Oxytocin adalah sejenis hormon sering disebut sebagai hormon cinta. Mampu mempengaruhi efek psikologis wanita maupun pria.

(Bagian kedua: Rahasia yang terkelupas)

.

.

"Kupikir kau tak akan datang."

"Mana mungkin! Ini momen paling membahagiakan dan aku tidak datang," Luhan berusaha mengatakannya di antara kue yang sedang di santapnya. Acara sudah dipindahkan ke halaman gereja untuk sekedar menyantap kudapan sebelum resepsi nanti malam.

"Momen bahagia pantatmu! Kau bahkan tak menyaksikannya." Dengus Jongin ikut nimbrung yang Luhan balas dengan tatapan sengit lalu menelan kuenya susah-susah.

"Yang penting aku datang! Iyakan Yifan?"

"Yifan?"

Jongin menahan tawanya ketika Yifan yang Luhan minta persetujuannya sudah menghilang untuk menyambut tamu bersama istrinya. Luhan mengerucutkan bibirnya lucu kemudian menoyor jidat Jongin cukup keras.

"Kau sangat memalukan, jorok, dan apa-apaan itu di tengah acara sakral malah mengucapkan selamat aku bahkan malu mengakuimu sebagai teman." Giliran Baekhyun yang nimbrung. "Benar-benar tidak keren," lanjutnya setelah menegak anggur merah di gelasnya.

"Aku juga tidak mengakuimu sebagai teman kok," Luhan memeletkan lidahnya yang dihadiahi cubitan kecil dari Baekhyun. "Aku baru saja mengalami kecelakaan mahadashyat asal kalian tahu!" Luhan membela diri setelah berhasil membalas cubitan Baekhyun.

"Kau pasti mengarangnya," Jongin langsung menyahut yang dibenarkan dalam hati oleh Luhan.

Setelahnya tidak ada lagi sahut-sahutan dari tiga orang itu, mereka tidak lagi peduli soal noda coklat di gaun Luhan atau ornamen mawarnya yang sudah tertarik ke bawah, atau mungkin soal kaki Luhan yang lecet. Soal yang ini Luhan membiarkan sepatu hak setinggi lima senti menyembunyikannya. Padahal jika jujur gadis itu sudah mau pingsan.

"Kau hampir merusak acara saudaraku."

Diantara seluruh pita suara di dunia atau di acara ini mengapa Luhan harus mendengar suara berat yang mengancam eksistensinya ini. Dengan kaku, Luhan berbaik menatap sosok berjas mahal, dasinya sudah longgar dan dua kancing kemejanya terbuka. Bahkan jika kancing kemeja itu tak terbuka siapapun bisa melihat dada bidangnya lewat kemeja putih yang tembus pandang itu. Tapi bukan itu yang membuat Luhan gugup, ia terlalu dewasa untuk bisa berpikiran seperti itu.

"Oh, kau sudah pulang dari Amerika? Kapan? Aku tak melihatmu," Luhan berusaha senormal mungkin tapi ia tidak bisa untuk tidak gelisah. Sambil berusaha mencari-cari keberadaan Jongin yang bisa dijadikan pelarian tapi laki-laki berkulit gelap itu terlalu dimabuk cinta di acara pernikahan orang lain.

"Tentu saja kau kan sibuk dengan adegan bodohmu."

Secara kejiwaan Luhan sudah merosot jauh di ambang batas normal. Luhan tidak bisa meledak atau bersandiwara sakit maag, ia hanya takut dengan laki-laki ini. Entahlah di antara semua orang pernah hadir atau sekedar lewat di kehidupannya, hanya orang ini yang hawanya tidak bisa diterima dengan baik. Selalu mengancam dan mengintimidasi.

"Itu… aku… maafkan… aku." Luhan membungkuk dalam sambil berusaha mundur beberapa langkah kebelakang (berusaha kabur) namun sia-sia dia bukan bebek. Pasti sekarang Luhan makin terlihat bodoh yang membuat laki-laki itu mendesis sinis.

"Sehun—ah!"

Ketika laki-laki itu berbalik saat Jongin memanggil namanya saat itu juga Luhan bisa bernafas lega. Rasanya kakinya sudah lumer seperti jeli. Terimakasih pada Jongin. Mungkin Luhan fobia pada sosok berahang tegas itu.

.

.

.

"Maaf aku…mengacaukan pestamu," Luhan mengigit bibir bawahnya lambat-lambat, kebiasaannya ketika gugup.

Yifan terkekeh lalu menggeleng kecil sambil melonggarkan dasinya. Resepsi sudah usai beberapa menit yang lalu. Harusnya Yifan dan mempelai wanita sudah berangkat menuju rumah baru, tapi Yifan secara pribadi meminta sedikit waktu luang baginya dan Luhan. Bukan untuk berbuat apa-apa, hanya ucapan salam terakhir mungkin? Karena bagaimanapun setelah hari ini Luhan tidak bisa terlalu dekat dengan Yifan.

"Tidak masalah lagipula kaukan selalu begitu."

Luhan membulatkan matanya, "Yah! Aku—," gadi itu menggantung kalimatnnya sejenak dengan dengung yang cukup panjang sembari diam-diam membenarkan ucapan Yifan.

"Kenapa diam? Kau pasti ingat saat kita ketahuan bolos oleh dewan siswa gara-gara kamu yang jatuh dari tembok pembatas. Lalu saat kita ingin membolos hukuman dewan siswa kau malah merusak CCTVnya. Kemudian selama seminggu penuh kita harus jadi relawan gereja, saat ini kabur kau malah menjatuhkan ornament patung malaikat kecil."

Yifan terdiam sesaat mengingat-ingat hukuman yang diberikan biarawati saat itu sedangkan Luhan merah padam mengingat kecerobohannya saat itu.

"Wu Yifan aku tidak sengaja ok! Lagipula kita membolos waktu itu juga karenamu?!" Luhan menatap Yifan sengit yang membuat Yifan berbalik merah padam mengingat kejadian masa itu.

"Kau harusnya banyak berterimakasih padaku," ujar Luhan berbangga hati mengingat jasa-jasanya.

"Yah aku memang."

Yifan tersenyum kecil yang Luhan balas dengan senyuman lega. Setidaknya Yifan benar-benar bahagia. Hari ini Luhan sudah melihat senyuman Yifan ribuan kali dan itu sama sekali bukan Yifan jika dibandingkan dengan wataknya selama ini.

"Terimakasih Lu Han, sahabatku."

Luhan tertawa keras sampai ia mengeluarkan air mata kemudian tersenyum dan menatap Yifan dalam, "Kau tahu selama belasan tahun hidup denganmu, ini pertama kalinya aku mendengarmu mengucapkan terimakasih begitu tulus."

Luhan menepuk-nepuk lengan Yifan perlahan lalu memindai sahabatnya itu dari atas hingga bawah seperti mesin scanning. Sungguh Yifan memang sangat tampan dan wanita yang berhasil memilikinya pasti sangat beruntung.

"Yah Wu Yifan kau memang sudah banyak berubah."

"Kau tidak ingin memelukku? Untuk yang terakhir kalinya?" Yifan merentangkan tangannya lebar-lebar bersiap untuk ditempeli Luhan.

"Memangnya kau ingin pergi jauh?" Luhan terkekeh ingin segera pergi. "Dan apakah kau ini benar Wu Yifan? Temanku itu? Kau tidak seperti dirimu. Kaukan tidak pernah suka dipeluk."

Luhan sudah ingin pergi namun Yifan menarik sebelah lengannya membuat posisi Luhan membalik lalu memeluknya. Luhan terperanjat dan berusaha melepaskan diri, takut-takut ada yang melihat lalu salah paham.

"Kau bilang aku sudah berubah," Yifan meletakkan dagunya di perpotongan rambut gadis itu. "Maksudku ini terakhir kalinya kita bisa sedekat ini, mungkin setelahnya tidak bisa. Jadi diamlah sebentar saja."

Luhan hampir menangis jika tidak mengingat jas yang dikenakan Yifan sangat mahal untuk ia tempeli air mata. Maksudnya gadis itu akan kehilangan sosok teman terdekatnya walaupun masih ada Jongin dan Baekhyun tapi tetap saja, Yifan itu sahabtnya sejak memakai popok jadi wajar saja jika ia ingin menangis bahkan meraung-raung sekalipun.

"Aku sangat senang karena kau akhirnya memiliki wanita lain untuk direpotkan," diam-diam Luhan menyesap harum Yifan dan menyimpannya secara permanen di dalam memorinya.

Yifan terkekeh, "Apakah kita akan terus berdebat di saat yang romantis begini?"

Luhan memukul punggung Yifan keran, "Hiduplah dengan baik bersama istrimu Yifan."

"Kau juga dan berhentilah melajang, aku khawatir karena kau tidak ada yang menjaga. Yifan berguyan yang disambut cubitan pas di pinggangnya.

"Aku punya Baekhyun dan Jongin. Lagipula aku bisa menjaga dirimu sendiri."

"Mereka tidak bisa dipercaya. Sesekali telepon aku jika kau dalam masalah."

"Aku menghormati istrimu Yifan. Jadi tidak usah mengkhawatirkanku."

.

.

.

Luhan menyesal jatuh dalam pelukan Yifan. Maksudnya luka di kakinya semakin parah. Ia tak yakin bisa berdiri lagi. Setelah turun dari bus ia menyeret kakinya menuju tenda yang menjual kudapan hangat. Luhan memang sengaja tidak ikut pesta minum-minum dengan teman sekolah menengah atasnya dulu. Ia pasti berakhir dengan kacau dan keesokan harinya aibnya akan tersebar dari mulut ke mulut. Sungguh mulutnya benar-benar tidak bisa dikontrol jika sedang mabuk.

"Kau minum lagi?" Bibi Kim pemilik kedai ini. Sejak umurnya legal Luhan sudah datang untuk sekedar makan atau makan diselingi minum-minum yang berakhir mabuk dengan tidak elit.

"Seperti biasa." Luhan hanya berjalan lurus menuju meja dipojokan menunggu Bibi Kim mengantar pesanan 'seperti biasa' miliknya itu.

Seperti biasa juga Luhan berakhir dengan mabuk tidak elitnya dan Bibi Kim terpaksa harus menelpon salah satu kontak yang sudah di hapalnya luar kepala.

"Ia mabuk lagi." Ketika tersambung dengan seberang dan tanpa kalimat tambahan Bibi Kim menyudahi sambungannya.

Selang sepuluh menit, langkah kaki yang terburu-buru mengetuk aspal membuat Bibi Kim bernapas lega. Ia menatap sosok tinggi yang tersenyum ke arahnya, seolah mengerti Bibi Kim kemudian menunjukkan Luhan yang bergumam tak jelas di pojokkan.

"Kau pasti kerepotan akhir-akhir ini," Bibi Song membantu sosok itu menaruh Luhan pada pundaknya. Wanita itu mendesah ketika melihat rautnya yang kesusahan, "Dia memang sering mabuk akhir-akhir, maafkan aku tak bisa melarangnya."

"Aku tidak apa-apa," sosok itu membenarkan posisi Luhan dan mengambil sepatu heelsnya, ia tersenyum sekali lagi dan mengangguk kecil karena tidak bisa membungkuk, bisa-bisa Luhan jatuh dengan kepala duluan. "Terimakasih dan maaf merepotkanmu."

Sosok itu berjalan susah-susah. Ia sudah cukup lelah hari ini dengan serangkaian upacara yang membosankan. Sampai lupa dengan jas mahalnya yang belum ia lepas pastinya sudah bau Luhan yang mabuk, membayangkannya saja membuatnya ingin memutuhkan kue yang beberapa jam lalu dimakan.

"Aku benar-benar sakit," Luhan bergumam tak jelas di sosok laki-laki itu. Ia bangkit dan bergoyang hampir mencelakakan keduanya, jika tidak terantuk tiang listrik pastilah mereka akan terjatuh dengan kepala yang berdarah-darah. Membayangkannya saja membuat sosok itu ngeri.

"Ya kau memang sakit jiwa."

"Kakiku sakit," Luhan cegukan sambil otaknya mengingat kejadian lari-lariannya tadi pagi. Lalu sosok itu juga teringat pada kaki Luhan yang sudah lecet sana-sini. Ia menghela nafas lagi mengingat ketidak pedulian gadis itu.

Sosok itu lalu berbalik arah menuju swalayan yang baru beberapa meter mereka lewati, "Kita obati lukamu dulu."

Sosok itu mendudukkan Luhan pada kursi berpayung warna-warni di depan swalayan lalu ia masuk untuk membeli obat merah dan beberapa plester. Hanya selang satu menit sosok itu sudah kembali lalu berjongkok di hadapan Luhan. Ia meringis melihat luka di kaki gadis itu dan membayangkan betapa menyakitkannya ketika gadis ini harus menyembunyikannya selama berjam-jam. Seandainya Luhan mau jujur.

"Seandainya aku mau jujur mungkin lukanya tak akan sesakit ini."

"Kau memang harus jujur ini sudah cukup parah jika kau mau tahu."

"Kau benar aku memang sudah terluka cukup parah tapi masih saja menyembunyikannya," Luhan menghela nafas kasar, menahan gelombang kesedihan yang merayapi indra perasanya. "Aku ini pengecutkan."

"Kau hanya sok kuat padahal rapuh di dalam. Kenapa wanita kebanyakan seperti itu," sosok itu entah keberapa kalinya ia harus menghela nafas kasar lalu memberikan beberapa tetes obat merah. "Mereka terlihat mendramatisir keadaan."

"Seandainya aku bisa mengatakannya…" Luhan menggantungkan kalimatnya sebagai orang mabuk ia cukup cerdas menyembunyikan perasaannya.

"Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" sosok itu mengernyit sambil mensejajarkan posisi matanya dengan Luhan.

"Ya Yifan. Aku ingin mengatakan kalau aku…" Luhan menarik nafasnya, ketika dihembuskan menghasilkan uap yang bersamaan dengan keluarnya cairan bening di sudut matanya. Ia mendekatkan wajahnya, menghapus jarak di antara mereka. Memejamkan matanya ketika kening mereka bertemu. Menyesap udara yang tiba-tiba saja terasa hangat di rongga dadanya.

"Mencintaimu."

Ketika jarak itu sudah habis, Luhan mungkin sudah gila. Sebagai orang mabuk tentunya cukup wajar baginya untuk menyatakan cinta sekaligus memberikan ciuman hangat pada sosok di hadapannya.

TBC

.

.

Haloo maaf ya lanjutannya lambat banget soalnya sibuk dengan kegiatan sekolah lain kali aku bakal lebih cepat lagi. Dan terimakasih untuk reviewannya di chapter pertama aku bakal berusaha lebih baik lagi _ hehe yang nebak laki-laki di taksi itu Sehun tetot maaf ya tebakannya agak melenceng karena laki-laki itu bukan Sehun hehe. Ohya aku mau minta maaf karena ternyata ada nama Jihyun yang nyelip karena sebenarnya waktu awal pembuatannya cast cewenya itu namanya Jihyun tapi aku putuskan untuk menjadi Luhan. Maap ya kalau konfliknya belum menonjol, ini masih perkenalan-perkenalan sebagian ceritanya. Oke deh sekian dari aku, sampai jumpa di chapter selanjutnya dan jangan lupa reviewannya ^^

-Chocoji-