Another 5%

Remake Novel by Shanty Agatha

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun

Length: Chaptered

Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural

Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.


CHAPTER 3

"Baekhyun-ssi, tolong cek ulang hasil rekonsiliasi bank ini. Di sini dilaporkan ada transaksi debit di rekening koran yang belum dibukukan di General Ledger, tapi kulihat angka itu barusan sudah dimasukkan ke General Ledger tanggal 3 Mei, mungkin kita bisa menyesuaikan rekonsiliasi ini sebelum tutup buku." Kim Minseok, atasan langsung Baekhyun di bagian accounting kantor mendatanginya sambil menunjukkan berkas laporan Baekhyun.

"Ne, saya akan melakukan koreksi angka. Saya akan mengecek di General Ledger," gumamnya sopan.

"Baiklah, nanti kirimkan soft copynya saja melalui e-mail. Aku akan melakukan pemeriksaan akhir sebelum report itu dicetak." Perempuan itu lalu melangkah pergi dan masuk kembali ke ruangannya. Sementara itu Baekhyun kembali berkutat dengan pekerjaannya. Inilah pekerjaan Baekhyun setiap harinya, sebagai seorang accounting di sebuah perusahaan yang bergerak di bagian retail.

Matanya melirik ke arah jam dinding di tengah ruangan. Hari ini dia tidak boleh terlambat, Sehun sudah memintanya untuk menemani mendengarkan hasil pemeriksaan dari dokter. Entah kenapa ini tampak begitu penting untuk Sehun. Bahkan sebelumnya Sehun sempat menolak untuk mendengarkan hasil pemeriksaannya karena semua mengarah pada hal yang sama. Bahwa penyakitnya semakin parah.

Baekhyun menghela nafas panjang, mungkinkah sekarang kekasihnya itu memiliki harapan baru? Baekhyun membayangkan wajah ceria Sehun dan dia merasakan secercah harapan itu ada. Harapannya bersama Sehun.


Saat jam kantor selesai, Baekhyun bergegas mengemasi tasnya dan melangkah pergi. Biasanya dia masih sempat untuk pulang dan mandi sebelum berangkat ke rumah sakit, tapi karena begitu banyaknya pekerjaan menjelang laporan tutup buku, Baekhyun sepertinya harus langsung menuju ke rumah sakit.

Pintu lift terbuka. Saat Baekhyun hendak melangkah masuk, seseorang keluar dari lift, mereka berdiri berhadap-hadapan dan Baekhyun pun ternganga.

Dia, dia lelaki yang sama yang ditabraknya kemarin, dan yang meminjaminya payung! Ya ampun! Sungguh suatu kebetulan mereka bisa bertemu terus-menerus. Siapa namanya? Baekhyun masih mencoba mengingat-ingat.

"Chanyeol, namaku Park Chanyeol, Baekhyun-ssi," lelaki itu tersenyum, bergumam dengan suaranya yang dalam. Membuat Baekhyun kaget. Bagaimana bisa lelaki itu mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Baekhyun merasa malu, pipinya merona merah karenanya.

Tetapi kemudian dia teringat sesuatu. "Payung! Payungnya ada di ruangan saya, sebentar saya ambilkan." Baekhyun hendak mengambil payung hitam yang ada di ruangannya, tetapi jemari yang kuat itu tiba-tiba menahan lengannya. Membuat Baekhyun menoleh dan menatap kaget Chanyeol yang berekspresi tenang dengan senyum tipisnya.

"Nanti saja Baekhyun-ssi, kau bisa mengembalikan payung itu kapan saja." Suaranya terdengar begitu tenang. "Sudah kubilang, kita akan punya banyak kesempatan untuk bertemu nanti."

"Banyak kesempatan untuk bertemu? Apa maksudnya?"

Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun yang menatap ke jemarinya yang sedang mencengkeram kuat lengan perempuan itu. "Ah, mianhae."

Chanyeol melepaskan pegangannya. "Sungguh tidak sopan mencekal perempuan seperti itu. Sepertinya kau terburu-buru?" senyumnya lembut.

"Ah ya! Sehun!" Baekhyun seketika teringat bahwa ia hampir terlambat.

"Saya harus segera pergi. Payung itu, nanti akan saya kembalikan." Baekhyun setengah membungkuk dengan sopan, kemudian memasuki lift meninggalkan Chanyeol. Dia masih sempat melihat ekspresi wajah Chanyeol sebelum pintu lift tertutup. Lelaki itu tersenyum. Tetapi senyumnya tampak sedikit kejam.


Chanyeol menelusuri lorong perusahaan tempat Baekhyun bekerja, menuju ruangan paling ujung, ruangan sang pemilik perusahaan. Salah satu cara termudah untuk mendekati Baekhyun adalah dengan menguasai tempatnya bekerja. Baekhyun menghabiskan waktunya di sini selama delapan jam sehari, dan kemudian menghabiskan waktunya di rumah sakit.

Baekhyun adalah cinta sejati sang pembawa kekuatan baru, Sehun, perwakilan kekuatan baik yang sekarang menjadi batu sandungannya. Aturan alam semesta yang menurutnya konyol itu melarangnya untuk membunuh cinta sejati lawannya. Jadi Chanyeol tidak bisa membunuh Baekhyun begitu saja. Bahkan ada beberapa kekuatannya yang tidak mempan terhadap tubuh Baekhyun, Chanyeol sudah mencoba menguasai tubuh Baekhyun menggunakan kekuatannya, tetapi tampaknya Baekhyun tidak merasakan apapun.

Satu-satunya cara untuk membuat Sehun kehilangan cinta sejatinya adalah dengan membuat Baekhyun tidak mencintai Sehun lagi. Dan dengan seluruh pesonanya, dia akan membuat Baekhyun mencintainya, dan berpaling meninggalkan Sehun hingga membuat lelaki itu lemah. Chanyeol mungkin saja tidak bisa jatuh cinta karena kutukan hatinya yang kejam, tetapi dia tidak keberatan bermain-main dulu dengan Baekhyun.

Chanyeol tersenyum tipis saat membuka pintu ruangan pemilik perusahaan. Sang pemilik perusahaan, Ahn Tony, tampak masih sibuk dengan laptopnya. Dia mendongakkan kepalanya melihat pintu ruangannya dibuka tanpa permisi, dan mengerutkan keningnya saat dia merasa tidak mengenali tamunya.

"Apa-apaan ini? Nuguseyo?" Ahn Tony setengah berdiri hendak memanggil keamanan.

Tetapi dalam sekejab Chanyeol menjetikkan ujung jarinya hingga Ahn Tony terduduk lagi, tidak bisa bergerak. Lelaki itu pucat pasi, wajahnya menyiratkan ketakutan saat Chanyeol semakin mendekatinya. Chanyeol tersenyum melihat ketakutan di wajah Ahn Tony.

"Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu." Telunjuknya terjulur menyentuh dahi Ahn Tony. "Segera setelah ini, kau akan menjadi budakku."

Ahn Tony mengernyit merasakan rasa panas di dahinya, di tempat yang disentuh oleh Chanyeol. Kemudian semuanya gelap, kosong. Bahkan cahaya di matanya yang semula menyiratkan emosi, menjadi kosong dan hampa.

"Irheona," gumam Chanyeol dingin.

Ahn Tony bergerak layaknya robot hidup, langsung berdiri dan memberi tempat untuk Chanyeol. Dengan angkuh, Chanyeol menempati kursi pemilik perusaahan itu.

"Mulai sekarang, aku adalah pemilik perusahaan ini. Kau menjualnya kepadakau karena kau membutuhkan uang. Mulai sekarang, jabatanmu hanyalah CEO perusahaan ini, bukan lagi pemiliknya. Besok kau akan mengurus surat-surat pemindahan kepemilikan perusahaan. Aku akan memberikan uang senilai perusahaan ini." Chanyeol memang kaya. Meskipun dia bisa saja membuat Ahn Tony memberikan perusahaannya secara cuma-cuma, tetapi Chanyeol pantang melakukan hal yang menyinggung harga dirinya, yaitu menerima sesuatu dengan cuma-cuma. Lagipula dia sangat kaya, dia bisa mengubah batu menjadi emas dan berlian jika dia mau. Membeli perusahaan kecil tidak akan ada artinya.

Pandangan Ahn Tony tetap kosong, dan lelaki itu manganggukkan kepalanya, menurut.

"Saya akan siapkan semuanya, tuan," gumamnya dengan nada datar dan kosong layaknya robot hidup.

Chanyeol tersenyum, menatap sinis kea rah Ahn Tony yang begitu lemah dan mudah untuk jatuh dalam kuasanya. Para manusia memang makhluk yang mudah untuk dikuasai. Dan sebentar lagi, dia akan menguasai Baekhyun. Dengan caranya sendiri.


"Sembuh?!" Baekhyun hampir berteriak keras di ruangan Joonmyeon uisanim. Dia menatap sang dokter dengan tatapan bingung dan takjub, lalu beralih menatap Sehun yang tampak tenang-tenang saja mendengar kabar itu. "Maksud anda? Sel-sel kankernya? Sudah tidak ada lagi? Tapi bagaimana mungkin?"

"Kami juga terkejut, tetapi hasil pemeriksaan kemarin menunjukkan bahwa tidak ada kanker di jaringan otak tuan Sehun, semua bersih. Tuan Sehun benar-benar sehat. Tapi tentu saja untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan prosedur, kami akan melakukan pemeriksaan ulang."

"Itu tidak perlu dilakukan, aku tahu kondisi badanku sendiri. Nan gwaenchana."

"Sehun!" Baekhyun berseru tanda ia tidak setuju. "Kau tidak bisa melakukan itu, kita harus benar-benar memastikan kondisi badanmu. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu.

"Tenang sayang, sudah kukatakan aku baik-baik saja. Sangat merasa baik malahan." Sehun tersenyum lebar. "Ini memang suatu mukjizat, tetapi aku sendiri tidak bisa terkejut, aku sudah merasakannya dari kemarin, semua rasa sakitku hilang."

"Sehun memang tampak sangat baik kemarin." Baekhyun merenung. Tetapi jantungnya masih berdebar antara penuh harapan dan ketidak percayaan. "Benarkah ini? Benarkah semua ini? Mungkinkah ada keajaiban hingga Sehun sembuh total? Apakah ini kenyataan atau hanyalah mimpi?"

"Jebal, Sehunnie. Lakukan pemeriksaan sekali lagi untuk memastikan semuanya," bibir Baekhyun bergetar. "Kalau kau tidak mau melakukannya demi dirimu, lakukanlah demi aku."

Sehun mengernyit, menatap Baekhyun dan dokter bergantian. Merasa sedikit kesal karena mereka susah sekali untuk percaya bahwa dia sudah sembuh total.

Tetapi kemudian hatinya luluh melihat ekspresi Baekhyun yang pucat pasi dan berkaca-kaca. Memang semua ini tidak bisa dijelaskan dengan nalar dan akal sehat. Apalagi mungkin bagi Baekhyun hal ini pasti benar-benar membuatnya shock.

"Arasseo. Baiklah, lakukan tes apapun padaku besok." Matanya menatap dokternya sambil menganggukkan kepala. "Meskipun aku bisa menjamin bahwa hasilnya akan menunjukkan hal yang sama, bahwa aku sudah sembuh total."

Setelah keluar dari ruangan dokter, Baekhyun mengernyit mengetahui bahwa Sehun berjalan sendiri. Saat mereka pergi menuju ruangan dokter, Baekhyun mendorong Sehun menggunakan kursi sekarang Sehun menolak menaiki kursi rodanya dan melangkah tenang keluar ruangan, membuat Baekhyun mengikutinya dengan panik.

"Sehun, kursi rodanya~"

Sehun menoleh, tersenyum lebar, lalu meraih tangan selly dan menggandengnya, meremas kuat penuh cinta. "Aku sudah sembuh sayang, aku bisa melakukannya sendiri. Tidakkah kau lihat? Apakah begitu susah bagimu untuk menerima kenyataan ini?"

Ini seperti mimpi bagi Baekhyun, keajaiban yang menjadi nyata. Mimpi dimana Sehun berdiri di depannya dengan keadaan benar-benar sehat. Dan sekaran ini adalah kenyataan. Benarkah Sehun benar-benar sembuh? Bisakah dia mempercayai keajaiban ini?

Jemari Baekhyun bergetar, menutup mulutnya, berusaha menahan perasaannya. Air matanya mengalir deras di pipinya. Seketika itu juga mata Sehun melembut, merengkuh tubuh mungil Baekhyun dalam pelukannya.

"Aku sudah sembuh sayang, setelah hasil tes kedua besok, aku bisa keluar dari rumah sakit, dan setelahnya, kita akan menikah, okay?"

Baekhyun tidak bisa berkata-kata, hanya menangis dan menenggelamkan kepalanya dalam pelukan dada bidang Sehun.


Bahkan pagi ini di kantor, Baekhyun masih merasa seperti bermimpi. Sehun menghubunginya dan mengatakan akan menjalani tes ulang. Di pagi hari saat ia terbangun, Baekhyun didera ketakutan saat membayangkan bahwa kesembuhan Sehun bukanlah hal yang nyata, bahwa itu hanyalah kesalaha saat pemeriksaan. Tetapi saat menerima telepon dari Sehun yang terdengar ceria dan mengatakan akan melakukan tes ulang, hal itulah yang menggoda Baekhyun tentang keyakinan bahwa hasil tesnya tidak akan berubah.

Pagi itu Baekhyun dipenuhi doa dalam hatinya, berdoa semoga mukjizat pada Sehun benar-benar nyata, berdoa semoga tes kali ini benar-benar membuktikan bahwa Sehun benar-benar sembuh.

"Baekhyun?"

Baekhyun mendongak dari lamunannya dan langsung bertatapan dengan Minseok yang tampak serius. "Ne, Minseok-ssi?"

"Ikut aku ke ruangan direksi, ada hal penting yang akan dibicarakan."

"Dia? Ke ruangan direksi? Untuk apa?" Ruangan direksi hanya digunakan untuk rapat-rapat penting kelas atas. Bukan dalam kapasitas Baekhyun sebagai staff untuk berada di sana.

Tetapi Minseok sudah melangkah mendahuluinya tanpa menunggu jawaban Baekhyun sehingga mau tak mau Baekhyun harus mengikuti menuju ruangan direksi. Mereka melalui lorong yang panjang dan berhenti di sisi kiri lorong, tempat ruangan besar yang sering digunakan untuk rapat penting. Minseok membuka pintu, dan menoleh ke arah Baekhyun.

"Masuklah."

Mau tak mau Baekhyun mengikuti Minseok memasuki ruangan itu. Yang ada di dalam ruangan itu tak terbayang olehnya. Seluruh jajaran direksi duduk di sana, bahkan ada Ahn Tony, sang pemilik perusahaan. Tetapi yang membuatnya terkejut adalah seseorang yang duduk di kepala meja, yang menandakan bahwa posisi tertinggi di perusahaan ini bukanlah Ahn Tony, melainkan lelaki itu, Park Chanyeol yang duduk di kepala meja dengan posisi angkuh dan elegan.

Mata lelaki itu datar tak terbaca ketika melihat Baekhyun.

"Duduklah Baekhyun-ssi," suara Chanyeol dalam dan tenang. Menggetarkan hati semua orang yang berada dalam ruangan itu.

TBC

Read & Review please~