Another 5%

Remake Novel by Shanty Agatha

Cast: Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Oh Sehun – Xi Luhan

WARN! Genderswitch for Byun Baekhyun and Xi Luhan

Length: Chaptered

Genre: Genderswitch, Romance, Hurt/Comfort, Supernatural

Disclaimer: This story belongs to Shanty Agatha. I only remake this story with the other cast and change some words that need to be.

PS: Aku lupa kasih tau kalo Jongin dan Kai adalah orang yang berbeda, tapi mereka kembar. Jongin adalah pengikut kegelapan, sedangkan Kai adalah pengikut kebenaran.

Enjoy :)

.

.

.


CHAPTER 9


Chanyeol termenung di ruangannya, menatap kotak kecil bekal sederhana di mejanya. Dia hanya tercenung menatap makanan di depannya. Dia sendiri tidak tahu kenapa secara impulsif dia meminta bekal itu dari Baekhyun. Tetapi melihat kotak bekal itu... mengingatkannya kepada ibunya di masa lalu, ibunya yang selalu membuatkannya kotak bekal kecil semacam ini ketika Chanyeol akan berangkat ke sekolah.

Mungkin semua ini hanyalah karena dorongan otaknya untuk mengulang kembali kenangan itu, ke masa-masa hidupnya yang tidak rumit, sebagai bocah kecil yang punya banyak impian. Yang kemudian dihancurkan oleh beban kekuatan kegelapan yang menggerogoti hatinya sedikit demi sedikit.

Jemari Chanyeol bergerak pelan mengambil sendok dan mencicipi makanan buatan Baekhyun. Dia lalu memejamkan matanya, mengenang...

"Anda memakan masakan perempuan itu?"

Chanyeol tersentak, membuka matanya dan menatap tajam ke arah Jongin yang tiba-tiba saja sudah berdiri di pintu. Chanyeol tidak pernah terkejut sebelumnya karena kedatangan siapapun, tetapi kali ini dia benar-benar terkejut. Pikirannya tenggelam di masa lalu sehingga tidak waspada.

"Seharusnya kau permisi dulu sebelum masuk, Jongin," gumam Chanyeol tak kalah tajam.

Jongin beringsut, sedikit takut. "Saya hanya ingin menyampaikan kabar penting, tuan."

"Kabar apa?"

"Buku itu sudah sampai ke tangan Sehun, dan Kai sudah menemuinya."

Chanyeol langsung tersenyum mendengar kabar itu, senyuman puas yang tampak buas. "Bagus, berarti waktunya sebentar lagi. Biarkan bocah ingusan itu bermain-main dan berlatih dengan kekuatannya dulu, dan setelah itu dia harus menghadapiku."


"Jadi kau ingin merayakan dimana?" Sehun tersenyum, menarik pinggang Baekhyun supaya mendekat dan mengecup dahinya.

Mata Baekhyun berbinar. "Aku tidak percaya kita akhirnya merayakan ulang tahunku di luar."

Besok adalah hari ulang tahun Baekhyun. Selama beberapa tahun terakhir ini, baik Baekhyun maupun Sehun selalu merayakan ulang tahun mereka dengan sederhana di rumah sakit. Baekhyun akan membawa kue sederhana dan mereka akan meniup lilin bersama, perayaan yang sedikit membawa kesedihan karena pada waktu itu hari ulang tahun seperti memperingatkan dengan sinis bahwa masa mereka bersama semakin sedikit. Tetapi sekarang tidak begitu lagi, Sehun sudah sembuh, sehat dan bahagia dan mereka akan bisa merayakan ulang tahunnya dengan sepenuh hati, merayakan kebersamaan mereka.

"Ya, dan kita akan membuatnya istimewa. Semuanya. Aku akan memesan makan malam romantis dan kita akan menghabiskan waktu bersama."

"Gomaweo, Sehunnie." Mata Baekhyun berkaca-kaca. Membuat Sehun mengecup pipinya dan mengusap air matanya dengan lembut. "Hey, kenapa menangis? Ayo tersenyum, aku berjanji kita akan banyak tertawa nanti."

Sehun mungkin harus mencemaskan bagaimana melatih kekuatannya sebelum sang pemegang kekuatan kegelapan menyerangnya. Tetapi itu bisa dipikirkannya nanti, sekarang waktunya memikirkan untuk membahagiakan Baekhyun.


Chanyeol termenung di ruangannya, dia mengingat lagi puisi tentang pengorbanan sang cinta sejati, dan bertanya-tanya. Benarkah nyawa yang diminta untuk menggantikan 5% kekuatan itu? Jadi bagaimanapun Sehun tidak akan mungkin mengorbankan kekasihnya bukan?

Chanyeol yakin Sehun tidak akan membiarkan Baekhyun kehilangan nyawanya. Tetapi bagaimana kalau di saat mendesak nanti, Baekhyun mengorbankan nyawanya dengan kemauannya sendiri tanpa seizin dan tanpa bisa ditahan oleh Sehun? Hal itu mungkin saja bisa terjadi bukan? Kalau begitu semuanya tergantung pada Baekhyun, dan Chanyeol harus melakukan sesuatu.


"Jadi kita akan kemana?" Baekhyun menenggelamkan tubuhnya dalam rangkulan Sehun.

Sehun mengecup pucuk kepala Baekhyun, tersenyum lembut. "Aku akan mengajakmu ke restoran tempat pertama kali kita berkencan dulu. Kau masih ingat?"

Tentu saja Baekhyun ingat. Restoran itu bernama "Spring Season", terletak di pinggiran kota yang sejuk. Dulu ketika Sehun masih sehat, dia membawa Baekhyun makan malam di sana, di kencan pertama mereka. Dan di tempat yang sama itulah, Sehun menyatakan cintanya kepada Baekhyun.

"Aku ingat." Baekhyun tersenyum bahagia. Dia sudah lama sekali tidak ke restoran itu, sejak lama setelah Sehun sakit. Otomatis Baekhyun tidak pernah kemana-mana, seluruh waktunya dipakai untuk menjenguk dan menunggui Sehun di rumah sakit, tetapi dia sama sekali tidak menyesali seluruh waktu yang terlewatkan itu, karena dia menghabiskannya bersama Sehun, lelaki yang sangat dia cintai.

"Aku akan menjemputmu, besok malam kita makan malam di sana ya, kenakan gaunmu yang paling bagus, dan berdandanlah secantik mungkin." Sehun menunduk, menatap mata Baekhyun yang bercahaya dan penuh cinta, dia tidak bisa menahan dirinya untuk mengecup bibir ranum kekasihnya itu, memujanya dengan penuh sayang.


"Kau tampak bahagia." Chanyeol menatap Baekhyun dan tersenyum. "Berbinar-binar."

Pipi Baekhyun langsung merah padam. "Benarkah?" Jemarinya menyentuh pipinya yang panas dengan gugup. Ya ampun, dia benar-benar tidak sabar menunggu makan malam romantis perayaan ulang tahunnya bersama Sehun nanti malam, dan mungkin hal itulah yang membuat Baekhyun berbinar-binar.

"Ya. Dan aku tahu hari ini hari bahagiamu." Chanyeol benar-benar tersenyum sekarang. "Saengil chukhahae, Baekhyun."

Baekhyun menatap Chanyeol takjub, tidak menyangka bahwa atasannya itu mengetahui hari ulang tahunnya. "Anda mengetahuinya?" Dia mengungkapkan apa yang ada di benaknya.

"Tentu saja." Chanyeol menjawab tenang. "Ada di data karyawan bukan?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Ah iya, betapa bodohnya dia. "Gamsahamnida, sajangnim." Baekhyun bergumam cepat, dan dia sungguh-sungguh berterimakasih atas perhatian atasannya itu kepadanya.

Chanyeol tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Jadi, adakah acara perayaan ulang tahun yang meriah?"

Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya perayaan sederhana bersama calon suami saya." Mata Baekhyun berbinar penuh cinta ketika membayangkan Sehun. "Yah, anda tahu ini adalah saat bersama kami setelah sekian lama, ketika kondisi badan calon suami saya benar-benar sehat."

Ekspresi Chanyeol tidak terbaca setelahnya. "Chukhahae," gumamnya datar. "Semoga malammu nanti menyenangkan."


Sehun menatap dirinya di cermin dan memasang jasnya. Dia menatap bayangan dirinya yang sehat dan tampak hidup serta penuh vitalitas, berbeda sekali dengan dirinya yang dulu. Kata-kata Kai terngiang di benaknya, dan mau tak mau, melihat keadaannya sekarang ini, Sehun mempercayai Kai. Sesiangan tadi lelaki itu membuatnya mempelajari buku aturan semesta itu, dan besok Kai akan membimbingnya berlatih menggunakan kekuatannya dengan benar, untuk menghadapi Chanyeol yang sangat berbahaya itu. Tapi itu akan dipikirkannya besok. Sehun menatap kotak beludru kecil yang ada di dalam genggamannya, lalu memasukkannya ke saku dengan bersemangat.

Malam ini dia akan melamar Baekhyun.

Sebuah lamaran yang pasti indah di hari ulang tahun kekasihnya itu, di restoran tempat mereka pertama berkencan dan saling menyatakan cinta. Dan mereka akan terikat dalam ikatan suci, hidup bahagia selamanya. Sehun akan merengkuh Baekhyun dalam pelukannya dulu, memilikinya. Baru setelah itu dia akan berpikir untuk menghadapi Chanyeol yang jahat.

Sambil menahan debaran di dadanya, Sehun memasukkan cincin itu ke dalam saku jasnya. Dan bersamaan dengan itu, ponselnya berbunyi. Sehun mengangkatnya dan mengerutkan keningnya. Telepon dari rumah sakit?

Sehun mengangkatnya, dan suara Joonmyeon uisanim yang sudah sangat dikenalnya langsung menyahut dengan panik. "Sehun? Datanglah ke rumah sakit segera! Luhan... Luhan kritis, kondisinya parah, dan dia memanggil-manggil namamu!"


Baekhyun mematut dirinya di depan cermin, dia tersenyum dan pipinya merona. Ah ya, semoga saja Sehun memuji kecantikannya ini, dengan gaun warna peach yang baru dibelinya, khusus untuk acara makan malam bersama Sehun.

Tadi dia pulang cepat dari kantor, untunglah sedang tidak banyak pekerjaan, dan kemudian langsung pulang, berdandan dan mempercantik diri. Baekhyun ingin tampil sempurna malam ini, khusus untuk Sehun.

Jantungnya berdebar sambil melirik jam di dinding kamarnya, sebentar lagi Sehun pasti akan datang menjemputnya. Lalu tiba-tiba ponsel di mejanya berbunyi, Baekhyun mengambilnya dan melihat nama Sehun di sana, dia tersenyum lebar dan mengangkatnya. "Sehun? Apakah kau sudah di depan? Aku sudah siap."

"Baekhyun-ah…" suara Sehun tampak tegang, dari backsound suara di belakangnya, sepertinya lelaki itu sedang di jalan. "Kau... bisakah kau berangkat sendiri ke restoran? Aku sudah melakukan reservasi untuk pukul tujuh. Kita bertemu di sana ya?"

Baekhyun mengerutkan keningnya bingung, dia tidak keberatan datang ke restoran sendiri, tetapi kenapa Sehun merubah rencana mereka mendadak? "Tapi... kenapa Sehun? Ada apa?" Pikiran buruk menyeruak di benaknya, apakah terjadi sesuatu? Apakah Sehun sakit?

"Bukan apa-apa, aku akan mampir ke rumah sakit dulu sebelum ke restoran."

"Apakah kau sakit Sehun?" Baekhyun setengah berteriak panik.

"Bukan, bukan aku, tapi Luhan," suara Sehun putus-putus karena sedang di jalan, lalu 'Klik'. Percakapan mereka terputus begitu saja.

Baekhyun masih terpaku dengan ponsel di telinganya, jantungnya berdebar kencang, tetapi kali ini dengan perasaan berbeda. Luhan…? Rasa cemburu dan cemas yang sama menyeruak di benaknya. Tetapi Baekhyun berusaha menyingkirkannya dengan segera, menyalahkan dirinya karena begitu tega mencemburui Luhan yang sakit keras. Sehun sendiri sudah mengatakan kepadanya bukan bahwa dia mencemaskan Luhan hanya karena empati karena pernah mengidap penyakit yang sama?

Dan Baekhyun percaya kepada Sehun. Lelaki itu hanya mampir ke rumah sakit untuk menengok Luhan, setelah itu dia pasti datang ke restoran dan memenuhi janji makan malam dan merayakan ulang tahun Baekhyun bersama. Baekhyun percaya bahwa Sehun akan menepati janjinya. Karena Sehun mencintainya.

Baekhyun meraih tas tangannya, lalu menelepon taxi untuk menjemputnya ke rumah dan mengantarnya ke restoran tersebut.


TBC

Makasih banyak ya yang udah Review, Follow maupun Favorite :)

Tinggalkan jejak yaa readers yang baik hati, ehehehe :D