Sepasang mata menatap sosok yang kini terbaring di kasur rumah sakit dengan datar. Sedari sosok itu keluar dari ruang operasi, Ia tidak bisa berhenti menatapnya. Ada sesuatu yang terus mengganggu dalam pikirannya tentang sosok itu dan membuatnya merasa tidak nyaman. Hampir semalaman dia duduk terdiam dan kini waktu menunjukkan pukul dua malam. Seharusnya dia pulang ke rumah dan tidur. Ada rasa tidak rela untuk pulang dalam dirinya. Ia tidak mau meninggalkan sosok yang sedang terbaring lemah di kasur rumah sakit itu.
Tepat satu jam setelah insiden penembakan tersebut, terakuilah Feng Jian sebagai pelaku penembakan. Karyawan yang dipecat tersebut mengakui dengan alasan tidak logis kalau Ia merasa cemburu dengan Yixing yang selalu mendapat pujian dari atasannya serta senior dan rekan yang lain. Padahal dia termasuk karyawan baru. Dia ditangkap dengan mudah karena rekaman CCTV dan langsung di penjara.
Sehun mengusap mukanya dan melihat jam dinding. Ia baru ingat kalau dia belum makan apa-apa sejak pagi dan kini perutnya bergemuruh kencang minta diisi. Parahnya, dia baru ingat kekasihnya sendiri di apartemen. Walaupun keadaan mereka sedang buruk, Sehun tidak pernah melupakan kekasih yang dipacarinya selama lima tahun itu. Akhirnya Sehun bangkit dan melangkah keluar, meninggalkan Yixing yang terlelap karena pengaruh obat bius.
.
.
Baru saja melangkahkan kakinya masuk, Sehun disambut oleh pelukan erat Luhan. Pria cantik itu menangis tepat di dada Sehun. Inginnya tidak peduli, tapi Ia paling tidak kuat ketika melihat pria itu menangis. Selama ini Ia sangat jarang membuat Luhan menangis jadi sekali dia menangis, pasti hatinya akan luluh. "Sehun... Aku menunggumu sejak tadi dan kau tidak bisa dihubungi. Aku takut..." isak Luhan kencang.
"Maafkan aku..." hanya kata itu yang keluar dari mulut Sehun. Tangannya beralih memeluk Luhan dan mengusap punggungnya.
"Aku mendengar insiden yang terjadi di kantormu. Apa kau tidak apa-apa?" Luhan menatap Sehun dengan pandangan khawatirnya. Sehun menggeleng dan tersenyum lemah. "Aku tidak apa-apa."
Luhan mengusap air mata dengan punggungnya lalu terkekeh pelan karena kekhawatirannya sendiri. "Maafkan aku... seharusnya aku tidak membuatmu marah. Aku hanya takut kalau media tahu bahwa kau itu kekasihku. Aku tidak ingin kau menjadi bahan obrolan tidak berguna." Ujar Luhan menunduk.
Sehun kembali sadar lalu melepas pelukannya. Hatinya kembali mencelos. Dia ini kekasihnya, memang sudah sewajarnya kalau semua orang tahu bahwa Luhan adalah kekasihnya. Tidak seharusnya dia bersikap cuek seperti ini. Tapi itulah yang dia inginkan, yaitu pengakuan.
"Tidak usah bicarakan itu lagi, aku ingin tidur."
.
.
Hari ini Sehun memutuskan untuk mengambil cuti dan menemani Yixing di ruamh sakit. Sebelum ke rumah sakit, Ia menyempatkan membeli susu dan buah-buahan. Setelah itu, baru Ia melesat dengan cepat ke ruangan dimana Yixing dirawat. Sehun mengintip dari luar untuk melihat keadaan Yixing. Pria itu sedang digantikan perbannya oleh perawat. Sehun tersenyum lalu masuk ke dalam.
"Sunbaenim..." sahut Yixing ketika melihat Sehun masuk.
"Hyung!" timpal Sehun. Yixing menatapnya heran namun setelah itu mengernyit sakit. "Akh..."
Mendengar rintihan itu, Sehun dengan cepat memegang kedua bahu Yixing setelah meletakkan barang bawaannya di meja. Perawat tersebut dengan sangat hati-hati membalut perban di area tembakan. Yixing merintih kesakitan karena lukanya yang masih basah dan sangat perih. Sehun meremas bahu Yixing untuk memberi kekuatan, namun dirinya juga merasa heran dengan otot lengan Yixing yang termasuk berotot dibandingkan dengan dirinya.
Tanpa sadar Sehun menelan ludahnya sendiri melihat tubuh Yixing yang putih seksi tersebut. Otot yang terlatih sangat terlihat dengan jelas di lekukan tubuhnya. Sehun mengira kalau Yixing adalah seorang model salah jurusan. Bukan karena dia sedang regang dengan Luhan, tapi ia benar-benar merasa Yixing sangat seksi dan mempunyai aura tersendiri. Dada itu... ah! bahkan Sehun sampai tidak sadar sudah 3 menit dia menatap tubuh Yixing.
"Sudah selesai. Jangan terlalu banyak bergerak, Tuan. Saya permisi." Ujar perawat itu ramah lalu keluar ruangan. Sehun membuang karbondioksida yang entah sejak kapan Ia tahan. Ia mengambil kursi lalu duduk di samping Yixing.
"Aku membawakan Hyung buah dan susu. Aku tidak tahu buah apa yang Hyung sukai jadi aku beli satu paket." Ujar Sehun. Yixing mengulum senyumnya melihat Sehun. Pria ini lucu, pikirnya.
"Terimakasih Sunbaenim..."
"Hyung... jangan panggil aku dengan sebutan itu, kau jelas lebih tua dariku. Panggil aku Sehun saja. Please..." Sehun berkata seraya menangkupkan kedua tangannya.
Pria ini keras kepala juga batin Yixing lalu mengangguk mengiyakan. "Bagus. Ngomong-ngomong, apa orangtua hyung akan datang kesini?"
"Aku tidak berani mengabari mereka... mereka tinggal di Changsa."
"Oh." Jawab Sehun. Otaknya blank seketika. Sehun bukanlah tipe orang yang pandai melontarkan kalimat tanya pada lawan bicaranya. Dia selalu diam ketika merasa tidak ada yang perlu ditanyakan lagi. Sehun lebih suka mendengarkan orang lain berbicara. Dilihatnya Yixing dari tempat duduknya. Rambutnya agak basah, mungkin sehabis mandi sebelum mengganti perbannya. Ditatapnya wajah Yixing dari samping. Gila, tanpa rambut klimis dan kacamata bundarnya dia terlihat seperti idol di negaranya. Bahkan dia akui kalau pria ini tampan.
"Kau tampan, hyung..." puji Sehun tanpa sadar. Yixing terdiam lalu menatap Sehun dengan tanda tanya besar. Tumben sekali pikirnya. Namun karena Ia menganggap Sehun sedang menghiburnya, dia tersebum dan menampilkan lesung pipinya.
Sehun mematung.
Lesung pipi itu... mata yang membentuk bulan sabit itu... dan deretan gigi putih itu... membuat dirinya terkesima dan menelan ludah. Rasanya dia betah duduk disini semalaman kalau Yixing tersenyum seperti itu. Bahkan kalau berani dia sudah mencium dia sekarang.
Menciumnya?
Sehun menunduk bingung. Pikirannya mulai kacau. Jelas-jelas saja Luhan masih mantap di hatinya.
Mantap?
Entahlah, Sehun tidak yakin dengan kata tersebut.
"Sehun... kau tidak apa-apa?" Tanya Yixing heran dengan pemuda yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya kencang tersebut. Seakan ada tarikan kuat dari nada bicara itu, Sehun tersadar lalu menatap pemuda itu. Ya ampun, telinganya mungkin harus dibawa kontrol ke klinik. Barusan Ia mendengar Yixing memanggil namanya untuk pertama kali. Ya, pertama kali. Pasti ini salah.
"Sehun, kau tidak sakit kan?" tanya Yixing kembali. Kini pria jangkung itu benar-benar sadar kalau dirinya tidak berangan-angan. Sehun menggelang seraya tersenyum lebar. Jantungnya kembali berdegup kencang. Pria ini benar-benar penuh kejutan, pikirnya gembira.
.
.
Siang yang panas dan membuat Sehun benar-benar mengantuk. Dirinya menatap Yixing yang tertidur setelah memakan makan siangnya. Dua hari ini Yixing mulai mau berbicara dengan leluasa dan itu membuat hatinya berbunga. Mendengar suaranya yang sangat indah tanpa formalitas benar-benar suatu kebanggaan baginya. Ada beberapa hal yang baru Ia ketahui darinya seperti makanan, minuman kesukaan, kebiasaannya ketika bangun tidur, dan hal kecil lainnya. Sehun berniat menyusun pertanyaan untuknya malam ini juga. Kalau bisa, ia tulis di buku catatan khusus Zhang Yixing. Sepertinya suatu keberuntungan sendiri baginya Yixing dirawat di rumah sakit selama dua hari.
Sehun tidak ingin menganggu Yixing dari istirahatnya, walaupun ada perasaan ingin memandang wajahnya yang terlelap lebih lama. Tangannya mengambil remote TV. Sudah beberapa hari ini Sehun tidak menonton TV. Ia agak kesal melihat Luhan yang terus-terusan ada di televisi. Dulu dia bangga dan senang, melihat kekasihnya itu di televisi. Ia sangat tahu bagaimana Luhan sangat berusaha keras untuk mencapai mimpinya. Semenjak ada Kris... entahlah ia tidak tahu.
Benar saja. Baru saja membuka channel favoritnya, wajah Kris dan Luhan sudah terpampang jelas. Kali ini mereka diwawancarai secara langsung di lokasi syuting. Luhan terlihat sangat manis menggunakan long-sleeves merah jambu dengan rambut pirangnya. Sudah dua hari Luhan tidak pulang dengan alasan syuting sampai larut malam. Sehun tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia sendiri menginap di rumah sakit. Bahkan Ia tidak meminta izin terlebih dahulu pada Luhan. SMS dan telpon darinya pun tidak Ia gubris.
Wawancara berlangsung dengan pertanyaan membosankan dari sang MC. Sehun menatap televisi seakan ingin menelannya penuh. Ah, sepertinya lebih tepatnya dia menatap wajah Kris dengan tajam. Senyum sok kerennya membuat dirinya ingin meninju sampai gigi besar itu rompal.
"Wah... kalau boleh bertanya, apa diantara kalian yang memiliki kekasih?" Sehun melongo. Ini dia yang Ia tunggu. Diantara Kris dan Luhan tidak ada yang menjawab untuk beberapa menit sampai sang MC sialan itu menggoda mereka berdua. Luhan menyerah dengan berkata "Aku ingin fokus kepada karrir ku. Tidak ada waktu untuk mempunyai kekasih... aku rasa waktuku akan terbuang sia-sia kalau aku mempunyai kekasih. Hahaha..."
"REALLY NOW?" Marah Sehun. Ia tidak sadar meninggikan suaranya dan berdiri. Dilemparnya remote yang Ia pegang lalu menendang udara di depannya. Dengan kasar Ia mematikan televisi. Dipejamkan matanya beberapa saat sampai tetas air mata menggenang di pipinya tanpa Ia ketahui. Hatinya sangat sakit, mendengar pengakuan Luhan. Apakah dengan memiliki kekasih karirnya akan jatuh? Jadi selama lima tahun ini dia dianggap udara?
"Bajingan..." umpatnya menggunakan bahasa Korea.
"Sehun?" sebuah suara tiba-tiba menginterupsinya. Sehun menoleh ke belakang dan mendapati Yixing yang menatapnya... khawatir? Dengan telapak tangannya, Sehun mengusap air mata yang menggenang di pipinya lalu tersenyum.
"H-Hyung..." Sehun menghampiri Yixing seraya tersenyum pedih padanya. Yixing memegang tangan Sehun lemah dan mengusapnya. Ia sebenarnya terbangun ketika suara televisi dinyalakan. Tapi ia tidak berani memanggil Sehun karena pria itu menatap televisi dengan fokusnya. Dan sepertinya Ia tahu mengapa Sehun sangat sedih dan marah seperti ini.
"Hyung..." Sehun menatap Yixing dan duduk di depannya. Air mata itu mendesak untuk keluar kembali. Kali ini lebih deras disertai isakan dari mulutnya. Sehun hanya menangis jika ada sesuatu yang benar-benar membuatnya lelah dan sakit. Selama lima tahun ini Ia cukup menderita. Ia sangat mencintai Luhan dan Luhan pun sebaliknya. Luhan sangat tahu kalau Sehun mencintainya. Tapi mencintai dalam diam tidaklah cukup bagi Sehun. Luhan terindah untuknya. Luhan baginya adalah satu-satunya. Satu-satunya yang bisa membuat dia nyaman, senang, sedih, dan tersakiti sekaligus. Tiba-tiba matanya sayu dan kepalanya jatuh dengan pelan di bahu kanan Yixing. Sangat nyaman namun membuatnya terisak. Yixing menggerakkan matanya bingung namun dengan pasti ia memeluk Sehun dan mengusap punggungnya perlahan.
"Aku tidak pandai menenangkan orang... tapi aku harap ini cukup..." Gumam Yixing pelan. Tangannya terus mengusap dan sesekali menepuk pelan punggung Sehun. Dan Sehun berpikir kalau perlakuan lembutnya lebih dari cukup.
.
.
Sejak saat itu hubungan Sehun dan Yixing sangat baik. Yixing sudah bisa berbicara frontal kepada Sehun. Frontal disini bukan dalam arti negatif, namun dia berbicara lebih keras dan terbuka. Kalau selama ini Yixing berbicara sangat hati-hati dan tertutup, kini dia bisa lebih terbuka kepada Sehun, ya... hanya pada Sehun. Yixing hanya dirawat di rumah sakit selama 4 hari karena Ia tidak tahan dengan baunya. Sehun lah yang mengantar Yixing pulang. Sehun kini terbiasa datang ke rumah Yixing hanya untuk mengobrol bahkan makan. Dengan Yixing Sehun merasa dihargai dan harinya tidak flat. Baru Ia ketahui kalau Yixing memiliki kepribadian hangat dan bijak. Sehun merasa nyaman berada di dekatnya. Dan selama itu Sehun tidak memikirkan Luhan sama sekali. Film Luhan sedang dalam tahap penyelesaian jadi Luhan jarang pulang ke kandang mereka berdua. Luhan yang terus menghubungi Sehun lama-kelamaan lelah dan berhenti. Dan jujur saja hal itu membuat Sehun lega.
Hari ini ada yang berbeda dari suasana ruangan Sehun. Para rekan kerjanya menatap Yixing dengan terpana serta kaget. Pasalnya Yixing kali ini berbeda. Tidak ada rambut klimis, tidak ada baju kedodoran, tidak ada pakaian super rapi. Kini Yixing berpenampilan sama dengan Sehun, modis dan tampan. Rambutnya Ia tata ke atas dan kemejanya agak ketat, menonjolkan lekukan otot terlatihnya. Biasanya Yixing berwajah datar, namun dia datang sembari tersenyum, menunjukkan lekukan lesung pipinya yang menjadi favorit Sehun akhir-akhir ini.
Tidak hanya rekan kerjanya, Sehun sendiri pun terpana melihat Yixing. Ternyata pria itu menuruti perkataannya. Ada rasa bangga membuncah di dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika Yixing melangkah maju ke hadapannya. Mereka saling bertatapan sampai akhirnya Sehun yang lebih dulu memutus pandangan mereka.
"Ekhem..." Sehun membasahi tenggorokannya yang serasa kering. Yixing menunduk malu lalu menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja gatal. "Kau... menawan." Lirih Sehun lalu melangkah ke mejanya. Yixing menatap Sehun yang tergagap dengan bingung. Yifan tiba-tiba saja masuk dan menghampiri Yixing dengan mulut menganga.
"Wow... lihat siapa ini? Si klimis berubah menjadi pria menawan. Aku tidak tahu kau tampan seperti ini? Dan..." Yifan menatap dada Yixing yang lumayan menonjol dari kemejanya.
"Hey! Apa yang kau lihat menyingkirlah!" Sehun bangkit dari mejanya lalu mendorong Yifan sampai terjatuh. Dia menarik Yixing yang kebingungan dengan wajah memerah kasar keluar ruangan.
.
Sehun membawa Yixing ke kamar mandi lalu melepaskan tangannya. Dia membuka kemejanya sendiri.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" Yixing berteriak histeris. Wajahnya kian padam karena malu. Sehun tidak peduli dengan teriakan Yixing. Kini kemejanya sudah terlepas. "Cepat ganti kemejamu dengan milikku." Sehun menyodorkan kemejanya.
"Kenapa?" tanya Yixing heran. Agak sedikit marah. "Kau yang membuatku berpakaian seperti ini kenapa sekarang kau kesal?"
"Kau tidak tahu bagaimana si Yifan itu melihat dadamu?" timpal Sehun kesal. Yixing melihat dadanya sendiri. Yah, kemejanya agak transparan dan parahnya ia tidak memakai kaos dalam. "Sudah sadar?" tanya Sehun. Mau bagaimana lagi... Yixing mendesah panjang lalu menerima kemeja Sehun.
"Kau memakai apa?"
" Aku masih ada kemeja cadangan."
.
Hari sudah larut malam. Untuk pertamakalinya Sehun mengajak Yixing ke apartemennya. Ia dengar kalau Luhan pergi ke Hong-Kong untuk melakukan adegan terakhir. Sepanjang jalan Ia menggenggam tangan Yixing erat. Mau tidak mau Yixing tersipu mendapat perlakuan manis darinya. Hatinya berdegup kencang ketika bersama Sehun. Sebenarnya jauh hari sebelum insiden penembakannya, Yixing sudah merasakan debaran kencang itu. Ia terkesima dengan perhatian Sehun yang menurutnya tulus. Namun, ketika Ia mendapati Sehun menangis karena berita Luhan, Ia kecewa. Dan ketika Sehun bercerita tentang Luhan padanya, Ia semakin kecewa dan patah hati. Namun, bolehkah berharap secuil perasaan yang dimiliki Sehun untuknya?
"Tanganmu hangat..." ujar Sehun tanpa melepaskan konsentrasinya pada jalanan. Yixing semakin merona mendengar pujian Sehun. Sehun mengeratkan tangan Yixing pada dirinya.
Sehun membukakan pintu apartemennya dan mempersilahkan Yixing masuk. Apartemen Sehun sangat bersih dan rapi, menurut Yixing. Selagi Sehun berganti pakaian, Yixing berjalan-jalan melihat ruang tengah. Didapatinya foto Sehun dan Luhan yang tengah pose berpelukan. Dalam foto itu mereka sangat muda dan damai. Yixing menatap wajah Sehun yang menurutnya sangat tampan. Giginya masih menggunakan kawat. Yixing tersenyum pedih lalu mengusap wajah itu. Andaikan Sehun tidak memiliki siapa-siapa saat ini.
"Hyung..." Sehun mengagetkan Yixing. Dengan tergagap Yixing meletakkan figura tersebut dengan sembarang lalu tersenyum. Sehun melirik ke arah benda yang Yixing lihat. Dengan miris Ia menyeringai lalu mengambil figura itu. "Ini diambil ketika kita masih seumur jagung." Ujar Sehun. Yixing masih terdiam, menunggu kalimat lanjutan dari Sehun.
"Aku dan dia masih saling mencintai. Dia baru saja menapaki karrir nya sebagai model. Aku tahu dia sangat serius dan kerja keras, aku mendukungnya sepenuh hati. Dan... aku tidak tahu kalau... akhirnya akan seperti ini." Nadanya melirih. Yixing menunduk. Mendengar nada sakit dari Sehun, membuat hatinya merasa diremas. Namun tiba-tiba saja Yixing mengambil foto tersebut dari tangan Sehun lalu mengelap kacanya hati-hati. Dengan pelan Ia tempatkan figura tersebut di tempatnya dan tersenyum. "Boleh saja kau marah, boleh saja kau muak. Tapi tolong bicarakan pelan-pelan padanya. Aku—"
Jantung Yixing serasa akan jatuh ke lantai ketika tiba-tiba saja Sehun memeluknya dari belakang. Tangan Sehun melingkar sangat erat di perutnya dan itu membuatnya merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta. Bergetar dan aneh. Sehun memejamkan matanya. Badan Yixing selalu membuatnya lemah. Dan ini pertamakalinya dia memeluk Yixing. Bisa dirasakan hatinya yang menghangat. Sehun menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Yixing, menghirup aroma khasnya. Bisa dirasakan jantungnya yang berdentum kencang, seirama dengan milik Yixing. Yixing membiarkan Sehun memeluknya beberapa saat. Saling memeluk dan terdiam, merasakan jantung mereka yang berdentum kencang.
"Aku tak tahan dengannya Hyung... aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku... aku bingung Hyung..." desah Sehun.
Yixing melepas tangan Sehun lalu berbalik menatap Sehun. Dipandangi pria yang lebih muda darinya itu penuh kasihan dan kasih sayang. Tangannya mengusap pipi Sehun dengan halus. Perlahan mata tajamnya tertutup kembali, wajahnya miring ingin merasakan tangan itu lebih lama.
"Kau harus bisa mengambil keputusan Sehun, masalah hati bukanlah perkara mudah... Hyung tahu itu. Tapi tolong dengarkan sekali lagi apa yang ingin hatimu mau. Dan kau akan mengetahui jawabannya..." Yixing tersenyum pada Sehun. Sehun terpada mendengar suara lembut itu. Di perhatikannya wajah Yixing.
Aku ingin dia... aku ingin dia disisiku... Zhang Yixing aku ingin kau...
Hatinya terus saja berkata seperti itu. Tak terkontrol... bahkan semakin keras seiring dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Tanpa Ia sadari, wajah mereka semakin dekat. Terpaan napas Yixing semakin keras terdengar. Membuat Sehun sendiri gelagapan. Matanya fokus kepada bibir tipis Yixing yang sekarang menggodanya.
Ketika bibir itu terpaut, Sehun merasakan hal yang sudah lama tidak Ia rasakan. Sengatan listrik itu mengalir di tubuhnya. Sehun memanggut bibir itu mesra dan merasakan permukaannya dengan lidahnya. Manis dan kenyal. Mereka saling mengecap dan memanggut satu sama lain, tak peduli jika suatu saat Luhan masuk dan mendapati mereka berdua. Sehun tak peduli. Kini di otaknya hanya ada Yixing. Dengan pelan Ia merengkuh tubuh Yixing yang lebih pendek ke arahnya. Mulut Sehun terbuka, meminta lidah itu masuk ke dalam mulut Yixing dan Yixing dengan senang hati menerimanya.
Karena pasokan oksigen, Yixing melepas ciuman mereka. Air mata mengalir di pipinya dengan deras.
"Aku ingin kau... aku ingin Zhang Yixing ..." ujar Sehun tulus tanpa ragu. "Aku sudah tahu jawabannya... aku ingin Zhang Yixing di sisiku, bukan Xi Luhan..."
"Bagaimana dengan Luhan? Kau akan menyakitinya..." tanya Yixing. Sehun menggeleng lalu tersenyum lembut. "Aku akan bicarakan baik-baik padanya, sesuai permintaanmu... Aku mencintaimu, Zhang Yixing..."
Dan saat itu Yixing merasakan kegembiraan tiada tara. Ia tidak peduli kalau status Sehun masih milik seorang Xi Luhan, karena hatinya berkata hal yang sama.
Dia ingin Sehun... Hanya Sehun dan selamanya Oh Sehun.
Terimakasih, Oh Sehun...
.
.
END
