Another 5%
Remake Novel by Shanty Agatha
Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun – Xi Luhan
WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun and Xi Luhan
Length: Chaptered
Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural
Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.
.
.
.
CHAPTER 6
Hari ini Sehun sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Baekhyun sangat bersemangat menunggu sore hari tiba. Baekhyun sudah berjanji akan menjemput Sehun sore nanti sepulang kerja. Mereka akan pulang ke rumah yang sudah lama tidak pernah Sehun tempati semenjak dia masuk rumah sakit. Rumah itu tentu saja masih terawat dengan baik karena adanya pelayan yang masih setia merawat dan menjaga rumah itu. Dulu orang tua Baekhyun juga tinggal di rumah itu, namun mereka memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih kecil tapi tetap dekat dengan rumah keluarga Oh dan menjalani masa pension mereka dengan bahagia.
Sehun sekarang sudah sembuh dan sehat, tidak akan ada lagi kecemasan dan kesedihan menggigit di hati Baekhyun seperti di masa lalu, ketika ia melihat Sehun kesakitan karena penyakitnya. Betapa Baekhyun masih tidak mempercayainya, meskipun hatinya tetap dipenuhi rasa syukur yang luar biasa.
"Baekhyun-ssi." Suara dingin Chanyeol membuat Baekhyun terlonjak dari lamunannya. Baekhyun mengangkat matanya dan menatap Chanyeol yang tengah duduk di mejanya, mengangkat alisnya sambil menatap Baekhyun.
"Ne sajangnim?" Tiba-tiba saja Baekhyun merasa malu, mungkin saja Chanyeol mengawasinya sejak tadi, semoga saja ia tidak membuat ekspresi bodoh saat melamun tadi.
"Kau tersenyum sendirian. Ada apa?" Suara Chanyeol terdengar serius, tetapi entah kenapa Baekhyun mendengar nada geli di sana.
Pipi Baekhyun merona. Ya ampun, dia benar-benar harus membiasakan diri seruangan dengan Chanyeol. Tidak ada pembatas di ruangan mereka yang berarti Chanyeol bisa mengawasi Baekhyun kapan saja. Lain kali Baekhyun harus lebih berhati-hati.
"Aniyo sajangnim, tidak ada apa-apa." Baekhyun menjawab tergagap, sedikit gugup menerima tatapan mata tajam Chanyeol.
"Ada hal yang menyenangkan?" Chanyeol bertanya datar, seakan tidak mau menyerah.
Baekhyun menghela nafas panjang, dan akhirnya memutuskan untuk jujur.
"Calon suami saya yang sedang dirawat di rumah sakit. Dia, dia akhirnya sembuh dan diperbolehkan pulang."
"Oh ya?" Chanyeol mengangkat alisnya. "Itu sungguh kabar yang menggembirakan. Apakah hari ini dia diperbolehkan pulang?"
"Ne sajangnim. Saya akan menjemputnya sepulang dari bekerja nanti."
"Tidak perlu menunggu selesai jam kerja, pergilah sekarang." Chanyeol tersenyum.
Mata Baekhyun membelalak, seakan tidak percaya. "Ne?" Baekhyun butuh mendengar ulang kata-kata Chanyeol tadi.
"Pulanglah sekarang, aku memberimu izin. Lagipula aku masih mempelajari berkas laporan darimu kemarin dan belum ada tugas baru untukmu. Jemputlah calon suamimu."
Baekhyun ternganga, lalu akhirnya sadar untuk mengatupkan bibirnya kembali.
"Ah, ne, ga… gamsahamnida sajangnim."
Chanyeol menganggukkan kepalanya, lalu mengalihkan tatapan matanya ke berkas-berkasnya. Sementara itu Baekhyun tergesa-gesa mengemasi barangnya. Sungguh tidak disangka atasannya berbaik hati padanya. Hatinya dipenuhi rasa syukur, senang karena ia bisa bertemu Sehun lebih cepat.
Setelah barang-barangnya beres, Baekhyun berdiri dan menatap Chanyeol yang masih sibuk dengan pekerjaannya. "Sa… saya pergi sekarang sajangnim, sekali lagi terima kasih," pamitnya ceoat dan mendapat anggukan datar Chanyeol.
Sepeninggal Baekhyun, Chanyeol meninggalkan berkas-berkas pekerjaannya dan merenung. Dia masih memikirkan arti puisi kuno kemarin. Apakah benar yang diduganya? Bahwa 'pengorbanan cinta sejati' itu menyangkut pengorbanan nyawa? Kalau memang benar begitu, berarti Chanyeol tidak perlu mencemaskan Sehun. Karena lelaki itu tidak akan mau mengorbankan Baekhyun demi kemenangannya.
Itu berarti Chanyeol bisa menantang Sehun kapanpun dia mau dan tidak perlu mencemaskan 'cinta sejati' Sehun.
Ketika keluar dari ruangannya, Baekhyun berpapasan dengan rekan-rekan seruangannya dulu di bagian accounting yang sepertinya hendak pergi untuk makan siang. Baekhyun langsung menganggukkan kepalanya dan menyapa ramah. "Hai, mau kemana?
Lian yang dulunya duduk di seberang Baekhyun menyahut, "Kami mau makan siang. Kau sendiri mau kemana?"
"Aku, aku mau izin pulang. Ada keperluan."
Kali ini Sohee yang mengangkat alisnya. "Pulang? Sesiang ini? Apakah bos mengizinkannya?" Bos yang dimaksud itu tentu adalah Park Chanyeol.
Baekhyun menganggukkan kepalanya. "Iya sudah diizinkan." Baekhyun tersenyum lebar. "Kalau begitu aku duluan ya." Tiba-tiba saja dia merasa tidak enak, pandangan teman-temannya berbeda. Pandangan mereka semua tampak aneh, seperti jijik dan mencemooh. Tidak ada lagi tatapan bersahabat seperti dulu.
Baekhyun lalu menganggukkan kepalanya dan dengan langkah lebar ia mendahului teman-temannya yang masih bergerombol dan mengobrol di koridor, lalu masuk ke lift. Ketika sampai di lobby bawah, Baekhyun memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Saat Bekhyun hendak keluar dari bilik kamar mandi, ia mendengar langkah-langkah kaki beberapa orang yang masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau lihat Baekhyun tadi? Cih, sombong sekali dia. Mentang-mentang sudah jadi asisten pribadi owner yang baru." Suara Sohee yang terdengar begitu saja membuat tangan Baekhyun yang sedang memegang handle pintu bilik kamar mandi tertegun. Itu teman-temannya yang tadi. Mereka semua masuk ke dalam kamar mandi. Mereka semua membicarakannya. Astaga, dia akan tampak sangat canggung kalau Baekhyun keluar dari bilik kamar mandi sekarang. Baekhyun menghela nafas panjang dan memutuskan untuk tidak keluar dulu.
Suara keran air berbunyi, sepertinya ada yang sedang mencuci tangan dan pasti beberapa orang sedang memperbaiki riasannya di kaca.
"Kau tahu? Semua orang curiga kenapa Baekhyun dipilih, padahal dia hanya staff biasa tanpa kemampuan apapun. Bahkan kemarin Minseok juga mengungkapkan hal yang sama kepadaku, dia mencurigai sesuatu." Itu suara Lian.
"Mencurigai apa?" Teman-temannya yang lain berbisik penuh ingin tahu, bagaikan semut yang mengerebuti madu yang manis.
"Bahwa Baekhyun punya hubungan dengan owner baru kita, Park Chanyeol," jawab Lian bersemangat.
Beberapa teman Baekhyun yang lain tampak saling bergumam dan berbisik, lalu Dani menyahut, "Kau sudah lihat wajah Park Chanyeol? Dia luar biasa tampannya, bagaimana mungkin dia bisa punya hubungan dengan Baekhyun? Pacar-pacarnya pasti dari kalangan atas dan luar biasa cantik."
"Yah… kalau pacar yang di depan umum sih mungkin saja dari kalangan atas, kan mereka untuk dipamerkan. Kalau simpanan kan berbeda," sela Lian mencemooh.
"Maksudmu?" suara yang lain kembali bertanya.
Lian terkekeh. "Bisa saja Baekhyun itu sebenarnya pelacur yang menjual diri dan menjadi simpanan Park Chanyeol."
"Tapi bukankah Baekhyun sudah punya pacar? Yang selalu dikunjunginya di rumah sakit itu?" kali ini Sohee yang bertanya.
"Dengar-dengar pacarnya itu kan sekarat terkena kanker, mungkin saja Baekhyun mencari kesenangan lain di luar. Lagipula pacarnya juga tak berdaya." Suara Lian merendah, "Hanya itu satu-satunya kesimpulan kenapa Park Chanyeol memilih Baekhyun sebagai asisten pribadinya. Kalau memang Park Chanyeol mencari orang yang kompeten, kenapa dia tidak memilih Minseok saja misalnya. Pasti ada apa-apa. Apa kalian tidak curiga apa yang mereka lakukan di ruangan tertutup itu seharian?"
Sampai di situ, Baekhyun sudah tidak tahan lagi mendengarkan tuduhan kejam dan tidak berdasar itu. Astaga, sekejam itukah prasangka teman-temannya terhadap dirinya? Pantas saja tatapan mereka tadi tampak berbeda. Mata Baekhyun berkaca-kaca. Dia sama sekali tak menyangka, sama sekali.
Setelah berbisik-bisik ramai, rombongan teman-teman Baekhyun itupun keluar dari kamar mandi. Baekhyun masih tetap berada di dalam bilik kamar mandi, menunggu dalam keheningan. Setelah yakin teman-temannya sudah jauh, Baekhyun menghela nafas dan keluar. Air mata mengalir deras di pipinya tanpa bisa ditahan lagi.
Sekali lagi Baekhyun menghela nafas panjang, lalu mencuci mukanya, mencoba menghentikan tangis dan menyamarkan bekas air matanya. Setelah mengusap wajahnya dengan tissue, Baekhyun melangkah keluar dari kamar mandi. Hatinya terasa sakit. Setiap patah kata yang diucapkan oleh teman-temannya tadi masih terngiang di benaknya, terasa semakin perih ketika dia mengulangnya kembali.
Pelacur. Bahkan teman-temannya tega menyebutnya dengan kata-kata kasar seperti itu.
Baekhyun berjalan sambil merenung, dan tanpa sadar tubuhnya menabrak tubuh kokoh dengan aroma maskulin yang khas. "Wah, sepertinya kau punya kecenderungan untuk menabrakku." Itu suara Chanyeol, yang dingin dan tenang. Lelaki itu berdiri di dekat Baekhyun dan tampak menahan senyumnya.
Baekhyun langsung gugup dan setengah meloncat menjauh satu langkah dari Chanyeol, wajahnya memerah karena malu.
"Oh ya ampun." Kenapa Chanyeol ada di lobby? "Cheosonghamnida sajangnim. Sayan sungguh tidak sengaja."
"Gwaenchanayo. Kenapa kau masih di sini? Bukankah kau seharusnya pergi beberapa waktu yang lalu?"
"Ne, saya ehm tadi pergi ke kamar mandi dulu," jawab Baekhyun gugup. "Kalau begitu saya permisi dulu sajangnim." Baekhyun merasa tidak nyaman karena beberapa orang yang berada di lobby mulau menatap mereka dengan tatapan penuh spekulasi. Segera setelah membungkukkan badannya sopan, Baekhyun membalikkan tubuhnya dan menjauh, tetapi seketika itu juga tangan Chanyeol mencengkeram lengannya, membuat gerakannya terhenti.
Baekhyun menoleh kembali, dan bertatapan dengan mata coklat Chanyeol yang sangat dingin.
"Kau menangis." Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
Baekhyun membelalakkan matanya bingung. Beberapa orang di lobby sedang memandangi mereka, tetapi Chanyeol nampaknya tak perduli.
"Saya tidak menangis," gumam Baekhyun cepat. Dia sudah mencuci mukanya bukan? Seharusnya Chanyeol atau siapapun tidak menyadarinya.
"Ada apa Baekhyun?" suara Chanyeol dingin dan mengintimidasi.
Wajah Baekhyun langsung pucat pasi. "Gwaenchanayo sajangnim. Sungguh. Maafkan saya karena saya harus segera pergi." Dengan nekat Baekhyun menghentakkan pegangan Chanyeol di tangannya. Dan tanpa di duga, Chanyeol melepaskannya begitu saja dengan mudah.
Baekhyun langsung mengangguk tidak nyaman, berusaha untuk sopan, lalu berbalik dan melangkah terburu-buru meninggalkan lobby. Meninggalkan Chanyeol yang masih menatapnya tajam.
Baekhyun harus menelepon Sehun. Dia menghela nafas panjang, berdiri di halte menunggu bus. Dia harus melupakan dulu insiden di kamar mandi tadi, karena hari ini harusnya jadi hari bahagia. Karena ia akan menjemput Sehun dan akan merayakan kesembuhan Sehun bersama-sama. Dengan tegas ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan kesedihan yang menggelayuti benaknya. Dia harus ceria dan bahagia. Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Sehun.
Ditekannya nomor telepon Sehun. "Yeoboseyo?" suara Sehun terdengar di seberang sana, membuat hati Baekhyun yang sedih seakan diguyur dengan obat yang menyembuhkan. Bibir Baekhyun mau tak mau tersenyum.
"Sehunnie, aku akan datang lebih cepat. Aku mendapat izin dari atasanku," gumam Baekhyun ceria. "Tunggu aku ya? Aku sedang dalam perjalanan ke sana."
"Arasseo jagiya," Sehun menyahut tenang. "Aku sedang menjenguk Luhan di kamarnya. Kalau aku tidak ada di kamarku, kau langsung ke kamar Luhan saja ya? Dan jangan buru-buru jagiya, santai saja," gumam Sehun ceria, lalu meniupkan ciuman pada Baekhyun sebelum mengakhiri percakapan mereka.
Baekhyun berdiri di sana dan termenung menatap ponselnya. Tiba-tiba perasaan aneh merayapi hatinya.
Sehun menengok Luhan lagi?
Tiba-tiba terbayang di benaknya kecantikan Luhan yang luar biasa, dengan wajah rapuhnya dan kulit yang seputih kapas yang tampak kontras dengan mata rusanya yang bening.
Ya ampun, apakah Baekhyun cemburu? Tiba-tiba Baekhyun merasa malu pada dirinya sendiri, seharusnya dia tidak boleh merasa cemburu pada Luhan. Luhan sakit dan lemah, dia sendirian dan kesepian. Sehun pasti juga sangat mengetahui perasaan Luhan karena dia dulu pernah ada di posisi itu. Yang dilakukan Sehun pasti hanyalah bentuk empati terhadap penderitaan Luhan
Dan Baekhyun tidak boleh berpikiran aneh-aneh tentang Sehun dan Luhan.
Bus yang ditunggunya sudah datang, dan Baekhyun bergegas masuk ke dalamnya. "Hari ini adalah bahagia," Baekhyun bergumam dalam hati. Dia dan Sehun pada akhirnya akan bersama-sama lagi.
Chanyeol berdiri di sana, merasa frustasi luar biasa. Dia tidak terbiasa dengan orang-orang yang tidak mempan terhadap kekuatannya. Semua orang tunduk kepadanya, semua orang lemah terhadapnya. Tetapi Baekhyun satu-satunya – karena dia cinta sejati Sehun – Baekhyun menjadi satu-satunya manusia di dunia ini yang kebal terhadap semua kekuatan Chanyeol. Tadi Chanyeol berusaha membaca pikiran Baekhyun, tetapi tidak berhasil, sama seperti kekuatan lainnya yang pernah Chanyeol coba terhadap Baekhyun dan kesemuanya gagal.
Kenapa perempuan itu menangis ketika keluar dari kamar mandi?
Chanyeol melangkah ke dekat kamar mandi. Lalu menyentuhkan tangannya di tembok, memerintahkan semua benda di sana untuk menyalurkan kembali memori mereka atas kejadian sebelumnya. Dan pemandangan itu muncul di pikiran Chanyeol, dimana Baekhyun yang berada di kamar mandi, dan teman-temannya yang membicarakannya dengan kata-kata kasar dan penuh dengan tuduhan.
Chanyeol melepaskan tangannya dari tembok, matanya membara.
Oke. Jadi itu alasannya.
"Apakah Baekhyun yang menelepon?" Luhan tersenyum lembut ketika Sehun menutup teleponnya.
Sehun menganggukkan kepalanya. "Iya, dia mendapatkan izin dari atasannya untuk pulang lebih awal agar bisa menjemputku."
Ekspresi Luhan tampak sedih, hingga Sehun mengerutkan keningnya. "Ada apa Luhan?"
Tiba-tiba saja Luhan menangis, air matanya mengalir bening di pipinya yang pucat. "Gwaenchana. Mian, aku hanya merasa baru saja mendapatkan teman, dan tiba-tiba saja kau harus pergi."
"Ya! Jangan berpikiran seperti itu." Sehun tersenyum, menundukkan kepalanya dan menatap Luhan. "Aku pulang bukan berarti aku tidak akan menjengukmu lagi. Aku masih akan sering ke rumah sakit ini untuk berkonsultasi dengan Joonmyeon uisanim, dan aku juga akan selalu mampir untuk menjengukmu dan menemanimu mengobrol."
"Jeongmal?" Luhan mengusap air matanya, matanya kini Nampak bercahaya. "Apakah kau berjanji kau tidak akan melupakanku? Meski kau sudah sembuh dan pulang?"
"Aku berjanji Luhan." Sehun bertekad akan memenuhi janjinya. Dirinya sudah diberikan anugerah oleh Tuhan, disembuhkan karena suatu mukjizat. Dan sekarang gilirannya untuk membantu orang-orang yang menderita, yang sama seperti dirinya dulu.
Mata Luhan meredup, menatap Sehun penuh terima kasih. "Gomaweo, Sehunnie."
Pintu ruangan Chanyeol diketuk. Lelaki itu menyilangkan kakinya dengan tenang dan bergumam, "Masuk."
Pintu itu pun terbuka dan nampaklah Minseok melangkah masuk dengan gugup.
"Anda memanggil saya?"
Chanyeol berada di tengah ruangan yang luas, tetapi entah mengapa auranya mengintimidasi, membuat Minseok merasa sangat gelisah dan gugup. Perasaan ini sama seperti perasaan tikus yang dimasukkan dalam kandang ular buas yang siap memangsanya.
"Ya, Minseok-ssi." Chanyeol tersenyum, senyum yang kejam dan menakutkan. "Saya sudah menunggu anda, silahkan duduk."
TBC
Sorry for many typos here
Thanks for the review :)
At least, Review?
