Another 5%

Remake Novel by Shanty Agatha

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun – Xi Luhan

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun and Xi Luhan

Length: Chaptered

Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural

Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

.

.

.


CHAPTER 8


Sebuah buku…

Sehun menatap dengan tertarik sekaligus ingin tahu. Dia melirik lagi kea rah kotak paketnya dan membaca ulang nama pengirimnya. Ditatapnya nomor ponsel yang tertera di sana dengan penuh ingin tahu. Kemudian setelah berpikir sejenak, Sehun mengambil ponselnya dan menelepon. Ada nada sambungnya… Deringan yang pertama, deringan yang kedua, dan pada deringan ketiga sebuah suara yang berat menyahut di sana.

"Akhirnya anda menghubungi saya." Suara itu tenang, seakan sudah menunggu lama Sehun menghubunginya.

"Nuguseyo?" Sehun bertanya dengan mengerutkan keningnya.

"Saya adalah pelayan setia tuan Kim Jongwoon. Kalau anda benar-benar ingin tahu, temui saya." Orang itu menyebut alamat sebuah café di pinggiran kota. "Dan jangan lupa, bawa buku yang sekarang ada di tangan anda."


Mereka berdiri berhadapan, Baekhyun dan Minseok. Yang ada di benak Baekhyun adalah kata-kata teman-temannya kemarin yang tidak sengaja didengarnya, bahwa Minseok adalah orang yang menyebarkan rumor jelek tentang dia dan Chanyeol. Memang Minseok sangat ketus ketika Baekhyun berpamitan untuk pindah ruangan kemarin, tetapi Baekhyun sungguh tidak menyangka bahwa Minseok akan menuduhnya seperti itu.

"Pagi Minseok-ssi." Baekhyun menganggukkan kepalanya mencoba bersikap sopan dan ingin segera pergi dari situ.

"Pagi Baekhyun. Apakah kau ada waktu? Aku ingin bicara sebentar."

Bicara? Tiba-tiba Baekhyun merasa enggan dan menahankan dorongan untuk segera melarikan diri dari situ. Tetapi pada akhirnya dia terpaksa menganggukkan kepalanya. "Ne Minseok-ssi."

"Ayo masuk dulu ke dalam." Minseok membuka pintu ruangan accounting dan mengisyaratkan Baekhyun untuk mengikutinya ke dalam.

Baekhyun masuk ke sana dan langsung berhadapan dengan teman-temannya. Seperti biasa di pagi hari, sebelum jam kerja, suasana kantor adalah suasana santai, beberapa sibuk sarapan dan membuat kopi sambil mengobrol di meja khusus dekat dispenser di ruangan itu, beberapa berkumpul di meja yang lain sedang mengomentari artikel yang terpampang di computer.

Semua yang ada di sana langsung mendongakkan kepala dan terpaku ketika melihat Baekhyun muncul di belakang Minseok. Baekhyun sendiri berdiri dengan salah tingkah ketika menerima tatapan-tatapan penuh spekulasi dari seluruh mantan rekan kerjanya di sana, beberapa bahkan memberikan tatapan mencemooh terang-terangan kepadanya. Tiba-tiba Baekhyun berdebar, pikiran buruk terlintas di benaknya, apakah Minseok memintanya kemari untuk mempermalukannya di depan semua orang?

"Saya mengajak Baekhyun kemari untuk meminta maaf." Kalimat Minseok yang pertama itu membuat Baekhyun terkejut. Begitupun wajah-wajah rekannya di sana. Tetapi Minseok tampaknya tak peduli, dia terus melanjutkan.

"Saya tahu Baekhyun menjadi asisten Park Chanyeol karena kemampuannya, bahkan saya sendiri yang merekomendasikannya." Minseok tersenyum lebar dan kata-katanya makin membuat Baekhyun terkejut. Jadi Minseok lah yang merekomendasikannya menjadi asisten Chanyeol?

Minseok lalu berbalik menghadap Baekhyun menatap penuh permintaan maaf. "Tapi kemudian aku iri padamu Baekhyun, jadi aku menyebarkan rumor tak sedap antara kau dan Park Chanyeol. Dan itu hal yang sangat salah. Lama-lama aku menyadarinya… aku sungguh yakin bahwa hubunganmu dengan Park Chanyeol adalah hubungan yang professional, semua gossip dan rumor yang beredar itu adalah kesalahanku. Jadi, sekarang, di hadapan semua orang, aku ingin meminta maaf padamu, Baekhyun." Minseok mengulurkan tangannya, tampak sungguh-sungguh serius.

Sementara itu Baekhyun masih ternganga bingung. Wajah-wajah di ruangan itu juga sama terkejutnya. Dan Baekhyun menatap kea rah tangan Minseok yang terulur, lalu ke wajah Minseok yang tampak menyesal. Tak ada yang bisa dilakukan Baekhyun selain membalas uluran tangan perempuan itu.


Pagi yang sangat mengejutkan.

Baekhyun keluar dari ruangan accounting itu dengan langkah ringan, setidaknya hatinya tenang. Setelah menerima permintaan maaf dari Minseok, teman-temannya ikut menyalaminya dan meminta maaf, lalu suasana menjadi cair, beberapa bersikap baik penuh canda seperti biasa. Beberapa masih sedikit kaku, mungkin karena masih merasa menyesal telah menuduh Baekhyun yang tidak-tidak.

Dengan hati-hati Baekhyun masuk ke ruang besar, diliriknya jam tangannya, masih jam delapan pagi. Kemarin-kemarin jam sepuluh siang Chanyeol baru datang. Tetapi rupanya hari ini Chanyeol datang di pagi hari, lelaki itu sudah duduk di kursi besar di balik mejanya, sedang mempelajari berkas-berkas. Dengan gerakan tak kentara, Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun yang masih berdiri canggung di ambang pintu.

"Selamat pagi. Masuklah Baekhyun kalau kau sudah siap. Ada beberapa hal tentang berkas ini yang perlu ku diskusikan." Chanyeol menyapa santai lalu sibuk menekuri berkas-berkas di tangannya.

Baekhyun membalas ucapan selamat pagi Chanyeol dengan canggung, lalu berjalan menuju mejanya, meletakkan tas dan jaketnya. Tiba-tiba dia teringat betapa tidak sopannya dirinya kemarin, melepaskan cekalan Chanyeol dari tangannya, tidak menjawab pertanyaan Chanyeol dan meninggalkan bosnya begitu saja. Apakah Chanyeol mengingat itu dan akan memarahinya?

"Kau tampak senang pagi ini, apakah ada yang menyenangkan?" Tentu saja Chanyeol tahu akan kejadian tadi, dimana Minseok dan seluruh mantan rekan sekerja Baekhyun meminta maaf, dia sendiri tersenyum puas di dalam hatinya.

Baekhyun tergeragap dari lamunannya dan langsung menjawab gugup. "Ah iya… Tadi saya berkunjung ke bekas ruangan saya di bagian accounting."

"Reuni, eoh? Sepertinya berjalan bagus karena kau tidak bisa menahan senyummu." Chanyeol tersenyum tipis. "Bagaimana calon suamimu? Sudah di rumah dengan sehat?"

"Ne, dia sudah sehat. Dan kondisinya baik." Baekhyun tersenyum membayangkan Sehun.

Chanyeol menatap ekspresi Baekhyun dan matanya berubah serius. "Hati-hati Baekhyun, lelaki yang sehat biasanya mempunyai banyak penggemar." Gumamnya penuh arti, membuat Baekhyun mengangkat alisnya bingung.

Apa maksud Chanyeol dengan kata-katanya?


Sehun memarkir mobilnya dan berjalan di sepanjang trotoar yang ramai dan melirik ke arah papan nama café itu. Café yang dibangun dengan gaya Victorian, dengan dinding putih tebal yang khas, Sehun memasuki café itu dan terpaku di depan pintu, matanya mencari di tengah keramaian pengunjung café yang sedang menikmati makan siangnya. Lalu dia melihatnya, seorang lelaki yang duduk sendirian di sudut terlindung dan sedikit gelap, dan entah kenapa Sehun langsung mengetahuinya.

"Kau yang mengirimkan paket ini?" Sehun berdiri di dekat lelaki itu, meletakkan buku kuno itu di meja.

Lelaki tua itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum. "Anda datang," gumamnya puas.

"Tentu saja." Tanpa permisi Sehun duduk di depan lelaki itu. "Sekarang jelaskan karena aku bingung. Siapa Kim Jongwoon itu? Kenapa mengirimkan aku buku ini? Untuk apa?"

Lelaki tua itu menatap Sehun penuh arti, dan tersenyum. "Sabar, ceritanya sangat panjang dan membutuhkan waktu cukup lama. Anda harus menahan kesabaran anda supaya anda mengerti."


Chanyeol menatap Baekhyun yang serius mengerjakan tugasnya di meja, dia lalu melirik jam tangannya. "Kau tidak istirahat siang, Baekhyun?"

Baekhyun mendongak dan tampak terkejut. "Ah ya, sudah jam 12." Baekhyun tersenyum. "Hampir saja saya lupa waktu."

Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Istirahatlah."

"Ne sajangnim." Baekhyun menganggukkan kepalanya, merapikan kertas-kertas di mejanya dan berdiri sambil membawa kotak bekalnya.

"Kau tidak membeli makanan di luar?" Chanyeol mengerutkan kening. Matanya melirik kea rah kotak bekal yang dibawa Baekhyun.

Pipi Baekhyun memerah. "Eh tidak, saya memasak bekal sendiri sajangnim. selain bisa menghemat, kesehatannya juga lebih menjamin." Tiba-tiba Baekhyun merasa malu, Chanyeol pasti tidak butuh penjelasan sepanjang itu.

Ekspresi Chanyeol tidak terbaca. "Boleh aku melihatnya?"

"Ne?" Baekhyun masih tidak yakin akan apa yang didengarnya.

"Aku ingin melihat bekalmu, bolehkah?" Chanyeol memberi isyarat Baekhyun untuk mendekat.

Sementara itu Baekhyun masih berdiri bingung, terpaku di tempatnya. Untuk apa Chanyeol melihat bekalnya?

"Baekhyun." Chanyeol mengangkat alisnya. "Kau dengar aku?"

"Oh, ne sajangnim." baekhyun melangkah mendekat ke meja Chanyeol, meletakkan kotak bekalnya di meja. "Anda ingin melihat ini?"

"Ya, bukalah kalau kau tidak keberatan."

Baekhyun menatap wajah Chanyeol dan sadar kalau lelaki ini serius dengan perkataannya. Dengan gugup, Baekhyun membuka kotak makanan itu, dan tiba-tiba merasa malu karena menu makanannya yang sederhana. Di dalamnya ada nasi, dengan omelet, salad dan juga kimchi. Hanya itu.

Baekhyun mengamati Chanyeol yang terpaku menatap makanannya, dan menunggu ekspresi jijik ataupun mencemooh dari lelaki itu. tetapi Chanyeol malah mendongakkan kepalanya dan menatap Baekhyun dengan serius. "Maukah kau memberikan makanan ini untukku? Aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya."

Kali ini Baekhyun benar-benar shock. Apakah dia sedang berhalusinasi? Benarkah bosnya yang sangat kaya dan elegan ini baru saja meminta bekal makanannya yang sederhana itu?

"Kau bisa membeli sendiri makan siangmu. Aku akan memberimu uang untuk menggantikan makan siangmu." Chanyeol bergumam ketika Baekhyun tidak menjawab, dan kemudian mengeluarkan dompetnya hendak mengeluarkan uang.

Seketika itu juga Baekhyun tersadar dan melangkah mundur dengan gugup. "Tidak… tidak perlu diganti, makanan itu untuk anda saja. Saya akan membeli makanan sendiri untuk saya." Baekhyun menganggukkan kepalanya sopan, lalu tergesa dia melangkah keluar dari ruangan besar itu sebelum Chanyeol sempat memanggilnya.

Ketika menutup pintu di belakangnya, Baekhyun tertegun di sana. Benaknya dipenuhi pertanyaan dan kebingungan. Kenapa Chanyeol meminta makanannya? Apakah lelaki itu kebetulan hanya iseng. Atau memang benar-benar ingin tahu tentang masakannya?


"Pemegang kekuatan?" Sehun menatap tidak percaya seolah lelaki yang memperkenalkan namanya sebagai Kai ini gila.

Kai sendiri sudah menduga akan ditatap seperti itu, dia membalas tatapan Sehun dengan pandangan tajam dan menantang. "Anda seharusnya sudah merasakannya, kekuatan yang sangat besar tersimpan di tubuh anda, kekuatan dari Kim Jongwoon, tuan saya sebelumnya."

Sehun tahu dia tidak bisa membantahnya. Lelaki tua itu. Lelaki tua misterius yang mengajaknya berbicara di rumah sakit, di saat-saat sekaratnya… ternyata bernama Kim Jongwoon, dan menurut keterangan Kai, dia adalah pemegang kekuatan kebaikan yang berkuasa, kekuatan yang tersimpan di dalam tubuh Sehun, menunggu untuk digunakan.

"Kenapa Kim Jongwoon memberikan kekuatan itu padaku? Untuk apa?" Sehun tetap bertanya biarpun sebenarnya Sehun masih belum bisa percaya seratus persen dengan apa yang dikatakan oleh Kai.

Kai sendiri menghela nafas panjang, matanya tampak sedih. "Tuan Kim Jongwoon punya alasan sendiri memberikan kekuatan ini kepada anda, dia tentu saja menganggap anda yang terbaik. Sayangnya tuan Kim Jongwoon sekarang sudah tiada…"

"Sudah tiada?" Apakah maksud Kai, lelaki tua itu sudah meninggal?

"Ne." Kepedihan yang pekat tampak di mata Kai. "Saya sudah begitu lama mengabdi untuk tuan Kim Jongwoon, anda tahu kami yang ditakdirkan menjadi pelayan sang pemegang kekuatan akan berumur panjang, tetapi sebagai gantinya kami tidak bisa melepaskan diri dari tuan kami, harus tetap setia. Tuan Kim Jongwoon adalah tuan saya yang terbaik, sayangnya, pada akhirnya beliau dibunuh oleh Park Chanyeol, lelaki jahat yang sama sekali tidak menghormati aturan semesta."

"Park Chanyeol?" Sehun menyela, nama itu membuat wajah Kai memucat, ada ketakutan di sana meskipun hanya dengan menyebut nama 'Chanyeol'.

"Ne. Chanyeol adalah pemegang kekuatan kegelapan. Berseberangan dengan kekuatan kebaikan, dia adalah penyeimbang alam semesta."

Sehun tampak mulai bisa memahami. "Baik dan buruk, terang dan gelap, hitam dan putih?" gumamnya sinis.

Kai mengangguk. "Betul tuan Sehun, di sunia ini, dalam ajaran apapun, anda pasti akan mendengar tentang keseimbangan. Ada Yin dan Yang dalam Buddha, dilambangkan dengan lingkaran yang terbelah hitam dan putih dengan seimbang. Ada Dewa Wisnu sang pencipta, dan Dewa Siwa sang perusak dalam Hindu. Dan banyak lainnya yang menunjukkan hal yang sama, Tuhan menciptakan terang untuk keseimbangan berpadu dengan gelap, Tuhan menciptakan siang dan malam." Kai menatap serius. "Dan pemegang kekuatan gelap dan terang ini, diciptakan untuk keseimbangan."

Sehun mundur dari duduknya, menatap Kai dengan serius. "Kalau memang beban ini begitu besar, kenapa Kim Jongwoon melimpahkannya ke pundakku? Dan kalau memang dunia ini harus seimbang, kenapa kita mengkhawatirkan pemegang kekuatan gelap bernama Chanyeol ini?"

"Karena Chanyeol berbahaya. Amat sangat berbahaya." Mata Kai tampak serius, ada ketakutan di sana. "Lelaki itu tidak seperti ibunya, pemeang kekuatan terdahulu yang dengan teguh berusaha mematuhi keseimbangan semesta, Chanyeol ingin menguasai dunia dan menghancurkannya. Dan dia sangat mampu melakukannya."

Kai menunjuk buku kuno yang terletak di meja di antara mereka itu. "Buku ini berisi peraturan semesta. Diwariskan turun temurun kepada pemegang kekuatan. Saya akan menuntun anda untuk mendalami dan memahami setiap kata yang ada di sini, sesuai tugas saya."

Kai menatap Sehun tajam. "Karena sekarang tuan Kim Jongwoon sudah tiada, saya akan mengabdi kepada anda. Saya akan menjelaskan kepada anda nanti, betapa berbahayanya seorang Park Chanyeol… Dan anda harus benar-benar bersiap ketika dia memutuskan untuk menyerang anda."


TBC

Im really sorry for very late update :'( Lagi magang nih *curhat

Makasih banget buat yang udah review :)

At least, Read & Review please~