Another Chance

.

.

.

Author : MY98 dan (Kim Heeya)

Cast:

Park Jimin as Park Jimin (24 tahun)

Kim Taehyung as Kim Taehyung (24 tahun)

Jeon Jungkook as Jeon Jungkook (24 tahun)

Etc.

Pairing: VMin! Sligh KookMin! NamJin!

Rating : T

Genre :Romance, Humor, Hurt/ComfortDisclaimer: BTS itu milik BigHIt ent, tapi jimin milik saya! ._.

Warning! : Typo bertebaran! Penggunaan bahasa tidak sesuai dengan EYD! Gaje!Cerita pasaran! Aneh! OOC! Yaoi!

.

.

Happy Raeding ^_^

.

.

_Another Chance_

.

.

Park's Mansion, 12.00 pm KST.

Jimin menatap tak percaya appa nya itu, "Apa?! Tidak! Aku tak mau!" Mr. Park tampak geram, tapi lagi-lagi ia hanya bisa mendesah dan mengurut pelipis kanannya pelan. "Ya Park Jimin, setidaknya kau terima saja perkawinan ini! Apa susahnya, hah?! Lagipula kalau kau tetap tak mau, perkawinan ini akan tetap berlanjut karena kau dan Kim Taehyung itu sudah dikawinkan saat kecil!" Mrs. Park yang berada di sampingnya hanya bisa mengelus-ngelus punggung sang suami.

"Hyaa, Appa! Jangan mengulang-ulang kalimat itu! Kalimat itu seperti kutukan bagiku!" seru pria imut itu sambil menutup kedua telinganya. "Kenapa Appa tega-teganya mengawini aku dengan pria mesum itu saat kecil?! Eomma juga, kenapa Eomma tidak membelaku?!"

Pletak!

"Ya, Kim Nam-" Namjoon seketika memelototi sepupunya itu dengan garang, membuat Jimin menelan ludahnya dan mem-pout kan bibir mungil nya itu. "Park Jimin, bersikap sopanlah pada mereka, bagaimanapun kau adalah anak mereka." Pria bermarga Kim itu lalu memutar kepalanya dan menatap Mr. Park, "Ahjussi dan Ahjumma tenang saja, besok kuyakinkan Park Jimin ini akan menerima pernikahan yang akan di lakukan lusa itu."

Mr. dan Mrs. Park tersenyum puas. "Ah, kami bersyukur mempunyai keponakan seperti dirimu, Namjoon-ah." Akhirnya Mrs. Park bersuara juga. Jimin yang sejak tadi teracuhkan tiba-tiba menghentakkan kakinya dan bangkit dari duduknya. "Kalian tega! Aku tidak ingin menikah dengan Kim Taehyung!" dan dengan itu pria manis tersebut berlari meninggalkan kedua orang tuanya dan sepupunya tersebut yang hanya terdiam, sama sekali tak berniat untuk mengejarnya.

"Haah," desahan panjang keluar dari mulut ketiga orang itu. "Namjoon, kali ini kami sangat mengharapkan bantuanmu. Kau mengerti?" ujar Mr. Park seraya menggenggam tangan istrinya. Namjoon hanya mengangguk, "Iya, Ahjussi. Baiklah. Kalian tenang saja."

"Yeobo, aku kasihan melihat Jimin dibohongi seperti ini.."

"Hah, apa boleh buat, Yeobo. Kita sudah terikat janji."

.

_Another Chance_

.

Jimin's Room, 14.00 pm KST.

Tok tok..

"Apa?!" bentak pria manis itu dengan wajah masih menempel di atas bantal empuknya. Tak ada jawaban dari 'Pelaku Pengetukan Pintu' tersebut. Jimin mengerutkan keningnya, namun ia sama sekali tak berniat mengubah posisinya.

Tok tok..

Lagi-lagi suara pintu diketuk. Jimin menolehkan kepalanya ke arah pintu kamarnya dengan kening penuh kerutan. "Ya! Siapa?! Apa maumu?!" bentak pria manis itu lagi. "Kalau ada yang ingin kau katakan, masuk saja! Pintunya tidak dikunci! Cepat, karena kau sudah mengganggu tidurku!"

Cklek.

Tap.

"Park Jimin."

"Kau!"

.

_Another Chance_

.

Naos Nova Cafe, Seoul, 16.00 pm KST.

"Kim Taehyung." merasa namanya di sebut, seorang pria yang berbalut coat coklat tua mendongakkan kepalanya dari gadgetnya, menatap seorang pria dengan kemeja bewarna biru tua. "Kau sudah datang." ujar Taehyung seraya tersenyum, ia lalu menyimpan gadgetnya dan memanggil seorang pelayan di kafe itu. Sambil menunggu kedatangan pelayan itu, Taehyung menatap pria yang memanggilnya tadi dan mempersilahkannya duduk.

"Anda mau pesan apa, Tuan Muda?" tanya pelayan itu. "Espresso untukku." sahut Taehyung. "Dan.. anda?" si pelayan mengalihkan pandangannya ke arah pria yang duduk di hadapan Taehyung tadi. "Long Black." Dan setelah mencatat pesanan kedua pria itu, si pelayan meninggalkan kedua pria tersebut.

Taehyung menatap lurus ke arah pria di hadapannya, "Ada apa?" tanyanya. Pria tampan yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara juga. "Tak kukira, calon suami pacar ku itu.. kau.." Taehyung menelengkan kepalanya, tertarik dengan perkataan menggantung pria di hadapannya itu. ".. Sobat Lama."

"Heeh," Taehyung tersenyum lebar, ah tepatnya memberi pria itu sebuah seringaian. "Aku pun tak mengira kau bakalan lebih dulu memulai permainan.. kau tahu? Kau sungguh curang, Jeon Jungkook."

Punggung Jungkook sedikit menegang, tapi ia tetap berusaha tenang. Mata beningnya menangkap sosok Taehyung yang mencondongkan tubuhnya ke depan dengan perlahan, dengan meja berbentuk persegi empat sebagai pembatas antara Jungkook dan Taehyung sendiri. "Kau tahu kan.." Jungkook bisa merasakan nafas berat dan suara Taehyung tepat di telinganya. Sekali lagi, pria yang sedang mencondongkan tubuhnya itu menyeringai lebar tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Setidaknya, mereka beruntung mengambil meja di pojok kafe tersebut. "Yang menemukan Park Jimin pertama kali itu.. aku. Dan.." Taehyung menjauhkan dirinya dari Jungkook. Manik bening Jungkook menangkap tatapan tajam yang dilemparkan Taehyung, ".. aku sangat tidak akan terima kalau sahabatku sendiri mendului ku dan mendapati orang yang kucintai. Aku akan membuat Jimin kembali jatuh padaku. Sebagaimana ia pernah jatuh di tanganku saat kita di Jepang dulu."

"Minuman Anda, Tuan.."

Perkataan pelayan kafe tersebut mengejutkan kedua pria tersebut, namun Taehyung dengan cepat bisa mengontrol emosinya. Pria itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih setelah pelayan tersebut meletakkan pesanan mereka.

Dan Jungkook.. Jungkook masih terlalu shock dengan perkataan pria di hadapannya tadi. Bahkan untuk menyeruput Long Black nya saja tangannya terlalu kaku. Pria itu sedikit terlonjak ketika cangkir Espresso Taehyung beradu dengan piring tadahnya. Taehyung tergelak, "Tenang saja, setidaknya aku sudah memberimu peringatan bahwa persaingan kita akan dimulai lagi. Tidak seperti kau dulu yang memulai permainan tanpa menungguku mempersiapkan diri dulu." Dan detik berikutnya Jungkook sudah menatap punggung Taehyung yang perlahan menjauh.

"Ah ya, lihat. Aku sudah berubah 100% dari diriku yang dulu. Jadi kau perlu waspada."

Jungkook mengepal kedua tangannya. Kesal, jengkel, takut, dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu di benaknya. Dan itu di peruntukkan untuk Kim Taehyung.

.

_Another Chance_

.

Kim's Apartment, 16.25 pm KST.

Seorang pria manis tiba-tiba memeluk Namjoon yang sedang terduduk di beranda apartmentnya sore itu. "Ada apa, Joonie? Kenapa sejak aku sampai di Korea hari ini, kau begitu murung?" tanya pria manis itu lembut. Namjoon menghela nafas sambil memejamkan matanya. Perlahan kedua tangannya menggenggam tangan milik pria manis tersebut.

"Aku memikirkan mereka, Hyung." Mendengar pria tampan itu memanggilnya 'Hyung', Seokjin tahu kalau pacarnya itu sedang resah saat ini. "Entahlah, tapi menurutku rencana 'nya' itu sungguh tidak masuk akal." Namjoon lagi-lagi mendesah.

Seokjin tersenyum, ia lalu menyamankan kepalanya di pundak Namjoon. "Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan." Pria tampan itu hanya mengangguk menanggapi. Seojin tiba-tiba teringat akan sesuatu, ia lalu melepas rangkulannya di pundak Namjoon. Namjoon segera menolehkan kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya heran seraya menatap pacarnyanya itu. Mata pria tampan itu seolah-olah mengatakan, 'Ada apa? Kenapa kau melepaskan pelukanmu?!'

"Aku punya ide!"

.

_Another Chance_

.

Jimin's Room, 17.00 pm KST.

Jimin terduduk di tepi kasurnya. Masih terlalu terkejut dengan semuanya. Lebih tepatnya merenungi pembicaraannya dengan Namjoon tadi. Pria manis itu lalu memejamkan matanya dan jemarinya menggenggam tepi kasurnya erat.

-Flashback ON-

Jimin's Room, 14.00 pm KST.

"Park Jimin."

"Kau!" Jimin terkejut ketika mendapati Namjoon lah yang muncul dari balik pintu kamarnya. "Kenapa kau tidak langsung masuk saja?! Kau mengganggu tidurku, Hyung!" Namjoon tersenyum lebar mendengar perkataan sepupunya itu yang memanggil 'Hyung' atas inisiatifnya sendiri. Pria tampan itu perlahan melangkahkan kakinya mendekati Jimin. Sedangkan Pria manis itu mengikuti gerak-gerik seorang Kim Namjoon dengan manik mata beningnya sedangkan tubuhnya sekarang dalam keadaan tertelentang.

Namjoon lalu duduk tepat di samping tubuh Jimin berada. Pria tampan itu kemudian merebahkan tubuhnya yang otomatis kepalanya menghimpit perut Jimin. "Yaa, beraat!" pekik pria manis itu, antara terkejut dan keberatan. Namjoon tidak mengacuhkan perkataan sepupunya, ia malah memejamkan matanya. "Sudah lama kita tidak seperti ini, Jiminie." Ujar Namjoon pelan. Jimin hanya mengangguk pelan, "Yah.. begitulah. Kau sama sekali tak berubah, selalu suka tidur di atas perut ku." Namjoon tersenyum, "Perutmu itu nyaman." Dan merekapun sama-sama terdiam, saling bernostalgia. Hingga akhirnya Jimin merasa beban di atas perutnya hilang.

"Jiminie.."

"Ya?" jimin akhirnya ikut bangkit dari posisi tidurannya. Namjoon menatap Jimin, tajam. "Apa kau masih ingat kehidupanmu di Jepang 5 tahun yang lalu?" tanya pria tampan itu to the point. Yang ditanya terdiam sesaat. Tak lama kemudian barulah Jimin menganggukkan kepalanya sedari tersenyum, "Tentu saja. Bagaimana aku akan lupa dengan Jepang yang telah mempertemukanku dengan Jungkook?" Namjoon menghela nafas. "Ayolah, Park Jimin. Kau tidak mau melupakan Jepang bukan karena Jeon Jungkook saja, kan? Jujur padaku."

Jimin terpaku diam. Ia mengerti apa maksud sepupunya itu, sangat mengerti. Perlahan, bayangan-bayangan sosok itu kembali memenuhi kepalanya. Sosok pria lusuh dan kurus dengan rambut acak-acakan bewarna coklat yang selalu datang ke taman di dekat apartemen Jimin dulu. Pria itu selalu meminta untuk dibuatkan bento tiap kali bertemu dengan Jimin. Jimin yang pada dasarnya memang tidak bisa menolak, akhirnya membuatkan bento tiap pagi untuk pria tersebut dan hal itu menjadi rutinitas Jimin sehari-harinya.

Namun pria itu menghilang. Menghilang tanpa jejak sama sekali, menghilang bagaikan ditelan bumi. Meninggalkan Jimin dengan.. perasaannya. Yah, Park Jimin saat itu telah jatuh cinta pada seorang Ryosuke Yamada. Dan pada saat Ryo menghilang, Jungkook muncul. Waktu yang tepat, kan?

"Ryo.." bisik Jimin. "Kau masih mengingatnya?" tanya Namjoon sambil menatap Jimin yang menundukkan kepalanya. Pria imut itu mengangguk, "Ne.. Aku merindukannya. Aku merindukannya hyung.."

"Menikahlah dengan Kim Taehyung."

Jimin membuka matanya dan menatap sepupunya dengan tatapan penuh horor. "Apa? Tidak! Aku tidak mau! Aku mencintai Jungkook!" Namjoon langsung memutar arah duduknya, dan menarik tubuh Jimin agar berhadapan dengannya. "Dengar Park Jimin, apa kau tahu? Walaupun kau bersama Jeon Jungkook, terkadang kau tetap melihat bayang-bayang Ryosuke Yamada di belakangnya! Dan kau akan selalu bersedih! Aku tidak bisa melihatmu bersedih seperti itu terus-terusan!" seru Namjoon.

"Menikahlah dengan Kim Taehyung dan lupakan Jungkook beserta bayang-bayang Ryosuke!" ujar Namjoon, setengah membentak. Jimin termenung, shock. "Hahh.." Namjoon sadar ia telah membentak sepupunya itu, dan itu kesalahan besar. Pria tampan itu lalu menggapai kedua pundak Jimin. "Aku hanya ingin melihatmu bahagia, itu saja. Setidaknya kau belajar untuk melupakan mereka."

Jimin menatap Namjoon tak percaya, "A-aku tidak bisa.." cengkraman tangan Namjoon di pundak sepupunya itu mengerat. Ia lalu menghela nafas dan menundukkan kepalanya, "Hahh, atau setidaknya kau terima dulu perjodohan ini sebagai anak yang berbakti. Setahuku kau belum pernah melakukan sesuatu yang membuat Park Ahjussi dan Park Ahjumma bangga padamu." ujar Namjoon, menggoda Jimin.

Pletak!

"Ya! Kau sudah berani memukul kepalaku, hah?!" seru Namjoon seraya memegangi kepalanya yang baru saja menerima hadiah dari Jimin. "Kau! Kau jaga mulutmu itu! Aku sudah pernah membuat Appa dan Eomma bangga semasa sekolahku!" ujar pria imut itu membela dirinya. "Benarkah? Aku tidak tahu tuh.."

"KAU!"

Namjoon segera bangkit dari ranjang Jimin. "Haha, baiklah baiklah. Aku hanya bercanda. Haha." Jimin sudah bersiap-siap mengejar Namjoon, namun sepupunya itu sudah terlebih dahulu sampai di pintu kamarnya.

Cklek.

"Ah, tentang pernikahan itu, aku serius. Setidaknya kau terima saja dulu."

-End Of Flashback-

Jimin masih memejamkan matanya. Entah kenapa, setelah mengingat kejadian tadi, ia juga mengingat seseorang.

"Jimin-ah.."

Deg.

"Ryo.." Jimin membuka matanya. "YA, APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU, PRIA MESUM?! KENAPA KAU BISA ADA DI SINII?!" Jimin langsung berteriak histeris ketika mendapati wajah seorang Kim Taehyung tepat berada di hadapannya. Taehyung yang dihadiahi teriakan Jimin langsung menarik dirinya menjauh dan menutup kedua telinganya. "Ya, aku tidak tuli! Jangan teriak-teriak, bodoh." Jimin bangkit dari duduknya dengan mata berkilat-kilat penuh amarah.

Taehyung menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dengar, ganti bajumu sekarang juga. Kalau perlu mandi sekalian." ujar pria itu sambil, melipat tangan di depan dadanya. "Siapa kau sampai berani-beraninya mentitahku, hah?" seru Jimin tak terima. "Sekarang. Juga." Jimin menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Park Jimin."

"Aku tidak mau."

"Hahh, lebih cepat kau mau, lebih cepat pula kau terbebas dariku, Tuan Muda. Atau.. kau ingin berlama-lama denganku, hmm?" manik mata Jimin otomatis membelalak. "Tidak!" serunya. "Kalau begitu cepatlah!" Taehyung menarik lengan Jimin dan membawa pria itu ke arah kamar mandi yang berada di kamar tersebut. "Ya, pria mesum! Lepaskan! Tanganku sakiitt!"

Taehyung berhenti tepat di depan pintu kamar mandi dan menatap Jimin. Pria tampan itu lalu mengangkat pergelangan tangan Jimin yang tadi di cengkramnya. "Maaf.." Jimin terkejut bukan main. Taehyung mencium pergelangan tangannya yang memerah itu. "Aku tak bermaksud untuk menyakitimu." lanjut Taehyung, masih menggenggam tangan Jimin. Dan entah kenapa, kali ini Jimin sama sekali tak bisa melakukan perlawanan pada pria itu. Ada sebuah sensasi aneh ketika Taehyung melakukan itu. Sensasi yang-

"Bersiaplah sekarang juga.." kalimat itu mengejutkan Jimin dan menariknya kembali dari pikirannya. Pria manis itu tersadar, dengan segera ia menghentakkan tangan Taehyung dan memasuki kamar mandi. Meninggalkan Taehyung di depan pintu kamar mandi. "Perjalananku untuk mendapatimu lagi masih panjang ya, Jimin-ah?"

.

_Another Chance_

.

Park's Mansion, 18.00 pm KST.

"Kenapa kau memakai baju itu?" Taehyung menatap Jimin dari atas hingga ke bawah. Sedangkan yang ditatap hanya menaikkan sebelah alisnya, "Memangnya kau berhak untuk melarangku mengenakan baju yang kusuka?" Taehyung mendorong Jimin kembali ke kamarnya, "Ya! Apa yang kau lakukan?!"

Pria tampan itu tak mengacuhkan teriakan Jimin, ia malah melangkah dengan cepat ke arah pintu kamar Jimin yang masih terbuka dan segera menguncinya. "Ya ya ya! Apa yang kau lakukan?! Jangan macam-macam, aku akan teriak!" Taehyung hanya melirik Jimin sesaat. Pria itu berjalan mendekati lemari pakaian Jimin dan membuka pintu lemari tersebut. "Berteriaklah sepuasmu. Tak kan ada seorangpun yang akan mendengarmu, Park Ahjussi dan Park Ahjumma sedang keluar. Lagipula, bukankah kamarmu ini ada alat peredam suaranya?"

Jimin mengernyit. Ia menatap tajam punggung Taehyung yang sedang mengobrak-abrik lemari pakaiannya. "Kenapa kau bisa tau banyak tentangku dan apa yang kau lakukan?" ujar pria manis itu sedari menyipitkan matanya. Yang ditanya sama sekali tak menjawab, berpura-pura tuli. "Ya, jawab pertanyaanku!"

"Nah, pakai ini!" Taehyung memutar tubuhnya dan memperlihatkan sebuah jaket kulit hitam beserta sebuah kaos bewarna putih. "Cepat lepaskan kaus oblongmu itu dan ganti dengan ini!" Jimin mendelik, "Sudah berapa kali kau mentitahku hari ini, hah?!"

"Kau mau mati kedinginan, hah? Kau mau keluar dengan kaos seperti itu? Cepat, ganti pakaianmu!" seru Taehyung tak sabaran. Jimin menatap 'pria mesum' di hadapannya itu, lalu matanya beralih ke jendela kamarnya yang memperlihatkan gelapnya malam. "Hah.. terserah apa katamu saja. Mana baju itu?" Taehyung memberikan pakaian yang sudah diambilnya kepada Jimin. Pria manis itu lalu berjalan menuju kamar mandi dengan berat hati.

"Eits, kau mau kemana?" Taehyung menghentikan langkah Jimin. "Maumu apa sih, Kim Taehyung?! Tadi kau menyuruhku untuk mengganti pakaianku, sekarang kau menghentikanku. Apa mau mu, hah?!" Jimin tampak frustasi menghadapi Taehyung. "Kau ganti di sini saja, cepat. Kita tidak punya banyak waktu!"

"Dengan kau yang masih ada di sini? Apa kau gila, hah?! Aku tidak mau!" bentak Jimin, mulai jengah dengan 'pria mesum' itu. Taehyung tetap diam di tempatnya. Jimin menggigit bibir bawahnya, "Cepat. Keluar. Kim. Taehyung." ujar pria manis itu menahan emosinya. "CEPAT KELUAR!

Taehyung tergelak, "Iya, iyaa aku akan keluar, Park ah Kim Jimin. Aku baru akan menikmati tubuhmu itu ketika sudah menikah nanti, jadi kau tenang saja." Jimin mendelik mendengar perkataan ambigu Taehyung.

"Ya, cepat keluar sekarang juga! Dan namaku bukan Kim Jimin, tapi Park Jimin!"

"Baiklah, baiklah. Aku akan keluar. Kim Jimin lebih baik, kau tahu?" Taehyung tersenyum menggoda pada Jimin sebelum menghilang di balik pintu kamar pria manis itu.

"Argh, dasar pria mesum gila!"

.

_Another Chance_

.

"Jadi kau sengaja memilih pakaian ini untukku, hah? Supaya kita tampak matching gitu?"

Taehyung yang sedang duduk di sofa yang berada tak jauh dari kamar Jimin segera bangkit dari duduknya dan menatap pria imut itu tajam. Ia lalu berjalan mendekati Jimin, menyuduti pria manis itu. "Ap-apa yang kau lakukan?" Taehyung tak menjawab, ia terus berjalan mendekati Jimin hingga akhirnya Jimin berada di antara ia dan sebuah dinding. Pria tampan itu lalu menahan beban tubuhnya dengan kedua tangannya.

"Kau.." Taehyung menelusuri tubuh Jimin dari ujung rambut hingga ujung sepatunya. Dan mata pria itu kembali mengunci manik mata Jimin. ".. terlihat sangat.. tampan. You're.. amazing." bisik Taehyung, nyaris tak terdengar. Jimin bisa merasakan sensasi panas aneh di pipinya. Sensasi yang ia tak ingin mengerti.

Bruk.

"Kau ingin membawaku kemana? Sebaiknya cepat, karena aku tak tahan berlama-lama denganmu." Jimin berjalan mendahului Taehyung dengan degupan jantungnya yang melebihi batas normal. 'Ada apa ini?'

.

_Another Chance_

.

Jimin's POV ON.

Aissh, kenapa keadaan di mobil ini bisa begitu hening?! Dasar Kim Taehyung bodoh! Bodoh! Idiot!

"Jangan gigit bibirmu seperti itu."

"Hah?" tanyaku, sedikit terkejut. Kutolehkan kepalaku ke arah pria mesum itu, "Jangan gigit bibir bawahmu itu atau aku akan menciummu sekarang juga." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya. "Ya, coba saja kau lakukan itu padaku! Akan kupastikan masa depanmu tidak cerah!"

Bisa kulihat Taehyung tersenyum. Aish, kenapa dia tersenyum?! "Ooh, apa yang akan kau lakukan padaku, hmm? Aku penasaran." Aku terdiam, apa yang akan kulakukan?

"A-aku akan menyuruh Appa ku untuk membuangmu ke kepulauan terpencil!"

"Benarkah? Wah, bakalan jadi bulan madu yang tak ada duanya tuh." jawab pria mesum ini tergelak.

Pletak!

"Ya ya! Apa yang kau lakukan?! Aku sedang menyetir, bodoh!" seru pria mesum itu. Tangan kirinya sedang memegangi kepalanya yang baru saja kuhadiahi. Haha, rasakan itu!

"Salahmu sendiri!"

Ku tolehkan kepalaku ke arah jalanan Seoul yang ramai. Tiba-tiba, tanganku ditarik oleh pria mesum itu. Aku tersentak. "Kau tahu? Malam ini kau benar-benar tampan sekaligus manis." ujarnya seraya tersenyum tulus. "Aku beruntung bisa mendapati calon pasangan hidup sepertimu, Jimin-ah.." Aku terdiam, tak bisa menjawab.

Deg deg deg.

Ada apa ini? Kenapa aku..?

Kutatap wajah pria itu sekali lagi. Dia masih menyetir mobilnya dengan senyuman yang masih hinggap di bibirnya itu. Aku terpaku, wajahnya begitu.. sempurna.

Tiba-tiba aku tersadar, segera kutarik tanganku dari genggamannya. "Jangan kau sentuh lagi tanganku tanpa izinku." ujarku sedingin mungkin. Dia hanya diam. Bisa kulihat matanya menyiratkan kekecewaan dan.. sakit?

Kenapa?

Kenapa?

Ada apa ini?

End Of Jimin POV.

.

_Another Chance_

.

Jewelry Shop, 19.00 pm KST.

"Bagaimana kalau cincin yang itu?" Taehyung menunjuk sebuah cincin yang berada di etalase toko tersebut. Jimin hanya menopang dagunya saja, "Ya ya ya.. terserah kau saja." gumam pria manis itu tak berminat. Taehyung menatap Jimin. "Apa?" Jimin yang merasa diperhatikan menolehkan kepalanya pada Taehyung. "Tidak." Entah kenapa, Jimin seperti baru melihat tatapan kesakitan yang dilemparkan oleh Taehyung.

"Ayo, coba cincin ini." ujar Taehyung, datar. Jimin menatap jemari kirinya, "Tapi.." pria manis itu menggantung perkataannya. "Lepaskan itu, sebentar saja." Akhirnya dengan sedikit berat hati Jimin melepas cincin yang di berikan Jungkook padanya dan menyerahkan cincin tersebut pada Taehyung. "Bagaimana?" tanya Taehyung ketika cincin tersebut bertengger di jari manis kiri Jimin. "Pas."

Taehyung tersenyum lebar. "Kalau begitu kau sudah tak membutuhkan ini lagi." Jimin tak mengerti maksud perkataan pria itu hingga..

Ting..

Mata obsidian Jimin melebar sempurna.

Cincin Jungkook..

PLAK!

"Apa yang kau lakukan, hah?! Kenapa kau membuang cincin yang Jungkook berikan untukku?!" Jimin menatap Taehyung penuh amarah. "Kau tahu Kim Taehyung? Kau itu bajingan!" bentak Jimin. "Aku melakukannya karena kau itu akan menikah denganku." ujar Taehyung dengan ekspresi datar. "Tapi kau tak perlu membuang cincin Jungkook!" entah kenapa, Jimin merasa emosinya meluap-luap penuh amarah. Pria manis itu bisa merasakan matanya memanas. Dan akhirnya setetes air mata sukses jatuh ke pipi Jimin.

Jimin mencoba melepas cincin yang Taehyung berikan tadi padanya. Namun, dahi pria manis itu berkerut. "Aish, kenapa tidak bisa lepas!" Jimin mencoba berkali-kali melepaskan cincin tersebut. Namun hasilnya tetap sama. Gagal.

"Dengar, kalaupun aku nanti datang saat hari pernikahan kita, jangan berharap apapun dariku. Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti. Tapi hatiku tetap bersama Jungkook!"

Dan dengan itu Jimin meninggalkan Taehyung di toko perhiasan tersebut. Saksi bisu atas pertengkaran hebat mereka. Pria tampan itu tersenyum kecut, ia lalu mengangkat tangan kirinya dan membuka kepalan tangannya. "Aku tak akan setega itu." senyuman sendu semakin melebar di wajah tampannya. Tangannya kembali menutup, ia segera berlari setelah membayar cincin tadi.

"Jimin!"

.

_Another Chance_

.

Jeon's Mansion, 20.00 pm KST.

Jungkook melangkahkan kakinya ke dalam apartemennya yang gelap gulita. Pria itu sama sekali tak berniat menghidupi lampu satu pun.

"Jungkook-ah, aku sangat bahagia hari ini!"

"Hah? Benarkah? Ada apa?

"Aku bertemu dengan seorang malaikat, ia sangat manis kau tahu!"

"Siapa?"

"Kalau tidak salah namanya Park Jimin."

Jungkook kembali mendengar percakapan antara ia dan Taehyung di masa lalu. Ia perlahan berjalan menuju sebuah sofa yang berada di ruang tamunya. Pria tampan itu lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa tersebut.

"Kau juga menyukainya, kan, Jungkook-ah?"

"..."

"Sudah kutebak. Baiklah, kita bersaing."

"Maksudmu?"

"Kita bersaing untuk mendapati hati Park Jimin."

"Apa?!"

"Tapi, tidak sekarang, karena aku harus bersiap-siap dulu. Aku harus mencari cara dulu agar Appa mau menikahkanku kelak dengannya."

".."

"Jangan mulai permainan ini terlebih dahulu, ok?"

Jungkook menundukkan kepalanya dalam. Bahunya bergetar. Perasaan bersalah dan takut kehilangan berkecamuk di dadanya. Di satu sisi ia merasa bersalah pada Taehyung tapi di satu sisi ia tidak mau melepas Jimin.

"Maaf, Taehyung-ah.. maaf.."

.

_Another Chance_

.

Namjoon memacu mobilnya dengan kecepatan secepat mungkin. Ia tak menyangka akan begini jadinya. Pria itu menyusuri setiap jengkal jalanan Seoul dengan matanya.

"Hyung.. hiks.. jemput aku.."

Kata-kata Jimin tadi masih terngiang di kepalanya. "Joonie, jangan gila-gilaan seperti ini.." gumam Seokjin, sedikit ketakutan melihat kecepatan mobil Namjoon berjalan. "Ahh, aku tahu pasti akan begini jadinya! Apa yang dipikirkan pria itu?!" Seokjin tak bisa menjawab, ia hanya mengelus perlahan lengan Namjoon. "Sudahlah, lebih baik kita mencari Jimin dengan kepala dingin." Namjoon menganggukan kepalanya, perlahan kecepatan mobilnya melambat.

"Itu dia!"

Namjoon perlahan menepikan mobilnya dan segera berlari keluar. "Jimin-ah! Kau baik-baik saja?" Jimin yang sedang terduduk di tepi jalan mengangkat kepalanya. "Hyung! Hiks. Aku hiks. Sangat membenci.. hiks Kim Taehyung!"

Pria tampan itu sedikit bingung akan apa yang harus di lakukannya. Ia lalu menatap ke arah mobilnya, seakan-akan meminta pertolongan Seokjin yang menantinya. Tak lama kemudian, Seokjin akhirnya keluar.

"Jiminie ~"

Jimin lagi-lagi mengangkat kepalanya. "Hyungg!" Namjoon ternganga melihat itu, tiba-tiba saja mood Jimin bisa kembali ketika melihat pacarnya itu. Pria tampan itu mengawasi kedua pria manis itu saling berpelukan dalam diam. Jimin masih menangis.

Ckiitt.

"Jimin!"

Namjoon segera menolehkan kepalanya ke arah Audi TT yang baru saja berhenti. "Jimin!" Jimin dan juga Seokjin langsung menoleh ke arah suara tersebut. Mereka bertiga langsung bangkit dari posisi duduk mereka di tepi jalan itu.

"Ap-pa yang kau ingingkan?!" tanya Jimin dengan suara bergetarnya. Namjoon bisa melihat wajah keterkejutan Taehyung ketika ia menyadari Jimin menangis. Jimin mendesah ketika pria itu masih diam membisu, "Dengar, aku akan datang ke pernikahan itu. Kau tenang saja, tapi aku akan mengajukan beberapa persyaratan."

Taehyung mendongak, terkejut. "Ap-apa..?" Namjoon memandang sepupunya itu, penasaran. "Persyaratan itu akan kuajukan di hari pernikahan kita. Kau tenang saja. Dan kuharap kita tidak bertemu lagi sebelum hari pernikahan itu. Untuk urusan pernikahan biarlah orangtua kita yang mengaturnya."

Hening.

"Kita pulang..?" Namjoon menatap Seokjin yang perlahan mengangguk. Mereka bertiga lalu bergerak mendekati mobil Namjoon. Sebelum Namjoon memasuki mobilnya, ia sempat menatap Taehyung yang juga menatapnya. Pria tampan itu lalu menggeleng kecewa sebelum memasuki mobilnya.

"AGHRR!" Taehyung jatuh berlutut. "Kenapa aku bisa sebodoh ini?! Baru saja tadi kurasakan Jimin mulai menerimaku. Tapi.. AGHR!"

.

_Another Chance_

.

"Kau, Kim Taehyung, apakah kau bersedia menerima Park Jimin dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, susah maupun senang?"

"Ya, saya bersedia." jawab Taehyung yakin. Pria itu tersenyum sambil melirik dengan ekor matanya sosok yang berdiri di sebelahnya.

"Dan kau, Park Jimin, apakah kau bersedia menerima Kim Taehyung dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, susah maupun senang?"

Hening sesaat.

"Ya, saya bersedia."

"Dengan begitu, di hadapan Tuhan, saya nyatakan kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Kim Taehyung dipersilahkan mencium Kim Jimin." Taehyung memutar tubuhnya menghadap Jimin yang memandangnya dengan datar. Pria tampan itu lalu merengkuh wajah Jimin dengan kedua tangannya. Ketika bibir mereka akan bersatu, Jimin memiringkan kepalanya hingga hanya sudut bibir merekalah yang bersentuhan.

Setelah pernikahan selesai, mereka langsung dipersilahkan menuju kamar mereka berdua. Tak ada pesta, karena atas permintaan Jimin, dan untuk pernikahanpun yang diundang hanya kerabat dekat saja.

"Kim Taehyung." Taehyung yang baru saja menutup pintu kamar mereka, segera memutar tubuhnya dan menatap Jimin. "Kau ingat perkataanku kemarin?" ujar Jimin dingin. Taehyung mengangguk kaku, entah kenapa, ia menjadi kaku begini.

Jimin menganguk. "Baguslah kalau kau mengingatnya. Karena aku memang tak ingin menikah denganmu.." Taehyung tetap diam tak bersuara. "Dengar, aku akan tetap mengajukan syarat-syarat yang sudah kau setujui tadi itu. Ini," Jimin menyerahkan secarik kertas pada Taehyung.

"Tidak boleh menyentuh tubuhku, tak ada 'berhubungan layaknya suami istri', kamar harus dipisahkan..." Taehyung terus membaca syarat-syarat yang sudah ditulis Jimin itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Jimin yang melihat pria yang berstatus sebagai 'suami'-nya itu membaca persyaratan tersebut tertawa dalam hati.

"Kalau saja kau langgar itu, aku akan pergi dari rumah 'kita' dan mengajukan surat cerai." dan dengan itu Jimin berlalu meninggalkan Taehyung yang masih terpaku dengan secarik kertas tadi. Tepatnya sederet kalimat di kertas tersebut.

"Aku dan Jungkook akan tetap berhubungan, selamanya. Dan kau tak berhak melarangku ataupun menceritakan masalah hubungan kami pada keluargaku"

.

_Another Chance_

.

TBC

AN : Holla~! Ane kembali lagi.. :* maaf telat updae, baru selesai ujian UTS nih -_- Mian nee, Dan terima kasih telah mereview di chap sebelumnyaaa~ {} #Peyukatu2#

Last one, Review juseyoo~