Another Chance
.
.
.
Cast :
Park Jimin as Park Jimin (24 tahun)
Kim Taehyung as Kim Taehyung (24 tahun)
Jeon Jungkook as Jeon Jungkook (24 tahun)
Etc.
Rating : T+ nyaris M /pingsan/
Genre : Romance, Humor, Hurt/Comfort
Pairing : VMin, KookMin! Sligh NamJin
Disclaimer : BTS itu milik BigHIt ent, tapi jimin milik saya! ._.
Warning! : Typo bertebaran! Penggunaan bahasa tidak sesuai dengan EYD! Gaje!Cerita pasaran! Aneh! OOC! Yaoi!
Happy Reading ^_^
.
.
_Another Chance_
.
Kim's Apartment, 14.15 pm KST
Namjoon dan Seokjin saling berpandangan. Mereka berdua lalu menatap pria yang lebih muda dari mereka itu. "Kau.. yakin?" Pria yang duduk di hadapan mereka itu mengangguk. "Ya, aku yakin dengan keputusanku, Hyung."
Mereka terdiam. Tak lama kemudian, Seokjin menyenggol lengan pacarnya, membuat Namjoon menatap pria manis itu dengan tatapan penuh tanya. Seokjin memberi sebuah kode pada pria tampan itu. Butuh beberapa detik sebelum Namjoon menangkap apa maksud Seokjin.
Namjoon balik menatap Taehyung dan berkata dengan serius. "Taehyung-ah, setidaknya berpikirlah dua kali. Kau sudah banyak melakukan pengorbanan untuk mendapatkannya. Tapi kau melepasnya begitu saja?" Taehyung menunduk. Ia lalu menghela nafas panjang, "Jangan menggoyahkan keputusan-"
"Aku tak berusaha menggoyahkan keputusanmu." sahut Namjoon. "Setidaknya, beri dia kesempatan. Coba sekali lagi." kali ini, Seokjin lah yang mengeluarkan suara. Taehyung menatap kedua hyung nya itu bergantian. Ia lalu menggeleng pelan.
"Tidak bisa Hyung, dia lebih bahagia apabila bersama Jungkook. Bukankah merelakan orang yang kau cintai bahagia dengan orang yang dicintainya itu adalah arti dari cinta yang sesungguhya?" Taehyung tersenyum tipis. "Aku menyerah."
.
_Another Chance_
.
VMin's Apartment, 18.00 pm KST
"Kau kenapa, sayang?" Jungkook menarik tubuh Jimin mendekat pada dirinya. Jimin hanya menggeleng pelan, ia lalu menggerakkan tubuhnya, menyamankan posisinya di atas sofa tersebut. "Kau yakin? Kau terlihat tidak sehat, kau sudah makan?" lagi-lagi Jimin hanya menjawabnya dengan bahasa tubuh saja.
Krek.
Jimin dan Jungkook otomatis mengalihkan kepala mereka ke arah pintu apartemen yang terbuka. Taehyung berdiri mematung ketika kedua manik matanya mendapati kedua sosok itu. Hening. Taehyung tertawa pelan, pria itu lalu perlahan mendekati Jimin dan Jungkook.
"Tenang, aku hanya ingin memberikan ini." Pria tampan itu meletakkan sebuah map di atas meja yang terletak di hadapan Jimin. Tiba-tiba perasaan Jimin makin tak menentu. "Kau hanya perlu menandatanganinya dan kita akan sidang. Setelah itu aku akan meninggalkan apartement ini." ujar Taehyung menjelaskan sambil tersenyum. Jungkook bisa melihat kebohongan disenyuman itu.
"Ah, jujur saja, sebenarnya aku sama sekali tak mencintaimu, Park Jimin." ucap Taehyung, yang tentu saja membuat Jimin dan Jungkook menatapnya heran. Taehyung tertawa pelan, "Aku hanya menjalankan titah Appa ku itu saja." Ia lalu berbalik dan melesat pergi.
Blam!
Jimin tiba-tiba meremas pergelangan tangan Jungkook, membuat pria tampan itu otomatis menoleh ke arah pacarnya, ia terkejut ketika mendapati pria manis itu menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. "Kenapa sayang? Ada yang sakit?"tanya Jungkook.
"Ini.." JImin menuntun tangan Jungkook ke dadanya. "Aku.. aku tak tahu, tapi di sini sakit sekali Jungkook-ah.." ujar pria manis itu. "Aku tak percaya dia berkata begitu.." Perlahan, lelehan bening mengalir di pipinya. Tubuh Jungkook membeku. Namun pria tampan tersebut berusaha mengenyahkan pikiran itu. Ia menarik Jimin ke dalam pelukannya. "Jangan menangis, aku di sini.."
Setidaknya ada tiga hal yang di yakini Jungkook saat ini :
-Taehyung berbohong tentang dia tidak mencintai Jimin.
-Jimin mulai mencintai Taehyung.
-Ia sudah harus meninggalkan Jimin dan menyerahkannya pada Taehyung, seperti yang seharusnya.
.
_Another Chance_
.
Paradise Cafe, 22.00 pm KST
Jungkook menatap gedung pub di hadapannya itu. "Apa benar dia di sini Hyung?" ujar pria itu pada orang yang di sebrang yang tersambung dengannya melalui sambungan seluler. Hening sesaat. "Ah di ruang VIP? Baiklah. Aku akan masuk. Gomawo hyung." Jungkook lalu memutuskan sambungan seluler tersebut. Tanpa keraguan sedikitpun, pria itu memasuki pub tersebut.
Hiruk-pikuk keramaian pub menyambut Jungkook. Pria itu melangkahkan kakinya menuju ruang VIP di pub tersebut. Sesampainya di ruang VIP, ia mengedarkan pandangan, berusaha menemukan sosok yang dicarinya. Sedikit kesusahan dengan suasana pub yang remang-remang.
"Ah," matanya mendarat pada sesosok yang sedang memesan minuman di bar pub tersebut. Jungkook lalu mendekati sosok itu. Dengan keputusan yang bulat, pria itu mendaratkan tangannya ke pundak sosok tersebut.
"Lebih baik kau berhenti meminum minuman itu, Taehyung." Sosok yang dipanggil Taehyung itu memutar kepalanya sembilan puluh derjat. "Ah ternyata kau, Jungkook. Sudah lama kita tak bertemu bukan? Hahaha" ujar Taehyung tertawa.
Jungkook menggeleng pelan, Taehyung memang peminum, namun sekali dia minum, jangan harap bisa berbicara 'normal' dengannya. Tiba-tiba, Taehyung menarik kerah baju Jungkook sehingga wajah mereka sejajar,"Tapi kau tahu? Seseorang yang mirip denganmu telah merebut Jimin-KU! Haha, lucu bukan?!" Taehyung tertawa lagi. "Dan-"
BUAGH!
Jungkook yang sudah cukup geram, langsung melayangkan sebuah tinju pada muka Taehyung. Sedangkan Taehyung terdiam dan menatap Jungkook. Sedikit demi sedikit, kesadarannya terkumpul. Kali ini giliran Jungkook yang menarik kerah baju Taehyung.
"Kau! Sadarlah!" bentak Jungkook, tak mengacuhkan orang-orang yang menatap mereka. "Memang aku yang merebutnya, tapi aku datang ke sini untuk menyerahkannya kembali padamu! Seperti yang seharusnya."
Taehyung menyipitkan matanya, "Jangan mencoba untuk menggoyahkan keputusanku, Jeon Jungkook.." desisnya pelan. "Lagipula, aku tidak benar-benar mencintainya." Jungkook menggeleng, "Berhentilah berbohong, Taehyung. Aku lebih paham dirimu daripada yang lain. Ingat, kita sudah berteman sejak lama." ujar pria itu.
Tawa mengejek keluar dari mulut Taehyung. "Ya, dan kau mengkhianatinya begitu saja." Jungkook menggeram, "Karena itu aku ingin memperbaiki semuanya!" bentaknya kasar. "Tak perlu! Aku sudah me-"
"CUKUP! APA KAU TAHU? JIMIN SUDAH MENCINTAIMU!" potong Jungkook yang sudah habis kesabarannya. "BERHENTI BERKATA KAU MENYERAH SEPERTI ITU! SADARLAH, JIMIN SUDAH MULAI MENCINTAIMU!" Jungkook lalu menghempaskan tubuh Taehyung ke kursi yang di duduki pria itu.
"Aku yang akan melepasnya, bukan kau. Kejarlah dia."
Dan dengan itu, Jungkook berlalu meninggalkan Taehyung yang terpaku. Perlahan, pria itu memutar tubuhnya menghadap bar dan memesan segelas alkohol lagi. Setidaknya ia sangat membutuhkan itu sekarang. Ia hanya bingung.
.
_Another Chance_
.
"Kau tak menyesal?"
"Tidak."
"Kau yakin?"
"Ya."
"Alasanmu melakukan ini?"
"Karena Jimin memang seharusnya bersama Taehyung."
Namjoon tersenyum. "Ya, kau benar." Ia lalu menjalankan mobilnya meninggalkan daerah tersebut. "Sekarang, yang hanya bisa kita lakukan adalah menunggu tindakan Taehyung. Semuanya tergantung pada dia."
"Ya, kau benar hyung.."
.
_Another Chance_
.
VMin's Apartment, 23.00 pm KST
Jimin POV
Taehyung.. kenapa dia masih belum pulang?
Ku tatap sekeliling kamarku. Mataku berhenti tepat pada sebuah map yang terletak di atas meja tepat di samping ranjangku. Entah kenapa, dadaku kembali sakit. Ku arahkan tanganku ke dadaku dan meremas kain pakaianku di bagian sana. Taehyung-ah, apa ini? Kenapa dadaku begitu sesak? Kau tahu, ini sangat sakit sekali..
Aku bangkit dari ranjangku dan melangkahkan kaki ku keluar dari kamarku. Entah apa yang merasukiku, kaki-kaki ku melangkah menuju kamar yang berada tepat di samping kamarku. Kamar Kim Taehyung. Sedikit ragu, kugenggam knop pintunya itu dan lalu memutarnya secara perlahan, berharap pintunya tak dikunci. Dan yap! Syukurlah pintunya tak dikunci.
Perlahan, ku langkahkan kakiku memasuki ruangan bernuansa hitam-putih tersebut. Ruangan yang rapi untuk seorang pria. Aku lalu mendekati ranjangnya dan duduk di atas ranjang tersebut. Ku tatap meja kecil yang terletak di samping ranjang ini. Sebuah kotak putih dan sebuah frame menarik perhatianku. Tunggu.. apa itu fotoku..?
Ku raih frame foto tersebut dengan rasa tak percaya. Apa ini? Apa maksudnya dia menyimpan fotoku? Bukankah dia.. tidak mencintaiku? Taehyung, apa kau mau mempermainkan perasaanku?! Ku tatap frame yang berisi foto pernikahan kami dan mendekapnya. Taehyung-ah, dadaku kembali sakit.. tolong jelaskan, ada apa ini..
Bisa kurasakan tetesan-tetesan air mata mulai membasahi pipiku. Dan aku tahu isakan-isakan pelanpun keluar dari mulutku. Tapi aku tak peduli, dadaku terlalu sakit. Siapapun, tolong jelaskan semua ini, ku mohon..
Kriet..
"Jimin?"
End Of Jimin POV
.
_Another Chance_
.
"Jimin?"
Taehyung menatap terkejut sosok yang menangis sesegukan di dalam kamarnya. Sedang Jimin yang sama terkejutnya, menengadahkan kepalanya. Ia lalu berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Taehyung yang perlahan mendekatkan dirinya pada pria manis itu. Tak ada jawaban, Jimin langsung bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat, berusaha keluar dari kamar tersebut. Namun, Taehyung menahannya. "Jawab aku, Jimin."
Taehyung menatap tajam manik mata Jimin, menunggu jawaban. "Park Jimin." ujarnya. Jimin menunduk risih, ia sudah tak tahan lagi, sebentar lagi pertahanannya pasti runtuh. "Lep-lepaskan.." bisiknya pelan, menahan tangisannya.
Taehyung tak mengindahkan perkataan pria manis itu. "Jawab aku." Ia lalu berjalan dan menyudutkan Jimin di pojok kamarnya. Namun, sebuah aroma mendarat di pancra indra Jimin. Alkohol. Taehyung sedang mabuk. Pikiran-pikiran buruk mulai melayang-layang di otak Jimin.
"Taehyung.. lepaskan, ku mohon. Lain kali akan kuceritakan, sekarang kau sedang mabuk."Jimin berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Taehyung, tapi sia-sia. Bagaimanapun, tenaganya kalah jauh dari tenaga Taehyung. Taehyung menatap tajam Jimin yang sudah memejamkan matanya, menahan tangis. Entah apa yang di pikirkannya, ia lalu mendekakan kepalanya ke kepala Jimin dan mempertemukan bibir mereka.
Jimin tersentak ketika ia merasakan sesuatu menempel di bibirnya. Pria manis itu langsung membuka matanya. Ia sangat terkejut ketika mendapati Taehyung tengah menciumnya. "Hm.. hh.." Jimin memukul-mukul dada pria tampan itu, ingin melepaskan diri dari ciuman itu. Namun tak ada respon dari Taehyung. Ia malah menekan kepala bagian belakang Jimin untuk memperdalam ciuman mereka. Namun tetap saja, Jimin terus-menerus memukul dada pria itu.
"Berhenti memukulku!" bentak Taehyung setelah melepas pagutan bibir mereka. Jimin terdiam. "Apa kau tak mengenal wajahku ini?! Lihat wajahku, Park Jimin!" Jimin bingung dengan maksud perkataan Taehyung. "Aku mengenali wajahmu, kau Kim Taehyung.." sahutnya, tak yakin.
"Argh! Bukan itu maksudku! Kau mengenaliku tidak dengan nama itu!"
"Jangan mengoceh yang tidak-tidak, Taehyung! Kau sedang mabuk!"
"Aku tidak sebegitu mabuknya!" Taehyung mendecak, ia lau merogoh sesuatu dari saku coat yang dikenakannya. "Ini! Apa kau ingat ini?!"pria itu menyerahkan sebuah kalung berbandul kunci ke tangan Jimin. Sedangkan pria manis itu terkejut ketika membaca nama yang tertera di bandul tersebut. 'Park Jimin.'
"Kau! Dari mana kau mendapatkan kalung ini?! Kau mencurinya hah?!"
Taehyung mengerutkan keningnya, "Yak! Aku Ryosuke Yamada yang sudah mengikat janji denganmu dulu!" Jimin terdiam. 'Tak mungkin Taehyung tahu sebegitu banyaknya tentang masa lalunya dengan Ryosuke Yamada kalau bukan dia sendirilah Ryosuke itu.' Bisik sebuah suara di benak Jimin.
Melihat tak ada reaksi dari Jimin, Taehyung kembali mempertemukan bibir mereka dan kembali mencium bibir Jimin. Lebih liar dari yang sebelumnya. Awalnya Jimin tak membalas ciuman pria itu, karena terlalu shock, namun ketika Taehyung menggigit bibir bawahnya, meminta izin masuk, barulah Jimin mulai membalas ciuman itu. Hisapan, kecupan dan lumatan memenuhi permainan mereka. Suasana yang hening pun mendukung kegiatan mereka, hanya suara decak ciuman merekalah yang memenuhi ruangan tersebut.
Jimin memukul dada Taehyung, bagaimanapun mereka membutuhkan asupan oksigen juga bukan? Taehyung melepas pagutan bibir mereka dan menatap Jimin yang balas menatapnya dengan pandangan sayu. Jimin lalu menunduk. "Maaf.." bisiknya, entah bermaksud apa.
Tanpa pikir panjang, Taehyung kembali menyatukan bibir mereka. Ia lalu mengangkat tubuh Jimin tanpa memisahkan bibir mereka. Pria itu lalu membawanya ke ranjang King Size nya. Perlahan, pria itu membaringkan tubuh Jimin, masih tanpa melepas pagutan bibir mereka. Tak lama kemudian, barulah Taehyung melepas pagutan bibir mereka.
Taehyung menatap manik mata Jimin, "Bolehkah aku..?" tanyanya. Jimin hanya mengangguk, "Tapi, kau harus berjanji padaku untuk menceritakan semuanya setelah ini selesai.." Taehyung mengangguk menyetujui. Perlahan, jemari-jemari Taehyung bergerak untuk melepas kancing piyama yang dikenakan Jimin.
Sambil melepas piyama Jimin, Taehyung mendekatkan kepalanya ke ceruk leher indah pria manis itu. Ia lalu mendaratkan kecupan-kecupan dan meninggalkan jejak kepemilikan di leher itu. Desahan dan desahan mewarnai permainan mereka malam ini.
Ah, mereka akan mendapati malam yang panjang..
.
_Another Chance_
.
TBC
AN : Holla~! Apa kbar~? Kekeke.. mian telat update T_T sbenarnya chapter ini udah lama siap, tpi ane sibuk ching~ kgak sempat menggang laptop~ hehehe.. ya udah deh, makasih ne, udah review di chap sebelumnya #peyuk+civokatu2 :* {}
Last One, Review Juseyoo~
