Iris hazel-nya tak lepas dari sebuah pigura berisi foto Harry, Ron, dan Hermione sendiri. Tiga sosok dalam foto berwarna itu bergerak-gerak, melambaikan tangan ke kamera sambil tersenyum lebar. Tidak ada kegelisahan apa-apa di sana.
Draco tergagap, tak menyangka bahwa akhirnya akan jadi seperti ini. "Ka-kau… ke-kenapa?"
Hermione tidak menjawab. Hatinya berkecamuk. Saat ini, yang melintas di pikirannya hanyalah Harry dan Ron—yang memutuskan untuk langsung bekerja jadi Auror setelah rezim Voldemor runtuh—dan betapa rindunya ia pada dua sahabatnya itu. Seandainya saja Harry dan Ron masih menemaninya di Hogwarts, pasti ia tetap merasa baik-baik saja walaupun Draco bertingkah macam-macam. Pasti ia tetap kuat, bukannya malah menangis—seperti orang lemah—di sini.
Hermione mendelik pada Draco sekilas sambil mengusap air matanya. Dalam hati, ia bertanya pada dirinya sendiri: kenapa ia sampai harus menangis? Draco kan hanya melakukan keisengannya seperti biasa?
Hermione sendiri tak mengerti kenapa air matanya bisa tumpah. Ia hanya tahu kalau ia lebih suka Draco mengatainya dengan ratusan makian atau ejekan daripada bersikap sok care yang—menurutnya—lebih menyebalkan. Apalagi ketika tadi Draco mengajaknya untuk mandi bersama-sama. Menurutnya, itu sama saja dengan merendahkan wanita.
Atau… ia menangis karena hanya merindukan sahabat-sahabatnya?
Draco menelan ludah. "Herm, a-aku—"
Entah apa yang mendorongnya, Hermione berteriak kencang, "Aku tidak ingin melihatmu lagi! Pergi!"
"Ta-tapi—"
"Pergi sekarang!" teriak Hermione sembari melemparkan bantalnya—barang terdekat yang bisa ia raih—ke arah Draco. "Pergi!"
Tapi Draco bergeming.
"Kenapa?!" seru Hermione marah. Entah kenapa, emosinya memuncak. "Kautahu? Kau jauh lebih menyebalkan ketika bertingkah sok peduli dibandingkan ketika membenciku dan mengata-ngataiku secara langsung!"
Draco mengambil napas panjang. "Maaf."
Baru saja Hermione membuka mulut dan hendak mengeluarkan amarahnya lagi, Draco langsung berjalan keluar dan menutup pintu.
.
.
Setelah menyelesaikan mandinya yang sempat tertunda, Draco sibuk berjalan mondar-mandir di depan kamar Hermione dengan gelisah. Ia bertanya-tanya tentang apakah Hermione masih menangis atau tidak. Dalam hati, ia juga mengutuk dirinya sendiri yang—mungkin—terlalu kelewatan saat bercanda.
Tapi kan, itu bukan salahku, batin Draco mengelak. Mana aku tahu kalau akhirnya dia akan menangis? Biasanya dia hanya balas memakiku, kan? Dan….
Draco pun berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia benar, namun, semakin ia berusaha, semakin ia merasa bersalah. Akhirnya ia menyerah dan memutuskan pergi ke pantry untuk membuat cemilan. Jam makan malam sudah tiba dan perutnya keroncongan, tapi ia tidak ingin turun dan menikmati makan malam. Rasa bersalah membuat selera makannya benar-benar hilang.
Tiba-tiba, ketika sedang menyiapkan setangkup roti tawar dan segelas susu vanilla hangat, sebuah ide menamparnya. Oh iya, kenapa aku tidak membuatkan Hermione segelas cokelat hangat saja? Bukannya dia pernah berkata kalau dia selalu tenang setiap meminum cokelat hangat?
Kemudian keraguan menghinggapinya. Tapi… aku malu.
Kenapa harus malu? Kan ini sebagai permintaan maaf.
Sejak kapan aku meminta-maaf pada Hermione?
Lho, bukannya dia pacarmu?
Demi kurap Merlin, itu hanya game!
Dua sosok Draco—sosok yang baik dan sosok yang jahat—pun berperang dalam batin Draco sendiri. Dua sosok ini sibuk memberi argumen dan persuasi masing-masing. Namun, entah karena apa, sementara dua sosok ini berdebat, tangan Draco bergerak sendiri. Tangan pucat itu mengambil mug merah milik Hermione, mengisinya dengan bubuk cokelat, menambahinya dengan air panas, lalu mengaduknya.
Dan tiba-tiba saja, sebuah mug berisi cokelat panas untuk Hermione sudah jadi.
Dan cokelat panas—yang dibuat langsung oleh tangan Draco itu—bukanlah sebuah bagian dari game agar Hermione luluh dan jatuh cinta, tapi, cokelat panas itu dibuat dengan tulus. Tak ada 'iseng', 'balas dendam', atau motif-motif negatif lainnya di sana. Yang ada hanyalah sebuah pesan dari Draco: aku ingin minta-maaf.
TBC
