Another 5%

Remake Novel by Shanty Agatha

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun

Length: Chaptered

Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural

Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.

Dahulu kala diciptakanlah dua kekuatan yang saling menyeimbangkan.

Masing-masing memiliki 95% kekuatan otak yang telah diaktifkan, mendekati sempurna.

Kekuatan tak terduga yang diserahkan kepada dua anak manusia yang terpilih, kekuatan yang bertolak belakang.

Yang satu hitam dan yang satu putih, saling menyeimbangkan.

Karena dunia hanya bisa seimbang jika ada lawannya.

Jahat dan baik, hitam dan putih, derita dan bahagia, gelap dan terang.

Dua kekuatan itu ditakdirkan sama hebatnya, demi keseimbangan dunia.

Seharusnya dua kekuatan itu berjalan selaras dan damai, seharusnya dua kekuatan itu saling menghargai dalam kediaman yang sunyi.

Sayangnya ketika dua kekuatan itu harus saling bertentangan, satu-satunya cara memenangkan pertarungan adalah dengan mendapatkan keunggulan 5% yang tersisa.

CHAPTER 1

"Bagaimana keadaan anda, Sehun-ssi?" Joonmyeon uisanim, dokter setengah baya yang menangani Sehun itu tersenyum ramah kepadanya. Yah Sehun sudah begitu lama di rumah sakit ini hingga setiap dokter mengenalnya dengan baik. Mereka selalu melemparkan tatapan ramah dan iba, iba karena umur Sehun mungkin tidak akan lama lagi.

"Aku baik-baik saja sonsaengnim." Sehun tidak berbohong. Dia merasa amat sangat sehat. Tidak ada lagi rasa sakit yang menderanya, rasa pusing yang membuat kepalanya terasa dipukul-pukul oleh palu pun sudah menghilang, rasa nyeri di sekujur tubuhnya, yang menjalari aliran darahnya sebegitu seringnya hingga membuatnya terbiasa, sekarang sudah tiada. Sehun merasa aneh, hampir terlalu lama dia merasakan rasa sakit itu hingga terasa begitu familiar, dan sekarang begitu rasa itu tidak ada, dia merasa aneh. Aneh yang menyenangkan.

"Syukurlah, kau benar-benar tampak sehat hari ini." Joonmyeon uisanim mengamati Sehun dan merasa senang melihat perubahan penampilan lelaki itu. Sehun benar-benar tampak bercahaya dan sehat, sangat berbeda dengan kulit kusam, wajah pucat dan kuyu yang selalu ada di Sehun beberapa waktu terakhir kemarin. Dia kemudian memeriksa Sehun. Dahinya berkerut. Jantung Sehun terdengar sama kuatnya dengan manusia sehat. Dia melirik Sehun dan mengerutkan kening.

"Apakah kau tidak merasa pusing dan mual lagi, Sehun-ssi? Biasanya efek pengobatan membuatmu mual berhari-hari."

Sehun tersenyum. "Tidak ada rasa apapun sonsaengnim, aku merasa sehat." Dan memang demikian adanya.

Joonmyeon uisanim makin mengerutkan keningnya. "Kita akan melakukan pengecekan regular seperti biasa Sehun-ssi, kami akan memindai otakmu dengan MRI dan CAT untuk mengetahui bagaimana perkembangan penyakitmu."

Sehun menganggukkan kepalanya, dia sudah terbiasa dengan semua jenis pemeriksaan atas dirinya, semua suntikan itu, semua obat yang lama-lama terasa memuakkan, semuanya telah dialuinya.

Ketika Joonmyeon uisanim pergi dan menjadwalkan suster untuk mengantarnya melalui proses MRI, Sehun merasakan jantungnya berdebar. Mungkin hasil pemeriksaan akan memperlihatkan apakah pertemuannya dengan lelaki tua itu hanyalah mimpi atau kenyataan.


Setelah selesai pemindaian, Sehun diantar kembali ke kamarnya. Joonmyeon uisanim akan menemuinya besok untuk konsultasi dan membicarakan hasil prosedur pemeriksaan seperti biasanya. Sementara itu, Sehun harus menunggu, di kamarnya yang dingin dan sepi.

Jam besuk masih lama, mungkin Baekhyun masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sehun menghela nafas panjang, bagaimanapun sibuknya kekasihnya itu, Baekhyun tidak pernah melewatkan satupun kunjungan di jam besuk Sehun. Perempuan itu begitu setia, memberikan semangat hidup pada Sehun, memberikan cinta tanpa pamrih yang membuat Sehun merasa punya pegangan, punya tujuan hidup. Ketika kesakitan menderanya sampai hampir tidak tertahankan lagi, Sehun selalu memikirkan Baekhyun, memikirkan kekasihnya yang akan menjenguknya di jam besuk, dan itu memberinya kekuatan untuk berjuang dan bertahan sampai saat ini.

Sekarang Sehun sendirian, yang ingin dilakukannya pertama kali adalah mencoba turun dari ranjangnya. Dulu kegiatan itu akan sangat berbahay dilakukan, karena kaki Sehun sudah melemah, hampir tidak bisa menopang tubuhnya yang kurus dan lemah.

Tetapi sekarang Sehun merasa dirinya berbeda. Semuanya berbeda. Seluruh inderanya seakan berfungsi dengan begitu sempurna, masih samar-samar tetapi jelas-jelas menunggu untuk dibangunkan dan dipergunakan sebagaimana mestinya.

Sehun menegakkan ranjangnya, melirik kea rah lengannya yang terhubung ke sambungan infus, dengan berhati-hati agar infus tersebut tidak lepas, Sehun menegakkan tubuhnya. Sesuatu yang hampir mustahil dilakukannya dulu tanpa bantuan suster atau Baekhyun. Sekarang tubuhnya terasa ringan dan kokoh, dia menegakkan tubuhnya dengan mudah. Membuatnya terperangah. Jantungnya berdebar, dan kemudian pelan-pelan dia menggerakkan kakinya turun. Kakinya itu terasa sangat kuat dan kokoh, ketika Sehun mengayunkan terasa begitu ringan dan mudah. Lelaki itu lalu duduk miring di ranjang, termenung dan ragu.

Kemudian Sehun menjejakkan dirinya dan menapakkan kakinya ke lantai. Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada rasa sakit, tidak ada tulang yang terasa lemas, tidak ada rasa lemah dan tak berdaya. Sehun berdiri dengan sama sehatnya seperti orang yang kuat dan tegar.

Tiba-tiba dia merasakan kebenaran itu. Tidak ada yang memberitahunya, tetapi dia tahu begitu saja. Dia tahu bahwa penyakitnya sudah musnah. Sudah hilang. Seluruh tubuhnya sampai ke sel tubuhnya yang paling kecil sekalipun bekerja dengan vitalitas yang luar biasa.

Semuanya luar biasa, dan Sehunmerasa seperti manusia super.


Baekhyun berjalan tergesa-gesa dengan setengah berlari sambil membawa kantong kertas berisi jeruk di dalam pelukannya. Tadi dia sudah hampir separuh perjalanan di dalam bus hingga menyadari bahwa jeruk manis yang dibawanya khusus untuk menjenguk Sehun tertinggal di rumah. Baekhyun terpaksa turun dari bus dan kembali pulang untuk mengambil jeruk itu yang sekarang sudah ada di dalam pelukan lengannya, dan naik bus kembali menuju rumah sakit.

Setelah turun dari bus di halte terdekat dari rumah sakit, Baekhyun harus menempuh kira-kira 200 meter berjalan kaki menuju rumah sakit. Inilah kegiatan rutin yang ia lakukan setiap hari sejak Sehun masuk rumah sakit dan tidak bisa keluar lagi karena kondisinya terlalu lemah. Untunglah kakek Sehun adalah orang penting di rumah sakit tersebut dan Sehun juga berasal dari keluarga kaya, sehingga mereka tidak perlu lagi mencemaskan biaya perawatannya. Baekhyun sudah bertekat untuk selalu mendampingi Sehun di rumah sakit selama dia dirawat. Cintanya kepada Sehun begitu besar, membuatnya kadangkala merasa kasihan karena Sehun hidup sebatang kara dan kesepian.

Kedua orang tua Sehun sudah meninggal dunia. Satu-satunya keluarga Sehun adalah kakeknya yang kaya raya, pensiunan dokter bedah terkenal dan memiliki beberapa rumah sakit di pusat kota, salah satunya adalah rumah sakit tempat Sehun dirawat. Kakek Sehun sendiri sudah tidak bisa untuk menjenguk Sehun setiap hari, usianya yang hampir 80 tahun itulah yang membuatnya tidak bisa mendampingi cucunya yang sakit parah. Karena itulah Baekhyun bertekat untuk menjadi pendamping Sehun dan menjaganya.

Baekhyun teringat betapa cintanya Sehun padanya. Betapa Sehun menghormati dan menghargainya meskipun status mereka jauh berbeda. Sehun dan Baekhyun telah saling mengenal hampir seumur hidup mereka. Yah, Baekhyun adalah anak dari pelayan di keluarga Oh, keluarga Sehun. Sejak kecil, Baekhyun hidup dan dibesarkan di rumah besar Sehun. Dan ia sudah mengagumi tuan mudanya itu.

Sehun tidak pernah memperlakukan Baekhyun sebagai pelayan. Sejak mereka masih anak-anak, Sehun selalu menjaganya seperti adiknya sendiri. Bahkan di masa remaja mereka, ketika Sehun bersekolah di sekolah elit dan Baekhyun bersekolah di sekolah biasa, Sehun tetap menjaga Baekhyun. Tanpa malu-malu, bahkan sering muncul menjemput Baekhyun di waktu luangnya, membuat semua teman Baekhyun ternganga karena Sehun datang menjemputnya dengan mobil sporty mewah berwarna merah.

Baekhyun kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas berkat bantuan dari keluarga Oh. Sementara itu Sehun melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Setelah Sehun lulus dan kembali ke Korea, saat melihat Baekhyun untuk pertama kalinya sejak mereka terpisah lima tahun lamanya, saat itulah dia merasakan ada sesuatu yang berbeda.

Mereka langsung saling jatuh cinta. Begitu saja, seakan sudah ditakdirkan sebelumnya. Hubungan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena perbedaan status mereka yang mencolok. Baekhyun yang memaksa Sehun untuk menyembunyikanhubungan mereka karena dia tidak mau ada pertentangan di keluarga Oh, meskipun hampir setiap hari Sehun mengajak Baekhyun untuk mengakui cinta mereka kepada keluarganya.

Baekhyun masih merasa ragu, dia takut akan penghakiman orang-orang di sekitarnya. Dia hanyalah anak seorang pelayan, ayahnya adalah supir pribadi keluarga Oh dan ibunya hanyalah pelayan di rumah itu. Mereka tinggal di pavilion kecil di area kebun belakang rumah keluarga Oh. Kedua orang tua Sehun sangat baik padanya, membiayai pendidikannya dan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. Baekhyun begitu takut, kalau Sehun mengakui hubungan mereka, orang tua Sehun akan memandang rendah dirinya, menyebutnya tidak tahu terima kasih, dan mungkin saja seperti pandangan orang-orang pada umumnya, jika perempuan miskin menjadi kekasih tuan muda yang sangat kaya, maka dia adalah perempuan pengincar harta.

Tentu saja Baekhyun tidak pernah sekalipun memikirkan tentang harta kekayaan Sehun. Dia tidak butuh harta, dia bisa menghidupi dirinya sendiri. Setelah lulus kuliah, Baekhyun diterima bekerja di sebuah perusahaan manufacture sebagai staff accounting. Setelah merasa tabungannya cukup, Baekhyun keluar dari rumah keluarga Oh, menempati flat mungil yang disewanya dengan harga murah dan belajar hidup mandiri. Kedua orang tua Baekhyun masih hidup dan menghabiskan sisa hidup mereka di rumah keluarga Oh sebagai bagian pengabdian mereka.

Dan sayangnya, Sehun dan Baekhyun tidak sempat mengakui perihal hubungan mereka kepada orang tua Sehun. Kecelakaan pesawat telah merenggut nyawa orang tua Sehun saat mereka melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, meninggalkan Sehun sebatang kara dan hanya memiliki kakeknya yang sudah berusia lanjut, dan memiliki Baekhyun.

Sejak saat itu, kebahagiaan seolah-olah direnggut dari mereka berdua. Sehun, yang memang sering merasa pusing dan mual sepanjang hidupnya, dan kemudian ia hanya menganggapnya sebagai pusingkurang darah biasa, kini ia mulai merasa ada yang serius dengan penyakitnya. Dia pernah merasakan pusing yang begitu kuat hingga kehilangan kesadarannya. Baekhyun yang mencemaskan keadaannya memaksa Sehun memeriksakan dirinya ke dokter. Dan kemudian hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Sehun menderita kanker otak.

Baekhyun selalu berusaha menopang Sehun, saat kondisi Sehun makin memburuk, makin melemah sehingga memaksanya terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dalam waktu yang cukup lama.

Baekhyun bisa merasakan semakin lama kekasihnya Sehun makin kehilangan semangat hidup, semakin pahit untuk menatap masa depan. Bahkan ketika Baekhyun meminta Sehun untuk berserah kepada Tuhan untuk mengharapkan setitik mukjizat padanya, Sehun hanya tersenyum kecut dan bilang bahwa ia mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan. Karena Sehun merasa Tuhan seolah-olah tidak pernah ada untuknya.

Sepanjang pengetahuan Baekhyun, semangat hidup berperan penting dalam kekuatan daya tahan penderita kanker, dan dia akan berjuang keras aga Sehun selalu bersemangat, agar Sehun kuat, agar Sehun tidak meninggalkannya, karena Baekhyun tidak akan tahan jika Sehun tidak ada di dunia ini.

Lengan Baekhyun memeluk kantong kertas berisi jeruk di dadanya, berpikir Sehun pasti akan menyukainya. Sehun sangat suka makan jeruk untuk menyegarkan mulutnya yang pahit akibat efek dari obat-obatan yang diminumnya. Kadangkala Baekhyun suka mengoleskan air jeruk ke bibir Sehun yang kering, pucat dan pecah-pecah, mencoba membuatnya berwarna lagi.

Tiba-tiba ada sosok berlawanan arah yang melangkah dengan tergesa-gesa dan kemudian tidak dapat dicegah, menabraknya. Tubuh Baekhyun terbentur oleh sebuah lengan keras, membuatnya terjatuh di atas trotoar. Lengannya yang memeluk kantong kertas itupun terbuka, membanting kantong kertas itu ke trotar dan menyebarkan jeruk itu kemana-mana.

"Ya ampun!" Baekhyun masih terduduk di atas trotoar, menatap jeruk-jeruk yang bergelindingan ke berbagai arah itu dengan panik. Dia merangkak meraih jeruk yang terdekat, lalu mencoba berdiri untuk menyelamatkan jeruk-jeruk yang lain. Untunglah trotoar masih sepi karena jam pulang kantor belum berakhir, kalau tidak mungkin jeruk-jeruknya akan diinjak-injak oleh para pejalan kaki yang berhamburan menuju halte untuk pulang.

"Biar aku saja," sebuah suara yang dalam dan tenang tiba-tiba terdengar oleh Baekhyun.

"Itu adalah sosok keras yang menabraknya tadi," pikir Baekhyun. Baekhyun mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan wajah paling dingin sekaligus rupawan yang pernah dilihatnya.

Lelaki itu hanya melempar tatapan datar, lalu berdiri dan mengambil jeruk-jeruk yang berserakan dengan satu lengan. Dia mendekati Baekhyun yang sudah berdiri, memegang kantong kertas yang isinya tinggal beberapa jeruk saja.

Lelaki itu melangkah mendekat, lalu tersenyum, senyum tipis samar yang langsung merasuk ke dalam jiwa.

"Mianhae, aku menabrakmu tadi, aku kurang hati-hati," suaranya bahkan terdengar dalam dan mempesona. Baekhyun masih ternganga ketika lelaki itu memasukkan jeruk-jeruk ke dalam kantong kertas yang berada di pelukan Baekhyun.

Ketika lelaki itu selesai, Baekhyun tersadar, dia tersenyum malu karena tidak bisa menahan diri ternganga menatap lelaki yang sangat tampan itu.

"Ah, ne. Nado mianhae, aku juga melamun tadi dan tidak berhati-hati."

Lelaki itu tersenyum tipis, melirik ke arah jeruk di tangan Baekhyun, "Mau membesuk?"

Posisi mereke sekarang memang berada di dekat rumah sakit, sehingga wajar saja lelaki itu mengambil kesimpulan seperti itu.

Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Ne. Terima kasih atas bantuannya."

Tatapan intens dari lelaki tersebut membuat Baekhyun menjadi gugup. "Kalau begitu saya permisi dulu," gumamnya cepat.

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Hati-hati."

Senyum tipis masih menghiasi bibirnya dan kemudian dia berlalu melewati Baekhyun menuju arah yang berlawanan.

Baekhyun masih tertegun sambil menolehkan kepalanya, menatap punggung lelaki yang tingginya semampai, dengan rambut hitam gelap, dan pakaian serba hitam dari ujung kemejanya hingga sepatunya yang elegan. Lelaki itu tampak memasuki sebuah mobil hitam berkilat yang sudah menunggunya di dekat trotar.

Baekhyun menghela nafas panjang dan kemudian melangkah menuju rumah sakit. Lelaki setampan itu biasanya hanya ada dalam cerita-cerita novel, mungkin saja dia seorang artis atau model terkenal yang Baekhyun tidak tahu, yah… dia memang buta akan dunia mode.

Baekhyun melirik jam tangannya dan merasa panik. Dia akan terlambat untuk membesuk Sehun! Sehun pasti sedang menunggunya.

Dengan cepat Baekhyun berlari menuju rumah sakit.


Sehun tahu, bahkan sebelum Baekhyunn mendekat. Dia tahu, itu langkah-langkah kecil kekasihnya, berlari-lari kecil menuju ke kamarnya, bahkan hanya dengan memejamkan mata, Sehun bisa melihat dengan jelas visualisisa Baekhyun berlari sambil memeluk kantong kertas yang berisi jeruk manis segar di dalamnya.

Aroma jeruk segar itu bahkan sudah tercium olehnya, dengan aroma khas Baekhyun yang seperti bedak bayi.

Dan benarlah, beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Baekhyun masuk dengan nafas terengah-engah, dengan memeluk kantong kertas berisi jeruk di lengannya.

"Sehunnie, mianhae~ Tadi jeruknya ketiknggalan, jadi aku pulang lagi, aku…" Baekhyun menatap Sehun dan terperangah kaget, "Sehun? Astaga! Kau… kau bisa berdiri sendiri?"

TBC

Sorry for many typos here~

Read & Review please~