Another 5%

Remake Novel by Shanty Agatha

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun – Xi Luhan

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun and Xi Luhan

Length: Chaptered

Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural

Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.


CHAPTER 7


Senyum Chanyeol tampak aneh dan menakutkan ketika menatap Minseok dan mempersilahkannya duduk. Dengan gugup, Minseok duduk di kursi yang berseberangan dengan meja kerja Chanyeol. Ia sedikit salah tingkah karena Chanyeol terus menatapnya intens.

"Saya mendengar beberapa rumor akhir-akhir ini," Chanyeol sengaja menggantungkan kalimatnya, membuat Minseok terlihat pucat pasi.

"Rumor?" Minseok bertanya pura-pura tidak mengerti, meskipun batinnya sedang menduga-duga. Apakah dia begitu sial sehingga rumor yang disebarkan tentang Chanyeol dan Baekhyun bisa sampai ke telinga Park Chanyeol?

"Ya, rumor." Chanyeol tersenyum meski senyum itu tidak sampai ke matanya. "Rumor negative, gossip tidak menyenangkan yang tersebar di kalangan karyawan, bahwa aku menjalin hubungan khusus dengan Baekhyun."

Kali ini ketakutan terlihat di ekspresi Minseok. "Eh, saya… saya belum mendengarnya. Benarkah?" ia mencoba berkelit.

"Pembohong," desis Chanyeol. "Apakah kau tidak tahu kalau aku bisa membaca pikiranmu? Bahwa aku bisa mendengar degup jantungmu yang berdebar lebih kencang? Aliran darahmu yang deras dan kau mulai berkeringat… itu adalah tanda fisik seorang pembohong."

Minseok menatap Chanyeol dengan terkejut dan bingung. Benarkah Chanyeol bisa melakukan apa yang dikatakannya tadi? Atau ia hanya sekedar menggertak?

Dan sebelum Minseok sempat berkata-kata, Chanyeol tiba-tiba mendekat tanpa peringatan, menatap dengan tajam, membuat Minseok bagaikan hewan yang sedang terpojok, terpaku di tempat duduknya.

"Aku sudah punya rencana besar, dank au mengganggu dengan semua rumor yang kau sebarkan itu." Chanyeol tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Minseok. Dan entah kenapa, walaupun Minseok sudah berusaha, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Perempuan itu panic, dan nyala ketakutan semakin terlihat di wajahnya.

"Tolong… to… long…," suara Minseok terhenti saat Chanyeol menyentuhkan telunjuk tepat di dahi Minseok, membuat Minseok mengernyit karena merasakan rasa yang amat sangat panas. Dan rasa panas itu seolah-olah membakar pikiran dan menyedot jiwanya. Minseok masih berusaha mempertahankan diri, tetapi kekuatan itu sangat kuat dan memaksa, hingga akhirnya jiwanya yang lemah pun menyerah, tersedot habis, dan semuanya gelap.

Chanyeol menatap Kim Minseok yang sekarang duduk dengan pandangan mata yang kosong. Dia melepaskan telunjuknya dan bersedekap puas. "Sekarang kau kembali ke ruanganmu, dank au harus membersihkan namaku dan Baekhyun. Kau yang menyebarkan rumor itu, jadi kaulah yang harus menariknya kembali."

"Ne sajangnim," Minseok menganggukkan kepalanya patuh, seperti budak.

Chanyeol menatap sosok itu dengan sinis dan mengernyit tidak suka. "Pergilah."

Sama seperti tadi, dengan sikap patuhnya yang seperti robot, Minseok pun pergi dari ruangan itu meninggalkan pintu ruangan itu tertutup di belakangnya.


Setelah ruangan itu sepi, Chanyeol menoleh ke arah Jongin. Pelayannya itu berdiri di sudut yang gelap, dalam baying-bayang, mengamati semuanya. "Kenapa dengan ekspresimu, Jongin?"

Jongin tergagap, berpikir untuk menutupi apa yang ada di benaknya. Tetapi seketika ia merasa percuma karena Chanyeol bisa membaca apa saja yang ada dalam hatinya kalau lelaki itu mau.

"Saya heran kenapa anda tidak membunuh perempuan tadi." Chanyeol terasa berbeda. Chanyeol yang dikenalnya selama ini pasti sudah menghancurkan Minseok menjadi abu. Tetapi alih-alih membunuhnya, ia malah menjadikan Minseok sebagai salah satu budaknya.

Apakah memang ada belas kasihan di hati Chanyeol? Ataukah lelaki itu punya rencana lain yang lebih kejam?

Chanyeol hanya tersenyum sinis menanggapi pernyataan Jongin, lalu mengalihkan perhatiannya pada berkas-berkas di hadapannya. "Semula aku berniat membunuhnya, karena itulah aku menyuruhmu menunggu di sini, agar kau bisa membersihkan abu sisa tubuhnya. Tetapi kemudian aku berpikir, perempuan itu lebih bermanfaat untukku jika dia hidup, jadi aku mempertahankannya," Chanyeol menatap Jongin lagi. "Kau boleh pergi Jongin."

Jongin menganggukkan kepalanya. Menghela nafas panjang dan hanya membatin. Chanyeol memang menakutkan, dan taka da yang bisa dilakukannya selain menyimpan ketakutannya, lalu mengabdi dengan setia.


Saat Baekhyun tiba di lorong rumah sakit, ia terkejut melihat para suster dan dokter berlarian panik menuju ke arah ruangan paling ujung. Jantung Bekhyun langsung berdebar. Itu arah kamar Sehun!

Baekhyun setengah berlari menuju ujung ruangan. Ia merasa lega saat melihat para suster dan dokter itu tidak masuk ke kamar Sehun, tetapi ke kamar Luhan. Astaga, apakah terjadi sesuatu pada Luhan?

Baekhyun mengintip dari balik kaca dengan perasaan gelisah. Itu Luhan, dokter sedang menanganinya. Ada oksigen dipasang di wajahnya, dan tampak luar biasa pucat. Ada Sehun di sebelah ranjang yang tampak panik dan menggenggam jemari Luhan.

"Tadi dia tidak apa-apa," Sehun bergumam pada Joonmyeon uisanim yang memeriksa Luhan. "Kemudian dia merasakan pusing yang sangat hebat."

Joonmyeon menganggukkan kepalanya, kemudian meminta Sehun sedikit menjauh karena dia akan menangani Luhan. Sehun menganggukkan kepala dan kemudian berdiri menjauh. Saat itulah dia melihat Baekhyun yang masih mengintip dari balik kaca.

"Baekhyun," Sehun bergumam. Ia keluar dari kamar Luhan dengan tergesa dan kemudian memeluk Baekhyun dengan erat. "Oh astaga… tadi aku bersama Luhan, dan tiba-tiba saja dia mengalami serangan. Dia mengeluh pusing dan kesakitan… lalu dia kejang."

Baekhyun membalas pelukan Sehun dengan erat. Dia mengerti, amat mengerti, hal ini pasti mempengaruhi Sehun. Dulu saat masih sakit, Sehun juga sering mengalami kesakitan yang parah, saat itu yang bisa dilakukan Baekhyun hanyalah menangis dan berdoa, merasakan jantungnya diremas saat menyadari kekasihnya sedang menahan kesakitan yang luar biasa.

"Semoga Luhan baik-baik saja." Baekhyun menepuk punggung Sehun yang masih memeluknya erat, membisikkan kata-kata penghiburan.

Sehun mengangkat kepalanya dan sedikit menjauhkan pelukannya, lalu mengecup dahi Baekhyun dengan lembut. "Terima kasih sayang, kau sudah menenangkanku. Kejadian ini…" Sehun melirik kea rah Luhan yang masih ditangani dokter, dan tampaknya kondisi Luhan sudah stabil. "Kejadian ini sungguh sangat mempengaruhiku, aku pernah mengalami sakit separah itu."

"Tapi kau sudah sembuh," Baekhyun memeluk Sehun erat-erat, mencoba membuat Sehun tidak mengenang kepahitan saat dia sakit. "Dan yang bisa kita lakukan untuk membantu Luhan adalah mendoakan dan menemaninya, membuatnya ceria dan penuh harapan." Baekhyun menatap Sehun penuh pengertian. "Kau mau menunggu Luhan sampai sadar kan? Agar kita bisa berpamitan padanya dan berjanji untuk sering-sering menengoknya."

Sehun menganggukkan kepalanya, mengecup jemari Baekhyun dengan sayang. "Terima kasih atas pengertianmu, Baekhyun."


Luhan sadar beberapa jam kemudian. Dia membuka matanya pelan, bulu matanya yang lentik terangkat dengan indahnya dan menampakkan mata rusanya yang indah. Gadis itu langsung tersenyum saat melihat Sehun ada di samping ranjangnya.

"Sehun," Luhan tersenyum lembut. "Kau di sini…"

"Aku menunggumu sampai sadar. Kau kesakitan tadi."

Luhan menghela nafas panjang. "Aku… pusing sekali tadi, kepalaku sakit," gadis itu mengalihkan matanya dan bertatapan dengan Baekhyun, lalu tersenyum. "Baekhyun, kau di sini."

Baekhyun menganggukkan kepalanya. "Syukurlah sekarang kondisimu sudah stabil, Luhan."

Luhan menganggukkan kepalanya. "Terima kasih… terima kasih…" bisiknya lemah, lalu ia memejamkan matanya.

"Aku akan pulang dari rumah sakit hari ini," gumam Sehun, dan itu membuat Luhan membuka matanya perlahan. "Aku ingin berpamitan denganmu Luhan."

Ekspresi Luhan tampak luar biasa sedih, matanya berkaca-kaca. "Apakah kau akan sering-sering menengokku?" bibir Luhan pun bergetar.

Sehun tersenyum. "Tentu saja. Aku sudah berjanji bukan?" Sehun merangkul Baekhyun dengan sayang. "Aku dan Baekhyun akan sering-sering datang menengokmu." Sehun menganggukkan kepalanya, dan tersenyum lembut pada Luhan. "Kami pamit dulu ya? Besok aku akan datang menengokmu."

Luhan mengangguk, tapi saat Sehun dan Baekhyun hendak membalikkan badannya, Luhan meraih jemari Sehun dan matanya nampak penuh dengan air mata. "Berjanjilah padaku sekali lagi Sehun, bahwa kau tidak akan membiarkanku kesepian sendiri di sini," suaranya lemah di sela isak tangisnya.

Sehun menghela nafas panjang, lalu melepaskan pelukannya dari Baekhyun. Ia membungkuk, mengecup dahi Luhan yang dingin dan pucat.

"Aku berjanji Luhan," bisiknya lembut.


"Kenapa sayang?" Sehun menoleh ke arah Baekhyun yang tampak merenung. Mereka sedang berada di dalam taxi menuju perjalan pulang ke rumah.

Baekhyun tergagap dari lamunannya, lalu menatap Sehun dan menghela nafas panjang. "Aku tidak apa-apa."

Sehun mengerutkan keningnya. "Oh, ayolah… katakan padaku, sepertinya banyak yang kau pikirkan."

Sekali lagi Baekhyun menghela nafas. "Aku… aku memikirkan Luhan. Sepertinya dia terikat padamu, dan kau… kau begitu lembut pada Luhan.

Sehun terkekeh, meraih Baekhyun dalam pelukannya dan menunduk untuk mengecup bibir Baekhyun dengan lembut. "Kau cemburu?" gumamnya senang.

Baekhyun memukul lengan Sehun pelan. "Sehun! Iru bukan untuk ditertawai," gumamnya cemberut. "Aku… aku merasa malu kepada diriku sendiri karena menyimpan kecemburuan pada Luhan yang sedang sakit. Kau begitu lembut padanya, dan Luhan begitu cantik. Jadi aku…"

"Baekhyun," nada ucapan Sehun berubah serius. "Bagiku kau yang paling cantik. Hanya kau satu-satunya permpuan yang kucintai. Aku bersikap lembut pada Luhan karena empatiku padanya, karena aku pernah merasakan apa yang dia rasakan. Percaya padaku. Jangan berpikir yang tidak-tidak."

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Lalu menenggelamkan dirinya di dada bidang Sehun. Sehun betul, tidak seharusnya dia membebani kebahagiaan mereka ini dengan pikiran yang aneh-aneh.


Chanyeol tiba-tiba muncul di kamar Luhan, menatap adiknya dengan pandangan dingin. "Serangan lagi?" gumamnya sinis. "Kenapa kau tidak menyerah saja Luhan?"

Luhan yang terbaring lemah menatap Chanyeol dengan tajam. "Kau seharusnya bisa menyembuhkanku kekuatanmu, Chanyeol."

Chanyeol terkekeh. "Tidak cukupkah darahku untuk memperpanjang umurmu? Dan tidak, aku tidak bisa menyembuhkanmu Luhan. Karena kau seharusnya sudah mati sejak lama, karena darahku yang bisa membantumu tetap bertahan hidup selama ini. Tapi darahku bukanlah untuk menyembuhkan penyakit, tapi hanya untuk memperpanjang umurmu."

"Air mata meleleh di pipi Luhan. "Tapi eomma dulu selalu membuatku tidak merasakan sakit. Sedangkan kau… kau membiarkanku menahan kesakitan ini. Aku tahu kau punya kekuatan itu, kekuatan untuk menyembuhkanku dari sakit."

Chanyeol tersenyum sinis. "Ya, aku memang punya kekuatan itu, dan aku bisa menggunakannya kalau aku mau. Kau kesakitan karena kau keras kepala dan tidak mau menyerah. Kau harusnya sadar Luhan, kau melanggar takdirmu, kau seharusnya sudah mati sejak lama, tetapi kau menggunakan eomma untuk membuatku bersumpah akan memberikan darahku padamu terus menerus agar kau bertahan hidup. Kau yang menyiksa dirimu sendiri."

Chanyeol menatap ke arah infus Luhan, kemudian dengan kekuatannya infus itu berubah berwarna merah, bercampur dengan darah Chanyeol, mengalir masuk ke dalam pembuluh darah Luhan. "Aku tetap memberikan darahku untukmu, hanya demi janjiku pada eomma. Dan hanya itu yang diminta oleh eomma, dia tidak pernah memintaku untuk menyembuhkanmu, jadi jangan harap aku mau melakukannya," gumamnya dingin. Chanyeol lalu menghilang di telan kegelapan.


Chanyeol merenung. Semua ingatan menyakitkan itu kembali padanya. Eomma Chanyeol dulunya adalah sang pemegang kekuatan kegelapan, sebelum akhirnya kekuatan itu diserahkan pada Chanyeol.

Dengan kekuatan itu, eomma Chanyeol berumur panjang, menjaga keharmonisan dunia dengan keseimbangan kekuatannya masing-masing. Bahkan ia mampu menekan kekuatan jahat yang mendorongnya untuk merusak dan menguasai dunia, karena itulah ketika kekuatan kegelapan itu dipegang oleh eomma Chanyeol, dunia seakan-akan damai dan seimbang.

Tetapi entah kenapa, eommanya memindahkan kekuatannya pada Chanyeol, meberikan seluruh beban itu di pundak Chanyeol, menyatakan bahwa dirinya sudah lelah menahan bebannya sendiri dan memilih untuk menyerah. Eommanya merasa hidupnya hampa, terus hidup dan kuat sementara orang-orang yang di sekitarnya menjalani kehidupan dengan normal, hidup dan kemudian mati sesuai takdirnya. Eommanya merasa muak dengan umur panjang dan kekuatannya.

Setelah kekuatan itu diserahkan pada Chanyeol, eommanya melemah oleh penyakit kanker yang menggerogotinya. Penyakit yang sama yang juga menyerang Luhan, adik tirinya hasil dari pernikahan eommanya dengan suami yang kedua. Appa tiri Chanyeolsangatlah kaya, dan begitu sibuknya sampai tidak punya waktu untuk bertemu dengan Chanyeol dan juga Luhan. Chanyeol tak habis pikir kenapa eommanya mau menikahi orang seperti itu. Dia curiga bahwa eommanya hanya ingin memiliki seorang anak lagi untuk disayangi. Chanyeol yakin bahwa eommanya tidak pernah mencintai appa tirinya, karena eommanya pernah bilang bahwa satu-satunya cinta sejatinya adalah appa kandung Chanyeol yang sudah meninggal sejak lama, jauh sebelumeommanya diwariskan kekuatan kegelapan. Dan dia tahu, saat eommanya mendapatkan kekuatan kegelapan, eommanya kehilangan kemampuan untuk mencintai laki-laki, sama seperti Chanyeol sekarang yang tidak punya cinta di hatinya.

Sebelum meniggal, eomma Chanyeol mengungkapkan bahwa dia memberikan darahnya untuk Luhan terus menerus, untuk mempertahankan hidup Luhan, dan memaksa Chanyeol untuk bersumpah untuk memberikan darahnya pada Luhan… seterusnya dan mempertahankan Luhan agar bisa berumur panjang.

Luhan seharusnya sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Tapi darah Chanyeol mempertahankan hidupnya. Chanyeol memang jahat, tapi dia tidak pernah melanggar sumpah yang dibuatnya.


"Aku akan menjemputmu sepulang kantor nanti ya," Sehun tersenyum dan mengecup dahi Baekhyun. Mereka ada di depan kantor Baekhyun, Sehun sendiri yang menyetir dan mengantarkan Baekhyun.

Dia benar-benar merasa sehat luar biasa. Dan ada yang menggelitik di benaknya, dorongan untuk menggunakan kekuatan tubuhnya sampai ke tingkat yang lebih jauh. Hanya saja Sehun tidak tahu cara menggunakannya, jadi dia masih menahan kekuatan itu di tubuhnya.

"Terima kasih Sehun," Baekhyun tersenyum lembut menatap kekasihnya itu, lalu ia keluar dari mobil. Baekhyun melambai ke arah Sehun sampai mobil kekasihnya itu berlalu.

Setelah itu Baekhyun melangkah memasuki lobby kantornya, menuju lift dan menuju lantai paling atas. Dia menghela nafas saat mengingat akan perkataan dan tuduhan teman-temannya. Rasa sakit dan terhina itu muncul di benaknya, menyadari bahwa teman-temannya berpandangan negative dan memberinya tuduhan yang amat keji padanya.

Baekhyun melangkah keluar lift dengan hati-hati menuju ruangannya yang berada di ujung. Dia harus melewati ruangannya yang dulu untuk menuju ruangan barunya. Langkahnya melambat saat melihat pintu ruangan accounting yang hanya berlapis kaca bening. Semua orang di sana mungkin berpikiran neatif padanya. Ia menghela nafas panjang dan mempercepat langkahnya. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Gossip memang sangat kejam, bahkan kalu dia mengklarifikasi semuanya, dugaan negative tetap saja menyerangnya.

Kemudian pintu ruangan accounting terbuka, menampakkan Minseok yang keluar dari ruangan. Mereka berdiri berhadap-hadapan.


Sehun sampai di rumah dan seorang pelayannya sudah menyambut di pintu. "Ada paket untuk anda, Tuan." Pelayan itu menatap ke arah sebuah kotak yang terbungkus rapi di atas meja ruang tamu.

Sehun mengangkat alisnya dan menatap pelayan bingung. "Paket? Siapa yang mengantar?" Siapa yang mengirim paket padanya?

"Di antar menggunakan jasa pengantar paket biasa, Tuan," jawab pelayan itu dengan sopan.

Sehun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih."

Pelayan itupun pergi setelah memberikan hormat pada Sehun, sementara Sehun melangkah duduk di kursi ruang tamu sambil mengamati paket miliknya. Dia mengangkat kotak yang sedikit berat itu dan melihat nama pengirimnya. Jongwoon… dan sebuah nomor ponsel. Hanya ada itu. Siapa Jongwoon? Dia tidak pernah punya teman bernama Jongwoon sebelumnya.

Denga penuh rasa ingin tahu Sehun membuka paket itu. Isinya sebuah kotak kulit yang terlihat sangat tua, tetapi terawatt rapi. Dan kemudian Sehun membuka kotak kulit itu, lalu mengerutkan keningnya.

Itu sudah jelas sebuah buku. Buku yang besar, tebal dan amat sangat tua.


TBC

Sorry for late post :(

Thanks for all the reviews babe :)

dianahyorie1 | Baby Kim | bee | lustkai | 6104 | abhyunchanyeol | nurul vynkeomma | kimyori95

At least, Review?