Loser
Chapter 2
Hermione mengusap-usap matanya yang terasa berat—bengkak karena menangis semalaman—kemudian langsung beranjak dari kasur ketika menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Ia pun membuka tirai jendela kamarnya, mengenakan jubah untuk melapisi seragam hari kemarin—yang tak sempat ia ganti—lalu berjalan ke pantry untuk membuat segelas susu cokelat hangat seperti rutinitasnya.
Begitu ia keluar, terdengar suara pancuran air dari dalam kamar mandi yang tertutup rapat—menandakan bahwa Draco, parthner-nya sebagai Ketua Murid, sedang mandi. Hermione sontak mendengus ketika teringat dengan kejadian kemarin. Ia masih kesal pada candaan Draco kemarin, tapi lebih kesal lagi pada dirinya sendiri karena ia menangis.
Kenapa aku begitu lemah kemarin? batin Hermione kesal sembari tetap berjalan menghampiri meja pantry. Bukannya dia hanya—
Suara dalam hatinya terpotong ketika melihat dua buah mug berisi cokelat di atas meja. Mug berwarna merah—miliknya—berisi cokelat yang sudah dingin, sementara mug berwarna hijau zamrud milik Draco—namun ada sticky notes bertulisan "untuk Hermione" di dindingnya—berisi cokelat yang masih panas.
Belum sempat Hermione memikirkan apa pun—saking terkejutnya—tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, lalu Draco keluar dari sana. Putra tunggal keluarga Malfoy itu sudah mengenakan seragamnya dengan lengkap—kecuali jubah, kaus kaki, dan sepatu.
Seolah sudah diprogram secara otomatis, secara refleks Hermione berbalik dan menatap Draco. Ia menatap rambut pirang Draco yang masih basah dan berantakan serta kemeja putihnya yang dikancing sembarangan.
Tersadar bahwa ia sedang ditatapi oleh Hermione, Draco balas menatap gadis kutu-buku itu. Sejenak ia ingin menyapa Hermione dengan panggilan 'Sweetheart'—yeah, game masih berlangsung—atau mengusili gadis itu seperti biasa, tapi entah kenapa, ketika teringat dengan kejadian kemarin, ia merasa canggung. Akhirnya, Draco memutuskan bahwa hal terbaik yang bisa ia lakukan hanyalah menyapa dengan nada datar, "Pagi."
Hermione menatap mata Draco sekilas. Ia ingin memaki pemilik manik ice itu, tapi ia juga merasa canggung. Akhirnya ia hanya memalingkan wajah dan mendengus kecil. "Huh."
"Kau tidak perlu membuat cokelat panas lagi," ujar Draco datar sambil berjalan ke kamarnya. "Aku sudah membuatkannya untukmu."
Hermione tak menjawab. Ia hanya bergumam dalam hati, Aku tak akan meminum atau memakan apa pun yang kauberikan padaku lagi selama game ini masih berlangsung, Ferret. Apalagi setelah kelakuanmu kemarin!
Draco menambahkan, "Cepat mandi, aku sudah menyiapkan air lavender serta busa di bath-tub."
Hermione masih tidak menjawab.
Sebelum benar-benar masuk ke kamarnya, Draco melanjutkan, "Dan aku akan menunggumu. Kita berangkat ke Aula Besar dan sarapan bersama-sama di meja Gryffindor. Kaumau sarapan bersama Weasley juga, kan?"
Hermione tak tahan lagi. "Berhenti mengurusiku! Kau pergi saja sana sendiri!"
Hermione kira Draco akan membalas teriakannya itu dengan kalimat-kalimat yang tak kalah kasar, namun Draco malah membalas, "Ada sebongkah es-tak-bisa-mencair yang sudah kubungkus dengan sapu-tangan di atas meja dekat perapian. Pakai itu untuk mengompres matamu."
"Sudah kubilang, berhenti mengurusiku!"
Kali ini, Draco tidak menjawab apa-apa. Ia hanya masuk ke dalam pintu kamar, menutupnya, lalu mulai mempersiapkan buku-buku pelajaran, pena bulu, serta tinta untuk kelas-kelas di hari ini.
.
.
Setelah selesai mandi, mengenakan seragam, dan bersiap-siap, Hermione tak menemukan Draco di seantero Asrama Ketua Murid. Tadinya, ia kira Draco masih berada di dalam kamarnya. Tapi ketika ia lewat di depan kamar bernuansa hijau zamrud itu, Draco tak ada di sana. Tas sekolah dan buku-buku pelajaran—yang biasanya memenuhi meja belajar—juga tak ada.
Hermione memutar bola matanya. Baguslah kalau dia sudah sarapan duluan!
Tapi, ketika ia keluar dari Asrama Ketua Murid melalui pintu lukisan Nicholas Flamel, Draco sudah menunggunya di sana. Pangeran Slytherin itu bersandar dengan santai di dinding sambil melipat kedua tangannya di dada. Tasnya ia geletakkan begitu saja di lantai batu. Ketika melihat Hermione, Draco berujar, "Ayo."
"Kau ini ngapain sih?" tanya Hermione kesal.
"Menunggumu."
"Aku akan berangkat sendiri, Musang."
"Tidak," sergah Draco. "Kita berangkat bersama."
"Aku tidak mau."
"Aku mau."
"Tapi aku tidak!"
"Tapi aku mau."
Hermione mengambil napas panjang, berusaha menyabarkan diri. Kemudian ia langsung berjalan sendiri, meninggalkan Draco—yang tentu saja langsung berusaha menyamai langkah Hermione.
Draco pun berjalan di samping Hermione. "Kenapa matamu masih bengkak?"
"Bukan urusanmu!"
"Kau belum menggunakan es pemberianku, ya?"
"Bukan urusanmu, Ferret!"
"Aku khawatir padamu," jawab Draco. Masih dengan nada datar. "Seharusnya kau mengerti."
Rona merah di pipi Hermione muncul. Kendati ia menyadari bahwa seluruh kalimat romantis Draco itu hanyalah upaya untuk membuatnya jatuh cinta dalam game maha-konyol yang sedang mereka mainkan, kalimat Draco terdengar benar-benar tulus jika disampaikan dengan nada datar—bukan dengan nada kekanakan, riang, dan memaksa seperti kemarin—seperti itu. "You don't have to, Stupid."
"Tentu saja aku harus mengkhawatirkanmu," kata Draco. "Kau pacarku."
"Demi Merlin, itu hanya game!" seru Hermione. "Don't take it seriously! Kau tidak perlu menyiapkan air lavender untukku, membuatkanku cokelat panas, atau memberikan es-yang-tak-bisa-mencair untuk mengompres mataku!"
Ulu hati Draco terasa tertohok ketika mendengar kata 'game'. Entah kenapa, hatinya menolak; tidak seratus persen setuju. Oke, mungkin ini semua memang hanyasebuah game. Ia memang menganggap Hermione sebagai pacarnya karena game, namun ia benar-benar tulus saat menyiapkan air lavender dalam bath-tub, membuatkan se-mug cokelat panas, dan membelikan es-yang-tak-bisa-mencair untuk mengompres mata Hermione.
Entah sebagai permintaan maaf untuk peristiwa kemarin atau karena otaknya memang sudah rusak. Kenapa ia mau-mau saja meminta maaf? Kenapa ia mau-mau saja melakukan semua itu demi musuhnya itu? Dan kenapa sekarang ia malah merasa canggung sampai harus berubah 180 derajat dan menjadi Draco yang serius dan bernada datar? Bukankah ia adalah seorang Malfoy dan seorang Malfoy tak pernah begitu?
Entahlah.
"Mengerti?!" tanya Hermione.
Draco terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak. Kalau aku tidak mengurusimu, kau tidak akan pernah jatuh cinta padaku."
"Aku. Memang. Tidak. Akan. Pernah. Jatuh. Cinta. Padamu. Bego!"
Draco melirik gadis berkulit putih merona di sampingnya itu dengan ujung matanya. Egonya sebagai seorang Malfoy muncul. Ia sangat ingin menantang dan membuktikan pada Hermione bahwa gadis itu pasti akan jatuh cinta padanya, tapi—lagi-lagi—karena kecanggungannya, ia memutuskan untuk mengganti topik, "Hmm. Nanti sore akan ada pertandingan Quidditch persahabatan antara Slytherin dengan Ravenclaw. Kuharap kau menontonku."
Hermione membelalak. "Untuk apa?! Memangnya aku tidak punya kerjaan yang lebih berharga dibandingkan dengan menontonmu salto dan berjungkir-balik di atas sapu?!"
"Kau pacarku, Hermione."
"Aku tidak peduli! Harusnya, kau—"
"Ya sudah, terserah kau saja," potong Draco. "Aku tidak memaksamu."
Hermione jadi gemas sendiri dengan perubahan sikap Draco yang begitu drastis sejak kemarin lusa.
.
.
Mungkin karena matanya masih bengkak, Hermione merasa sulit untuk tetap menerima pelajaran dengan segar. Apalagi ketika pelajaran Sejarah dengan Profesor Binns—yang membahas tentang perang Goblin di tahun 1894—berlangsung setelah sarapan tadi. Ia benar-benar mengantuk dan bahkan nyaris tertidur.
Sebenarnya ia ingin kembali ke Asrama untuk tidur siang sebentar, namun ia tidak bisa melakukannya karena ada pelajaran Transfigurasi—yang menyenangkan—setelah makan siang—yang lagi-lagi ia habiskan di Perpustakaan.
Karena itu, setelah menyelesaikan beberapa urusan dengan Madam Pince, ia pun bergegas pergi ke kelas Transfigurasi dan duduk di bangku terdepan—bangku favoritnya—sendirian. Profesor McGonagall sendiri belum datang.
Tiba-tiba Draco datang menghampiri, duduk di sampingnya, lalu mengeluarkan beberapa makanan dan seplastik minuman dari dalam tasnya. "Kenapa sih kau selalu melewatkan makan siang? Nih, aku membawakanmu jus labu dan beberapa tangkup roti blueberry. Siapa tahu kau lapar dan mengantuk."
Hermione tidak menjawab.
"Cepat, dimakan," ujar Draco. "Sebelum Profesor McGonagall datang."
"Aku tidak mau," kata Hermione. "Jangan memaksaku."
"Cepat dimakan."
"Aku tidak mau."
"Nanti kau sakit!" seru Draco, mulai kesal dengan kekeras-kepalaan Hermione. "Selain menyiapkan materi-materi yang akan diujikan di NEWT, kau juga harus menyiapkan fisik dan kesehatanmu! Mana mungkin kau bisa mengikuti tes jika kau sakit? Makanya, cepat dimakan!"
"Aku akan makan sendiri nanti!"
"Aku sudah membawakan makanan untukmu!"
"Aku tidak mau! Kenapa…"
Perdebatan pun terjadi. Murid-murid yang mulai berdatangan pun keheranan mengapa dua Ketua Murid mereka—yang selalu bertengkar dan sekarang digosipkan berpacaran—berdebat di kelas Transfigurasi dan di depan bertangkup-tangkup roti blueberry.
Hermione membelalak kesal. "Jangan paksa aku!"
"Kalau begitu, siapa yang akan memakan roti sebanyak ini?"
"Kau saja! Bukankah kau yang membawanya?"
"Aku membawakannya untukmu!"
"Aku kan tidak pernah memintamu untuk membawakanku roti!" jerit Hermione marah. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan makan makanan atau minum minuman apa pun yang kaubawakan untukku selama game ini masih berlangsung! Tidak ada jaminannya bahwa makanan atau minuman itu aman, kan? Bisa saja kau menaruh Amortentia di dalamnya! Dan mulai sekarang, please berhenti sok care padaku! Asal kautahu, aku tak mungkin jatuh cinta padamu, Musang!"
Draco terhenyak.
Hening.
Sampai akhirnya Draco berkata dengan jujur, "Asal kautahu juga, aku tidak membawakanmu roti karena game sialan ini. Aku juga tidak menyiapkan segelas susu cokelat untukmu karena game ini."
"Lalu untuk apa?" tanya Hermione. Nadanya terdengar menantang.
Belum sempat Draco menjawab, tiba-tiba Profesor McGonagall masuk ke dalam kelas dan bertanya, "Ada apa ini?"
Seluruh kelas—kecuali Draco dan Hermione—yang tadinya asyik menonton perdebatan antara dua Ketua Murid itu—langsung kembali ke posisi semula dan (sok) sibuk menyiapkan peralatan belajar.
Profesor McGonagall menatap tumpukan roti di hadapan Draco dan Hermione. Kemudian ia bertanya, "Ulah siapa ini? Siapa yang membawa roti blueberry ke dalam kelasku?"
Hermione langsung menunjuk Draco. "Malfoy yang membawanya, Mam."
Profesor McGonagall menghela napas. Bibirnya yang tipis menjadi semakin tipis. "Potong 10 angka dari Slytherin. Malfoy, perlu kauketahui bahwa membawa makanan ke dalam kelasku adalah suatu pelanggaran yang tak bisa kutolerir. Hal ini memang tidak membahayakan praktek Transfigurasi yang biasa kita pelajari di kelasku, namun ini menyangkut aturan yang harus ditegakkan."
"Tapi, Mam, aku membawanya karena Hermione!" seru Draco.
"Karena Granger? Iya, aku mengerti, tapi tetap saja. Kau harus—"
"Dia belum makan siang, Mam," potong Draco.
Di kolong meja, Hermione menginjak kaki Draco sekuat mungkin, membuat Draco mengernyit kesakitan dan mengumpat dalam hati.
Hermione buru-buru menyangkal, "Sudah, Mam."
"Dia bohong, Mam!" seru Draco tanpa sadar.
Profesor McGonagall menghela napas. "Malfoy, kau melakukan pelanggaran dua kali berturut-turut di dalam kelasku. Pertama, kau membawa makanan. Kedua, kau berteriak padaku. Hal itu patut dibayar oleh detensi. Kebetulan, Mr. Filch membutuhkan orang untuk membantunya membereskan ruangannya."
Draco menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Baru saja kemarin ia menggosok toilet superbau—detensi dari Madam Pince—dan sekarang ia harus menjalani detensi dari Profesor McGonagall lagi? Lelahnya bahkan belum hilang, tapi harus ditambah lagi!
Profesor McGonagall melirik jam-tangannya. "Akan lebih baik kalau detensi dilaksanakan secepat mungkin. Nanti sore jam 4, di ruangan Mr. Filch, Malfoy."
Draco—dan beberapa anak Slytherin di kelas itu—mengerang. Mereka sontak protes.
"Jangan sore ini, Mam!"
"Jam 5 sore nanti, ada pertandingan Quidditch!"
"Slytherin melawan Ravenclaw!"
"Slytherin pastilah kalah jika Seeker, Draco Malfoy, tidak ada!"
Profesor McGonagall mengangkat tangan, memberi isyarat agar murid-murid Slytherin diam dan tidak membuat 'kerusuhan'. "Maafkan aku, tapi detensi dimulai jam 4 dan pertandingan Quidditch dimulai jam 5. Malfoy, sebaiknya kau menjalankan detensimu secepat mungkin, lalu bertanding."
Draco speechless. Tak mampu berkata apa-apa saking kesal dan shock-nya. Ia menyadari bahwa fisiknya akan benar-benar dikuras nanti sore. Apalagi akhir-akhir ini cuaca mulai memburuk. Bulan Desember—dan salju—akan segera tiba.
.
.
Hermione berjalan dengan tersungut-sungut di belakang Ginny. Wajahnya tertekuk. Ia bete karena harus menonton pertandingan Quidditch akibat paksaan Ginny, dan ia kesal pada dirinya sendiri karena kenapa ia tidak mampu menolak ajakan itu?
"Ayolah, Herm," ujar Ginny antusias. "Ini pasti seru! Bayangkan, Slytherin versus Ravenclaw? Demi Merlin! Dan kita sudah ketinggalan 5 menit pertandingan! Aku berani bertaruh bahwa pertandingan akan berlangsung selama 5 hari karena…"
Ketika Ginny mulai membahas tentang segala teknik permainan Quidditch dan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bakal terjadi, Hermione sangat ingin menutup telinganya. Namun, demi alasan kesopanan, akhirnya ia hanya bergumam tak jelas. "Hmm… hmm… hmm… menarik sekali… hmm…."
Tak terasa, akhirnya mereka berdua sampai di tribun yang sudah ramai oleh siswa-siswi Hogwarts. Siswa-siswi itu terbagi menjadi 3 'kelompok'. Kelompok pertama adalah pendukung Slytherin yang melengkapi diri dengan atribut-atribut hijau mencolok yang berlebihan, kelompok kedua adalah pendukung Ravenclaw yang melengkapi diri dengan atribut-atribut biru sederhana, dan kelompok ketiga adalah kelompok netral yang tidak memihak siapa pun. Ginny termasuk kelompok kedua dan Hermione sendiri termasuk kelompok ketiga yang netral—tentu saja.
Ginny segera duduk di samping Luna, diikuti oleh Hermione yang masih menekuk wajahnya.
"Skornya sudah berapa?" tanya Ginny, tak memerhatikan sekelilingnya.
Pandangan Luna tampak tak fokus—menerawang—ke lapangan Quidditch yang masih kosong-melompong—hanya ada Madam Hooch di sana—ketika gadis berambut pirang kotor ini menjawab, "Pertandingan belum dimulai. Mereka menunda-nya."
Ginny membelalak marah. Menurutnya, menunda pertandingan Quidditch adalah suatu pelanggaran yang ilegal dan dilarang keras oleh negara. "Apa?! Kenapa?"
"Well, mereka tidak mengumumkan alasannya," jawab Luna datar. "Tapi menurut desas-desus yang beredar, pertandingan ini ditunda karena Draco Malfoy belum hadir."
Seolah telah diprogram secara otomatis, Ginny melirik Hermione—yang dibalas oleh injakan kaki sekeras mungkin oleh bookworm cantik itu.
Ginny menghela napas. "Ya sudah, kita ambil sisi positifnya saja. Paling tidak, kita belum ketinggalan."
Baik Hermione maupun Luna tidak menanggapi Ginny lagi. Luna kembali sibuk menatap makhluk-makhluk khayalan bernama Wrath yang—menurutnya—sedang menari-nari di tengah lapangan Quidditch untuk mencegah kemenangan Slytherin, dan Hermione—tentu saja—sibuk memikirkan kenapa Draco belum hadir.
Oh iya, paling Musang Kolot itu masih asyik dengan detensinya, pikir Hermione ringan. Mendadak, pertandingan Quidditch ini terasa lebih 'menyenangkan' baginya. Semoga saja dia tidak datang karena Filch menyiksanya dan pertandingan ini—
Belum selesai Hermione mengucapkan harapannya, tiba-tiba komentator Quidditch—seorang murid kelas 6 Hufflepuff—memecah keributan di tribun penonton dengan teriakannya, "Pertandingan Quidditch Slytherin versus Ravenclaw… DIMULAI!"
"Huuuuuuyeah!"
"Oh yeaaaah!"
"Go, go, go Ravenclaw! Go, go, go Ravenclaw!"
"Slytherin! Ayeeee ayeee….."
Suasana lapangan Quidditch dan tribun sontak bertambah ramai, membuat Hermione mengaduh kesal sembari menutup telinganya secara refleks. "Uh, shit."
Komentator Quidditch pun mulai membacakan nama-nama pemain yang mulai keluar, lalu terbang di seantero lapangan. "Ravenclaw! Josh, Grobber, Harold, Helsinki, Argen, Chang (Ginny berseru, "Demi kancut Merlin, apakah itu adik dari Cho Chang?!"), dan Escudo!"
Tribun yang penuh oleh atribut biru pun ramai. "Go, go, Ravenclaw! Go, go, Ravenclaw!"
Slytherin langsung sibuk ber-huuuu ria untuk meledek Ravenclaw.
"Sekarang… Slytherin!" Komentator itu melanjutkan dengan antusias. Hermione 250 persen yakin kalau suara komentator itu akan serak setelah pertandingan ini berakhir. "Grande, Mae, Jackson, Nott, Crabbe, Wina, dan… Malfoy!"
Walaupun Hermione sangat ingin agar kepalanya menunduk (dan tidak menatap Draco), matanya tak bisa menurut begitu saja. Manik cokelatnya tetap mengikuti sosok Draco yang terbang dengan kecepatan tinggi dan menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu memasuki lapangan.
Namun ada yang aneh dari Draco. Ketika rekan-rekannya mengenakan seragam Quidditch hijau yang resmi, jubah sewarna yang hangat, dan sweater di dalam jubah itu, Draco hanya mengenakan kemeja putih serta celana hitam dan jubah kecokelatan dengan lambang ular Slytherin di dadanya yang merupakan seragamnya hari itu.
Tribun pun sontak diramaikan oleh komentar-komentar penonton.
"Itu beneran Malfoy? Seeker Slytherin?"
"Kenapa dia belum berganti pakaian?"
"Tapi ya Tuhan, dia malah bertambah cool!"
"Setuju!"
Hermione memutar bola mata ketika mendengar komentar super-genit itu.
Ginny nyengir dan menyenggol Hermione. "Cemburu?"
"Enak saja!"
Walaupun sempat memacu keributan, masalah 'seragam' Draco langsung dilupakan ketika kedua kapten tim Quidditch bersalaman, lalu saling merebut bola yang dilemparkan ke atas oleh Madam Hooch—wasit—tanda pertandingan dimulai.
Suasana pun kembali ramai karena para penonton dan pendukung masing-masing kubu sibuk menonton sembari meneriakkan yel-yel kebanggaan masing-masing asrama yang bertanding.
Komentator Quidditch masih melaksanakan tugasnya, "Ya, Ravenclaw berhasil mendapatkan bola! Wow—bola berpindah dari Chang ke Argen—lalu ke Harold—kembali lagi ke Argen—kembali lagi ke Harold—apakah para Chaser Ravenclaw berhasil membanggakan suporter mereka karena skor pertama?—dan sepertinya… (seluruh penonton menjadi tegang karena Harold sudah mendekati gawang Slytherin)—TIDAK! WINA MELEMPARKAN BLUDGER TEPAT KE ARAH LENGAN HAROLD! Wah, untung saja Harold mampu berkelit dan…"
Suporter Slytherin pun mendesah napas lega semetara sebagian suporter Ravenclaw mengumpat-umpat.
Dari tempat duduknya, Hermione bisa melihat Draco 'lari' sejenak dari kewajibannya mencari Snitch untuk ber-toss ria dengan Wina—beater cantik Slytherin—dan Josh—Keeper Slytherin berbadan tambun.
"Hei, apakah kau memerhatikan?" tanya Ginny tiba-tiba.
Hermione menoleh. "Apa?"
"Bibir Malfoy kelihatan pucat."
Hermione kembali menatap sosok Draco—yang kembali terbang dan melesat, mengekor di belakang Seeker Ravenclaw—dan berusaha memfokuskan pandangannya untuk melihat keadaan pacar jadi-jadiannya itu. Namun ia tak berhasil karena minus yang bercokol di matanya—sekalipun kecil—menghalangi niatnya. "Masa, sih?"
Ginny mengangkat bahu. "Well, dia lumayan jauh, jadi aku tak bisa melihatnya dengan jelas dan—"
Kalimat Ginny terhenti.
Hermione menatap Ginny. "Kenapa?"
Ginny nyengir lebar. "Kenapa? Kau khawatir kalau pacar tersayangmu itu sakit?"
Wajah Hermione memerah, nyaris menyamai kulit kepiting rebus. "Hell, of course no! Demi jerawat Merlin yang bernanah, aku pacaran dengannya hanya karena sebuah game, Ginny! Berapa kali sih aku harus memberitahumu?"
Ginny tak menghiraukan Hermione. Ia malah tergelak lepas, "Hahahaha…."
Hermione mendengus kesal, kemudian kembali menatap lapangan Quidditch. Pemain-pemain masih berseliweran dan masing-masing mencoba sekuat tenaga agar lawannya tidak mencetak angka. Kali ini, bola berada di tangan Nott—Chaser Slytherin yang paling piawai—dan seluruh mata penonton terhujam ke arah putra bungsu mantan Death-Eater itu, namun tidak dengan kedua manik Hermione. Sekalipun hatinya tak ingin, mata Hermione tetap berusaha menatap bibir Draco yang—kata Ginny—berubah pucat.
Entah kenapa.
.
"Herm!" teriak Draco dari luar Asrama Ketua Murid. "Hermione!"
Hermione, yang baru saja selesai mempersiapkan air hangat beraroma lavender untuk mandinya, mendengus kesal, lalu terburu-buru membuka pintu lukisan—yang kata sandinya baru saja berubah—sebelum Draco mengumpat-umpat kasar dan mengamuk. "Iya, iya!"
Setelah pintu lukisan Nicholas Flamel itu terbuka, Draco pun masuk. Badannya menggigil, bibirnya pucat, dan wajahnya nyaris biru. Ia masih mengenakan seragam sekolah yang ia pakai saat bertanding tadi, dan sekarang, seragam itu basah-kuyup.
Hermione mengernyit. "Kau—"
Di depan Hermione, Draco bergegas membuka jubahnya dan melempar jubah mahal itu begitu saja di lantai batu.
Hermione mengira kalau pewaris tunggal keluarga Malfoy itu akan lanjut membuka kemejanya dan bertelanjang-dada—seperti kebiasaannya—sebelum baring di sofa, namun ternyata Draco tidak melakukan itu.
"Boleh aku mandi?" tanya Draco dengan suara bergetar. Ia kelihatan begitu kedinginan.
Hermione, tentu saja, tak bisa melarang. "Well… boleh."
Draco tampak ragu ketika bertanya, "Boleh aku pakai air lavendermu? Kau sudah menyiapkannya, kan?"
Kening Hermione berkerut. Ia tidak percaya kalau Draco menanyakan itu. Biasanya kan, Draco selalu menggunakan apa pun semaunya—bahkan jika itu milik Hermione—tanpa meminta izin. Bahkan kadang ia memaksa dan merampas.
Tapi sekarang?
Draco mengulang pertanyaannya, "Boleh tidak?"
Ketika melihat bibir Draco yang bergetar kedinginan, Hermione—otomatis—mengangguk kecil.
"Thanks," ujar Draco lemas, kemudian benar-benar memasuki kamar mandi dan menutup pintunya. Ia meninggalkan Hermione dengan sebuah pertanyaan yang merasuki pikiran gadis itu: sejak kapan ia mau mengalah demi seorang Draco Malfoy?
Bukankah dulu, di hadapan Harry dan Ron, ia pernah bersumpah kalau ia tidak akan mengorbankan apa pun demi Draco, bahkan jika itu mengancam nyawa Draco sendiri?
Hermione menghela napas. Kemudian—entah didorong oleh apa—ia memungut jubah Draco yang cowok itu lemparkan tadi. Ia hendak memasukkan jubah itu ke keranjang di dalam kamar Draco agar Peri-rumah bisa mencucinya, namun ketika ujung jemarinya menyentuh pakaian itu, Hermione terkesiap. Demi kurap anjing peliharaan Merlin, jubah ini nyaris membeku saking dinginnya! Pantas saja Malfoy sudah seperti orang yang terkena hipotermia!
.
.
Malam ini, Hermione memang belajar, namun—untuk pertama kalinya—ia tidak khusyuk karena memikirkan peristiwa tadi.
.
Tadi, setelah Draco selesai mandi dan sedang berganti baju di kamarnya, Hermione bergegas masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air lavender di bath-tub. Namun, di sana, sudah ada air lavender yang masih hangat.
Sejenak, Hermione ling-lung. Ia sempat berpikir kalau Draco tidak jadi mandi di bath-tub dan memutuskan untuk memakai shower, namun ketika meraba airnya—yang terlalu hangat jika disiapkan sejak tadi—ia tersadar bahwa Draco-lah yang menyiapkan air lavender tersebut setelah cowok berambut pirang platina itu selesai menggunakan bath-tub.
.
Sejak kapan Draco melakukan hal-hal manis seperti itu? batin Hermione sambil memutar-mutar bulu pena-nya tanpa sadar. Ia memutuskan untuk menutup buku Ramuan-nya sejak tadi karena konsentrasinya benar-benar buyar.
Tiba-tiba Hermione tersadar. Pft. Sejak kapan aku berpikir kalau Draco pernah melakukan hal-hal manis?! Pokoknya, semua hal yang dilakukan oleh Draco adalah hal yang buruk dan pahit!
Kemudian, Hermione berusaha menyadarkan dirinya kembali. Ia berusaha mengingat-ngingat 'tantangan' ketika membuat ramuan-ramuan ajaib, sehingga ia bisa melupakan Draco.
Ia bahkan tidak sadar kalau sejak tadi, ia mengucapkan nama 'Draco'—bukan Malfoy—di setiap perdebatan batinnya.
Baru saja Hermione selesai melupakan 'kejadian' tadi dan hendak membuka bukunya lagi, tiba-tiba suara Draco terdengar, "Herm… Hermione…."
Crap, batin Hermione kesal. Namun, walaupun begitu, entah karena apa, ia tetap mau dan sudi berjalan keluar untuk menemui parthner Ketua Murid-nya itu. "Apa?"
Ada hening sejenak sebelum Draco menjawab dengan suara lemas, "Tolong… selimutku…."
Hermione mengernyit. Ia tidak menolak maupun langsung mengambilkan Draco selimut, namun ia malah berjalan menghampiri cowok yang ternyata sedang terbaring lemas di sofa depan perapian. "Kenapa? Kau sakit?!"
TBC
Hello, I'm back!
Gimana-gimana? Di review, banyak yang komen kalau 'kurang panjang' nih :D nah, di chapter ini, aku udah nulis 3.300 lebih kata x_x gak kurang, kan? Hehe…
Oke, sekadar promosi, aku mau promosi fanfiction yang berdasarkan novelku (novel Inikah Rasanya Cinta). Kalau ada waktu, would you mind to share your thoughts? Ini link-nya: .com(garing)2015(garing)03(garing) ?m=1
Thank you! :*
