Another 5%
Remake Novel by Shanty Agatha
Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun
WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun
Length: Chaptered
Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural
Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.
.
.
.
CHAPTER 2
Sehun seketika menoleh dan melihat Baekhyun dengan wajah terkejutnya berdiri di ambang pintu. Wajah Baekhyun pucat pasi, perempuan itu benar-benar cemas. Baekhyun segera meletakkan jeruk yang dibawanya di meja dan segera menghambur menghampiri Sehun.
"Sehun! Astaga! Kau bisa berdiri sayang?" jemarinya menyentuh lengan Sehun, mencoba menopangnya. Tetapi entah kenapa lengan Sehun yang biasanya rapuh kini terasa begitu kuat dan kokoh. Baekhyun mengerutkan keningnya. Dia mendongak menatap wajah Sehun, kekasihnya ini terasa berbeda. Bahkan pancaran wajahnya pun berbeda. Sehun sama sekali tidak tampak seperti orang sakit. Sebelumnya Baekhyun maklum karena efek dari pengobatan yang dijalani terus menerus oleh Sehun telah mempengaruhi kondisinya, kulitnya menjadi kuyu dan kering, rambutnya pun mulai menipis. Tetapi sekarang lelaki di depannya kini tampak seperti Sehun yang dulu, sebelum penyakitnya yang semakin parah.
Sehun tersenyum lembut, menatap Baekhyun, kemudian meraih jemari lentik Baekhyun dan mengecupnya.
"Jangan khawatirkan aku sayang, aku sudah sembuh."
Sudah sembuh? Bagaimana mungkin?
Baekhyun menatap Sehun bingung, tetapi kemudian ia bergumam tegas, "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu Sehunnie. Tetapi sebaiknya sekarang kau istirahat demi kesehatanmu. Jangan mencoba berdiri sendiri lagi tanpa oengawasan suster atau aku, arasseo?"
Sehun hanya terkekeh, tampak geli melihat sikap tegas Baekhyun. Tetapi dia tidak membantah. Tubuhnya terasa ringan dan kuat, sama sekali tidak ada rasa sakit dan nyeri. Pendengarannya sempurna, penglihatannya luar biasa tajam, seluruh inderanya seakan-akan dilahirkan kembali dengan kualitas yang beratus-ratus kali lebih baik.
"Arasseo arasseo." Sehun setengah melompat menaiki ranjangnya, membuat Baekhyun memekik kaget. Dia kemudian berbaring dengan tersenyum lebar, tanpa memperdulikan tatapan cemas Baekhyun.
"Jangan cemberut sayang. Aku sudah berbaring bukan?"
Lama Baekhyun menatap Sehun dengan pandangan bingung bercampur tanda Tanya. Tetapi kemudian perempuan itu hanya menghela nafas dan mendesah. Seharusnya dia tidak boleh protes kalau Sehun tampak sehat den seceria ini, seharusnya dia bersyukur atas kesempatan ini. Mungkin efek obatnya berfungsi dengan baik pada Sehun sehingga bisa mengurangi rasa sakitnya.
Baekhyun menatap wajah Sehun yang sedang tersenyum lebar. Hatinya dipenuhi rasa syukur. Diserapnya senyum itu dan disimpannya di ingatannya yang terdalam. Dia akan membutuhkan semua kenangan manis itu nanti, disaat hal terburuk yang ditakutkannya terjadi. Tetapi tentu saja Baekhyun tidak akan memikirkan itu dulu. Yang terpenting untuk saat ini adalah Baekhyun berbahagia bersama Sehun dimana Sehun tampak sehat dan ceria seperti sekarang ini.
Sementara itu Sehun mengamati ekspresi Baekhyun dengan seksama. Dia tahu, Baekhyun pasti sedang kebingungan. Tetapi tentu saja Sehun tidak akan bisa menjelaskan semuanya pada Baekhyun bukan? Baekhyun pasti tidak akan percaya kalau dia bercerita tentang pertemuannya dengan lelaki tua itu, dan kemudian kemungkinan fungsi otaknya diaktifkan sampai 95% yang membuat tubuhnya bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Dia belum punya bukti secara medis karena hasil pemeriksaannya belum keluar, jadi kemungkinan besar Baekhyun akan menuduhnya sedang berhalusinasi. Mungkin nanti, saat setelah hasil pemeriksaannya keluar, Sehun akan menceritakan semuanya pada Baekhyun.
Senyum Baekhyun melebar, ia lalu mengambil kantong jeruk dan melangkah mendekati ranjang Sehun dan duduk di sampingnya.
"Aku membawakan jeruk," gumamnya dengan senyum lembutnya yang biasa. Senyum lembut yang bisa meneduhkan hati Sehun seketika.
"Aku mau," bisik Sehun serak.
Sehun mengamati wajah Baekhyun dengan penuh cinta. Betapa rasa cintanya pada Baekhyun sama kuatnya ketika dia menyadari perasaannya. Selama ini dia tumbuh bersama Baekhyun, meskipun Baekhyun merupakan anak dari pelayan di rumahnya, tetapi hubungan mereka sangat dekat dan ia sudah menganggap Baekhyun sebagai adik kesayangannya, melindungi dan menyayanginya sepenuh hati. Dan ketika mereka dewasa, Sehun menyadari bahwa Baekhyun telah mengambil hatinya dan tak bisa diminta kembali. Cintanya kepada Baekhyun semakin besar, apalagi setelah Baekhyun menunjukkan betapa besar cintanya dan setianya, menjaga dan merawat Sehun bahkan di kondisi sakitnya yang paling buruk sekalipun.
Baekhyun menundukkan kepalanya dan mengupas jeruk itu. Dan Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengulurkan jemarinya, menyentuh dagu Baekhyun dan mendongakkannya.
"Gomapta, karena telah mendampingiku sampai sejauh ini," suara Sehun terdengar serak menahan perasaannya.
"Saranghae, Baekhyunnie. Jika Tuhan memberiku kesempatan, aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu sayang."
Mata Baekhyun berkaca-kaca mendengar kalimat Sehun yang diucapkan sepenuh hati. Sebutir air mata menetes di salah satu pipinya.
"Nado saranghae, Sehunnie. Sungguh, dengan sepenuh hatiku," gumamnya dengan bibir bergetar.
Jemari Sehun meraih kepala Baekhyun untuk mendekat, dan bibir mereka pun bertemu, berpadu dengan penuh cinta di ruangan rumah sakit yang sunyi dan bernuansa putih.
"Aku sudah menemukannya."
Chanyeol duduk di ruang kerjanya, menatap tajam kea rah pelayan pribadinya yang setia.
"Karena dia sudah memberikan kekuatannya pada Sehun, dia tidak punya pelindung lagi. Dan dia tidak bisa sembunyi lebih lama lagi dariku."
Jongin berdiri di sana, menatap gugup pada tuannya yang dingin dan kejam.
"Bukankah menurut aturan semesta, kita tidak bisa mengejar mantan pemegang kekuatan? Karena orang itu sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melindungi diri dari anda, tuan. Sudah berabad-abad aturan itu dipegang oleh para pemegang kekuatan. Mereka tidak boleh membunuh siapapun yang sudah menyerahkan kekuatannya."
Mata Chanyeol tampak dingin dan tajam.
"Apakah kau ingin mengguruiku? Apakah kau pikir aku tidak tahu semua aturan bodoh tentang alam semesta itu? Aku tahu bahwa aku dilarang membunuh mantan pemegang kekuatan karena dia sekarang sudah menjadi manusia yang lemah sama seperti yang lain. Tetapi lelaki tua itu telah begitu lama menyulitkanku dan mengganggu seluruh rencanaku, dan dia bahkan memberikan kekuatannya pada Sehun, seorang lelaki yang sudah mempunyai cinta sejati, dan itu membuatku kalah satu langkah."
Mata Chanyeol meyipit tajam.
"Aku tahu lelaki tua itu sudah merencanakan semuanya untuk menghancurkanku. Dia adalah duri dalam daging dan dia harus dilenyapkan." Senyum jahat muncul di bibirnya. "Dan aku akan mengunjunginya malam ini."
Jongin hanya menunduk diam, gemetar karena aura keji yang dipancarkan oleh Chanyeol. Tetap jantungnya berdebar kencang. Dia ketakutan. Dengan membunuh Jongwoon, lelaki tua pemegang kekuatan sebelum diserahkan pada Sehun, maka Chanyeol akan melanggar hukum semesta. Semua keseimbangan yang sudah dijaga baik-baik akan kacau. Bumi akan terancam.
Tetapi siapa pula yang berani melawan tuannya ini? Chanyeol adalah manusia yang diberkahi kekuatan dahsyat, kekuatan untuk mengaktifkan 95% dari kemampuan otaknya. Dan kalau Sehun di sisi putih sebagai kekuatan baik, maka Chanyeol ada di sisi hitam sebagai penyeimbangya. Sebagai kekuatan jahatnya.
Jongwoon tahu, dia memang sudah kehilangan kekuatannya setelah dia menyerahkan secara sukarela pada Sehun. Seharusnya memang dia bisa hidup lama, orang yang memegang kekuatan itu akan memiliki umur panjang, dan kekuatan yang luar biasa.
Tetapi Jongwoon merasa lelah. Dia lelah bertarung dengan Chanyeol yang begitu berambisi untuk menghancurkan dunia. Dia lelah sendirian di dunia, menua sendiri sementara orang-orang yang dicintainya meninggal satu persatu. Dia hanya ingin beristirahat, menyusul istrinya yang telah lama pergi, jauh sebelum dia menerima kekuatan itu.
Entah kekuatan itu bisa dinyatakan sebagai kutukan atau anugerah. Seperti pepatah yang selalu didengarnya, "kekuatan yang besar hampir pasti akan selalu disertai oleh tanggung jawab yang tak kalah besarnya". Dia adalah penyeimbang mewakili terang dan kebaikan. Hanya ada satu di dunia ini. Lawannya, juga satu-satunya di dunia ini adalah penyeimbang mewakili kegelapan dan kejahatan.
Chanyeol memang sesuai dengan kekuatannya, dia begitu kejam dan jahat. Hasrat satu-satunya mungkin menghancurkan dunia ini. Tetapi bagaimanapun dasarnya Chanyeol memang harus ada. Karena tidak aka nada terang kalau tidak ada kegelapan, tidak ada kebaikan kalau tidak ada kejahatan. Semua harus saling menyeimbangkan.
Sayangnya hasrat kelam Chanyeol pada akhirnya membuatnya semakin berambisi untuk menghancurkan Jongwoon. Chanyeol rupanya tidak menginginkan keseimbangan seperti aturan yang dibuat semesta untuk mengikat mereka. Dia ingin seluruh dunia dikuasai oleh kegelapan.
Tetapi tentu saja Chanyeol tidak akan pernah bisa melenyapkan Jongwoon. Di masa lalu, Chanyeol berkali-kali menyerang Jongwoon, mencoba membunuhnya. Sayangnya sudah aturan semesta bahwa mereka tidak akan pernah bisa membunuh satu sama lain, karena kekuatan mereka sama persis. Mereka sama-sama bisa mengaktifkan kekuatan otak mereka sampai 95%. Itu artinya, jika salah satu menyerang, mereka akan mengeluarkan kekuatan dengan intensitas yang sama, dan bisa menyembuhkan diri dengan intensitas yang sama pula. Yang berarti perang imbang yang kosong tanpa adanya pemenang.
Rahasia dari kemenangan itu adalah cinta sejati. Cinta sejati itu adalah pasangan, yang bisa membuat sang pemegang kekuatan bisa mencintai dengan sepenuh hati, begitu juga sebaliknya. Jika sang pemegang kekuatan berhasil menemukan cinta sejatinya, dan pada titik akhir, sang cinta sejati bersedia untuk mengorbankan diri, maka sang pemegang kekuatan akan mendapatkan 5% kekuatan yang tersisa, menjadikan otaknya aktif hingga 100%. Dengan keunggulan itu maka sang pemilik cinta sejati bisa mengalahkan lawannya.
Sayangnya Jongwoon tidak pernah bisa menemukan cinta sejatinya. Jauh di dalam hatinya dia sadar bahwa cinta sejatinya sudah pergi, terkubur bersama jasad istrinya yang telah meninggal begitu lama. Sejak saat itu, dia tahu meskipun dia berusaha, dia menipu hatinya sendiri. Dia sudah tidak bisa mencintai lagi, yang berarti itu menutup kemungkinan dirinya dapat mengalahkan Chanyeol.
Untunglah, demikian halnya dengan Chanyeol. Sampai sekarang lelaki itu masih belum bisa menemukan cinta sejatinya. Chanyeol terlalu kejam dan jahat untuk jatuh cinta. Hingga dia tidak bisa mendapatkan keunggulan yang dia inginkan, kesempatan untuk memperoleh kekuatan 5% itupun tertutup untuknya.
Jadi begitulah yang terjadi. Selama bertahun-tahun Chanyeol dan Jongwoon bertarung tanpa bisa menemukan pemenangnya. Pertarungan itupun membuat Chanyeol frustasi dan melampiaskan pada manusia tak berdosa. Semua bencana yang terjadi di penjuru dunia, angina rebut, gempa bumi, dan semua kekacauan alam lainnya yang tidak terncana, yang tidak terdeteksi dan merenggut beribu-ribu nyawa makhluk hidup tak berdosa, semua itu adalah hasil dari kekuatan Chanyeol ketika dia marah.
Chanyeol sangat kejam, nyawa manusia baginya sepadan dengan nyawa semut. Makhluk kecil yang dianggapnya tidak berguna bisa ia bunuh kapan saja. Dan ketika semua bencana itu semakin sering terjadi, Jongwoon tahu bahwa ia tidak boleh berdiam diri. Chanyeol harus dihentikan.
Jongwoon berkelana untuk mencari manusia terbaik. Manusia yang berhati suci yang pantas menerima kekuatannya. Dan yang terpenting, manusia itu harus memiliki cinta sejatinya. Cinta sejatinya yang kuat, dan mau berkorban pada akhirnya. Dan Jongwoon menemukan semua hal itu pada Sehun dan Baekhyun. Dia menyerahkan kekuatannya pada Sehun dengan harapan ketika tiba waktunya, Sehun dapat mendapatkan tambaha kekuatan 5% dari cinta sejatinya, dari Baekhyun, dan kemudian mengalahkan Chanyeol, menghentikan semua kekacauan yang begitu banyak memakan korban di dunia ini.
Semua itu memang ada konsekuensinya. Dengan menyerahkan kekuatannya, Jongwoon sekarang menjadi manusia lemah. Manusia biasa yang tidak punya kekuatan apa-apa dan tidak punya perlindungan. Tetapi hal itu tidak masalah, asalkan kejahatan Chanyeol bisa dihentikan. Sekarang, setelah kehilangan kekuatannya, Jongwoon bisa hidup tenang, karena aturan semesta melarang Chanyeol untuk membunuhnya, mantan pemegang kekuatan yang lemah.
Tetapi dia tahu, Chanyeol tidak pernah mematuhi peraturan semesta. Jongwoon tahu Chanyeol telah menunggunya, meskipun sudah tidak memiliki kekuatan, tapi dia bisa merasakan aura kejam yang disebarkan Chanyeol melalui tubuhnya. Rasanya seperti menjemput kematian yang sudah menghadangnya. Tetapi Jongwoon enggan berlari, dia sudah lelah.
Jongwoon membuka pintu apartemennya dan melihat apa yang sudah diantisipasinya. Chanyeol duduk dengan nyaman di kursi besarnya, dan tersenyum ketika melihat Jongwoon masuk.
"Selamat datang, Jongwoon-ah. Mianhae, aku masuk rumahmu tanpa permisi."
Jongwoon menatap Chanyeol dengan jijik. "Sudah kuduga, kau akan melanggar peraturan semesta dan mengejarku."
Tanggapan Chanyeol atas hinaan itu hanyalah sebuah kekehan pelan. Lelaki itu menatap Jongwoon tajam. "Tentu saja kau tidak akan mengira bahwa aku akan melepaskanmu begitu saja Jongwoon-ah. Kau sudah menggangguku begitu lama. Dan aturan semesta sama sekali tidak berpengaruh untukku. Akulah semesta itu, dan akulah yang menguasai semuanya."
Suaranya merendah, dia menggerakkan sedikit ujung jarinya dan dalam sekejap, tubuh Jongwoon rubuh dan berlutut di hadapannya. Sebesar itulah kekuatan Chanyeol. Hanya dengan menggerakkan ujung jarinya, dia bisa menggerakkan benda dengan sesuka hatinya.
Chanyeol menyilangkan kakinya dengan pongah sambil menatap Jongwwon yang terperangkap oleh tubuhnya sendiri, berlutut dan tak bisa bergerak di hadapan Chanyeol.
"Bagaimana rasanya, heum? Berlutut di depan musuhmu yang sangat kau benci?" lelaki itu tertawa kejam. "Pasti rasanya sangat menyakitkan."
Jongwoon mengangkat matanya meskipun lehernya terasa amat kaku dan tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan, terkunci di sana. Dia menatap Chanyeol penuh kebencian.
"Tubuhku berlutut tapi hatiku tidak. Kau akan musnah, Chanyeol. Penggantiku, dia memiliki cinta sejatinya. Kau hanya tinggal menunggu saat kekalahanmu tiba."
Chanyeol tergelak.
"Penggantimu hanyalah seorang pesakitan bodoh yang tak bisa apa-apa. Dan kau menyuruhnya menghadapiku?" Tawa Chanyeol makin keras.
"Tidak kusangka kau begitu bodoh Jongwoon-ah. Aku mungkin tidak akan mendapatkan cinta sejatiku, tapi aku bisa membuat penggantimu kehilangan cinta sejatinya."
Mata Jongwoon membelalak. "Apakah kau akan mengincar perempuan tak berdosa itu?"
"Semua ini kesalahanmu Jongwoon. Mereka dulunya hanya pasangan yang berbahagia dan tak berdosa. Kaulah yang menempatkan mereka sebagai musuhku. Dan aku akan menghancurkan mereka."
Chanyeol berdiri tepat di hadapan Jongwoon yang berlutut, matanya melirik ke bawah dengan sinar yang kejam. "Dan sebagai penghormatan kepadamu, aku akan mencabut nyawamu dengan cepat. Kau tidak akan merasa tersakiti."
Dari ujung jemari Chanyeol keluarlah api berwarna biru, dan mengarahkannya ke tubuh Jongwoon yang masih berlutut. Api biru itu menyelubungi tubuh Jongwoon, hanya sekejap, bahkan Jongwoon tidak sempat merasakan apa-apa. Dan beberapa detik kemudian, api itu mati, menyisakan tubuh Jongwoon yang berubah menjadi butiran abu yang berserakan di lantai.
Chanyeol tersenyum puas melihat buliran abu Jongwoon. Dia lalu melangkah keluar dari apartemen Jongwoon, kakinya menginjak buliran abu itu, membuatnya bertebaran dan berserakan.
"Sudah jam delapan malam, aku harus pulang." Baekhyun tersenyum saat melihat Sehun yang tiba-tiba berekspresi sedih.
Diraihnya jemari Sehun dan diremasnya. "Kau tahu kan aku sebenarnya sangat ingin tidur di sini setiap malam, menungguimu. Tapi pihak rumah sakit tidak mengizinkannya demi kesehatanmu. Kita seharusnya bersyukur karena ada dispensasi dari pihak rumah sakit sehingga aku bisa menginap di sini setiap akhir pekan."
Sehun hanya menganggukkan kepalanya, menghapus ekspresi sediih dari wajahnya. Dia mengerti.
"Mianhae, aku hanya merasa tidak suka jika harus jauh darimu sayang." Meskipun hal ini hanya perlu dipertahankannya sebentar lagi. Dia yakin ketika hasil pemeriksaannya sudah keluar, para dokter akan mengetahui kalau dia sudah sembuh total. Sehun akan segera keluar dari rumah sakit ini dan bisa memiliki waktu sebebas-bebasnya bersama Baekhyun.
Baekhyun tersenyum lembut, lalu mengecup dahi Sehun. "Jaga dirimu sayang, aku akan kembali lagi besok," bisiknya tak kalah lembut.
Ketika Baekhyun sudah melangkah di ambang pintu, Sehun kembali memanggilnya.
"Baekhyun-ah?"
Baekhyun langsung menghentikan langkahnya. "Heum? Wae gurae Sehunnie?"
"Hasil pemeriksaanku tadi pagi akan keluar besok. Kau mau kan menemaniku ketika dokter mebicarakannya?" Sehun memastikan Baekhyun aka nada di sana saat dokter memberitahukan kesembuhannya.
Baekhyun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja aku mau sayang."
Perempuan itu meniupkan kiss-bye kepada Sehun. "Saranghae, Sehunnie."
"Nado saranghae Baekhyun."
Baekhyun berjalan keluar dari rumah sakit dan melangkah menuju halte bus. Beberapa lama dia berdiri di sana, dan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, tanpa peringatan menimpanya begitu saja. Baekhyun mendesah dalam hatinya. Dia berdiri sendirian di halte bus sambil memeluk tubuhnya yang setengah basah melawan angin dingin yang menghembusnya.
"Apakah kau membutuhkan paying?" suara familiar itu terdengar di sebelahnya. Baekhyun mendongak dan membelalakkan matanya. Yang berdiri di sebelahnya adalah lelaki misterius yang ditabraknya tadi. Kenapa tadi dia tidak merasakan kehadiran lelaki itu? Sejak kapan lelaki itu berdiri di sebelahnya?
Lelaki itu tersenyum lembut sambil mengulurkan payung besar berwarna hitam. "Kau bisa memakai payungku."
Baekhyun melirik ke arah payung yang diulurkan kepadanya, kemudian beralih menatap wajah Chanyeol yang luar biasa tampan. Dia bingung.
"Eh, tapi nanti anda akan tidak punya payung dan kehujanan."
Senyum lelaki itu melebar. "Mobilku akan datang sebentar lagi untuk menjemputku, dan aku tidak menbutuhkan payung. Aku senang bisa menolongmu, ambil payung ini." Jemarinya terulur lagi mendekatkan payung itu pada Baekhyun, dan mau tak mau Baekhyun menerimanya, menatap lelaki itu penuh terima kasih.
"Gamsahamnida, jeongmal gamsahamnida. Jika ada kesempatan saya akan mengembalikan payung anda."
Lelaki itu tersenyum. "Aku yakin pasti ada kesempatan itu." Lelaki itu mengulurkan tangannya. "Park Chanyeol."
Baekhyun membalas uluran tangan itu, matanya menatap kea rah Chanyeol. "Byun Baekhyun."
Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Baekhyun-ssi, mobilku sudah datang. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan." Lelaki itu setengah membungkuk, kemudian melangkah dengan tenang menembus hujan, masuk ke dalam mobil hitam yang berhenti di pinggir jalan.
Mobil hitam itupun berlalu membelah hujan, meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku sambil memeluk payung hitam di tangannya.
TBC
Read & Review please~
