Another 5%
Remake Novel by Shanty Agatha
Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun
WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun
Length: Chaptered
Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural
Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.
.
.
.
CHAPTER 4
Suasana mendadak hening ketika Chanyeol menyapa Baekhyun. Baekhyun berdiri dengan gugup saat semua mata memandang ke arahnya, sementara Chanyeol tampak tenang-tenang saja, bahkan seulas senyum terlihat di bibirnya.
"Silahkan duduk Baekhyun-ssi." Chanyeol melambaikan tangannya, meminta Baekhyun untuk mendekat. Ada senyum ramah disana, senyum yang menenangkan yang membuat Baekhyun berani untuk mendekat dan duduk di salah satu kursi. Minseok ikut duduk di sebelahnya tanpa berkata sepatah katapun.
"Baiklah, semua orang sudah hadir di sini. Sebagian dari kalian pasti bingung dan menebak-nebak apa yang terjadi. Siapa saya dan apa hubungannya dengan tuan Ahn Tony." Chanyeol menoleh ke arah Ahn Tony yang sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Saya Park Chanyeol, pemilik perusaan retail di Eropa dan Amerika. Penjelajahan saya atas ekspansi akhirnya berujung di negeri yang indah ini, dan kemudian saya bertemu dengan tuan Ahn Tony yang menawarkan kerja sama bisnis. Jadi mulai sekarang, saya adalah pemilik resmi perusahaan ini."
Chanyeol hanya tersenyum menatap seluruh ekspresi orang-orang yang berada di ruang rapat, ada yang tampak terkejut, ada juga yang memasang ekspresi datar. "Perlu kalian tahu, dengan berpindahnya kepemilikan ini tidak akan mengubah apapun dalam artian yang krusial, bisnis akan tetap berjalan seperti biasanya, saya belum akan mengevaluasi ataupun melakukan penggantian SDM. Dan tuan Ahn Tony akan tetap menjadi CEO perusahaan ini, sementara saya mengawasi dari balik layar. Saya harap kerjasama dari kalian semua."
Semua yang ada di ruangan itu mengangguk-angguk, setuju akan perkenalan dari pemilik perusahaan mereka yang baru. Chanyeol pun bersalaman dengan Ahn Tony sebagai simbol pemindahan kepemilikan perusahaan secara resmi.
Sementara itu Baekhyun hanya mengerutkan keningnya. Hal ini jelas-jelas pembahasan kalangan direksi, apalagi yang hadir di sini adalah para manager dan direktur. Kenapa Baekhyun harus ada di sini? Untuk apa ia dipanggil di sini?
Pertanyaan Baekhyun pun segera terjawab saat Chanyeol mengucapkan kata-katanya. "Dan satu lagi, saya membutuhkan seorang asisten yang bisa dipercaya dari perusahaan ini. Seorang asisten pribadi yang bisa menyiapkan semua data perusahaan kapanpun saya minta." Mata Chanyeol melirik tajam ke arah Baekhyun, membuat Baekhyun gugup. "Dan saya sudah menentukan pilihan, saya ingin mempromosikan nona Byun Baekhyun sebagai asisten pribadi saya, karena saya sudah membaca seluruh laporan prestasi kerja nona Byun di perusahaan ini."
Semua yang hadir di ruangan itupun membelalakkan mata tampak terkejut, kecuali tuan Ahn Tony yang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dia bahkan tidak tau harus berkata apa! Kenapa Chanyeol? Kenapa lelaki ini menjadi bos barunya? Dan kenapa mempromosikan dirinya? Apakah ini ada hubungannya dengan pertemuan tidak sengaja mereka beberapa kali itu? Tapi bagaimana mungkin?
"Saya harap semua bisa menerima keputusan saya, dan bisa bekerja sama dengan baik demi kemajuan perusahaan ini. Baiklah, pertemuan rapat hari ini saya tutup," Chanyeol bergumam, memberikan pengusiran halus pada orang-orang yang tak beranjak meninggalkan ruangan, kemudian lelaki itu menatap Baekhyun yang masih duduk terpaku. "Byun Baekhyun-ssi, anda boleh tinggal di sini sebentar, ada hal yang ingin saya bahas bersama anda."
Mau tak mau Baekhyun menganggukkan kepalanya. Dirinya masih tak bisa bergerak karena masih diselimuti oleh rasa keterkejutannya yang luar biasa.
Setelah semua orang pergi, tinggallah hanya Chanyeol dan Baekhyun di ruangan itu. Chanyeol menopangkan kedua tangannya di meja dan menggantikan di bawah dagunya, ada senyum lembut dari bibirnya.
"Kau pasti terkejut," gumam Chanyeol memecahkan keheningan.
Baekhyun mendongakkan kepalanya dan langsung menatap mata tajam Chanyeol, yang seolah-olah menembus hatinya. Bibirnya bergetar, merasa Chanyeol sedikit mengintimidasi.
"Ne. Jeongmal cheosonghamnida sajangnim. Saya, saya masih tidak mengerti kenapa anda memilih saya untuk menjadi asisten pribadi anda." Setelah berdehem berkali-kali akhirnya Baekhyun bisa berkata-kata.
Chanyeol pun tersenyum dan bertopang dagu sambil menatap Baekhyun tajam. "Mungkin semua hanyalah kebetulan dan aku memakai alasan klise yang aneh. Kuharap kau mengerti Baekhyun-ssi. Aku lama tinggal di luar negeri, dan tidak ada yang kukenal di sini, kemudian seperti sebuah petunjuk aku bertabrakan denganmu di pinggir jalan, lalu kita bertemu di perusahaan ini."
Mata Chanyeol tampak berkilat. "Aku adalah orang percaya akan intuisiku, jadi aku menganggap pertemuan denganmu adalah sebuah petunjuk. Aku percaya dengan kapabilitasmu sebagai pegawai, tidak ada maksud lain, aku murni memintamu membantuku di perusahaan ini, menjadi asistenku. Kau bersedia? Ini bukan paksaan, kalau kau tidak bersedia, aku akan mempertimbangkan orang lain."
Lelaki itu menjelaskan semua tanpa berkedip sekalipun. Baekhyun tercenung dan menghela nafas panjang. Ini adalah promosi yang luar biasa, dirinya yang hanya staff accounting bisa menjadi asisten orang nomor satu di perusahaan hanya dalam sekejap. Chanyeol tadi menyinggung kapabilitasnya sebagai pegawai, dan Baekhyun merasa inilah saat untuk menunjukkan kemampuannya.
"Saya bersedia. Saya akan berusaha sebaik mungkin," jawab Baekhyun mantap, membuat Chanyeol tersenyum penuh arti.
"Bagus, terima kasih Baekhyun. Kemasilah barang-barangmu, kau akan pindah di ruangan yang sama denganku supaya kita mudah untuk berkomunikasi."
Ketika Baekhyun kembali ke ruangannya, para staff memandangnya dengan tatapan aneh. Baekhyun segera mengetuk pintu ruangan Kim Minseok, perempuan setengah baya itupun mempersilahkan Baekhyun masuk.
Baekhyun duduk dengan gugup. "Saya menerima promosi itu, Minseok-ssi," gumamnya pelan.
Ada kilat di mata Minseok, tapi perempuan itu berhasil menyembunyikannya dalam sekejap.
"Bagus. Kurasa kau harus segera memindahkan barangmu dan pindah ke ruangan besar."
"Ne."
"Berpamitanlah pada rekan-rekan kerjamu, aku sudah menginformasikan promosi yang kau terima pada mereka semua." Setelah itu Minseok memalingkan muka kea rah tumpukan kertas-kertas di tangannya, memberi isyarat pengusiran halus pada Baekhyun.
Baekhyun berdiri dengan gugup. "Ne Minseok-ssi, terima kasih atas semua kebaikan anda selama saya berada di divisi ini." Minseok hanya mengangguk tanpa ekspresi, dan akhirnya Baekhyun keluar dari ruangan atasannya itu.
Ketika Baekhyun keluar, Minseok menatap marah ke arah Baekhyun. Benaknya dipenuhi dengan rasa iri yang menggelora. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa anak ingusan itu tiba-tiba mendapatkan jabatan penting yang bahkan lebih tinggi darinya?
Sudah sepuluh tahun dia bekerja di perusahaan ini, memberikan dedikasi terbaik yang bisa ia berikan, dia adalah pekerja hebat dan berpengalaman. Seharusnya yang berhak menerima promosi itu adalah dirinya, bukan pekerja ingusan yang tidak punya kemampuan apa-apa seperti Baekhyun!
Benaknya membayangkan pemilik perusahaan baru mereka yang masih mudan luar biasa tampan. Tiba-tiba dia bertanya-tanya, mungkinkah ada hubungan khusus antara Chanyeol dengan Baekhyun?
Baekhyun diberi ruangan khusus di sudut ruang besar. Ruang besar adalah ruangan paling besar di kantor itu, ruangan sang pemilik perusahaan. Ia mendapat meja besar di sudut ruangan, lengkap dengan seluruh peralatan penunjang kerjanya. Sementara di tengah ruangan, ada meja gelap besar, tempat sang pemilik perusahaan. Ruangan itu memiliki pintu sambungan khusus ke ruang sebelah yang nyaman dan berisi sofa dan rak buku, tempat sang pemilik perusahaan menerima tamunya.
Mungkin pekerjaan Baekhyun akan lebih seperti sekretaris pribadi, batinnya saat menata ulang barang-barangnya di mejanya yang baru, bekas sekretaris pribadi pemilik perusahaan yang lama. Kalau begitu, kemana sekretaris pribadi yang lama sekarang?
Baekhyun menghela nafas panjang, berkesimpulan bahwa sekretaris yang lama pasti sudah diberikan posisi lain yang lebih bagus, bukankah Chanyeol tadi mengatakan bahwa dia tidak akan mengevaluasi atau mengganti pegawai di sini?
Baekhyun termenung memandang ke arah meja Chanyeol. Kalau tidak ada lelaki itu, tentu saja dia tidak ada pekerjaan. Lama Baekhyun duduk di ruangannya dan merasa bingung, sampai kemudian pintu ruangan itupun terbuka.
"Sudah merasa nyaman dengan tempat barumu?" Chanyeol tersenyum menyapa.
Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan gugup, menunggu instruksi selanjutnya.
Chanyeol sendiri tampak membawa berkas-berkas dan laptopnya, meletakkannya di meja besarnya, lalu berdiri dan menatap Baekhyun. "Aku masih mempelajari perusahaan ini. Bagaimana penjualannya, seperti apa konsumennya, barang apa yang kita jual, dengan supplier mana kita bekerjasama dan sebagainya."
Matanya mengernyit tampak tidak senang. "Sayangnya data yang ada masih berantakan. Maukah kau merapikannya untukku? Buatlah susunan data yang teratur dan terperinci menyangkut seluruh informasi perusahaan ini, kau pasti tahu caranya bukan?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya, dia harus menghubungi banyak divisi untuk meminta semua data sebelum merangkumnya menjadi laporan lengkap.
"Bagus." Chanyeol menganggukkan kepalanya tampak senang. "Dan perlu kau tahu Baekhyun-ssi , kau adalah asisten pribadiku, dan bukan hanya di perusahaan ini tapi juga di perusahaanku yang lainnya. Jadi sebisa mungkin aku akan membawamu kemana-mana." Chanyeol mengedikkan bahunya tanpa memperdulikan ekspresi Baekhyun yang terperangah. "Sekarang aku ada janji, jam tujuh malam aku akan kembali ke sini. Kuharap seluruh laporan itu selesai, kalau kau pulang duluan, letakkan saja di mejaku."
Tanpa menunggu jawaban dari Baekhyun, Chanyeol melangkah pergi, meninggalkan Baekhyun yang benar-benar panik. Astaga! Chanyeol meginginkan semua laporan rumit itu dikerjakan sekarang? Biasanya laporan seperti itu membutuhkan waktu beberapa hari.
Baekhyun pun bergegas meminta data dari semua divisi, kalau tidak dia bisa terlambat untuk menemui Sehun.
Sehun mengernyitkan keningnya, beberapa kali dia menghubungi Baekhyun tetapi tidak mendapatkan jawaban. Baekhyun tidak pernah begini sebelumnya, perempuan itu selalu siap sedia kapanpun Sehun menghubunginya. Tiba-tiba Sehun merasa cemas, perasaan itu muncul begitu saja seakan ada kekuatan jahat yang sedang mengancam Baekhyun.
Setelah percobaan yang kesekian kalinya, akhirnya Baekhyun menjawab panggilannya. Sehun menghela nafas lega. "Baekhyun! Astaga, kenapa kau tidak menjawab teleponmu?"
Suara Baekhyun terdengar gugup dan lelah. "Sehun, ya ampun maafkan aku. Aku sibuk mengerjakan pekerjaanku, ponselku ada dalam tas, aku tidak mendengar kau menelepon, mianhae."
Sehun mengernyitkan keningnya, melirik jam tangannya. Sebentar lagi ada pertemuan dengan dokter untuk membicarakan hasil tes keduanya, karena itulah Sehun menunggu Baekhyun. "Kau masih di kantor?" tanyanya gusar. Kenapa Baekhyun masih di kantor? Bukankah butuh waktu hampir satu jam untuk menuju ke rumah sakit?
"Iya sayang, maafkan aku. Aku, aku menerima promosi. Sekarang aku menjadi asisten pribadi pemilik perusahaan ini. Dan pekerjaanku adalah mengumpulkan data perusahaan, aku akan berusaha secepat mungkin. Maafkan aku, tapi ini benar-benar banyak. Mungkin 20 menit lagi aku baru bisa pergi ke rumah sakit, Sehun."
Kegusaran di hati Sehun pun menghilang saat mendengar Baekhyun hampir menangis. Ya ampun, Sehun sama sekali tidak berhak memarahi Baekhyun, dan Baekhyun pun tidak berhak meminta maaf padanya. Selama ini Baekhyun selalu memberikan waktunya dengan tulus pada Sehun, dan sekarang adalah waktunya untuk mendukung Baekhyun.
"Jangan terburu-buru sayang, ini hanya pertemuan dengan dokter. Lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya, nan gwaenchana, jagiya."
Baekhyun menghela nafas panjang. "Gomaweo, Sehunnie. Aku akan segera ke rumah sakit setelah ini selesai." Janjinya sungguh-sungguh, membuat Sehun tersenyum dan memberikan ciuman dari telepon sebelum menutup pembicaraan.
Sehun menghela nafas panjang, dia lupa memberi selamat pada Baekhyun atas promosi yang diterimanya. Tapi nanti pasti ada kesempatannya bersama Baekhyun. Nanti. Sehun tersenyum, tahu bahwa besok dia pasti sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit yang selama beberapa tahun ini menjadi tempat tinggalnya yang kedua.
Dan setelah itu, waktunya bersama Baekhyun akan panjang, mereka akan bebas menikmati berdua bersama. Begitu keluar dari rumah sakit, Sehun akan pergi ke toko cincin. Ya, dia akan langsung melamar Baekhyun, menunjukkan kesungguhan hatinya dengan menikahi cinta sejatinya.
Sehun bersenandung sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dokter. Pada akhirnya dia sendirilah yang akan menemui dokter, meskipun dia sudah tahu hasilnya, tidak akan ada yang berubah dari hasil tes keduanya. Dirinya sudah sembuh total, selain itu ada kekuatan besar dalam dirinya yang terasa meluap-luap, seakan minta untuk dipergunakan.
Tiba-tiba Sehun mengernyit saat ia melihat di depannya terdapat seorang gadis berambut panjang dengan gaun kuning cerah bermotif bunga, berjalan sendirian sambil berpegangan pada tepian lorong rumah sakit. Kemudian gadis itu mulai terhuyung-huyung seakan hendak pingsan.
Secepat kilat Sehun melompat dan menangkap tubuh kecil yang oleng ke belakang. Tubuh itu terasa begitu ringan. Sehun menatap gadis yang masih lunglai dengan mata terpejam di pelukannya, dan menyadari betapa cantiknya gadis itu. Tapi, gadis itu pucat, sangat pucat hingga tubuh dan wajahnya seputih kertas. Apakah perempuan ini sakit?
Gadis itu menghela nafas panjang, lalu membuka matanya, mata rusa yang sangat bening, bibirnya tampak pucat dan bergetar ketika berkata-kata. "Mianhae, ehm namaku Luhan," suaranya terdengar kecil dan lemah. "Seharusnya aku tidak boleh berjalan-jalan, tapi aku mencari perawatku, dia tidak ada."
"Kau pasien di sini?" Sehun makin cemas saat melihat wajah gadis itu semakin pucat. "Katakan dimana kamarmu, aku akan mengantarkanmu."
Gadis itu mengangguk, kemudian bibirnya membuka lalu menutup lagi, seakan kesulitan untuk berbicaara. Setelah menghela nafas panjang, dia berkata, "Ga… gamsahamnida. Aku, aku ada di bagian pasien kanker. Mianhae, sepertinya pandanganku berkunang-kunang." Gadis itu memejamkan mata, tubuhnya lunglai.
"Aku akan mengantarmu kesana." Dengan sigap, Sehun mengangkat tubuh ringkih perempuan cantik itu. "Seharusnya kau tidak berjalan-jalan sendirian seperti ini." Luhan, begitulah nama gadis ini, dan ternyata Luhan juga mengidap kanker. Sehun sendirilah yang paling tahu bagaimana lemahnya tubuhnya saat digerogoti oleh penyakit itu. Dia pernah mengalaminya dan mengerti bagaimana rasanya.
Jauh di belakang lorong, Chanyeol bersandar di dinding. Dia mengamati semua kejadian itu, dan Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya saat Sehun menghilang di ujung lorong bersama Luhan.
Ternyata mudah sekali. Luhan akan memuluskan rencana yang berikutnya.
TBC
Read & Review please~
