Another 5%

Remake Novel by Shanty Agatha

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun – Xi Luhan

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun and Xi Luhan

Length: Chaptered

Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural

Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.


CHAPTER 5

Sehun menggendong Luhan yang lunglai dan berjalan menuju ruangan bagian rawat intensif bagi penderita kanker. Suster yang berjaga di sana segera menghampiri mereka dengan panik. "Astaga! Sehun-ssi. Bagaimana? Kenapa bisa Luhan-ssi?" Lalu suster itu menyadari bahwa Sehun tampak begitu sehat dan kuat. "Gwaenchanayo, Sehun-ssi? Anda menggendong Luhan?"

"Nan gwaenchana." Sehun tersenyum penuh keyakinan. "Aku baik-baik saja suster, jangan cemaskan aku. Oh, dimana kamar Luhan? Aku akan menidurkannya."

"Kamarnya sebelah kanan lorong paling ujung, letaknya di seberang kamar anda. Astaga, dia tampak pucat sekali, seharusnya dia tidak boleh berjalan-jalan keluar, dia pasti menyelinap tadi." Wajah suster itu memucat. "Aku akan memanggil dokter."

Sehun menganggukkan kepalanya, membawa Luhan yang lunglai di gendongannya menuju ruangannya. Kamar itu berada jauh di ujung. Tempatnya berseberangan dengan kamar Sehun – yang sebentar lagi akan menjadi bekas kamarnya -. Selama sakit, Sehun tidak pernah keluar kamar, kecuali saat dia melakukan pemeriksaan di luar. Pantas saja dia tidak pernah melihat Luhan sebelumnya walaupun kamar mereka berseberangan.

Kamar Luhan tampak lengang seperti kamarnya, namun terkesan feminine karena sprei dan bed covernya berwarna pink. Dengan lembut dan hati-hati, Sehun membaringkan Luhan ke atas ranjang. Dia memperhatikan betapa pucatnya perempuan ini. Tiba-tiba hatinya merasa sedih membayangkan bagaimana gadis semuda dan serapuh ini mengalami kesakitan yang sama seperti yang ia rasakan dulu. Seandainya Luhan tidak sakit, dia pasti akan menjadi gadis yang ceria.

Bulu mata Luhan yang panjang dan lentik itu bergerak-gerak, lalu mata rusa bening itu terbuka, tampak bingung dan menatap sekelilingnya. Luhan mencoba bangun dan duduk, tapi Sehun buru-buru mencegahnya. "Jangan bangun dulu, kau baru saja pingsan, kau pasti pusing."

Luhan mendongakkan kepalanya dan menatap Sehun seolah baru menyadari keberadaannya. "Ah, kau. Kau yang menolongku di lorong tadi." Gadis itu mengernyit kesakitan.

"Dokter akan segera datang. Apakah kau merasa pusing?" Sehun tahu bagaimana rasanya, bagaimana sakitnya kepalanya dulu.

Luhan menganggukkan kepalanya, tersenyum lemah. "Aku selalu merasa pusing dan mual setiap saat. Lama-lama aku terbiasa." Luhan menatap Sehun. "Apakah kau menjenguk seseorang disini?"

Sehun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aniyo. Aku pasien juga di sini, kamarku ada di depan kamarmu."

"Pasien di sini?" Luhan mengerutkan keningnya. "Kau tampak terlalu sehat untuk seorang penderita kanker."

Sehun terkekeh. "Aku sudah sembuh."

"Sembuh?" Mata rusa Luhan yang indah membelalak lebar. "Bagaimana bisa?"

"Aku sembuh begitu saja." Sehun tersenyum sambil mengangkat bahunya.

Luhan membuka mulutnya Nampak hendak berbicara. Tapi kemudian Joonmyeon uisanim masuk dan tersenyum melihat Sehun juga berada di ruangan itu. "Di sini rupanya anda Sehun-ssi. Saya menunggu anda di ruangan saya untuk membicarakan hasil tes kedua anda."

Sehun tersenyum meminta maaf. "Ah cheosonghamnida, saya sudah dalam perjalanan ke sana saat saya menemukan Luhan hampir pingsan di lorong."

"Ah ya, Luhan." Joonmyeon uisanim menoleh ke arah Luhan yang setengah duduk di ranjang dengan pipi memerah. "Kau rupanya memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian lagi. Untung tadi ada Sehun yang menolongmu, kalau tidak kau akan terbaring di lorong beberapa lama sampai ada orang lewat. Bukankah sudah kubilang, kalau kau ingin jalan-jalan kau bisa memanggil suster untuk menemanimu."

Pipi Luhan semakin merah, memberikan rona pada kulitnya yang pucat. "Cheosonghamnida sonsaengnim." Gumamnya lemah penuh penyesalan. "Saya sungguh tidak berniat keluar sendirian. Saya sudah memanggil suster, tetapi tidak ada yang datang. Jadi saya mencoba berjalan ke pos perawat dan tidak ada orang. Akhirnya saya pergi ke lorong untuk mencari perawat."

Joonmyeon uisanim menganggukkan kepalanya. "Nanti jangan diulangi lagi ya," gumamnya.

Joonmyeon uisanim mulai memeriksa Luhan. "Kau merasa pusing?"

"Berdentam-dentam seperti biasa." Jawab Luhan sambil tersenyum lemah.

Joonmyeon mengangguk. "Nanti akan reda setelah kau minum obat. Baiklah, saya akan mengontrol pasien yang lain." Dia menoleh kea rah Sehun dan tersenyum. "Mengenai hasil test…"

"Sebenarnya saya tidak perlu tahu hasilnya. Saya yakin hasilnya akan sama dengan yang pertama," sela Sehun yakin.

Joonmyeon tertegun. Menganggukkan kepalanya. "Well, memang hasilnya sama. Sungguh suatu keajaiban." Matanya menatap Sehun sungguh-sungguh. "Bagaimanapun juga kami memerlukan anda untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kami harus tahu apa yang terjadi."

Sehun menganggukkan kepalanya, tersenyum lebar. "Aku akan berusaha membantu sebisaku."

Setelah Joonmyeon pergi, tinggal Sehun bersama Luhan yang sedang menatapnya malu-malu.

"Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu, aku benar-benar ceroboh dan jadi merepotkanmu," gumam Luhan akhirnya.

Sehun menganggukkan kepalanya. "Sama-sama, senang bisa membantumu." Dia lalu mengulurkan tangannya. "Oh, aku lupa kita belum berkenalan. Oh Sehun."

Luhan menyambut uluran tangan Sehun, tersenyum hangat.

"Xi Luhan."


Selesai!

Baekhyun menutup berkas laporannya dengan puas dan menghela nafas panjang. 45 menit, ternyata lebih lama dari waktu yang dijanjikannya pada Sehun. Semoga Sehun tidak marah padanya, semoga ia mau mengerti keadaan Baekhyun saat ini.

Baekhyun sudah benar-benar terlambat, jadi dia memutuskan untuk naik taxi demi menghemat waktu. Setelah meletakkan berkas-berkas itu di meja Chanyeol, ia setengah berlari bergegas keluar.

Dia harus bergegas!

Seketika itu dia bertubrukan dengan tubuh besar kokoh yang beraroma maskulin. Tubrukan itu sangat keras hingga Baekhyun hampir terjatuh jika saja Chanyeol tidak menahan pundaknya. "Hey, hey. Mianhae." Chanyeol menegakkan Baekhyun yang terhuyung, dan melepaskan pegangannya. "Mau kemana terburu-buru?"

Baekhyun menghela nafas panjang, menatap Chanyeol yang sekarang sudah mengenakan pakaian santai dan tampak luar biasa tampan. Sepertinya lelaki itu sempat pulang ke rumah dan berganti pakaian, atau bahkan sudah mandi mengingat wanginya yang begitu segar. Tiba-tiba Baekhyun mengingat kondisinya sendiri, belum mandi dan akan segera bertemu Sehun. Baekhyun bertekad menyemprotkan parfum ke sekujur pakaiannya nanti di dalam taxi agar dia tetap harum dan segar di depan Sehun.

"Cheosonghamnida, tetapi saya harus segera pergi ke rumah sakit."

"Rumah sakit lagi? Kemarin kita pertama kali bertemu di rumah sakit." Chanyeol mengangkat alisnya. "Apakah ada saudaramu yang sakit?"

"Bukan saudara," Baekhyun menggumam cepat. "Dia calon suami saya."

"Oh." Chanyeol menatap Baekhyun lembut. "Aku ikut prihatin Baekhyun, semoga calon suamimu lekas sembuh."

Lelaki itu melirik berkas-berkas yang diletakkan Baekhyun di mejanya. "Pekerjaanmu sudah selesai?"

"Sudah," jawab Baekhyun bersemangat. "Saya sudah membuat laporan seinformatif mungkin. Semoga anda puas dengan semua informasi yang dimuat di sana."

"Baiklah," Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Pergilah, maaf karena aku menahanmu. Hati-hati."

"Ne, gamsahamnida sajangnim," Baekhyun membungkukkan badan hormat. Ia setengah berlari menuju kea rah lift.

"Oh, Baekhyun-ssi?" tiba-tiba saja Chanyeol memanggil, membuat langkah Baekhyun terhenti dan menoleh.

"Ne sajangnim?"

"Kau bisa memakai supirku, dia ada di bawah. Dia akan mengantarmu ke rumah sakit."

"Aniyo sajangnim. Tidak perlu. Saya bisa naik taxi," Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Di luar hujan dan menunggu taxi adalah waktu yang lama. Kasihan calon suamimu sudah menunggu. Pakai saja supirku, hitung-hitung sebagai permintaan maafku karena membuatmu lembur dan terlambat menemui calon suamimu." Chanyeol bergumam tenang sambil menatap Baekhyun tajam, seperti tak terbantahkan.

Sejenak Baekhyun terpana, tapi kemudian dia sadar, mungkin Chanyeol benar. Akan lebih praktis jika diantar oleh supir, lagipula di luar sedang hujan.

"Gamsahamnida sajangnim," gumamnya bersemangat. Sebelum Baekhyun masuk ke dalam lift, dia sempat melirik kea rah Chanyeol berdiri. Tetapi lelaki itu sudah tidak ada, dan pintu ruang besar tertutup rapat.


Mobil berwarna hitam itu berhenti di depan rumah sakit. Setelah mengucapkan terima kasih pada supir Chanyeol, Baekhyun setengah berlari menuju lobby rumah sakit. Dia benar-benar terlambat! Meski supir Chanyeol sudah berusaha mengemudikan mobil secepat mungkin, tetapi kemacetan benar-benar menghalangi mereka untuk segera sampai. Sehun pasti sudah menemui Joonmyeon uisanim sendirian.

Baekhyun menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan Joonmyeon uisanim dengan perasaan menyesal. Tetapi lorong itu lengang dan pintu ruangan itupun tertutup rapat. Dia memang benar-benar terlambat, Sehun pasti sudah kembali ke kamarnya.

Dengan langkah tergesa, Baekhyun menuju bagian rumah sakit tempat pasien kanker ditempatkan, menyapa suster jaga yang sudah sangat mengenalnya, dan setengah berlari menuju kamar Sehun.

Kamar itu kosong. Dimana Sehun?

Baekhyun keluar dari kamar Sehun sambil kebingungan. Apakah Sehun menjalani pemeriksaan lagi? Atau Sehun menjalani perawatan intensif di tempat lain? Tapi bukankah Sehun sudah sembuh? Atau jangan-jangan, hasil tes kemarin salah?

Pikiran-pikiran buruk memenuhi pikiran Baekhyun yang membuatnya semakin cemas. Dia hendak menuju ke tempat suster jaga untuk menanyakan keberadaan Sehun ketika suara tawa itu terdengar. Suara tawa yang amat sangat dikenalnya.

Itu suara tawa Sehun!

Datangnya dari kamar seberang. Dengan hati-hati, Baekhyun mengintip melalui celah pintu yang terbuka. Di sana ia melihat Sehun duduk di tepi ranjang, sedang menjelaskan sesuatu dengan bersemangat pada pasien lain yang berbaring setengah duduk di ranjang, dan mereka tertawa bersama.

Tanpa sadar Baekhyun mendorong pintu itu, menimbulkan bunyi geseran pintu dan membuat Sehun menoleh. Mata Sehun melebar, begitupun senyumnya saat melihat Baekhyun.

"Ah, Baekhyun, akhirnya kau datang jagiya." Sehun mengulurkan tangannya. "Sini, kukenalkan pada Luhan. Dia pasien di sini juga sejak lama."

Sehun memiringkan tubuhnya, dan kemudian pasien yang bernama Luhan yang tadinya tertutup oleh punggung Sehun kini terlihat jelas di mata Baekhyun. Oh astaga! Cantiknya! Sungguh kecantikan yang amat rapuh. Kulit Luhan begitu pucat tetapi matanya bening seperti rusa, terlihat begitu mencolok dengan bulu mata yang indah dan panjang. Kecantikan yang rapuh, kecantikan yang bagaikan dewi peri hutan yang transparan ketika disentuh.

Dengan langkah hati-hati, Baekhyun menerima uluran tangan Sehun, dan Luhan yang tersenyum padanya sambil mengulurkan tangan. "Hai, aku Luhan. Sehun yang sudah menolongku saat aku pingsan di lorong tadi." Mata rusanya yang bercahaya tampak cantik. "Kau pasti Baekhyun, Sehun banyak bercerita tentangmu tadi."

Baekhyun menyambut uluran tangan Luhan, merasakan jemari itu dingiin dan rapuh dalam genggamannya. "Hai, aku Baekhyun."

Sehun tersenyum lebar. "Bayangkan Baekhyun, aku dan Luhan berseberangan kamar dan kami di rumah sakit ini sudah lama, tapi kita tidak pernah bertemu sebelumnya." Sehun berdiri dan menatap Luhan lembut. "Baiklah, aku tidak mau mengganggu istrahatmu Luhan, kau pasti lelah. Kami akan pergi." Sehun merangkul pinggang Baekhyun dengan posesif.

Luhan menganggukkan kepalanya. "Gomaweo Sehunnie, menyenangkan sekali menghabiskan waktu bersama seseorang." Luhan menoleh ke arah Baekhyun dan tersenyum lembut. "Kau sungguh beruntung memiliki seseorang yang bersedia menemanimu dan mengisi hari-harimu ketika kau sakit. Sedangkan aku, aku selalu di sini sendirian. Keluargaku hanya baba, dan dia sangat sibuk dengan bisnisnya." Mata Luhan tampak sedih, berkaca-kaca.

Baekhyun merasa iba pada Luhan, gadis ini sakit, tampak begitu rapuh dan kesepian. Mengingatkannya pada Sehun di masa-masa sakit parahnya dulu. "Jangan khawatir Luhan, aku dan Sehun pasti akan sering kemari untuk menemanimu," gumamnya impulsif seketika.

Mata Luhan langsung melebar, kesedihannya lenyap berganti harapan.

"Jeongmal?" dia tersenyum lebar dan tampak cantik sekali. "Gomaweo, gomaweo. Itu amat sangat berarti bagiku," gumamnya ceria.


Sehun dan Baekhyun berjalan ke luar kamar Luhan dan menuju ke kamar Sehun.

"Mianhae, aku terlambat datang karena pekerjaanku," Baekhyun bergumam penuh penyesalan.

Sehun menoleh, menatap Baekhyun dan kemudian memeluknya erat, mengecup dahinya lembut.

"Gwaencahan, aku mengerti. Lagipula aku juga tidak melihat hasil tesnya," gumam Sehun riang dan memeluk Baekhyun.

Mata Baekhyun melebar. "Tidak melihat hasil tesnya? Jadi?"

"Tadi aku sempat bertemu dengan Joonmyeon uisanim saat dia memeriksa Luhan. Katanya hasil tesnya sama, aku sudah sembuh."

"Sudah sembuh?" Baekhyun menatap Sehun. Melihat senyum Sehun yang lebar, artinya Sehun bersungguh-sungguh. Mukjizat ini benar adanya! Air mata mengalir dari sudut mata Baekhyun, membuatnya sesenggukan.

"Ya Tuhan! Sehun, aku amat sangat bersyukur. Amat sangat bersyukur." Baekhyun menangis, perasaannya meluap-luap. Antara rasa syukur dan bahagia, terharu, dan semua perasaan indah bercampur aduk di benaknya, membuatnya sesenggukan.

Sehun mengecup air mata di pipi Baekhyun dengan lembut, kemudian menenggelamkan tubuh Baekhyun dalam pelukannya, memeluknya erat.

"Aku mencintaimu Baekhyun, amat sangat mencintaimu. Sekarang kau bisa memilikiku, diriku yang sehat, seutuhnya."


Luhan termenung sambil menatap kea rah jendela, yang memantulkan sinar senja yang menggelap. Ketika dia merasakan aura itu. "Kau selalu datang tanpa permisi," gumamnya sambil menoleh kea rah Chanyeol yang tiba-tiba sudah berdiri di sana, bersandar malas di dekat jendela, berdiri di bawah baying-bayang senja sehingga wajahnya tertutup siluet gelap.

"Perempuan jahat." Chanyeol tersenyum sinis. "Kau menggunakan penampilan rapuhmu untuk memanipulasi hati manusia yang lemah."

Luhan membalas senyum Chanyeol. "Bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku, Chanyeol? Secara tidak langsung aku membantumu bukan?"

"Aku tidak butuh bantuan." Mata Chanyeol menggelap. "Apa sebenarnya rencanamu, Luhan? Kenapa kau mendekati Sehun?"

Luhan menghindari tatapan Chanyeol yang tajam, berusaha membentengi diri. Luhan tahu, jika Chanyeol mau, dia bisa menggunakan kekuatannya untuk membaca pikiran, karena itulah Luhan berusaha membentengi dirinya kuat-kuat. Dia sudah terbiasa melakukan itu kalau berhadapan dengan Chanyeol.

"Kau tidak perlu tahu rencanaku, Chanyeol. Yang perlu kau tahu, aku tidak akan mengganggu apapun rencanamu."

"Oh ya?" Chanyeol memajukan tubuhnya, berdiri di tepi ranjang dan kemudian mengulurkan telunjuknya untuk mengangkat dagu Luhan yang pucat dan rapuh. "Jangan main-main denganku Luhan, apa yang kau lakukan tadi memang memuluskan rencanaku, tapi bukan berarti aku menyetujuinya. Aku punya rencanaku sendiri yang sudah kususun dengan baik, dan aku tidak mau siapapun ikut campur bahkan kau sekalipun." Chanyeol tidak main-main, ekspresi kejam muncul di wajahnya. "Apakah kau mengerti, Luhan?"

Tubuh Luhan terasa panas, terbakar. Oh astaga! Chanyeol menaikkan suhu ruangan ini, lelaki itu benar-benar marah, dan sekarang seluruh ruangan terasa panas membakar. Peluh Luhan bercucuran sedangkan Chanyeol tampak tidak terpengaruh dengan suhu ruangan yang panas membakar.

"Chanyeol! Panas! Panas!" Luhan menjerit, keringat bercucuran di seluruh tubuhnya dan rambutnya basah kuyup.

Mata Chanyeol tetap dingin. "Jawab aku Luhan, apakah kau mengerti? Dan kemudian katakan apa rencanamu?"

"Aku mengerti! Aku mengerti!" Luhan memekik, tidak tahan dengan suhu ruangan yang panas dan rasa panas yang membakar tubuhnya. "Chanyeol! Oppa, jebalyo! Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu!"

Seketika itu juga rasa panas yang membakar ruangan itu menghilang. Chanyeol mundur dan menatap Luhan dengan dingin. "Jelaskan!"

Mata Luhan berkaca-kaca, menatap Chanyeol, kakak tirinya yang sangat dicintainya, tetapi tidak pernah bisa membalas cintanya. Kenapa Chanyeol bisa sekejam ini padanya? Tidak adakah sedikitpun rasa sayang Chanyeol padanya? Dia adik Chanyeol kan?

"Aku, aku sudah tahu semuanya, bahwa Sehun bisa mengancam keselamatanmu. Bahwa mungkin saja kau terbunuh kalau Sehun bisa mendapatkan pengorbanan dari Baekhyun dan mendapatkan 5% tambahan kekuatannya." Air mata Luhan pun menetes. "Aku hanya tidak ingin kau mati."

"Jadi kemudian kau menyamar dan mencoba merebut Sehun dari Baekhyun demi menyelamatkanku?" Chanyeol mendesis dingin. "Aku tidak akan kalah dari Sehun apapun yang terjadi. Dia hanya anak ingusan yang tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatannya." Mata Chanyeol menyala. "Aku tidak peduli apapun yang kau lakukan Luhan. Kali ini kau kumaafkan. Tapi jangan sampai kau ikut campur lagi tanpa seizinku."

Kemudian Chanyeol menghilang ditelan bayang-bayang gelap yang menyambut malam. Luhan menangis terisak di atas ranjang, merasa perih akan sikap dingin Chanyeol. Seharusnya Chanyeol bisa mencintainya! Kalau saja Chanyeol bisa mencintainya, maka lelaki itu akan mendapatkan cinta sejatinya dan tidak perlu cemas akan dikalahkan oleh Sehun.

Chanyeol adalah cinta sejati Luhan, dan Luhan tidak akan pernah menyerah sampai Chanyeol mencintainya. Dan alasan sebenarnya dia berusaha mendekati Sehun bukan hanya demi menyelamatkan Chanyeol, tetapi lebih karena Luhan tidak rela Chanyeol mendekati Baekhyun dan menebarkan pesonanya kepada perempuan lain! Dan Luhan tidak akan berhenti. Sebab jika Sehun benar-benar terpesona padanya, maka Chanyeol tidak perlu repot-repot mendekati Baekhyun.


Ruangan itu sunyi, hanya ada Chanyeol di sana. Dahinya berkerut, memikirkan apa yang dilakukan Luhan mungkin akan memberikan keuntungan padanya. Dengan merayu Sehun, mungkin saja hal itu membuat pekerjaan Chanyeol lebih mudah.

Walaupun begitu, ada rasa tidak suka dalam benak Chanyeol. Dia tidak suka Luhan selalu berusaha mencampuri rencananya. Luhan adalah adik tirinya, mereka berhubungan darah, berbeda ayah tapi satu ibu. Luhan sangat mirip dengan ibu mereka yang rapuh dan sakit-sakitan sepanjang hidupnya. Dan sayangnya adiknya itu menyimpan obsesi terpendam yang tidak pernah dimengertinya. Tidakkah Luhan mengerti bahwa mereka berhubungan darah? Selain itu, apapun yang terjadi Chanyeol tidak akan bisa membuka hatinya untuk gadis manapun. Jiwanya terlalu kejam dan gelap untuk dirasuki penyakit bernama 'cinta'.

"Jongin!" Chanyeol memanggil pelayan setianya yang langsung muncul seketika.

"Ne sajangnim."

"Kau sudah membawa apa yang aku minta?"

Jongin mengangguk tanpa kata sambil menyerahkan sebuh buku tebal dan meletakkannya di meja Chanyeol. Chanyeol hanya menatap buku kuno yang usianya mungkin sudah ratusan tahun, tidak mau menyentuhnya. Buku itu penuh dengan aturan-aturan semesta yang mengikat sang pemegang kekuatan, diwariskan oleh pemilik kekuatan terdahulu secara turun temurun kepadanya. Jongwoon pasti juga mewariskan buku yang sama untuk Sehun entah bagaimana caranya nanti, meskipun Chanyeol bisa memastikan bahwa Sehun belum menerima buku itu.

Chanyeol sangat jarang membaca buku itu, bahkan hampir tidak mau menyentuhnya. Dia muak dengan segala aturan semesta yang mengikat sang pembawa kekuatan yang tercantum begitu banyak di dalam buku itu. Chanyeol biasanya menyuruh Jongin mempelajarinya dan menjelaskan kepadanya.

"Apakah kau sudah menemukan bagian itu? Bagian mengenai 'pengorbanan sang cinta sejati'?"

Jongin menganggukkan kepalanya. "Saya menemukan petunjuk tentang hal itu sajangnim, meskipun bagian itu disamarkan dengan barisan puisi kuno yang penuh teka-teki."

"Disamarkan?" Kali ini Chanyeol tertarik. "Tunjukkan padaku."

Jongin melangkah mendekat dan membuka buku itu di hadapan Chanyeol dengan hati-hati.

"Buku ini hampir tidak pernah membahas tentang pengorbana cinta sejati. Sepertinya hal itu dihindarkan untuk terjadi di antara kedua pembawa kekuatan." Jongin menjelaskan, "Yang dijelaskan secara gambling hanyalah, ketika kedua pembawa kekuatan memutuskan saling bertarung, maka yang menjadi pemenang adalah yang memiliki cinta sejati, yang akan memberikan pengorbanan sehingga bisa membangkitkan 5% kekuatan otak yang tersisa. Dan memang untuk pemegang kekuatan kegelapan, diberikan benteng penghalang khusus supaya tidak bisa menemukan cinta sejatinya. Hal ini dimaksudkan agar kekuatan kegelapan tidak tergoda untuk membunuh kekuatan cahaya."

Chanyeol tersenyum sinis. "Jadi kekuatan semesta mengatur bagaimanapun juga, kekuatan kegelapan tidak akan pernah bisa memenangkan peraturan? Hatiku dibentengi kegelapan yang pekat sehingga tidak bisa jatuh cinta. Pada akhirnya selalu digariskan kekuatan teranglah yang menang."

Jongin menatap Chanyeol dengan hati-hati. "Itu semua diatur mengingat kekuatan terang adalah pecinta damai, meskipun dia menemukan cinta sejatinya, dia tidak akan mengobarkan perang karena tahu bahwa keseimbanganlah yang paling utama. Sedangkan kekuatan gelap, hampir bisa dipastikan merupakan pemicu terjadinya perang kekuatan."

Mata Chanyeol menggelap. "Ya. Kami para pemegang kekuatan kegelapan memang memiliki hati yang jahat dan hasrat untuk menghancurkan dunia. Karena itulah kami dikutuk untuk tidak bisa jatuh cinta, supaya kami tidak bisa menemukan cinta sejati kami, dan supaya kami tidak bisa mengalahkan pemegang kekuatan terang." Mata Chanyeol Nampak muram. "Tetapi aku harus mengalahkan Sehun bagaimanapun juga, Jongwoon telah mencurangiku dengan memilih Sehun yang sudah memiliki cinta sejatinya. Dan karena sekarang Sehun sepertinya belum mendapatkan tambahan 5% kekuatan itu, bahkan dia sudah memiliki Baekhyun di sampingnya, itu membuatku bertanya-tanya. Apakah ada ritual khusus untuk mendapatkan tambahan kekuatan 5% itu."

"Semua ritualnya tersirat dalam puisi ini." Jemari Jongin menunjuk bagian di lembaran buku itu.

Mata Chanyeol langsung mengarah kesana, membaca barisan puisi kuno yang tertulis di atas kertas yang sudah menguning dan tua.

Ketika dua memecah belah semesta

Maka sang takdir akan memberikan sang pemenang

Hanya satu yang bisa meraihnya

Satu yang terpilih sang pembuka hati

Satu terpilih yang bisa merasakan cinta sejati

Darah dan air mata akan tertumpah

Pilihan akan diajukan

Darah yang tercinta ataukah keseimbangan semesta?

Semua pilihan akan memberi makna

Yang kalah dan yang menang muncul setelah pilihan diambil

Pengorbanan cinta sejati akan menentukan segalanya.

Mata Chanyeol menggelap, dia menatap Jongin dan lelaki itu membalas tatapannya penuh makna, menyiratkan bahwa dia memiliki pemikiran yang sama.

Ya, pengorbanan cinta sejati itu melibatkan pengorbanan nyawa, demi memberikan kekuatan kepada Sehun sebesar 5%, Baekhyun harus mengorbankan nyawanya. Entah bagaimana caranya, tetapi itulah yang tersirat di puisi kuno ini.

TBC

Sorry for many typos here

Thanks for the review babe *hug

At least, Read & Review please~