Title : The Lost Symbol
Author : DeathSugar
Chapter : 1
Cast : EXO | Luhan | Kris Wu (ya karna Kris dan Luhan sudah gak di EXO lagi jadinya dibikin cast sendiri ya.)
Genre : Fantasy, Action, Violence, BL, little bit romance
Disclaim : I'm not own that boys here, I just own story line and dirty mind on my head .
Coment : HunHan is Justice ! *dikepret* mohon kritik dan sarannya~ '3')/
][ DeathSugar ][
Kobaran api itu semakin membesar, bersamaan dengan kilatan-kilatan cahaya putih yang membelah langit. Sosok dengan tatapan mata elang itu menatap sosok yang berada dihadapannya dengan tatapan membunuh yang kuat. Pemuda dengan kobaran api yang membumbung tinggi dibelakangnya itu—tunggu—itu bukan api yang membumbung tinggi melainkan sebuah naga yang tengah terbang dengan api yang membakar seluruh tubuhnya.
Sosok dihadapannya itu hanya mengumpat pelan ketika kilatan cahaya putih miliknya dapat sosok itu hindari. Mata coklatnya berkilat kesal. Tubuhnya terasa hancur lebur, namun dirinya tidak ingin menyerah dihadapan Pemuda itu.
Pemuda itu kembali mendecih, mengusap darah yang mulai mongering disudut bibirnya. Ia mencoba kembali menegakkan tubuhnya, menjadikan tangannya sebagai tumpuan tubuhnya. Ia mendesis ketika kembali ia rasakan tubuhnya terasa sangat linu.
"tidak ingin menyerah?" pemuda dengan tatapan setajam elang itu menyunggingkan senyum tipis-yang lebih tepat dibilang sebuah seringaian-kepada pemuda yang tengah terpuruk diatas tanah itu.
Pemuda yang menumpukan tangannya itu tersenyum simpul, mencoba mengumpulkan seluruh kekuatan dan tenaga terakhirnya, membuat kilatan-kilatan dilangit yang kelabu pekat itu seakan terbelah. Suara-suara petir itu kembali saling bersautan bersamaan dengan kilatan-kilatan putir yang menyambar dan kemudian berkumpul menjadi satu.
"setidaknya.. kalau aku kalah.. aku tidak akan mati sia-sia." Pemuda berambut gelap itu kembali terbatuk, memegangi dadanya yang kembali terasa nyeri.
"kenapa tidak menyerah saja, Chen?" suara lembut itu bukan milik pemuda yang tengah melayang diatas sana. Mata beningnya menatap kearah pemuda petir itu—Chen dengan tatapan yang lembut. "ikutlah bersama kami.." ia melangkahkan kakinya, mengabaikan sambaran petir milik Chen yang seakan ingin mencegah sosok manis itu mendekat kearah Chen—yang sebenarnya terasa sia-sia. Petir Chen tidak mengenai sosok manis itu sedikitpun. Setiap petir itu menyambar dan hampir menyentuh kulit pucatnya, sebuah sekat berwarna biru menjadi pelindungnya.
Chen bisa melihat sebuah tanda ditangan pria mungil itu. Tanda itu berbeda dengan miliknya, namun Chen yakin dengan sangat, bahwa sosok mungil itu sama seperti dirinya.
Dia spesial.
Chen tersenyum simpul, ketika sosok manis itu berdiri dihadapannya. Masih memandangnya dengan lembut atau justru dengan tatapan iba? Dia menghela nafasnya berat ketika ia melihat sosok manis itu—Pemuda dengan rambut berwarna coklat caramel itu tersenyum kearahnya, mengusap pipi kanannya dengan lembut—seakan menyalurkan kehangatan dalam dada Chen. Chen tersenyum ketika melihat lengkungan tipis di bibir sosok itu, dan kemudian Chen merasa tubuhnya semakin berat dan semua terasa gelap.
Tapi sebelum Chen benar-benar kehilangan kesadarannya, Chen mendengar sosok manis itu berkata, "kau tak akan merasakan sakit seperti dulu.. aku berjanji. Mari kita jemput saudara kita yang lain."
.
.
.
Pemuda jangkung itu masih menyandarkan dirinya pada dinding gubuk tua itu. Menatap pemuda lainnya yang masih dengan telaten mengobati luka dari pemuda yang masih terpejam dengan luka pada tubuhnya itu. pemuda jangkung itu masih menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ikut tersenyum ketika pemuda itu tersenyum puas setelah selesai dengan aktivitasnya menjadi tabib dadakan—pemuda manis dengan surai coklat caramel itu—mendekati pemuda jangkung yang sedari tadi hanya menatap sambil menyandarkan punggungnya pada dinding gubuk itu. Tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapi, dan kemudian ikut membuat pemuda dihadapannya juga tersenyum.
"apa kau terluka?" Pemuda manis membuka suara. Jemari lentiknya menarik tangan kokoh itu, membawanya depan wajahnya dan kemudian menciumnya lembut. "maafkan aku.. Kris. Aku selalu merepotkanmu.."
Pemuda jangkung bernama Kris itu tersenyum, menggelengkan kepalanya singkat dan menarik tangannya yang masih dalam genggaman jemari lentik pemuda manis-dan cantik-itu. mengusap lembut surai pemuda itu dan membawanya dalam dekapannya.
"itu adalah tugasku, Lu. Tugasku adalah melindungimu."
Mencari posisi paling nyaman untuknya, pemuda manis—Luhan semakin mengeratkan pelukannya. "kau benar tidak terluka?"
"hanya luka ringan.. tak perlu khawatir. Bagaimana bocah petir itu?" Kris melepaskan pelukan dirinya dengan Luhan, menunjuk pemuda yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan bekas luka diwajahnya. Kris tertawa tertahan ketika mengingat pertarungannya dengan pemuda yang ia ketahui bernama Chen itu.
"anak itu keras kepala sekali. Seandainya ia dengan senang hati bersama kita, mungkin dia tidak akan seperti ini."
"Kau yang menghajarnya terlalu kuat Kris." Luhan mengerucutkan bibirnya lucu, matanya ikut menatap Chen yang masih tertidur dan kemudian tersenyum, "setidaknya setelah ia sadar, aku bisa mengikat perjanjian dengannya."
Luhan tertawa ketika Kris memegang lengannya, "Jangan paksakan dirimu lebih dari ini Lu."
Luhan memegang tangan Kris, menurunkannya dan kemudian tersenyum lembut, "aku baik-baik saja."
Terdengar suara erangan yang membuat baik Luhan maupun Kris menoleh kearah suara tersebut. Ya, Chen tersadar. Ia mencoba untuk bangun, memegang kepalanya yang ia rasa sangat pusing, dan beberapa rasa nyeri pada tangan dan pundak kanannya. Chen menggerutu pelan, seakan ingin mengutuk dan membunuh sosok yang tengah menatap dirinya dengan tatapan yang membuatnya begitu kesal.
"kau sudah sadar?" suara lembut yang berasal dari sosok lain itu menarik perhatian Chen. Anak itu lagi, batinnya. Chen masih menatapnya, mencari sesuatu yang begitu membuatnya penasaran. Kenapa setiap serangan yang ia berikan kepada sosok manis itu tidak sedikit pun mengenainya. Chen menghela nafas, jengah. "jadi apa yang kau inginkan dariku?"
"aku ingin kekuatanmu.. itu saja. Buatlah perjanjian denganku dan kita akan bersama-sama mencari teman-teman kita yang lain."
Chen hendak saja membuka mulutnya-lagi-namun sosok manis itu kembali menyelanya. "aku Luhan. Xi Luhan! Senang bertemu denganmu Chen." Sosok manis itu—Xi Luhan menyodorkan tangannya—masih dengan senyuman yang merekah sempurna, terasa hangat dan teduh,
Chen menyambut uluran tangannya, ikut tersenyum, "Chen"
"apa lukamu masih sakit?"
"masih beruntung aku tidak mati.. ya masih untung aku tidak mati..ditangan temanmu itu." ucap Chen seraya mengarahkan pandangan kesalnya pada Kris yang masih setia dengan posisi bersandarnya pada dinding gubuk itu. "Jadi perjanjian apa yang kau maksud, hm?"
"untuk mengendalikan kekuatanmu.. mungkin"
Chen hendak saja mengerakkan tangannya untuk membunuh sosok manis itu. mengendalikan kekutannya dia bilang. Yang benar saja. Chen pergi dari keluarganya untuk lari dari pemaksaan mereka akan kekuatannya. Dan kini.. sosok manis yang terlihat tak berdosa itu ingin mengendalikan dirinya? Ingin kekuatannya?
Cih, Chen tidak bisa terima.
Chen mengeratkan genggaman tangannya, menatap Luhan benci dan gemuruh di luar sana terdengar. Kris refleks menarik Luhan kebelakang tubuhnya, seakan memberikan dinding antara Chen dan juga Luhan. Kris dan Chen saling menatap sengit.
"jika kau berani melukai Luhan sedikitpun, akan kupastikan kau menjadi abu hari ini." Kris menghentakkan tangan kirinya dan seketika sebuah api menyelimuti tangannya.
Chen berdecih pelan, tersenyum malas dan berkata, "aku tidak akan pernah takut untuk menjadi abu hari ini, daripada aku hidup untuk menjadi budak seseorang.. yang tidak menginginkanku.. yang hanya ingin kekuatanku.."
"Tidak! B-Bukan begitu, Chen." Luhan berdiri disamping Kris, tangannya memainkan ujung bajunya yang terlihat peuh dengan darah yang sudah mengering, bibir bawahnya ia gigit tanda ia gugup, "bukan mengendalikan seperti yang kau kira.. aku hanya membuat perjanjian denganmu untuk melindungi dan membantuku.. membantuku mengembalikan kehidupan yang ada di Planet ini, mengembalikan kedamaiannya dan bukan kesengsaraan seperti ini. Aku membutuhkanmu untuk menemukan teman kita yang lain."
"Cih! Dan haruskan aku percaya padamu, Tuan Xi Luhan?" sinis.
Luhan menatap Chen dengan takut, masih memainkan jemari tangannya pada bajunya dan kemudian dia menatap Kris sejenak dan hanya ada sebuah anggukan dari Kris. "kau harus percaya.. aku tidak berbohong. Aku hanya ingin kau membantuku.. dan soal mengendalikan kekuatanmu itu: maksudku… itu hanya untuk mencegahmu kehilangan kendali atas dirimu sendiri, dan untuk memudahkanku untuk menemukanmu saat kau berada dalam bahaya.. hanya itu.. aku tahu perasaan terkekang dan tidak diinginkan. Aku tahu perasaan bagaimana saat kau mengalami diskriminasi dan terluka.. maka dari itu aku tidak akan melakukannya padamu.. tidak akan.."
Chen menatap Luhan dengan menyipitkan matanya, menatapnya intens dan ia tidak menemukan kebohongan dari raut wajah manis itu.. "hanya itu?"
Luhan menatap lagi dan kemudian tersenyum, "semua luka dan rasa sakitmu saat kau bertarung, aku yang menanggungnya."
Chen terkesiap, ia kembali menghela nafasnya berat, menatap Luhan dan Kris bergantian, sekarang ia tahu kenapa sosok dihadapannya itu tidak terluka sedikitpun ketika mereka bertarung tadi. Chen sadar jika petir dan badainya beberapa kali mengenai sosok tampan dihadapannya itu.
"baiklah.. aku akan membantumu.. lakukan perjanjian itu sekarang." Chen bisa melihat senyum Luhan yang merekah lebar. Mata rusanya berkilat senang. Dan untuk satu alasan, ia menambahkan senyum dan mata Luhan ada dibagian dari kesukaannya. Senyuman dan mata itu teduh dan penuh dengan kehangatan.
"Baiklah.. kau sudah siap?" Luhan memegang tangan kiri Chen, mengusap simbol scorpion di punggung tangannya, dan simbol itu berkilat, Luhan tersenyum, "mungkin akan sedikit sakit.. pertama pejamkan matamu.. dan fokuslah.. aku akan membimbingmu melalui pikiranmu.." Chen menurut, memejamkan matanya, mengabaikan tangannya yang ia rasakan tengah digenggam seseorang dengan sangat erat, dan perlahan merasakan rasa hangat yang merambat dari tangan keseluruh tubuhnya. Ia bahkan bisa merasakan hatinya terasa hangat, pikiran-pikiran tentang masa lalunya, ketika ia terabaikan, ia terluka, merasa dibuang, tidak diinginkan, penolakan dan rasa sakit dibatinnya dulu menguar layaknya sebuah roll film yang tengah diputar. Chen menengang, merasakan kekesalan yang luar biasa dalam dadanya. Kebenciannya seakan menguar begitu saja saat ia merasakan rasa hangat dalam dadanya. Seakan memeluknya dengan segala perasaan hangat yang ia rasakan, perasaannya tak lagi kesal. Ia bahkan tersenyum, dan seakan semua rasa sakit dalam hatinya menguar begitu saja.
"Dengan nama Roh Pelindung Pohon Kehidupan" Chen mendengar suara itu bergema dalam pikirannya, seakan menuntunnya untuk mengikutinya.
"Dengan nama Roh Pelindung Pohon kehidupan," Chen mengucapkannya,
"aku bersedia untuk mengabdikan diriku padamu"
"aku bersedia untuk mengabdikan diriku padamu" Chen kembali mengikutinya lagi. semakin mengeratkan tangannya yang Luhan genggam dengan erat,
"dengan segala kekuatan yang aku miliki, dan sebagai gantinya.. lindungilah kembali aku.. aku menyerahkan kuasaku padamu.."
"dengan segala kekuatan yang aku miliki, dan sebagai gantinya.. lindungilah kembali aku.. aku menyerahkan kuasaku padamu.." Chen kembali mengikutinya, merasakan kehangat yang luar biasa dalam dadanya, seakan menghapus semua rasa benci dan dendamnya dimasa lalu, membuat perasaannya terasa ringan, seakan ia seperti dihidupkan kembali.
"Buka matamu.." Chen perlahan membuka matanya ketika ia mendengar suara berat, tapi itu bukan suara Luhan. Itu suara Kris.
Chen penasaran, dan kemudian mendapati sosok manis itu masih mendekap tangannya dengan erat—didakupan dadanya. Chen menggernyit ketika ia melihat wajah pucat Luhan saat ini. Chen tidak lagi merasakan sakit disekujur tubuhnya, walau lukanya masih ada, tapi nyeri disekujur tubuhnya tidak lagi terasa menyiksanya.
…. [ semua luka dan rasa sakitmu saat kau bertarung, aku yang menanggungnya. ] ….
Perkataan Luhan kembali terngiang didalam pikiran Chen. Rasa sakitnya hilang dan seseorang yang tengah dalam keadaan tak sadarkan diri itu—dengan keadaannya yang pucat pasi itu, dengan Kris yang berada dibelakang Luhan, menjadikan dada bidangnya sebagai sandaran untuk Luhan.
"Apa Luhan baik-baik saja?" Chen manarik tangannya yang berada dalam dekapan Luhan dan masih menatap wajah pucat itu : khawatir.
Kris berdeham, meraih tubuh Luhan dan kemudian ia letakan kepala Luhan dipangkuannya, menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala Luhan, dan kemudian mengusap dengan lembut rambut coklat caramel itu.
"Dia baik-baik saja. Hanya sedikit lelah… mungkin"
.
.
.
Ruangan itu pengap, gelap dan sunyi. Hanya ada beberapa garis cahaya yang memaksa masuk melalui celah-celah dalam ruangan itu. Masih pantaskah tempat itu disebut sebuah ruangan?
Ya, tempat itu pengap. Terdengar cicitan dari tikus. Bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia disana.. tidak, ada manusia disana karena sosok yang tengah duduk di pojok ruangan itu—dengan memeluk lututnya erat, dengan keadaan yang begitu menyakitkan-atau bahkan bisa dibilang mengenaskan-menelungkupkan wajahnya diatas lututnya.
Beberapa kali ia terdengar seperti bergumam, menyebutkan kata, "ayah" dan "Ibu", namun gumaman itu tak lebih keras dari sebuah bisikan—dan tentu saja tidak aka nada yang mendengarnya. Kecuali tikus yang setia menemaninya.
Sosok itu semakin mengeratkan pelukannya pada lututnya saat pintu tempat itu terdengar dibuka dari luar. Suara gemerincing rantai terdengar saat sosok yang masih memeluk erat lutut yang ia tekuk itu.
"S-siapa?"
Suara itu terdengar serak dan pelan. ada kesan terluka dan sakit dalam suaranya. Terdengar pedih. Tidak ada jawaban, hanya ada bunyi debuman benda dilemparkan, dan kemudian pintu itu kembali tertutup. Tidak ada lagi suara lain selain suara nafas yang memburu yang diiringi suara gemerincing rantai.
Ya, sosok yang sedari tadi memeluk dirinya di pojok ruangan itu sedikit menggerakkan tubuhnya susah payah. Tangannya yang kurus itu mencoba untuk merangkak, menarik tubuhnya yang terikat dengan rantai itu susah payah. Deru nafasnya beradu dengan suara gesekan tangannya dengan rumput kering yang menjadi alasnya. Tangan mungilnya menangkap benda bulat yang terasa sedikit lengket dan becek ditangannya. Ia tidak tahu apa yang ibu atau bahkan ayahnya berikan padanya untuk makan hari ini, ia mengendus benda itu terasa sedikit menyengat dan ia tahu itu sebuah semangka yang hampir membusuk.
Dalam kegelapan yang menyelimuti ruangan yang hampir menemaninya selama duabelas tahun itu, ia tersenyum. Setidaknya ayah ataupun ibunya masih peduli padanya. Memberinya sebuah semangka—yang sebenarnya sudah tidak layak untuk dimakan—namun setidaknya itu jauh lebih baik daripada tidak diberi sama sekali.
Perlahan tangan mungil nan kurus itu bergetar ketika ia mencoba untuk membuka semangka itu. Senyumnya itu semakin merekah ketika buah itu terbelah. Ia memakannya dengan lahap tanpa memperdulikan bagaimana keadaannya jika ia memakannya setelah ini.
Tidakkah ia takut sakit setelah memakan benda busuk itu?
Tidakkah ia takut keracunan dan… mati?
Mati ?
Jika boleh, sosok manis—yang masih dengan lahap memakan makanannya untuk hari ini—menjawab ia sudah lama mati: sejak ayah dan ibunya mengurungnya di ruang bawah tanah yang pengap dan menjijikan ini.
Hidup ataupun mati tak ada bedanya baginya.
Semua terasa sama saja…
.
.
.
][ The Lost Symbol ][
.
.
.
"Lu… tidakkah kita berhenti sejenak? Aku lapaaaar~" sosok itu—Chen masih saja merajuk seraya memegangi perutnya yang sudah meraung-raung minta diisi. Ia lapar, tentu saja. Ia bahkan belum makan sejak tadi pagi. Ya, Chen yang tampan dan rupawan—Chen yang bilang ini—tidak makan sejak tadi malam, bukan lebih tepatnya tadi pagi. Kris hanya memberinya satu buah ubi bakar yang ukurannya hanya mampu disapa sebelah perutnya, dan itu sama sekali tidak membuatnya kenyang.
Sama sekali !
"Lu ayolaaaah~ tidakkah kau bisa lihat wajahmu terlihat pucat. Kau pasti lapar. Ya, kau pasti lapar !" Chen mendekati sosok manis itu—Luhan dengan tatapan berbinar menatap manik mata Luhan yang sedari tadi hanya tersenyum.
"Baiklah, Kris.. kita berhenti sebentar di desa dekat sini untuk makan. Aku yakin kau juga lapar." Kris hanya mengangguk patuh, dan Chen tersenyum sangat lebar, hingga kalau boleh sedikit berlebihan, Kris bisa melihat gigi Chen berkilat seperti petir miliknya. Ck.
Luhan membuka penutup kepalanya yang tersambung dengan jubahnya dan kemudian duduk di kursi yang berada diantara Kris dan Chen. Luhan memberengut lucu ketika ia melihat seorang pria tua yang mabuk mencoba pelayan kedai itu. Chen yang melihat itu rasanya ingin menguncir bibir itu dengan gaya ponytail.
"jadi pesan apa kita?" Chen membuka suara dan mengelus perutnya antusias.
"Aku mau Es serut, dua porsi." Luhan membuka suara.
"Makan?" Chen kembali menatap Luhan antusias.
"Aku kudapan manis saja.. Kue juga tidak apa.. Kau Kris?"
"Sama denganmu saja, Lu.. aku tidak lapar."
Luhan memajukan bibir bawahnya-mengejek-seakan tahu apa yang sahabatnya itu pikirkan. Kenapa Kris selalu saja mencoba menjadi dingin seperti ini, seolah ingin terlihat keren dan tidak banyak bicara. Ck., Ayolah, Luhan tahu Kris. Luhan tahu, jika Kris berkata A maka maksudnya adalah B. dan jika Kris mengatakan tidak makan berarti ya.
"baiklah.. Chen, Kris pesan Ramen dengan porsi jumbo!"
Dan Kris hanya bisa memprotes tanpa suara kepada Luhan.
Ya, mereka telah selesai dengan acara makan-makan mereka. Chen menatap bekas-bekas piring yang berada didepannya dengan senyuman yang sangat lebar. Kondisi perut memang mempengaruhi mood seseorang.
Luhan dan Chen manatap Kris dengan pandangan mata yang sama, Ya.. Tatapan mata berbinar tipikal manusia yang selalu minta di traktir dan membuat Kris hanya memutar bola matanya malas, dan kemudian beranjak dari duduknya menuju kasir. Dan senyum Chen dan Luhan semakin lebar, bukan! Bahkan sangat amat lebar.
Chen dan Luhan berdiri dari posisi mereka, keluar kedai seraya menunggu Kris selesai membayar dengan wajah yang sangat berseri-seri seperti perut mereka yang sudah tidak meronta-ronta minta dijajakan (dasar manusia tidak tahu diri).
"Kau tahu, hari ini manusia es itu akan dimusnahkan?"
"Hm.. aku sudah tahu. Lebih baik begitu 'kan? Dia itu berbahaya, bagaimana jika dia membunuh seseorang lagi?"
"bagaimana jika kita ke lapangan kota untuk melihat bagaimana dia dimusnahkan?"
Dua orang itu kemudian beranjak dari duduk mereka. Luhan menatap kedua orang itu dengan mata yang menyipit. Menatap Chen kemudian, dan Chen hanya menatap Luhan dengan penuh tanya. Kenapa Luhan menatapnya seperti itu?
Dasar Chen tidak peka !
Luhan menghembuskan nafasnya malas, "Chen, bilang pada Kris.. aku tunggu di lapangan kota. Itu pasti Frost. Dia membutuhkan bantuan sekarang juga ! Chen.. berjanjilah padaku.. bawa Kris kesana secepat mungkin ! mengerti?"
Chen hanya mengangguk mengerti, "Hati-hati Lu.."
...
.
][ DeathSugar ][
.
…
Luhan berusaha keras untuk menerobos gerombolan manusia itu. Mencoba untuk bisa lebih kedepan, melihat apa yang terjadi didepan sana. Ia tidak peduli nafasnya yang terasa berat karena himpitan-himpitan orang disekitarnya. Sekuat tenaga untuk terus melangkahkan kakinya kedepan, mencoba untuk menolong orang yang ia yakini adalah salah satu dari temannya itu.
Luhan mengumpat ketika seseorang menyikutnya tepat mengenai pelipisnya. Luhan abaikan rasa pening yang menyapanya dan tetap dengan tujuan utamanya.
Menolong orang yang ia yakini sebagai pemegang kekuatan Frost itu.
"permisi.." Luhan sedikit mengerahkan kekuatanya, mencoba untuk mendorong dengan sekuat mungkin. "Ne, permisi Tuan.." hingga akhirnya sosok manis Luhan berhasil berada di deretan depan kerumunan orang itu. Luhan sedikit menyipitkan matanya, mengingat matahari terasa sangat terik siang ini.
Luhan mencoba mencari sosok yang ia yakini sebagai Frost itu dengan penasaran. Matanya mencoba menemukan keberadaan sosok itu, namun nihil. ia masih mengedarkan pandangan, mencoba mencari keberadaan sosok yang ingin ia selamatkan, mencari sosok yang akan menjadi teman barunya, keluarga barunya.
Luhan menggigit bibir bawahnya frustasi, melihat kearah tiang yang berada dihadapannya itu, namun tiang itu tidak ada siapapun. Oke, hati Luhan sedikit teriris ketika ia melihat tiang dihadapannya itu. Tiang itu berada ditengah lapangan yang cukup luas, ada tumpukan kayu kering dan juga rumput kering dan juga jerami yang mengeliling tiang kayu itu.
Luhan tidak tahu apa yang membuat seluruh orang disini membenci sosok yang akan dibunuh itu. Tidakkah ini terdengar sangat keji?
Dia dibakar hidup-hidup? Dihadapan umum?
Bahkan Luhan yakin, ia pasti telah disiksa lebih dari ini.. Luhan mencoba untuk mencari keberadaan sosok yang ia cari itu, namun masih tetap tidak menemukannya. Luhan butuh Kris dan Chen saat ini. sangat butuh bantuan mereka untuk menyelamatkan keluarga baru mereka.
Luhan menatap perempuan paruh baya disampingnya, sedikit menggigit bibir bawahnya-lagi-dan mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya, "maaf Nyonya.. kenapa semua orang berkumpul disini?"
Wanita paruh baya itu menatap Luhan dengan tatapan tidak percaya, "Kau tidak tahu? Kau bukan orang sini?"
Luhan menggeleng polos.
"monster itu akan dimusnahkan. Manusia es itu telah membunuh warga desa ini. dan hari ini kami tidak perlu khawatir lagi kalau dia mengamuk." Terlihat kesal.
"Tapi kenap—" Luhan tidak lagi melanjutkan kata-katanya ketika ia mendengar seseorang berteriak kesal. Luhan juga bisa mendengar beberapa orang berbisik, menggunjing, menghina, sumpah serampah lainnya ketika ia melihat sosok laki-laki yang tengah menyeret sosok mungil dibelakangnya dengan sangat kasar.
Luhan menatap tidak suka ketika ia melihat sosok yang dibelakang sana, ia terlihat sangat mengenaskan. Tubuhnya kurus dan pucat. Tidak ada kehidupan dimatanya. Mata itu terlihat mati dan tidak bernyawa. Luhan meneteskan buliran bening miliknya, memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Luhan mengutuk semua orang yang menyiksa sosok manis itu.
Dan kekesalan itu semakin memuncak ketika beberapa orang melempari sosok yang sebenarnya sudah tidak berdaya itu, sosok yang terikat dengan rantai besi itu diseret, ditendang dan bahkan dilempari dengan batu atau apapun yang seakan bisa membuat mereka senang. Luhan menangis, dia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa berlari dan melindungi sosok itu. Hanya diam berdiri dan menangis?
Begitu lemahkah dirinya? Kenapa dia tidak berani melawan mereka, menggunakan kekuatannya? Luhan hanya bisa mematung ketika ia melihat sosok itu diseret dengan paksa, bahkan lelaki dihadapannya menjambak rambut coklat terang itu dengan kasar ketika sosok itu tersandung dan terjatuh.
"berdiri anak hina! Kau berat!" sebuah tendangan didada sosok itu. Ia tidak melawan, matanya hanya memejam dan beberapa kali terlihat meringis kesakitan. Sosok itu masih tidak bergeming, dia tidak berdiri, dia masih setia dengan posisinya yang mungkin ia sudah lelah.
Orang itu menyeret sosok lemah itu, tidak menghiraukan rengekan dari orang dibelakangnya itu. Beberapa orang pun ikut membantu menyeret sosok itu. Membantunya menuju ke tiang yang sudah disiapkan tadi dan kemudian mengikatnya.
Luhan yang melihat itu masih membatu, apa yang bisa ia lakukan saat ini? haruskah ia berlari dan melindungi sosok itu? Luhan melihat sekeliling, berharap Kris dan Chen datang membantunya namun tidak sesuai harapannya. Kemana mereka berdua?
Ayolah Luhan, kau tidak seharusnya bergantung pada Kris ! Kris sudah sering terluka karena melindungimu, dan sekaranglah saatnya untukmu bergerak sesuai kemauanmu sendiri.
Luhan masih berdiri mematung. Tunggu apa lagi kau Xi Luhan! Menunggu sosok itu menjadi arang? Luhan menahan semua amarahnya, dan ia berlari sekuat tenaganya ketika laki-laki paruh baya itu, menuangkan minyak pada kayu yang mengutari tiang yang mengikat sosok tak berdaya itu dan kemudian menjatuhkan korek api disana.
Api itu menyala sempurna bersamaan dengan Luhan yang melompat kesana mencoba untuk meraih sosok tak berdaya yang ternyata tengah menangis itu dan kemudian memeluknya erat.
"kau tidak perlu takut.. ada aku disini.. aku disini akan melindungimu.. aku janji."
TBC
BIG THANKS TO :
| samiyatuara09 | blackkamjong | Kim Sun Mii | kiochan
Yang sudah mau bacaaa dan review 3
Nah ada beberapa Review yang mau aku bales disini.. karena masih nga ngeh cara make ffn *dikepret*
blackkamjong
ah soal kekuatan Lay di Prolog itu, aku kan nyari reverensi itu kekuatan Lay itu simbolnya Unicorn dan kekuatannya itu Pegasus gitu sih buat nyembuhin. jadinya aku tulis begitu. _ Mian.. nanti aku cari referensi lagi buat yang satu ini. heheh
dan untuk review yang lain .. hohoho makasih banyak ! aku jadi makin semangat buat nulis. Hehehehe *ciumin satu-satu*
Ehem.. DeathSugar disini~ sebagai perkenalan bisa dipanggil Chuu hehe XD
Bagaimana ? ada yang baca kah fanfic ini ? hehehe ..
Bahasanya ngebosenin dan berbelit yak ? :')
Ah aku telat apdet dari perkiraan.. Aku kira bakalan apdet cepet ternyata ada masalah sama mood dan something nightmare. Hahaha …
Band favoriteku yang aku ikutin dari mereka lahir bubar kemarin . Hahaha.. sedih banget yak. :v
Dan ngeselinnya itu dulu ada pengumuman mereka disband setelah single mereka dari Jepang sampe ke tangan aku . :'v siangnya sampe malamnya mereka ngumunin mau bubar. Hahaha…
Kokoro daijobu .. *kok jadi curhat?*
Ok.. aku author baru disini. Dan sangat menanti kritik dan sarannya dari kalian semua. _
Need to review ? :3
Hehehe~
©DeathSugar
30 April 2015
