Title : The Lost Symbol

Author : DeathSugar

Chapter : 2 - Promise

Cast : EXO | Luhan | Kris Wu, and some OC here. ww

Genre : Fantasy | Action | Violence | BL | slight romance

Disclaim : I'm not own that boys here, I just own story line and dirty mind on my head (and the precious deer here :p )

Comment : HunHan is Justice ! *dikepret* mohon kritik dan sarannya~ '3')/

Oh iya ada yang nanya ini nanti bakal Pairnya siapa aja kan.. ini cerita pairnya rada rumit jujuran aja.. tapi serius sih.. aku ga mau nonjolin 'kisah cintanya' palingan Slight ajalah.. buat bumbu.. tapi kalau sedikit buat doki-doki(?) ada nanti si anu sama si anu, dan si anu sama si anu sama si anu sama si anu yang ceritanya cinta segi-segian(?). XD wkwkwk ya ditunggu ajalah..

Btw.. aku itu Hard Shipper HunHan dan KrisHan.. jadi ya begitu lah .. wkwk XD soal KrisTao atau KRay.. hm.. gimana ya.. XD wkwkw Eh btw aku ga nyangka ini ff sidernya banyak.. ah ayolah tinggalin reviewnya~

][ DeathSugar ][

Present and Enjoy~

~…x…~

Kris berlari sekuat tenaganya, mengabaikan nafasnya yang terengah dan juga beberapa orang yang mengumpatinya karena ia menabraknya dan berlalu begitu saja tanpa permintaan maaf yang baik. Kris tidak perduli, ia tidak perduli mereka yang mengumpatinya, mengatakan ia kurang ajar ataupun tidak tahu sopan satun. Kris tidak perduli, yang ia perdulikan ialah.. Luhan.

Kris juga tidak memperdulikan teriakan Chen yang berlari dibelakangnya yang mengejarnya, Kris juga tidak perduli ketika ia tersandung dan terjatuh dan kembali bangkit secepatnya. Kris tidak perduli apapun saat ini, selain keselamatan Luhan.

Chen yang berada dibelakang Kris hanya mendengus kesal ketika Kris tidak memperhatikan dirinya—teriakannya maksudnya—untuk menunggunya. Chen juga kesal saat Kris begitu marah ketika ia memberitahu tentang pesan Luhan. Chen juga kesal ketika Kris mengatainya bodoh karena membiarkan Luhan sendirian. Chen tahu Kris khawatir, namun tidak dengan menyalahkan semuanya pada Chen juga 'kan?

Chen tidak henti-hentinya menggerutu karena harus berlari menyusul Kris yang terlihat sangat marah—dan jujur itu membuat Chen takut. Kris menggeratkan tangannya dan bahkan Chen bisa melihat dengan sangat jelas aura Kris terlihat menakutkan.

Kris berteriak keras ketika ia berada di lapangan kota yang dimana sudah banyak sekali manusia yang berkumpul disana, saling berdesak-desak. "MINGGIR ATAU AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENJADI ARANG!"

Api disekitar tubuh Kris seketika berkobar, membumbung tinggi dengan suara ledakan yang keras. Chen terdiam diposisinya ketika sebuah sekat tidak nyata seakan menahannya untuk maju. Api milik Kris itu membesar bersamaan dengan suara ledakan yang disertai angin yang begitu kencang yang terasa panas. Chen tidak tahu kenapa ada sekat ini. Chen tahu sekat ini milik Luhan. Chen menatap simbol scorpion ditangan kirinya. Simbol itu berkilat.

Perjanjian itu bekerja ?

Luhan melindunginya?

Atau justru melindungi Kris ?

Chen masih berdiri mematung. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Orang-orang yang berkumpul dihadapan Kris tak lagi sadarkan diri. Entah pingsan atau mati. Chen juga bisa melihat api yang menyala mengingkari sebuah tiang.

Chen mencoba untuk beranjak dari sana, berusaha untuk menjauhi Kris yang terbakar emosinya dan mencari celah untuk mendekat kearah tiang itu. Chen bahkan bisa melihat sebuah sekat berwarna biru yang berada ditengah lingkaran api yang berkobar itu.

"Kris! Luhan ada disana.. dia berada ditiang yang terbakar itu!" Chen berteriak. Berharap amarah Kris tidak membuatnya menjadi tuli seketika.

Chen berharap Kris tidak lepas kendali dan menghancurkan desa ini. Namun sepertinya harapannya salah, Api yang berkobar itu semakin membumbung tinggi, semakin menyala, dan seakan berkumpul menjadi satu. Dari api yang Kris ciptakan itu—yang membumbung ke langit itu—menjadi sebuah bola api yang besar dan kemudian sebuah auman bergema. Chen menatap sesuatu yang terbakar diatas sana.

Chen menelan ludahnya takut ketika ia melihat itu. Ini kedua kalinya ia harus melihat naga milik Kris itu. Sebuah naga api yang begitu gagah. "Kris…"

Naga itu menyemburkan api dari mulutnya dan membakar semua yang tersentuh api miliknya. Kris benar-benar marah. Matanya berkilat bersamaan dengan api yang semakin berkobar besar. Kris tidak menghiraukan teriakan Chen, ia tidak peduli pada apapun selain Luhan saat ini. Ia bahkan tidak takut ketika beberapa orang terdengar berteriak dan menyebutnya monster. Puluhan orang berlari menjauhi desa itu, terjatuh dan kembali bangun.

Kris bahkan tidak perduli ketika ia melihat seorang laki-laki yang tadi berteriak-teriak dengan sangat keras—menantang Kris—mulai menjerit kesakitan ketika api milik Kris membakarnya.

"KRIS ! PADAMKAN APIMU!" itu suara Chen. Kris bisa melihat Chen ketika pemuda itu sekarang berdiri disamping sebuah tiang yang mulai terbakar. Kris bisa tahu itu bukan api miliknya. "Apimu akan membakar Luhan juga! Luhan tidak sadarkan diri didalam sini!"

Kris mengumpat pelan, seketika ia mengarahkan api miliknya kearah tiang yang mulai terbakar itu. Api itu berkobar, menyentuh api yang mengelilingi tiang itu, semakin besar dan kemudian api itu hilang, Api Kris seakan menelan api yang digunakan penduduk desa itu mencoba membakar Luhan dan pemuda yang diseret tadi. dan bersamaan dengan itu, naga yang sedari tadi membumbung tinggi itu hilang layaknya diterpa angin.

Kris bisa melihat Luhan yang terpejam dengan seseorang yang berada dalam dekapannya. Kris bisa melihat sekat biru yang melindungi Luhan dengan seseorang yang berada dalam dekapannya. Kris seketika berlari, berlari menuju Luhan, tidak menghiraukan beberapa orang yang tergeletak dan ia injak tadi. Ia juga tidak perduli ketika melewati seorang perempuan yang mulai hangus terbakar apinya. Kris tidak memperdulikan apapun selain Luhan saat ini.

Tangan Kris terulur ketika ia berada didepan sekat berwarna biru yang berkilat ketika tersentuh cahaya matahari. Sekat itu terlihat retak disebagian sisinya. Kris mencoba menyentuh sekat itu, namun sebuah hentakan mencegahnya. Kris menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba mengatur emosi dan juga nafasnya, dan kemudian menghentakkan tangan kirinya, membuat sebuah api dari sana dan kemudian melemparkan kearah sekat itu.

Bola-bola api Kris seakan lenyap ketika menyentuh sekat itu. Seakan sekat itu melahap bola-bola miliknya. Kris jengah, emosinya tak lagi bisa atur. Keadaan Luhan didalam sana membuatnya begitu frustasi dan mengutuk kecerobohannya untuk melindungi Luhan. Kris dengan berat dari, menghentakkan lagi tangan kirinya dan kobaran api yang jauh lebih besar berkobar dari tangannya, menghantamkan bola-bola api kearah sekat yang sudah mulai retak itu, dan pada bola api terakhir itu, Kris berteriak dan sebuah ledakan yang disertai angin yang berhembus dengan hawa panas terasa membakar, dan kemudian sekat biru yang melindungi Luhan itu semakin retak dan kemudian pecah.

Kris seketika meraih tubuh Luhan yang tidak sadarkan diri itu, mendekapnya kuat. Tangannya beberapa kali menepuk pipi pemuda itu, tidak terlalu kuat namun Kris rasa itu cukup untuk membuat sosok manis itu membuka matanya, walau kenyataannya mata itu belum terbuka sedikitpun.

Sementara Chen, Chen menatap pemuda yang Kris singkirkan dengan paksa dari pelukan Luhan tadi, kemudian membawa tubuh ringkih—namun berat untuk Chen—dan menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala sosok ringkih itu.

Chen juga bisa melihat wajah Luhan yang pucat dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Chen bisa melihat Kris yang terlihat frustasi ketika panggilannya sama sekali tidak membuahkan hasil. Hingga beberapa kali Kris terlihat mengguncang tubuh mungil Luhan dan perlahan mata itu terbuka, bibirnya terlihat mengucapkan sesuatu, namun Chen tidak mendengar apapun.

Sementara Kris, ia semakin meraih tubuh mungil itu dalam dekapannya. Lirih, ia bisa mendengar suara itu dengan pendengarannya. Walau lirih ia masih bisa mendengar apa yang Luhan ucapkan, "Y-Yi-fan.. I-Ibu..a..aku..t-ta-takut.." dan ketika Kris melepas dekapan eratnya untuk melihat wajah Luhan, Kris melihat setetes buliran bening menggantung di pucuk mata Luhan.

Dan hati Kris seketika sesak.

.

][ The Lost Symbol ][

.

Sosok mungil itu menangis ditengah kerumunan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan jijik. Tangan mungilnya menghapus air matanya dengan kasar. Sosok mungil itu duduk disamping sosok lain yang tergeletak disampingnya dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Tubuhnya dipenuhi luka, darah segar mengalir di pelipisnya. Rambut hitam itu kusut, terlihat beberapa luka yang masih mengucur darah segar dan beberapa bercak darah yang mulai mengering.

"Ibu.. Ibu...!" sosok mungil itu berteriak. Menguncang tubuh perempuan yang sudah tak bergerak itu dengan isakan dan bahu yang bergetar. "IBU! Lulu takut! Ibuuu!"

Sosok mungil itu kembali berteriak ketika tangan mungilnya mengguncang tubuh ibunya yang tidak bergerak. Matanya yang berair menatap kearah semua orang yang melihatnya dengan tatapan jijik dan tidak diharapkan itu. Mulut mungilnya bergerak, bahu mungilnya yang kurus juga ikut bergetar; takut.

"K-kenapa?" bibir itu kembali bertanya seraya tangan mungilnya yang kini sudah berbalut dengan darah milik ibunya. "Kenapa kalian membuat ibuku tidak bergerak?"

Tidak ada jawaban. Hanya ada bisikan, umpatan, cacian dan makian. Sumpah serampah, kutukan dan apapun dapat sosok mungil itu dengar.

"Kenapa kalian membuat ibuku tidak bergerak?!" ia sedikit berteriak. Kedua matanya berkilat marah. Air matanya masih mengalir, bahunya bergetar diikuti dengan nafasnya yang tidak beratur.

"KENAPA KALIAN MEMBUAT IBUKU TIDAK BERGERAK?!" ia kembali mengulangi pertanyaan yang sama, menatap semua orang yang menatapnya. Namun tetap sama, mereka tidak memberi jawaban apapun, hanya ada tatapan yang masih sama dengan yang tadi.

Sosok mungil itu kembali menatap ibunya, menatap sosok ibunya yang sudah tidak bergerak, dan kemudian memeluk tubuh yang perlahan dingin itu dengan erat. "Ibu.. jangan tinggalkan Lulu sendiri.. Ibu.." masih tidak ada jawaban, "kenapa ibu tidak membuka mata ibu?" tangan mungil itu mengusap wajah ibunya yang penuh dengan darah itu lembut. Menyibakkan rambut-rambut hitam ibunya yang menutupi sebagian sisi wajahnya. Tangan mungil itu bergetar, bibirnya bergumam tidak jelas. Dan ketika ia kembali menatap semua orang yang mengelilinginya dengan ibunya, sebuah batu mendarat di punggung kirinya. Ia meringis menahan sakit, menatap kearah asal batu itu dilemparkan.

"anak itu pasti seperti ibunya!" seseorang membuka suaranya, "ibunya penyihir.. dan dia pasti juga penyihir.."

"IBUKU BUKAN PENYIHIR!" bibir mungil itu kembali terbuka. Jujur, tenggorokan terasa kering dan sakit saat ini. ia terlalu banyak berteriak dan menangis namun rasa kesal dihatinya membuat semua itu tidak terlalu membuatnya harus mengeluh.

"kalau bukan penyihir lalu apa? Cenayan? Dukun?" sosok lain menimpali. Tidakkah mereka terlalu kasar dan kejam pada anak kecil berusia lima tahun? Tidakkah mereka merasa kasihan dan iba ?

Tidakkah mereka memiliki hati?

Maka jawabannya adalah tidak.

Mereka kembali melempari sosok mungil itu dengan batu, tanpa kasihan. Bahkan ketika batu itu mengenai kepalanya dan mengeluarkan darah terdengar beberapa orang yang justru tertawa dan memberinya sumpah serampah dan kata 'mati' yang beberapa kali sosok mungil itu dengar.

Sosok mungil itu memeluk ibunya erat, memegang jemari ibunya yang sudah dingin masih dengan isakannya. Bahu mungil itu makin bergetar ketika ia kembali terhantam sebuah batu. Tangisan bahkan semakin keras bersamaan dengan semakin sering tubuh mungil itu terkena lemparan batu.

"BERHENTII!" suara mungil lain kembali terdengar.

Sosok mungil—Lulu mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya dia ternggelamkan dalam dada sang ibu yang semakin terasa dingin. Wajahnya sudah penuh dengan bekas darah ibu.

"Jangan sakiti Lulu lagi!"

"Tuan Muda Yi Fan, apa yang anda lakukan disini?" sebuah suara lain datang. Kemudian duduk mensejajarkan diri dengan sosok mungil—Yi Fan yang terlihat marah.

"mereka menyakiti Lulu, Ming!" Yi Fan terlihat kesal. Mata polosnya berkilat marah menatap sosok dihadapannya itu. "Mereka jahat!" Yi Fan menepis tangan Ming yang ingin menyentuhnya, dan kemudian berlari kearah Lulu yang masih terduduk itu.

"Yi Fan.. kenapa mereka membuat Ibu Lulu tidak bergerak?"

Dia menangis.

"kenapa mereka membuat Ibu Lulu menjadi dingin seperti ini?" Hening. "Kenapa mereka membuat Ibuku tidak bernafas?"

Masih tidak ada jawaban.

"kenapa mereka membuat Ibuku menjadi seperti ini! Aku benci mereka, Yi Fan.. Aku benci mereka! Hiks hiks.."

.

][ The Lost Symbol ][

.

Kris masih terdiam ketika ia membawa sosok yang masih terpejam itu dalam gendongannya, mencoba tidak mendengarkan gumaman apapun yang Luhan gumamkan, namun ia tidak bisa. Kris bisa mendengarnya dengan sangat jelas , walau gumaman itu begitu lirih tak lebih dari sebuah bisikan. Dan Kris begitu membenci ini.

Mengabaikan Chen yang dengar kesusahan ketika ia membawa sosok lain—yang Kris singkirkan dari pelukan Luhan secara paksa dan -sedikit- kasar. Kris tidak peduli siapa sosok itu. Ia tidak peduli entah sosok itu Frost atau apapun, Kris tidak peduli apapun selain keadaan Luhan saat ini. Kris bahkan tidak peduli dengan desa dibelakang mereka yang sudah tenggelam dalam bara api yang berkobar. Ya, Kris membakar habis desa itu. Ia terlalu marah, ia bahkan tidak peduli dengan penduduknya yang sebagian juga ikut terbakar dan mungkin hampir seluruh penduduk desa itu sekarang sudah mati menjadi arang.

"Kris.. disana ada gubuk.. tidakkah lebih baik jika kita kesana sebentar?"

Kris menatap Chen sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. "Kau bisa menjaga Luhan sementara aku akan mencari bantuan tabib.. mungkin." Itu Suara Chen.

Kris melirik Chen melalui ekor matanya, kemudian membuka mulutnya, "biar aku yang mencari bantuan."

"Dengan muka sedatar dan sedingin itu? Aku yakin orang akan langsung lari jika melihatmu." Chen mencibir.

Hening kembali. Chen maupun tidak bersuara ketika langkah mereka sampai didepan gubuk lusuh itu. Chen beberapa kali mengucapkan salam, namun tidak ada jawaban, "tempat ini sepertinya kosong." Chen melangkahkan kakinya masuk, mengitarkan pandangannya pada seluruh ruangan dan setelah yakin kalau gubuk itu kosong, ia mengangkat ibu jarinya dan kemudian tersenyum lebar.

Kris masuk dan kemudian menyandarkan tubuh lemah Luhan—yang mulai demam—dan melepas jubah hitam yang menutupi mantel hitamnya yang kemudian ia letakkan ditanah dan membaringkan tubuh diatas jubahnya itu.

"Apa Luhan baik-baik saja? Dia terlihat pucat.."

"Kurasa tidak.. bagaimana dengan dia?" Kris menunjuk sosok mungil yang sama belum sadarkan diri dengan dagunya dan hanya dijawab Chen dengan mengangkat pundaknya. "aku tidak tahu.. mungkin hanya pingsan. Baiklah aku akan mencari bantuan."

Chen baru saja hendak melangkahkan kakinya ketika matanya menatap sosok lain yang berdiri didepan pintu dengan wajah yang menunduk. Chen mengamati dari atas kebawah sosok yang mematung itu. Tidak terlihat mencurigakan pikirnya.

"kau siapa?" Chen sok galak.

"um… aku.. aku.."

"Aku apa?!"

"Aku hanya ingin melihat keadaan Minseok.." Lirih

"Minseok?"

Sosok itu mengangguk. Melirik kearah Chen sekilas—dan karena takut—dan kemudian tertunduk lagi. "a-aku temannya.. dan a-aku..aku.. bisa membantu merawat Minseok dan orang itu.." sosok itu melirik kearah Luhan dan menatap Kris sekilas dan ketika tatapan mereka bertemu, Kris menatap sosok itu tidak percaya, "Zhang Yixing?!"

"Yi Fan?!"

Ya, setelah pertemuan Kris dan orang yang bernama Zhang Yixing itu –dan mendadak Chen merasa seperti orang yang asing diantara mereka berempat- Kris masih tidak terlalu banyak membuka suara. Oh dan satu kejutan lagi bagi Chen –dan Kris- karena Yixing juga memiliki kekuatan. Symbol Unicorn ditangan kanannya, pemegang kekuatan Healing.—Penyembuh.

Chen bahkan juga baru tahu kalau ternyata Kris dan Yixing adalah teman saat kecil sebelum akhirnya Yixing memilih meninggalkan kediaman keluarga Wu—karena tuannya juga pergi. Keluarga Wu? Oh tentu saja, Kris adalah anak dari keluarga bangsawan—walau akhirnya memilih untuk pergi –dan melarikan diri bersama Luhan- dan meninggalkan keluarganya. Dan Yixing yang ternyata juga teman Minseok itu, ketika ia memilih meninggalkan kediaman keluarga Wu untuk mencari Tuan Wu Yi Fan—katanya.

"aku selalu diam-diam memberi Minseok makan, walau sebenarnya itu sudah tidak pantas disebut makanan, sih." Yixing menunduk, "dan juga itu terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika saat itu aku baru saja sampai desa ini dan aku tidak sengaja menemukannya didalam gudang yang sangat usang. Dia menangis, dan ketika itu dia bilang kalau dia lapar. Aku memberinya sedikit makanan atas upahku bekerja hari ini dan hampir setiap hari aku menemui Minseok secara diam-diam dan hari ini—kejadian ini terjadi."

Chen mengangguk, sedikit membuka bibirnya kemudian mengatup lagi hingga akhirnya Kris yang membuka suara, "kau.. Yixing tidakkah kau ingin ikut bersama kami?" Kris menatap Yixing yang saat ini masih sibuk dengan Si Minseok itu dan Yixing hanya tersenyum manis, menampilkan lesung pipinya, "perintahmu adalah kewajiban bagiku, Tuan."

Kris mendesah berat, "ini bukan perintah—aku memberimu kebebasan untuk memilih jalanmu sendiri. Kau mau ikut bersama kami mencari teman-teman kita yang lain sementara menunggu Minseok itu—" Kris menunjuk Minseok dengan dagunya, "dan juga Luhan sadar.."

Yixing tersenyum lagi, kemudian meletakkan selimut yang menyelimuti tubuh Minseok—sebenarnya itu jubah milik Chen—dan melangkahkan kakinya kearah pemuda berhidung mancung itu. "hidupku kuserahkan padamu tuan.. aku ikut denganmu.."

Dan kemudian Kris tersenyum.

.

.

.

Ini sudah hari kedua dan Luhan belum sadar dan bahkan belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka matanya, dan itu sungguh membuat Kris terlihat begitu gusar. Matanya masih menatap sosok manis yang memejamkan matanya itu. tangannya menggenggam erat jemari tangan milik Luhan. Kris sendiri tidak tahu apa yang membuat sosok dihapannya itu begitu betah untuk menutup matanya. Minseok sudah membuka matanya kemarin—Ya, walau ada sedikit insiden yang membuat semua orang didalam gubuk itu kaget, sih. Ketika Minseok sadar dan dia berteriak ketakutan dan seketika tempat itu menjadi beku—tapi kenapa Luhan belum juga membuka matanya?

Yixing bilang kalau Luhan sebenarnya baik-baik saja, tapi entah kenapa setiap Yixing mencoba untuk mengobatinya, Yixing selalu merasa ada sebuat benteng yang menghalanginya. Yixing tidak tahu apa itu, namun yang pasti ini berarti tidak baik.

"aku akan keluar sebentar untuk mencari obat.. Yifan.. bisakah kau menjaga Minseok sebentar?" Yixing melirik sekilas kearah Minseok yang tertidur setelah ia selesai memakan semangkuk bubur yang Yixing masak tadi.

Hanya ada sebuah anggukan dari Kris – orang yang Yixing maksud dengan Yifan tadi – sebelum akhirnya bibir itu terbuka untuk mengucapkan sebuah kalimat, "hati-hati.. jangan pulang terlalu malam.."

Dan Yixing hanya tersenyum tipis.

"sa—er..aku mengerti.."

Selepas pintu tertutup, Kris menghembuskan nafasnya berat. Menatap sosok Luhan yang belum membuka mata itu sedih. Chen sedang pergi mencari makanan saat ini, hanya ada dia, Luhan dan bocah es yang tertidur itu. Kris mendekatkan tubuhnya kearah Luhan, dan mengulurkan tangannya, mengusap pelan surai coklat caramel itu lembut. "sampai kapan kau menutup matamu seperti ini, hm?"

Kris tersenyum pilu, mata tajamnya perlahan berubah sendu, tatkala ia menatap wajah pucat itu. Mengusap wajah cantik itu, menelusuri lekuk pahatan sempurna dari Tuhan itu dengan lembut, dan kemudian mendekatkan wajahnya kewajah itu.

Mencium lembut kening Luhan, kemudian turun ke sepasang mata yang terpejam itu, pipi, hidung dan berakhir kebibir plum itu, lembut dan lama. Seakan menyalurkan semua perasaan dalam hatinya. Entah perasaan apa yang coba Kris salurkan lewat tautan bibir itu. Yang pasti saat tautan bibir itu semakin dalam.. air mata Kris jatuh tepat diwajah Luhan. Dan ketika tautan bibir itu terlepas, perlahan mata tertutup itu seakan mengerjab.

Dan perlahan, mata candy itu terbuka walau terlihat lelah dan dan lemah.

"kau membuka matamu, hm?" Kris tersenyum. Mengusap kening itu lagi, dan kemudian menciumnya. "aku hampir saja membuatmu bangun secara paksa kau tahu.."

Sebuah senyuman tipis terukir dibibir tipis yang basah itu.. "terima kasih sudah membangunkanku dari mimpi buruk itu.."

Luhan mengambil tangan Kris kemudian mengusap symbol naga ditelapak tangan Kris yang berkilat seraya tersenyum, "terimakasih banyak. Apa tadi sakit?"

Kris tersenyum tipis, "tidak terlalu.. hanya sedikit butuh banyak tenaga untuk menyadarkan 'siapa kau sebenarnya'.." hening sejenak, "dan bocah es yang kau selamatkan itu.. kau tahu.. aku hampir membunuhnya."

Luhan tersenyum sekilas, "ya.. seharusnya aku sadar 'siapa aku'. Maaf.. terima kasih.."

.

.

Chen mematung didepan pintu ketika ia hendak saja masuk kedalam gubuk – yang mendadak menjadi rumah mereka berlima – ketika matanya yang polos menatap pemandangan yang begitu asing baginya. Pemadangan ketika seorang Kris menangis – oke, Chen ralat, meneteskan air matanya – sementara bibirnya tengah dengan syahdu menganggut bibir tipis milik Luhan.

Chen kaget, tentu saja. Ia tidak tahu kalau ternyata Kris dan Luhan ternyata begitu. Chen tahu kalau Luhan dan Kris itu dekat tapi ia tidak tahu kalau ternyata mereka 'berbelok'. Oh ayolah.. Chen tahu kalau Luhan memang cantik dan manis.. dan juga terkadang terlihat menggemaskan, namun bagaimanapun mereka adalah laki-laki 'kan.

Dunia benar-benar akan kiamat sepertinya.

"kau membuka matamu, hm?" Chen bisa mendengar dengan samar suara berat Kris "aku hampir saja membuatmu bangun secara paksa kau tahu.." Chen makin mengeratkan keningnya. Mencoba mencerna apa yang Kris maksud dengan kata 'bangun'.. mungkinkah..

Hoo.. Chen menepuk-nepuk pipinya dan kemudian menggelengkan kepalanya. Mengusir segala setan yang mencoba merasuki pikirannya dengan semua prasangka buruk dan hal mesum lainnya.

"terima kasih sudah membangunkanku dari mimpi buruk itu.."

Chen bisa mendengar suara lain walau itu lirih.. itu suara Luhan. Chen hendak saja masuk ketika perasaan senang mendadak menyelimuti hatinya.. namun kakinya mendadak berhenti ketika suara Kris kembali terdengar, "tidak terlalu.. hanya sedikit butuh banyak tenaga untuk menyadarkan 'siapa kau sebenarnya'.." hening sejenak, "dan bocah es yang kau selamatkan itu.. kau tahu.. aku hampir membunuhnya."

Chen kembali menggerutkan keningnya ketika kata 'siapa kau sebenarnya' terdengar begitu ambigu baginya. Siapa Luhan sebenarnya? Bukankah Luhan sama seperti dia dan Kris? Tapi kenapa ketika bayangan tentang pertemuan pertamanya dengan Luhan kembali membuat Chen ragu dengan siapa Luhan sebenarnya.

Kris dan Luhan memang penuh misteri, pikir Chen awalnya. Tapi Kris tidak semisterius Luhan. Chen bisa melihat mata rusa itu penuh dengan luka.. namun Chen tidak bisa memastikan.

Dan perjanjian dengan Luhan beberapa hari yang lalu juga membuatnya berfikir.. 'mungkinkah Luhan hanya pemilik kekuatan seperti dirinya.. atau ada hal lain?'

Entahlah.. Chen tidak tahu.. yang ia tahu pasti saat ini ialah.. Luhan sudah bangun dan perutnya sudah minta untuk diisi. Chen sudah sangat lapar sekali saat ini.

Chen mengetuk pintu itu, kemudian bersua, "Aku pulang!" ucapnya sebiasa mungkin ketika mata unta miliknya bertemu langsung dengan Kris dan juga Luhan.

.

][ DeathSugar ][

.

"Huang Zitao…" Yixing mengetuk pintu rumah itu beberapa kali seraya memanggil nama pemilik rumah itu. Seperti tidak mendapat jawaban apapun dari dalam sana, Yixing memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Tidak terkunci.

Yixing mencoba berhati-hati ketika kaki jenjangnya dengan perlahan membawanya melewati sebuah ruang tamu dan menuju sebuah anak tangga dari kayu menuju kelantai atas.

"Tao.. kau mendengarku.. ini aku Lay.."

Yixing—atau orang yang menyebutnya dirinya dengan Lay itu membelalakan matanya ketika mata teduh miliknya menatap dua mayat yang tergeletak tak bernyawa dengan darah yang menggelinang dilantai milik keluarga Huang ini.

Yixing menutup bibirnya, ketika sebuah hentakan dari dalam perutnya membuatnya ingin muntah, bau anyir darah yang menusuk indra penciumannya benar-benar membuat isi perutnya ingin dikeluarkan.

Yixing tahu siapa yang melakukan ini, namun ia tidak tahu apa yang membuat orang itu sampai melakukan ini. Ia hanya meninggalkannya selama tiga hari dan keadaannya bisa seperti ini.

'Tao.. kau dimana.. aku Lay, Xing-Gege.." Yixing kembali melangkahkan kakinya ketika ia sudah cukup bisa mengendalikan rasa mualnya. Kakinya melangkahi mayat laki-laki tambun itu, kemudian mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat itu. Mengetuknya perlahan, tidak ingin membuat orang yang berada didalam sana takut.

"Tao-ya.." lembut. Suara pemuda dengan lesung pipi itu terdengar lembut dan hangat. Disusul dengan sebuah derap langkah kaki dan pintu yang terbuka dengan sangat kasar. Yixing hampir saja terjungkal kebelakang ketika tubuh jangkung itu menerjangnya, memeluknya dengan erat.

"Ge.. aku takut ge.. mereka hampir saja membunuhku tadi.. dan aku tidak sengaja membunuh mereka. Aku menghentikan waktu dan kemudian aku kalap.. menusukkan pedang itu keperut pria itu dan kemudian menebas leher pria satunya."

"kenapa mereka mencoba untuk membunuhmu, hm?"

"mereka ingin menjual Gege.. dan aku menolak memberitahu dimana Gege berada.. lalu mereka memukulku.. menyeretku. Aku takut.. aku kalut.. tiba-tiba saja semua terasa berhenti dan kemudian aku mengambil pedang disana.. dan.." pemuda dengan mata sembab karena air mata itu tidak lagi melanjutkan kata-katanya ketika Yixing memeluknya, mengusap punggung pemuda itu dan kemudian menatap mata pemuda itu lembut. Yixing tersenyum, menampilkan lesung pipinya, mengusap lembut rambut hitam itu, "kita pergi dari sini, ne.. kita sudah menemukan saudara kita yang lain.. sama seperti kita.."

xxxXXxxx

Luhan tertawa ketika ia menatap pemuda dengan pipi gembul itu menatap Kris dengan tatapan tidak suka. Pemuda itu—Minseok memeluk Luhan dengan sangat erat bahkan ketika Kris berusaha membuat pemuda itu menyingkir dari Luhan karena menurut Kris, Luhan masih butuh istirahat.

"Ya! Baozi.. apa yang kau lakukan?" Chen protes sebuah kulit pisang mendarat dengan sangat indah diatas kepalanya. Luhan yang melihat itu hanya semakin tertawa.

Kris hendak saja membuka mulutnya ketika pintu itu terbuka, menampilkan sosok Yixing dengan wajah kalut, dan dengan seorang pemuda bermata panda dibelakangnya. Kris menatap kedua sosok itu sebelum akhirnya suara Luhan mengalihkan perhatiannya.

"Kau Zhang Yixing?" Luhan tersenyum. Jemari mungilnya masih membelai surai hitam milik Minseok itu. Sementara orang yang disebut hanya tersenyum lembut dan menatap Luhan dan Kris bergantian.

"terima kasih telah mengobatiku.." Luhan tersenyum lagi. "dan siapa dia?" Luhan menatap kearah Tao sekilas dan tersenyum, "kau.. Ah.. Yixing.. tidakkah kau lelah terus berdiri disana?"

Seakan tahu maksud dari kata-kata Luhan, dia kemudian duduk tepat disebelah Luhan. "jadi kau tahu?"

Luhan masih tersenyum, sedikit mengembungkan pipinya, "aku bisa merasakannya.. jadi dia apa?"

"Namanya Tao, Huang Zitao.. symbol Hour Glass.." Luhan menatap Tao yang masih menunduk seraya memainkan jemari-jemarinya, yang sesekali melirik kearah Kris. "Tao-ya.. kau takut pada Kris?"

Tao menatap Luhan sekilas sebelum akhirnya kembali menyibukkan dirinya dengan jemari-jemarinya. Luhan sendiri bahkan bisa melihat symbol ditangan kiri Tao, symbol dengan bentuk jam pasir itu.

"Hh.. Minseok—"

"Aku bukan Minseok!" sosok mungil yang sedari tadi sibuk bergelayut ditubuh Luhan membuka suaranya, menatap Luhan dengan tatapan tidak suka ketika Luhan menyebut nama 'Minseok' itu, Ya.. sebenarnya kepada siapapun yang menyebutnya dengan nama Minseok, sih.

"Ah.. soal Frost belum selesai dan sekarang Hour Glass juga.." Luhan menghembuskan nafasnya berat, "aku tidak tahu harus senang atau sedih sekarang.. jadi—"

"Aku yang akan mengurus bocah waktu ini , Lu. Dia tak bisa mengendalikan kekuatanmu 'kan?" Oh, Kris kali ini membuka suara, "dan kau manusia petir.." Kris melirik kearah Chen yang masih sibuk dengan daging bakarnya, "kau akan membantuku mengajari bocah panda ini."

Chen hanya mengangguk dan mengangkat ibu jarinya, sementara mulutnya masih sibuk dengan daging bakar miliknya.

"Bagaimana caranya mengajari Tao?" Yixing membuka suara, menatap kearah Kris dan Chen bergantian,

"jika dia bisa menghentikan waktu, mungkin dia juga bisa menghentikan petir milikku.."

Dan seketika kepala Chen kembali dihadiahi kulit pisang, Yixing yang melakukan itu kali ini.

"aku akan membunuhmu jika kau membuat Tao dalam bahaya!"

Dan tawa penghuni gubuk kecil itu membuat gubuk kecil itu terasa hangat malam ini..

.

.

.

To be continued~

Akhirnya apdet juga. Chuu sibuk banget sama kerjaan dan beberapa hal yang ganggu mood buat nulis. Aku ga begitu pede sama Chapter kali ini. Ga tahu kenapa kok kayaknya terlalu aku paksain alurnya.

Alurnya ga nyambung .. konfliknya ga begitu nyambung satu sama lain.

Kemunculan dua tokoh dalam satu chap bener-bener kayak di paksain ya?

Kenapa Tao dan Lay udah dimunculin padahal Xiumin aja baru nonggol gitu. Alasannya kenapa mereka udah nonggol karena chapter depan kalau ga chapter 4 itu si Kai udah muncul.. Kai muncul berarti si pororo juga muncul kan ? ._. Dan artinya.. jeng jeng …

Nah Tao yang punya andil besar pas nanti mereka ketemu sama Kai. Alasannya tahu ? ya tunggu dulu aja nanti ya .

Dan juga.. aku ga janji bisa update cepet ya .. karena mengingat aku ini orangnya mood-mood-an(?) gitu .. jadinya ya gitu lah . hehehe~

Udah gitu aja .. need critic dan saran .. jangan lupa review..

©DeathSugar

24 Mei 2015